• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

A. Hasil Penelitian

Penelitian pengembangan ini menghasilkan produk media pembelajaran alat peraga tiga dimensi audiovisual ini menggunakan tahapan penelitian dan pengembangan ADDIE yaitu Analysis (Analisis), Design (Desain), Development (Pengembangan), Implementation (Implementasi) dan Evaluation (Evaluasi).

Rincian prosedur dan waktu kegiatan yang dilakukan dalam pengembangan media ini dapat dilihat pada Tabel 10. berikut:

Tabel 10. Rincian Prosedur dan Waktu Pelaksanaan Penelitian

No. Prosedur Pengembangan Waktu Pelaksanaan

1 Analysis Analisis kurikulum November 2018

Analisis karakteristik siswa Analisis materi

Analisis sarana dan prasarana 2 Design Perancangan media dan buku

panduan media

Januari 2019 Penyusunan instrumen

3 Development Pengembangan produk dan validasi

Februari-April 2019 4 Implementation Uji coba produk ke sekolah Mei 2019 5 Evaluation Evaluasi pada kevalidan,

kepraktisan dan keefektifan produk

Mei 2019

Pengembangan media pembelajaran dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut.

1. Analysis (Analisis)

Tahap analisis yang dilakukan peneliti meliputi hal-hal berikut ini:

a) Analisis Kurikulum

Peneliti perlu mengkaji kurikulum yang berlaku pada saat itu, dalam sebuah kurikulum terdapat kompetensi yang hendak dicapai pada pembelajaran biologi kelas VIII. Kurikulum yang digunakan oleh sekolah yang diteliti yaitu di SMA N 1 Tanjungpinang menggunakan kurikulum 2013. Pengembangan media harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip kurikulum 2013, kurikulum 2013 berorientasi pada student centre learning sehingga penggunaan media yang dikembangkan akan dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) seperti tujuan, desain pembelajaran, dan lembar kerja yang sesuai dengan ketentuan kurikulum 2013. Media pembelajaran alat peraga tiga dimensi audiovisual yang dikembangkan dapat menfasilitasi hal tersebut, karena media digunakan pada metode dan model pembelajaran inquiri, selain itu juga siswa terlibat secara aktif menggunakan media pembelajaran yang dikembangkan dengan mengamati secara langsung, aktif bertanya dan berpendapat, merumuskan permasalahan, menyusun hipotesis sampai menyimpulkan. Sehingga tercapailah tujuan pembelajaran sesuai dengan ketentuan kurikulum 2013.

b) Analisis Karakteristik Siswa

Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru dapat disimpulkan bahwa karakteristik siswa SMA/sederajat sudah mulai berpikir secara abstrak, sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Piaget dalam Faizah,

dkk (2017: 23) bahwa karakteistik siswa pada tahap operasional formal sebagai berikut:

a) Proses penalaran logis diterapkan ke ide-ide abstrak dan objek konkret b) Dapat menarik kesimpulan secara logis

c) Dapat mengambil keputusan berdasarkan pengalaman

d) Penalaran ilmiah berkembang melalui metode ilmiah yaitu melalui tiga kemampuan, diantaranya penalaran logis terkait gagasan hipotesis, menyusun dan menguji hipotesis serta memisahkan atau mengendalikan variabel penelitian.

Siswa di SMA Negeri 1 Tanjungpinang juga memiliki kemampuan berpikir seperti teori tersebut, siswa dapat berpikir secara abstrak dalam hal ini pada konsep struktur kulit, dapat melakukan penalaran ilmiah melalui metode ilmiah yang dituangkan di dalam dsain pembelajaran. Selain itu, siswa SMAN I Tanjungpinang sangat tertarik jika guru menggunakan media yang bervariasi, baik elektronik maupun nonelektronik. Siswa-siswa sangat aktif saat pembelajaran berlangsung, kemampuan siswa di kelas merata, tidak ada siswa yang terlalu mendominasi di kelas. Siswa sangat berantusias dalam pembelajaran.

c) Analisis Materi

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan konsep struktur kulit.

Organ kulit dipilih oleh peneliti karena ia di pelajari di dalam tiga bab dalam pembelajaran biologi yaitu bab sistem eksresi, sistem integumen dan sistem koordinasi. Sehingga peneliti berpikir bahwa media yang akan dikembangkan

lebih banyak manfaatnya karena dapat digunakan di ke-tiga bab sistem tersebut. Namun, karen media yang dikembangkan berfokus pada lapisan kulit dan keberadaan reseptor-reseptor kulit sehingga peneliti menggolongkanya ke dalam KD 3.10. Penjabaran KD tersebut dapat berupa sistem saraf, sistem indera dan sistem hormon. Konsep struktur kulit terdapat pada sub bab sistem indera yakni indera peraba

d) Analisis sarana dan prasarana

Berdasarkan penelitian dan observasi, ketersediaan alat-alat di laboratorium di SMA Negeri 1 Tanjungpinang cukup banyak dan bervariasi, namun banyak media yang sudah tak terawat. Media organ kulit yang tersedia di laboratorium biologi SMA Negeri 1 Tanjungpinang berupa media 3D yang terbuat dari gipsum yang tidak terawat dan jumlahnya terbatas.

2. Design (Desain)

Berdasarkan kajian literatur dan permasalahan yang ditemukan di sekolah, peneliti kemudian merancang pengembangan media pembelajaran alat peraga tiga dimensi audiovisual pada konsep struktur kulit. Pada tahap desain ini, langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1) Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) konsep struktur kulit sebagai indera peraba.

Peneliti menyusun RPP yang disesuaikan dengan kurikulum 2013, KI dan KD yang berlaku. Mendeskripsikan rancangan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan menggunakan media yang akan dikembangkan.

2) Merancang bentuk media yang akan dikembangkan

Peneliti merancang desain media dengan berupa gambar sederhana pada kertas.

3) Memilih bahan-bahan yang akan digunakan

Peneliti mempertimbangkan bahan-bahan yang akan digunakan, dengan mempertimbangkan bentuk, warna, tekstur dan biaya yang dibutuhkan. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan media alat peraga tiga dimensi audiovisual struktur kulit menggunakan bahan-bahan berikut ini:

1.

Resin 3 Kg beserta katalis. Resin dipilih karena teksturnya seperti kaca dan mudah untuk dibentuk, tahan lama.

2. LED 5mm Ultra Bright (Merah, Hijau, Kuning). Lampu-lampu LED yang dipilih dibedakan warnanya. Lampu-lampu tersebut sebagai penunjuk sel syaraf pada kulit.

3. Solder, digunakan untuk melubangi objek

4. Push Button Switch (Hitam, Merah, Putih, Kuning, Hijau), tombol tediri dari 5 tombol yang berbeda warnanya, masing-masing tombol membunyikan suara yang berbeda.

5. Resistor

6. Mini Buck Regultor Step Down 3A

7. Mini Speker, digunakan untuk menjadikan volume suara terdengan untuk satu ruangan kelas.

8. Arduino Nano

9. Module MP3 Player

10. Kabel pelangi

11. Selongsong tabung isolasi kabel bakar merah dan hitam

12. Box, sebagai wadah kabel-kabel dan rangkaian listrik di dalamnya.

13. Papan ujian, sebagai penyangga media supaya dapat berdiri tegak 14. Double tip gabus

15. Benang warna, sebagai gambaran pembuluh-pembuluh darah yang terdapat di dalam kulit.

16. Manik-Manik baju, sebagai gambaran sel syaraf, pembeda lapisan- lapisan kulit, dan komponen-komponen lain yang terdapat di dalam kulit.

17. Perekat 18. Cetakan

19. Memori, sebagai penyimpan file audio yang telah direkam

4) Perancangan prosedur pembuatan visual media

Berikut ini prosedur pembuatan badan media alat peraga tiga dimensi audiovisual struktur kulit:

1. Persiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan

Gambar 6. Persiapan Alat dan Bahan

2. Susunlah perangkat dan alat-alat seperti manik-manik, benang, kabel, dan lainnya menyerupai anatomi kulit pada cetakan

Gambar 7. Penyusunan Aksesoris Pembuatan Spesimen

3. Resin dengan katalis dicampurkan sesuai takaran yang tepat

Gambar 8. Pencampuran Resin dan Katalis Pada Spesimen 4. Dibiarkan sampai resin memadat

5. Ditempelkan pada papan ujian agar dapat berdiri tegak 6. Rekam suara yang akan ditambahkan pada media 7. Gambarkan rangkaian yang akan dibuat

Gambar 9. Gambar Rangkaian

8. Susun rangkain listrik agar lampu dan suara dapat berfungsi (Anda dapat meminta bantuan teknisi.

Gambar 10. Penyusunan Rangkaian

9. Rapikan media supaya menarik untuk dilihat 10. Media siap diuji cobakan

Gambar 11. Penggunaan Media dalam Proses Pembelajaran 5) Perancangan teks yang akan dijadikan audio pada media

Adapun naskah yang terdapat pada rekaman media tersebut:

 “Free Nerve endings (ujung-ujung saraf bebas), merupakan reseptor kutaneus paling sederhana, ujung-ujung sarafnya tanpa struktur yang khusus dan sangat sensitive terhadap perubahan suhu dan rasa sakit (Naskah 1).

Pacinian corpuscles (korpuskel pacinian), bentuknya seperti bawang, merupakan resep torter besar dan terdalam, mudah beradaptasi dengan cepat, mereka dapat merespon perubahan mendadak pada kulit. Merupakan ujung saraf perasa tekanan kuat (Naskah 2).

Merkel’s disks, merespons paling kuatindensasi gradual kulit dan peregangan gradual kulit. Beradaptasi dengan lambat. Merupakan ujung saraf perasa sentuhan dan tekanan ringan (Naskah 3).

Ruffini endings, respon dan adaptasinya sama dengan reseptor Merkel’s disks. Merupakan ujung saraf perasa panas (Naskah 4).

 Lapisan kulit terdiri dari dua lapisan utama, yaitu lapisan epidermis dan lapisan dermis. Lapisan epidermis terdiri dari lapisan elastic dan fibrosa padat dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut (Naskah 5).

Lapisan dermis adalah lapisan kulit paling terdalam mengandung lemak, pembuluh darah dan syaraf.

6) Menyusun buku pedoman petunjuk penggunaan media

Pedoman penggunaan media disusun seperti buku. Isi yang terdapat di dalam pedoman tersebut terdiri dari kata pengantar, daftar isi, karakteristik media, peralatan dan bahan, prosedur pembuatan, prosedur penggunaan dan perawatan media, prosedur penggunaan media, prosedur perawatan media, biodata penulis.

7) Tahap akhir, merapikan produk berupa media yang telah jadi menyerupai bentuk anatomi kulit dengan jelas.

Gambar 12. Tampilan media pembelajaran alat peraga tiga dimensi audiovisual pada konsep struktur kulit.

3. Pengembangan (Develop)

Pada tahap ini, media akan di validasi oleh dosen ahli materi dan ahli media sebelum diterapkan kepada siswa dengan tujuan apakah media tersebut layak digunakan. Pada tahapan ini juga menentukan apakah dalam penggunaannya tergolong kedalam media yang valid, praktis, dan efektif dengan meliputi uji validitas, uji praktikalitas, dan uji efektifitas media pembelajaran yang dihasilkan.

a. Hasil Pengujian Validitas Media oleh Ahli Media dan Ahli Materi

Pengujian validitas media pembelajaran alat peraga tiga dimensi audiovisual pada struktur kulit dilakukan menggunakan lembar penilaian kualitas berupa angket oleh 4 ahli, yaitu dua ahli media dan dua ahli materi. Ahli media menilai aspek tampilan visual, audio, dan pemanfaatan media. Sedangkan ahli materi menilai aspek kesesuaian, kelengkapan, kemudahan, dan kejelasan.

Sebelum angket diisi oleh validator materi dan validator media, peneliti terlebih dahulu melakukan validasi instrumen yang diisi oleh validator instrumen. Instrumen yang divalidasi antara lain angket validasi materi, angket validasi media, angket praktikalitas, angket motivasi dan soal evaluasi yang akan diuji coba. Setelah direvisi oleh peneliti, angket- angket yang telah disebar ke responden sudah layak untuk digunakan.

Hasil penilaian validator terhadap media alat peraga tiga dimensi audiovisual pada struktur struktur disajikan dalam Tabel 11. berikut ini:

Tabel 11. Hasil Validasi Aspek Materi dan Aspek Media

No. Validator Hasil Keterangan

Aspek Materi

1 Validator I 74% Cukup Valid

2 Validator II 92% Sangat Valid

Rata-rata 83% Valid

Aspek Media

1 Validator I 86% Sangat Valid

2 Validator II 91% Sangat Valid

Rata-rata 88% Sangat Valid

Hasil didapatkan dengan perhitungan rumus pada Microsoft Excel. Berdasarkan penilaian dari validator, didapatkan rata-rata presentase pada aspek materi sebesar 83%. Dengan menyesuaikan pada kriteria yang ditetapkan oleh Purwanto (2012: 103), media alat peraga tiga dimensi audiovisual struktur kulit yang dikembangkan termasuk dalam kriteria valid dengan sedikit revisi.

Sedangkan pada aspek media diperoleh hasil presentase sebesar 88% dengan kriteria sangat valid dengan sedikit revisi. Presentase tersebut menunjukkan bahwa media alat peraga tiga dimensi audiovisual yang dikembangkan valid dan layak digunakan dalam penelitian ke sekolah.

b. Revisi dari Ahli Materi dan Ahli Media

Setelah validasi, peneliti melakukan revisi sesuai pada bagian saran yang diberikan oleh validator. Revisi yang dilakukan oleh peneliti pada bagian volume audio yang diperbesar dari volume sebelumnya

yakni dengan penambahan speaker. Kemudian revisi juga dilakukan pada kalimat-kalimat dan kesalahan penulisan pada buku panduan penggunaan media.

Gambar 13. Revisi Media dengan Penambahan Label pada Bagian Kulit

Gambar 14. Revisi Media dengan Penambahan Speaker External 4. Penerapan (Implementation)

Kemudian media diterapkan kepada siswa kelas XI MIPA 5 SMAN 1 Tanjungpinang, penerapan media dilakukan dengan mengajar menggunakan media yang telah dikembangkan. Uji coba media dilaksanakan di SMA Negeri 1 Tanjungpinang dengan dua kali uji coba, yaitu uji coba terbatas dan uji coba lapangan. Uji coba terbatas dilakukan dengan jumlah sampel sebanyak 36 orang siswa. Siswa yang melakukan percobaan adalah siswa kelas XI 6 SMA Negeri 1 Tanjungpinang. Pelaksanaan uji coba terbatas ini dilakukan untuk mengetahui soal-soal yang signifikan untuk dipakai pada saat uji coba lapangan. Hasil yang diperoleh dari tes tertulis yaitu sebagai berikut.

Berdasarkan rekapitulasi nilai uji coba terbatas dari 19 soal pretest dan 10 soal posttes yang di uji cobakan terdapat 10 soal yang signifikan untuk digunakan pada uji coba lapangan. Uji coba lapangan dilakukan di kelas XI MIPA 5 SMA Negeri 1 Tanjungpinang dengan 36 siswa dari 40 siswa dikarenakan 4 siswa berhalangan hadir saat hari penelitian berlangsung.

a. Hasil Praktikalitas Media Pembelajaran Alat Peraga Tiga Dimensi Audiovisual Struktur Kulit

1) Respon Guru

Sebelum mengajar di kelas, guru mencobakan media yang dikembangkan. Hasil perhitungan respon guru terhadap media pembalajaran dapat dilihat pada Tabel 12. berikut:

Tabel 12. Hasil Perhitungan Angket Praktikalitas Guru

No. Aspek Hasil(%) Kriteria

1 Kemudahan 80 Praktis

2 Kualitas 80 Praktis

2) Respon Siswa

Setelah media digunakan saat pembelajaran di kelas, angket praktikalitas tersebut diisi oleh seluruh siswa. Hasil perhitungan praktikalitas oleh siswa sebanyak 36 siswa didapatkan rata-rata sebesar 81,4% dengan kategori praktis terlihat pada lampiran 13.

b. Hasil Efektifitas Media Pembelajaran Alat Peraga Tiga Dimensi Audiovisual Organ Kulit

1) Hasil Belajar Kognitif

Setelah melaksanakan uji coba lapangan, peneliti kemudian mengoreksi jawaban siswa berdasarkan rubrik penilaian yang telah disusun oleh peneliti dan merekapitulasi poin yang didapat oleh siswa dalam tabel di lembar kerja excel. Dari rumus yang digunakan, didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 13. Rekapitulasi Hasil Tes Tertulis Siswa Data Pretest Posttest

Rata-rata nilai 67,2 78,6

Jumlah siswa tuntas 12 29

Jumlah siswa tidak tuntas 24 7

Ketuntasan klasikal 33% 80%

N-Gain 0,30

Berdasarkan tabel siswa yang tuntas pada pretest sebanyak 12 orang siswa sedangkan pada posttest sebanyak 29 orang siswa yang dapat dilihat dalam lampiran. Berdasarkan penetapan kriteria efektif yang telah dipaparkan pada Bab III, hasil tes uji coba lapangan ini berada pada kategori tuntas secara klasikal karena jumlah siswa yang tuntas dengan nilai di atas KKM mencapai 80%, dan nilai N-Gain mengalami kenaikan sebesar 0,30 dengan kriteria peningkatan sedang.

2) Hasil Aspek Motivasi Belajar Siswa

Data hasil motivasi belajar siswa diperoleh melalui angket motivasi.

Penilaian motivasi dilakukan dua tahap yaitu pada saat sebelum

penggunaan media saat pembelajaran (pretest) dan sesudah penggunaan media pembelajaran (posttest). Dengan menggunakan rumus N-Gain diperoleh hasil efektifitas motivasi belajar siswa sebesar 0,5 (terlampir) dengan kategori peningkatan sedang.

5. Penilaian (Evaluation)

Pada tahap evaluasi pada model ADDIE didefenisikan sebagai sebuah proses yang dilakukan untuk memberikan nilai terhadap suatu program pembelajaran. Pada dasarnya, evaluasi dapat dilakukan sepanjang pelaksanaan kelima langkah model ADDIE. Evaluasi juga dapat dilakukan dengan cara melihat hasil pengembangan media terkait dengan kevalidan, kepraktisan dan keefektivannya.

Dari hasil penelitan validasi ahli media dan ahli materi secara umum dapat dinilai bahwa media yang dikembangkan layak untuk diujicobakan dengan melakukan sedikit revisi yang disarankan oleh validator. Revisi media yaitu pada bagian audio dan ketepatan penulisan buku panduan penggunaan media alat peraga tiga dimensi audiovisual organ kulit.

Pada proses uji coba terhadap guru dan siswa, diperoleh hasil bahwa secara umum media alat peraga tiga dimensi audiovisual yang dikembangkan layak dan praktis. Pada bagian komentar dan saran, siswa banyak menambahkan saran-saran positif yang membangun.

Dari hasil aspek keefektifan pada saat uji coba lapangan, menunjukkan bahwa secara umum nilai kognitif siswa mengalami peningkatan, dan tuntas secara klasikal. Motivasi belajar siswa secara umum juga dapat dikategorikan baik.

Dokumen terkait