BAB II TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA
B. Pembahasan
Dari hasil aspek keefektifan pada saat uji coba lapangan, menunjukkan bahwa secara umum nilai kognitif siswa mengalami peningkatan, dan tuntas secara klasikal. Motivasi belajar siswa secara umum juga dapat dikategorikan baik.
terdapat penekanan informasi pada bagian tertentu dan keterpaduan media alat peraga yang dikembangkan dengan gaya belajar siswa.
Revisi yang dilakukan yaitu dengan menambah speaker untuk memperbesar volume suara agar seluruh siswa dapat memperoleh informasi yang sama. Hal ini sesuai dengan salah satu manfaat media dalam pembelajaran menurut Kemp dan Dayton dalam Arsyad (2012: 27) yaitu media dapat menyebabkan penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan. Sedangkan kesimpulan yang dipilih oleh ahli materi I dan II yaitu layak diujicobakan.
Kesimpulan yang didapatkan dari validator materi I bahwa media sudah layak diujicobakan dengan tambahan komentar dan saran. Validator I memberikan komentar dan saran bahwa media sudah layak dan dapat membantu pemahaman siswa pada materi struktur kulit, berdasarkan aspek kesesuaian alat peraga tiga dimensi berbasis audiovisual sudah memiliki kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, KI dan KD materi struktur kulit, kurikulum dan alat evaluasi yang digunakan. Evaluasi yang digunakan juga sudah disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan kisi-kisi soal. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Asyhar dalam Fuada (2015: 856) bahwa salah satu aspek penilaian media adalah kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, ukuran sesuai dengan lingkungan belajar. Wahono (2006) juga menyatakan bahwa indikator penilaian media pembelajaran yaitu kejelasan tujuan pembelajaran, relevansi tujuan pembelajaran dengan SK/KD/kurikulum, konsistensi evaluasi dengan tujuan pembelajaran dan ketepatan alat evaluasi. Pada aspek kelengkapan, kedalaman materi pada media dan buku panduan akan lebih bagus untuk membahas materi
struktur kulit lebih dalam lagi, pada aspek kemudahan media yang dikembangkan mudah untuk dipahami karena media dapat memberikan pengalaman secara langsung dari melihat dan mendengar. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Asikin (2018: 197) bahwa semakin banyak indera yang terlibat di dalam proses pembelajaran diasumsikan dapat menjadikan pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Bagian yang direvisi pada media yang dikembangkan yaitu menambahkan penamaan lapisan-lapisan kulit pada media sehingga siswa lebih memahami materi dengan menggunakan media yang dikembangkan dan pada buku panduan kata-kata yang salah diperbaiki sehingga mudah dipahami oleh pengguna. Hal ini selaras dengan yang dinyatakan oleh Daryanto (2015: 35) bahwa untuk mencegah terjadinya salah pengoperasian dalam menggunakan media, sebaiknya dilengkapi dengan panduan prosedur penggunaan media.
Kesimpulan yang didapatkan dari validator materi II bahwa media sudah layak diujicobakan dengan tambahan komentar dan saran. Komentar dan saran dari validator II bahwa untuk ukuran klasikal media harus lebih besar, lampu yang digunakan seharusnya kedap-kedip, akan lebih bagus jika dapat menggunakan remote sensor dan tombol-tombol sebaiknya dapat berfungsi otomatis.
2. Praktikalitas
Dari perhitungan lembar penilaian praktikalitas yang didapat oleh guru dan siswa pada saat uji coba lapangan, kepraktisan media yang berupa kemudahan menggunakan media tanpa memerlukan alat tertentu, mudah dibawa dan
dipindahkan (Fahrurozi, 2015: 17-18) dan kualitas media dengan aspek ketertarikan media, kejelasan sajian suara dan tampilan, kebaruan media, kesederhanaan, ukuran dan teknis pembuatan media yang dimodifikasi dari Asyhar dalam Fuada (2015: 856).
1) Respon Guru
Berdasarkan pada respon guru yang mengajar di kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Tanjungpinang, guru menilai positif terhadap media yang dikembangkan oleh peneliti. Pada aspek kemudahan penggunaan media guru memberikan penilaian dengan perolehan hasil 80% dengan kriteria praktis, media yang dikembangkan memudahkan dalam memahami materi struktur kulit dan mudah digunakan. Hal ini sesuai dengan kriteria kelayakan praktis menurut Praptono dalam Fahrurozi (2015: 17-18) bahwa kelayakan praktis didasarkan pada kemudahan dalam mengajarkan bahan ajar dengan menggunakan media.
Media yang peneliti kembangkan juga tahan lama dan tidak memerlukan perawatan yang rumit. Bahaya yang ditimbulkan dari penggunaan media yang dikembangkan juga sangat minim. Penggunaan media juga sangat mudah dan memiliki antisipasi jika listrik mati yaitu dengan menggunakan powerbank. Hal ini sesuai dengan aspek penilaian media pembelajaran menurut Asyhar dalam Fuada (2015: 856) yaitu media jelas dan rapi, bersih dan menarik, cocok dengan sasaran, relevan dengan topik, sesuai dengan tujuan pembelajaran, praktis, luwes dan tahan, berkualitas baik, ukuran sesuai dengan lingkungan belajar.
Pada aspek kualitas media sebesar 80% dengan kriteria praktis, media yang dikembangkan oleh peneliti tampak baik, menarik perhatian, menghasilkan
suara dan cahaya, kreatif, serhana dalam penggunaanya, ukuran yang cukup sesuai, dan pemilihan bahan-bahan yang terdapat pada media. Sehingga siswa terdorong untuk mengetahui lebih lanjut tentang media dan materi yang dipelajarinya.
Guru berpendapat bahwa media yang dikembangkan cukup menarik rasa ingin tahu siswa dan memudahkan siswa untuk memahami konsep struktur kulit menjadi lebih nyata. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Musfiqon (2012:
72) bahwa penggunaan media visualisasi yang mencerminkan kenyataan harus menggambarkan miniaturisasi dari kenyataan atau benda sesungguhnya agar siswa saat belajar serasa mengalami dan melihat wujud asli benda yang divisualisasikan tersebut.
Namun, ada beberapa bagian yang akan lebih baik jika diperbaiki, yaitu pada volume suara yang masih belum terdengar satu ruangan kelas dengan banyak siswa mencapai 40 siswa, dan ukuran media yang lebih efektif untuk digunakan untuk satu kelompok belajar dengan kisaran siswa sekitar 6-10 siswa.
2) Respon Siswa
Berdasarkan pedoman konversi rata-rata angket praktikalitas, hasil rata- rata respon dari 36 siswa berada pada kategori praktis yaitu dengan presentase 81,4% (pada lampiran 13.) sehingga media pembelajaran alat peraga tiga dimensi audiovisual dinyatakan praktis digunakan dalam pembelajaran. Siswa secara umum banyak memberikan komentar positif terhadap media yang dikembangkan karena merasa tertarik dan menimbulkan rasa ingin tahu mereka.
Hal ini sesuai dengan salah satu manfaat media pembelajaran yang
dikemukakan oleh Kemp dan Dayton dalam Arsyad (2012: 27) bahwa media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar.
Mereka juga menilai bahwa ide pengembangan media alat peraga tiga dimensi audiovisual organ kulit sangat kreatif. Sedangkan saran yang disampaikan dalam angket yaitu suara kurang terdengar untuk siswa yang duduk pada barisan belakang. Namun media alat peraga tiga dimensi yang dikembangkan sudah menunjukkan gambaran kulit yang sebenarnya sehingga siswa memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Moedjiono dalam Daryanto (2015: 29) bahwa media sederhana tiga dimensi memiliki kelebihan-kelebihan, diantaranya memberikan pengalaman belajar secara langsung, menyajikan secara kongrit dan menghindari verbalisme, dapat menunjukkan obyek secara utuh, baik konstruksi maupun cara kerjanya, dapat memperlihatkan struktur organisasi secara jelas, dapat menunjukkan alur suatu proses secara jelas. Salah satu pengalaman belajar yang bermakna adalah pada kegiatan pengamatan, dengan menegamati media yang dikembangkan siswa menjadi memiliki pengalaman belajar yang berkesan.
Kegiatan pengamatan akan memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga dapat memberikan kesan paling utuh dan paling bermakna karena melibatkan banyak indera yaitu indra penglihatan, pendengaran, pembau, indera peraba, dan lainya, sehingga hal tersebut dikenal dengan learning by doing atau belajar melalui pengalaman (Arsyad, 2014: 55).
3. Efektifitas
1) Hasil Belajar Kognitif
Hasil belajar kognitif siswa didapatkan dengan membagian soal tes. Tes pada penilaian efektifitas siwa dilakuakan dua tahap yaitu pretest dan posttest.
Jika hasil pretest dan posttest dibandingkan, maka keduanya dapat berfungsi untuk mengukur sampai sejauh mana pencapaian siswa terhadap media pengajaran setelah mengalami suatu kegiatan belajar (Purwanto, 2012: 28).
Peneliti menggunakan rumus pada excel untuk menghitung jumlah siswa yang tuntas mengikuti pretest dan posttest dan menggunakan rumus N-Gain untuk menentukan keefektifan media.
Berdasarkan tabel rekapitulasi ketuntasan tes tertulis uji coba lapangan pada Tabel. 13 siswa yang tuntas pada saat pretest sebanyak 12 orang siswa dengan nilai rata-rata siswa sebesar 67,2 dan ketuntasan klasikal sebesar 33%.
Berdasarkan hasil yang di dapat belum tercapai ketuntasan secara klasikal pada saat pretest karena tidak mencapai 80%. Sedangkan hasil yang didapatkan pada saat postest jumlah siswa yang tuntas sebanyak 29 siswa dengan rata-rata nilai 78,6 dan ketuntasan klasikal sebesar 80%. Ketuntasan belajar siswa berpedoman pada KKM yang diterapkan di sekolah yang diteliti yaitu dengan batas KKM mata pelajaran biologi sebesar 75. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Purwanto (2018: 28) jika hasil pretest dibandingkan dengan hasil postest, maka keduanya berfungsi untuk mengukur sejauhmana pencapaian siswa terhadap media pengajaran setelah mengalami suatu kegiatan belajar.
Berdasarakan pedoman interpretasi hasil tes tertulis, hasil tes uji coba lapangan sudah mencapai ketuntasan secara klasikal dengan perolehan hasil sebesar 80%, sehingga media alat peraga tiga dimensi audiovisual yang dikembangkan berada pada kategori efektif dan nilai N-Gain sebesar 0,3 dengan kategori peningkatan sedang untuk digunakan pada pembelajaran di kelas XI MIPA SMA/sederajat. Hasil tersebut disebabkan karena keterbatasan waktu pada saat posttest banyak diantara siswa yang mengerjakan soal dengan terburu- buru dan belum menjawab soal tersebut, sesuai dengan prinsip penilaian menurut Depdiknas (2006) yang menyatakan bahwa jika siswa tidak menggunakan waktu yang cukup untuk belajar, maka ia tidak akan tuntas dalam belajarnya dan jika diberikan waktu dan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa, maka mereka akan belajar secara tuntas.
Selain itu kelas yang peneliti gunakan sebelumnya sudah pernah mempelajari struktur kulit, sehingga siswa masih memiliki ingatan yang kuat dan sudah memiliki pengetahuan awal tentang struktur kulit.
2) Hasil Motivasi Belajar Siswa
Penilaian motivasi belajar dilakukan sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran yang dikembangkan. Dengan menilai aspek keinginan belajar, kebutuhan belajar, harapan, kegiatan menarik, dan lingkungan belajar yang dimodifikasi dari Uno (2011: 23) dengan keseluruhan penyataan menggunakan pernyataan positif.
Perhitungan nilai N-Gain dinalisis dengan menggunakan rumus gainscore menurut Imasnuna (2016: 3), peningkatan motivasi belajar dikatakan baik jika
skor gain lebih besar dari 0,30. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai gain sebesar 0,50 sehingga peningkatan hasil motivasi belajar siswa dapat dikategorikan baik. Sesuai dengan Musfiqon (2012: 70) bahwa media yang berkaitan dengan indera penglihatan (visual) dapat memperlancar pemahaman (misalnya elaborasi struktur dan organisasi) dan memperkuat ingatan. Media dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Hasil ini sesuai dengan manfaat media pembelajaran menurut Arsyad (2015: 29) bahwa media pembelajaran dapat menigkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. Agar media pembelajaran menjadi efektif, sebaiknya media ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.
67 BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dari media pembelajaran alat peraga tiga dimensi audiovisual pada konsep struktur kulit, dapat disimpulkan bahwa pengembangan media pembelajaran media pembelajaran alat peraga tiga dimensi audiovisual pada struktur kulit kelas XI SMA jika ditinjau dari aspek validitas yang dinilai oleh ahli materi dan ahli media yaitu valid. Pada aspek praktikalitas yang dinilai oleh guru dan siswa yaitu praktis. Pada aspek efektifitas yang dinilai melalui tes tertulis berupa pretest dan posttest yaitu efektif digunakan dengan persentase ketuntasan klasikal dengan kriteria tuntas, aspek kognitif dengan kriteria peningkatan sedang dan aspek motivasi belajar dengan kriteria peningkatan sedang.