• Tidak ada hasil yang ditemukan

Macam-macam Manasik Haji

Dalam dokumen Buku Fiqih Ibadah Syar'iyyah (Halaman 59-67)

Mengerjakan haji dan umrah dengan cara ifrad adalah mengerjakan haji dan umrah dengan cara mendahulukan haji daripada umrah dan keduanya dilaksanakan secara terpisah.

b. Haji Tamattu’

Mengerjakan haji dengan cara tamattu’ adalah mengerjakan haji dan umrah dengan mendahulukan umrah daripada haji, dan umrah dilakukan pada musim haji.

c. Haji Qiraȑn

Mengerjakan ibadah haji dengan cara qiran adalah mengerjakan haji dan umrah sekaligus. Jadi amalannya satu, tetapi dengan dua niat yaitu haji dan umrah. Dengan demikian urutan pelaksanaan qiran pada dasarnya tidak berbeda dengan haji ifrad.

Uji Kompetensi I. Pilihan Ganda

1. Salah satu dari syarat wajib haji adalah?

A. Beragama islam, berakal, baligh B. Sehat,kuat, pintar

C. Mapan, kaya raya D. Miskin, tidak mampu

2. Kapankah waktu yang tepat dilakukan untuk wukuf?

A. 9-10 Dzulhijjah B. 10-11 Dzulhiijah C. 11,12,13 Dzulhijjah D. 8-9 Dzulhijjah

3. Mengelilingi Ka’bah tujuh kali putaran, disebut dengan?

A. Zhumroh B. Thowaf C. Sa’i D. Tahallul

4. Thawaf yang dilakukan ketika akan meninggalkan Makkah adalah?

A. Thawaf Qudum B. Thawaf tahallul C. Thawaf Wada’

D. Thawaf Sunnah

5. Berikut ini salah satu di antara ke 7 wajib haji, kecuali?

A. Bermalam di Muzdalifah B. Melontar jumroh Aqobah C. Mabit di Mina

D. Membawa bekal pribadi

6. Apakah nama lain dari Thawaf Qudum?

A. Thawaf Tahiyyah B. Thawaf Istilahiyah C. Thawaf Muslimah D. Thawaf Fi’liyah

7. Bagimana hukum bermalam di Muzdhalifah?

A. Sunnah B. Wajib C. Fardhu Ain D. Haram

8. Bagaimana proses Tahallul yang benar bagi Wanita?

A. Rambutnya di gundul semua B. Di potong pendek sebahu

C. Cukup memotong 3 helai rambut

D. Dibiarkan saja rambutnya tanda di potong sehelaipun

9. Mengerjakan haji dan umrah sekaligus merupakan pengertian dari?

A. Haji Wada’

B. Haji Qubro C. Haji Ifrad D. Haji Qiran

10. Di bawah ini yang merupakan sunnah haji, kecuali ? A. Membaca Talbiyah

B. Melaksanakan Thawaf Qudum

C. Membaca do’a sesudah bacaan talbiyah D. Mabit di Mina

J. ESSAY

1. Jelaskan pengertian dari Haji!

2. Sebutkan macam-macam haji!

3. Jelaskan tata cara manasik haji secara singkat dan jelas!

4. Apakah yang dimaksud dengan wajib haji?

5. Sebutkan 7 kewajiaban yang harus dilakukan ketika haji!

Rubrik Penilaian Mata Pelajaran : Fiqih Kelas/Semester : 10/Ganjil

Topik/Subtopik : Haji dan Umroh

No Nama Siswa Kerja sama Rasa Ingin Tahu Santu

n Komunikatif Keterangan 1

2 ,,,,

Kolom Aspek perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut:

4 = sangat baik 3 = baik

2 = cukup 1 = kurang Keterangan:

1. Penilaian sikap ini bersifat subjektif, maka kriteria penilaiannya diserahkan kepada kebijakan guru

2. Penskoran mengikuti standar penilaian pada umumnya; minimal 1 (kurang), dan maksimal 4(sangat baik).

3. Jumlah skor maksimal 16 point.

Penskoran :

Nilai SKOR DIPEROLEHSKOR MAKSIMUM (16)x 100

LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN -TERTULIS (Pilihan Ganda)

Kunci Jawaban Pilihan Ganda No Jawaban Skor

1 A 1

2 A 1

3 B 1

4 C 1

5 D 1

No Jawaban Skor

6 A 1

7 B 1

8 C 1

9 D 1

10 D 1

DST

Nilai Jumlah skor yang diperoleh (pilihan ganda )Jumlah Skor Maksimalx 100 LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN TERTULIS

(Bentuk Uraian) Kunci Jawaban Bentuk Uraian

No Jawaban Skor

1

Istilah haji berasal dari kata hajja berziarah ke, bermaksud, menyengaja, menuju ke tempat tertentu yang diagungkan. Sedangkan menurut istilah haji adalah menyengaja mengunjungi Ka’bah untuk mengerjakan ibadah yang meliputi thawaf, sa’i, wuquf dan ibadah-ibadah lainnya untuk memenuhi perintah Allah Swt. dan mengharap keridlaan-Nya dalam waktu yang telah ditentukan.

5

2 Haji Ifrad, Haji Tamattu’, Haji Qiran 5

3 a. Ihram Yang dimaksud dengan ihram ialah niat dengan bulat dan ikhlas semata-mata karena Allah

b. Wukuf di Padang Arafah, Setelah sampai di Padang Arafah mereka menunggu waktu wuquf yaitu tanggal 9 Dzulhijjah setelah tergelincir matahari (waktu zhuhur) sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah (hari raya Idul Adha).

c. Mabit di Muzdalifah, Setelah jama’ah menunaikan wuquf di Padang Arafah tanggal 9 Dzulhijjah mereka segera berangkat ke Muzdalifah untuk mabit atau bermalam. Keberangkatan ke Muzdalifah dilakukan setelah terbenam matahari (sesudah Maghrib).

d. Melempar Jumrah Pada tanggal 10 Dzulhijjah di Mina sesudah terbit matahari, para jama’ah segera melempar jumrah Aqabah 7 kali lemparan dan setiap lemparan disertai dengan bacaaan

ُرَبْكَا ُ ّا ِ ّا ِمْسِب

e. Tawaf Ifadah Ɣ Menutup aurat Ɣ Suci dari hadas besar dan kecil dan suci dari haid Ɣ Ka’bah berada di sebelah kiri selama thawaf Ɣ

Mengelilingi ka’bah 7 kali Ɣ Thawaf harus dilakukan di Masjidil Haram tidak boleh diluar Masjidil Haram

f. Mengerjakan Sa’i g. Tahallul

Setelah semua rukun haji dikerjakan maka sebagai penutupnya adalah Tahallul. Tahallul ialah menggunting rambut paling sedikit tiga helai dan di sunnahkan di cukur seluruhnya bagi pria, dan bagi wanita cukup

5

menggunting tiga helai saja.

4 Wajib haji adalah amalan-amalan dalam ibadah haji yang wajib dikerjakan, tetapi sahnya haji tidak tergantung kepadanya. Jika ia ditinggalkan, hajinya tetap sah dengan cara menggantinya dengan dam (bayar denda)

5

5

a. Berihram sesuai miqatnya, b. Bermalam di Muzdalifah, c. Bermalam (mabit) di Mina, d. Melontar jumrah Aqabah,

e. Melontar jumrah Ulaȑ, Wust๸aȑ dan Aqabah, f. Menjauhkan diri dari muharramat Ihram.

g. Tawaf wada’

5

Jumlah 25

Nilai Jumlah skor yang diperoleh (pilihan ganda )Jumlah Skor Maksimalx 100 Aspek dan rubrik penilaian

1. Pengungkapan gagasan yang orisinil.

a. Jika kelompok tersebut dapat mengungkapan gagasan yang orisinil lengkap dan sempurna, skor 4.

b. Jika kelompok tersebut dapat mengungkapan gagasan yang orisinil lengkap dan kurang sempurna, skor 3

c. Jika kelompok tersebut dapat mengungkapan gagasan yang orisinil kurang lengkap, skor 2 d. Jika kelompok tersebut mengungkapan gagasan yang orisinil materi tidak lengkap, skor 1 2. Keaktifan dalam diskusi.

a. Jika kelompok tersebut berperan sangat aktif dalam diskusi, skor 4 b. Jika kelompok tersebut berperan aktif dalam diskusi, skor 3

c. Jika kelompok tersebut kurang aktif dalam diskusi, skor 2 d. Jika kelompok tersebut tidak aktif dalam diskusi,skor 1 3. Ketetapan Penggunaan Istilah

a. Jika kelompok tersebut dapat menetetapkan penggunaan istilah dengan sangat jelas, skor 4 b. Jika kelompok tersebut dapat menetetapkan penggunaan istilah dengan jelas, skor 3

c. Jika kelompok tersebut dapat menetetapkan penggunaan istilah yang bisa dipahami , skor 2 d. Jika kelompok tersebut menetetapkan penggunaan istilah tetapi kalimat susah dipahami, skor 1

Kompetensi Inti

BAB V

KI-1: Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya

KI-2: Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya

KI-3: Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata

KI-4: Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodi¿kasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

Kompetensi Dasar dan Indikator

Kompetensi Dasar Indikator

1.5 Menghayati ( A3) latar belakang qurban dan akikah

1.5 Menghargai (A3) hukum hukum qurban dan akikah

2.5 Menekankan (A3) waktu penyembelihan hewan qurban dan akikah

2.5 Mematuhi (A1) ketentuan hewan qurban dan akikah

3.5 Mehami (C2) hikmah qurban dan akikah

3.5 Mengidentifikasi (C2) penerima daging hewan qurban dan akikah

4.5 Memperaktekkan (P3) pemilihan

hewan qurban dan akikah 4.5 Menerapkan (P2) sunah dalam menyembelih hewan qurban dan akikah

Tujuan Pembelajaran

Setelah peserta didik mengamati, menanya, mengeksplorasi, menalar, dan merefleksi tentang Aqidah Islam, diharapkan peserta didik mampu:

a. Peserta didik mampu Memahami hikmah qurban dan akikah

b. Peserta didik mampu Mematuhi waktu penyembelihan hewan qurban dan akikah c. Peserta didik mampu Menerapkan sunah penyembelihan hewan qurban dan akikah d. Peserta didik mampu Mengidentifikasi yang berhak menerima hewan qurban dan akikah e. Peserta didik mampu Memperaktekkan pemilihan hewan qurban dan akikah yang sesuai

Materi

A. Ibadah Qurban 1. Pengertian Qurban

Qurban menurut bahasa berasal dari kata ‘Quruba’ berarti “dekat”, sedang menurut syariat qurban berarti hewan yang disembelih dengan niat beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan syarat-syarat dan waktu tertentu, disebut juga udhiyah.

2.Hukum Qurban

Berqurban merupakan ibadah yang disyariatkan bagi keluarga muslim yang mampu. Firman Allah Swt. QS. Al-Kautsar (108):1-2 yang artinya : "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah." (QS. Al-Kautsar [108]:1-2

Juga pada firman Allah Swt. QS. Al-Hajj (22):34 yang artinya "Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)" (QS. Al-Hajj [22]: 34)

Berdasarkan ayat diatas, sebagian ulama berpendapat bahwa berqurban itu hukumnya wajib, sedangkan Jumhur Ulama (mayoritas ulama) berpendapat hukum berqurban adalah sunnah muakkad, dengan berdasar pada sabda Rasulullah Saw.: "Aku diperintahkan berqurban dan qurban itu sunah bagimu.” (HR. Tirmizi).

Hukum qurban menjadi wajib apabila qurban tersebut dinadzarkan. Menurut Imam Maliki, apabila seseorang membeli hewan dengan niat untuk berqurban, maka ia wajib menyembelihnya.

B. Latar Belakang Terjadinya Ibadah Qurban

Di dalam Al-Qur’an telah terdokumentasikan secara nyata ketika Nabi Ibrahim as.

bermimpi menyembelih putranya yang bernama Ismail As. sebagai persembahan kepada Allah Swt. Mimpi itu kemudian diceritakan kepada Ismail As. dan setelah mendengar cerita itu ia langsung meminta agar sang ayah melaksanakan sesuai mimpi itu karena diyakini benar-benar datang dari Allah Swt. Sebagaimana Firman Allah Swt. QS. AsShaffat (37):102 ا Artinya: "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama- sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi

bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."(QS. As-Shaffat [37]:102)

Hari berikutnya, Ismail as dengan segala keikhlasan hati menyerahkan diri untuk disembelih oleh ayahandanya sebagai persembahan kepada Allah Swt. dan sebagai bukti ketaatan Nabi Ibrahim as. kepada Allah Swt., mimpi itu dilaksanakan. Acara penyembelihan segera dilaksanakan ketika tanpa disadari yang di tangannya ada seekor domba. Firman Allah Swt. dalam QS. As-Shaffat (37):106-108, yang artinya “106.

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. 107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian”

C. Waktu dan Tempat Menyembelih Qurban

Waktu yang ditetapkan untuk menyembelih qurban yaitu sejak selesai shalat Idul Adha (10 Dzulhijjah) sampai terbenam matahari tanggal 13 Dhulhijjah (akhir dari hari tasyriq).

Sabda Rasulullah Saw.: Artinya: “Barang siapa menyembelih (hewan qurban) sebelum dia mengerjakan shalat, maka hendaklah ia menyembelih yang lain sebagai gantinya.”

(HR. Bukhori).

Tempat menyembelih sebaiknya dekat dengan tempat pelaksanaan shalat Idul Adha.

Hal ini sebagai sarana untuk syi’ar Islam. Sabda Rasulullah Saw. Artinya: "Rasulullah Saw. biasa menyembelih qurban di tempat pelaksanaan shalat Ied.”

D. Ketentuan Hewan Qurban

Hewan yang dijadikan qurban adalah hewan ternak, sebagaimana telah difirmankan Allah Swt. dalam QS. Al-Hajj (22): 34 Artinya: "Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka," (QS. Al-Hajj [22]: 34) Hewan yang dimaksud adalah unta, sapi, kerbau dan kambing atau domba. Adapun hewan-hewan tersebut dapat dijadikan hewan qurban dengan syarat telah cukup umur dan tidak cacat, misalnya pincang, sangat kurus, atau sakit. Ketentuan cukup umur itu adalah :

a. Domba sekurang-kurangnya berumur satu tahun atau telah tanggal giginya.

b. Kambing biasa sekurang-kurangnya berumur satu tahun.

c. Unta sekurang-kurangnya berumur lima tahun.

d. Sapi atau kerbau sekurang-kurangnya berumur dua tahun

Hewan yang sah untuk dikurbankan adalah hewan yang tidak cacat, baik karena pincang, sangat kurus, putus telinganya, putus ekornya, atau karena sakit. Seekor kambing atau domba hanya untuk qurban satu orang, sedangkan seekor unta, sapi atau kerbau masing-masing untuk tujuh orang. Sabda Rasululah Saw.: Artinya: “Kami telah menyembelih qurban bersama-sama Rasulullah Saw. pada tahun Hudaibiyah seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang." (HR. Muslim)

E. Pemanfaatan Daging Qurban

Ibadah qurban bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan memperoleh keridlaan-Nya, selain itu juga sebagai ibadah sosial untuk menyantuni orang orang yang lemah. Daging qurban sebaiknya dibagikan kepada fakir miskin masih daging mentah, dengan ketentuan sebagai berikut: 1) 1/3 untuk yang berqurban dan keluarganya 2) 1/3 untuk fakir miskin 3) 1/3 untuk hadiah kepada masyarakat sekita atau disimpan agar sewaktuwaktu bisa dimanfaatkan Sabda Rasulullah Saw, Artinya: "Rasulullah Saw. telah bersabda: ……… (daging qurban itu) makanlah, sedekahkanlah dan simpanlah.” (HR.

Muslim) Apabila qurban itu diniatkan sebagai nadzar maka daging wajib diberikan kepada fakir miskin, orang yang qurban tidak boleh mengambil meskipun sedikit.

F. Sunah sunah dalam menyembelih hewan qurban,

Melaksanakan sunah-sunah yang berlaku pada penyembelihan biasa, seperti:

membaca basmallah, membaca shalawat, menghadapkan hewan ke arah qiblat, menggulingkan hewan ke arah rusuk kirinya, memotong pada pangkal leher, serta memotong urat kiri dan kanan leher hewan. Membaca takbir, Membaca doa sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw. Orang yang berqurban menyembelih sendiri hewan qurbannya. Jika ia mewakilkan kepada orang lain, ia disunatkan hadir ketika penyembelihan berlangsung.

G. Hikmah Qurban Hikmah

Qurban sebagaimana yang disyariatkan Allah Swt. mengandung beberapa hikmah, baik pelaku, penerima maupun kepentingan umum, sebagai berikut:

a. Bagi orang yang berqurban:

1) Menambah kecintaan kepada Allah Swt.

2) Menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt.

3) Menunjukkan rasa syukur kepada Allah Swt.

4) Mewujudkan tolong menolong, kasih mengasihi dan rasa solidaritas.

b. Bagi penerima daging qurban:

1.) Menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt.

2.) Bertambah semangat dalam hidupnya.

c. Bagi kepentingan umum :

1.) Memperkokoh tali persaudaraan, karena ibadah qurban melibatkan semua lapisan masyarakat.

2.) Menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran beragama baik bagi orang yang mampu maupun yang kurang mampu

AKIKAH

A. Pengertian Akikah

Akikah dari segi bahasa berarti rambut yang tumbuh di kepala bayi. Sedangkan dari segi istilah adalah binatang yang disembelih pada saat hari ketujuh atau kelipatan tujuh dari kelahiran bayi disertai mencukur rambut dan memberi nama pada anak yang baru dilahirkan.

B. Hukum Akikah

Akikah hukumnya sunah bagi orang tua atau orang yang mempunyai kewajiban menanggung nafkah hidup si anak. Sabda Rasulullah Saw yang maknanya: “Setiap anak tergadai dengan akikahnya yang disembelih baginya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. Ahmad dan Imam yang empat)

C. Syariat Akikah

Disyariatkan akikah lebih merupakan perwujudan dari rasa syukur akan kehadiran seorang anak. Sejauh ini dapat ditelusuri, bahwa yang pertama dilaksanakan akikah adalah dua orang saudara kembar, cucu Nabi Muhammad Saw. dari perkawinan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, yang bernama Hasan dan Husein. Peristiwa ini terekam dalam hadis yang maknanya: “Dari Ibnu Abbas ra., sesungguhnya Rasulullah Saw.

berakikah untuk Hasan dan Husein, masing-masing seekor kambing kibas.”(HR. Abu Dawud )

D. Jenis dan Syarat Hewan Akikah

Akikah untuk anak laki-laki dua ekor dan untuk anak perempuan seekor. Adapun binatang yang dipotong untuk akikah, syarat-syaratnya sama seperti binatang yang

dipotong untuk qurban. Kalau pada daging qurban disunatkan menyedekahkan sebelum dimasak, sedangkan daging akikah sesudah dimasak. Ada Hadis dari Aisyah ra. Yang maknanya: ”Bahwasanya Rasulullah Saw. memerintahkan orang-orang agar menyembelih akikah untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang umurnya sama, dan untuk anak perempuan seekor kambing.”

E. Waktu Menyembelih Akikah

Penyembelihan akikah dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran anak. Jika hari ketujuh telah berlalu, maka hendaklah menyembelih pada hari keempat belas. Jika hari keempat belas telah berlalu, maka hendaklah pada hari kedua puluh satu. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadis Rasulullah Saw, yang maknanya: ”Akikah disembelih pada hari ketujuh, keempat belas, dan kedua puluh satu.”

F. Hikmah Akikah

Berbagai peribadahan dalam Islam tidak terlepas dari hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. Hal itu merupakan misi Islam sebagai agama Rahmatan lil alamin. Akikah merupakan satu bentuk peribadahan mempunyai hikmah sebagai berikut:

a. Merupakan wujud rasa syukur kepada Allah Swt. atas segala rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan pada dirinya.

b. Menambah rasa cinta anak kepada orang tua, karena anak merasa telah diperhatikan dan disyukuri kehadirannya di dunia ini, dan bagi orang tua merupakan bukti keimanannya kepada Allah Swt.

c. Mewujudkan hubungan yang baik dengan tetangga dan sanak saudara yang ikut merasakan gembira dengan lahirnya seorang anak karena mereka mendapat bagian dari akikah tersebut.

Tugas (Pilihan Ganda, Uraian, dan Diskusi)

1. Rasa syukur atas kelahiran anakdi wujudkan dengan melaksanakan a. qurban b. akikah c. tingkepan d. walimatul khitan

2. Binatang akikah sebaiknnya yang tidak cacat seperti di bawah ini kecuali a. Buta mata b. pincang c. musinah d. kudik

3. Yang palimg utama akikah dilaksanakan pada hari ke a. 12 b. 7 c.35 d.90

4. Hewan yang utama untuk akikah ialah a. Sapi b. unta c. kerbau d. kambing

5. Jumlah hewan akikah yang di sunnahkan untuk anak laki-laki ialah

a. 2 kambing b. 2 sapi c. 3 unta d. 5 ayam

6. Jumlah hewan akikah yang di sunahkan untuk anak perempuan ialah a. 2 kambing b. 1 kerbau c. 3 ayam jantan d. 1 kambing

7. Apa hukum qurban secara Bahasa a. Jauh b. dekat c. Panjang d. lebar

8. Sapi dapat di jadikan hewan qurban dengan jumlah rombongan sebanyak a. 7 orang b. 1 orang c. 9 orang d. 11 orang

9. Menurut Bahasa akikah berarti

a. Memotong rambut b. rambut yang baru tumbuh c. motong hewan d. membagikan hewan 10. Hukum melaksanakan akikah adalah

a. sunah b, fardhu ain c. makruh d. mubah

B. Uraian

1. Jelaskan pengertian qurban dan akikah menurut istilah ! 2. Jelaskan sejarah singkat disyariatkannya qurban !

3. Apa pendapatmu tentang panitia kurban yang banyak membawa daging kerumahnya ? Bagaiamana seharusnya!

4. Sebutkan hal-hal yang disunatkan ketika menyembelih hewan qurban ! 5. Jelaskan ketentuan-ketentuan pembagian daging qurban !

A. Rubrik Penilaian

b. Pilihan Ganda dan Uraian Soal Pilihan Ganda

1. Masing-masing soal jika benar nilainya 2 dan jika salah nilainya 0.

2. Total nilai maksimal 10 (jika benar seluruhnya ) Jadi total nilai pilihan ganda: 10

Uraian

1. Masing-masing soal jika benar nilainya 2 dan jika salah nilainya 0.

2. Total nilai maksimal 10 (jika benar seluruhnya ) Jadi total untu kuraian adalah: 10

Untuk nilai keseluruhan yaitu:

(Jumlah nilai pilihan ganda) x 5 + (Jumlah nilaiuraian ) x 5 = 100 C. Diskusi

Topik Aspek Penilaian Nilai Catatan

1 Pemahaman terhadap materi

2 Kemampuan melakukan argumentasi (alasan, usulan, mempertahankan pendapat)

3 Responsif (memberikan respon yang sesuai dengan

permasalahan/pertanyaan)

4 Kerja sama kelompok (berpartisipasi, memiliki tanggung jawab bersama)

SkorMaksimum (16) c. PenilaianPsikomotorik

No NamaSiswa Aspek keterampilan

Jumlahskor

1 2 3 4

1 2 3 4 5 Ds

t

Keterangan:

Skor 4 bila tepat Skor 3 bila cukup tepat Skor 2 bila tidak tepat Skor 1 bila sangat tidak tepat Aspek yang dinilai:

a. Intonasi b. Penghayatan c. Gestur

d. Kesesuaian materi

BAB VI

Materi

1. Pengertian Kepemilikan a. Pengertian Kepemilikan

Milik dalam buku pokok-pokok fiqih muamalah dan hukum kebendaan dalam Islam didefinisikan sebagai berikut:

“Kekhususan terhadap pemilik suatu barang menurut syara‟ untuk bertindak secara bebas bertujuan mengambil manfaatnya selama tidak ada penghalang syar‟i”.Kepemilikan berasal dari bahasa Arab dari akar kata “malaka” yang artinya memiliki. Dalam bahasa Arab “milik” berarti penguasaan orang terhadap sesuatu (barang atau harta) dan barang tersebut dalam genggamannya baik secara riil maupun secara hukum. Dimensi penguasaan ini direfleksikan dalam bentuk bahwa orang yang memiliki sesuatu barang berarti mempunyai kekuasaan terhadap barang tersebut sehingga ia dapat mempergunakanya menurut kehendaknya dan tidak ada orang lain, baik secara individual maupun kelembagaan, yang dapat menghalang-halangi dan memanfaatkan barang yang dimilikinya itu.

Apabila seseorang telah memiliki suatu benda yang sah menurut syara‟, maka orang tersebut bebas bertindak terhadap bendatersebut, baik akan dijual maupun akan digadaikan, baik dia sendiri maupun dengan perantara orang lain.17 Dengan demikian, milik merupakan penguasaan seseorang terhadap suatu harta sehingga seseorang mampunyai kekuasaan

khusus terhadap harta tersebut. Sedangkan menurut istilah dapat didefinisikan “suatu iktishas yang menghalangi yang lain, menurut syariat yang membenarkan pemilik iktishas itu untuk bertindak terhadap barang miliknya sekehendaknya kecuali ada penghalang.18

Terdapat beberapa definisi tentang milkiyah yang disampaikan oleh ZarqaPara Fuqaha, antara lain:

1) Ta‟rif yang disampaikan oleh Mustafa Ahmad al Zarqa‟ Milik adalah keistimewaan (iktishash) yang bersifat menghalangi (orang Lain) yang syara‟ memberikan kewenangan kepada pemiliknya Bertasharruf kecuali terdapat halangan.

2) Ta‟rif yang disampaikan oleh Wahbah al ZuhailyMilik adalah keistimewaan (iktishash) terhadap sesuatu yang Menghalangi orang lain darinya dan pemiliknya bebas melakukan Tasharruf secara langsung kecuali ada halangan syar‟i.19Dari ta‟rif tersebut di atas,

telah jelas bahwa yang dijadikan kata kunci Milkiyah adalah penggunaan term iktishash.

Dalam ta‟rif tersebut terdapat

Dua iktishash atau keistimewaan yang diberikan oleh syara‟ kepada pemilik harta, diantaranya:

1. Keistimewaan dalam menghalangi orang lain untuk memanfaatkan tanpa Kehendak atau izin pemiliknya.

2. Keistimewaan dalam bertasharruf. Tasharruf adalah sesuatu yang Dilakukan oleh seseorang berdasarkan iradah (kehendak) nya dan syara‟Menetapkan batasnya beberapa konsekuensi yang diberkaitan dengan Hak.20

Jadi pada prinsipnya atas dasar milkiyah (kepemilikan) seseorang Mempunyai keistimewaan berupa kebebasan dalam bertasharruf (berbuat Sesuatu atau tidak berbuat sesuatu) kecuali ada halangan tertentu yang Diakui oleh syara‟. Kata halangan disini adalah sesuatu yang mencegah Orang yang bukan pemilik suatu barang untuk mempergunakan atau Memanfaatkan dan bertindak tanpa persetujuan lebih dahulu dari Pemiliknya.

Ta‟rif diatas dapat digaris bawahi bahwa milkiyah (kepemilikan) tidak Hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat kebendaan (materi saja). Namun, Antara al māl dan milkiyah merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Menurut hukum dasar, yang namanya harta sah dimiliki, kecuali harta yang Telah dipersiapkan untuk umum, misalnya wakaf dan fasilitas umum. Dalam Hal ini ada tiga macam model kepemilikan yaitu:

1. Kepemilikan penuh, yaitu kepemilikan pada benda terkait sekaligus hak Memanfaatkan.

2. Hak memiliki saja, tanpa hak memanfaatkan (misalnya rumah yang Dikontrakkan).

3. Hak menggunakan saja atau disebut kepemilikan hak guna (si Pengontrak).

Muhammad Abu Sa‟ad mengatakan: “sesungguhnya Islam Memperbolehkan setiap individu untuk mengkhususkan atas dirinya sebuah Harta benda halal yang didapatkan dengan cara yang halal, kekhususan itu Selanjutnya dinamakan dengan kepemilikan.22 Kepemilikan adalah ikatan Seseorang dengan miliknya yang disahkan syariah (sebagai jelmaan hukum Allah dimuka bumi), artinya hak khusus yang didapat si pemilik, sehingga Ia mempunyai hak khusus yang didapat menggunakan sejauh tidak Melakukan pelanggaran pada garis- garis syariah.Para fuqaha memberikan batasan-batasan syar‟i “kepemilikan” dengan Berbagai ungkapan yang memiliki inti pengertian yang sama. Di antara yang Paling terkenal adalah dimensi kepemilikan yang mengatakan bahwa “miliki” adalah hubungan khusus seseorang dengan sesuatu (barang) Dimana orang lain terhalang untuk memasuki hubungan ini dan pemilik Berkuasa untuk memanfaatkannya selama tidak ada hambatan legal yang Menghalanginya. Batas teknis ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Ketika ada orang yang mendapatkan suatu barang atau harta melalui Cara-cara yang dibenarkan oleh syara‟ maka terjadilah suatu hubungan Khusus antar barang tersebut dengan orang yang memperolehnya. Hubungan Khusus yang dimiliki oleh orang yang memperoleh barang (harta) ini Memungkinkannya untuk menikmati manfaatnya dan mempergunakannya Sesuai dengan keinginannya selama ia tidak terhalang hambatan-hambatanSyar‟i seperti gila, sakit ingatan, hilang akal atau masih terlalu kecil Sehingga belum faham memanfaatkan barang.Dimensi lain dari hubungan khusus ini adalah bahwa orang lain, selain Yang pemilik, tidak berhak untuk memanfaatkan atau mempergunakannya Untuk tujuan apapun kecuali yang pemilik telah memberikan izin, surat Kuasa atau apa saja yang serupa dengan itu

Dalam dokumen Buku Fiqih Ibadah Syar'iyyah (Halaman 59-67)

Dokumen terkait