BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
Dengan demikian, kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, mungkin juga tidak karena seperti yang telah dikemukakan bahwa masalah dalam kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada di lapangan.
4. Penarikan Kesimpulaan
Langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan berdasarkan temuan dan melakukan verivikasi data. Proses untuk mendapatkan bukti-bukti yang mendukung tahapa pengumpulan data inilah yang dikenal dengan verivikasi data. Penulis menyusun secara sestematis data yang sudah disajikan lalu berusaha menarik kesimpulan dari data tersebut sesuai dengan fokus penelitian.
H. Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa tahapan penelitian yang ada, yang diuraikan sebagai berikut:
1. Tahapan Pralapangan
Pada tahapan ini, penulis melakukan berbagai hal sebelum terjun kelapangan guna memperlancar kegiatan lapangan diantaranya: pengajuan judul, menentukan fokus penelitian, penentuan lokasi penelitian, mengurus perizinan berkaitan dengan instansi yang akan digunakan sebagai objek penelitian, melihat keadaan lapangan, menentukan narasumber atau informan, persiapan perlengkapan penelitian dan etika penelitian.
2. Tahapan kegiatan lapangan, yaitu meliputi:
a) Memahami latar penelitian dan persiapan diri
Sebelum benar-benar masuk dan terjun lapangan alangkah baiknya seorang peneliti memahami latar penelitian dan mempersiapkan dirinya untuk terjun lapangan. Dalam hal ini, peneliti sebaiknya lebih banyak berinteraksi dengan para informan atau narasumber dengan jalan wawancara atau hanya bersikap netral terhadap situasi yang terjadi dilapangan.
b) Terjun lapangan
Tidak hanya masuk dan terjun lapangan saja, akan tetapi seseorang peneliti juga harus membaur dengan lingkungan sekitar yang sedang ia telliti.
c) Berperan serta mengumpulkan data
Ketika peneliti mengumpulkan data, peneliti juga harus membuat catatan lapangan sewaktu mengadakan observasi, wawancara dan menyaksikan kejadian tertentu.
3. Tahapan analisis data
Pada tahapan ini, peneliti melakukan berbagai kegiatan yakni penganalisaan yang diperoleh dari proses wawancara, observasi maupun dokumentasi dari lapangan serta pemberian makna.
4. Tahapan penulisan laporan
Pada tahapan ini peneliti melakukan kegiatan menyusun hasil penelitian, konsultasi hasil penelitian kepada dosen pembimbing dan perbaikan hasil penulisan.
1. Peran Guru
Deksprisi data membahas tentang peneliti dalam mengumpulkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang diperoleh melali akan dipaparkan dan dianalisa sesuai dengan hasil penelitian yang berhubungan dengan objek yang diteliti.
Peneliti hadir untuk melaksanakan penelitian di SD Negeri 2 wajo untuk mengumpulkan data sebanyak mungkin yang sesuai dengan fokus penelitian, membuat peneliti sadar bahwa sebagai instrumen penting, peneliti diharuskan untuk memilih sendiri dari beberapa sumber data yang ada. Seorang peneliti diwajibkan untuk memilih informan dari informan satu ke informan lainnya untuk melakukan wawancara lebih jauh, melihat dan memilih dari fenomena satu ke fenomena yang lain untuk melaksanakan observasi partisipan, kemudian memilih dari dokimentasi satu kedokumentasi lainnya untuk melakukan observasi beserta telaah yang mendalam dari dokumentasi tersebut.
Hasil pengumpulan data tersebut diahiri dengan pembuatan ringkasan data dan terlampir sebagai data hasil penelitian lapangan yang biasa disebut dengan catatan lapangan. Dengan melakukan analisis data secara terus menerus serta menerapkan pengecekan keabsahan data untuk memperoleh temuan peneliti dan selanjutnya dilakukan pembahasan dengan teori supaya memperoleh penjelasan
yang mendukung dan memadai sehingga peneliti mendapatkan kesimpulan yang kokoh serta layak untuk dihadirkan dihadapan pembaca.
Penelitian dilakukan di SD Negeri 2 Wajo pada tanggal 20 Mei 2024 pada pukul 08.00 WITA untuk meminta izin melakukan penelitian disekolah tersebut.
Ketika itu peneliti menuju ruang tunggu dan bertemu langsung dengan kepala sekolah yaitu Ibu Salfina, S.pd. Peneliti melakukan penelitian selama satu bulan dengan melakukan pertemuan dengan wali kelas IV sebagai fokus penelitian yiatu Ibu Rini Amrayni, S.Pd dan informasi lainnya lalu peneliti melakukan penelitian pada tanggal 25 Mei 2024.
Proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru, mereka mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk menjacapai tujuan, serta mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dikelas, salah satunya adalah untuk meningkatkan minat baca siswa.
Hal ini sesuai dengan pendapat Ibu Salfina, S.Pd selaku kepa sekolah di SD Negeri 2 Wajo yang menjelaskan bahwa:
Guru itu bukan hanya sekedar mengajar, tetapi peran guru lebih dari itu, selain menhajar juga mendidik peserta menjadi contoh yang baik bagi siswanya. Peran guru paling tidak harus dilakukan untuk meningkatkan kebiasaan membaca siswa yaitu dengan membimbing siswa, dan jangan membuat anak itu cepat bosan, kita sebagai seorang guru di tuntut untuk menyampaikan materi pembelajaran dengan mengaitkan pembelajaran satu dengan pembelajaran lainnya, hal ini supaya membuat siswa tidak cepat bosan dalam pembelajaran, dan dengan terik ini siswa menjadi tertarik mebaca buku
Hasil pemaparan diatas dapat dijelaskan bahwa seorang guru tidak hannya membimbing dan mengajar, tetapi juga harus menjadi contoh yang baik bagi siswanya.
Penyajian data penelitian diuraikan dengan urutan berdasarkan subjek penelitian yaitu data dari hasil penelitian dari sumber yang terdiri dari Informan dan responden, serta observasi dan dokumentasi dalam penyajian penelitian di sekolah.
Dari penelitian yang penulis lakukan kepada narasumber yaitu guru dan siswa kelas IV di Sekolah Dasar Negeri 2 Wajo Kota Baubau yang penulis jadikan sampel untuk memperoleh hasil. Penelitian telah dilakukan oleh penulis dengan cara melakukan wawancara langsung kepada guru dan siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 2 Wajo, penulis juga melakukan observasi secara langsung dan dokumentasi untuk menggali informasi dari guru kelas IV Sekolah Dasar Negeri 2 Wajo kota Baubau sebagai data pendamping untuk melengkapi hasil penelitian ini, sesuai dengan data yang diperoleh penenliti, maka dapat disajikan sistematika hasil penelitian sebagai berikut :
a. Peran Guru Sebagai Motivator
1. Bagaimana minat siswa disini dalam hal membaca.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Ibu Rini Amrayni, S.Pd selaku guru wali kelas IV mengatakan bahwa :
“Menurut saya, peserta didik disini dalam hal minat membaca terhadap buku pembelajaran ataupun yang lainnya masih jauh dari harapan, namun dari pihak sekolah tetap terus berupaya memberikan arahan-arahan kepada siswa perihal pentingnya membaca”
Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan siswa yang bernama Muh.Fadlan yang mengatakan bahwa:
“ Saya jarang membaca buku di perpustakaan bersama teman-teman, terkadang juga saya membaca buku karena diperintahkan oleh guru”.
2. Metode yang menarik dalam memotivasi siswa untuk meningkatkan minat baca.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Ibu Rini Amrayni ,S.Pd selaku wali guru kelas IV mengatakan bahwa :
“Metode pembelajaran yang menarik itu seperti, membaca bersama dengan membuat rutinitas membaca bersama di kelas, dimana kita membacakan buku atau artikel yang menarik serta memfasilitasi diskusi setelahnya, menyesuaikan bahan bacaan yang sesuai dengan minat dan tingkat kesulitan siswa untuk memastikan keterlibatan maksimal dan membaca berbasis permainan atau aktivitas yang menantang interaktif seperti, teka teki dan permainan kuis yang berhubungan dengan bahan bacaan untuk membangkitkan minat dan motivasi siswa”.
Hal ini juga diperkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan salah satu siswa bernama Asni yang mengatakan bahwa :
“ Guru memberikan kami tes yang menarik seperti lomba membaca, diskusi dan tanya jawab bersama teman sebangku, dalam setiap minggu dengan memberikan hadiah kepada siapa yang menang.”
Dari hasil wawancara diatas, dapat disimpulkan bahwa peran guru sebegai motivator hendaknya bisa meberikan dorongan/motivasi kepada siswanya. Metode pembelajaran yang menarik juga diperlukan untuk meningkatkan minat baca siswa, salah satunya adalah dengan membaca bersama di kelas, menyesuaikan bahan bacaan sesuai dengan minat dan kesulitan siswa, dan membaca berbasis permainan.
Bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang dapat merangsang minat baca siswa.
3. Metode belajar yang menarik selanjutnya, yang dapat memotivasi siswa dalam meningkatkan minat baca?
Dari Hasil wawancara Ibu Rini Amrayni, S.Pd selaku wali guru kelas IV menambahkan bahwa lingkungan belajar juga dapat merangsang minat baca siswdiantaranya sebagai berikut :
a) Membuat pojok baca yang nyaman dan menarik dengan menyediakan berbagai macam bahan bacaan, termasuk buku cerita, pengetahuan dan majalah yang sesuai dengan minat siswa, kemudian adakan aktivitas yang berhubungan dengan bacaan, seperti diskusi buku dan kuis tentang buku yang dibaca.
b) Menjadi contoh, seperti menunjukkan minat kita dengan membaca didepan siswa, berbagi pengalaman membaca yang menyenangkan serta, tentukan dan jadwalkan waktu khusus dalam hari atau minggu dimana siswa diizinkan untuk membaca buku yang mereka sukai.
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan yang dapat meranngsang minat baca siswa yaitu membuat pojok baca yang nyaman dan menarik, serta menjadi contoh dengan menunjukkan minat kita untuk membaca di depan siswa.
Hasil observasi, disaat proses pembelajaran, peneliti melihat saat guru memberikan motivasi saat pembelajaran berlangsung, saat materi pembelajaran belum dimulai, kemudian guru mengajar dengan baik, meningaitkan materi pembelajaran dengan materi lainnya, kemudian diakhiri proses pembelajaran
dikelas, guru memberikan tugas membaca dirumah sebagai bahan untuk bertanya dan menjawab pada saat diskusi materi selanjutnya.
b. Peran Guru Sebagai Fasilitator
1. Sebagai fasilitator, apa yang perlu diperhatikan dalam mendukung perkembangan minat baca siswa.
Berdasarkan hasil wawancara penenliti dengan Ibu Rini Amrayni, S.Pd selaku guru wali kelas IV mengatakan bahwa:
“Sebagai seorang fasilitator, guru harus mempersiapkan sarana prasarana yang mendukung untuk menumbuhkan minat baca, seperti melengkapi dengan berbagai macam literasi. Selain itu pihak sekolah juga mempersiapkan berbagai macam buku yang ada diperpustakaan. Meskipun bisa dibilang kebutuhan buku yang ada diperpustakaan masih kurang memadai”.
2. Guru berperan sebagai fasilitator dalam meningkatkan minat baca siswa.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Ibu Rini Amrayni, S,Pd selaku wali kelas juga mengatakan bahwa:
“Tugas guru sebagai fasilitator disini yaitu sebisa mungkin harus menjadi guru yang selalu ada jika dibutuhkan siswa. Selalu memberikan sesuatu yang diperlukan siswa. Contohnya ketika siswa kurang memahami maksud dari sebuah materi bacaann, saya sebagai guru akan membantu menjelaskan dan membimbing siswa tersebut, baik saat jam pembelajaran berlangsung maupun diluar jam pembelajaran”.
Hal ini diperkuat oleh hasil wawancara peneliti dengan siswa bernama Putri Cantika, mengatakan bahwa :
“Jika kami kesulitan dalam memahami maksud dari buku bacaan yang dibaca maka, guru selalu menjelaskan kembali dan membantu kami memahaminya.”
Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat disimpulkan bahwa peran guru sebagai fasilitator guru harus menjadi orang yang selalu ada jika dinutuhkan siswa, memberikan sesuatu yang diperlukan siswa, serta mempersiapkan sarana prasarana yang menumbuhkan minat baca.
d. Peran Guru Sebagai Evaluator
1. Guru berperan sebagai evaluator dalam meningkatkan minat baca siswa.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan ibu Rini Amrayni, S,Pd selaku guru wali kelas IV, mengatakan bahwar:
“Menurut saya peran guru sebagai evaluator dalam meningkatkan minat baca siswa seperti, mengidentifikasi minat dan kebutuhan menggunakan survei kuesioner dan diskusi, menilai kemajuan membaca dengan melakukan tes,kuis,observasi untuk mengukur kemampuan membaca siswa secara berkala, memberikan umpan balik, menyesuaikan strategi pengajaran serta melibatkan orangtua “.
Hal ini diperkuat oleh hasil wawancara peneliti dengan siswa yang bernama Auliah Izat mengatakan bahwa :
“Guru disini biasanya memberikan kami tes membaca, meminta kami membuat kesimpulan dari buku yang telah dibaca, serta mengadakan diskusi.”
2. Evaluasi penting dalam meningkatkan minat baca siswa.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan ibu Rini Amrayni, S.Pd mengatakan bahwa :
“evaluasi sangat penting dilakukan oleh semua guru dalam mengevaluasi peserta didik, membawa dampak positif bagi perkembangan minat baca siswa. Diantaranya yaitu peserta didik maupun guru menjadi lebih mengerti dan memahami manfaat evaluasi bagi diri mereka”.
Dari hasil wawanacara diatas dapat disimpulkan bahwa, peran guru sebagai evaluator adalah dengan melakukan tes,kuis dan observasi untuk mengukur kemampuan membaca siswa secara berkala, serta evaluasi sangat penting dilakukan
oleh para guru yang membawa dampak positif bagi perkembangan minat baca siswa.
2. Faktor yang mempengaruhi minat baca a. Faktor Pendukung
1). Faktor yang mendukung dalam meningkatkan minat baca siswa.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan ibu Rini Amrayni, S,Pd selaku guru wali kelas IV mengatakan bahwa :
“Menurut saya faktor yang mendukung perkembangan minat baca adalah sebagai berikut:
a) Lingkungan yang mendukung, seperti perpustakaan sekolah yang menarik menyediakan koleksi buku yang bervariasi dan menyediakan pojok baca disetiap kelas.
b) Peran guru dan orangtua, seperti dukungan guru yang mengadakan kegiatan membaca, memberikan tugas yang melibatkan buku dan keterlibatan orangtua yang membiasakan anak untuk membaca di rumah, menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan minat.
c) Mengadakan Kegiatan literasi sekolah seperti membaca selama 15 menit sebelum memulai pelajaran dan memberikan penghargaan/motivasi kepada siswa yang menunjukkan minat baca yang tinggi,memotivasi siswa baik secara ekstrinsik(hadiah) maupun intrinsik(kepuasan pribadi dari membaca).”
Berdasarkan wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mendukung perkembangan minat baca siswa diantaranya yaitu, lingkungan yang mendukung, peran guru dan orangtua, serta mengadakan kegiatan literasi sekolah,
dengan mengoptimalkan faktor-faktor ini, sekolah dan keluarga dapat bekerjasama untuk menciptakan budaya membaca berkelanjutan bagi siswa.
b. Faktor penghambat
1. Faktor yang menghambat perkembangan minat baca siswa.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan ibu Rini Amrayni, S.Pd selaku guru wali kelas IV mengatakan bahwa :
“ Dari faktor internal, yang berasal dari dalam diri siswa seperti kurangnya kebiasaan membaca siswa, membaca atas perintah guru, serta belum memiliki inisiatif untuk mencari bahan bacaan dan membaca.
Faktor eksternal, yang berasal dari luar diri siswa diantaranya adalah sebagai berikut :
- Dari lingkungan keluarga misalnya, kebiasaan membaca di rumah masih rendah, orangtua jarang mengajak ke toko buku membelikan buku untuk anak serta pengaruh menonton televisi dan penggunaan gadget untuk bermain games.
Hal ini diperkuat oleh hasil wawancara peneliti dengan siswa yang bernama Alif Ramadhan mengatakan bahwa :
“Saya membaca buku di rumah disaat waktu tertentu saja seperti sebelum tidur, sisanya bermain gadget”.
- Dari lingkungan sekolah misalnya, budaya membaca dilingkungan sekolah masih rendah, kegiatan literasi belum berjalan maksimal, kurangnya slogan membaca serta belum memiliki tempat khusus membaca selain di perpustakaan.”
Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang menghambat perkembangan minat baca terbagi menjadi, faktor internal yang berasal dalam diri siswa seperti kurangnya kebiasan membeca, membaca atas perintah orang lain, serta belum memiliki inisiatif sendiri, dan faktor eksternal yang berasal dari luar yaitu lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah
hendaknya juga mampu membantu peserta didik dalam meningkatkan disiplin dan standar perilakunya. Guru yang profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik, orang tua.
Berdasarkan teori diatas bahwasannya peran guru sebagai motivator di SD Negeri 2 Wajo salahsatunya adalah dengan mengajak siswa untuk rajin datang keperpustakaan. Hal itu dilakukan guru agar supaya siswa termotivasi untuk datang ke perpustakaan meskipun hanya sebentar entah itu untuk membaca buku ataupun meminjam buku. hal itu bisa dilakukan pada saat jam istrahat ataupun guru bisa mengajak sisw keperpustakaan saat jam pembelajaran untuk mencari referensi- referensi buku yang berkaitan ddengan materi pembelajaran . dengan cara seperti itu siswa akan memiliki sikap disiplin dan otomatis hal itu juga dapat meningkatkan prestasi siswa karena seringnnya membaca buku. untuk masalah kedisplinan sesuai dengan pernyataan teori sebagai berikut: Sebagai Leader, guru lebih memberikan kebebasan secara bertanggung jawab kepada peserta didik. Dengan demikian, disiplin yang ditetapkan oleh guru dari peran sebagai Leader ini adalah disiplin hidup.
Berdasarkan teori tersebut, guru sebagai leader berkuasa yang dimana guru dapat melakukan sesuatu hal contohnya seperti memberikan hukuman yang mendidik kepada siswa agar memiliki sikap disiplin dan bertanggung jawab atas tugasnya. Hal itu dimaksudkan supaya berguna dalam kehidupan nanti. Kedisplinan juga perlu dilakukan guru kepada siswa untuk meningkatkan minat baca mereka.
dengan disiplin, siswa terlatih dan akan menjadi suatu kebiasaan.
2. Peran Guru Sebagai Fasilitator
Fasilitator adalah memberikan fasilitas dan memberikan sarana prasarana yang disediakan disekolah. Dalam hal ini guru memberikan fasilitas kepada siswa. Dalam artian guru menyediakan situasi dan kondisi yang dibutuhkan peserta didik. Guru memberikan bantuan ataupun menyediakan segala apa saja yang dibutuhkan peserta didik dalam proses pendidikan. Selain itu juga guru harus memberikan bantuan teknis, arahan dan petunjuk kepada peserta didik dalam berbagai bentuk dan jenis penilaian, serata menilai pekerjaan siswa.
Kaitannya dengan minat baca, di SD Negeri 2 Wajo menyediakan sarana prasaran dan beberapa literatur buku-buku yang dibutuhkan siswa. Mereka juga menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan cara tanya jawab tantang materi pembelajaran yang telah mereka baca dengan cara santai namun tetap serius. Dengan memberikan fasilitas yang menyenangkan didalam kelas dan beberapa literatur buku-buku yang dibutuhkan siswa, para peserta didik akan merasa sennag dan otomatis mereka akan semangat untuk meningkatkan minat baca mereka. walaupun semua itu tidak mudah dilakukan, namun guru tetap semangat demi meningkatkan minat membaca siswa di sekolah tersebut, terutama di kelas IV.
Bentuk fasilitas yang dilakukan guru-guru di SD Negeri 2 Wajo adalah dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan sekolah. Dalam hal untuk meningkatkan minat baca siswa, pihak sekolah menyediakan ruang perpustakaan yang layak dan memadai. Disini peran guru selain memanfaatkan fasilitasi tersebut juga harus membantu mendukungnya dengan cara ikut
merawat ruang perpustakaan. Sesekali ia mempehatikan koleksi buku-buku yang ada di sana. Dengan adanya fasilitas perpustakaan yang nyaman dan memadai siswa akan merasa sennag untuk datang keperpustakaan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SD Negeri 2 Wajo dapat diketahui bahwa guru disekolah di sana tidak hanya sebagai pengajar, tetapi mereka juga memberikan fasilitas yang baik untuk siswa agar dapat mendorong siswa agar bergairah, semangat dan aktif dalam hal membaca.
3. Peran Guru Sebagai Evaluator
Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melihat banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang memmpunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Mengingat kompleksnya proses penilaian, guru perlu memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang memadai. Dalam setiap persiapan terdapat beberapa kegiatan, antara lain penyusunan tabel spesifikasi yang didakamnya terdapat sasaran penilaian. Teknik penilaian sera jumlah instruen yang diperlukan. Evaluasi juga berfungsi menilai sejauh mana keberhasilan proses pendidikan guru, memeriksa mutu lulusan dan menyediakan informasi yang berguna untuk perbaikan sistem pendidikan furu dapa masa mendtang.
Sebagai Wali kelas IV di SD Negeri 2 Wajo, dalam meningkatkan minat membaca siswa perlu mengadakan upaya-upaya yang mendorong tercapainya tujuan. Meningkatnya minat baca siswa yang dilakukan dapat diketahui berhasil apabila terjadi perubahan dengan meningkatnya ataupun berubahnya kebiasaan
siswa menjadi lebih baik, dan itu dapat dijadikan tolak ukur sebagai keberhasilan yang dilakukan guru dalam meningkatkan kebiasaan embaca siswa. Hal ini dapat terwujud dan terlaksana dengan baik apabila guru berperan sebagai evaluator dalan membimbing siswa. Melalui evaluasi tersebut guru dapat menentukan langkah yang tepat dalam meningkatkan minat baca siswa.
Berdasarkan penilaian yang dilakukan peneliti di SD negeri 2 Wajo dijelakan bahwa sebagai evaluator guru memberikan evaluasi yang baik terhadap siswanya, bahkan penilaian juga dilakukan diluar pemberian materi yaitu melalui sikap dan ketaatan siswa saat mengikuti proses pembelajaran. Wali kelas IV di SD negeri 2 Wajo menggunakan bebrapa cara dalam mengevaluasi siswanya dalam meningkatkan minat baca siswa, yaitu sebagai berikut:
a. Guru melakukan evaluasi dengan merencanakan evaluasi, melaksanakan evaluasi, dan mengetahui manfaat evaluasi.
Tahap pertama, Guru dalam mengevaluasi siswa yang pertama dilakukan adalah tahap merencanakan evaluasi. Pada hakikatnya perencanaan adalah suatu rangkaian proses kegiatan penyiapan keputusan mengenai apa yang akan diharapkan terjadi dan apa yang akan dilakukan.
Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan evaluasi artinya bagaimana cara melaksanakan evaluasi sesuai dengan perencanaan evaluasi, baik menggunakan tes maupun non tes akan berbeda satu dengan lainnya, sesuai dengan tujuan dan fungsinya masing-masing. Sesuai pengamatan yang dilakukan peneliti, guru melakukan evaluasi dengan tes, yaitu tes tukis dan tes lisan. Dalam kaitannya dengan meingkatkan minat baca, tes tulis digunakan untuk mengetahui sejauh
mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah ia baca dan pahami dengan mengerjakan soal. Tes tulis yang digunakan pada saat tannya jawab tentang materi pembelajaran. Tes uaraian digunakan oleh guru dengan tujuan para siswa dapat menjabarkan pemikiran mereka melalui jawaban. Sedangkan tes lisandigunakan saat tanya jawab bertujuan untuk mengasah kemampuan siswa.
Dengan demikian bisanya siswa menjawab pertanyaan, berarti siswa sudah membaca bannyak buku, begitupun sebaliknya.
Tahap berikutnya yaitu mengetahui manfaat hasil evaluasi. Guru akan menjelaskan manfaat evaluasi bagi para siswa, seperti siswa akan memperoleh feed back (umpan balik) dari suatu proses pembelajaran yang telah mereka ikuti dalam jangka waktu tertentu. Selain itu guru juga akan mengetahui manfaat evaluasi bagi diri mereka sendiri. Manfaat itu antara lain, guru akan memperoleh onformasi berkenaan dengan kondisi sebelum, kondisi prose pembelajaran dan memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.
b. Guru melakukan evaluasi dengann cara menyuruh siswa kedepan kelas untuk mempresentasikan dari apa yang telah siswa baca
Ahir pembelajaran apakah guru dan siswa dalam pembelajaran yang dilakukan adalah dengan adanya evaluasi. Guru melakukan evaluasi dalam meningkatkan minat baca yang selanjutnya adalah dengan cara menyuruh siswa maju kedepan kelas untuk mempresentasikan dari apa yang telah siswa pelajari dan siswa baca disaat jam pembelajatran berlangsung. Dari siti akan diketahui apakah siswa lancar dalam mengkomunikasikan hasil presentasi tersebut atau tidak, dari situ guru bisa menilai siswa mana saja yang sudah menguasai materi