• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Gambaran Umum Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang

Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang terbentuk berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Provinsi Sumsel Nomor 173/KPTS/VII/1974 tanggal 14 Desember 1974 dengan nama Yayasan Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang. Tanggal 28 Februari 1980 Rumah Sakit dimulai secara definitive untuk Rawat Jalan dengan jenis pelayanan Poliklinik Umum, Poliklinik Gigi, BKIA, dan Rumah Obat (Apotik). Rumah Sakit ditingkatkan menjadi pelayanan Rawat Inap pada tanggal 18 April 1983 dengan jumlah tempat tidur sebanuak 61 tempat tidur Tahun 1987, Rumah Sakit mulai dilengkapi dengan bangunan jumlah tempat tidur sebanyak 80 tempat tidur. Tahun 1995 jumlah tempat tidur ditingkatkan menjadi 120 tempat tidur, dan pada tahun 2006 sampai dengan sekarang tempat tidur menjadi 170 tempat tidur.

Rumah Sakit Islam Siti Khadijah adalah Rumah Sakit Swasta kelas B. Rumah Sakit ini mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis terbatas. Rumah Sakit ini juga menampung pelayanan rujukan dari Rumah Sakit Kabupaten. Rumah Sakit ini termasuk besar dengan dengan tersedianya 193 tempat tidur inap, lebih banyak disbanding setiap Rumah Sakit di Sumatera Selatan yang tersedia ratarata 70 tempat tidur inap, pelayanan Inap termasuk kelas tinggi 20 dari 193 tempat tidur di Rumah Sakit ini berkelas VIP ke atas.

Rumah Sakit Islam Siti Khadijah tersedia 97 Dokter, 61 lebih banyak dari pada Rumah Sakit tipikal di Sumatera Selatan dan 68 lebih banyak daripada Rumah Sakit tipikal di Sumatera Selatan. Dokter Umum 15 orang, Dokter Spesialis 74 orang, Dokter Gigi 2 orang, Dokter Spesialis Gigi 1 orang, dan Dokter Bedah 5 orang.

2. Visi, Misi dan Moto

a. Visi :Menjadi Rumah Sakit unggulan yang islami b. Misi :

1) Memberikan pelayanan kesehatan yang bernuansa islami menjangkau seluruh masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang setinggi-tingginya

2) Mengelola Rumah Sakit secara professional dan terpadu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir.

3) Melibatkan partisipasi karyawan dalam meningkatkan mutu dan pelayanan.

4) Meningkatkan penghasilan karyawan.

c. Motto Bekerja sebagai ibadah, ridho dalam pelayanan.

d.Tujuan Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang adalah sarana pengabdian untuk melaksanakan maksud dan tujuan Yayasan Islam Siti Khadijah Palembang, yakni membina, memelihara dan meningkatkan kesejahteraan umat di bidang kesehatan, merupakan perwujudan iman dan amal saleh kepada Allah SWT.

3. Struktur Organisasi Instalasi Gizi

Instalasi Gizi RSI. Siti Khadijah Palembang dipimpin oleh seorang kepala Instalasi Gizi yang bertanggung jawab kepada Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan. Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Instalasi Gizi dibantu oleh Kepala Urusan Penyelenggaraan dan Distribusi Makanan, Ahli Gizi , dan Tenaga Tataboga serta pekarya.

4. Ketenagaan Instalasi Gizi

Adapun jumlah tenaga kerja di Instalasi Gizi RSI. Siti Khadijah Palembang berdasarkan jabatan berjumlah 28 orang dengan rincian sebagai berikut:

a. Ahli gizi : 4 orang b. Pelaksana Gudang : 1 Orang c. Pelaksana ADM : 1 Orang d. Pelaksana Tataboga: 13 Orang e. Pastry : 4 Orang f. Pekarya : 16 Orang

Terdapat beberapa kegiatan pelayanan gizi Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang di antaranya adalah:

1) Pelayanan Gizi Rawat Jalan dengan kegiatan sebagai berikut:

a) Asuhan Gizi Rawat Jalan (Konseling Gizi) b) Penyuluhan Gizi

2) Pelayanan Gizi Rawat Inap dengan kegiatan sebagai berikut:

a) Skrining Gizi

b) Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT)

3) Kegiatan Penyelenggaraan Makanan dengan kegiatan sebagai berikut

a) Penetapan Peraturan Pemberian makanan rumah Sakit

b) Penyusunan Standar Bahan Makanan Rumah Sakit c) Perencanaan Menu

d) Perencanaan Kebutuhan Bahan Makanan e) Perencanaan Anggaran Bahan Makanan f) Pemesanan dan Pembelian Bahan Makanan g) Peneriaman Bahan Makanan

h) Penyimpanan dan Penyaluran Bahan Makanan i) Persiapan Bahan Makanan

j) Pemasakanan Bahan Makanan k) Distribusi Makanan Oleh Pekarya

5. Pola dan Siklus Menu

Pola makan untuk kelas II dan III adalah 3 kali makan utama dan 1 kali makan selingan. Pola menu makanan pasien diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Islam Siti Khadijah adalah sebagai berikut:

Makan pagi : makanan pokok, lauk hewani.

Makan siang : makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur, dan buah ditambah selingan siang.

Makan sore : makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur, dan buah.

6. Waktu Distribusi Makanan

Kegiatan distribusi makanan di RSI Khadijah Palembang dibagi menjadi beberapa waktu yaitu:

Makan pagi :06.30-07.30 WIB Makan Siang : 11.30-12.30 WIB Selingan Siang : 14.00-15.00 WIB Makan Sore : 16.30-17.30 WIB

7. Menu

Menu yang digunakan selama penelitian adalah siklus menu ke-IV.

Berikut tabel siklus menu ke- IV:

Tabel 1. Menu makanan pasien dalam siklus menu ke-IV

Menu Waktu

Makan Siang

IV Sup Bola-Bola Ayam

Oseng Tempe Cah Sawi Wortel

8. Karakteristik Responden

Berdasarkan responden yang didapatkan sebanyak 30 orang di Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang bangsal kelas II dan III

yang mendapat diet diabetes melitus. Adapun karakteristik dari responden dapat dilihat dari tabel 2 berikut ini:

Tabel 2 . Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Sampel Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit

Islam Siti Khadijah Palembang No. Karakteristik Nilai statistik

n %

1. Jenis Kelamin

Laki-laki 15 50

Perempuan 15 50

2 Umur

36-45 tahun 2 6.7

46-55 tahun 8 26.7

56-65 tahun 12 40

>65 tahun 8 26.7

3. Pekerjaan

Swasta 6 20

Pensiun 18 60

IRT 6 20

Total 30 100

Berdasarkan tabel 2 didapatkan hasil responden menurut jenis kelamin jumlah responden laki-laki berjumlah 15 (50%) dan perempuan berjumlah 15 orang (50%).

Sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 orang. Sebagian besar sampel berada pada golongan umur 36 sampai 45 tahun sebanyak 2 orang (6,7%) sedangkan pada golongan umur 46 sampai 55 tahun sebanyak 8 orang ( 26,7% ), sampel dengan rentang umur 56 sampai 65 tahun sebanyak 12 orang ( 40%), lalu yang terakhir adalah sampel ≥65 tahun sebanyak 8 orang (26,7%).

Berdasarkan status pekerjaan dapat terlihat bahwa sampel yang pensiun lebih banyak daripada sampel yang bekerja. Sampel yang tidak bekerja yaitu IRT sebanyak 6 orang (20%) dan sampel yang bekerja 6 orang (20%). Pekerjaan sampel diantaranya sebagai wiraswasta dan pegawai swasta dan PNS. Sedangkan yang telah pensiun sebanyak 18 orang (60%).

9. Daya Terima Makanan Pasien Berdasarkan Kondisi Pencernaan

Menurut Bektiningrum (2020), Daya terima makanan merupakan kemampuan untuk menghabiskan makanan. Daya terima makanan pasien dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kesembuhan seorang pasien. Apabila daya terima makanan pada pasien diabetes kurang atau rendah dan terjadi dalam jangka waktu yang panjang, maka hal tersebut dapat menyebabkan kadar gula darah pada pasien diabetes tidak terkontrol sehingga terjadi komplikasi. Selain itu, daya terima makanan pada pasien juga mempengaruhi status gizi pasien serta lama perawatan yang akan dijalani oleh pasien di rumah sakit.

Gangguan sistem pencernaan dapat berupa keluhan atau masalah nonspesifik yang mencerminkan disrupsi pada salah satu atau lebih fungsi tersebut. Contoh, saat terjadi pergerakan traktus gastrointestinal yang lebih cepat, lebih lambat, terhalang, serta fungsi sekresi, absorpsi dan motiliasnya dapat berubah. Hal ini menyebabkan pasien dapat memiliki beberapa keluhan seperti anoreksia, diare, konstipasi, ikterus, disfagia, muntah dan nausea (Kowalak, et. al, 2011).

Gangguan pencernaan merupakan manifestasi dari pebubahan fisiologis saluran pencernaan. Kejadian yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pencernaan adalah, terganggunya pencernaan dan penyerapan, perubahan sekresi, gangguan transit saluran pencernaan yang biasanya disebabkan oleh obstruksi, disregulasi imun, terganggunya aliran darah pada saluran pencernaan (Hasler dan Owyang, 2015).

Berdasarkan hasil wawancara terhadap pasien didapatkan bahwa gambaran kondisi pencernaan pasien pasien diabetes melitus tipe 2

bangsal II dan III RSI Siti Khadijah Palembang tahun 2022 adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Distribusi frekuensi gangguan pencernaan pada pasien DM tipe II Gangguan

Pencernaan

Jumlah (n) Presentase (%)

Ada 18 60

Tidak ada 12 40

Total 30 100

Berdasarkan tabel 3 didapatkan hasil bahwa responden yang memiliki gangguan pencernaan lebih banyak jika dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki gangguan pencernaan. Presentase responden yang memiliki gangguan pencernaan mencapai 60% sedangkan responden yang tidak memiliki gangguan pencernaan mencapai 40%.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sawitri (2015), pasien diabetes dengan lama menderita <10 tahun dan status glikemiknya tidak terkontrol lebih sering mengalami gejala gastrointestinal. Pada penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Islam Siti Khadijah gangguan pencernaan yang paling sering ditemui adalah Sebagian besar gejala gastrointestinal lebih sering terjadi pada pasien diabetes adalah gigi yang tanggal, mual dan muntah, maag, hingga konstipasi.

Selain itu, sebagian besar sampel yang diambil selama penelitian adalah sampel yang tergolong lansia. Secara normal penambahan usia dapat menyebabkan penurunan fungsi biologis atau fisik, termasuk sistem pencernaan. Banyak gigi yang tanggal, sensitifitas indra pengecap menurun, pelebaran esophagus, rasa lapar menurun, asam lambung menurun, waktu pengosongan menurun, peristaltik lemah, dan sering timbul konstipasi, fungsi absorbsi menurun (Kholifah dan Dwisatyadini, 2016).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lestari, dkk (2019), penelitian tersebut menyebutkan bahwa gejala gangguan

gastrointestinal relatif umum terlihat pada penderita dengan DM dan sering merefleksikan adanya neuropati otonom gastrointestinal diabetes.

Pengosongan lambung sangat bergantung kepada fungsi saraf yang dapat mengalami gangguan pada kondisi DM. Neuropati otonom dapat mengganggu proses sekresi asam lambung dan motilitas gastrointestinal.

Gejala dispepsia fungsional dapat terjadi akibat adanya gangguan motilitas selama dan setelah makan. Sekitar 23% kasus sindrom dispepsia, terutama dispepsia fungsional, mengalami pengosongan lambung yang lebih lama dan berkorelasi dengan adanya keluhan mual, muntah dan rasa penuh setelah makan

Menurut penelitian Lestari dkk (2019), dari 77 responden yang diambil dari penderita DM Tipe 2 pasien Rumah Sakit Umum Santo Antonius Kota Pontianak, sebanyak 59 orang mengalami sindrom dispepsia dan sebanyak 18 orang tidak mengalami sindrom dispepsia.

Selain itu, daya terima makanan yang rendah pada pasien diabetes melitus tipe II juga dapat disebabkan karena efek samping obat. Menurut Yuxin, et al. (2019), tentang perbedaan efek samping gangguan gastrointestinal obat metformin berdasarkan dosis, didapatkan hasil bahwa dari total pasien sebanyak 120 pasien dan diberikan metformin 1000 setelah 12 minggu diberikan pengobatan didapatkan hasil bahwa 11%

pasien mengalami efek samping berupa mual dan 3% pasien yang mengalami muntah. Selain itu, hasil penelitian yang sama juga didapatkan oleh Putra, dkk. (2017) menggunakan penelitian secara observasional dengan pendekatan cross sectional menggunakan teknik purposive sampling serta instrumen formulir Algoritma Naranjo, didapatkan hasil bahwa efek samping yang paling tinggi setelah diberikan metformin yaitu mual sebesar 18,52% dan ada pula efek samping lain seperti muntah sebesar 3,70%. Di bawah ini merupakan tabel distribusi frekuensi mengenai jenis makanan yang diberikan sesuai dengan kondisi pasien.

Tabel 4. Distribusi frekuensi jenis makanan yang diberikan kepada pasien DM tipe II

Gangguan

Pencernaan Makanan Lunak Makanan Biasa Total

Ada 16 2 18

Tidak ada 7 5 12

Total 23 7 30

Berdasarkan tabel 4 didapatkan hasil bahwa responden yang mendapakan menu makanan lunak lebih banyak dibandingkan menu makanan biasa. Pemberian menu makanan lunak dan makanan biasa telah disesuaikan berdasarkan kebutuhan dan kondisi pasien.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fasehah dkk. (2017) mengenai faktor yang berhubungan dengan sisa makanan pasien kanker di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa ada hubungan antara gangguan pencernaan, penampilan makanan, dan faktor lainnya dengan sisa makanan pasien di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.

Selama penelitian dilakukan di Rumah Sakit Islam Siti Khadijah penulis menemukan bahwa terdapat 2 responden yang mendapatkan menu makanan biasa meskipun sampel memiliki masalah gastrointestinal.

Setelah melakukan pengamatan dan diskusi dengan kepala instalasi gizi mengenai hal tersebut. Penulis menemukan bahwa satu dari dua responden tersebut memiliki gigi yang tanggal namun hal tersebut tidak mempengaruhi nafsu makan responden, dengan kata lain responden tersebut memiliki daya terima makanan yang baik. Sedangkan responden yang tersisa merupakan responden dengan masalah gastrointestinal seperti sakit perut. Selain itu, nafsu makan responden juga menurun dengan daya terima makan yang rendah. Oleh karena itu, responden yang sebelumnya mendapat menu makanan lunak mendapat menu makanan biasa atas permintaan dari responden sendiri dengan izin ahli gizi Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang.

Di sisi lain, daya terima makanan responden berdasarkan jenis makanan dimulai dengan jenis makanan pokok dapat dilihat pada tabel 5 berikut:

Tabel 5. Distribusi frekuensi daya terima makanan pokok Gangguan

Pencernaan

Daya terima

Total Baik Tidak baik

n % n % n %

Ada 8 44 10 56 18 100

Tidak ada 7 58 5 42 12 100

Berdasarkan tabel 5 didapatkan hasil bahwa daya terima terhadap makanan pokok yang tergolong baik lebih tinggi pada pasien tanpa gangguan pencernaan sebesar 58% (7 orang) dibandingkan dengan pasien dengan gangguan pencernaan sebesar 44% (8 orang). Sedangkan daya terima makanan pokok yang tergolong tidak baik dengan gangguan pencernaan lebih tinggi sebanyak 56% (10 orang) dibandingkan pasien tanpa gangguan pencernaan sebesar 42% (5 orang). Rendahnya daya terima makanan pada pasien dengan gangguan pencernaan masih cukup tinggi dengan presentase 58%. Hal tersebut dikarenakan gejala gangguan pencernaan yang dialami oleh responden juga dapat mempengaruhi daya terima makanan responden.

Selain faktor risiko akibat masalah gangguan pencernaan, daya terima makanan responden yang masih tergolong tidak baik terhadap makanan pokok perlu diteliti lebih lanjut. Karena berdasarkan penelitian yang dilakukan Santoso, dkk., (2022), Malnutrisi dapat terjadi antara 40- 60% pada pasien rawat inap dengan penyakit akut, yang pada awalnya datang tanpa terdapat permasalahan gizi dan kemudian terjadi penurunan status gizi dalam kurun waktu tiga minggu secara perlahan. Terutama pada pasien diabetes melitus tipe II, defisit nutrisi pada diabetes melitus dapat disebabkan karena ketidakmampuan pasien penderita diabetes militus dalam mendapat dan mengolah makanan, kurang pengetahuan mengenai

gizi esensial dan diet seimbang, tidak nyaman selama atau setelah makan, disfagia, anoreksia (kehilangan nafsu makan), mual atau muntah, dan sebagainya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan penulis di Rumah Sakit Islam Siti Khadijah bahwa data yang diperoleh selama penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengalami gangguan pencernaan rata-rata merupakan responden dengan masalah berupa gigi yang tanggal, mual dan muntah, maag hingga konstipasi.

Oleh karena itu, Pasien dengan daya terima rendah memerlukan edukasi dan motivasi yang secara rutin. Selain monitoring gizi, pihak rumah sakit memerlukan evaluasi terhadap suatu standar resep yang dirasa memiliki nilai terima yang rendah.

Tabel 6. Distribusi frekuensi daya terima lauk hewani Gangguan

Pencernaan

Daya terima

Total Baik Tidak baik

n % n % n %

Ada 12 66 6 34 18 100

Tidak ada 9 75 3 25 12 100

Berdasarkan tabel 6 didapatkan hasil bahwa daya terima terhadap lauk hewani yang tergolong baik lebih tinggi pada pasien tanpa gangguan pencernaan sebesar 75% (9 orang) dibandingkan dengan pasien dengan gangguan pencernaan sebesar 66% (12 orang). Sedangkan daya terima lauk hewani yang tergolong tidak baik dengan gangguan pencernaan lebih tinggi sebanyak 34% (6 orang) dibandingkan pasien tanpa gangguan pencernaan sebesar 25% (3 orang).

Selain karena faktor gangguan pencernaan, daya terima makanan yang rendah juga dapat dipengaruhi karena rasa dan penampilan makanan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dewi pada tahun 2015, menyatakan bahwa pasien menilai bumbu makanan yang tidak enak akan menyisakan makanan yang lebih banyak dan makanan yang mempunyai bumbu makanan yang sedikit akan menyisakan makanan yang sedikit.

Tabel 7. Distribusi frekuensi daya terima lauk nabati Gangguan

Pencernaan

Daya terima

Total Baik Tidak baik

n % n % n %

Ada 8 44 10 56 18 100

Tidak ada 7 58 5 42 12 100

Berdasarkan tabel 7 didapatkan hasil bahwa daya terima lauk nabati yang tergolong baik lebih tinggi pada pasien tanpa gangguan pencernaan sebesar 58% (7 orang) dibandingkan dengan pasien dengan gangguan pencernaan seebesar 44% (8 orang). Sedangkan daya terima lauk nabati yang tergolong tidak baik dengan gangguan pencernaan lebih tinggi sebanyak 56% (10 orang) dibandingkan pasien tanpa gangguan pencernaan sebesar 42% (5 orang).

Tabel 8. Distribusi frekuensi daya terima sayur Gangguan

Pencernaan

Daya terima

Total Baik Tidak baik

n % n % n %

Ada 8 44 10 56 18 100

Tidak ada 7 58 5 42 12 100

Berdasarkan tabel 8 didapatkan hasil bahwa daya terima sayur yang tergolong baik lebih tinggi pada pasien tanpa gangguan pencernaan sebesar 58% (7 orang) dibandingkan dengan pasien dengan gangguan pencernaan seebesar 44% (8 orang). Sedangkan daya terima sayur yang tergolong tidak baik dengan gangguan pencernaan lebih tinggi sebanyak 56% (10 orang) dibandingkan pasien tanpa gangguan pencernaan sebesar 42% (5 orang).

Sayur mengandung serat yang diperlukan bagi pasien diabetes melitus. Rendahnya daya terima sayur dikarenakan pasien mengalami gangguan pencernaan memerlukan evaluasi lebih lanjut sehingga daya

terima terhadap menu sayur dapat meningkat. Hasil penelitian menunjukkan sebagian pasien DM tipe 2 dengan kadar gula darah tidak terkontrol memiliki tingkat konsumsi sayuran yang tidak baik dari kebutuhan yaitu sebesar 97,1% dan hanya 2,9% pada pasien yang kadar gula darah terkontrol. Uji fisher’s exact test menyatakan ada hubungan yang bermakna konsumsi sayuran dengan kontrol kadar gula darah. Adanya hubungan konsumsi sayuran dengan kontrol kadar gula darah pada pasien DM tipe 2 dapat dijelaskan bahwa dengan konsumsi serat sesuai kebutuhan dapat menimbulkan rasa kenyang akibat masuknya karbohidrat komplek yang menyebabkan menurunnya selera makan dan akhirnya menurunkan konsumsi makan, disamping itu serat juga mengandung kalori rendah sehingga dapat menurunkan kadar gula darah dan lemak dalam tubuh.

Responden yang mendapatkan menu makanan lunak maupun biasa memiliki persepsi yang berbeda mengenai penampilan menu yang disajikan rumah sakit. Penampilan makanan dapat berepengaruh terhadap daya terima makanan pasien. Daya terima makanan yang baik dapat mempengaruhi lama rawat inap pasien. Pasien yang memiliki daya terima yang kurang baik namun dibiarkan dalam kurun waktu yang lama memiliki risiko terkena defisit nutrisi sehingga perlu dipahami lebih dalam peneyebab dari rendahnya daya terima makanan pasien terhadap suatu menu.

Evaluasi standar menu dan monitoring dapat terus dilakukan agar asupan zat gizi yang diperlukan oleh pasien dapat dipenuhi secara optimal.

Selama penelitian terdapat beberapa kekurangan selama peneliti melakukan penelitian di Rumah Sakit Khadijah. Peneliti tidak melakukan konsultasi lebih lanjut dengan perawat ataupun dokter mengenai gangguan pencernaan yang dialami oleh responden ataupun faktor risiko yang mungkin dapat memicu munculnya gejala gangguan pencernaan tersebut.

Dalam hal ini, data dan rekam medis yang akurat sebetulnya diperlukan mengingat peneliti tidak hanya meneliti mengenai daya terima makanan responden namun juga masalah gastrointestinal yang dialami oleh responden.

Tabel 9.Distribusi frekuensi daya terima buah Gangguan

Pencernaan

Daya terima

Total Baik Tidak baik

n % n % n %

Ada 10 55 8 45 18 100

Tidak ada 8 66 4 44 12 100

Berdasarkan tabel 9 didapatkan hasil bahwa daya terima buah yang tergolong baik lebih tinggi pada pasien tanpa gangguan pencernaan sebesar 66% (8 orang) dibandingkan dengan pasien dengan gangguan pencernaan seebesar 55% (10 orang). Sedangkan daya terima sayur yang tergolong tidak baik dengan gangguan pencernaan lebih tinggi sebanyak 45% (8 orang) dibandingkan pasien tanpa gangguan pencernaan sebesar 44% (4 orang). Sama seperti sayur buah mengandung vitamin, serat, dan mineral yang diperlukan bagi pasien diabetes melitus. Berdasarkan tabel 9, daya terima pasien terhadap buah yang disajikan sudah cukup baik.

10. Cita Rasa Makanan

Cita rasa makanan terdiri dari dua aspek yaitu penampilan dan aspek rasa. Cita rasa dapat mempengaruhi daya terima karena cita rasa dapat membantu meningkatkan selera makan pasien sehingga mampu untuk meningkatkan asupan makan pasien. Pada penelitian ini cita rasa makanan menu diet diabetes melitus di bangsal kelas II dan III di RSI Siti Khadijah Palembang dilakukan 1 kali sehari pada setiap siklus menu IV dan dilakukan kepada 30 responden.

a. Warna Makanan

Penilaian dari aspek penampilan meliputi warna dan bentuk.

Sedangkan penilaian dari aspek rasa baru dapat dilakukan setelah makanan tersebut dimakan meliputi aroma, porsi dan tekstur. Hidangan yang menarik bagi responden dapat meningkatkan nafsu makan responden

salah satunya uji cita rasa menggunakan aspek warna makanan. Penilaian warna pada menu diet diabetes melitus di bangsal kelas II dan III RSI Siti Khadijah Palembang pada waktu makan siang dapat dilihat pada tabel 10 berikut ini:

Tabel 10. Distribusi frekuensi daya terima makanan berdasarkan persepsi warna makanan

Warna makanan

Daya terima

Total Baik Tidak baik

n % n % n %

Makanan pokok

Menarik 10 100 0 0 10 100 Cukup menarik 5 25 15 75 20 100 Lauk

hewani

Menarik 20 90 2 10 22 100 Cukup menarik 1 58 7 42 8 100 Lauk nabati Menarik 14 94 1 6 15 100 Cukup menarik 2 14 13 86 15 100

Sayur Menarik 14 88 2 12 16 100

Cukup menarik 2 14 12 86 14 100

Buah Menarik 16 80 4 20 20 100

Cukup menarik 4 40 6 60 10 100

Berdasarkan tabel 10 didapatkan daya terima makanan yang tergolong baik berdasarkan persepsi warna yang menarik paling tingi terdapat pada jenis makanan lauk nabati yakni sebanyak 20 responden (90%) Sedangkan daya terima makanan yang tidak baik berdasarkan persepsi warna cukup menarik lebih tinggi pada jenis makanan pokok yakni sebanyak 15 responden (75%). Hidangan yang menarik bagi responden dapat meningkatkan nafsu makan responden salah satunya uji cita rasa menggunakan aspek warna makanan.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Septiarani (2016) yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara penampilan makanan dengan sisa makanan pasien. Ada perbedaan proporsi sisa makanan antara responden yang menilai penampilan

makanan yang sudah menarik dengan meliai yang tidak menarik. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Nurhamidah (2019) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna pada sisa makanan lunak antara responden yang menilai penampilan makanan sudah menarik dengan yang menilai kurang menarik (p = 0,005).

Responden yang menyatakan penampilan makanan kurang menarik yaitu sebanyak 21 orang (70,0 %) tidak menghabiskan makanan, dibandingkan dengan responden yang menghabiskan makanan yaitu 9 orang (30,0 %).

b. Bentuk Makanan

Bentuk makanan dapat dinilai dari potongan bahan makanan, kerapihan dalam menotong yang dapat meningkatkan daya tarik pada sajian makanan yang dapat mempengaruhi nafsu makan. Penilaian bentuk pada hidangan Siang hari pada menu diet diabetes melitus dapat dilihat pada tabel 11 berikut ini:

Tabel 11. Distribusi frekuensi daya terima makanan berdasarkan persepsi bentuk makanan

Bentuk makanan

Daya terima

Total Baik Tidak baik

n % n % n %

Makanan pokok

Menarik 10 72 4 28 14 100 Cukup menarik 5 31 11 69 16 100 Lauk

hewani

Menarik 19 83 4 17 23 100 Cukup menarik 2 28 5 72 7 100 Lauk nabati Menarik 10 77 3 23 13 100 Cukup menarik 6 35 11 65 17 100

Sayur Menarik 11 74 4 26 15 100

Cukup menarik 5 33 10 67 15 100

Buah Menarik 18 78 5 22 23 100

Cukup menarik 2 28 5 72 7 100

Dokumen terkait