• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Supervisi Klinis dalam Peningkatan Kompetensi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Temuan Khusus Penelitian

1. Implementasi Supervisi Klinis dalam Peningkatan Kompetensi

Supervisi klinis merupakan suatu bentuk bantuan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannya melalui siklus yang sistematis dalam perencanaan, pengamatan yang cermat, dan pemberian balikan yang segera secara objektif tentang penampilan pengajarannya yang nyata untuk meningkatkan profesionalsme dalam mengajar yang difokuskan pada pada penampilan guru secara nyata di kelas, termasuk pula guru sebagai peserta atau partisipasi aktif dalam proses supervisi tersebut.

Dalam hal ini supervisi klinis dilakukan oleh kepala sekolah SMK Muhammadiyah 1 Metro berkaitan dengan supervisi klinis terhadap guru PAI di SMK Muhammadiyah 1 Metro, maka dapat dijelaskan berdasarkan hasil wawancara sebagaimana di bawah ini:

Menurut Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 1 Metro sebagai nara sumber pertama, bahwa beliau memahami tentang supervisi klinis. Hal ini sesuai dengan pernyataan kepala sekolah SMK Muhammadiyah 1 Metro sesuai dengan petikan wawancara berikut ini:

Saya mengetahui tentang supervisi klinis adalah supervise yang bisa dilakukan oleh pengawas sekolah, kepala sekolah dan guru senior dalam pembelajaran, pribadi guru, administrasi yang berupa bantuan dalam proses belajar mengajar agar pelaksanaan pembelajaran lebih baik sebagaimana yang diharapkan sekolah dan pemerintah. (W.1/

F.1.1/SHT/08/11/17)

Supervisi klinis juga dipahami oleh Wakil Kepala sekolah bidang kurikulum dalam petikan wawancara sebagai berikut ini:

Supervisi klinis adalah bentuk bimbingan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannnya melalui siklus yang sistematis. (W.2/ F.1.1/HRK/08/11/17)

Dari dua pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa supervisi klinis merupakan suatu bentuk supervisi atau pengawasan yang dilaksanakan oleh pengawas sekolah, kepala sekolah dan guru senior dimana dalam kegiatan supervisi dilakukan pembimbingan secara professional. Pembimbingan yang dilakukan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing guru.

Supervisi klinis dilakukan bukan tanpa adanya alasan atau kebutuhan.

Supervisi klinis dipilih tentunya untuk melakukan pengawasan dengan tujuan tertentu. Adapun alasan dipilihnya supervisi klinis yang dilakukan sesuai dengan petikan wawancara berikut ini:

Sebagai pertimbangan melakukan supervisi klinis, yang pertama adalah selama ini jarang sekali pengawas sekolah malaksanakannya, Kedua, atas dasar permintaan guru dan tugas sebagai kepala sekolah sebagai supervisor. Ketiga supervisi klinis dilaksanakan oleh kepala sekolah sebagai supervisor sesuai dengan jenis permasalahan yang dihadapi. Setiap permasalahan yang ditemui tidak harus sama dengan sistem/cara penyelesaiannya. Suatu permasalahan harus diselesaikan dengan cara yang sesuai dan belum tentu dengan supervisi klinis”.

(W.1/ F.1.2/SHT/08/11/17)

Tujuan dari supervisi klinis juga dipahami oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum yang menyatakan bahwa:

Supervisi klinis dilakukan agar para guru dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, utamanya bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran agar dapat menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. (W.2/ F.1.2/HRK/08/11/17)

Dari kedua pendapat di atas, dapat dinyatakan bahwa pemilihan supervisi klinis dikarenakan adanya tidak adanya pengawas sekolah yang melaksanakannya, keinginan untuk memberikan bimbingan kepada guru agar

dapat menyelesaikan berbagai kesulitan yang dihadapinya. Supervisi klinis merupakan supervisi yang dilakukan dengan pembimbingan sesuai dengan kebutuhan setiap guru. Karena itu, kegiatan ini akan berbeda-beda antara guru yang satu dengan guru lainnya. Untuk itu, pelaksanaan supervisi klinis tentu akan berbeda dengan supervisi pada umumnya. Sehubungan dengan hal tersebut, mengenai pelaksanaan supervisi klinis ini, salah satu guru pendidikan agama Islam menyatakan bahwa:

Ya, kepala sekolah melakukan supervisi klinis terhadap guru pendidikan agama Islam yang mana pelaksanaanya dibantu oleh waka kurikulum. (W.3/ F.1.1/ZMD/08/11/17)

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kepala sekolah melakukan supervisi klinis terhadap dirinya dan rekan-rekannya dibantu oleh waka kurikulum.

Hal senada juga dikemukakan oleh beberapa guru PAI menyatakan bahwa kepala sekolah melakukan supervisi klinis. Hal ini sebagaimana dikemukakan guru PAI lainnya yang menyatakan sesuai dengan petikan wawancara berikut ini:

Kepala sekolah melakukan kegiatan supervisi di kelas, melihat RPP yang saya miliki dan memberikan komentar perbaikan. (W.4/

F.1.1/DMC/08/11/17

Dari pernyataan di atas menunjukan bahwa kepala sekolah melakukan supervisi klinis di kelas umtuk perbaikan rencana pembelajaran. Hal senada juga disampaikan guru pendidikan agama Islam lainnya sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Kami melakukan konsultasi kepada kepala sekolah yang sedang melakukan supervisi di sekolah kami. (W.5/ F.1.1/ADB/09/11/17)

Dari beberapa pernyataan di atas menunjukkan bahwa kepala sekolah melakukan supervisi klinis di sekolah, yaitu melakukan pengawasan terhadap kegiatan pembelajaran di kelas termasuk memberikan masukan terhadap guru tentang beberapa hal yang terkait dengan masalah pembelajaran.

Namun dari beberapa nara sumber lain diketahui bahwa mereka tidak mengetahui adanya supervisi klinis hal ini sesuai dengan petikan wawancara berikut ini:

Iya, kadang-kadang saya disupervisi kepala sekolah tetapi bukan supervisi kelas, mungkin faktor umur saya ini yang sudah tua sehingga kepala sekolah enggan untuk mensupervisi diri saya. (W.6/

F.1.1/MHL/10/11/17)

Dari perbedaan informasi di atas, maka dapat dinyatakan bahwa kepala sekolah melakukan supervisi klinis terhadap beberapa guru, tetapi tidak melakukan supervisi klinis terhadap beberapa guru lain. Dengan kata lain bahwa kepala sekolah belum sepenuhnya melakukan supervisi klinis terhadap semua guru di SMK Muhammadiyah 1 Metro. Hal ini tentu ada sebabnya mengapa kepala sekolah tidak melakukan supervisi klinis terhadap semua guru. Dikonfirmasikan lagi dengan dengan kepala sekolah, menyatakan sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Tentu tidak semua guru mendapatkan supervisi klinis, karena tidak semua guru membutuhkannya. Selama yang dilakukan guru sudah baik, ya sudah, artinya seorang guru tersebut sudah dapat merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi pembelajaran. Sehingga supervisi klinis menurut saya hanya diutamakan terhadap guru yang mengalami kesulitan. (W.1/ F.1.3/SHT/08/11/17)

Dari informasi tersebut jadi jelas bahwa tidak semua guru mendapatkan supervisi klinis. Supervisi klinis sebagai supervisi untuk

melakukan perbaikan diperuntukkan guru yang mengalami kesulitan dalam kegiatan pembelajaran. Karena itu perlu dibimbing dan diarahkan agar kesulitannya dapat teratasi dan dapat melakukan pembelajaran secara normal dan wajar. Selanjutnya mengenai pelaksanaannya, kepala sekolah menyatakan sesuai dengan petikan wawancara berikut:

Pelaksanaan supervisi klinis dilaksanakan di ruang kelas oleh saya sendiri dibantu waka kurikulum dan Bapak/Ibu guru di mulai dari pengawasan setiap pagi secara langsung di kelas maupun saya melihat dari layar CCTV di ruangan saya untuk melihat pembelajaran yang ada di kelas. kemudian saya melaksanakan supervisi klinis yang dimulai dari pertemuan awal (perencanaan), pelaksanaan, dan pertemuan akhir (monitoring dan evaluasi). Pada tahap awal difokuskan dalam hal mendesain program perencanaan supervisi klinis, melakukan pengkajian RPP. Tahap pelaksanaan dilakukan pengawas: (a) deteksi kompetensi guru secara lesan; (b) administrasi pembelajaran; (c) proses belajar mengajar di kelas; (d) pembinaan RPP; (e) monitoring; (f) pengembangan RPP; (g) evaluasi; (h) peningkatan mutu pembelajaran; (i) pengembangan bahan ajar; (j) pengembangan media; (k) deteksi kesulitan belajar siswa; dan (l) memberikan solusi kepada siswa yang mengalami hambatan belajar.Tahap yang terakhir adalah monitoring dan evaluasi. Dalam tahap ini, kepala sekolah mengadakan kegiatan monitoring, evaluasi dan pengembangan pada pelaksanaan tahap kedua. Selanjutnya supervisi klinis dilaksanakan kepada Bapak/Ibu guru yang mengalami kesulitan/ permasalahan baik dalam pembelajaran, administrasi dan lain-lain, dan dalam melaksanakan supervisi ini, kepala sekolah melaksanakannya secara berkesinambungan tidak hanya sekali saja, namun dipantau terus perkembangannya untuk terselesaikannya masalah yang dihadapi. (W.1/ F.1.4/SHT/08/11/17)

Dari pendapat kepala sekolah dikuatkan dengan adanya hasil dokumentasi yang berupa intrumen penilaian guru dalam pembalajaran di kelas. (D.I./F.1/08/11/17)

Dari pernyataan di atas, maka dapat diketahui bahwa pelaksanaan supervisi klinis dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Lebih lanjut tentang pelaksanaan

supervisi klinis, bahwa setiap kegiatan tentu dilakukan perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Sangat perlu untuk direncanakan, sebab semua program kalau tidak direncanakan hasilnya juga nanti kurang bagus sehingga pelaksanaan supervisi klinis pun harus direncanakan dengan memberikan intrumen evaluasi diri dan wawancara kepada guru pendidikan agama Islam merupakan pertemuan awal. (W.1/ F.1.5/SHT/08/11/17)

Dari pendapat di atas dikuatkan dengan dokumen Evaluative Chek List yang berisi tentang aspek-aspek yang dilihat sesuai dengan kompetensi guru pendidikan agama Islam. (D.I./F.1/08/11/17)

Dari pernyataan tersebut jelas menunjukkan bahwa supervisi klinis perlu direncanakan. Perencanaan dilakukan dengan melakukan memberikan instrument evaluasi diri dan wawancara sebagai titik awalnya, yaitu untuk mengetahui kebutuhan guru atau hal-hal yang menjadi kesulitan guru pendidikan agama Islam. Lebih lanjut tentang pelaksanaan supervisi klinis, guru pendidikan agama Islam menyatakan sesuai dengan petikan wawancara berikut :

Beberapa kali kepala sekolah menanyakan kesulitan-kesulitan yang kami hadapi dalam kegiatan pembelajaran, namun beliau tidak memberikan solusinya. Informasi tersebut menunjukkan bahwa kepala sekolah berusaha mencari masalah yang dihadapi oleh guru. (W.3/

F.1.2/ZMD/08/11/17)

Pernyataan senada dikemukakan oleh guru pendidikan agama Islam lainnya sesuai dengan hasil petikan wawancara sebagai berikut:

Kami diminta untuk mengisi instrument evaluasi diri dan mengemukakan berbagai permasalahan yang kami hadapi di kelas, permasalahan guru terhadap siswa dan beliau mencatatnya. Selain itu kepala sekolah juga melihat perangkat pembelajaran kami dan beliau menanyakan berbagai kesulitan dalam membuatnya. (W.5/

F.1.2/ADB/09/11/17)

Berdasarkan beberapa informasi di atas menunjukkan bahwa kepala sekolah mencari permasalahan yang dihadapi oleh guru, yaitu dengan melihat hasil dari evaluasi diri guru pendidikan agama Islam dan menanyakan permasalahan guru pendidikan agama Islam dalam pembelajaran di kelas dan juga melihat perangkat pembelajaran guru. Kegiatan tersebut nampak sebagai kegiatan untuk mengumpulkan data dan informasi. Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan perencanaan dalam melakukan supervisi.

Lebih lanjut dalam perencanaan supervisi klinis, pihak yang terkait perlu memahami kegiatan yang akan dilakukan. Sehubungan dengan informasi di atas tentang perlunya memperoleh data dan memberitahukan tentang rencana supervisi kepada guru dinyatakan sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Kadang-kadang tidak, tetapi khusus supervisi klinis harus diberi tahu terlebih dahulu karena sebelum pelaksanaan harus bermusyawarah antara, kepala sekolah, staf pimpinan, guru pendidikan agama Islam pada khusunya dan staf tata usaha secara terbuka. (W.1/

F.1.6/SHT/08/11/17)

Dari pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dalam melakukan supervisi klinis, kepalas sekolah memberitahu kepada guru dan waka kurikulum terlebih dahulu. Pemberitahuan ini tentunya memiliki tujuan.

Namun secara jelas bahwa supervisi klinis memerlukan kerjasama antara supervisor dengan yang disupervisi. Jadi pemberitahuan rencana ini dapat dikatakan memiliki tujuan agar terjadi kerjasama yang baik antara supervisor dengan yang disupervisi. Sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Kepala sekolah memberitahukan kepada kami selaku penanggung jawab ketika akan melakukan supervisi klinis di sekolah kami. Selain itu juga diharapkan guru juga harus mengetahui bahwa kepala sekolah akan melakukan supervisi klinis. (W.2/ F.1.3/HRK/08/11/17)

Jadi, pihak yang terkait dengan kegiatan pengawasan sebelumnya diberitahu akan kegiatan yang hendak dilakukan. Sehingga akan terjadi kerjasama antara berbagai pihak yang terkait dalam kegiatan supervisi klinis.

Hal senada juga dikemukakan salah satu guru pendidikan agama Islam yang menyatakan sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Sebelum kepala sekolah akan melakukan supervisi, kami diberitahu terlebih dahulu oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Dengan demikian kami juga siap untuk mengikuti supervisi klinis. (W.4/

F.1.2/DMC/08/11/17)

Pernyataan tersebut didukung pula oleh guru pendidikan agama Islam yang lainnya yang menyatakan sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Waka Kurikulum memberitahu kami ketika akan dilakukan supervisi klinis oleh kepala sekolah. Karena itu kami juga siap-siap agar dapat mengikuti supervisi dengan baik. (W.2/ F.1.3/ADB/09/11/17)

Berdasarkan beberapa informasi di atas, kegiatan supervisi klinis dilakukan oleh kepala sekolah dengan memberitahukan kepada pihak-pihak yang terkait, yaitu Waka kurikulum dan guru yang bersangkutan. Hal ini penting karena kegiatan supervisi klinis ditujukan untuk melakukan perbaikan pembelajaran bagi guru yang mengalami kesulitan. Setiap kegiatan yang dilakukan, perlu diketahui apakah sudah mencapai tujuan atau belum. Dari kedua pernyataan di atas didukung dengan hasil observasi sesuai dengan petikan observasi sebagai berikut:

Ibu waka kurikulum menghampiri salah satu guru pendidikan agama Islam di ruang guru untuk mempersiapkan perangkat pembelajaran, yang meliputi; kalender pendidikan, program tahunan, program semester, penyusunan silabus, penyajian materi sampai pada kegiatan remedial dan disyahkan oleh kepala sekolah karena besuk akan akan nada supervisi pembelajaran di kelas. (O/ F.1.O1//08/11/17)

Kegiatan untuk mengetahui pencapaian tujuan biasanya disebut dengan kegiatan evaluasi. Hal ini juga dilakukan pada kegiatan supervisi klinis, sebagaimana dinyatakan oleh kepala sekolah tentang pelaksanaan evaluasi supervisi klinis, sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Dalam pelaksanaan evaluasi saya melihat pembelajaran di kelas secara lansung sambil mengisi intrumen penilaian proses belajar pada umumnya, keterampilan khusus dalam mengajar dan suasana kelas setelah itu hasil dari evaluasi tadi dibicarakan kembali bersamaan dengan kegiatan kelompok kerja guru yang dilaksanakan bersama- sama antara kepala sekolah, waka kurikulum, guru PAI, dan pengurus KKG dan pelaksanaannya secara berkelanjutan. (W.1/

F.1.7/SHT/08/11/17)

Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa kegiatan evaluasi dari supervise klinis sudah dilaksanakan secara terencana bersamaan dengan kegiatan KKG. Dalam kegiatan KKG tersebut, maka dapat dilakukan evaluasi bersama antara kepala sekolah, waka kurikulum, guru PAI dan pengurus KKG, sehingga dapat diketahui efektivitas dari supervisi klinis yang dilakukan.

Sehubungan informasi di atas, beberapa informasi di bawah ini ternyata banyak yang mendukung kebenarannya. Informasi tersebut sesuai dengan petikan wawancara sebagai beriku:

Sesuai dengan rencana, kepala sekolah menghadiri kegiatan KKG dan melakukan evaluasi terhadap kegiatan supervisi klinis yang telah dilakukan di sekolah. (W.4/ F.1.3/DMC/08/11/17)

Hal senada juga mendukung informasi kebenaran kegiatan evaluasi kegiatan supervisi sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Setelah kami mengikuti supervisi klinis, kemudian dievaluasi oleh kepala sekolah dengan memberikan hasil pelaksanaan supervisi klinis dengan intrumen yang telah disiapkan oleh kepala sekolah. Kemudian kegiatan evaluasi dilakukan di KKG bersamaan dengan teman guru lain yang juga mengikuti kegiatan supervisi klinis. (W.5/

F.1.4/ADB/09/11/17)

Sehubungan dengan pelaksanaan evaluasi wakil kepala sekolah bidang kurikulum juga menyatakan sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum, saya tetap harus memberikan pengawasan kepada guru. Apalagi ada supervisi klinis yang dilakukan oleh kepala sekolah, saya harus mengetahui sejauh mana dapat memberikan solusi atas kesulitan yang dihadapi guru.

(W.2/ F.1.4/HRK/08/11/17)

Dari beberapa pendapat di atas dikuatkan dengan dokumentasi activity chek list tentang proses belajar mengajar yang berisi secara garis besar tentang proses mengajar pada umunya, keterampilan khusus dalam mengajar dan suasana kelas. (D.3./F.1/08/11/17)

Dari beberapa yang Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa wakil kepala sekolah bidang kurikulum juga turut berpartisipasi dalam kegiatan evaluasi supervisi. Karena wakil kepala sekolah bidang kurikulum bertanggung jawab terhadap kesulitan yang dihadapi guru, sehingga jika ada supervisi klinis, maka wakil kepala sekolah bidang kurikulum juga harus mengetahui penyelesaian masalah yang dihadapi guru. Hal ini didukung dari pernyataan salah satu guru pendidikan agama Islam sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Dalam kegiatan supervisi ini, kepala sekolah langsung memberikan evaluasi, yaitu dengan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang saya lakukan yang dianggap kurang benar. Sehingga saya dan kawan- kawan langsung memahami dengan baik. Evaluasi supervisi klinis terhadap guru dilaksanakan dengan berkala dan terprogram antara lain; hasil tugas dengan beberapa indikator yang dapat diukur perilaku dan ciri individu (W.3/ F.1.3/ZMD/08/11/17)

Dari pernyataan di atas menunjukkan bahwa supervisi klinis dilakukan secara berkala dan terprogram. Kegiatan evaluasi mencakup hasil pelaksanaan tugas yang dinilai berdasarkan indikator yang sudah ditetapkan yang meliputi perilaku dan ciri yang ada pada guru pada saat pembelajaran di kelas.

Berdasarkan beberapa informasi di atas, secara jelas menunjukkan bahwa evaluasi terhadap supervisi klinis yang dilakukan secara berkala atau periodik, meskipun tidak selalu tepat waktu. Hal ini menunjukkan bahwa kepala sekolah benar-benar melakukan supervisi dan melakukan evaluasi secara baik. Selain itu, kegiatan evaluasi tidak hanya dilakukan secara langsung mengunjungi guru yang dievaluasi, tetapi juga melalui telepon.

Dengan demikian, pengawas memiliki rasa tanggung jawab atas supervisi yang dilakukannya. Selain itu, kegiatan evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui efektivitas supervisi klinis sebagaimana penjelasan di atas menunjukkan bahwa kegiatan evaluasi dilakukan bersamaan dengan kegiatan supervisi. Kegiatan evaluasi ini dapat dikatakan sebagai kegiatan evaluasi langsung. Dengan evaluasi secara langsung, maka guru dapat memahami dengan baik penyelesaian masalah yang dihadapinya, sehingga dapat dikatakan bahwa kegiatan supervisi klinis tersebut lebih efektif.

Dari hasil wawancara di atas, maka dapat diketahui salah satu kelebihan dari kegiatan supervisi klinis, yaitu permasalahan langsung dibahas antara supervisor dan guru. Lebih jelasnya, dinyatakan oleh kepala sekolah sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Kelebihannya suatu pemasalahan dapat diselesaikan dengan tuntas karena dipantau terus, sedangkan kekurangannya perlu waktu yang lebih lama. (W.1/ F.1.8/SHT/08/11/17)

Hal senada juga dikemukakan oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Dengan supervisi klinis, maka guru dapat memperoleh jalan keluar dari permasalahan dengan baik dan dievaluasi secara periodik.

Sehingga kegiatan guru dapat dipantau secara terus menerus. Tetapi supervisi klinis ini memerlukan waktu yang lama. Jadi waktunya tersebut yang menjadi permasalahan. (W.2/ F.1.5/HRK/08/11/17) Dari pernyataan tersebut jelas bahwa kelebihan supervisi klinis adalah bahwa permasalahan yang dihadapi guru dapat diselesaikan secara tuntas, karena langsung dibahas dan dikaji saat supervisi dilakukan. Namun demikian, ada kelemahan dalam supervisi klinis, yaitu penggunaan waktu supervisi. Kegiatan supervisi klinis ternyata tidak dapat dilakukan dengan cepat, memerlukan waktu yang lebih lama.

Supervisi klinis merupakan kegiatan pengawasan untuk menyelesaikan suatu masalah. Hal ini tentu berkaitan dengan pencapaian kompetensi profesional yang dilakukan oleh guru. Sesuai dengan tujuannya, maka guru diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan atau kesulitannya sehingga dapat melakukan tugasnya secara maksimal. Sehubungan dengan hal tersebut, maka kepala sekolah menyatakan tentang kompetensi

professional guru PAI setelah adanya supervisi klinis sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Dengan adanya pembinaan guru terus berusaha memperbaiki proses pembelajaran misalnya; memakai alat peraga, alat media, memperbaiki administrasi akademik, melengkapi instrumen, penilaian, perbaikan dan pengayaan. (W.1/ F.1.9/SHT/08/11/17) Berdasarkan pernyataan di atas bahwa supervisi klinis dilakukan untuk melakukan pembinaan agar guru terus berusaha memperbaiki proses pembelajaran. Pembinaan dilakukan agar guru senantiasa meningkatkan kualitas proses pembelajaran dengan memakai alat peraga, media, memperbaiki administrasi akademis, melengkapi instrumen pembelajaran, melakukan penilaian, perbaikan, dan pengayaan. Berbagai hal tersebut merupakan tugas guru, namun masih banyak guru yang belum maksimal dalam melaksanakan tugasnya.

Pernyataan di atas didukung oleh informasi yang disampaikan oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Setelah diadakan supervisi klinis, guru dapat melakukan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran meskipun media yang digunakan masih bersifat sederhana. Guru yang lainnya juga mengusulkan untuk pengadaan media yang lebih modern agar dapat menyelenggarakan pembelajaran secara maksimal. Selain itu, guru dapat menerapkan beberapa metode pembelajaran yang berbeda.

(W.2/ F.1.6/HRK/08/11/17)

Dengan adanya supervisi klinis, ternyata guru dapat meningkatkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media dan metode yang berbeda. Hal ini berarti selama ini guru memiliki permasalahan dalam penggunaan media dan metode pembelajaran. Lebih lanjut tentang

kompetensi professional guru pendidikan agama Islam. Salah satu guru pendididkan agama Islam memberikan informasi yang mendukung tentang penggunaan media pembelajaran, sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Selama ini kami memang merasa kurang bisa menggunakan media pembelajaran, karena memang kami kurang memahami tentang manfaat dan cara menggunakan media. (W.3/ F.1.4/ZMD/08/11/17) Hal senada disampaikan guru pendidikan Islam satunya yang memberikan pernyataan sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:

Setelah ada supervisi klinis yang saya ikuti, saya berusaha menggunakan media pembelajaran yang ada dan sederhana. Sekarang saya paham bahwa media tidak hanya LCD atau media modern lainnya, tetapi benda-benda yang ada di sekitar kita ternyata juga dapat digunakan sebagai media. Setelah adanya supervisi klinis ini, saya sekarang lebih tahu bahwa media pembelajaran sebenarnya dapat dibuat sendiri dan juga dapat diperoleh dari lingkungan sekitar kita.

(W.4/ F.1.4/DMC/08/11/17)

Dari kedua pernyataan di atas didukung lagi guru pendidikan agama Islam lainnya dengan memberikan informasi sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut ini:

Saya sekarang dapat membuat media pembelajaran sendiri setelah mengikuti supervisi klinis. Jadi saya tidak perlu menggunakan LCD untuk menjelaskan materi pembelajaran. (W.5/ F.1.5/ADB/09/11/17) Berdasarkan beberapa informasi di atas, maka dapat diketahui bahwa Supervisi klinis yang dilakukan oleh pengawas sekolah memiliki dampak yang baik. Salah satunya berdampak pada pemahaman dan keterampilan dalam menggunakan dan membuat media pembelajaran. Hal yang dipahami oleh guru adalah bahwa media pembelajaran tidak harus menggunakan LCD

Dokumen terkait