BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.17. Nisbah kesetaraan lahan
Peningkatan pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah dan cabe yang ditanam berbagai pola tanam tumpangsari dapat diukur dengan menggunakan besaran, yaitu Nisbah Kesetaraan Lahan (NKL) atau Land Equivalent Ratio (LER). LER membandingkan hasil dari dua atau lebih tanaman yang tumbuh bersama-sama sistem tumpangsari dengan membandingkan hasil dari masing-masing tanaman yang ditanam secara monokultur. Bila LER >1, berarti pertanaman tumpangsari lebih efisien dalam penggunaan lahan dari pada pertanaman monokultur (Wibowo, 2009) Agar diperoleh hasil yang maksimal, maka tanaman yang ditumpangsarikan harus dipilih sedemikian rupa sehingga mampu memanfaatkan ruang dan waktu seefisien mungkin serta dapat
26 menurunkan pengaruh kompetisi bagi tanaman. Dengan demikian jenis tanaman yang digunakan dalam tumpangsari harus memiliki pertumbuhan yang berbeda (Atmojo, 2008).
Tabel 6. Nilai Kesetaraan Lahan (NKL) dan Indeks Kompetansi (IK) pada berbagai pola pertanaman tumpangsari bawang merah dengan cabai
Perlakuan Hasil Bawang
merah (t/ha)
Hasil Cabe
(t/ha) NKL IK
P3: pola pertanaman strip 1:1 0,39 4,79 1,18 0,19
P4: pola pertanaman strip 2:1 0,74 4,47 1,31 0,14
P5: pola pertanaman strip 3:1 1,19 4,64 1,59 0,11
P6: pola pertanaman sigzak 0,61 4,84 1,31 0,18
P7: pola pertanaman campuran 0,85 4,64 1,40 0,14
P1: monokultur bawang merah 1,83 -
P2: monokultur cabai - 4,94
Hasil analisis NKL (Tabel 6) diperoleh bahwa dari percobaan ini NKL tertinggi dicapai pada pola pertanaman P5 (bawang merah strip 3:1 diantara tanaman cabe) yaitu sebesar 1,59 yang berarti bahwa untuk mendapatkan produksi yang sama dengan 1 hektar diperlukan 1,59 ha untuk pertanaman secara monokultur; sebaliknya nilai NKL terendah sebesar 1,18 diperoleh pada pola pertanaman P3 (bawang merah 1:1 diantara tanaman cabe). Penggunaan sistem tanam tumpangsari dengan pola pertanaman bawang merah berbeda diantara tanaman cabe menunjukkan lebih efisien dalam pemanfaatan sumber daya lahan dan lingkungan dibandingkan dengan pola pertanaman monokultur.
5.18. Indeks Kompetensi (IK)
Dari hasil perhitungan Indeks Kompetensi tanaman bawang merah dan cabe pada berbagai pola pertanaman tumpangsari (Tabel 6), diperoleh bahwa Indeks Kompetensi pada setiap pola pertanaman berbeda-beda. IK terendah diperoleh pada pola pertanaman P5 (3 baris bawang merah, diantara 1 baris cabe) yaitu 0,11 dan IK tertinggi diperoleh pada pola pertanaman P3 (1 baris bawang merah, diantara 1 baris cabe) yaitu 0,19.
Permasalahan utama dalam sistem tumpangsari adalah kompetisi antara tanaman dalam memperoleh kebutuhan hidupnya, terutama air, unsur hara dan cahaya matahari. Penerapan sistem tanam tumpangsari dengan pengaturan pola tanam bawang merah dengan cabai
27 yang berbeda akan sangat ditentukan oleh jumlah populasi tanaman per satuan luas lahan.
Hal ini seperti dikemukakan Sutidjo (1986) bahwa saat terjadinya persaingan tergantung pada sifat komunitas tanaman, populasi tanaman dan jarak tanaman, sehingga kerapatan populasi tanaman berpengaruh cukup besar terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman.
Kerapatan tanaman merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, karena penyerapan energi matahari oleh permukaan daun sangat menentukan pertumbuhan tanaman (Gardner et al., 1991).
28
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dari kegiatan yang telah dilaksanakan dari penelitian ini dapat dambil kesimpulan sementara sebagai berikut:
1. Pola pertanaman bawang merah monokultur (P1) menghasilkan daun lebih panjang, jumlah daun lebih banyak, jumlah umbi per rumpun lebih rendah, namun berat segar umbi dengan daun per rumpun per hektar lebih tinggi.
2. Pola pertanaman dengan sistem tumpangsari 1 baris bawang merah diantara barisan tanaman cabe (P3) menghasilkan ukuran umbi lebih kecil, berat segar dan berat kering umbi per rumpun lebih rendah, berat segar umbi dengan dan tanpa daun per hektar lebih rendah, serta kandungan Total Padatan Terlarut (TPT), Nilai Kesetaraan Lahan (NKL) dan Indeks Kompetisi (IK) terendah.
3. Pola pertanaman dengan sistem tumpangsari 3 baris bawang merah diantara tanaman cabe (P5) menghasilkan berat segar per umbi, NKL dan IK tertinggi serta pola pertanaman bawang merah ditanam zigzak diantara tanaman cabe (P6) menghasilkan ukuran umbi, berat umbi dengan dan tanpa daun terbesar, berat kering per umbi dan TPT tertinggi.
6.2. Saran-saran
Dari hasil penelitian ini dapat disarankan bahwa tanaman bawang merah dan cabe sangat sesuai untuk diusahakan dengan sistem tanam tumpangsari, karena lebih efisien dalam pemanfaatan sumber daya lahan dan lingkungan dibandingkan dengan pola tanam monokulturnya. Pola pertanaman strip 3:1 yaitu dengan menggunakan 3 baris tanaman bawang merah diantara tanaman cabe serta pola pertanaman bawang merah secara zigzak diantara tanaman cabe dapat menghasilkan Nilai Kesetaraan Lahan (NKL) dan Indeks Kompetensi (IK) lebih baik serta dapat memberikan hasil bawang merah dan cabe lebih tinggi. Untuk itu, kedua pola pertanaman ini disarankan untuk dikaji lebih lanjut dengan mengoptimalkan teknologi pendukungnya agar diperoleh hasil lebih tinggi.
29 DAFTAR PUSTAKA
Atmojo, S.W., 2008. Pola Usahatani Konservasi. Fakultas Pertanian UNS, Solo.
http://google.com/search?q=bertanam+ganda. Diakses pada tanggal 30 Juli 2010.
Bahrudin, Muhammad-Ansar dan I. Madauna, 2014. Kajian Viabilitas dan Vigor Benih Asal Dari Berbagai Sentra Bawang Merah Varietas Lembah Palu. Prosiding Seminar Nasional Universitas Brawijaya. Malang, 5-7 November 2014.
BPS, 2013. Produksi Buah Cabai. Pusat Pengembangan Hortikultura. Badan Pusat Statistik. Jakarta.
Brady, N.C. 1990. The nature and properties of soils. The MacMillan Publishing Company. New York.
Cys, E van Ranst, J. Debaveye and F. Beernaert. 1993. Land evaluation. Part III Crop Requirements. Agricultural Publications–No 7; General Administration for Development Cooperation. Belgium.
Gardner, F.P., R. Brent Pearce., dan Roger L.Mitchell, 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
UI Press, Jakarta.
Girsang, 2008. Produksi Cabai Merah Pada Berbagai Jarak Tanam dan Takaran Mulsa.
Jurnal Berkala Penelitian Agronomi. Vol. 1 (2), 115-120. PS Agronomi. Universitas Haluleo. Kendari.
Gomez, K.A. and A.A.Gomez. 1995. Prosedure statistik untuk penelitian pertanian.
Terjemahan Endang Syamsuddin dan Justika S Baharsjah. Edisi kedua. UI-Press.
Jakarta.
Harpenas, A., dan R. Darmawan. 2010. Budidaya Cabai Unggul. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Kementerian Pertanian, 2012. Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2010-2014 (Edisi Revisi). Kementerian Pertanian.
Khandakar. 1994. Manual of methodes for physio-morphological studies of jute, kenaf and allied germplasm. International Jute Organisation. Dhaka, Baangladesh. P. 11-15.
Mentan, 2011. Surat keputusan menteri pertanian tentang pelepasan bawang merah varietas Lembah Palu sebagai varietas unggul. Menteri Pertanian Republik Indonesia.
Jakarta.
Muhammad Ansar dan Bahrudin, 2010. Kajian standard operating procedure (SOP) bawang merah Lokal Palu. (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Sulawesi Tengah).
Muhammad Ansar, 2016. Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh Untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Umbi Bawang Merah Varietas Lembah Palu. Prosiding Seminar Nasional Perhorti dan Peragi, Makassar, 14 November 2016.
Muhammad Ansar, Bahrudin dan Imam Wahyudi, 2015. Growth and Yield Of Shallot Lembah Palu Variety On Different Direction and Form Of Seedbeeds Growing On Dry Land. Agroland: The Agriculture Science Journal. Vol. 3(1): 14-21 (2016 June).
30 Muhammad Ansar, Tohari, B.H. Sunaryanto dan E. Sulistyaningsih, 2011. Pertumbuhan, hasil dan kualitas umbi bawang merah pada kadar air tanah dan ketinggian tempat berbeda (Jurnal Agrivigor UNHAS, Volume 10, Nomor 2, 2011).
Muhammad-Ansar, Tohari, B.H. Sunaryanto dan E. Sulistyaningsih, 2013. Tanggap Fisiologi dan Hasil Bawang Merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) Terhadap Lengas Tanah dan Ketinggian Tempat Berbeda. J. Biota. Volume 18(1): 1- 10, Februari 2013.
Muhammad-Ansar, 2012. Pertumbuhan dan hasil bawang merah pada keragaman ketinggian tempat. Disertasi. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.
Muhammad-Ansar, 2013. Keragaan teknologi budidaya dan relevansinya dalam peningkatan produktivitas bawang merah di Sulawesi Tengah. Makalah Seminar Nasional FKPTI. Palu, November 2013.
Muhammad-Ansar, Bahrudin dan I. Wahyudi, 2013a. Waktu pemberian air kincir, pupuk organik dan mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah varietas ‘lembah palu’. Makalah Seminar Nasional Pertanian Organik. Palu, Desember 2013.
Muhammad-Ansar, Bahrudin dan I. Wahyudi, 2013b. Waktu pemberian air kincir, pupuk organik dan mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah varietas ‘lembah palu’. Makalah Seminar Nasional Pertanian Organik. Palu, Desember 2013.
Muhammad-Ansar, Bahrudin dan I. Wahyudi, 2014. Pengujian Pemupukan Spesifik Pada Kondisi Agroekosistem Lahan Kering Sentra Pengembangan Bawang Merah Varietas Lembah Palu. Prosiding Seminar Nasional Universitas Brawijaya. Malang, 5-7 November 2014.
Nurmas, A., 2011. Kajian Waktu Tanam dan Kerapatan Tanaman Jagung Sistem Tumpangsari Dengan Kacang Tanah Terhadap Nilai LER dan Indeks Kompetisi.
AGRIPLUS, Volume 21 Nomor : 01 Januari 2011.
Puslitbangtanak. 2004. Profil Sumberdaya Lahan Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Bogor.
Sanchez, P.A. 1992. Properties and Management of soils in the tropics (Sifat dan pengelolaan tanah tropika). Alih bahasa: Dra. J.T. Jayadinata, M.Sc.). Penerbit ITB. Bandung.
Subagyo, H., N. Suharta, dan A.B. Siswanto. 2004. Tanah-tanah pertanian di Indonesia.
Hal 21-65. Dalam A. Adimihardja et al., (penyunting). Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.
Sunaryono, H. dan P. Soedomo. 1983. Budidaya Bawang Merah. CV. Sinar Baru, Bandung.
Sunaryono, H., dan Rismunandar. 1984. Kunci Bercocok Tanam Sayur-sayuran Penting Di Indonesia. CV. Sinar Baru. Bandung.
Sutidjo, 1986. Pengantar Sistem Produksi Tanaman Agronomi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian Institut Pertanian, Bogor.
31 Suyatno. 1984. Bercocok Tanam Bawang Merah. Departemen Pertanian. Jakarta.
Tisdale, S.L. and W.L. Nelson. 1975. Soil Fertility and Fertiliziers. Macmillan Publishing Co. New York.
Tjahjadi, N. 1991. Bertanam Cabai. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Turk, K.J. , A.E. Hall, and C.W. Asbell. 1980. Drought adaptation of cowpea. I. Influence of drought on seed yield. Agron. J. 72: 413-420.
Wibowo, L., 2009. Multiple Cropping http://wibowo19.wordpress.com/2009/10/28/
multiple-cropping, diakses pada tanggal 31 Juli 2010.
32 Lampiran 1. Jadwal Kegiatan Penelitian PDUPT Tahap I (2018)
No. JENIS KEGIATAN Waktu Bulan ke ...
1 2 3 4 5 6
I. Persiapan
1. Penyusunan rencana kerja Minggu ke 1 2. Penyiapan tempat
penelitian
Minggi ke 2 3. Penyediaan bahan dan alat Minggu ke 3-4 II. Pelaksanaan Percobaan
1. Persiapan lahan Minggu ke 1-4
2. Penanaman Minggu ke 1
3. Pemeliharaan Minggu ke 1-4 4. Pengamatan 20-50 HST & panen 5. Pengambilan sampel 20-50 HST & panen 6. Analisis laboratorium 20-50 HST & panen III. Tabulasi dan Analisis Data
1. Tabulasi data pengamatan Minggu ke 1-4 2. Analisis data pengamatan Minggu ke 1-4 IV. Laporan, Seminar dan
Publikasi
1. Penyusunan laporan Minggu ke 1-4 2. Seminar hasil penelitian Minggu ke 1 3. Penggandaan laporan Minggu ke 3 4. Pengiriman artikel ke jurnal Minggu ke 4
33 Lampiran 2. Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian di Lapangan
Gambar 1-2. Pengadaan Bahan Tanam (Bibit Bawang merah dan cabe)
Gambar 3-4. Pengadaan Bahan Pupuk Organik (Kotoran kambing dan limbah bawang merah)
34 Gambar 5-6. Proses Pembuatan Pupuk Organik dari Kotoran kambing
dan limbah bawang merah)
Gambar 7-8. Proses Pengolahan Tanah dan Pembuatan Bedengan
Gambar 9-10. Proses Pengolahan Tanah dan Pembuatan Bedengan
35 Gambar 11. Proses Penanaman Bawang Merah dan Cabe
Gambar 12. Kondisi Tanaman Bawang Merah Umur 1 MST