TRANSFORMASI PONDOK PESANTREN
F. Hindari Dikotomi Ilmu
akan bertambah.” Harta menjadi soleh, jika terdapat pada orang soleh”
mendunia.Kedua ilmu tersebut bergandengan mesra,sehingga peradaban ilmu pengetahuan bebas berkembang dan menghantrakan manusia lebih cepat dalam melakukan penelitian, riset teknologi pengetahuan berpacu berbagai disiplin ilmu, kebebasan berpikir serta kebebasan mimbar akademik yang akhirnya banyak kita temukan berbagai inovasi karya ilmuan bermunculan secara monumental yang berlangsung ratusan tahun.
Dalam sejarah kita kenal seperti mereka bukan saja pandai ilmu agama, termasuk banyak hafalan qur’an dan hadisnya,tetapi juga para ilmuan tersebut pandai sekali dalam menggeluti ilmu-ilmu umum yang karya mereka sampai sekarang masih menjadi rujukan dunia dari berbagai macam profesi.Diantaranya ialah Al Kindi seorang filsuf sekaligus agamawan. Kemudian Al Farabi ,Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, selain ahli dalam bidang kedokteran, filsafat, psikologi, termasuk music,beliau juga seorang ulama. Al Khawarizmi adalah ulama yang ahli matematika.Al Ghazali, walaupun sangat popular dangan karya tasawupnya,juga piawai dan sangat memahmi ilmu filsafat yang dilandasi oleh syariat Islam. Karya-karya beliau menjadi refrensi ilmuan barat,bahkan menjadi bahan inspirasi serta rujukan utama para ulama lain yang menggeluti dunia tasawuf dan dunia filsafat.Beliau juga sangat mengusai
ilmu fiqih, kalam-akidah, phisikologi, pendidikan.Ibnu Rusyd dengan pemikiran fiqih,Sementara Ibnu Khaldun dikenal dengan dasar-dasar pencetus ilmu sosiologi modern.
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan secara sporadis, simultan dan sangat cepat terjadiya. Banyak inovasi dari berbagai ilmu pengetahuan yang mereka munculkan sehingga tidak ada lagi pendikotomian ilmu.Sebab mereka menyadari, pada dasarnya ilmu bersasal dari zat yang satu yakni Allah SWT;
yang seharusnya manusia mampu memaksimlakan keduanya untuk kepentingan manusia sebagai khalifah, bukan mempertentangkan, kecuali pemikiran yang sudah keluar dari ruh dan syari’at Islam, tentunya harus dihindarkan dengan sejauhnya.Jadi tamadun pengetahuan pada masa itu, terutama pada pemerintahan Abbasiyah dan umayyah merupakan puncak dari sejarah peradaban Islam begitu semarak hidup dan terus berkembang berbagai ilmu pengetahuan, dunia barat masa itu masih belum mengetahui ilmu,masih dalam kejumudan dan kebodohan berpikir, keterbelakangan dalam dunia ilmu pengetahuan. Peradaban mereka masih tertinggal jauh dengan umat Islam,bahkan mereka banyak yang berdatangan menggali ilmu pengetahuan ke bagdad,Persia,Kufah,Khurasam. Pusat kajian ilmu pengetahuan saat itu berpusat pada Bait Al Hikmah, sebuah perpustakaan terbesar dunia saat itu yang mempunyai
daya tarik tersendiri bagi ilmuan, peneliti, sejarawan, sosiolog, dari berbagai macam pakar ilmu pengetahuan seperti kedokteran, matematika, optic, filsafat, kimia, geografi, psikologi, sejarah dan ilmu agama berkembang pesat.
Pada saat itu tidak terjadi dikotomi ilmu pengetahuan, ilmu umum dengan llmu agama keduanya bergerak secara bersama, satu sama lain saling mengisi sehingga terasa benar keterpaduan dalam menerbitkan berbagai macam terori pengetahuan umum yang didasari oleh tuntunan ilmu agama.Bermunculan pada saat itu banyak ilmuan terapan yang berangkat dari ilmu fisika,matematika,kimia, biologi, yakni para ilmuan yang bukan saja pandai ilmu umum tetapi ilmu agamnya begitu terlihat kedalamannya.Setelah saya memperhatikan topik bahasan dalam buku cukup ini cukup komprehansif, baik dari aspek kajian sejarah, bahasa, penyajian materi dan analisis,pekembangan ilmu teknologi atau agama disajikan dengan lugas, jelas serta argumen keilmuan yang rasional.Sebaiknya para mahasiswa, dosen, pemerhati dan pengamat pendidikan,ilmuan,guru, lembaga pendidikan Islam bahkan masyarakat umum untuk memiliki buku tersebut sebagai khasanah pengertahuan yang terkait dengan pendidikan Integratif.
Tanamkan terus rasa optimisme dengan berharap rahmat dan ridho Allah SWT; segala usaha maksimal terus menggali dan kekayaan intelektual yang sudah dilakukan oleh ilmuan muslim terdahulu. Semua layak menjadi keharusan umat Islam terus mengkaji buku-buku ilmu pengetahuan tanpa melakukan pensortiran kedua kelompok besar ilmu tersebut, semuanya diperlukan seperti dua sisi uang logam yang tidak dapat dipisahkan.Kita pernah mendengar bahwa buku adalah jendela ilmu pengetahuan, semakin banyak kita membaca pasti wawasan pengetahuan kita semakin luas,visioner, future sehingga kita tidak mudah menyalahkan karena semakin bijaksana, tidak arogan dan menyombongkan diri oleh status sosial yang disandang. Oleh karena itu generasi sekaraang harus mampu mengkampanyekan dan mensosialisasikan kecintaan membaca buku yang sudah mulai memudar bagi generasi muda sekarang. Sasarannya untuk dimiliki dan dibaca terutama bagi generasi muda organisasi Islam, kepemudaan, insan akademis, peneliti,sejarawan dst. Hal ini penting dilakukan agar masyarakat kita tidak buta dengan kekayaan sejarah dan peradaban ilmu pengetahuan ilmu agama atau umum yang pernah diraih ratusan tahun sebagai pretstasi para akademisi ilmuan Islam, yang tidak bisa terbantahkan lagi oleh siapapun dalam perjalanan sejarah umat Islam.
Sebagai negara bermayoritas muslim Indonesia sudah saatnya bahkan harus segera membenahi kurikulum pendidikan nasional.Mungkin pembaca bertanya apakah penulis tidak tahu bahwa K13 merupakan produk kurikulum pemerintah terbaru yang menjadi standar pembelajaran dari tingkat dasar sampai sekolah menengah.Jawabnya sebagai akademisi, penulis setiap hari bergelut dalam dunia pendidikan selalu berintraksi dengan berbagai macam komonitas peneliti, pengamat, pemerhati pendidikan bahkan sampai kepada mahasiswa merupakan teman berdiskusi seperti apa dan bagaimana dunia pendidikan kita khususnya pengembangan kurikulum.Secara undang-undang kementrian pendidikan apalah istilahnya departemen tersebut yang bertanggungjawab dalam mencerdaskan anak bangsa.
Ukuran yang tepat sudah atau belumnya pendidikan berjalan baik adalah pada kurikulum.Sejatinya kurikulum tidak boleh dijadikan ajang coba-coba karena akan mempengaruhi hasil proses pendidikan. Sebuah kenyataan sejarah bahwa sudah melakukan sebelas kali gonta ganti kurikulum dimuali sejak tahun 1947 dengan nama “Rencana Pelajaran” sampai awal tahun 2023 yang dikenal kurikulum 13 (kurtilas) yang tebagi menjadi tiga aspek yaitu aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap dan perilaku. Kebijakan ini pasti memberatkan tenaga pengajar karena harus meneyesuaikan.
Disamping memberatkan para muird karena harus menghadapi materi baru.Para orang tua murid juga bertambah resah karena secara pinansial harus menyiapkan finansial lebih besar karena harus beli buku, praktikum, praktek kerja dan lapangan.Disamping itu dana besar harus dikeluarkan pemerintah untuk pelatihan dan sosialisasi kurikulum baru.
Anehnya kebijakan baru tersebut terkadang berumur seumur jagung karena muncul lagi kurikulum baru.Jika terus berlangsung maka susah kita menjadi maju pendidikannya, bahkan Indonesia sekarang menduduk peringkat 67 yang ideal dan seharusnya kita berada pada ringkat 20 dunia.jadi jauh panggang daripada api.
Dalam negara lain khsusnya asia tenggara mereka tidak mengganti kurikulum tetapi melakukan evaluasi saja dengan cara memperbaiki yang belum berdampak baik dan meningkatkan pada bagian yang sudah membawa hasil, jadi tidak meromabak total apalagi merubah dengan mengganti kurikulum yang baru, sehingga transformasinya dapat diukur dengan indicator yang dapat diterima oleh masyarakat.Namun apabila diganti tanpa melalui evaluasi tidak akan terlihat kemajuan atau kemunduran sebuah kurikulum yang tentu saja akan mempengaruhi sumber daya manusia Indonesia masa mendatang, ibarat buah tidak matang secara sempurna.Disinilah
mengapa penulis menyoroti serius kurikulum penyelenggaraan pendidikan nasional yang sedang kita gadang menjadi kurikulum agar kita memiliki sebuah kurikulum yang mampu membangun bangsa kita yang religi, ketimuran, bermartabat dan bertatakrama melalui kurikulum berintegratif antara ilmu umum dan ilmu agama satu nyawa.Satu sikap untuk menuju kurikulum yang terintegratif jauhkan unsur kepentingan politik, jangan campuradukan pendidikan dengan kepentingan politik.Mungkin banyak yang bertanya dari mana atau alasannya apa?, jawaban sangat mudah bukankah setiap ganti menteri pasti terjadi kebijakan pendidikan baru termasuk didalamnya urusan kurikulum.Namnu ada yang lebih miris lagi yaitu kebanyakan mentri terkait tidak ada latar belakang atau mempunyai kompetensi pendidikan karna kepentingan politik lebih dominan ketimbang kepentingan nasional.Semoga pola pikir tidak sehat ini cepat belalu dari para pemegang kebijakan bangsa besar ini.
Selanjutnya melalui risalah kecil ini kami, ingin menyampaikan rasa suka cita kepada para pembaca semua, dan rekan-rekan yang telah membantu penulis baik sacara moril dan materil. Oleh karena dalam keterbatasan kemampuan ilmu dan pengalaman minim jurnalistik yang dimiliki serta keminiman buku refrensi, namun dengan irodah dan qudroh Allah buku ini dapat diselasaikan.Keinginan kuat untuk menerbitkan buku ini
melalui jalan panjang, cukup terjal serta penuh tikungan.Berulang kali penulis mendatangi perpustakaan pribadi atau institusi untuk memperoleh buku cetak, jurnal, proceding, karya imiyah dan toko buku untuk mencari buku yang menulis tentang kajian ilmu pendidikan integratif. Tetapi dengan Rahmat Allah, diluar dugaan sampai juga selesainya buku yang sekarang dihadapan sidang pembaca yang budiman pencinta ilmu pengetahuan. Penulis sempat merenungi kenapa para penulis lain jarang sekali melakukan kajian topik ini, terkesan kurang menarik menulisnya.Kesan penulis tidak subyektif atau terdapat kepentingan yang bersifat kurang terpuji, sekali lagi bukan begitu alasannya, namun didasari pada fakta lapangan saja ketika penulis mencari refrensi yang ada hubungannnya dengan dikotomi keilmuan.