• Tidak ada hasil yang ditemukan

REALISASI BELANJA TOTAL APBN

B. Hasil Penelitian

Data kinerja keuangan instansi pemerintah pusat (studi kasus di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional) tahun 2012 sampai dengan 2016 diperoleh dari laporan keuangan (audited) dan sumber lain dari system kendali e-PNBP dan SKMPP Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional serta Spanit Kementerian Keuangan untuk KL 056, dan diperoleh data kinerja sebagai berikut :

I. Target dan realisasi Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) serta prosentase capaikan kinerja keuangan ditinjau dari rasio efesiensi belanja secara total APBN yang terdiri belanja sumberdana PNBP dan belanja sumber dana Rupiah Murni (RM) pada tahun 2012 sampai dengan 2016 meliputi 33 satuan kerja provinsi, sebagai berikut :

55

43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

Tabel 4.3 Realisasi Belanja Total APBN 2012 -2016

NO. UNIT KERJNPROPINSI EFISIENSI BELANJA APBN (%)

2012 2013 2014 2015 2016 RERATA

I DKIJAKARTA 74.70 8356 89.54 77.12 82.52 8149

2 JAWABARAT 8189 91.94 90.68 93.14 87.10 88.95

3 JAWATENGAH 83 70 87.95 93.95 94.54 88.67 89.76

4 DI YOGYAKARTA 85.86 94.55 92.85 94.19 91.27 91.74

5 JAWA TIMUR 75.82 84.92 87.84 95.19 84.67 85.69

6 ACEH 73 40 8161 83.95 92.94 83.60 83.10

7 SUMATERA L;TARA 68.43 7108 78.15 79.28 77 04 74.80

8 SUMATERA BARAT 79 21 8323 83.21 94.21 87 35 85.44

9 RIAU 76 57 85.23 76.60 92.78 78 IO 8186

IO JAMB! 72 78 83.32 76.95 84.01 77.77 78.97

II SUMATERA SELATAN 71 02 83.39 81.24 90.96 77.85 80.89

12 LAMPUNG 66.34 84.94 78.69 88.19 8532 80.70

13 l\:ALIMANTAN BARAT 79 19 74.77 84.68 92.52 8478 83.19

14 KALIMANTAN TENGAH 82.14 83.79 8186 92.76 79 78 84 07

15 KALIMANTAN SELATAN 66 58 79.28 77.11 9160 67.44 76.40

16 KALIMANTAN TIMUR 48.02 74.41 79.84 82.31 77.61 72.44

17 SULAWESI UTARA 88.37 90.17 84.93 95.71 84.17 88.67

18 SULA WES! TENGAH 8335 86.78 87.07 9330 78.05 85.71

19 SULAWESI SELATAN 79 78 90.00 8181 87.48 88.90 85.59

20 SULAWESI TENGGARA 80 92 90.11 83.70 80.43 86.05 84.24

21 MALUKU 74 67 88.56 8307 90.56 84 38 84.25

22 BALI 7100 84.39 9172 89.24 8129 83.53

23 NUSA TENGGARA BARAT 72.25 90.66 89.73 9193 92.42 87.40

24 NUSA TENGGARA TIMUR 85 09 86.31 89.76 92.45 9306 89.33

25 PAPUA 88 02 84.15 8120 92.18 89 16 86.94

26 BENGKULU 8236 82 61 86.49 93.74 88 78 86.80

27 BAN TEN 71 54 81.76 89.83 83.81 82 77 81 94

28 GORONTALO 61 74 81.46 88.29 94.98 91 15 83.52

29 KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 74 29 81.14 84.06 91.45 82.70 82.73

30 MALUKU UTARA 68.27 85.96 86.57 7907 87.89 8155

31 SULAWESI BARAT 86.75 64.55 91J2 92.47 88.18 84.66

32 KEPULAUAN RIAU 67.23 79.13 87.01 93.47 84.48 82.26

33 PAPUA BARAT 65 62 74 01 75.40 83.20 78.41 75.33

RERATA 76.03 84.60 86.23 89.71 84.39 84.19

Sumber data : Pusdatin A TR/BPN 2017, setelah diolah.

Rincian data realisasi belanja total APBN per satuan kerja provinsi tahun 2012 sampai dengan 2016, sebagaimana disaj ikan pada lampiran 1.

56

43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

Rerata efisiensi APBN tahun 2012-2016 secara nasional yang mencenninkan kinerja 33 provinsi sebesar 84, 19%, menunjukan bahwa tingkat efisiensi belanja belum maksimal mengingat kinerja angka kinerja masih dibawah 100%, meskipun setiap tahunnya terdapat peningkatan 2,8. Bila ditinjau Iebih rinci maka dapat dikelompokan provinsi yang mempunyai kinerja tertinggi dan terendah. Sebagai sampel digunakan tiga provinsi pada masing-masing kelompok, sebagai berikut :

Tabel 4.4 Kelompok Realisasi Tertinggi APBN 2012 - 2016 REALISASI TERTINGGI

NO. 2012 2013 2014 2015 2016

Sulawesi Utara DIY Jawa Tengah Sulawesi Utara NIT

2 Papua Jawa Barat DIY Jawa Timur NIB

3 Sulawesi Barat NIB Bali Gorontalo DIY Sumber data : Penulis (diolah)

Berdasarkan hasil pengelompokan diatas, maka dapat dilihat bahwa peringkat kinerja provinsi tidak sama setiap tahunnya. Dalam kurun waktu lima tahun provinsi DIY dalam waktu tiga tahun menempati peringkat tertinggi, yang dapat ditinjukkan pada tabel 4.4, dengan rerata realisasi belanja APBN sebesar 91, 74% atau diatas rerata nasional yaitu sebesar 84, 19 %. Mengingat realisasi belanja APBN merupakan agregat dari realisasi belanja sumberdana Rupiah Mumi dan belanja sumberdana PNBP, maka dapat dilihat kontribusi realiasasi masing-masing sumberdana terhadap total realisasi APBN sebagai berikut:

57

43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

Tabel 4.5 Perbandingan Realisasi Tertinggi APBN 2012 -2016 (per sum berdana)

REALISASI TERTINGGI

2012 2013 2014 2015 2016

NO.

RM PNBP RM PNBP RM PNBP RM PNBP RM PNBP

Sulawesi Utara DIY Jawa Tengah Sulawesi Utara NTT

94.82 52.29 95.85 90.48 97.49 88.93 96.76 86.17 95.99 71.38

2 Papua Jawa Barat DIY Jawa Timur NTB

92.52 69.95 96.74 87.59 94.75 87.15 97.34 88.42 96.24 76.19

3 Sulawesi Baral NTB Bali Gorontab DIY

93.3 41.12 93.48 78.2 94.63 88.41 95.85 84.55 96.52 78.04 Sumber data : Penulis (diolah)

Berdasar data tersebut diatas dapat diketahui bahwa provinsi DIY mempunyai kinerja terhadap belanja sumberdana PNBP yang lebih tinggi pertahunnya.

Sedangkan kinerja belanja sumberdana Rupiah Murni relative diatas 90%. Hal ini menunjukan kontribusi kinerja sumberdana PNBP akan berdampak pada kinerja belanja APBN. Sedangkan terhadap kelompok provinsi dengan peringkat realisasi terendah, terdapat tiga provinsi per tahunnya sebagai berikut:

Tabel 4.6 Kelompok Realisasi Terendah APBN 2012-2016 REALISASI TERENDAH

NO. 2012 2013 2014 2015 2016

Papua Barat Papua Barat Jambi Sulawesi Tenggara Kalimantan Timur 2 Gorontalo Surnatera Utara Riau Maluku Utara Surnatera Utara 3 Kalimantan Timur Sulawesi Barat Papua Barat DKI Kalimantan Selatan Sumber data: Penulis (diolah)

Sesuai hasil pengelompokan peringkat, menunjukan bahwa provms1 mempunyai pola kinerja yang tidak sama pertahunnya, tetapi terhadap provinsi Papua Barat menunjukan kinerja yang rendah da1am tiga tahun

58

43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

selama kurun waktu lima tahun, dan bila ditinjau dari kontribusi realisasi per sumberdana, maka dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.7 Perbandingan Realisasi Terendah APBN 2012-2016 (per sumberdana)

REALISASI TERENDAH

2012 2013 2014 2015 2016

NO. RM PNBP RM PNBP RM PNBP RM PNBP RM PNBP

Papua Barat Papua Barat Jambi Sulawesi Tenggara Kalimantan Timur 77.89 33.44 74.66 70.21 82.53 66.41 81.14 67.53 80.24 74.37 2 Gorontalo Surnatera Utara Riau Maluku Utara Surnatera Utara

82.02 25.57 83.62 52.34 88.99 62.73 79.62 48.11 85.15 63.53 3 Kalimantan Timur Sulawesi Barat Papua Barat OKI Kalimantan Selatan 79.1 29.43 64.55 64.55 76.4 71.45 94.61 70.83 73.6 55.36

Sumber data: Penulis (diolah)

Berdasarkan data tersebut diatas menunjukan bahwa rendahnya realisasi belanja sumberdana PNBP tidak serta merta berdampak pada rendahnya realisasi APBN sepanjang realisasi belanja sumberdana Rupiah Mumi dapat berkontribusi maksimal terhadap belanja sumberdana APBN. tetapi secara nasional menunjukan bahwa rendahnya kontribusi realisasi belanja sumberdana PNBP berdampak pada belum optimalnya realisasi belanja total APBN.

2. Dalam kaitannya dengan uraian pada rasio efisiensi belanja APBN tersebut diatas, maka secara nasional rasio efisiensi sumberdana PNBP dalam kurun waktu lima tahun, yaitu tahun 2012 sampai dengan 2016 yang meliputi 33 satuan kerja provinsi, sebagai berikut :

59 43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

Tabel 4.8 Realisasi Belanja Sumber Dana PNBP 2012 - 2016

EFISIENSI BELANJA PNBP (%) NO. UNIT KERJAIPROPINSJ

2012 2013 2014 2015 2016 RERATA

[ DKIJAKARTA 65.88 81.00 88.41 70.83 77.64 77.61

2 JAWABARAT 69.01 87.59 85.59 88.54 80.91 81.55

3 JAWA TENGAH 70.03 78.42 88.93 90.90 79.02 79.48

4 DI YOGY AK ART A 63.93 90.48 87.15 82.67 78.04 79.30

5 JAWA TIMUR 59.33 76.99 81.34 88.42 75.57 74.26

6 ACEH 35.25 60.66 64.00 73.31 76.03 58.23

7 SUMATERA UTARA 46.66 52.34 62.15 46.85 63.53 55.40

8 SUMATERABARAT 54.74 74.33 70.19 78.97 78.94 70.28

9 RIAU 60.18 76.40 62.73 82.23 63.24 66.56

10 JAMB! 53.52 72.58 66.41 69.16 68.77 65.31

11 SUMATERA SELATAN 55.36 77.31 75.08 77.37 63.88 67.93

12 LAMPUNG 30.77 59.76 64.54 54.76 67.70 52.40

13 KALIMANTAN BARAT 67.50 68.39 78.77 80.50 77.62 73.64

14 KALIMANTAN TENGAH 50.01 80.03 80.20 91.19 80.94 76.86

15 KALIMANTAN SELATAN 45.33 74.94 69.85 78.60 55.36 61.46

16 KALIMANTAN TIMUR 29.43 64.25 76.01 58.88 74.37 56.70

17 SULAWESI UTARA 52.29 75.44 67.39 86.17 73.46 69.68

18 SULA WESJ TENGAH 59.19 78.49 70.58 83.09 70.95 74.04

19 SULAWESI SELAT AN 52.72 69.27 59.98 69.79 72.86 63.49

20 SULA WESJ TENGGARA 33.92 69.27 44.12 67.53 57.64 51.50

21 MALUKU 25.71 35.75 46.82 78.20 65.12 44.93

22 BALI 49.84 73.42 88.41 77.98 65.03 70.93

23 NUSATENGGARABARAT 31.30 78.20 77.29 75.23 76.19 61.21

24 NUSA TENGGARA TIMUR 71.61 84.78 74.33 67.34 71.38 73.87

25 PAPUA 69.95 82.41 62.75 80.42 81.87 75.99

26 BENGKULU 51.99 55.27 63.98 74.49 83.67 64.85

27 BAN TEN 61.79 75.68 88.02 81.94 78.85 75.83

28 GO RO NT ALO 25.57 52.18 74.08 84.55 85.41 55.26

29 KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 42.57 66.14 73.26 65.94 67.98 63.16

30 MALUKU UTARA 9.51 39.42 44.78 48.11 68.12 34.18

31 SULAWESI BARAT 41.12 64.55 73.84 80.96 79.88 66.34

32 KEPULAUAN RIAU 58.11 76.42 85.14 84.89 87.08 77.78

33 PAPUABARAT 33.44 70.21 71.45 53.75 79.70 65.88

RERATA 56.09 75.67 78.92 77.90 74.89 71.97

Sumber data : Pusdatin A TR/BPN 2017, setelah diolah.

Rincian data realisasi belanja sumberdana PNBP tahun 2012 sampai dengan 2016 per satuan kerja provinsi, sebagaimana disajikan pada lam pi ran 2.

Dilihat dari data rerata realisasi belanja yang berasal dari sumberdana PNBP pada tahun 2012-2016 menunjukan adanya peningkatan di tahun 2014 dan cenderung menurun ditahun 2015 dan 2016. Mengingat realisasi nasional

60

43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

merupakan agregat dari 33 provinsi maka dapat dikelompokan dalam tiga provinsi yang mencapai realisasi tertinggi dan tiga provinsi dengan realisasi terendah sebagaimana berikut :

Tabel 4.9 Kelompok Realisasi Tertinggi Belanja Sumberdana PNBP Tahun 2012 - 2016

REALISASI TERTINGGI

NO. 2012 2013 2014 2015 2016

NIT DIY Jawa Tengah Kalimantan Tengah K pulauan Riau 2 Jawa Tengah Jawa Barnt Bali Jawa Tengah Gorontalo

3 Papua NIT DK! Jawa Barat Bengkulu

Sumber data: Penulis (diolah)

Berdasarkan hasil pengelompokan peringkat, maka provinsi Jawa Tengah berada pada kelompok peringkat tertinggi dalam tiga tahun dibandingkan dengan provinsi lain dalam kelompoknya, tetapi rerata dalam kurun waktu lima tahun dibanding provinsi lainnya adalah provinsi Jawa Barat, yang menunjukan bahwa pola pergerakan realisasi per tahun tidak sama. Sedangkan berdasarkan pengelompokan tiga provinsi dengan peringkat realisasi terendah, sebagai berikut :

Tabel 4.10 Kelompok Realisasi Terendah Belanja Sumberdana PNBP Tahun 2012 - 2016

REALISASI TERENDAH

NO. 2012 2013 2014 2015 2016

Maluku Gorontalo Maluku Papua barat Riau

2 Gorontalo Maluku Utara Maluku Utara Maluku Utara Sulawesi Tenggara 3 Maluku Utara Maluku Sulawesi Tenggara Smnatera Utara Kalimantan Selatan Sumber data: Penulis (diolah)

Provinsi Maluku Utara mempunyai peringkat terendah di empat tahun dalam kurun waktu lima tahun, secara nasional provinsi Maluku Utara juga menempati peringkat terendah di tahun 2012 sampai dengan 2015.

61

43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

3. Mengingat belanja yang berasal dari sumberdana PNBP yang tidak dapat dipisahkan dari realisasi penerimaannya, maka perlu diliat penyebab dari tinggi dan rendahnya efisiensi belanja yang bersumberdana PNBP dari rasio efektifitas pendapatannya. Adapun data rasio efektifitas pendapatan dalam kurun waktu lima tahun (2012-2016) untuk 33 provinsi adalah sebagai berikut:

Tabel 4.11 Realisasi Penerimaan 2012 - 2016

EFEKTIFITAS PENDAPATAN (%) NO. UNIT KERJNPROPINSI

2012 2013 2014 2015 2016 RERATA

I DKIJAKARTA 203.53 132.68 154.26 194.23 140.52 158.40

2 JAWABARAT 10123 124.61 125.24 146.80 105 77 119.60

3 JAWA TENGAH 88.83 96.95 97.51 100 03 107.90 98.10

4 DI YOGY AKARTA 78.10 133.44 206.97 135 60 9802 120.90

5 JAWA TIMUR 96.11 I 05.49 116.48 12134 152 88 117.01

6 ACEH 44.18 67.58 258.98 66.49 79.58 75.64

7 SUMATERA UfARA 86.28 78.59 68.80 7705 92.60 79.83

8 SUMATERA BARAT 37.47 89.07 81.53 86.70 63.24 65.26

9 RIAU 106.39 100.22 310.91 85 62 74.46 105.70

IO JAMB! 70.83 81.65 79.25 93.86 7165 78.71

II SUMATERA SELATAN 84.95 90.08 83.69 73 79 71 62 80 53

12 LAMPUNG 41.71 89.73 8307 87 50 76 17 7145

13 KAUMANTAN BARAT 83.79 80.09 393.91 70.58 48.39 88.50

14 KAUMANTAN TENGAH 137.51 178.30 116.70 118.82 59.37 112.36

15 KAUMANTAN SELATAN 73.82 137.65 111.24 90.38 56.70 88.90

16 KAUMANTAN TIMUR 50.31 80.03 97.52 68.99 61 57 69.78

17 SULA WES! Uf ARA 96.86 90.38 71.76 8301 69.44 80.81

18 SULA WES! TENGAH 90.54 89.25 322.84 7772 226 06 12138

19 SULAWESI SELATAN 78.87 109.97 91.01 105 03 100.42 96.87

20 SULA WES! TENGGARA 54.01 174.92 227.18 63 52 158.98 107.70

21 MALUKU 109.89 5 l.16 73.74 43.37 55 74 61.00

22 BAU 122.25 185.68 171.69 188 18 91.28 144.78

23 NUSA TENGGARA BARAT 40.67 90.81 103.03 106.74 94 35 80.78

24 NUSA TENGGARA TIMUR 13033 139.62 116.33 11130 68.10 104.93

25 PAPUA 39.44 32.61 313.91 60.23 62.28 61.97

26 BENGKULU 68.57 5531 71 37 57 77 71.52 64.62

27 BANTEN 12.89 76.22 12369 62.06 53.09 40.71

28 GORONTALO 8401 15317 179.93 188.13 126.74 142.51

29 KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 68.26 87.44 95.13 74.09 65 38 77.92

30 MALUKUUfARA 30.55 52.21 9120 75.20 79.27 56.97

31 SULAWESI BARAT 104.56 11531 451.91 112.57 7,69137 172.67

32 KEPULAUAN RIAU 7783 105.29 JO 1.19 76.61 86.47 90.13

33 PAPUABARAT 66.30 86.50 96.27 70 59 80.55 79.45

RERATA 88.01 109.12 124.40 119.90 104.58 108.81

Sumber data: Pusdatin ATR/BPN 2017, setelah diolah.

Rincian data realisasi penerimaan tahun 2012 sampai dengan 2016 per satuan kerja provinsi, sebagaimana disajikan pada lampiran 3.

62 43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

Berdasarkan data pada tabel tersebut diatas maka rerata realisasi penerimaan kurun waktu lima tahun (2012-2016) adalah sebesar 108.81 % yang merupakan cerminan dari realisasi penerimaan 33 provinsi, dan tertinggi di tahun 2014.

Hal ini menunjukan bahwa perencanaan terhadap penetapan target telah dilaksanakan dengan tepat sehingga menghasilkan kinerja yang optimal, sehingga ditinjau dari kecukupan maksimum proporsi belanja sumber dana PNBP yang dapat digunakan dapat dikategorikan memadai, dan ditinjau berdasarkan basil pengelompokan provinsi yang mempunyai realisasi belanja sumberdana PNBP terendah dalam kurun waktu 2012-2016, maka rerata rasio efektifitas penerimaan provinsi Maluku Utara adalah sebesar 56,97 % dalam kurun waktu lima tahun, ha! ini mengakibatkan maksimum proporsi belanja sumber dana PNBP menjadi tidak mencukupi untuk diguna membiayai kegiatan yang telah ditargetkan, dan mengakibatkan belanja sumber dana PNBP rata-rata hanya mencapai 38, 18% dalam kurun waktu yang sama yaitu tahun 2012 sampai dengan 2016. Sedangkan provinsi DIY yang berdasarkan hasi1 pengelompokan provinsi yang mempunyai realisasi belanja sumberdana PNBP menunjukan peringkat tertinggi, dengan rerata realisasi pendapatan yang tinggi atau optimal yaitu sebesar 120,90%, diatas rerata nasional yaitu sebesar I 08,81 %, sehingga maksimum proporsi untuk penggunaan belanja yang berasal dari sumberdana PNBP memadai, yang akan berdampak pada penggunaan belanja sumberdana PNBP yangjuga tinggi atau optimal.

Secara nasional rerata efektifitas penerimaan menunjukan kinerja lebih dari 100%, yang artinya efektif, tetapi dil ihat dari masing-masing, maka kinerja efektifitas penerimaan bervariasi. Dari 33 provinsi, 36,36% mencapai realisasi

63

43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

lebih 100%, sehingga dapat dikelompokan menjadi tiga provinsi yang mempunyai peringkat realisasi tertinggi dan terendah, sebagai berikut :

Tabel 4.12 Kelompok Realisasi Tertinggi Pendapatan Tahun 2012 -2016

NO. 2012

DK! Bali

2013

REALISASI TERTINGGI 2014

Sulawesi Baral DK!

2 Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah Kalimanlan Baral Bali 2015

3 NTT Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Gorontalo Sumber data: Penulis (diolah)

2016 Sulawesi Baral Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara

Berdasarkan hasil pengelompokan maka provinsi OKI mempunyai capaian tertinggi karena berada pada urutan pertama dan di dua tahun. Sedangkan provinsi Sulawesi Barat meskipun capaian tertinggi hanya satu tahun tetap menunjukan rerata realisasi tertinggi dalam kurun waktu lima tahun diantara 33 provinsi, yaitu 172,67% dengan perkembangan realiasi tahun 2012 sebesar 104,56 %, tahun 2013 sebesar 115,31 %, tahun 2014 sebesar 491,91%, tahun 2015 sebesar 112,57 %, dan tahun 2016 sebesar 7.691,37 %. Hal ini menunjukan pada tahun 2014 dan 2016 mencapai realisasi yang meningkat secara signifikan, disebabkan penetapan target yang terlalu psimis yaitu rerata sebesar 2,3 miliar, dibandingkan pada tahun 20 I 2, 2013 dan 2015 dengan rerata target sebesar 17,6 miliar. Terhadap kelompok provinsi dengan realisasi penerimaan tertinggi tidak serta merta berdampak pada tingginya realisasi belanja sumberdana PNBP. Sedangkan berdasarkan hasil pengelompokan tiga provinsi dengan rerata terendah, sebagai berikut :

64 43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

Tabel 4.13 Kelompok Realisasi Terendah Efektifitas Pendapatan Tahun 2012 - 2016

REALISASI TERENDAH

NO. 2012 2013 2014 2015 2016

I Sumalera Baral Maluku Utara Sulawesi Utara Papua Maluku 2 Maluku Utara Maluku Bengkulu Bengkulu Banten 3 Banlen Papua Sumatera Utara Maluku K alimantan Baral Sumber data: Penulis (diolah)

Realisasi penerimaan provinsi Maluku rendah di tiga tahun dalam kurun waktu lima tahun dan paling tinggi pada tahun 2012 yaitu sebesar I 09.89%, karena pada tahun 2012 penetapan target sesuai dengan arahan, sedangkan tahun 2013 penetapan target optimis dan digunakan sebagai baseline untuk tahun berikutnya tanpa memperhatikan pola realisasi penerimaan (efektifitas pendapatan) minimal dua tahun sebelumnya, sehingga dalam pelaksanaannya tidak mencapai target yang telah ditetapkan.

4. Bila dikaitkan dengan kinerja keuangan yang diliat dari efisiensi belanja APBN, dimana realisasinya merupakan pengabungan dari belanja sumberdana Rupiah Mumi dan belanja yang berasal dari sumberdana PNBP, dimana sumber pembiayaan PNBP itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari efektifitas pendapatan yang tercermin melalui realisasi penerimaan, maka penetapan target terhadap kegiatan yang dibiayai dengan sumber dana PNBP menjadi penting. Dalam skema pembiayaan kegiatan APBN di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, alokasi sumberdana Rupiah Murni diutamakan penggunaannya untuk mcmbiayai kegiatan yang bersifat rutin untuk menjalankan operasional suatu kantor, meliputi belanja pegawai dan belanja barang operasional perkantoran dan belanja modal yang bersifat invetaris kantor. Sedangkan belanja yang berasal dari sumberdana PNBP

65

43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

diutamakan penggunaanya untuk pembiayan yang menghasilkan output kegiatan yang dapat dirasakan oleh masyarakat atau institusi terkait diluar Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Mengingat keterbatasan alokasi sumberdana Rupiah Mumi dalam belanja APBN setiap tahunnya, maka diperkenankan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 237/KMK.02/2010 tentang Persetujuan Penggunaan Sebagian Dana Penerimaan Negara Bukan Pajak pada Badan Pertanahan Nasional, untuk menggunakannya sebagai subsidi terhadap kekurangan pembiayaan dari sumberdana PNBP termasuk kegiatan yang bersifat rutin, operasional perkantoran dan modal inventaris. Sehingga alokasi penetapan target belanja sumberdana PNBP untuk membiayaan kegiatan-kegiatan di institusi menjadi hal yang penting, dan sebagai tolok ukur keberhasilannya dengan melihat rasio kontribusi belanja sumberdana PNBP terhadap total belanja APBN yang dihitung dari perbandingan belanja sumber dana PNBP dengan total APBN serta prosentase capaian kinerja keuangan kurun waktu 2012 - 2016 untuk 33 satuan kerja provinsi, sebagai berikut :

66 43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

NO.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 II 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

Tabel 4.14 Realisasi Kontribusi Belanja Sumber Dana PNBP Tahun 2012 - 2016

REALISASI KONTRIBUSI BEL.ANJA PNBP (%) UNIT KERJNPROPINSI

2012 2013 2014 2015 2016

OKI JAKARTA 88.19 96.94 98.74 91.85 94.08

JAWABARAT 84.27 95.27 94.39 95.06 92.89

JAWA TENGAH 83.67 89.16 94.66 96.16 89.11

DI YOGY AKART A 74.45 95.69 9386 87.77 85.50

JAWA TIMUR 78.25 90.67 92.60 92.89 89.26

ACEH 48.03 74.33 76.24 78.88 90.94

SUMATERA UTARA 68.18 7364 79.53 59.09 82.47

SUMATERA BARAT 69.11 89 31 84.35 83.82 90.37

RJAU 78.60 89.64 81.89 88.63 80.97

JAMBI 73.54 87.10 86.29 82.33 88.43

SUMATERA SELA TAN 77.94 92 71 92.41 85.07 82.05

LAMP UNG 46.39 70.36 82.01 62.09 79.36

KALIMANTAN BARAT 85.23 91.47 93.02 87.00 91.55

KALIMANTAN TENGAH 60.88 95.52 97.96 98.30 101.45

KALIMANTAN SELATAN 68.09 94.53 90.58 85.81 82.09

KALIMANTAN TIMUR 61.29 86.35 95.21 71.53 95.83

SULAWESI UT ARA 59.17 83.66 79.35 90.04 87.28

SULAWESI TENGAH 7101 90.45 81.06 89.05 90.91

SULAWESI SELATAN 66 08 76.97 73.32 79.78 81.96

SULAWESI TENGGARA 41.92 76.87 5271 83.96 66.98

MALUKU 34.43 40.37 56.36 86.35 77.18

BALI 7020 86.99 96.39 87.39 80.00

NUSA TENGGARA BARA T 43.33 86.26 86.14 81.83 82.44

NUSA TENGGARA TIMUR 84.16 98.23 82.82 72.84 76.71

PAPUA 79.48 97.93 77.27 87.24 91.83

BENGKULU 63 13 66.90 73.97 79.47 94.24

BAN TEN 86 38 92.56 97.99 97.77 95.26

GORONTALO 41.42 64.05 83.91 89.02 93.70

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 57.31 81.51 87.15 72.11 82.19

MALUK U UT ARA 13.92 45.86 51.72 60.84 77.50

SULAWESI BARAT 47.40 10000 80.85 87.55 90.59

KEPULAUAN RIAU 86.43 96.58 97.86 90.83 103.07

PAPUABARAT 50.97 94.86 94.76 64.60 101.65

RERATA 7378 89 45 91.53 86.83 88.74

Sumber data: Pusdatin ATR/BPN 2017, setelah diolah.

RERATA 94.76 91.93 88.99 86.56 87.47 70.78 74.34 82.76 82.36 83.14 85.10 65.89 89.70 92.57 82.27 80.96 79.24 87.11 74.31 60.93 53.34 85.06 70.13 82.56 87.71 75.19 93.02 67.39 76.84 41.83 75.49 94.81 87.35 85.81

Rincian data realisasi kontribusi belanja sumberdana PNBP terhadap realisasi belanja total APBN dalam kurun waktu 20I2-2016 per satuan kerja provinsi, sebagaimana disajikan pada lampiran 4.

Data realisasi belanja sumberdana PNBP dalam kurun waktu APBN tahun 2012 sampai dengan tahun 2016 menunjukan bahwa kontribusi belanja sumberdana PNBP turut andil dalam membentuk realisasi total anggaran (APBN). Rerata rasio kontribusi belanja dari sumberdana PNBP terhadap

67

43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

realisasi APBN kurun waktu lima tahun sebesar 85,51 %, yang merupakan cerminan dari 33 provinsi, dan realisasi tertinggi pada tahun 2014, ha! ini selaras dengan tingginya rasio efektifitas pendapatan ditahun 2014 yaitu sebesar 124,40%, dan menunjukan bahwa tingginya rasio konstribusi belanja sumberdana PNBP berkaitan dengan tingginya efektifitas pendapatan.

Sedangkan dilihat dari provinsi yang mempunyai kontribusi tinggi dan rendah terhadap APBN dapat dikelompokan sebagai berikut :

NO.

Tabel 4.15 Kelompok Realisasi Tertinggi Kontribusi Belanja Sumberdana PNBP Tahun 2012 - 2016

2012 2013

REALISASI TERTINGGI

2014 2015 2016

DK! Sulawesi Baral DK! Kalimantan Tengah Kpulauan Riau

2 Kepulauan Riau NTT

3 Banlen Papua

Sumber data: Penulis (diolah)

Bani en Banten

Kalimanlan Tengah Jawa Tengah

Papua Baral Kalimantan Tengah

Berdasarkan hasil pengelompokan tersebut diatas menunjukan bahwa kinerja provinsi tidak sama pertahunnya dan provinsi Kalimantan Tengah dan Banten mempunyai realisasi tertinggi di tiga tahun dalam kurun waktu lima tahun.

Sedangkan provinsi DKI Jakarta meskipun mempunyai realisasi tertinggi hanya di dua tahun dalam kurun waktu lima tahun namun rerata dalam lima tahun provinsi DKI Jakarta mempunyai realisasi tertinggi dibanding provinsi yaitu sebesar 94.76%, hal ini berkaitan dengan tingginya realisasi pendapatan provinsi DKI Jakarta sebesar 158,40%. Namun tingginya realisasi kontribusi tidak serta merta mencerminkan realisasi belanja belanja sumberdana PNBP yang tinggi yaitu hanya sebesar 77.61 %. Sedangkan hasil pengelompokan tiga provinsi yang mempunyai rasio kontribusi belanja sumberdana PNBP, sebagai berikut:

68 43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

Tabel 4.16 Kelompok Realisasi Terendah Kontribusi Belanja Sumberdana PNBP Tahun 2012 -2016

NO. 2012 2013

I Gorontalo Gorontalo 2 Maluku Maluku Utara 3 Maluku Utara Maluku

REALISASJ TERENDAH

2014 2015

Maluku Lampung

Sulawesi Tenggara Maluku Utara Maluku Utara Swnatera Utara Sumber data: Penulis (diolah)

Maluku NIT

2016

Sulawesi Tenggara

Menunjukan bahwa provinsi Maluku dan Maluku Utara mempunyai realisasi kontribusi belanja sumberdana PNBP yang rendah di empat tahun dalam kurun waktu lima tahun, hal ini berkaitan dengan rendahnya realisasi penerimaan (pendapatan) yaitu hanya sebesar 61 % untuk Maluku dan 56.97%

untuk Maluku Utara, dan juga berdampak pada rendahnya efisiensi belanja yang berasal dari sumberdana PNBP yaitu sebesar 44.93% untuk Maluku dan 38.18% untuk Maluku Utara.

5. Pemanfaatan penerimaan yang dihitung dari prosentase capaian kinerja keuangan dari sisi penerimaan dan belanja sumber dana PNBP tahun 2012 - 2016 untuk 33 satuan kerja provinsi, sebagai berikut :

69

43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

Tabel 4.17 Realisasi Pemanfaatan Penerimaan 2012 - 2016

- PEMANFAATAN PNBP(%)

NO. UNIT KERJNPROPINSI -

20I2 20I3 20I4 20I5 20I6 RERATA

I DKIJAKARTA 32.37 61.05 57.3I 36.47 55.25 49.00

2 JAWABARAT 68.17 70.29 68.34 60.3I 76.49 68.I9

3 JAWATENGAH 78.83 80.88 91.20 90.88 7123 81.02

4 DI YOGY AKART A 81.85 67.80 42.II 60.96 79.6I 65.59

5 JAWATIMUR 61.73 72.99 69.83 72.88 49.43 63.47

6 ACEH 79.80 89.76 24.7I II0.26 95.53 76.98

7 SUMA TERA UT ARA 54.08 66.60 90.34 60.80 68.6I 6940

8 SUMA TERA BARA T I46.08 83.46 86.08 91.08 I24.81 107.68

9 RIAU 56.57 76.23 20.I8 96.05 84.93 6297

IO JAMB! 75.56 88.89 83.79 7169 95.98 82.98

II SUMA TERA SELA TAN 65.16 85.83 8970 104.86 89.19 84.35

12 LAMPUNG 73.78 66.60 77.69 62.58 88.88 73.33

I3 KALIMANTAN BARAT 80.55 85.39 20.00 I I4.06 I60.38 812!

I4 KALIMANTAN TENGAH 36.36 44.89 68.72 76.75 I 36.34 6841

I5 KALIMANTAN SELATAi'J 61.41 5445 62.79 86.96 97.64 69.14

I6 KALIMANTAN TIMUR 58.50 80.28 77.95 85.35 I20.80 81.26

17 SULAWESI UTARA 53.98 83.47 93.90 I03.8I 105. 79 86.22

I8 SULAWESI TENG.A.H 65.37 87.94 21.86 106.9I 31J9 61.00

I9 SULAWESI SELATAN 66.84 6300 65.9I 66.45 72.55 65.54

20 SULAWESI TENGGARA 62.8I 39.60 I9.42 I 06.32 36.26 47.8I

2I MALUKU 23.39 69.88 63.49 I80.29 I I6.82 73.67

22 BALI 40.77 39.54 51.50 41.44 71.25 48.99

23 NUSA TENGGARA BARA T 76.97 86.II 75.0I 70.48 80.75 75 77

24 NUSA TENGGARA TIMUR 54.94 60.72 63.90 60.50 I04.82 70.40

25 PAPUA I 77.37 252.75 I9.99 I33.52 I31.47 I22.62

26 BENGKULU 75.82 99.92 89.64 I28.96 I I6.97 100.36

27 BAN TEN 479.46 99.29 71.16 I32.04 I 48.52 I86.28

28 GORONTALO 30.44 34.06 41.17 44.94 67.39 38.77

29 KEPULAUAN BANGKA BELrIUNG 6237 75.65 77.00 89.00 I03.97 81.06

30 MALUKU UTARA 31.1 I 75.50 49.IO 63.98 85.93 60.0I

3I SULA WES! BAR.\T 39.33 55.98 I6J4 71.92 1.04 38.42

32 KEPULAUAN RIAU 74.66 72.58 84.14 110.82 I00.70 86.30

33 PAPUABARAT 50.44 8117 74.22 76.I4 98.95 82.92

RERATA 6174 69.35 63.44 64.97 71.60 66. I4

Sumber data : Pusdatin A TR/BPN 2017, setelah diolah.

Rincian data realisasi pemanfaatan penerimaan tahun 2012-2016 per satuan kerja provinsi, sebagaimana disajikan pada lampiran 5.

Realisasi pemanfaatan penerimaan tersebut diatas menunjukan bahwa rerata dalam kurun waktu lima tahun untuk 33 provinsi adalah sebesar 66, 14%, dan pergerakan realisasi pertahunnya tidak mencolok. Sedangkan rerata masing- masing provinsi menunjukan bahwa provinsi Sulawesi Barat dan DKI Jakarta mempunyai rasio pemanfaatan penerimaan yang rendah. Terhadap provinsi

70

43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

Sulawesi Barat rendahnya pemanfaatan PNBP dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai pengelolaan PNBP sedangkan provinsi DKI Jakarta rendahnya rasio pemanfaatan penerimaan dikarena penggunaan yang sudah tidak diperlukan lagi. Hal ini disebabkan system pengelolaan PNBP yang parsial artinya bahwa pemanfaatan penerimaan hanya dapat digunakan oleh satuan kerja penghasil, sedangkan satuan kerja yang bersangkutan seperti provinsi DKI Jakarta kebutuhan kegiatan maupun inventaris sudah memadai, sehingga cenderung satuan kerja atau provinsi bersangkutan mengalokasikan kegiatan dan pembiayaannya yang sebenarnya tidak diperlukan oleh satuan kerja bersangkutan, sehingga realisasi yang sangat bervariasi tersebut dapat dikelompokan tiga provinsi dengan kinerja tertinggi dan terendah, sebagai berikut:

NO.

I Banten 2 Papua

Tabel 4.18 Kelompok Realisasi Tertinggi Pemanfaatan Penerimaan Tahun 2012 - 2016

REALISASI TERTINGGI

2012 2013 2014 2015

Papua Sulawesi Utara Maluku

Bengkulu Jawa Tengah Papua

3 Swnatera Barnt Banten S wnatera Utara Banten Sumber data: Penulis (diolah)

2016 Kalimantan Barat Banten

Kalimantan Tengah

Berdasarkan hasil pengelompokan rasio pemanfaatan penenmaan, provinsi Banten mempunyai realisasi tertinggi, dan dilihat dari realisasi pertahunnya maka tiga tahun menunjukan realisasi diatas 100%. Hal ini menunjukan bahwa pengelolaan laporan keuangan tidak berjalan dengan maksimal, mengingat rasio pemanfaatan merupakan perbandingan antara realisasi penerimaan dan realisasi belanja yang berasal dari sumber dana PNBP, sehingga dalam ha! terjadi realisasi pemanfaatan PNBP melebihi 100%

71 43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

menunjukan adanya proses revisi penambahan target penerimaan yang tidak terdokumentasikan dalam pelaporan keuangan, mengingat pada tahun 2012 sampai dengan 2015 masih menerapkan system pengelolaan PNBP secara parsial, yang artinya bahwa yang dapat menggunakan belanja sumberdana PNBP adalah satuan kerja yang menghasilkan penerimaan, dalam hal ini realisasi penerimaannya tersedia, dan tidak dimungkinkan sebaliknya.

Sedangkan pada tahun 2016 dimungkinkan efektifitas penerimaan lebih kecil dari efisiensi belanja sumberdana PNBP atau rasio pemanfaatan belanja sumberdana PNBP lebih dari 100%, mengingat pada tahun 2016 Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional telah menerapkan system pengelolaan PNBP terpusat atau terintegrasi, dimana dimungkinkan satuan kerja bukan penghasil memanfaatkan penerimaan dari satuan kerja penghasil.

Adapun perbedaan pengelolaan system PNBP parsial dan terpusat atau teriteintegrasi, sebagai berikut :

Gambar 4.4 Sistem Pengelolaan PNBP Terpusat

- - - -

Rekening kantor pusat KAS NEGARA I KPPN

r. - . ~-·-:-:-~-:-_:_-:-_:_-:-~-~---~_· __ -:-_:_-:-_:_-:-_:_~~~-~~- _-:-_:_-:-_:_~:_·-~-~---,,._ [2J

I I I I I I :

Satuan kerja daerah

Satuan kerja daerah

..., ..., ..., ...,

~

L-Pe_m~o-ho_n~ I PeJ°hon J I Pemton 11 Pemohon 11 Pel°hon 11 Pemron I

Sumber: Kementerian Keuangan (diolah)

' Satuan kerja]

daerah - - - · - -

Pemohon

Bank

72 43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

Keterangan :

_______

.,.

- . - ...

...

Ams setoran. I. Melalui rekening tunggal kantor pusat, 2.

Melalui eloktronik (cashless) oleh bank yang sudah mempunyai kerjasama dengan instansi pemerintah bersangkutan.

Ams permohonan pencairan anggaran untuk membiayai kegiatan berdasarkan maksimum proporsi yang diterbitkan secara berkala dengan Surat Edaran dari Kementerian Keuangan, bahwa anggaran tersedia untuk digunakan.

Ams pengalokasian anggaran dalam DIPA satuan kerja (provinsi) yang menunjukan adanya perencanaan dan pengalokasian anggaran sesuai kebutuhan dan tidak berdasarkan target pendapatan dimasing-masing satuan kerja, dan perencanaanya dilakukan oleh kantor pusat.

Ams output yang dihasilkan dari permohonan layanan, dimana pemohon telah menyetorkan biayanya sesuai tarif yang tertera dalam Peraturan Pemerintah tentang penetapan tarif pelayanan.

Sistem PNBP terpusat atau terintegrasi menerapkan mekanisme subsidi silang dari satuan kerja (provinsi) yang mempunyai efektifitas pendapatan yang lebih tinggi dari kebutuhan pembiayaan di satuan kerja bersangkutan, demikian hal nya satuan kerja (provinsi) yang mempunyai efektifitas pendapatan rendah sementara mempuyai kebutuhan pembiayaan tinggi, serta termasuk mensubsidi kebutuhan pokok perkantoran karena ketersediaan alokasi Rupiah Murni yang terbatas setiap tahunnya.

73

43329.pdf

Koleksi Perpustakaan Universitas terbuka

Dokumen terkait