• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Pemerintah

Dalam dokumen REKONSTRUKSI MANAJEMEN PONDOK PESANTREN (Halaman 172-178)

KEBIJAKAN PEMERINTAH

D. Kebijakan Pemerintah

berakar pada (1) kredibilitas moral, (2) kemampuan mempertahankan pranata sosial yang diinginkan (Hiroko Horikhoshi,1987,169)

karena tidak ada lagi dikotomi kelulusan. Tetapi pada sisi lain, animo masyarakat masuk ke pesantren menjadi berkurang, karena masih terdapat masyarakat yang berpikir adanya perbedaan bagi lulusan pesantren dengan sekolah umum ketika bekerja atau menitik karier, bahkan terus mengalami kemunduran yang berakibat pada pengkaderan Kyai mengalami penurunan atau bisa jadi tidak berjalan (stagnasi) tentu saja ini suatu kerugian bagi pesantren.Santri semakin merosot jumlahnya, karena mereka lebih memilih Aliyah, Tsanawiyah ,SMP atau SMA. Mereka tinggal di komplek pesantren, namun tidak mempelajari kitab kuning sebagai ciri khas santri sekaligus refresentatif dan persyaratan seorang santri sebelum menjadi Kyai. Peran Pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus mempertimbangkan secara mendalam sistim pendidikan pesantren sebagai unsur pendidikan di Indoensia dalam rangka mendukung dan memberdayakan Sumber daya manusia bangsa melalui pendidikan. ( Saidina Zulfikar bin Tahir,2015,210-216)

Secara obyektif kita tidak menafikan bahwa kebijakan Pemerintah terhadap pesantren terdapat juga positifnya. Namun pada implementasinya seperti memakan buah simalakama, dimakan atau tidak tetap beresiko. seperti perkembangan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menghasilkan Kyai

dan kemahiran membaca dan memahami kitab kuning akan terhambat. Kemampuan membaca kitab kuning memang bukan cuma domainnya pesantren. Namun jika dari lembaga lain hasilnya tidak berkualifikasi Kyai seperti wibawa, kealiman, karismatik, paranata sosial,suprarasional dll.yang melekat pada diri Kyai lulusan murni pesantren, maka mereka tetap akan terseleksi dalam masyarakat karena dianggap kemampuan tetap saja dibawah kemampuan santri. Harus diakui beberapa pesantren moderen melahirkan banyak orang ahli membaca kitab kuning,IAIN juga banyak melantik sarjana yang ahli membaca kitab kuning (bahkan juga kitab putih).Tetapi mereka ini kebanyakan, atau mungkin seluruhnya,bukan berkualifikasi Kyai.Wibawa mereka terhadap masyarakat tidak besar, jauh dibawah Kyai, sebabnya ialah karena sumber wibawa meraka terletak hanya pada keilmuan mereka (membaca kitab kuning), sedangkan Kyai karismatik memerlukan “modal” lain seperti yang telah disebut diatas ( Ahmad Tafsir,2011,199)

Pada sisi lain, perkembangan pesantren juga disebabkan oleh ketidak-mampuan pelajar untuk melanjutkan sekolah dikarenakan beberapa alasan, termasuk biaya, sementara pesantren tidak terlalu ketat soal biaya. Data yang diterima baik dari kantor Dinas Pendidikan, Departemen Agama serta Pemerintahan Daerah yakni sebagaian besar anak putus sekolah,

tamatan sekolah dasar dan madrasah Ibtidaiyah, mereka tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, namun mereka tersebar di pondok pesantren dalam jumlah yang relatif banyak. Kondisi pondok pesantren yang demikian akhirnya direspon oleh pemerintah. Sehingga lahirlah kesepakatan bersama antara departemen Agama dan Departemen Pendidikan dengan nomor 1/U/KB/2000 dan MA/86/2000 tentang pedoman pelaksanaan pondok pesantren Salafiyah sebagai pola pendidikan dasar. Secara eskplisit, untuk operasionalnya, setahun kemudian terbit surat keputusan Direktur Jendral Kelembagaan Agama Islam, nomor E/239/2001 tentang panduan teknis penyelenggaraan program wajib belajar pendidikan dasar pada pondok pesantren Salafiyah.

Pada perkembangan berikutnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebut, saat ini pesantren telah memasuki fase yang paling menggembirakan dalam sejarah perkembangannya. Hal ini ditandai dengan telah dimasukkannya pesantren dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang kemudian dikukuhkan secara nyata dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Pada pasal 30 ayat 1 sampai ayat 4 disebutkan, bahwa pendidikan keagamaan, pondok pesantren termasuk

bagian dari sistem pendidikan Nasional. Terbitnya Undang- Undang ini menjadi bagian penting dalam proses transformasi pendidikan pesantren dalam sistem ketatanegaraan republik Indonesia, untuk menjadi lebih maju dan berkembang. Pasalnya, UU tersebut telah menghapus diskriminasi terhadap pendidikan keagamaan yang berlangsung selama ini. Konkretnya, pendidikan Diniyah dan pesantren telah diakui sebagai bentuk pendidikan keagamaan (pasal 30 ayat 4). Dengan demikian, beberapa kalangan meyakini nasib lembaga pendidikan yang genuine dan tertua di Indonesia ini bakal menjadi ”lebih baik”.

Sehingga, kecenderungan aparat birokrasi pendidikan meminggirkan pesantren dari arus utama tidak sah lagi diteruskan.

Pada saat yang sama, dengan persyaratan tertentu, alumni pendidikan Diniyah dan pesantren akan mendapatkan perlakuan dan pengakuan yang sama dengan alumni pendidikan umum setelah terbitnya Peraturan Menteri Agama Nomor 18 Tahun 2014 tentang Satuan Pendidikan Persamaan (Muadalah) pada Pondok Pesantren. Artinya, kesinambungan pendidikan dan kiprah sosial-politik-kemasyarakatan alumni pesantren tidak akan terhalang hanya karena yang bersangkutan tidak pernah mengenyam pendidikan umum atau memiliki ijazah

”pendidikan formal”. Menurut Prof. Dr. Nursyam, M. Si,

terbitnya PMA tentang Muadalah ini adalah berkah tersendiri bagi pesantren.

Walau demikian pemerintah sebagai peyelenggara negara bertanggungjawab penuh terhadap pelayanan pendidikan bagi setiap warganya seperti yang diamanahkan oleh Undang- Undang dasar 45. Artinya tidak bisa menyerahkan kewajiban itu kepada pihak swasta atau masyarakat dengan modal kebijakan saja, tetapi harus memberikan dorongan moril dan material.

Secara fisik misalnya pemerintah harus mempunyai target berapa banyak pesantren yang dibantu dalam penyediaan gedung dengan ragam kebutuhannya sebagai sarana dan prasarana proses belajar-mengajar.Pada bentuk finansial misalnya tidak boleh terjadi diskriminatif bantuan biaya operasional sekolah (BOS) hanya dibagikan kepada siswa-siswi sekolah formal dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas saja atau Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah. Harapan komonitas ini sangat realistis untuk diberlakukan pemerintah kepada pesantren baik dari aspek per-undang undangan atau aspek maju bersama sebagai warga negara termasuk. Aspek historis baik pada masa zaman penjajahan,orde lama,orde baru sampai pada masa reformasi pesantren begitu besar peran dan kontribusinya baik dalam membangun ekonomi, pendidikan, budaya, politik ,hukum da’wah dan penanaman karakter

terhadap bangsa ini.Lembaga tersebut telah memberikan perhatian begitu banyak dan penting dalam penyelenggaraan Pendidikan Nasional. Menilik proses perubahan yang terjadi di pesantren, tampak bahwa hingga dewasa ini,lembaga tersebut semakin berperan besar dalam membangun bangsa telah memberi kontribusi penting dalam penyelenggaraan Pendidikan Nasional.Keberadaan Pesantren sebagai lembaga pendidikan, baik yang masih mempertahankan sistem pendidikan tradisional maupun yang sudah mengalami perubahan, memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat Indoensia. Dari waktu ke waktu, pesantren semakin tumbuh dan bekembang kuantitas maupun kualitasnya.Dengan melakukan inovasi pendidikan, pesantren semakin kompetitif.meskipun melakukan berbagai inovasi pendidikan, sampai saat ini pendidikan pesantren tidak kehilangan karaktersitiknya yang unik, yang membedakan dirinya dengan model pendidikan umum yang diformulisasikan dalam bentuk sekolahan.(H.Ramayulis,2011, 380).

Dalam dokumen REKONSTRUKSI MANAJEMEN PONDOK PESANTREN (Halaman 172-178)

Dokumen terkait