• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Studi pendahuluan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

1. Hasil Studi pendahuluan

Tahap studi pendahuluan ini dilakukan untuk menganalisis kebutuhan pengembangan bahan ajar mata pelajaran PAI. Pengembangan bahan ajar PAI dimaksudkan untuk mengatasi kesenjangan kondisi ideal dengan kondisi real yang ada di lapangan khususnya masalah (1) ketersediaan bahan ajar yang layak, (2) ketersediaan bahan ajar PAI berbasis sinektik, dan (3) mengatasi kondisi pembelajaran PAI melalui ketersediaan bahan ajar yang dapat meningkatkan pemahaman konsep abstrak sebagai hasil belajar dalam pembelajaran PAI di sekolah khususnya SMP.

a. Analisis Ketersediaan Bahan Ajar

Identifikasi bahan ajar yang tersedia di SMPN Kota Bengkulu terdiri dari beberapa buku Paket PAI dengan penerbit yang berbeda, sebagaimana terdapat dalam tabel berikut:

Tabel 4.1. Identifikasi Bahan Ajar PAI di SMP N Kota Bengkulu

No Judul buku Penerbit Pengarang

1 Buku Pelajaran PAI Aneka Ilmu H. Asy’ari, dkk 2 Buku Pelajaran PAI PT Perca Abd. Mutolib, dkk

3 LKS Putra Nugraha Tim Penulis

4 Buku-buku Agama

Data dokumen berupa bahan-bahan atau sumber belajar di atas merupakan buku PAI yang digunakan. Berdasarkan analisis, kelemahan yang terdapat pada ketiga buku teks yang ditelaah meliputi; tidak adanya petunjuk penggunaan buku yang

mengarahkan siswa belajar lebih kreatif dalam berfikir kritis, materi kurang mendalam, penyajian buku kurang mendorong kreativitas dan imajinasi siswa.

Berikut adalah hasil analisa kajian kebutuhan yang diolah dari hasil wawancara dengan siswa diperoleh data sebagai berikut; (1) Merasa kurang dengan bahan ajar yang ada. (2) Bahan ajar terkesan sedikit123 atau relatif kurang124. (3) Baha ajar hanya menggunakan buku PAI dan LKS seadanya.125 (4) Siswa merasa kurang ada sumber bahan ajar yang lebih menarik126.

Hasil wawancara dengan guru diperoleh data sebagai berikut: (1) Guru belum melaksanakan pengembangan strategi maupun metode dalam pembelajaran. Bahan ajar yang digunakan guru masih tergantung pada penerbit tertentu. Guru masih mengalami kesulitan dalam pengembangan bahan ajar baik berupa cetak maupun non cetak.127 (2) Bahan ajar yang dikembangkan belum sepenuhnya mengikuti SK dan KD sesuai kurikulum yang berlaku. Guru masih mengalami kesulitan dalam pengembangan bahan ajar berupa bahan ajar berbasis pembelajaran kreatif.128 (3) Guru dalam melaksanakan pembelajaran masih sebatas menggunakan metode ceramah. Bahan ajar yang digunakan guru masih terbatas terbitan tertentu. Guru masih mengalami kesulitan dalam pengembangan bahan ajar berbasis pendekatan atau model aktif dan kreatif.129

Oleh karena itu, penggunaan buku teks pelajaran sebagai sumber utama masih tetap membutuhkan bahan ajar lainnya untuk melengkapi kelemahan yang terdapat dalam buku teks. Dengan demikian diketahui bahwa bahan ajar yang dipakai sebagai rujukan utama dalam pembelajaran PAI di SMPN Kota bengkulu berupa buku teks dan LKS dan belum tersedia bahan ajar yang berbasis berbasis sinektik.

b. Kondisi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Analisis kondisi pembelajaran PAI dimaksudkan untuk mendiskripsikan kondisi empiris tentang perencanaan, implementasi dan evaluasi pembelajaran pembelajaran PAI di SMPN 20, 12 da 17 Kota bengkulu yang dihimpun hasil wawancara dan observasi.

123Wawancara dengan siswa IAK tanggal 15 Agustus 2016.

124Wawancara dengan siswa MR tanggal 15 Agustus 2016

125Wawancara dengan siswa OAtanggal 18 Agustus 2016

126Wawancara dengan siswa PIS tanggal 19 Agustus 2016

127Wawancara dengan guru YL tanggal 15 Agustus 2016

128Wawancara dengan guru MD, tanggal 16 Agustus 2016

129Wawancara dengan guru Yld tanggal 18 Agustus 2016

Berikut adalah hasil analisa kajian kebutuhan yang diolah dari hasil wawancara dengan siswa diperoleh data sebagai berikut; (1) Belum merasa puas terhadap cara penyampaian guru dalam pembelajaran130. (2) Strategi pembelajaran masih terkesan monoton. (3) Kegiatan belajar kurang ada variasi yang membuat siswa belajar kurang bergairah131. (4) Masih sering ditemukan cara pembelajaran yang membuat anak bosan karena terkesan kurang ada inovasi dalam strategi pembelajaran132. (5) Siswa merasa kurang ada sumber bahan ajar yang lebih menarik133.

Hasil wawancara dengan guru diperoleh data sebagai berikut: (1) Guru belum melaksanakan pengembangan strategi maupun metode dalam pembelajaran. Guru masih mengalami kesulitan dalam aplikasi pendekatan pembelajaran yang kreatif dan aktif134. (2) Guru masih kesulitan dalam aplikasi pembelajaran dengan bahan ajar berbasis pembelajaran kreatif, imajinatif.135 (3) Guru dalam melaksanakan pembelajaran masih sebatas menggunakan metode konvensional; ceramah, demonstrasi, latihan dan penugasan.136

Data di atas menggambarkan bahwa pembelajaran PAI di SMPN Kota Bengkulu masih terdapat kendala atau problema yang menyebabkan segera ada solusi. Menurut persepsi guru, diantara permasalahan yang paling mendasar dalam pembelajaran PAI adalah: (1) bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran kurang efektif dan menarik perhatian siswa, (2) masih sangat terbatasnya pendekatan, model, metode dan media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu hanya berupa buku PAI dan LKS.

Berdasarkan temuan ini, maka diperlukan pengembangan bahan ajar yang lebih efektif dan menarik berbasis pendekatan atau model yang interaktif, inovatif, kreatif dan inajinatif serta penggunaan media dalam pembelajaran yang nantinya diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Dengan demikian bahan ajar berbasis sinektik sangat dibutuhkan untuk mengatasi kendala tersebut.

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan di SMPN Kotamadya Bengkulu berdasarkan hasil observasi dapat digambarkan bahwa; metode yang digunakan adalah

130Wawancara dengan siswa IAK tanggal 15 Agustus 2016.

131Wawancara dengan siswa MAR tanggal 15 Agustus 2016

132Wawancara dengan siswa OA tanggal 18 Agustus 2016

133Wawancara dengan siswa PIS tanggal 19 Agustus 2016

134Wawancara dengan guru YL tanggal 15 Agustus 2016

135Wawancara dengan guru MDY, tanggal 16 Agustus 2016

136Wawancara dengan guru YDL tanggal 18 Agustus 2016

metode konvensional. Guru mengajar dengan cara menerangkan materi kepada siswa secara langsung dan bersifat monoton. Penjelasan yang digunakan berdasarkan bahan ajar masih bersifat umum. Langkah-langkah yang digunakan guru ialah:

1) Kegiatan awal (15 Menit)

a) Guru memasuki ruangan dan mengucapkan salam. Kemudian siswa menjawab salam dan setelah itu membaca doa untuk memulai pembelajaran.

b) Guru bersama siswa sama-sama mempersiapkan alat pembelajaran seperti buku dan perlengkapan lainnya.

c) Setelah itu guru mengkondisikan siswa.

d) Guru memotivasi peserta didik dan memulai dengan mengulang materi yang sebelumnya.

2) Kegiatan inti (55 Menit)

a) Guru meminta kepada siswa untuk membuka buku pembelajaran. Dan kemudian menjelaskan isi dari materi.

b) Kemudian guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum jelas atau belum dipahami.

3) Menutup pembelajaran (10 Menit)

a) Guru memberikan tugas kepada siswa dan mengingatkan siswa untuk mengulang pelajaran di rumah.

b) Kemudian bersama-sama siswa menutup pembelajaran dan membaca doa.

Berdasarkan observasi selama pembelajaran Pendidikan Agama Islam, reaksi siswa terhadap proses pembelajaran di kelas masih terdapat kurang antusias. Hal yang menjadi kendala selama pembelajaran antara lain partisipasi siswa selama pembelajaran masih kurang, bahan ajar yang digunakan masih terbatas, dan model pembelajaran yang berlangsung yaitu bersifat konvensional dan belum ada alternatif yang digunakan oleh guru. Strategi pembelajaran yang diterapkan dalam menanamkan pemahaman siswa terhadap materi pemahaman konsep abstrak agama berupa penjelasan secara umum dan belum menggunakan pendekatan sinektik.

Sedangkan Berdasarkan data dokumen RPP yang dibuat oleh guru di SMPN 17, 20 dan 12 menunjukkan belum mencerminkan Rencana Program Pembelajaran yang mengarah pada pembelajaran inovatif. Hal ini terlihat pada kegiatan yang pembelajaran menggunakan strategi, metode, dan media yang masih konvensional. Misalnya guru

masih menggunakan metode ceramah untuk menyampaikan materi, tanya jawab, dan diskusi. Langkah-langkah dalam strategi yang inovatif dalam upaya lebih mempermudah siswa meyerap materi pelajaran yang kreatif dan inovatif belum nampak, misalnya dengan menerapkan model atau strategi inovatif, kreatif berbasis pembelajaran kontemporer seperti koopreatif learning, aktif learning, kontektual teaching and learning dan sebagainya yang membuat siswa lebih fan, antusias, motivasi dan semakin menyenangi materi pembelajaran PAI.

2. Hasil Analisa Draft Produk Pengembangan