Berbagai peribadahan dalam Islam tidak terlepas dari hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. Hal itu merupakan misi Islam sebagai agama Rahmatan lil alamin. Akikah merupakan satu bentuk peribadahan mempunyai hikmah sebagai berikut:
a. Merupakan wujud rasa syukur kepada Allah Swt. atas segala rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan pada dirinya.
b. Menambah rasa cinta anak kepada orang tua, karena anak merasa telah diperhatikan dan disyukuri kehadirannya di dunia ini, dan bagi orang tua merupakan bukti keimanannya kepada Allah Swt.
c. Mewujudkan hubungan yang baik dengan tetangga dan sanak saudara yang ikut merasakan gembira dengan lahirnya seorang anak karena mereka mendapat bagian dari akikah tersebut.
Tugas (Pilihan Ganda, Uraian, dan Diskusi)
1. Rasa syukur atas kelahiran anakdi wujudkan dengan melaksanakan a. qurban b. akikah c. tingkepan d. walimatul khitan
2. Binatang akikah sebaiknnya yang tidak cacat seperti di bawah ini kecuali a. Buta mata b. pincang c. musinah d. kudik
3. Yang palimg utama akikah dilaksanakan pada hari ke a. 12 b. 7 c.35 d.90
4. Hewan yang utama untuk akikah ialah a. Sapi b. unta c. kerbau d. kambing
5. Jumlah hewan akikah yang di sunnahkan untuk anak laki-laki ialah
a. 2 kambing b. 2 sapi c. 3 unta d. 5 ayam
6. Jumlah hewan akikah yang di sunahkan untuk anak perempuan ialah a. 2 kambing b. 1 kerbau c. 3 ayam jantan d. 1 kambing
7. Apa hukum qurban secara Bahasa a. Jauh b. dekat c. Panjang d. lebar
8. Sapi dapat di jadikan hewan qurban dengan jumlah rombongan sebanyak a. 7 orang b. 1 orang c. 9 orang d. 11 orang
9. Menurut Bahasa akikah berarti
a. Memotong rambut b. rambut yang baru tumbuh c. motong hewan d. membagikan hewan 10. Hukum melaksanakan akikah adalah
a. sunah b, fardhu ain c. makruh d. mubah
B. Uraian
1. Jelaskan pengertian qurban dan akikah menurut istilah ! 2. Jelaskan sejarah singkat disyariatkannya qurban !
3. Apa pendapatmu tentang panitia kurban yang banyak membawa daging kerumahnya ? Bagaiamana seharusnya!
4. Sebutkan hal-hal yang disunatkan ketika menyembelih hewan qurban ! 5. Jelaskan ketentuan-ketentuan pembagian daging qurban !
A. Rubrik Penilaian
b. Pilihan Ganda dan Uraian Soal Pilihan Ganda
1. Masing-masing soal jika benar nilainya 2 dan jika salah nilainya 0.
2. Total nilai maksimal 10 (jika benar seluruhnya ) Jadi total nilai pilihan ganda: 10
Uraian
1. Masing-masing soal jika benar nilainya 2 dan jika salah nilainya 0.
2. Total nilai maksimal 10 (jika benar seluruhnya ) Jadi total untu kuraian adalah: 10
Untuk nilai keseluruhan yaitu:
(Jumlah nilai pilihan ganda) x 5 + (Jumlah nilaiuraian ) x 5 = 100 C. Diskusi
Topik Aspek Penilaian Nilai Catatan
1 Pemahaman terhadap materi
2 Kemampuan melakukan argumentasi (alasan, usulan, mempertahankan pendapat)
3 Responsif (memberikan respon yang sesuai dengan
permasalahan/pertanyaan)
4 Kerja sama kelompok (berpartisipasi, memiliki tanggung jawab bersama)
SkorMaksimum (16) c. PenilaianPsikomotorik
No NamaSiswa Aspek keterampilan
Jumlahskor
1 2 3 4
1 2 3 4 5 Ds
t
Keterangan:
Skor 4 bila tepat Skor 3 bila cukup tepat Skor 2 bila tidak tepat Skor 1 bila sangat tidak tepat Aspek yang dinilai:
a. Intonasi b. Penghayatan c. Gestur
d. Kesesuaian materi
BAB VI
Materi
1. Pengertian Kepemilikan a. Pengertian Kepemilikan
Milik dalam buku pokok-pokok fiqih muamalah dan hukum kebendaan dalam Islam didefinisikan sebagai berikut:
“Kekhususan terhadap pemilik suatu barang menurut syara‟ untuk bertindak secara bebas bertujuan mengambil manfaatnya selama tidak ada penghalang syar‟i”.Kepemilikan berasal dari bahasa Arab dari akar kata “malaka” yang artinya memiliki. Dalam bahasa Arab “milik” berarti penguasaan orang terhadap sesuatu (barang atau harta) dan barang tersebut dalam genggamannya baik secara riil maupun secara hukum. Dimensi penguasaan ini direfleksikan dalam bentuk bahwa orang yang memiliki sesuatu barang berarti mempunyai kekuasaan terhadap barang tersebut sehingga ia dapat mempergunakanya menurut kehendaknya dan tidak ada orang lain, baik secara individual maupun kelembagaan, yang dapat menghalang-halangi dan memanfaatkan barang yang dimilikinya itu.
Apabila seseorang telah memiliki suatu benda yang sah menurut syara‟, maka orang tersebut bebas bertindak terhadap bendatersebut, baik akan dijual maupun akan digadaikan, baik dia sendiri maupun dengan perantara orang lain.17 Dengan demikian, milik merupakan penguasaan seseorang terhadap suatu harta sehingga seseorang mampunyai kekuasaan
khusus terhadap harta tersebut. Sedangkan menurut istilah dapat didefinisikan “suatu iktishas yang menghalangi yang lain, menurut syariat yang membenarkan pemilik iktishas itu untuk bertindak terhadap barang miliknya sekehendaknya kecuali ada penghalang.18
Terdapat beberapa definisi tentang milkiyah yang disampaikan oleh ZarqaPara Fuqaha, antara lain:
1) Ta‟rif yang disampaikan oleh Mustafa Ahmad al Zarqa‟ Milik adalah keistimewaan (iktishash) yang bersifat menghalangi (orang Lain) yang syara‟ memberikan kewenangan kepada pemiliknya Bertasharruf kecuali terdapat halangan.
2) Ta‟rif yang disampaikan oleh Wahbah al ZuhailyMilik adalah keistimewaan (iktishash) terhadap sesuatu yang Menghalangi orang lain darinya dan pemiliknya bebas melakukan Tasharruf secara langsung kecuali ada halangan syar‟i.19Dari ta‟rif tersebut di atas,
telah jelas bahwa yang dijadikan kata kunci Milkiyah adalah penggunaan term iktishash.
Dalam ta‟rif tersebut terdapat
Dua iktishash atau keistimewaan yang diberikan oleh syara‟ kepada pemilik harta, diantaranya:
1. Keistimewaan dalam menghalangi orang lain untuk memanfaatkan tanpa Kehendak atau izin pemiliknya.
2. Keistimewaan dalam bertasharruf. Tasharruf adalah sesuatu yang Dilakukan oleh seseorang berdasarkan iradah (kehendak) nya dan syara‟Menetapkan batasnya beberapa konsekuensi yang diberkaitan dengan Hak.20
Jadi pada prinsipnya atas dasar milkiyah (kepemilikan) seseorang Mempunyai keistimewaan berupa kebebasan dalam bertasharruf (berbuat Sesuatu atau tidak berbuat sesuatu) kecuali ada halangan tertentu yang Diakui oleh syara‟. Kata halangan disini adalah sesuatu yang mencegah Orang yang bukan pemilik suatu barang untuk mempergunakan atau Memanfaatkan dan bertindak tanpa persetujuan lebih dahulu dari Pemiliknya.
Ta‟rif diatas dapat digaris bawahi bahwa milkiyah (kepemilikan) tidak Hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat kebendaan (materi saja). Namun, Antara al māl dan milkiyah merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Menurut hukum dasar, yang namanya harta sah dimiliki, kecuali harta yang Telah dipersiapkan untuk umum, misalnya wakaf dan fasilitas umum. Dalam Hal ini ada tiga macam model kepemilikan yaitu:
1. Kepemilikan penuh, yaitu kepemilikan pada benda terkait sekaligus hak Memanfaatkan.
2. Hak memiliki saja, tanpa hak memanfaatkan (misalnya rumah yang Dikontrakkan).
3. Hak menggunakan saja atau disebut kepemilikan hak guna (si Pengontrak).
Muhammad Abu Sa‟ad mengatakan: “sesungguhnya Islam Memperbolehkan setiap individu untuk mengkhususkan atas dirinya sebuah Harta benda halal yang didapatkan dengan cara yang halal, kekhususan itu Selanjutnya dinamakan dengan kepemilikan.22 Kepemilikan adalah ikatan Seseorang dengan miliknya yang disahkan syariah (sebagai jelmaan hukum Allah dimuka bumi), artinya hak khusus yang didapat si pemilik, sehingga Ia mempunyai hak khusus yang didapat menggunakan sejauh tidak Melakukan pelanggaran pada garis- garis syariah.Para fuqaha memberikan batasan-batasan syar‟i “kepemilikan” dengan Berbagai ungkapan yang memiliki inti pengertian yang sama. Di antara yang Paling terkenal adalah dimensi kepemilikan yang mengatakan bahwa “miliki” adalah hubungan khusus seseorang dengan sesuatu (barang) Dimana orang lain terhalang untuk memasuki hubungan ini dan pemilik Berkuasa untuk memanfaatkannya selama tidak ada hambatan legal yang Menghalanginya. Batas teknis ini dapat digambarkan sebagai berikut.
Ketika ada orang yang mendapatkan suatu barang atau harta melalui Cara-cara yang dibenarkan oleh syara‟ maka terjadilah suatu hubungan Khusus antar barang tersebut dengan orang yang memperolehnya. Hubungan Khusus yang dimiliki oleh orang yang memperoleh barang (harta) ini Memungkinkannya untuk menikmati manfaatnya dan mempergunakannya Sesuai dengan keinginannya selama ia tidak terhalang hambatan-hambatanSyar‟i seperti gila, sakit ingatan, hilang akal atau masih terlalu kecil Sehingga belum faham memanfaatkan barang.Dimensi lain dari hubungan khusus ini adalah bahwa orang lain, selain Yang pemilik, tidak berhak untuk memanfaatkan atau mempergunakannya Untuk tujuan apapun kecuali yang pemilik telah memberikan izin, surat Kuasa atau apa saja yang serupa dengan itu
kepadanya. Dalam hukum Islam, Si pemilik boleh saja seorang yang masih kecil, belum baligh atau orang
Yang kurang waras atau gila tetapi dalam hal memanfaatkan dan Menggunakan barang- barang “miliknya” mereka tehalang oleh hambatan Syara‟ yang timbul karena sifat-sifat kedewasaan yang tidak dimiliki. Meskipun demikian, hal ini dapat diwakili kepada orang lain seperti wali, Washî (yang diberi wasiat) dan wakil (yang diberi kuasa untuk mewakili).
2. Jenis jenis kepemilikan.
Sebelumnya perlu diterangkan disini bahwa konsep Islam tentang Kepemilikan memiliki karakteristik unik yang tidak ada pada sistem Ekonomi lain. Kepemilikan dalam Islam bersifat nisbi atau terikat dan bukan Mutlak atau absolut. Pengertian nisbi disini mengacu pada kenyataan bahwa Apa yang dimiliki manusia pada hakikatnya bukanlah kepemilikan yang Sebenarnya sebab dalam konsep Islam yang memiliki segala sesuatu didunia Ini hanyalah Allah Swt., Dialah pemilik tunggal jagat raya dengan segala Isinya yang sebenarnya. Apa yang kini dimiliki oleh manusia pada Hakikatnya adalah milik Allah yang untuk sementara waktu “diberikan” atau“dititipkan” kepada mereka sedangkan pemilik riil tetap Allah Swt., Karena itu dalam konsep Islam, harta dan kekayaan yang dimiliki oleh setiap muslim mengandung konotasi amanah.
Dalam konteks ini hubungan khusus yang terjalin antara barang dan pemiliknya tetap melahirkan dimensi penguasaan, kontrol dan kebebasan untuk memanfaatkan dan mempergunakannya sesuai dengan kehendaknya. Namun, pemanfaatan dan penggunaannya itu tunduk kepada aturan main yang ditentukan oleh pemilik riil. Kesan ini dapat kita tangkap umpamanya dalam kewajiban mengeluarkan zakat (yang bersifat wajib) dan himbauan untuk berinfak, sedekah dan menyantuni orang-orang yang membutuhkan.Para fuqaha membagi jenis-jenis kepemilikan menjadi dua yaitu kepemilikan sempurna (tām) dan kepemilikan kurang (naqīṣ). Dua jenis kepemilikan ini mengacu pada kenyataan bahwa manusia dalam kapasitasnya sebagai pemilik suatu barang dapat mempergunakan dan memanfaatkan substansinya saja, atau nilai gunanya saja atau kedua-duanya. Kepemilikan sempurna adalah kepemilikan seseorang terhadap barang dan juga manfaatnya sekaligus.
Sedangkan kepemilikan kurang adalah yang hanya memiliki substansinya saja atau manfaatnya saja. Kedua-dua jenis kepemilikan ini akan memiliki konsekuensi syara‟ yang berbeda-beda ketika memasuki kontrak muamalah seperti jual beli, sewa, pinjam-meminjam dan lain-lain
3. Sebab-sebab Timbulnya Kepemilikan Sempurna
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kepemilikan dalam syari‟ah ada empat macam yaitu:
a) Kepenguasaan terhadap barang-barang yang diperbolehkan.
b) Akad.
c) Pengantian.
d) Turunan dari sesuatu yang dimiliki.
Kepenguasaan terhadap barang-barang yang diperbolehkan. Yang dimaksud dengan barang- barang yang diperbolehkan disini adalah barang, dapat juga berupa harta atau kekayaan, yang belum dimiliki oleh seseorang dan tidak ada larangan syara‟ untuk dimiliki air di
sumbernya, rumput di padangnya, kayu dan pohon-pohon di belantaran atau ikan-ikan di sungai dan dilaut.Kepemilikan jenis ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
a) Kepenguasaan ini merupakan sebab yang ditimbulkan kepemilikan terhadap suatu barang yang sebelumnya tidak ada yang memilikinya.
b) Proses kepemilikan ini adalah karena aksi praktis dan bukan karena ucapan seperti dalam akad. Karena kepemilikan ini terjadi oleh sebab aksi praktis, maka dua persyaratan dibawah ini mesti dipenuhi terlebih dahulu agar kepemilikan tersebut sah secara syar‟i yaitu belum ada orang lain yang mendahului ke tempat barang tersebut untuk memperolehnya. Orang yang lebih dahulu mendapatkan barang tersebut harus berniat untuk memilikinya, kalau tidak, maka barang itu tidak menjadi miliknya halini mengacu kepada sabda Rasulullah Saw bahwa segala perkara itu tergantung pada niat yang dikandungnya.27
Bentuk-bentuk kepenguasaan terhadap barang yang diperbolehkan ini Ada empat macam yaitu:
1) Kepemilikan karena menghidupkan tanah mati.
2) Kepemilikan karena berburu atau memancing.
3) Rumput atau kayu yang diambil dari padang pengembalaan atau hutan Belantara yang tidak ada pemiliknya.
4) Kepenguasaan atas barang tambang.
Khusus bentuk yang keempat ini, banyak perbedaan di kalangan para Fuqoha terutama antara madhab Hanafi dan madhab Maliki. Bagi Hanafiyah, Hak kepemilikan barang tambang ada pada pemilik tanah. Sedangkan bagi Malikiyah, kepemilikan barang tambang ada pada negara karena semua Tambang menurut madhab ini, tidak dapat dimiliki oleh seseorang dengan Cara kepenguasaannya atas tanah atau tidak dapat dimiliki secara derivatif Dari kepemilikan atas tanah.Islam memiliki suatu pandangan yang khas mengenai masalah Kepemilikan, yang berbeda dengan pandangan dalam konsep kapitalisme Dan sosialisme. Islam tidak mengenal adanya kebebasan kepemilikan, Karena pada dasarnya setiap perilaku manusia harus dalam kerangkaKepemilikan umum adalah izin syara‟ kepada komunitas masyarakat Untuk sama-sama memanfaatkan benda atau barang. Benda-benda yang Termasuk dalam kategori kepemilikan umum adalah benda-benda yang telah dinyatakan oleh al-syari‟ memang diperuntukkan bagi suatu komunitas Masyarakat, karena mereka masing-masing saling membutuhkan, dan al-Syari‟ melarang benda tersebut dikuasai oleh hanya seorang saja. Benda-Benda ini ada tiga macam yaitu
a. Merupakan fasilitas umum, kalau tidak ada di dalam suatu negeri atau Suatu komunitas maka akan menyebabkan sengketa dalam mencarinya.
b. Barang tambang yang tidak terbatas.
c. Sumber daya alam yang sifat pembentukannya menghalangi untuk Dimiliki hanya oleh individu secara perorangan. Yang merupakan Fasilitas umum adalah apa saja yang dianggap sebagai kepentingan Manusia secara umum.
4. Kepemilikan Negara (Milkīyah Daūlah)
Masih ada harta yang tidak termasuk dalam kategori milik umum, Melainkan milik individu, karena harta tersebut berbentuk benda yang bisa Dimiliki secara pribadi, semisal tanah, dan barang-barang bergerak. Namun, Barang-barang tersebut terkadang terkait dengan hak kaum muslim secara Umum. Dengan begitu, barang-barang tersebut tidak termasuk milikIndividu,
tetapi juga tidak termasuk milik umum. Pada kondisi ini, barang-Barang tersebut menjadi milik negara.
Milik negara adalah harta yang merupakan hak seluruh kaum Muslimin, sementara pengelolaannya menjadi wewenang khalifah, ia bisa Menghususkan sesuatu untuk sebagian kaum muslim, sesuai dengan apa Yang menjadi pandangannya. Pengelolaan oleh khalifah ini bermakna bahwa Khalifah memiliki kekuasaan untuk mengelolanya. Inilah makna Kepemilikan. Sebab, kepemilikan bermakna adanya kekuasaan pada diri Seseorang atas harta miliknya atas dasar ini, setiap kepemilikan yang Pengelolaannya bergantung pada pandangan dan ijtihad khalifah dianggap Sebagai kepemilikan negara. Syara‟ telah menjadikan harta- harta tertentu sebagai milik negara, Khalifah berhak untuk mengelolanya sesuai dengan pandangan dan Ijtihadnya, semisal harta fa‟ī, kharaj, jizyah dan sebagainya. Negara Mengelola hak milik umum serta hak milik negara. Namun, ada perbedaan Antara kedua bentuk hak milik tersebut. Harta yang termasuk umum, pada Dasarnya tidak boleh diberikan oleh negara kepada siapa pun, meskipun Negara bisa saja membolehkan orang-orang untuk mengambilnya melalui Pengelolaan yang memungkinkan mereka untuk memanfaatkannya.
Ini Berbeda dengan milik negara.Negara memberikan harta tersebut kepada individu tertentu, jika Memang negara menganggap kebijakan itu terkait dengan pelayanan urusanMereka, disuatu sisi tanpa memberikan harta tersebut kepada mereka. Air, Garam, padang gembala dan lapangan, misalnya tidak boleh sama sekali Diberikan oleh negara kepada siapa pun, namun demikian, semua boleh Memanfaatkannya
Uji Kompetensi
1. Kata milkiyahadalah berasal dari kata yang artinya....
a. sesuatuyang bisa dimiliki b. sesuatu kepemilikan yang sah c. sesuatu kekuasaan
d. orang yang memiliki wewenang e. sesuatu yang berada dalam kekuasaan
2. Islam sangat mendorong seseorang untuk mendapatkan kepemilikan asal memperoleh dengan cara-cara yang sah dan mempertahankan kepemilikan dari segala bentuk kejahatan hukumnya adalah....
a. wajib b. mubah c. sunah d. makruh e. jaiz
3. Para nelayan boleh mengambil ikan dilaut, hal ini karena ikan dilaut dikategorikan sebagai....
a. Diwariskan kepada nelayan b. Harta tersebut bersifat umum c. adanya izin melaut
d. Harta tersebut termasuk pembiakan para nelayan e. Harta temuan
4. Dalam perkembangannya pelaksanaan akad bermacam-macam. Jika orang yang melakukan adalah bisu, maka ia boleh melakukan akad lewat....
a. tulisan
b. tanpa akad c. lisan d. utusan e. kepercayaan
5. Fitri telah membeli handphone dari Plaza Simpang Lima, maka kepemilikan tersebut adalah sah karena....
a. adanya akad jual-beli
b. barang yang boleh diperjualbelikan c. termasuk barang yang umum d. adanya keinginan memiliki e. adanya kerelaan dari keduanya
6. Pak Ais telah membeli mobil dan menggunakannya untuk bekerja. Kepemilikan tersebut adalah....
a. kepemilikan materi b. kepemilikan manfaat c. kepemilikan penuh d. kepemilikan kolektif e. kepemilikan sementara
7. Dibawah ini yang bukan syarat barang yang diakadkan adalah....
a. suci
b. dapat dimanfaatkan
c. milik orang yang melakukan akad d. barangnya tidak ada ditangan e. mampu menyerahkannya
8. Ayat di bawah ini adalah menjadi dalil atas hukum....
ِدوُقُعْلٱِب ۟اوُف ْوَأ ۟آوُنَماَء َنيِذّلٱ اَهّيَأَٰٓي a. jual beli
b. kepemilikan c. ihya’ul mawat d. akad
e. ijab qabul
9. Di bawah ini yang bukan termasuk syarat ijab qabul adalah....
a. dilakukan dalam satu majlis b. ucapannya bersambung
c. terjadi pemindahan hak dan tanggung jawab d. transaksi tidak doselingi dengan aktifitas yang lain e. barang yang diakdkan bermanfaat
10. Membuka lahan baru yang belum ada pemiliknya sering disebut dengan....
a. Ihrazul mubahat b. Khalafiyah c. Ihya’ul mawat d. Kepemilikan e. Transmigrasi Uraian
1. Sebutkan sebab-sebab kepemilikan menurut syariat Islam!
2. Sebutkan syarat-syarat benda yang menjadi obyek akad !
3. Jelaskan hikmah kepemilikan!
4. Tidak sedikit para pejabat yang memiliki kekayaan tapi dari hasil korupsi, bagaimana menurut pendapatmu jika dikaitkan dengan kepemilikan!
5. Sebutkan macam-macam akad dan berikan contohnya
BAB VII
Kompetensi Inti
KI-1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI-2: Menunjukan perialku jujur, disiplin, bertanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
KI-3: Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humanoria dengan wawasan kemanusian, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI-4: Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan
Kompetensi Dasar dan Indikator
Kompetensi Dasar Indikator
1.3 Menghayati konsep muamalah dalam Islam tentang jual beli, khiyar, salam dan
hajr
1.3.1 Menjelaskan jual(C2) beli salam
2.6 Mengamalkan sikap kerja sama dalam kehidupan sehari-hari sebagai implementasi dari pengetahuan tentang kerjasama ekonomi dalam islam
i. Mempraktikkan (P3) cara jual beli ii. Mempraktikkan (P3) khiyar iii. Mempraktikkan (P33) musaqah,
muzara’ah dan mukhabarah 3.7 Menganalisis ketentuan tentang jual
beli, khiyar, salam dan hajr
3.7.1 Menjelaskan (C2) khiyar
3.7.2 Menjelaskan jual(C2) beli salam
4.7 Mengkomunikasikan ketentuan Islam mengenai jual beli, khiyar, salam, dan hajr
4.7.4 Mensimulasikan (P3) cara jual beli, khiywr, muswqah, muzwra’ah, mukhwbarah, syirkah, murwbapah, muiwrabah, dan salam
TUJUAN PEMBELAJARAN
a. Peserta didik mampu Menjelaskan jual beli salam b. Peserta didik mampu Mempraktikkan cara jual beli.
c. Peserta didik mampu Mempraktikkan khiyar
d. Peserta didik mampu Mempraktikkan musaqah, muzara’ah dan mukhabarah e. Peserta didik mampu Menjelaskan khiyar
f. Peserta didik mampu Menjelaskan jual beli salam
g. Peserta didik mampu Mensimulasikan cara jual beli, khiywr, muswqah, muzwra’ah, mukhwbarah, syirkah, murwbapah, muiwrabah, dan salam
Materi
Transaksi Jual beli
Praktek jual beli
Hukum Jual Beli
Stuktur Akad Jual Beli
Etika Transaksi Jual Belu
KHIYAR
Uji Kompetensi
1. Di dalam islam jual beli adalah sesuatu yang halal, namun terdapat beberapa bentuk jual beli yang terlarang antara lain yaitu ....
a. Menyakiti si penjual atau si pembeli b. Barang yang dibeli jelas
c. Barang yang dijual adalah hak milik d. Jual beli dengan sistem angsuran e. Jual beli dengan sistem kontan
2. Laba yang didapatkan dari transaksi jual beli oleh umat Islam pada hakikatnya berfungsi....
a. Memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu masyarakat b. Ajang memperkaya diri
c. Agar dapat berfoya-foya d. Meningkatkan persaingan e. Mengisi kegiatan luang
3. Membeli barang yang sudah dibeli orang lain yang masih dalam masa khiyar hukumnya yaitu ....
a. Mubah b. Dibenci
c. Terlarang dan tidak sah d. Terlarang tapi sah e. Dianjurkan
4. Muamalah dalam bentuk jual beli dapat menimbulkan dampak positif bagi penjual dan pembeli antara lain yaitu ....
a. Merasa senang lapang dada dalam tawar-menawar b. Perusahaan dan perdagangan akan lebih pesat dan maju
c.Permodalan karena disatukan akan menjadi besar dan lebih berani
d. Hasil pemikiran dari beberapa orang kemajuan perusahaan dapat lebih mantap e. Menghilangkan bahaya kefaqiran dan kemiskinan dengan demikian terpenuhi segala kekurangan dan kebutuhan
5. Perhatikan nama-nama khiyar berikut!
1. Khiyar syarat 2. Khiyar majlis 3. Khiyar aibi
4. Khiyar aqad 5. Khiyar raad
Dari pernyataan di atas yang termasuk khiyar dalam jual beli antara lain yaitu a. 1,2 dan 3
b. 3,4 dan 5 c. 2,3 dan 4 d. 1,2 dan 5 e. 1,3 dan 5
6. Membeli barang yang sudah dibeli orang lain yang masih dalam masa khiyar hukumnya yaitu ....
a. Mubah b. Dibenci
c. Terlarang dan tidak sah d. Terlarang tapi sah e. Dianjurkan
7. Al-Hajr ditinjau dari segi etimologi artinya ...
a. Memperlancar b. Mengambil c. Mencegah d. Merusak e. Memilih
8. Apabila kita amati dengan seksama maka akan kita temukan beberapa hikmah yang terkandung dalam khiyar yaitu .... kecuali
a. Akan mendapatkan barang sesuai dengan yang dikehendaki
b. Menjauhkan orang dari penyesalan dengan boleh jadi membeli atau membatalkan c. Terjadinya transaksi adalah atas dasar suka sama suka
d. Terhindar dari rasa menyesal, dendam, dengki, pertentangan dan akibat buruk yang lain
e Hasil pemikiran dari beberapa orang kemajuan perusahaan dapat lebih mantap 9. Segala aktivitas muslim termasuk kegiatan jual beli hendaknya berdasarkan niat....
a. Takabur b. Tawakal c. Ta'abbud