• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.2. Saran-saran

Dari hasil penelitian ini dapat disarankan bahwa tanaman bawang merah dan cabe sangat sesuai untuk diusahakan dengan sistem tanam tumpangsari, karena lebih efisien dalam pemanfaatan sumber daya lahan dan lingkungan dibandingkan dengan pola tanam monokulturnya. Pola pertanaman strip 3:1 yaitu dengan menggunakan 3 baris tanaman bawang merah diantara tanaman cabe serta pola pertanaman bawang merah secara zigzak diantara tanaman cabe dapat menghasilkan Nilai Kesetaraan Lahan (NKL) dan Indeks Kompetensi (IK) lebih baik serta dapat memberikan hasil bawang merah dan cabe lebih tinggi. Untuk itu, kedua pola pertanaman ini disarankan untuk dikaji lebih lanjut dengan mengoptimalkan teknologi pendukungnya agar diperoleh hasil lebih tinggi.

29 DAFTAR PUSTAKA

Atmojo, S.W., 2008. Pola Usahatani Konservasi. Fakultas Pertanian UNS, Solo.

http://google.com/search?q=bertanam+ganda. Diakses pada tanggal 30 Juli 2010.

Bahrudin, Muhammad-Ansar dan I. Madauna, 2014. Kajian Viabilitas dan Vigor Benih Asal Dari Berbagai Sentra Bawang Merah Varietas Lembah Palu. Prosiding Seminar Nasional Universitas Brawijaya. Malang, 5-7 November 2014.

BPS, 2013. Produksi Buah Cabai. Pusat Pengembangan Hortikultura. Badan Pusat Statistik. Jakarta.

Brady, N.C. 1990. The nature and properties of soils. The MacMillan Publishing Company. New York.

Cys, E van Ranst, J. Debaveye and F. Beernaert. 1993. Land evaluation. Part III Crop Requirements. Agricultural Publications–No 7; General Administration for Development Cooperation. Belgium.

Gardner, F.P., R. Brent Pearce., dan Roger L.Mitchell, 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.

UI Press, Jakarta.

Girsang, 2008. Produksi Cabai Merah Pada Berbagai Jarak Tanam dan Takaran Mulsa.

Jurnal Berkala Penelitian Agronomi. Vol. 1 (2), 115-120. PS Agronomi. Universitas Haluleo. Kendari.

Gomez, K.A. and A.A.Gomez. 1995. Prosedure statistik untuk penelitian pertanian.

Terjemahan Endang Syamsuddin dan Justika S Baharsjah. Edisi kedua. UI-Press.

Jakarta.

Harpenas, A., dan R. Darmawan. 2010. Budidaya Cabai Unggul. Penebar Swadaya.

Jakarta.

Kementerian Pertanian, 2012. Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2010-2014 (Edisi Revisi). Kementerian Pertanian.

Khandakar. 1994. Manual of methodes for physio-morphological studies of jute, kenaf and allied germplasm. International Jute Organisation. Dhaka, Baangladesh. P. 11-15.

Mentan, 2011. Surat keputusan menteri pertanian tentang pelepasan bawang merah varietas Lembah Palu sebagai varietas unggul. Menteri Pertanian Republik Indonesia.

Jakarta.

Muhammad Ansar dan Bahrudin, 2010. Kajian standard operating procedure (SOP) bawang merah Lokal Palu. (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Sulawesi Tengah).

Muhammad Ansar, 2016. Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh Untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Umbi Bawang Merah Varietas Lembah Palu. Prosiding Seminar Nasional Perhorti dan Peragi, Makassar, 14 November 2016.

Muhammad Ansar, Bahrudin dan Imam Wahyudi, 2015. Growth and Yield Of Shallot Lembah Palu Variety On Different Direction and Form Of Seedbeeds Growing On Dry Land. Agroland: The Agriculture Science Journal. Vol. 3(1): 14-21 (2016 June).

30 Muhammad Ansar, Tohari, B.H. Sunaryanto dan E. Sulistyaningsih, 2011. Pertumbuhan, hasil dan kualitas umbi bawang merah pada kadar air tanah dan ketinggian tempat berbeda (Jurnal Agrivigor UNHAS, Volume 10, Nomor 2, 2011).

Muhammad-Ansar, Tohari, B.H. Sunaryanto dan E. Sulistyaningsih, 2013. Tanggap Fisiologi dan Hasil Bawang Merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) Terhadap Lengas Tanah dan Ketinggian Tempat Berbeda. J. Biota. Volume 18(1): 1- 10, Februari 2013.

Muhammad-Ansar, 2012. Pertumbuhan dan hasil bawang merah pada keragaman ketinggian tempat. Disertasi. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.

Yogyakarta.

Muhammad-Ansar, 2013. Keragaan teknologi budidaya dan relevansinya dalam peningkatan produktivitas bawang merah di Sulawesi Tengah. Makalah Seminar Nasional FKPTI. Palu, November 2013.

Muhammad-Ansar, Bahrudin dan I. Wahyudi, 2013a. Waktu pemberian air kincir, pupuk organik dan mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah varietas ‘lembah palu’. Makalah Seminar Nasional Pertanian Organik. Palu, Desember 2013.

Muhammad-Ansar, Bahrudin dan I. Wahyudi, 2013b. Waktu pemberian air kincir, pupuk organik dan mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah varietas ‘lembah palu’. Makalah Seminar Nasional Pertanian Organik. Palu, Desember 2013.

Muhammad-Ansar, Bahrudin dan I. Wahyudi, 2014. Pengujian Pemupukan Spesifik Pada Kondisi Agroekosistem Lahan Kering Sentra Pengembangan Bawang Merah Varietas Lembah Palu. Prosiding Seminar Nasional Universitas Brawijaya. Malang, 5-7 November 2014.

Nurmas, A., 2011. Kajian Waktu Tanam dan Kerapatan Tanaman Jagung Sistem Tumpangsari Dengan Kacang Tanah Terhadap Nilai LER dan Indeks Kompetisi.

AGRIPLUS, Volume 21 Nomor : 01 Januari 2011.

Puslitbangtanak. 2004. Profil Sumberdaya Lahan Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Bogor.

Sanchez, P.A. 1992. Properties and Management of soils in the tropics (Sifat dan pengelolaan tanah tropika). Alih bahasa: Dra. J.T. Jayadinata, M.Sc.). Penerbit ITB. Bandung.

Subagyo, H., N. Suharta, dan A.B. Siswanto. 2004. Tanah-tanah pertanian di Indonesia.

Hal 21-65. Dalam A. Adimihardja et al., (penyunting). Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.

Sunaryono, H. dan P. Soedomo. 1983. Budidaya Bawang Merah. CV. Sinar Baru, Bandung.

Sunaryono, H., dan Rismunandar. 1984. Kunci Bercocok Tanam Sayur-sayuran Penting Di Indonesia. CV. Sinar Baru. Bandung.

Sutidjo, 1986. Pengantar Sistem Produksi Tanaman Agronomi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian Institut Pertanian, Bogor.

31 Suyatno. 1984. Bercocok Tanam Bawang Merah. Departemen Pertanian. Jakarta.

Tisdale, S.L. and W.L. Nelson. 1975. Soil Fertility and Fertiliziers. Macmillan Publishing Co. New York.

Tjahjadi, N. 1991. Bertanam Cabai. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Turk, K.J. , A.E. Hall, and C.W. Asbell. 1980. Drought adaptation of cowpea. I. Influence of drought on seed yield. Agron. J. 72: 413-420.

Wibowo, L., 2009. Multiple Cropping http://wibowo19.wordpress.com/2009/10/28/

multiple-cropping, diakses pada tanggal 31 Juli 2010.

32 Lampiran 1. Jadwal Kegiatan Penelitian PDUPT Tahap I (2018)

No. JENIS KEGIATAN Waktu Bulan ke ...

1 2 3 4 5 6

I. Persiapan

1. Penyusunan rencana kerja Minggu ke 1 2. Penyiapan tempat

penelitian

Minggi ke 2 3. Penyediaan bahan dan alat Minggu ke 3-4 II. Pelaksanaan Percobaan

1. Persiapan lahan Minggu ke 1-4

2. Penanaman Minggu ke 1

3. Pemeliharaan Minggu ke 1-4 4. Pengamatan 20-50 HST & panen 5. Pengambilan sampel 20-50 HST & panen 6. Analisis laboratorium 20-50 HST & panen III. Tabulasi dan Analisis Data

1. Tabulasi data pengamatan Minggu ke 1-4 2. Analisis data pengamatan Minggu ke 1-4 IV. Laporan, Seminar dan

Publikasi

1. Penyusunan laporan Minggu ke 1-4 2. Seminar hasil penelitian Minggu ke 1 3. Penggandaan laporan Minggu ke 3 4. Pengiriman artikel ke jurnal Minggu ke 4

33 Lampiran 2. Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian di Lapangan

Gambar 1-2. Pengadaan Bahan Tanam (Bibit Bawang merah dan cabe)

Gambar 3-4. Pengadaan Bahan Pupuk Organik (Kotoran kambing dan limbah bawang merah)

34 Gambar 5-6. Proses Pembuatan Pupuk Organik dari Kotoran kambing

dan limbah bawang merah)

Gambar 7-8. Proses Pengolahan Tanah dan Pembuatan Bedengan

Gambar 9-10. Proses Pengolahan Tanah dan Pembuatan Bedengan

35 Gambar 11. Proses Penanaman Bawang Merah dan Cabe

Gambar 12. Kondisi Tanaman Bawang Merah Umur 1 MST

Dokumen terkait