HUBUNGAN ANTARA TASK COMMITMENT DENGAN KEMAMPUAN
bahwa dengan pemecahan masalah matematis, siswa memperoleh cara berpikir, ketekunan dan keingintahuan, serta kepercayaan diri dalam situasi asing yang mereka hadapi di luar kelas matematika.
Siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis akan mampu menghadapi suatu kondisi dengan berbagai macam tantangan baik di dalam kelas atau di luar kelas. Menurut Turmudi (2008: 1), pemecahan masalah adalah proses melibatkan suatu tugas yang metode pemecahannya belum diketahui lebih dulu.
Siswa menyusun pengetahuan-pengetahuan yang telah mereka peroleh sebelumnya untuk mengembangkan pengetahuan baru, sehingga siswa dapat menyelesaikan masalah matematika secara mandiri.
Sedangkan menurut Dahar pemecahan masalah merupakan suatu kegiatan manusia yang menggabungkan konsep-konsep dan aturan-aturan yang telah diperoleh sebelumnya, dan tidak sebagai suatu keterampilan generik. Dari pengertian ini memiliki arti bahwa jika siswa sudah mampu menyelesaikan suatu masalah, maka siswa tersebut telah memiliki kemampuan baru (Juanda, dkk., 2014: 2-3).
Kemampuan pemecahan masalah matematis dapat diukur dengan beberapa indikator. Polya (1957: 8) menjelaskan dalam How to Solve It? secara garis besar mengemukakan empat langkah utama pemecahan masalah, yaitu 1) Understanding Problem, 2) Devising a Plan, 3) Carrying out the Plan, dan 4) Looking Back. Dalam setiap permasalahan, aspek memahami masalah diukur dengan mengetahui unsur yang diketahui dan ditanya, aspek merencanakan masalah diukur dengan metode yang dipilih dalam masalah ini, aspek melakukan rencana diukur dengan melaksanakan rencana penyelesaian masalah dengan metode yang dipilih, aspek memeriksa kembali diukur dengan
memeriksa kebenaran hasil yang telah diperoleh.
Mengingat pentingnya kemampuan pemecahan masalah matematis bagi siswa, namun hal tersebut tidak sejalan dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di Indonesia. Hal ini diperkuat dengan pendapat Sumarmo bahwa keterampilan menyelesaikan soal pemecahan masalah siswa sekolah menengah atas ataupun siswa sekolah menengah pertama masih rendah.
Ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih rendah, misalnya faktor motivasi siswa dalam belajar (Anisa, 2014: 2).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh Yanti, Erlamsyah, dan Zikra (2013: 2) kepada dua orang guru mata pelajaran pada tanggal 20 Februari 2012, dijelaskan bahwa siswa kurang memiliki motivasi dalam belajarnya, seperti saat ditanya mengenai materi pelajaran siswa berdiam diri, tidak mau mengerjakan soal karena takut gagal, mengabaikan tugas-tugas yang diberikan guru dan menghindari pelajaran.
Oleh sebab itu, untuk mengatasi faktor tersebut perlu adanya pembentukan komitmen pada diri siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas dengan baik dan benar. Menurut Renzulli dalam Syarifa, dkk.
(2011: 2) komitmen terhadap tugas (task commitment) merupakan suatu bentuk halus dari motivasi. Jika motivasi biasanya didefinisikan sebagai suatu proses energi umum yang merupakan pemicu pada organisme, tanggung jawab energi tersebut ditampilkan pada tugas tertentu yang spesifik. Dalam hal ini, tugas tertentu yang spesifik adalah tugas-tugas akademik yang diterima siswa.
Berdasarkan dimensi dan ciri-cirinya (Hawadi, 2002 & Syarifa, dkk., 2011) peneliti merumuskan indikator task commitment, sebagai berikut: 1) sikap
tangguh; 2) sikap ulet; 3) sikap tidak mudah bosan; 4) sikap kemandirian; 5) menetapkan aspirasi dan tujuan yang realistis; 6) keberanian mengambil resiko; 7) sikap suka belajar; 8) hasrat untuk meningkatkan diri;
9) hasrat untuk berhasil dalam bidang akademis.
Dengan adanya komitmen dalam mengerjakan tugas akan dapat membantu siswa mengumpulkan informasi yang nantinya akan digunakan dalam menyelesaikan masalah matematika, sehingga siswa terbiasa dalam mengerjakan soal yang memiliki tingkatan yang lebih tinggi.
B. Metode
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik korelasi, yaitu mencari hubungan antara task commitment dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Sampel diambil dari 1 kelas XI IIK sebanyak 37 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling dimana pengambilan anggota sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2013: 85).
Data penelitian ini dikumpulkan dengan cara menggunakan angket dan tes.
Instrumen berbentuk angket sebanyak 40 item pernyataan dibuat untuk memperoleh data task commitment, sedangkan instrumen berbentuk tes sebanyak 6 soal dibuat untuk memperoleh data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Analisis yang digunakan, yaitu uji validitas dan uji reliabilitas untuk mendapatkan soal yang valid dan dipercaya.
Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan uji-t student untuk mengetahui hubungan antara task commitment dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dan sebelum dilakukan uji hipotesis, dilakukan terlebih dahulu uji persyaratan analisis data untuk mengetahui apakah sampel berdistribusi
normal atau tidak (uji normalitas) dan untuk mengetahui hubungan antara task commitment dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa (uji linieritas regresi).
C. Hasil dan Pembahasan
Setelah diberikan instrumen angket dan tes untuk memperoleh data task commitment dan kemampuan pemecahan masalah matematis yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Statistik Deskriptif Task Commitment dan Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Siswa
Data N Min Maks Rerata
Task Commitment 37 89 128 110,081 Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Siswa
37 10 24 14,892
Berdasarkan Tabel 1, dari 37 siswa didapat bahwa siswa yang mendapatkan skor tertinggi untuk angket task commitment sebesar 128 dan skor terendah sebesar 89 dibandingkan dengan skor maksimum ideal sebesar 160. Sedangkan skor tertinggi untuk tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sebesar 24 dan skor terendah sebesar 10 dibandingkan dengan skor maksimum ideal sebesar 50.
Setelah didapatkan data statistik kedua kelompok tersebut, kemudian dilanjutkan dengan uji hipotesis. Sebelum melakukan uji hipotesis akan dilakukan uji normalitas kedua data.
Berdasarkan uji normalitas dengan uji Lilliefors pada taraf signifikansi 0,05. Pada data task commitment diperoleh
kritis
hitung L
L 0,0820,146 , sedangkan pada data kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa diperoleh
kritis
hitung L
L 0,1380,146 , sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua data berdistribusi normal.
Setelah diperoleh data berdistribusi normal, dapat dilanjutkan dengan uji keberartian model regresi ini dilakukan
dengan uji Analisis Varians (ANAVA) yang dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Perhitungan Analisis Varians (ANAVA)
Sumber Varian
Dk JK KT Fhitung Fkritis Kesimpulan
Regresi (a) 1 8205.432 8205.432 Regresi
(b|a) 1 56.304 56.304 5.115 4.121 Regresi
Signifikan Sisa (S) 35 385.263 11.008
Tuna Cocok (TC)
21 164.763 7.846 0.498 2.377 Regresi
Linier
Galat (G) 14 220.5 15.75
Total (T) 37 8647 233.703
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh persamaan regresi ˆ 0,7190,129X , persamaan regresi tersebut menunjukan bahwa setiap penambahan satu skor task commitment diikuti perubahan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sebesar 0,129 pada konstanta 0,719.
Selanjutnya, uji hipotesis dengan uji-t student pada taraf signifikansi 0,05 diperoleh thitung 2,2622,030tkritis.
Dengan demikian, terdapat hubungan yang signifikan antara task commitment dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
Dari hasil perhitungan koefisien daterminasi . Didapat koefisien determinasi sebesar 12,8% atau r = 0,128.2 Ini berarti 12,8% kontribusi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dipengaruhi oleh task commitment, sedangkan 87,2% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Selanjutnya berdasarkan indikator task commitment dapat dianalisis untuk memperoleh persentase tiap indikator yang dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Persentase Indikator Task Commitment
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa indikator hasrat untuk meningkatkan diri memberikan kontribusi tertinggi sebesar 74,73 % dibandingkan dengan indikator lain terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Selain itu, indikator sikap suka belajar mempunyai persentase terendah sebesar 62,703 %. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang malas belajar merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi skor kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang hanya memperoleh skor tertinggi 24 dengan skor maksimum ideal sebesar 50 dan didapat siswa memiliki keinginan untuk mendapatkan hasil yang maksimal tetapi tidak dibarengi dengan kegiatan belajar yang maksimal.
.
D. Kesimpulan
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah task commitment memberikan kontribusi terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hal ini ditegaskan dengan uji t-student yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara task commitment dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
Indikator Task Commitment
Skor Maksimum
Ideal
Skor Total Persentase
Sikap tangguh 740 522 70.541 %
Sikap ulet 925 669 72.324 %
Sikap tidak mudah bosan
925 602 65.081 %
Sikap kemandirian 925 630 68.108 %
Menetapkan aspirasi dan tujuan
yang realistis
555 367 66.126 %
Keberanian mengambil resiko
370 246 66.486 %
Sikap suka belajar 370 232 62.703 % Hasrat untuk
meningkatkan diri
740 553 74.730 %
Hasrat untuk berhasil dalam bidang akademis
370 252 68.108 %
E. Referensi
Anisa, W. N. 2014. Jurnal Pendidikan dan Keguruan, Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Dan Komunikasi Matematik Melalui Pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik Untuk Siswa SMP Negeri Di Kabupaten Garut, Vol. 1, No.1.
Hawadi, R. A. 2002. Identifikasi Keberbakatan Intelektual melalui Metode Non-Tes. Jakarta: Grasindo.
Juanda, dkk. 2014. Jurnal Kreano, Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Komunikasi Matematis Siswa SMP melalui Model Pembelajaran Means-ends Analysis (MeA). Vol. 5. No. 2.
Mullis, I. V. S., et al. 2011. TIMSS 2011 International Result in Mathematics.
Boston: Chestnut Hill.
NCTM. 2000. Executive Summary Principles and Standards for School Mathematics.
Polya, G. 1957. How to Solve It. Princeton:
Princeton University Press.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D.
Bandung: Alfabeta.
Syarifa, A., dkk. 2011. Jurnal INSAN, Hubungan antara Dukungan Sosial Orang Tua dengan Komitmen terhadap Tugas (Task Commitment) pada Siswa Akselerasi tingkat SMA, Vol. 13, No.
01.
Turmudi. 2008. Pemecahan Masalah Matematika. [Online] tersedia di http://file.upi.edu/browse.php?dir=Dire ktori/FPMIPA/JUR_PEND_MATEMA TIKA/196101121987031-TURMUDI/
diakses pada 5 Mei 2016.
Yanti, S., Erlamsyah, & Zikra. 2013. Jurnal Ilmiah Konseling, Hubungan Antara Kecemasan dalam Belajar dengan Motivasi Belajar Siswa, Vol. 2. No.1.
.