PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Salah satu pewarna dan pengawet alami yang dapat digunakan adalah buah naga merah (Hylocereus polyrhizus). Tidak hanya buahnya saja, batang dan kulit buahnya juga memiliki khasiat yang tidak kalah bermanfaat. 6Weni Enjelina, “Pemanfaatan kulit buah naga merah (hylocereus polyrhizus) untuk memperpanjang umur simpan mi basah”, Journal of Action, vol.
Buah naga berdaging merah (Hylocereus polyrhizus) memiliki tingkat kemanisan yang lebih tinggi dibandingkan dengan buah naga berdaging putih (Hylocereus undatus), berkisar antara 13-15˚. Kandungan dalam kulit buah naga dapat berupa senyawa antosianin, trijepenteraxast pentasiklik dan senyawa antioksidan yang sangat tinggi. 11Taufik Boby Wisesa, “Penentuan nilai maksimum proses ekstraksi kulit buah naga merah (hylocereus polyryzus), Journal of Food and Agroindustry, vol.
Rumusan Masalah Dan Batasan Masalah
Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Penambahan sekam sedum merah (Hylocereus polyrhizus) berpengaruh terhadap kualitas kerupuk kentang (Solanum tuberosum L.). Hasil analisis data menggunakan uji ANOVA penambahan sari kulit buah naga merah pada uji kualitas pewarnaan kerupuk kentang. Artinya jenis penambahan sari kulit buah naga merah tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas warna kerupuk kentang (fhitung Artinya jenis penambahan sari kulit buah naga merah tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas tekstur kerupuk kentang (fhitung Definisi Operasional Adonan pertama dibuat dengan 80 ml air mineral atau tanpa tambahan sari buah naga merah. Artinya jenis penambahan sari kulit buah naga merah tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas rasa kerupuk kentang (fhitung Artinya jenis penambahan sari kulit buah naga merah tidak berpengaruh nyata terhadap daya terima kerupuk kentang (fhitung Kerangka Berpikir Hipotesis Penelitian Peningkatan tertinggi dari semua perlakuan adalah P2 (60%) dengan rata-rata 2,43, sedangkan peningkatan terendah dari semua perlakuan adalah P0 (0%) dengan rata-rata 2,27. Pada Gambar 4.3 di atas terlihat bahwa peningkatan tertinggi terdapat pada P3 (90%) dengan rata-rata 3,06 yang artinya semakin banyak kadar sari kulit buah naga merah yang ditambahkan maka semakin tinggi nilai rata-rata taraf kualitas tekstur buah naga merah. kerupuk kentang. Dari data diatas semua perlakuan mengalami peningkatan, peningkatan tertinggi pada P2 (60%) dengan rata-rata 2,48, sedangkan peningkatan terendah pada P3 (90%) dengan rata-rata 2,34. Peningkatan tertinggi kedua terjadi pada P1 (30%) dengan rata-rata sebesar 2.775 dan peningkatan berikutnya terjadi pada P3 (90%) dengan rata-rata yang sama sebesar 2.750. Kenaikan terendah di P1 (30%) dengan rata-rata 2.750, kenaikan tertinggi kedua di P3 (90%) dengan rata-rata 2.825. Pada Gambar 4.8 di atas terlihat jelas angka peningkatan tertinggi terdapat pada P0 (0%) dan P2 (60%) dengan rata-rata yang sama yaitu 2.850 artinya semakin banyak kadar sari buah naga merah yang ditambahkan maka semakin tinggi nilai rata-rata. terhadap kualitas tekstur biskuit kentang. Nilai rata-rata kualitas rasa biskuit kentang tertinggi terdapat pada P3 dengan penambahan sari kulit buah naga merah konsentrasi 90% dengan nilai rata-rata 2,96, sedangkan nilai rata-rata terendah pada P2 dengan rata-rata 2,83 . Nilai rata-rata kualitas rasa biskuit kentang tertinggi terdapat pada P2 dengan penambahan sari kulit buah naga merah dengan konsentrasi 60% dengan nilai rata-rata 2,850, sedangkan nilai rata-rata terendah pada P0 dengan rata-rata 2,737 . Setelah semua data ditabulasikan, sebelum data dilanjutkan ke pengujian hipotesis untuk lebih jelasnya, terlebih dahulu dihitung nilai rata-rata untuk uji pewarnaan pada kualitas kerupuk kentang yaitu warna, rasa, tekstur, aroma dan daya terima. Untuk mendapatkan hasil indikatif dapat mengacu pada nilai rata-rata yang diperoleh pada setiap perlakuan (Tabel 3.3). Jumlah spike terendah ada di P1 (30%) dengan mean 2,86, jumlah spike terbanyak kedua ada di P2 (60%) dengan mean 3,04, dan jumlah spike terbanyak ketiga ada di P0 dengan rata-rata dari 2.91. Jumlah spike terbanyak kedua ada pada P0 dengan rata-rata 2,46 dan jumlah spike terbanyak terakhir ada pada P1 (30%) dengan rata-rata 2,41. Dari Gambar 4.5 di atas terlihat bahwa setiap perlakuan memiliki nilai rata-rata yang berbeda, namun memiliki indikator kesukaan yang sama. Setelah semua data ditabulasikan, sebelum data tersebut dilanjutkan dengan pengujian hipotesis untuk lebih jelasnya, maka data tersebut akan dihitung nilai rata-ratanya terlebih dahulu untuk uji daya simpan mutu kerupuk kentang yaitu warna, rasa, tekstur, aroma dan diterima. Pertumbuhan tertinggi dari semua perlakuan adalah pada P3 (60%) dengan rata-rata 2.275, sedangkan pertumbuhan terendah dari semua. Dari data diatas semua perlakuan mengalami pertumbuhan, pertumbuhan tertinggi pada P3 (90%) dengan rata-rata 2.712, sedangkan pertumbuhan terendah pada P0 (0%) dan P1 (30%) dengan rata-rata yang sama yaitu 2.687. . Dari Gambar 4.9 di atas terlihat jelas bahwa P3 mengalami peningkatan tertinggi dengan rata-rata sebesar 2.712, diikuti oleh P0 dan P1 dengan rata-rata yang sama yaitu sebesar 2.687, sedangkan peningkatan terendah terjadi pada P2 dengan rata-rata sebesar 2.700. Misalnya data kualitas warna kerupuk kentang yaitu Fhitung (4888) > 0,05 berarti data tersebut tidak berpengaruh nyata atau tidak berpengaruh nyata terhadap penambahan sari buah naga merah. Berdasarkan Tabel 4.2 uji warna mutu penambahan sari kulit buah naga merah ditinjau dari rasa, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan uji warna terhadap mutu rasa ubi. biskuit. Berdasarkan Tabel 4.3 uji warna mutu penambahan sari kulit buah naga merah ditinjau dari tekstur, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan uji warna mutu tekstur kerupuk kentang. Berdasarkan Tabel 4.4 uji warna mutu penambahan sari kulit buah naga merah ditinjau dari aroma, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan uji warna terhadap mutu aroma kerupuk kentang. Berdasarkan Tabel 4.5 uji celup mutu penambahan sari kulit buah naga merah ditinjau dari daya terima, hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata uji celup terhadap mutu daya terima kerupuk kentang. Berdasarkan Tabel 4.8 uji pengawet mutu penambahan sari kulit buah naga merah ditinjau dari rasa, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan uji pengawet terhadap mutu rasa kerupuk kentang. Berdasarkan Tabel 4.9 uji pengawet mutu penambahan sari kulit buah naga merah ditinjau dari tekstur, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan mutu uji pengawet terhadap mutu tekstur kerupuk kentang. Berdasarkan Tabel 4.10 uji pengawet mutu penambahan sari kulit buah naga merah ditinjau dari rasa, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan uji pengawet terhadap mutu rasa kerupuk kentang. . Berdasarkan Tabel 4.11 uji konservator terhadap mutu penambahan sari kulit buah naga merah ditinjau dari daya terima, hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan uji konservator terhadap mutu daya terima kerupuk kentang. Asintya Nindita Siwi, Pengaruh Pewarnaan Kulit Buah Naga Merah Terhadap Potensi Antioksidan, Warna dan Sensorik Permen Jelly Jagung (Zey mays. L), (Skripsi, STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta, 2018), hlm. Febri Rizki Ramadani, “Pemanfaatan Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Sebagai Pewarna Alami Blush Kosmetik (Blush on), Journal of Healthcare Technology and Medicie, Vol. Taufik Boby Wisesa dan Simon Bambang Widjanarko, “Penentuan Nilai Maksimal Proses Ekstraksi Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyryzus)”. Weni Enjelina, “Pemanfaatan kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) untuk memperpanjang umur simpan mi basah”, Journal of Action, Vol. Kesimpulan Ainul Bashiroh Tasyur, “Aktivitas antioksidan dan uji organoleptik kerupuk dengan penambahan buah pare dan kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) sebagai pewarna alami”, skripsi Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2016, halaman 2. Agatha Christin Apriyani, “Formulasi tablet isap ekstrak etanol 70% % Kulit Buah Naga Super Merah (Hylocereus costaricensis) dengan Kombinasi Mannitol Filler dan Primrose Destroyer sebagai Antioksidan, Skripsi, Universitas Setia Budi, Surakarta, 2015. Amanda Angelina Sinaga, Sri Luliana and Andhi Fahruroji, Red Dragon Fruit Antioksidan Lotion (Hylocereus polyrhizus Britton and Rose)”, Jurnal Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Vol. Pertumbuhan Organ Tumbuhan Buah Naga (Hylocereus undatus) pada Media Ms Dengan Penambahan Bap dan Sukrosa”, Journal of Natural Science, Vol. Claudia Gradizza Perdani, “Formulasi Kerupuk Kentang Granola (Solanum tuberosum L.) Sebagai Makanan Kuliner Khas Tengger Jawa Timur”, Jurnal Pangan dan Agroindustri, Vol. Elsiana, Laurencia, Oentarini Tjandra, “Identifikasi Senyawa Kimia Ekstrak Metanol Buah Naga Merah (Hylocreus polyrhizus) Menggunakan Gas Chromatography”, Journal of Tarumanegara Medical Journal, Vol. Edi Purnomo, “Pengaruh cara dan lama penyimpanan terhadap penurunan berat badan, kadar glukosa dan kadar karotenoid umbi kentang yang dikonsumsi (Solanum tuberosum L.), Journal of Anatomy and Physiology Bulletin, Vol. Ita Noor Farikha, Choirul Anam, dan Esti Widowati, “Pengaruh jenis dan konsentrasi bahan penstabil alami terhadap karakteristik fisiokimia sari buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) selama penyimpanan”. Leha Julaeha, “Aplikasi pengetahuan bahan tambahan pangan dalam pemilihan jajanan bagi Mahasiswa Pendidikan Kuliner Upi” , Jurnal Pendidikan Media, Gizi dan Kuliner, Vol. Mulyati Tahir, “Identifikasi Bahan Pengawet dan Pewarna Berbahaya Pada Bumbu Halus Yang Diperdagangkan di Pasar Energi Makassar”, Jurnal Media Laboran, Vol. Mustofa, "Penentuan Sifat Fisik Kentang (Solanum tuberosum L.) Sperichity, Volume Permukaan dan Kepadatan", Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo, Vol. Prima Astuti Handayani dan Asri Rahmawati, “Pemanfaatan Kulit Buah Naga (Dragon Fruit) Sebagai Pewarna Alami Pengganti Pewarna Sintetis,” Journal of Renewable Natural Materials, Vol. Tetania Tiara Putri, “Uji Efektivitas Ekstrak Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus), (Dan Simvastatin Dalam Menurunkan Kadar Kolesterol Total Pada Mencit Jantan (Mus musculus L.), Makalah, Universitas Lampung, Bandar Lampung, 2017. Vani Riz Niken Kendarini , dan Sumeru Ashari, “Studi penerapan zat pengatur tumbuh pada pertumbuhan stek tanaman buah naga (Hylocereus costaricensis)”, Vivia Ummi Rochmadona, “Pengaruh pemberian pupuk organik terhadap hasil buah merah dan stor”. (Hylocereus polyrhizus) sebagai sumber belajar desain untuk biologi SMA”.KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
Kajian Pustaka
METODE PENELITIAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Pembahasan
PENUTUP
Saran