3. Implementasi Pendidikan Nilai dalam Pengajaran Agama Islam
b. Pendekatan dalam Pendidikan Nilai
Secara historis, pendidikan dalam arti luas telah mulai dilaksanakan sejak manusia berada di muka bumi ini. Adanya pendidikan adalah setua dengan adanya kehidupan manusia itu sendiri. Dengan perkembangan peradaban manusia, berkembang pula isi dan bentuk, termasuk perkembangan penyelenggaraan pendidikan.
Hal ini sejalan dengan kemajuan manusia dalam pemikiran dan ide-ide tentang pendidikan. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Dari uraian pengertian pendidikan seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, secara implisit terkandung nilai-nilai pendidikan bagi individu, masyarakat dan bangsa. Adapun nilai-nilai tersebut antara lain:
1) Membentuk pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kepercayaan diri, disiplin dan tanggung jawab, mampu mengungkapkan dirinya melalui media
yang ada, mampu melakukan hubungan manusiawi, dan menjadi warga negara yang baik.
2) Membentuk tenaga pembangunan yang ahli dan terampil serta dapat meningkatkan produktivitas, kualitas, dan efisiensi kerja.
3) Melestarikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, bangsa dan negara.
4) Mengembangkan nilai-nilai baru yang dipandang serasi oleh masyarakat dalam menghadapi tantangan ilmu, teknologi dan dunia modern.
5) Merupakan jembatan masa lampau kini dan masa depan
Pendidikan mengandung suatu pengertian yang luas, menyangkut seluruh aspek kepribadian manusia termasuk hati nurani, nilai-nilai, perasaan, pengetahuan dan keterampilan.
Diharapkan dengan pendidikan tersebut manusia berusaha untuk meningkatkan, mengembangkan, serta memperbaiki nilai-nilai dalam kehidupannya.
Pendidikan mencakup kegiatan mendidik, mengajar, dan melatih. Kegiatan tersebut harus ada sehingga terciptalah situasi pendidikan. Menurut Ahmad D. Marimba, situasi pendidikan adalah suatu keadaan dimana tindakan-tindakan pendidikan dapat berlangsung dengan baik dengan hasil yang memuaskan.
Dalam situasi pendidikan tersebut terjadi usaha untuk mentransformasikan nilai-nilai dalam kehidupan manusia. Nilai tersebut antara lain nilai-nilai religi, kebudayaan, sains dan
teknologi, seni, dan ketrampilan. Nilai-nilai tersebut dapat mempertahankan, mengembangkan bahkan merubah kebudayaan yang dimiliki masyarakat. Di sini akan berlangsung pendidikan dalam kehidupan manusia.
Seperti disebutkan di atas, bahwa pendidikan adalah meliputi pemanusiaan, pembudayaan, dan pelaksanaan nilai-nilai. Dari sini, maka antara guru dan peserta didik diharapkan tidak hanya terjalin hubungan fungsional saja, tetapi hubungan personal, berdampingan, dialogis, dan dinamis untuk memperlancar proses pembelajaran yang dilaksanakan. Artinya proses pendidikan yang diharapkan adalah bisa melahirkan manusia yang dewasa, bebas, mampu menjaga keseimbangan dengan alam dan sesama manusia dan Tuhan.
Untuk mendukung supaya proses pembelajaran tersebut di atas dapat terlaksana, maka diperlukan suatu model pembelajaran yang mampu mengakomodir seluruh komponen pembelajarn agar dapat berjalan secara beriringan. Ada bebarapa faktor yang dijadikan dasar pertimbangan dalam pemilihan metode pembelajaran. Faktor-faktor tersebut adalah:
1) Berpedoman pada tujuan 2) Perbedaan individu anak didik 3) Kemampuan guru
4) Sifat bahan pelajaran 5) Situasi kelas
6) Kelengkapan fasilitas
7) Kelebihan dan kelemahan metode.29
Pendidikan nilai tidak sebatas pada teori dan pengajaran, tetapi harus disertai dengan perilaku hidup. Antara kata dan perbuatan harus sinkron, sejalan. Pendidikan nilai pasti gagal total bila pelanggaran-pelanggaran moral masih terus berlangsung.
Penanaman pendidikan nilai harus ditunjukkan melalui sikap dan perbuatan yang kongkret. Oleh karena itu perlu dirumuskan mengenai pendekatan yang dipakai dalam pelaksanaan pengajaran pendidikan nilai tersebut.
Ada lima pendekatan dalam pengajaran nilai, yaitu:
1) Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach)
Pendekatan penanaman nilai adalah suatu pendekatan yang member penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri peserta didik.
2) Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach)
Pendekatan ini dikatakan pendekatan perkembangan kognitif karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong peserta didik untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral.
3) Pendekatan analisis nilai (values analysis approach)
29 Djamarah, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2005) 229-231.
Pendekatan analisis nilai memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan peserta didik untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial.
4) Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) Pendekatan klarifikasi nilai memberi penekanan pada usaha membantu peserta didik dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri.
5) Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) Pendekatan pembelajaran berbuat memberi penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok.
c. Model Pengajaran Pendidikan Nilai
Oleh karena tujuan pendidikan budi pekerti adalah untuk membantu memanusiakan manusia, humanisasi, maka jelas penghargaan terhadap manusia termasuk anak didik mendapat penghargaan manusia maka model yang dipilih pun harus sangat menghargai manusia. Untuk itu dalam pendidikan budi pekerti sendiri perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1) Model demokratis bukan otoriter dan paksaan
Penyampaian nilai budi pekerti supaya tidak dilakukan dengan paksaan atau otoriter. Pendidik dan peserta didik berkerja- sama mencari dan menemukan nilai. Meski pendidik sudah tahu nilai akan disampaikan, akan tetapi peserta didik diajak untuk menggali sendiri. Hal ini lebih memuaskan dan meneguhkan yang ditemukan. Modelnya adalah dialog dengan dengan peserta didik, aktif bekerja, dan pendidik lebih sebagai pendamping atau fasilitator.
2) Model penyadaran (konsientasi)
Peserta didik bersama pendidik menggali bersama nilai tersebut sehingga menjadi sadar sendiri bahwa nilai itu nilai yang baik dan berguna bagi kehidupan mereka. Karena mereka menyadari sendiri pentingnya nilai tersebut untuk kehidupan mereka (baik dalam hidup sendiri maupun bersama), diharapkan mereka akan lebih rela melakukan nilai tersebut.
Apalagi dengan kesadaran mereka di muka akan lebih yakin penghayatan mereka.
3) Teladan guru/pendidik
Penanaman nilai budi pekerti hanya akan lancar bila para guru atau pendidik sendiri melakukan nilai tersebut. Dengan kata lain teladan hidup atau kesaksian hidup pendidikan sangat diperlukan. Tanpa kesaksiaan dari pendidik peserta didik akan meremehkan nilai yang akan ditawarkan pendidik. Maka,
misalnya pendidikan akan menanamkan nilai penghargaan terhadap orang lain, pendidik sendiri memang sungguh menghargai peserta didik, gurulain, tetapi dalam sikap merendahkan dan menghina pasti akan sulit diterima.
4) Suasana sekolah yang menunjang
Suasana sekolah yang perlu mendukung penanaman nilai yang ada. Misalnya kita mau menanamkan nilai demokratis, maka suasana sekolahpun perlu dikelola secara demokratis dimana setiap warganya boleh andil di dalamnya. Bila guru punya gagasan lain, jelas suasana ini tidak demokratis apalagi kepala sekolah sudah menskor, maka siswa akansulit menghayati nilai tersebut. Nilai demokratis tidak dapat dibangun sekaligus dan sekali jadi, tetapi perlu dibagun secara praktis mulai sejak dini.
Bentuk penyampaiannya bukan dalam bentuk indoktrinasi, tetapi dengan praktik diskusi dan pembahasan dan refleksi kritis. Nilai tersebut perlu dengan penyampaian dengan model klarifikasi nilai.
Dalam model pendekatan tersebut peserta didik mencari dan mendiskusikannya, mengambil yang berguna dan mempraktikkannya. Dengan demikian peserta didik aktif berperan dalam mencari dengan pendalaman nilai tersebut. Misal menggeluti nilai kerukunan dengan teman, maka siswa dapat mendiskusikan tentang kegunaan hidup rukun dengan teman. Dengan cara tersebut mereka bebas untuk untuk memikirkan dan mengungkapkan gagasan
mereka sendiri. Akhirnya mereka dapat mengambil langkah yang perlu dibuat untuk menambah kerukunan tersebut. Dan mereka dapat membuat refleksi apakah semakin menghayati nilai kerukunan tersebut.
d. Isi Pendidikan Nilai
Budi pekerti berisikan pandangan dari dalam diri orang lain itu sedang sebagai perilaku budi pekerti haruslah berupa tindakan yang mencerminkan sikap dasar orang tersebut. Dengan demikian ada dua unsure pemahaman atau pengertian dan unsur tindakan dan perbuatan. Kedua unsur saling melengkapi. Sikap menjadi dasar bertindak dan tindakan menjadi sikap yang dapat diungkapkan melalui perilaku yang dapat dicontohkan olah tindakan riil seseorang dalam melakukan proses tindakan.
Nilai moral atau sikap dapat dikelompokkan menjadi nilai yang universal, yaitu yang berlaku bagi semua orang siapapun mereka dan nilai partikular yang hanya berlaku untuk limgkungan atau situasi tertentu saja. Di sini nilai universal sangatlah ditentukan dalam pendidikan nilai dari pada yang partikular.
Meskipun yang partikular tidak dapat diabaikan karena kita hidup dalam lingkungan partikular juga. Dari segi nilai dapat dalam sikap sosial, sikap kesusilaan, sikap religiositas, sikap kewarganegaraan, sikap lingkungan hidup, dan lannya.
Sikap tingkah laku berlaku umum yang lebih mengembangkan sikap kemanusiaan dan pengembangan kesatuan warga masyarakat perlu mendapatkan tekanan. Beberapa sikap dan beberapa perilaku itu antara lain sebagai berikut:
1) Sikap penghargaan terghadap sikap manusia. Penghargaan bahwa pribadi manusia itu bernilai yang tidak bolah direndahkan atau disingkirkan harus dikembangkan. Setiap manusia sebagai manusia sebagai sesama ciptaan tuhan siapapun mereka adalah bernilai.
2) Berlaku adil tenggang rasa merupakan wujud penghargaan kita terhadap orang lain terhadap sesama kita. Sikap jujur sangat penting ditekankan.
3) Sikap demokratis dan menghargai gagasan orang lain serta mau hidup bersama orang lain yang berbeda sikap ini sangat membantu kita menjadi manusia karena memanusiakan manusia lain.
4) Kebebasan dan bertanggung jawab. Sikap khas manusia sebagai pribadi adalah dia yang punya kebebasan untuk mengungkapkan dirinya dan bertanggung jawab terhadap ungkapannya.
5) Penghargaan terhadap alam. Alam diciptakan oleh Tuhan untuk digunakan manusia agar hidup berbahagia. Maka dalam penggunaan alam digunakan secara sendiri tentunya tidak
dibenarkan. Apalagi dalam pengerusakan alam sehingga hanya memberikan manfaat bagi segelintir orang juga tidak benar.
6) Penghormatan kapada Pencipta. Kita menghormati Sang Pencipta dengan cara beriman, menghormati dan memuji Sang Pencipta.
7) Beberapa sikap pengembangan sebagai pribadi manusia seperti disiplin bijaksana cermat mandiri percaya diri semuanya lebih menunjang kesempurnan diri pribadi. Meskipun secara tidak langsung tidak berkaitan dengan orang lain tapi dapat membantu dalam kerjasama dengan orang lain.
4. Pembinaan Akhlak al-Karimah a. Pengertian Akhlak al-Karimah
Akhlak al-Karimah berasal dari dua kata yaitu Akhlak dan Karimah. Kata akhlak berasal dari bahasa arab, dari jamak kata Khuluk yang artinya “budi pekerti, perangai, tingkah laku”.30 Tabiat atau watak dilahirkan karena hasil perbuatan yang diulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. Pengertian akhlak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan.31
Searah dengan itu, Zainuddin AR menuturkan bahwa akhlak secara etimologi berasal dari bahasa arab merupakan jama’ dari
30 Hamzah Ya’kub, Etika Islam (Bandung: Diponegoro, 1993), 11.
31 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), 20.
bentuk mufrodatnya “khuluqun” yang menurut logat di artikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.32 Disamping itu akhlak juga dapat diartikan dengan tata prilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya, dan baru mengandung nilai yang hakiki apabila tindakan atau prilaku tersebut didasarkan kepada kehendak akhlak (Tuhan). Dengan demikian, akhlak bukan saja tata aturan atau norma prilaku yang mengatur hubungan antara sesama manusia, akan tetapi juga norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta sekalipun.33
Sedangkan pengertian akhlak secara terminologi disampaikan oleh beberapa ahli yaitu sebagai berikut :
1) Menurut Imam Al Ghazali, definisi akhlak adalah : Akhlak (khuluq) adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa pertimbangan.34
2) Menurut Ahmad Amin, sebagaimana yang dikutip oleh M.
Zein Yusuf “Akhlak adalah adat atau kebiasaan kehendak.”35 Akhlak berhubungan dengan sistem dan cara manusia mengatur dirinya, akhlak berkenaan dengan sistem pembentukan dan pembinaan diri.
32 Zainuddin AR, Pengantar Ilmu Akhlak, Cet. I (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), 1.
33 Harun Nasution, Ensiklopedia Islam Indonesia, Cet. I (Jakarta: Djambatan, 1992), 98.
34 Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Juz III (Semarang: Usaha Keluarga), 58.
35 Muhammad Zein Yusuf, Ahklak Tasawuf (Semarang: Al Husna, 1993), 8.
3) Menurut Zuhairini “Akhlak merupakan bentuk proyeksi dari pada amalan ihsan, yaitu sebagai puncak kesempurnaan dari keimanan dan keislaman seseorang”.36
Meskipun terdapat beberapa perbedaan dalam mendefinisikan akhlak namun dapat dipahami bahwa akhlak adalah suatu kondisi atau sifat yang meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian yang memunculkan sesuatu yang dengan spontan dan mudah yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan.
Akhlak dalam Islam, disamping mengakui adanya nilai-nilai universal sebagai dasar bentuk akhlak, juga mengakui nilai-nilai yang bersifat lokal dan temporal sebagai penjabaran atas nilai-nilai yang universal. Menghormati kedua orang tua merupakan akhlak yang bersifat mutlak dan universal, sedangkan sebagaimana bentuk dan cara menghormati kedua orang tua sebagai nilai lokal dan temporal dapat dimanifestasikan oleh hasil pemikiran manusia yang dipengaruhi oleh kondisi dan situasi tempat orang yang menjabarkan nilai universal itu berada.37
Akhlak sebagaimana pengertian tersebut, baik akhlak yang baik maupun akhlak yang buruk, semua didasarkan pada ajaran Islam.
Abuddin Nata dalam buku Akhlak Tasawuf, menuliskan bahwa akhlak islami berwujud perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging, dan kebenarannya didasarkan pada
36 Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 51. 37 Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, Cet. III (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), 143.
ajaran Islam.38 Adapun yang dimaksud dengan akhlak terpuji adalah suatu aturan atau norma yang mengatur hubungan antar manusia dengan Tuhan dan alam semesta. Akhlakul karimah sangat diperlukan dalam menjalani setiap waktu dalam kehidupan di dunia sebagai bekal hidup yang tenteram di dunia dan di akhirat kelak.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam diri dan menjadi kepribadian sehingga dari sinilah timbul berbagai macam perbuatan dengan spontan dan mudah tanpa dibuat-buat. Sedangkan karimah dalam bahasa arab artinya mulia atau terpuji.39 Berdasarkan dari pengertian akhlak dan karimah di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud Akhlakul Karimah ialah budi pekerti yang mulia sebagai sikap jiwa yang melahirkan tingkahlaku serta budi pekerti yang baik dan mulia menurut tuntutan agama serta menjadikan kepribadian yang terwujud dalam sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
b. Macam-macam Akhlakul Karimah
Akhlak terbagi menjadi dua, yaitu akhlak terhadap Allah dan akhlak terhadap makhluk. Dalam kehidupan, hal ini dapat diimplementasikan sebagai berikut:
a) Akhlak terhadap Allah (Khalik) antara lain adalah:
38 Ibid., 3.
39 Irfan Sidny, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Rajawali, 1998), 26.
1) Al-Hubb, yaitu mencintai Allah melebihi cinta kepada apa dan siapapun juga dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan kehidupan; kecintaan kita kepada Allah diwujudkan dengan cara melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebagaimana telah tercantum dalam QS. al-Baqarah/2:165 yang artinya:
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu, mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).40
2) Al-Raja, yaitu mengharapkan karunia dan berusaha memperoleh keridhaan Allah SWT, Sebagaimana telah tercantum dalam QS. al-Baqarah/2:5 yang artinya: "Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung."41
3) As-Syukr, yaitu mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT, sebagaimana telah tercantum dalam QS. al- Baqarah/2:152 yang artinya: "Karena itu, ingatlah kamu
40 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Syaamil Cipta Media, 2005), 25.
41 Ibid., 2.
kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."42
4) Qana’ah, yaitu menerima dengan ikhlas semua kada dan kadar ilahi setelah berikhtiar.
5) Memohon ampun kepada Allah SWT.
6) At-Taubat; bertaubat hanya kepada Allah SWT. Taubat yang paling tinggi adalah taubat nasuha yaitu taubat benar- benar taubat tidak lagi melakukan perbuatan sama yang dilarang Allah, dan dengan tertib melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya;
7) Tawakkal (berserah diri) kepada Allah SWT, Sebagaimana telah tercantum dalam QS. al-Imran/3:102 yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.43 b) Akhlak terhadap makhluk, dibagi dua:
1) Akhlak terhadap manusia, dapat dirinci menjadi:
(a) Akhlak terhadap Rasulullah (Nabi Muhammad), antara lain:
(1) Mencintai Rasulullah secara tulus dengan mengikuti semua sunnahnya.
42 Ibid., 23.
43 Ibid., 63.
(2) Menjadikan Rasulullah sebagai idola, suri teladan dalam hidup.
(3) Menjalankan apa yang disuruh-Nya, tidak melakukan apa yang dilarang-Nya
(b) Akhlak terhadap Orang Tua (Birrul walidain), antara lain:
(1) Mencintai mereka melebihi cinta kepada kerabat lainnya.
(2) Merendahkan diri kepada keduanya diiringi perasaan kasih sayang.
(3) Berkomunikasi dengan orang tua dengan khidmat, mempergunakan kata-kata lemah lembut.
(4) Berbuat baik kepada ibu bapak dengan sebaik - baiknya, dengan mengikuti nasehat baiknya, tidak menyinggung perasaan dan menyakiti hatinya, membuat ibu -bapak ridha. Sebagaimana terdapat dalam Q.S. An -Nisa’/4: 36 yang artinya:
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu - bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong dan membangga- banggakan diri.44
(5) Mendoakan keselamatan dan keampunan bagi mereka kendatipun seorang atau kedua-duanya telah meninggal.
(c) Akhlak terhadap diri sendiri, antara lain:
(1) Memelihara kesucian diri (2) Menutup aurat
(3) Jujur dalam perkataan dan berbuat ikhlas dan rendah hati.
(4) Malu melakukan perbuatan jahat (5) Menjauhi dengki dan menjauhi dendam
(6) Berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain.
(7) Menjauhi segala perkataan dan perbuatan sia -sia (d) Akhlak terhadap keluarga, karib kerabat, antara lain:
(1) Saling membina rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga.
(2) Saling menunaikan kewajiban untuk memperoleh hak.
(3) Berbakti kepada ibu-bapak.
(4) Mendidik anak-anak dengan kasih sayang.
44 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Syaamil Cipta Media, 2005), 84.
(5) Memelihara hubungan silaturrahim dan melanjutkan silaturahmi yang dibina orang tua yang telah meninggal dunia.
(e) Akhlak terhadap tetangga, antara lain:
(1) Saling mengunjungi.
(2) Saling bantu di waktu senang, lebih tatkala susah.
(3) Saling memberi, saling menghormati.
(4) Saling menghindari pertengkaran dan permusuhan (f) Akhlak terhadap masyarakat, antara lain:
(1) Memuliakan tamu
(2) Menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan
(3) Saling tolong menolong dalam kebajikan dan takwa.
(4) Menganjurkan anggota masyarakat termasuk diri sendiri berbuat baik dan mencegah diri sendiri dan orang lain melakukan perbuatan jahat (mungkar).
(5) Memberi makan fakir miskin dan berusaha melapangkan hidup dan kehidupannya.
(6) Bermusyawarah dalam segala urusan mengenai kepentingan bersama.
(7) Mentaati keputusan yang telah diambil.
(8) Menunaikan amanah dengan jalan melaksanakan kepercayaan yang diberikan seseorang atau masyarakat kepada kita.
(9) Menepati janji.
2) Akhlak terhadap lingkungan hidup antara lain:
(a) Sadar dan memelihara kelestarian lingkungan hidup.
(b) Menjaga dan memanfaatkan alam terutama hewani dan nabati, fauna dan flora (hewan dan tumbuh-tumbuhan) yang sengaja diciptakan Tuhan untuk kepentingan manusia dan makhluk lainnya.
(c) Sayang pada sesama makhluk.45
c. Implementasi nilai-nilai akhlak dalam kehidupan
Nilai merupakan sesuatu yang dianggap berharga dan menjadi tujuan yang hendak dicapai. Nilai secara praktis merupakan sesuatu yang bermanfaat dan berharga dalam kehidupan sehari -hari.46 Nilai dalam hal ini adalah konsep yang berupa ajaran-ajaran Islam, dimana ajaran Islam itu sendiri merupakan seluruh ajaran Allah yang bersumber al-Qur’an dan Sunnah yang pemahamannya tidak terlepas dari pendapat para ahli yang telah memahami dan menggali ajaran
45 Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Raja Grafindo, 1998), 359.
46 Jalaluddin Rahmat dan Ali Ahmad Zein, Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan Islam (Surabaya: Putra al- Ma’rif, 1994), 67.
Islam.47 Atau bisa dikatakan nilai yang dimaksud di sini adalah ajaran apa saja yang dapat diambil untuk diaplikasikan dalam nilai adalah suatu perangkat keyakinan atau perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pemikiran, perasaan, keterikatan maupun perilaku.48 Dalam Kamus Bahasa Indonesia nilai artinya sifat -sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.49 Cukup sulit mendapatkan rumusan definisi nilai dengan batasan yang jelas, mengingat banyak pendapat tentang definisi nilai yang masing -masing memiliki tekanan yang berbeda. Berikut dikemukakan beberapa pendapat para ahli tentang definisi nilai:
a. Menurut Sidi Gazalba, nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ia ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki, disenangi dan tidak disenangi.50
b. Chabib Thoha mengatakan bahwa nilai merupakan sifat yang melekat pada sesuatu (sistem kepercayaan) yang telah
47 Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam (Bandung: Dipenogoro, 1989), 27.
48 Abu Ahmadi dan Noor Salimi, Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam (Jakarta:
Bumi Aksara, 2008), 202.
49 W.JS. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), 677.
50 Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), 20.