• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM "

Copied!
221
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

DI SMK MUHAMMADIYAH 1 METRO

TESIS

Diajukan Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Magister dalam Bidang Pendidikan Agama Islam

Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Oleh:

Oleh:

Dwi Susanto

NPM : 1605511

PASCASARJANA (Ps)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO

1439 H / 2018 M

(2)

ii

PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

DI SMK MUHAMMADIYAH 1 METRO

TESIS

Diajukan Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Magister dalam Bidang Pendidikan Agama Islam

Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Oleh:

Oleh:

Dwi Susanto

NPM : 1605511

Pembimbing I : Dr. Mahrus As’ad, M. Ag Pembimbing II : Dr. Khoirurrijal, MA

PASCASARJANA (Ps)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO

1439 H / 2018 M

(3)

iii

DWI SUSANTO. 2017. CLINICAL SUPERVISION IMPLEMENTATION IN IMPROVING THE PROFESSIONAL COMPETENCE OF TEACHERS OF ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION IN SMK MUHAMMADIYAH 1 METRO

This thesis aims to examine the problems of implementation of clinical supervision in improving professional competence of PAI teachers in SMK Muhammadiyah 1 Metro with the focuses of this research are: 1) How is the implementation of clinical supervision in improving professional competence of PAI teachers in SMK Muhammadiyah 1 Metro? 2) What supporting factors are faced in the implementation of clinical supervision in improving the professional competence of PAI teachers in SMK Muhammadiyah 1 Metro? 3) What inhibiting factors are faced in the implementation of clinical supervision in improving the professional competence of PAI teachers in SMK Muhammadiyah 1 Metro? 4) What kind of efforts to solve the obstacle of the implementation of clinical supervision in improving professional competence of PAI teachers in SMK Muhammadiyah 1 Metro?

The design of this research uses qualitative approach with descriptive research model. So this research is descriptive qualitative research. Data collecting was conducted through interview, observation and documentation while data analysis is using miles and Huberman techniques, those are: data reduction, data presentation, and conclusion.

The results showed that: (1) Clinical Supervision performed by headmaster of SMK Muhammadiyah 1 Metro assisted by Vice Principal of Curriculum Field that way of individual techniques, class observation and private conversation to Islamic religious education teacher through planning, implementation and monitoring evaluation. (2) Another factors are high support from school management regarding the completeness of assessment instruments, facilities and infrastructure, and human relationships between supervisors and teachers of Islamic religious education. (3) Barriers to the implementation of clinical supervision: (a) lack of time of clinical supervision; (b) teachers sometimes feel poorly prepared and disturbed because they are not used to being supervised clinically; (c) the assessment of Islamic religious education teachers is only formative; (d) in teaching and learning process some teachers have not used media tools; (e) teachers have limited ability in developing teaching materials;

(4) Efforts to solve the obstacles: (a) problems are made of priority scale in the solution; (b) supervisors need to consider psychological, sociological, religious, comfort and other aspects; (c) the improvement and coaching of the working group of teachers of Islamic religious education; (d) the need for training, seminars, short course, and making higher education; (e) conducting regular, gradual and sustainable coaching and conducting comparative study visit to more advanced schools.

(4)

iv

DWI SUSANTO. 2017. IMPLEMENTASI SUPERVISI KLINIS DALAM PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMK MUHAMMADIYAH 1 METRO

Tesis ini berupaya mengkaji permasalahan implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional di SMK Muhammadiyah 1 Metro dengan fokus penelitian ini adalah: 1) Bagaimana implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru PAI di SMK Muhammadiyah 1 Metro? 2) Faktor pendukung apa saja yang dihadapi dalam implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru PAI di SMK Muhammadiyah 1 Metro? 3) Faktor penghambat apa saja yang dihadapi dalam implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru PAI di SMK Muhammadiyah 1 Metro? 4) Upaya apa saja untuk mengatasi penghambat implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional PAI di SMK Muhammadiyah 1 Metro?

Desain penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan model penelitian deskriptif. Jadi penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi sedangkan analisa data menggunakan teknik Miles and Huberman yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Supervisi klinis dilakukan oleh kepala sekolah SMK Muhammadiyah 1 Metro yang dibantu Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dengan cara teknik perorangan, observasi kelas dan percakapan pribadi terhadap guru pendidikan agama Islam dengan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring serta evaluasi. (2) faktor pendukung:

adanya dukungan yang tinggi dari pihak pengelola sekolah berkenaan dengan kelengkapan intrumen penilaian, sarana dan prasarana, dan hubungan yang manusiawi terhadap supervisor dengan guru pendidikan agama Islam. (3) Hambatan pelaksanaan supervisi klinis: (a) kurangnya waktu supervisi klinis; (b) guru terkadang merasa kurang siap dan terganggu karena belum terbiasa disupervisi klinis; (c) penilaian guru pendidikan agama Islam hanya secara formatif saja; (d) dalam proses belajar mengajar sebagian guru belum memakai alat media; (e) guru terbatas kemampuan dalam mengembangkan bahan ajar; (4) Upaya dalam mengatasi hambatan: (a) permasalahan dibuat skala prioritas dalam pemecahannya; (b) supervisor perlu mempertimbangkan aspek psikologis, sosiologis, religius, kenyamanan dan lainnya; (c) perbaikan serta pembinaan bersama kelompok kerja guru pendidikan agama Islam; (d) perlu adanya pelatihan/diklat, seminar, shortcourse, dan sekolah lanjut; (e) pembinaan secara rutin, bertahap dan berkelanjutan dan melakukan studi komparatif visitasi ke sekolah-sekolah yang lebih maju.

(5)

v

(6)

vi

(7)

vii

(8)

viii

اَهُّيَأَٰٓ َي ٍَيِذَّنٱ يِف ْاىُحَّسَفَت ۡىُكَن َميِق اَذِإ ْا َٰٓىَُُياَء ِضِه َجًَۡنٱ

ْاىُحَسۡفٱ َف ِخَسۡفَي

َُّللّٱ ۡۖۡىُكَن

َميِق اَذِإ َو ْاو ُشُشَٱ

َف ْاو ُشُشَٱ ِعَف ۡزَي

َُّللّٱ ٍَيِذَّنٱ َو ۡىُكُِي ْاىَُُياَء ٍَيِذَّنٱ

ْاىُتوُأ َىۡهِعۡنٱ

َو ٖۚ ت َج َرَد َُّللّٱ

ٞزيِبَخ ٌَىُهًَۡعَت اًَِب ١١

Artinya: Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang- lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan1

1 Departemen Agama RI , Al-Hikmah Al- Qur’an dan Terjemah, (Bandung: CV Diponegoro, 2006), h. 543

(9)

ix

Huruf Arab Huruf Latin Huruf Arab Huruf Latin

ا

Tidak dilambangkan

ط

ṭ

ب

B

ظ

ẓ

ت

T

ع

´

ث

ś

غ

g

خ

J

ف

f

ح

ḥ

ق

q

ج

Kh

ك

k

د

D

ل

l

ذ

ż

و

m

ر

R

ٌ

n

س

Z

و

w

ص

S

ِ

h

ش

Sy

ء

`

ص

Ş

ئ

y

ض

ḍ

Maddah

Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:

Harakat dan Huruf Huruf dan Tanda

- ا -

ي â

-

ي î

-

و û

-

ي ا ai

-

و ا au

Pedoman Transliterasi ini dimodifikasi dari : Tim Puslitbang Lektur Keagamaan, Pedoman Transliterasi Arab-Latin, Proyek Pengkajian dan Pengembangan Lektur Pendidikan Agama, Badan Lotbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, Jakarta, 2003.

(10)

x

Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan karunia dan hidayah-Nya, maka saya persembahkan karya saya ini kepada:

1. Istri tercinta (Mariana) yang penuh kasih sayang, perhatian serta kesabaran dalam mendo’akan demi keberhasilan saya.

2. Kedua anakku tercinta (Meliana Ayu Safitri dan Edo Prasetya Wibowo), yang menjadi motivasi saya dalam menyelasaikan penulisan Tesis ini.

(11)

xi

مسب الله نحمرلا ميحرلا

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas taufik dan inayah- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tesis ini.

Penulisan Tesis ini adalah sebagai salah satu bagian dari persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan program Strata Dua (S2) atau magister pada Pascasarjana (Ps) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro guna memperoleh gelar M.Pd.

Dalam upaya penyelesaian Tesis ini, penulis telah banyak menerima bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karenanya penulis mengucapkan terimakasih kepada Yth:

1. Prof. Dr. Hj. Enizar, M.Ag, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro.

2. Dr. Hj. Tobibatussa’adah, M.Ag selaku Direktur sekaligus selaku Kaprodi Hukum Keluarga Pascasarjana (Ps) IAIN Metro yang senantiasa tanggap terhadap kesulitan-kesulitan mahasiswanya dan senantiasa memberikan motivasi terhadap mahasiswa.

3. Dr. Sri Andri Astuti, M.Ag., selaku Kaprodi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana (Ps) IAIN Metro yang senantiasa tanggap terhadap kesulitan- kesulitan mahasiswanya dan senantiasa memberikan motivasi terhadap mahasiswa.

(12)

xii

Metro sekaligus sebagai pembimbing I yang telah menyediakan waktu untuk melakukan bimbingan dan arahan.

5. Dr. Khoirurrijal, S.Ag., MA, selaku Kaprodi Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana (Ps) IAIN Metro sekaligus pembimbing II yang telah menyediakan waktu untuk melakukan bimbingan dan arahan.

6. Segenap dosen dan karyawan Pascasarjana (Ps) IAIN Metro, yang telah banyak memberikan bantuan dan bimbingan.

7. Istri dan anak-anakku tercinta yang telah banyak memberikan motivasi.

Kritik dan saran demi perbaikan Tesis ini sangat diharapkan dan akan diterima dengan kelapangan dada. Dan akhirnya semoga hasil penelitian ini kiranya dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan agama Islam.

Aamiin.

Metro, 05 Februari 2018 Penulis

Dwi Susanto NPM . 1605511

(13)

xiii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL DEPAN ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

ABSTRACT ... iii

ABSTRAK ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

HALAMAN PERSETUJUAN ... vi

PERNYATAAN ORISINALITAS ... vii

HALAMAN MOTTO ... viii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... ix

HALAMAN PERSEMBAHAN ... x

KATA PENGANTAR ... xi

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Pertanyaan Penelitian ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 10

(14)

xiv

E. Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 12

BAB II KAJIAN TEORI ... 17 A. Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam ... 17

1. Pengertian Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam ... 17 2. Karakteristik Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama

Islam ... 21 3. Tipologi Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam . 24 4. Faktor Pembentuk Peningkatan Kompetensi Profesional Guru

Pendidikan Agama Islam ... 32 B. Supervisi Klinis Untuk Peningkatan Kompetensi Profesional Guru

Pendidikan Agama Islam ... 50 1. Pengertian Supervisi Klinis ... 50 2. Tujuan dan Prinsip Supervisi Klinis ... 52 3. Peranan Supervisor dalam Peningkatan Kompetensi Profesional

Guru Pendidikan Agama Islam ... 55 4. Prosedur Implementasi Supervisi Klinis dalam Peningkatan

Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam ... 57

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 68 A. Rancangan Penelitian ... 68

(15)

xv

C. Metode Pengumpulan Data ... 71

1. Wawancara ... 71

2. Pengamatan (Observasi) ... 72

3. Dokumentasi ... 73

D. Teknik Pengujian Keabsahan Data ... 73

E. Teknik Analisis Data ... 74

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 77

A. Temuan Umum Penelitian ... 77

1. Sejarah Berdirinya SMK Muhammadityah 1 Metro ... 77

2. Identitas Sekolah ... 79

3. Visi, Misi dan Tujuan SMK Muhammadiyah 1 Metro ... 80

4. Kondisi Sosiologis dan lokasi penelitian ... 84

B. Temuan Khusus Penelitian ... 96

1. Implementasi Supervisi Klinis dalam Peningkatan Kompetensi Profesional Guru PAI di SMK Muhammadiyah 1 Metro ... 95

2. Faktor pendukung implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro ... 116

3. Faktor penghambat implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro ... 123

(16)

xvi

peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan agama

Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro ... 126

C. Pembahasan ... 130

BAB V PENUTUP ... 143

A. Kesimpulan ... 143

B. Implikasi ... 145

C. Saran ... 145

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(17)

xvii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1 :: Data perbedaan supervise klinis dan non klinis ... 63 Tabel 2 : Keadaan peserta didik SMK Muhammadiyah 1 Metro T.P.

2017/2018 ... 86 Tabel 3 : Data Tenaga Pendidik dan Kependidikan SMK Muhammadiyah

1 Metro T.P. 2017/2018 ... 87 Tabel 4 : Data Sarana dan Prasana SMK Muhammadiyah 1 Metro ... 90

(18)

xviii

Halaman Lampiran 1 : Pedoman Wawancara dengan Kepala Sekolah SMK

Muhammadiyah 1 Metro ... 147

Lampiran 2 : Pedoman Wawancara dengan Waka Kurikulum SMK Muhammadiyah 1 Metro ... 150

Lampiran 3 : Pedoman Wawancara dengan Guru Pendidikan Agama Islam SMK Muhammadiyah 1 Metro ... 152

Lampiran 4 : Pedoman Dokumentasi ... 154

Lampiran 5 : Pedoman Observasi ... 155

Lampiran 6 : Petikan Wawancara ... 156

Lampiran 7 : Foto Kegiatan Penelitian ... 180

Lampiran 8 : Instrumen Penilaian Supervisi Klinis ... 188

Lampiran 9 : Biografi Penulis ... 189

Lampiran 10 : Surat Izin Research ... 190

Lampiran 11 : Surat Tugas Research ... 191

Lampiran 12 : Surat Balasan Izin Penelitian ... 192

Lampiran 13 : Kartu Konsultasi Bimbingan Tesis ... 193

(19)

xix

DAFTAR PUSTAKA

Abd. Kadim Masaong, Supervisi Pembelajaran dan Pengembangan Kapasitas Guru, Bandung: Alfabeta, 2012

Agustinus Hermino, Kepeimpinan Pendidikan di Era Globalisasi, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2014

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perpektif Islam, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007

Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, Jakarta: PT Raja Gravindo Persada, 2013

Akhyak, Profil Pendidik Profil Pendidik Sukses,Surabaya: Elkaf, 2005 Ali Rohmad, Kapita selekta Pendidikan, Jakarta: PT Bina Ilmu, 2004

Ani Puspa Rini, Supervisi Kepala Sekolah dalam Peningkatan Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus di SMKN 10 Malang), dalam http;//www.Digilib UIN Malang, (diakses tanggal 10 Mei 2017)

Arif Maulana, Supervisi Akademik Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kinerja Mengajar Guru (Studi Kasus di Madrasah Aliyah Negeri Malang 1), dalam http;//www.Digilib UIN Malang, (diakses tanggal 10 Mei 2017) Binti Maunah, Supervisi Pendidikan Islam: Teori dan Praktek, (Yogyakarta:

TERAS, 2009

Binti Maunah, Pembinaan Guru dengan Pendekatatan Supervisi klinis, Didaktika Religia Vol 1, No 2 , 2013

E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: PT Rosda Karya, 2007

Farida Sarimaya, Sertifikasi Guru, Bandung: CV Yrama Widya, 2008

Farida Rahmawati, Peran Pengawas dalam Meningkatkan Kompetensi Sosial Guru Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar di Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten Tahun 2008 dalam http;//www. Digilib UIN Sunan Kalijaga (diakses tanggal 15 Mei 2017)

Hammzah B Uno, Profesi Kependidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008

(20)

xx

Ibrahim Bafadal, Supervisi Pengajaran Teori dan Aplikasinya Dalam Membina Profesional Guru, Jakarta: Bumi Aksara, 1992

Imam Suprayogo dan Tobroni, Metode Penelitian Sosial dan Agama, Bandung:

Remaja Rosda Karya, 2010

J. R, Raco, Metode Penelitian Kualitatif, Jenis, Karaktersistik dan keunggulannya, Jakarta: Grasindo, 2010

Juhri AM, Profesi Kependidikan dan Bimbingan Konseling, Metro, CV. Laduny Alifama, Tt

Karniti, Supervisi Klinis dengan Pendekatan “PIS” Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran Guru” Jurnal Penelitian Tindakan Sekolah dan Kepengawasan, UPT Dindikbud Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, ISSN 2355-9683 Vol. 1, No. 2, Oktober 2014

Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008

Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 2002

Luk-Luk Nur Mufidah, Supervisi Pendidikan, Jember: CSS, 2008

M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008

Made Pidarta, Supervisi Pendidikan Kontekstual, Jakarta: Rineka Cipta, 2009 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,

2007, cet, ke 21

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam: di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Rajawali, 2009

_________, Paradigma Pendidikan Islam “Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004

Muhtar dan Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan, Jakarta: Gaung Persada Press Group, 2013

Munardji, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: PT Bina Ilmu, 2004

(21)

xxi

Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013

Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspiratif “Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa” Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2011

Nasution, Metode Researh, Jakarta: Bumi Aksara, 2010

Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008

Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta:

Bumi Aksara, 2004

Piet A. Sahertian, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2000

Piet A. Suhertian dan Frans Mataheru, Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 2006

Rohimah, Pelaksanaan Supervisi Klinis di Sekolah Upaya Peningkatan Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar, (dalam http;//www. Digilib IAIN Surakarta (diakses tanggal 10 Mei 2017)

Sudarwan Danim, Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2002 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2010

_________, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung:

Alfabeta, 2011

Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 1990

Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran dalam Proses pendidikan Bandung:

Alfabeta,2010, cet ke- 2

___________, Kemampuan Profesional dan Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung: Alfabeta, 2009

Sri Banun Muslim, Supervisi Pendidikan Meningkatkan kualitas Profesionalisme Guru, Bandung: Alfabeta, 2013

(22)

xxii 1989

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, Tentang Guru dan Dosen, Bandung: Citra Umbara, 2006

(23)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Agama Islam diharapkan menghasilkan manusia yang selalu menyerpurnakan iman, taqwa, dan akhlak serta berupaya membangun peradapan dan keharmonisan kehidupan khususnya dalam membangun peradapan bangsa yang bermatabat, oleh sebab itu seorang guru pendidikan agama Islam dituntut untuk menanamkan peranan bukan hanya sekedar melaksanakan transformasi ilmu, tetapi juga harus melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendidik, artinya guru harus dapat membentuk sikap anak didiknya sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Islam.

Sebagai pendidik atau pengajar, guru merupakan satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pendidikan, khususnya dalam kurikulum dan peningkatan daya manusia yang dihasilkan dari upaya pendidikan bermuara pada faktor guru. Hal ini menunjukkan bahwa betapa eksisnya peran guru dalam dunia pendidikan.1

Guru berperan dalam menentukan mutu pendidikan manakala memiliki kualifikasi, kompentensi, dan profesionalisme yang memadai. Tercapainya tujuan pendidikan nasional juga menjadi tanggung jawab guru, sebagaimana dinyatakan dalam UU SPN No. 20 tahun 2003 pasal 42 bahwa pendidik harus mempunyai kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang

1 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), cet, ke 21 h. v

(24)

kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.2

Sehingga seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.3

Namun sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi di zaman globalisasi sekarang ini semakin canggih dan mengalami pertukaran yang sangat cepat. Maka sebagai seorang guru pendidikan agama Islam harus dapat menyesuaikan dengan keadaan tersebut salah satunya dengan cara selalu meningkatkan kompetensi profesional.

Guru harus peka dan tanggap terhadap perubahan-perubahan, pembaharuan serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang sejalan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Disinilah tugas guru untuk senantiasa meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas pendidikannya sehingga apa yang diberikan kepada peserta didiknya tidak terlalu ketinggalan dengan perkembangan kemajuan zaman.4

Salah satu di antara beberapa tantangan globalisasi yang harus disikapi guru dengan mengedepankan profesionalisme menurut Kunandar adalah:

2 Agustinus Hermino, Kepeimpinan Pendidikan di Era Globalisasi, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2014), h. 190

3 Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, (Bandung: Citra Umbara, 2006), h. 8-9.

4 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional…., h. 3

(25)

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat dan mendasar. Dengan kondisi ini guru harus bisa menyesuaikan diri dengan responsif, arif dan bijaksana. Responsif artinya guru harus bisa menguasai dengan baik produk ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan, seperti pembelajaran dengan menggunakan multimedia. Tanpa penguasaan Iptek yang baik, maka guru akan tertinggal dan menjadi korban Iptek.5

Sementara itu menurut Kunandar salah satu di antara beberapa paradigma baru yang harus diperhatikan guru dewasa ini adalah guru mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak tertinggal dengan informasi terkini. Guru mempunyai visi ke depan dan mampu membaca tantangan zaman sehingga siap menghadapi perubahan dunia yang tak menentu yang membutuhkan kecakapan dan kesiapan yang baik.6

Oleh karena itu, diperlukan perubahan paradigma (pola pikir) guru, dari pola pikir tradisional menuju pola pikir profesional. Apalagi lahirnya Undang-Undang Guru dan Dosen menuntut sosok guru yang berkualifikasi, berkompetensi, dan bersertifikasi.7

Dewasa ini banyak guru sudah memperoleh sertifikat sebagai guru profesional, namun realitas di lapangan pola pembelajaran sebagai guru

5 Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), h. 38

6 Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru,.. h. 43

7Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru,...h. 42

(26)

profesional belum nampak secara signifikan perubahannya, diakibatkan kurangnya penguasaan materi yang diajarkan, sistem penilaian yang belum berorientasi pada penilaian pada kinerja siswa serta pengembangan profesi dalam kegiatan-kegiatan masih rendah sehingga proses pembelajaran kurang berjalan dengan baik.8

Di samping masalah-masalah di atas yang banyak mengakibatkan seorang guru tidak profesional dalam menjalankan tugasnya adalah kurangnya seorang guru pendidikan agama Islam dalam menggunakan alat media pembelajaran di tempat mereka mengajar serta berbagai macam persoalan hidup baik itu pribadi guru yang bersangkutan yang mana mengakibatkan guru pendidikan agama Islam kurang profesional dalam mengajarnya.

Dalam hal ini guru pendidikan agama Islam sebagai tenaga pendidik yang terjun langsung dalam proses belajar mengajar juga harus bisa menguasai teknologi pendidikan. Sehubungan dengan hal tersebut peningkatan kompetensi profesional guru sangat diperlukan. Peningkatan kompetensi profesional guru tidak lepas dari peran guru senior, kepala sekolah, pengawas sekolah dan seluruh stakehorder dalam sebuah lembaga pendidikan.

Berdasarkan pra survey di SMK Muhammadiyah 1 Metro sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai nilai positif yang mempunyai visi menyiapkan calon wira usaha yang memiliki Imtaq dan Iptek. Keberadaan

8 Abd. Kadim Masaong, Supervisi Pembelajaran dan Pengembangan Kapasitas Guru, (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 202

(27)

sekolah ini dituntut untuk mengembangkan serta meningkatkan mutu pendidikan nasional dan yayasan Muhammadiyah agar dapat bersaing dengan sekolah umum salah satunya dengan peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam.9

Untuk mewujudkan visi pendidikan di SMK Muhammadiyah 1 Metro harus melibatkan faktor, baik yang berhubungan dengan usaha lembaga, anak didik, guru dan prasarana, serta lingkungan pendidikan sebagai suatu sistem saling mendukung melengkapi dalam keberlangsungan proses pendidikan agama Islam, maka kemungkinan besar akan membawa keberhasilan peserta didik. Sebab keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh kompetensi profesional guru dan kemampuan nalar peserta didiknya.

Berdasarkan wawancara awal dengan kepala sekolah SMK Muhammadiyah 1 Metro, diperoleh bahwa untuk mewujudkan visi dan misi SMK Muhammadiyah 1 Metro guru pendidikan agama Islam sangatlah berperan namun saat ini kenyataannya masih ada salah satu guru pendidikan agama Islam yang belum menyandang gelar sarjana pendidikan agama Islam, kesulitan dalam menyusun perangkat pembelajaran, mengolah materi pelajaran yang diampu secara kreatif sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik, melakukan penelitian tindakan kelas untuk peningkatan keprofesionalan, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan diri.10

9 Pra Survey di SMK Muhammadiya 1 Metro, tanggal 17 Juli 2017

10 Wawancara dengan Suharto, Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 1 Metro

(28)

Untuk itu kegiatan supervisi penting dilaksanakan oleh supervisor terhadap guru pendidikan agama Islam, karena itu merupakan fungsi atau proses manajemen yang wajib dilaksanakan secara nyata di sekolah. Sesuai dengan hakekatnya kegiatan supervisi dilakukan oleh supervisor dalam rangka mengetahui sejauh mana tujuan pendidikan itu tercapai sehingga akan diketahui faktor-faktor penyebab yang menghambat tujuan pendidikan tercapai dengan efektif dan efisien.

Dalam praktik supervisi pendidikan, ada beberapa yang dilakukan yaitu konvensional, ilmiah, klinis dan artistic. Supervisi klinis merupakan bantuan bagi guru dalam memperbaiki dan meningkatkan keterampilan mengajarnya dan dapat dilakukan untuk kepentingan calon guru dalam pendidikan pra- jabatan maupun latihan dalam jabatan.11 Penerapan supervisi pendidikan di sekolah ada beberapa pertimbangan rasional, apa yang menjadi keinginan dan apa yang menjadi harapan kepala sekolah, guru, dan staf sekolah beserta stakeholder yang ada di dalamnya.

Setiap supervisi pendidikan mempunyai sisi-sisi kelemahan dan kelebihan. Untuk itu sebagai supervisor seharusnya cermat dan penuh pertimbangan secara obyektif dan ilmiah apabila akan menggunakan supervisi pendidikan.

Supervisi klinis merupakan salah satu tugas kepala sekolah, guru senior dan tim pengawas dari dinas pendidikan dalam membina guru melalui fungsi pengawasan. Pengawasan pada intinya yaitu melakukan pembinaan,

11 Muhtar dan Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan, (Jakarta: Referensi Gaung Persada Press Group, 2013), h. 63

(29)

bimbingan untuk memecahkan masalah pendidikan termasuk masalah yang dihadapi guru secara bersama dalam proses pembelajaran dan bukan mencari kesalahan guru.

Kenyataan di lapangan secara umum, fungsi supervisi belum dilaksanakan secara profesional sesuai dengan hakikat supervisi itu sendiri.

Supervisi dilaksanakan secara insendental ketika membuat laporan untuk kebutuhan sesaat tanpa ada tindak lanjut dari hasil pengawasan. Selain itu, berdasarkan suatu studi diketahui adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan dalam rangka pelaksanaan supervisi. Kesenjangan dapat dilihat dari sifat dan tujuan supervisi. Diketahui bahwa tujuan supervisi seharusnya membantu dalam perbaikan proses pembelajaran, kenyataannya dalam praktiknya supervisor lebih menekankan pada tanggung jawab administratif guru.12

Ada beberapa faktor yang mendorong dikembangkannya supervisi klinis bagi guru-guru, antara lain: 1) kenyataannya yang dilakukan dalam supervisi, para supervisor hanya melakukan evaluasi guru semata. 2) Pusat pelaksanaan adalah supervisor, bukan berpusat pada apa yang dibutuhkan guru, baik kebutuhan professional sehingga guru-guru tidak memperoleh sesuatu yang berguna bagi pertumbuhan profesinya. 3) Dengan menggunakan merit rating (alat penilaian kemampuan guru), maka aspek-aspek yang diukur terlalu umum dan abstrak. 4) Umpan balik yang diperoleh dari hasil pendekatan, bersifat memberi arahan, petunjuk, intruksi, dan tidak menyentuh

12Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran dalam Profesi pendidikan (Bandung:

Alfabeta, 2010), cet ke- 2, h.98

(30)

masalah manusia yang terdalam yang dirasakan guru-guru, sehingga hanya bersifat di permukaaan. 5) Tidak diciptakan hubungan identifikasi dan analisis diri, sehingga guru-guru melihat konsep dirinya. 6) Melalui diagnosis dan analisis dirinya sendiri, guru menemukan jati dirinya. Ia harus sadar akan kemampuan dirinya dengan menerima dirinya dan timbul motivasi untuk memperbaiki dirinya sendiri.13

Dari praktik-praktik yang kurang manusiawi itu, menyebabkan kegagalan dalam pemberian supervisi kepada guru-guru. Oleh karenanya sagat diperlukan adanya supervisi klinis. Maka dapat dikatakan bahwa tujuan dari supervisi klinis adalah memberi layanan dan bantuan secara manusiawi, dalam arti lebih mengedepankan pola pendekatan dan pengembangan guru secara personal agar mereka dapat menemukan dirinya sendiri dan pada gilirannya mampu meningkatkan pola pembelajaran secara lebih baik.

Berdasarkan berbagai masalah di atas dapat diambil sub fokus masalah diantaranya: kurang maksimalnya guru pendidikan agama Islam dalam rangka pengembangan kompetensi profesionalnya, pola guru masih berfikir secara tradisional, kurangnya penguasaan materi pembelajaran, penilaian belum berbasis pada kinerja siswa, guru pendidikan yang belum menyandang gelar sarjana pendidikan agama Islam, kesulitan dalam menyusun perangkat pembelajaran, mengolah materi pelajaran yang diampu secara kreatif, melakukan penelitian tindakan kelas untuk peningkatan keprofesionalan, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan

13 Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan (Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia), (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 37

(31)

diri, supervisi klinis dilaksanakan hanya isendental saja, supervisor lebih menekankan pada tanggung jawab administratif guru.

Berdasarkan sub fokus masalah di atas salah satu faktor penyebab yang paling dominan diduga karena kurangnya kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam, dalam rangka meningkatkan profesional guru pendidikan agama Islam salah satunya dengan implementasi supervisi klinis.

Berdasarkan berbagai uraian di atas penulis tertarik untuk mengetahui tentang implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam, maka penulis memilih judul

“Implementasi Supervisi Klinis dalam Peningkatan Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro”.

B. Fokus Pertanyaan

Mengingat cukup banyak masalah di atas, serta keterbatasan penulis dalam melakukan penelitian, maka penelitian ini difokuskan pada masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro?

2. Faktor pendukung apa saja yang dihadapi dalam implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro?

(32)

3. Faktor penghambat apa saja yang dihadapi dalam implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro?

4. Upaya apa saja untuk mengatasi penghambat implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui :

1. Untuk mengetahui dan menjelaskan implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro.

2. Untuk mengetahui dan menjelaskan faktor pendukung apa saja yang dihadapi dalam implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro.

3. Untuk mengetahui dan menjelaskan faktor penghambat apa saja yang dihadapi dalam implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro.

4. Untuk mengetahui dan menjelaskan upaya apa saja dalam mengatasi penghambat implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi

(33)

profesional guru pendidikan agama Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro.

D. Manfaat Penelitian

Penulis berusaha untuk dapat mengambil manfaat atau kegunaan penelitian ini dari dua sisi, yaitu teoritis dan praktis :

1. Manfaat teoritis :

Penelitian ini akan bermanfaat sebagai masukan atau sumbangsih pemikiran kepada praktisi pendidikan, khususnya di SMK Muhammadiyah 1 Metro dalam rangka peningkatan kompetensi guru pendidikan agama Islam.

2. Manfaat praktis antara lain :

a) Bagi almamater, hasil penelitian ini akan bermanfaat sebagai masukan atau sumbangan pemikiran dan menambah sumber bacaan di perpustakaan serta sebagai pertimbangan tambahan sumber referensi dari literatur-literatur yang ada.

b) Bagi peneliti, dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan, wawasan dan pengalaman penulis, khususnya yang berkenaan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini.

c) Bagi lembaga obyek penelitian, dengan adanya penelitian ini setidaknya dapat dipergunakan sebagai masukan bagi pengelola sekolah dalam peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam.

(34)

d) Bagi ilmu pendidikan, hasil penelitian ini akan turut memperkaya khazanah ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu pendidikan pada khususnya.

E. Penelitian Terdahulu yang Relevan

Berdasarkan penelusuran di berbagai perpustakaan sejauh ini belum ditemukan karya ilmiah yang secara khusus meneliti tentang Implementasi Supervisi Klinis dalam Peningkatan Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro.

Namun demikian ada sejumlah karya tulis ilmiah yang secara umum berkaitan dengan penelitian ini. Karya tulis tersebut diantaranya berjudul : 1. Penelitian yang dilakukan oleh Arif Maulana 2012 dengan judul Supervisi

Akademik Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kinerja Mengajar Guru (Studi Kasus di Madrasah Aliyah Negeri Malang 1).14 Yang terfokus pada dual hal yaitu: a) Bagaimana supervisi akademik yang dilakukan kepada kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja mengajar guru di Madrasah Aliyah Negeri Malang 1?. Dan b) Apa kendala kepala madarasah beserta solusi yang dilakukan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja mengajar guru di Madrasah Aliyah Negeri malang 1?. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rangcangan studi kasus.

Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah (1) Supervisi

14 Arif Maulana, Supervisi Akademik Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kinerja Mengajar Guru (Studi Kasus di Madrasah Aliyah Negeri Malang 1), dalam http;//www.Digilib UIN Malang, (diakses tanggal 10 Mei 2017)

(35)

akademik yang dilakukan kepala madrasah Aliyah Negeri Malang 1 merupakan bentuk dari serangkaian kegiatan usaha memberikan bantuan terhadap guru dalam meningkatkan kinerja mengajarnya. (2) Kendala yang dihadapi beserta solusi kepala Madrasah Aliyah Negeri Malang 1 dalam melaksanakan supervisi dalam meningkatkan kinerja guru mengajar diantataranya meliputi: (a) Faktor guru yang kurang berkenan dengan kegiatan supervisi dan karakter tiap individu guru yang tidak ingin maju atau kurang minat terhadap supervisi membuat jalannya kegiatan supervisi menjadi kurang maksimal. Adapun solusi yang diambil adalah dengan lebih meningkatkan dalam memberikan motivasi kepada guru-guru dengan memberikan reward terhadap guru yang mampu menunjukan prestasi dalam meningkatkan kinerja mengajarnya. (b) Waktu supervisi yang dijadwalkan seringkali menjadi tidak terlaksana karena tugas dan kewajiban kepala madrasah selain supervisi. Adapun solusi yang diambil diantaranya adalah memberikan intruksi khusus kepada wakil kepala madrasah bidang kurikulum untuk sementara menggatikan posisi kepala sekolah menjadi supervisor. (c) dana menjadi salah satu terhambatnya para guru lambat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan kinerja mengajar guru. Adapun solusinya yang diambil diantaranya dengan menganggarkan dana dari madrasah untuk pengembangan guru untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, seminar, workshop, dan sejenisnya. Persamaan penelitian ini dengan peneliti adalah sama-sama meneliti supervisi yang dilakukan supervisor. Adapun

(36)

perbedaannya adalah penelitian ini difokuskan pada supervisi akademik yang dilakukan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja mengajar guru.

2. Peneltian yang dilakukan oleh Ani Puspa Rini, 2001 dengan judul Supervisi Kepala Sekolah dalam Peninkatan Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus di SMKN 10 Malang).15 Fokus penelitian tersebut pada beberapa hal, yakni (1) Unsur-unsur yang disupervisi kepala sekolah terhadap guru pendidikan agama Islam di SMKN 10?, (2) Bagaimanakah strategi supervisi kepala SMKN 10 dalam meningkatkan kinerja guru pendidikan agama Islam?, (3) Apakah feed back dan tindak lanjut pelaksanaan supervisi kepala SMKN 10 dalam meningkatkan kinerja guru pendidikan agama Islam?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rangcangan studi kasus tunggal. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah (1) Unsur-unsur yang supervisi kepala sekolah SMKN 10 Malang adalah bidang kompetensi pedagogik khusunya perencana pembelajaran, proses mengajar mengajar, dan evaluasi pembelajaran, (2) Strategi yang dilakukan kepala SMKN 10 Malang dalam meningkatkan kinerja guru pendidikan agama Islam yaitu melakukan kunjungan kelas dan observasi, mengadadakn rapat dan diklat serta pertemuan pribadi dengan guru pendidikan agama Islam. (3) feed back dan tindak lanjut supervisi kepala SMKN 10 Malang dalam

15 Ani Puspa Rini, Supervisi Kepala Sekolah dalam Peningkatan Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus di SMKN 10 Malang), dalam http;//www. Digilib UIN Malang, (diakses tanggal 10 Mei 2017)

(37)

meningkatkan kinerja guru pendidikan agama Islam diantanya: berusaha memperbaiki kemampuan merencanakan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran dengan cara observasi kepada guru pendidikan agama Islam lainnya, mempelajari buku-buku pembelajaran dan mengikuti musyawarah guru mata pelajaran pendidikan agama Islam.

Tindak lanjut supervisi kepala sekolah SMKN 10 Malang dalam meningkatakan kinerja guru pendidikan agama Islam diantaranya memberikan komentar tentang perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, apabila perencanaan pembelajaran yang telah dibuat kurang baik, maka guru pendidikan agama Islam diminta memperbaiki, dan kepala SMKN 10 Malang memberi kesempatan mengikuti pelatihan kepada guru pendidikan agama Islam dalam pembuatan perencanaan pembelajaran, pelaksanan pembelajaran, evaluasi pembelajaran.

3. Peneltian yang dilakukan oleh Karniti, (2014) dengan judul Supervisi Klinis dengan Pendekatan “PIS” Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran Guru”16

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kualitas pembelajaran guru melalui supervisi klinis dengan pendekatan PIS di SD Negeri 01 Bondansari Kabupaten Pekalongan. Subyek penelitian ini adalah 8 orang guru. Teknik pengumpulan data melalui dokumen kegiatan pembelajaran dan observasi (pengamatan) pembelajaran yang dilakukan

16 Karniti, Supervisi Klinis dengan Pendekatan “PIS” Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran Guru” Jurnal Penelitian Tindakan Sekolah dan Kepengawasan, UPT Dindikbud Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, ISSN 2355-9683 Vol. 1, No. 2, Oktober 2014

(38)

oleh peneliti dengan menggunakan instrumen supervisi klinis, lembar penilaian rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar penilaian pelaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan, semua guru mampu menyiapkan rancangan dan pelaksanaan dengan baik serta memiliki dokumen pembelajaran yang tersaji rapi.

Persamaan penelitian ini dengan peneliti sama-sama meneliti supervisi, adapun perbedaannya adalan penelitian ini memfokuskan pada Implementasi supervisi klinis dalam peningkatan kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro.

(39)

BAB II KAJIAN TEORI

A. Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata kompetensi berarti

“kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal”.17 W. Robert Huston mendefinisikan kompetensi dengan “Competence ordinarily is defined as adequacy for a task or as possesi on of reguire knowledge, skill, and abilities”. (Suatu tugas yang memadai atau pemilikan pengetahuan keterampilan dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang).18

Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.

Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.19

Kata kompetensi secara harfiah dapat diartikan sebagai

“kemampuan”.20 Kata ini sekarang menjadi kunci dalam dunia pendidikan.

Dengan memiliki kompetensi yang memadai, khususnya seorang guru dapat

17W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), h.608

18Munardji, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bina Ilmu, 2004), h. 65

19Akhyak, Profil Pendidik Profil Pendidik Sukses,(Surabaya: Elkaf, 2005), h. 19

20 Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspiratif “Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa” (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 56

(40)

melaksanakan tugasnya dengan baik. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya dunia pendidikan jika para gurunya tidak memiliki kompetensi memadai.

Makna penting kompetensi dalam dunia pendidikan didasarkan atas pertimbangan rasional bahwasanya proses pembelajaran merupakan proses yang rumit dan kompleks. Ada beragam aspek yang saling berkaitan dan memengaruhi berhasil atau gagalnya kegiatan pembelajaran. Mereka yang yang mampu memberi pencerahan kepada siswanya dapat dipastikan memiliki kompetensi sebagai guru professional.

Kompetensi juga dapat diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Pengertian kompetensi guru adalah

“seperangkat penguasaan, kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif”.21

Kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial dan spiritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar profesi guru, yang mencangkup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalisme.22

21 Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru,…, h. 55

22E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: PT Rosda Karya, 2007), h. 26

(41)

Pengertian kompetensi guru adalah “seperangkat penguasaan, kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif”.23

Kompetensi merupakan perilaku rasional guna mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan, dengan demikian suatu kompetensi ditunjukkan oleh penampilan atau kerja yang dapat dipertanggung jawabkan (rasional) dalam upaya mencapai tujuan.24

Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak, kompetensi guru terdiri dari kompetensi pribadi dan kompetensi profesional di dalam kompetensi itu terdapat kemampuan yang terdiri dari kemampuan mengelola kelas, keterampilan mengelola bahan dan keterampilan proses belajar mengajar.25

Dari beberapa pengertian kompetensi guru di atas dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan yang harus dimiliki seorang guru yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif.

Dalam pandangan Muhammadiyah Guru adalah orang yang merasa bertanggung jawab atas perkembangan anak didiknya sehingga seorang guru

23Kunandar, Guru Profesional Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru …, h. 55

24Wina Sanjaya, “Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi” dalam Akhyak, Profil Pendidik Sukses…, h. 20

25Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Gravindo Persada, 2013), h. 8

(42)

dapat disimpulkan mempunyai tanggung jawab menunaikan amanat vertikal (Allah) dan amanat horizontal (manusia) untuk menunaikan kedua amanat itu, jalan terbuka hanya satu yaitu bekerja secara profesional.26

Dalam Ilmu pendidikan Islam, secara umum untuk menjadi guru yang baik dan diperkirakan dapat memenuhi tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, hendaknya bertakwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmaninya, baik akhlaknya, bertanggung jawab, dan berjiwa nasional.27

Kesadaran akan kompetensi juga menuntut tanggungjawab yang berat bagi para guru itu sendiri. Dia harus berani menghadapi tantangan dalam tugas maupun lingkungannya, yang akan mempengaruhi perkembangan pribadinya. Berarti dia juga harus berani merubah dan menyempurnakan diri sesuai dengan tuntutan zaman.

Dari beberapa pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa, kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam tidak terlalu berbeda dengan guru pada umumnya yang meliputi kompetensi guru pendidikan agama Islam penguasaan materi pendidikan agama Islam secara luas dan mendalam bertaqwa kepada Allah, sehat jasmaninya, berakhlak mulia, serta membimbing peserta didik, pengembangan pribadi dengan memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan dalam standar nasional pendidikan, bertanggung jawab dan berjiwa nasional.

26 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perpektif Islam, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007), h. 114

27 H.M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009), h. 124- 125

(43)

2. Karakteristik Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam Seorang guru profesional adalah “orang yang memiliki kemampuan dan keahlian dalam bidang keguruan atau dengan kata lain ia telah terdidik dan terlatih dengan baik”.28 Terdidik dan terlatih bukan hanya memperoleh pendidikan formal saja akan tetapi juga harus menguasai berbagai strategi atau teknik di dalam kegiatan belajar mengajar serta menguasai landasan-landasan kependidikan seperti yang tercantum dalam kompetensi guru.

Gary dan Margaret mengemukakan bahwa guru yang efektif dan kompeten secara profesional memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Memiliki kemampuan menciptakan iklim belajar yang kondusif b. Kemampuan mengembangkan strategi dan manajemen

pembelajaran

c. Memiliki kemampuan memberikan umpan balik (feedback) dan penguatan (reinforcement)

d. Memiliki kemampuan untuk meningkatkan diri.29

Menurut Gordon sebagaimana yang dikutip oleh E. Mulyasa, bahwa ada enam aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi, yaitu sebagai berikut :

a. Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif, misalnya seorang guru mengetahui cara melakukan identifikasi kebutuhan belajar, dan bagaimana melakukan pembelajaran terhadap peserta didik sesuai dengan kebutuhannya.

b. Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu, misalnya seorang guru yang akan melaksanakan pembelajaran harus memiliki pemahaman yang baik tentang karakteristik dan kondisi peserta didik, agar melaksanakan pembelajaran berjalan secara efektif dan efesien.

28 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional …, h. 15

29E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru …., h. 21

(44)

c. Kemampuan (skill), adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya, misalnya kemampuan guru dalam memilih dan membuat alat peraga sederhana untuk memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik.

d. Nilai (value), adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang, misalnya standar perilaku guru dalam pembelajaran (kejujuran, keterbukaan, demokratis, dan lain-lain)

e. Sikap (attitude) yaitu perasaan (senang, tak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar, reaksi terhadap krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji, dan lain-lain.

f. Minat (interest), adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan, misalnya minat untuk melakukan sesuatu atau untuk mempelajari sesuatu.30

Guru profesional yang bekerja melaksanakan fungsi dan tujuan sekolah harus memiliki kompetensi-kompetensi yang dituntut agar guru mampu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Tanpa mengabaikan kemungkinan adanya perbedaan lingkungan sosial kultural dari setiap institusi sekolah sebagai indikator, maka guru yang dinilai kompeten secara profesional apabila:

a. Guru tersebut mampu mengembangkan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.

b. Guru tersebut mampu melaksanakan peranan-peranannya secara berhasil.

c. Guru tersebut mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidikan (tujuan instruksional) sekolah.

d. Guru tersebut mampu melaksanakan peranannya dalam proses mengajar dan belajar dalam kelas.31

Sedangkan tugas guru pendidikan agama Islam adalah mendidik muridnya dengan cara mengajar dan cara-cara yang lain, menuju tercapainya perkembangan yang maksimal dengan nilai-nilai Islam.32

30 E. Mulyasa, “Menjadi Guru Profesional” dalam Kunandar, Guru Profesional…, h.

53

31 Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi,… h. 38

(45)

Sifat-sifat atau karakteristik guru-guru yang disenangi oleh para siswa adalah guru-guru yang mempunyai karakter:

a. Demokratis, yakni guru tidak bersifat otoriter dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berperan serta dalam berbagai kegiatan.

b. Suka bekerja sama (kooperatif), guru bersikap saling memberi dan menerima yang dilandasi oleh kekeluargaan dan toleransi tinggi.

c. Baik hati, yakni suka memberi dan berkorban untuk anak didiknya.

d. Sabar, yakni guru yang tidak suka marah dan bisa menahan diri.

e. Adil, yakni guru tidak membeda-bedakan anak didik.

f. Konsisten, yakni selalu berkata dan bertindak sama sesuai dengan ucapannya.

g. Bersifat terbuka, yakni bersedia menerima kritik dan saran serta mengakui kekurangan dan kelebihannya.

h. Suka menolong, yakni selalu membantu anak-anak yang mengalami kesulitan atau masalah tertentu.

i. Ramah tamah, yakni mudah bergaul dan disenangi oleh semua orang.

j. Suka humor, yakni pandai membuat anak-anak menjadi gembira dan tidak tegang.

k. Memiliki bermacam ragam minat, dengan ini guru akan dapat merangsang peserta didik dan dapat melayani berbagi minat dari peserta didik.

l. Menguasai bahan pelajaran, yakni dapat menyampaikan pelajaran secara lancar dan menumbuhkan semangat pada diri peserta didik.

m. Bersikap fleksibel yakni tidak kaku dalam bersikap dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

n. Menaruh minat yang baik kepada peserta didik, yakni peduli dan perhatian kepada minat peserta didik.33

Sedangkan menurut Spencer karakteristik kompetensi guru dibagi menjadi lima yaitu:

a. Motif yaitu sesuatu yang orang pikirkan dan inginkan yang menyebabkan sesuatu.

b. Sifat yaitu karakteristik fisik tanggapan konsisten terhadap situasi dan informasi.

c. Konsep diri yaitu sikap, nilai dan image diri seseorang.

d. Pengetahuan yaitu informasi yang dimiliki seseorang dalam bidang tertentu.

32H.M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam,…h. 114

33Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru ,…, h. 62

(46)

e. Keterampilan yaitu kemampuan untuk melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan fisik dan mental.34

Dari pemaparan di atas dapat diambil pemahaman bahwa karakteristik kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam adalah guru mampu mengembangkan tanggung jawabnya dengan baik, guru mampu melaksanakan peran-perannya secara berhasil, guru mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidikan nasional, serta guru patut dicontoh oleh peserta didik karena guru pendidikan agama Islam itu harus mempunyai perilaku yang dapat dicontoh oleh murid-muridnya dan warga sekolah, sehingga dengan adanya karakteristik kompetensi profesional itu, maka guru pendidikan agama Islam dapat mengelola aktivitas pendidikan dengan baik menuju tercapainya perkembangan peserta didik yang maksimal dengan nilai-nilai Islam.

3. Tipologi Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam Dalam undang-undang Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 dinyatakan bahwa “kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, pedagogik, professional, dan sosial”.35

Adapun jenis kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik antara lain:

a. Kompetensi profesional, artinya guru harus memiliki pengetahuan yang luas dari subjeck matter (bidang studi) yang akan diajarkan

34Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan “Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia”, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), h. 63

35 Farida Sarimaya, Sertifikasi Guru, (Bandung: CV Yrama Widya, 2008), h. 17

(47)

serta penguasaan metodologi dalam arti memiliki konsep teoritis mampu memperoleh metode dalam proses belajar-mengajar.

b. Kompetensi personal, artinya sikap kepribadian yang mantap sehingga mejadi intensifikasi bagi subyek. Dalam hal ini berarti memiliki kepribadian yang pantas diteladani mampu melaksanakan kepimpinan seperti yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Sung Tulada, Ing Madya mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

c. Kompetensi Sosial, artinya guru harus menunjukkan atau mampu beriteraksi sosial, baik dengan murid-muridnya maupu dengan sesama guru dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat

d. Kompetensi untuk melakukan pelajaran yang sebaik-baiknya berarti mengutamakan nilai-nilai sosial dan nilai material.36

Keempat jenis kompetensi guru beserta subkompetensi dan indikator esensialnya diuraikan sebagai berikut:

a. Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian merupakan “kemampuan yang mencerminkan kepribadian mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia”.37 kompetensi pribadi yaitu perangkat perilaku yang berkaitan dengan kemampuan individu daam mewujudkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri untuk melakukan transformasi diri, identitas diri, adentitas diri dan pemahaman diri. Kompetensi pribadi meliputi “kemampuan- kemampuan dalam memahami diri, mengelola diri, mengendalikan diri dan menghargai diri”.38 Secara rinci subkompetensi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

36Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, Problema, solusi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), h. 69

37Farida Sarimaya, Sertifikasi Guru.., h. 18

38Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru …, h. 55

(48)

1) Subkompetensi kepribadian yang mantab dan stabil memiliki indikator esensial: bertindak sesuai dengan norma hukum, bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga sebagai guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.

2) Subkompetensi kepribadian yang dewasa memiliki indikator esensial: menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru.

3) Subkompetensi kepribadian yang arif memiliki indikator esensial:

menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berfikir dan bertindak.

4) Subkompetensi kepribadian yang berwibawa memiliki indikator esensial: memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani.

5) Subkompetensi akhlak mulia dan dapat menjadi teladan memiliki indikator esensial: bertindak sesuai norma religius (iman dan takwa, jujur, ikhlas, suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

6) Subkompetensi evaluasi diri dan pengembangan diri memiliki indikator esensial: memilki kemampuan untuk berintropeksi, dan mampu mengembangkan potensi diri secara optimal.39

Kompetensi pribadi adalah “sikap pribadi guru berjiwa pancasila yang mengutamakan budaya bangsa indonesia, yang rela berkorban bagi kelestarian bangsa dan negara”.40 Dalam kompetensi pribadi, guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal, oleh karena itu, pribadi guru sering dianggap sebagai model atau panutan (yang harus di-gugu dan ditiru). Sebagai seorang model, guru harus memiliki kompetensi yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian (personal competencies).41

Kompetensi kepribadian sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi peserta didik. Kompetensi

39Farida Sarimaya, Sertifikasi Guru...,h. 18

40Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru …, h. 56

41Akhyak, Profil Pendidik Sukses…, h. 19

Referensi

Dokumen terkait

“ Persiapan yang dilakukan sebelum pelaksanaan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif dan pendekatan keagamaan dalam meningkatkan kompetensi profesional

belajar Pendidikan Agama Islam peserta didik kelas X di SMK N 1 Metro. Untuk mengetahui pengaruh kompetensi profesional guru pendidikan. agama Islam dan motivasi belajar

Penelitian ini berjudul Peranan Supervisi Kepala Sekolah Dalam Pengembangan Kompetensi Profesional Guru Di Sekolah Dasar Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya. Penelitian

Dalam upaya meningkatkan kompetensi profesional guru maka setiap guru harus mengikuti supervisi pendidikan. Supervisi dapat di artikan sebagai pemberian bantuan

Berdasarkan temuan penelitian dengan adanya supervisi klinis kompetensi profesional guru mengalami peningkatan, hal ini terlihat dari proses kegiatan pembelajaran

Berdasarkan temuan penelitian dengan adanya supervisi klinis kompetensi profesional guru mengalami peningkatan, hal ini terlihat dari proses kegiatan pembelajaran

Berdasarkan temuan penelitian dengan adanya supervisi klinis kompetensi profesional guru mengalami peningkatan, hal ini terlihat dari proses kegiatan pembelajaran

60 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan analisis yang telah diuraikan dalam skripsi ini, yang dibahas tentang kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam terhadap hasil