BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Temuan Umum Penelitian
4. Kondisi Sosiologis dan lokasi penelitian
dilandasi oleh nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Mengacu kepada tujuan tersebut, diharapkan terciptanya kader dan generasi yang memiliki kecakapan akademik, keterampilan, dan berakhlak karimah.
4. Kondisi Sosiologis dan Lokasi Penelitian
Masyarakat di lingkungan sekolah sangat mendukung keberadaan SMK Muhammadiyah 1 Metro dengan kelayakan pertumbuhan ekonomi dan pendidikan, mereka berusaha :
1) Mencintai SMK Muhammadiyah 1 Metro dengan memasukkan anaknya menjadi siswa SMK Muhammadiyah 1 Metro.
2) Membuka usaha, mengelola Rumah Kost. Ada 20 usaha Rumah Kost pada radius 1 km dari SMK Muhammadiyah 1 Metro.
3) Membuka jasa Fotokopi. Ada 2 usaha Fotokopi.
4) Membuka usaha Toko Alat Tulis.
5) Masjid Muhajirin di halaman SMK Muhammadiyah 1 Metro, jamaahnya bertambah banyak dari masyarakat lingkungan sekoitar dan sejak tahun 1998 dipakai untuk Sholat Jumat.
Siswa SMK Muhammadiyah 1 Metro 40% berasal dari Kota Metro, 60% dari Kabupaten lain, seperti Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Tengah. Transportasi strategis, dari arah kanan Kompleks SMK Muhammadiyah 1 Metro, orang atau kendaraan masuk Ki Hajar Dewantara menuju Jalan Tawes, dari arah kiri Kompleks SMK Muhammadiyah 1 Metro, orang atau kendaraan masuk Jl. AH. Nasution menuju Jalan Tawes SMK Muhammadiyah 1 Metro.
b. Keadaan Peserta didik
Peserta didik merupakan salah satu komponen yang dimiliki oleh SMK Muhammadiyah 1 Metro dalam mewujudkan visi, misi dan tujuan.
Perkembangan jumlah peserta didik di SMK Muhammadiyah 1 Metro menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun, pada berbagai program keahlian, baik program akuntansi, pemasaran, administrasi perkantoran teknik komputer dan jaringan serta perbankan syariah. Sebagai mana dijelaskan dalam tabel dibawah ini.
Tabel 2.
Keadaan Peserta Didik Tahun SMK Muh. 1 Metro T.P. 2017/2018
Kls
Jumlah siswa
Kelas X Kelas XI Kelas XII Total
L P Jml L P Jml L P Jml L P Jml
AP 10 26 36 7 33 40 7 37 44 24 96 120
A1 8 27 35 7 14 21 5 27 32 20 68 88
A2 8 25 33 6 22 28 4 31 35 18 78 96
P 17 19 36 10 16 26 16 16 32 43 51 94 TK
J 1 25 8 33 21 15 36 21 10 31 67 33 100 TK
J 2 - - - - - - 20 6 26 20 6 26
PB
S 21 15 36 12 22 34 12 24 36 45 61 106
236 237 393 630
Sumber Dokumentasi Statistik SMK Muhammadiyah 1 Metro Tahun 2017
c. Keadaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan
Keberhasilan SMK Muhammadiyah 1 Metro dalam mewujudkan visi, misi dan tujuan ditentukan oleh ketersediaan daya dukung yang dimiliki, baik yang berkaitan dengan sumber daya manusia, seperti tenaga pendidik dan kependidikan, serta karyawan, maupun sarana dan prasarana yang tersedia.
Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, dan menghasilkan peserta didik yang terampil di bidangnya, maka SMK Muhammadiyah 1 Metro didukung oleh tenaga pendidik dan kependidikan yang kompeten dibidangnya, sesuai dengan mata pelajaran dan latar belakang akademik.
Keberadaan tenaga pendidik dan kependidikan yang sangat diperlukan dalam rangka menunjang keberhasilan pelaksanaan pendidikan di SMK Muhammadiyah 1 Metro. Untuk menunjang proses pembelajaran, perlu di dukung guru yang memadai sesuai dengan kebutuhan lembaga tersebut. Adapun jumlah guru keseluruhan ada 51 dan karyawan ada 8 orang sedangkan jumlah guru PAI di SMK Muhammadiyah 1 Metro ada 4 guru. sebagaimana dijelaskan dalam tabel di bawah ini.
Tabel. 3.
Data Tenaga Pendidik dan Kependidikan SMK Muhammadiyah 1 Metro TP. 2017/2018
No Nama NBM Jabatan Program
diklat 1 Drs. Suharto 619,376 Kepala Sekolah Bahasa Indonesia
2 Robby Gunawan, S.Kom. 1,073,782 Waka.
Kesiswaan
Tim TKJ
3 Dra. Harninuk 990,064 Waka.
Kurikulum
Akuntansi
4 Drs. Wahid Nurdiyanta 637,208 Guru Bahasa
Indonesia
5 Nursi Effendi, B.A. 779,586 Guru IPS
6 Drs. H. A. Mashuri 487.436 Guru Mengetik
7 Drs. Sugono, M.Pd.I. 554,842 Guru KMD
8 Subiasih, B. Sc. 673,732 Guru Ekonomi
9 Drs. M. Anshori 637,232 Guru Tarikh
10 Muhlan, B.A. 494,031 Guru PAI
11 Dra. Reni Gusfiarni 924,667 Guru Bahasa
Inggris
12 Dra. Arnita Orbana 779,582 Guru Kearsipan
13 Dra. Julaeha 1,041,026 Guru Bahasa
Indonesia
14 Dra. Herningsih 1,041,024 Guru Bahasa
Indonesia
15 Kandoko, S.Pd. 1,041,021 Guru KWU
16 Rini, S.Pd. 1,041,023 Guru Akuntansi
17 Yeniarti, S.Pd. 1,014,016 Guru KKPI
18 Suharni, S.Pd. 930,058 Guru Produktif
Pemasaran 19 Riana Sari, S.E., M.Pd. 930,059 Guru Produktif
Pemasaran 20 Akhyati Thohari, S.E. 709,974 Guru Produktif
PBS
21 Haryanto, S.Pd. 1,256,620 Guru Akuntansi
22 Rohaniya, S.Pd., M.Pd. 1,041,025 Guru Akuntansi
23 Meliyawati, S.Kom. - Guru Tim TKJ
24 Ngatirin, S.Kom. - Guru Tim TKJ
25 Aswandi, M.Pd.I. 996,550 Guru Bahasa
Arab 26 Bowo Adi Riyanto, S.E.,
S.Pd.
1,041,018 Guru Ekonomi
27 Dono Amsaroh, S.Pd. 1,041,017 Guru Bahasa Inggris 28 Endang Puji Lestari, S.Pd. 1,073,784 Guru IPA 29 Edy Wahyudi, S.Kom. 1,073,785 Guru Tim TKJ
30 Azwandi, S.Kom. 1,196,989 Guru Tim TKJ
31 Edi Hariyanto, S.Pd. 1,125,452 Guru Matematika 32 Ramdhan Aris Kamal,
S.Pd.
1,163,464 Guru PJOK
33 M. Husni Arrafi, S.Pd. 1,125,458 Guru Matematika 34 Khoirul Anam, S.Pd. 1,125,396 Guru Bahasa
Inggris 35 Widya Andika Lestari,
S.Pd.
1,125,455 Guru Matematika 36 Susilawati, S.Psi.,S.Pd. 1,125,395 Guru BK 37 Azizi Sulaiman Arsyad,
S.Pd.
1,088,407 Guru Tim TKJ
38 Sri Widayati, S.Pd. 1,256,625 Guru Produktif AP 39 Slamet Widodo, S.H.I. 1,269,889 Guru Bahasa
Arab
40 Zenni Mahmud, S.Pd.I. 1,125,456 Guru PAI
41 Dede Sumardi, S.Pd. 1,123,195 Guru Fisika
42 Eko Jati Putro,S.Pd - Guru Seni
Budaya 43 Hanna Difetra Alfath, S.Pd 1,256,629 Guru Seni
Budaya
44 Ade Ibramsyah, S.Pd. - Guru Penjaskes
45 Muklis Saputra, S.E.Sy. - Guru Produktif
PBS 46 Dimas Curota Ayun,
S.Pd.I
1,096,087 Guru PAI
47 Ahmad Bahtiar, S.Pd.I 1,159,471 Guru PAI
48 Dwi Susanto, S.Pd.I. 1,073,783 Guru KMD
49 Lilin Septiana, S.E. - Guru Produktif
PBS
50 Isnaini Lutfia, S.Pd. - Guru Seni
Budaya
51 M. Afrizal Aziz, S.Pd. - Guru BK
52 Darmaji 930,062 Kepala TU
53 Wiwin Handayani, A.Md. 1,041,020 Staf TU 54 Fitri Astuti Ningsih, S.P. 1,041,019 Staf
Perpustakaan 55 Hari Arbiafrianto, A.Md. 1,125,460 Staf TU 56 Deni Anggi Saputra 1,125,400 Satpam
57 Riski Pratama - Staf TU
58 Taupik Widayanto - Staf TU
59 Nur Atikah, A.Md. - Staf TU
60 Febri Nur Ardianto - Penjaga Sekolah
Sumber Dokumentasi Statistik SMK Muhammadiyah 1 Metro Tahun 2017
d. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan fasilitas pendukung yang diperlukan sekolah dalam mewujudkan visi, misi dan tujuan SMK Muhammadiyah 1 Metro. Untuk menunjang proses pembelajaran diperlukan sarana dan prasarana yang baik, oleh sebab itu SMK Muhammmadiyah 1 Metro sudah mempunyai sarana yang lengkap untuk mendukung pembelajaran pendidikan agama Islam dengan memiliki kelas yang cukup dan mempunyai masjid dengan perlengkapan yang baik yang dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:
Tabel 4.
Data Sarana dan Prasarana SMK Muhammadiyah 1 Metro
No Jenis Ruang Jumlah Keterangan
1 Ruang Kepala Sekolah 1 Perlengkapan Baik 2 Ruang Wakasek dan Kajur 1 Perlengkapan Baik
3 Ruang Guru 2 Perlengkapan Baik
4 Ruang Tata Usaha 1 Perlengkapan Baik
5 Ruang Belajar/Kelas 19 Perlengkapan Baik 6 Ruang Praktik Komputer 4 Perlengkapan Baik 7 Ruang Perpustakaan 1 Perlengkapan Baik
8 Ruang BK 1 Perlengkapan Baik
9 Ruang PMR 1 Perlengkapan Baik
10 Ruang Kantor PCM 1 Perlengkapan Baik 11 Ruang Praktik Kejuruan 5 Perlengkapan Baik
12 Ruang Koperasi 1 Perlengkapan Baik
13 Ruang IPM 1 Perlengkapan Baik
14 Masjid 1 Perlengkapan Baik
15 Gudang 1 Perlengkapan Baik
16 Dapur 1 Perlengkapan Baik
17 Ruang Penjaga 1 Perlengkapan Baik
18 WC Guru 2 Perlengkapan Baik
19 WC Siswa 16 Perlengkapan Baik
20 Ruang LSP SMK Muh 1 1 Perlengkapan Baik 21 Kantien Sekolah 1 Perlengkapan Baik
22 Kantor Satpam 1 Perlengkapan Baik
Sumber Dokumentasi Statistik SMK Muhammadiyah 1 Metro Tahun 2017 e. Denah Lokasi Belajar
Denah lokasi belajar merupakan sebuah peta berukuran kecil yang menunjukkan dan menggambarkan detail lokasi dari suatu bangunan.
Denah biasanya merupakan tampak atas dari sebuah bangunan. Jika sebuah bangunan dipapas melintang, maka gambar tampak atas dari bangunan tersebut dapat disebut sebuah denah. Seperti halnya peta, pada dasarnya denah dibuat untuk dapat memudahkan penggunanya dalam melacak suatu lokasi.
Denah lokasi belajar di SMK Muhammadiyah 1 Metro sudah di atur sedemikian teratur yang dibuktikan dengan adanya kode gedung dan
ruang sebagai sarana membantu seluruh warga SMK Muhammadiyah 1 Metro dalam proses kegiatan pembelajaran yang dapat dilihat dalam gambar berikut ini.
Gambar 1 .
Denah Lokasi SMK Muhammadiyah 1 Metro
Sumber Dokumentasi SMK Muhammadiyah 1 Metro tahun 2017
f. Struktur Organisasi SMK Muhammadiyah 1 Metro
Struktur Organisasi merupakan susunan dan hubungan antara kompenen atau bagian dalam sebuah organisasi. SMK Muhammadiyah 1 Metro dilihat dari struktur organisasinya di bawah naungan Yayasan Persyarikatan Muhammadiyah tepatnya Majelis Pendidikan Dasar dan
Masjid j l .
T a w e s
M e t r o
T i
m u r
Menengah Pimpinan Cabang Metro Timur dan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung. Struktur Organisasi SMK Muhammadiyah 1 Metro tersebut menggambarkan tugas dan wewenang masing-masing komponen sekolah, dan hubungan komponen tersebut dalam mewujudkan visi, misi dan tujuan SMK Muhammadiyah 1 Metro. Dekripsi kerja (job deskripsi) meliputi:
1) Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah
Bertugas mengatur dan mengelola kegiatan belajar mengajar serta sebagai bimbingan konseling bagi seluruh siswa.
2) Guru
Bertugas sebagai pendidik dan motivator serta berfungsi sabagai bimbingan konseling siswa dalam mengatasi kesulitan.
3) Tata Usaha dan Bendahara
Sebagai pengatur administrasi dan membantu kelancaran belajar mengajar.
4) Bimbingan Konseling (BK)
Bertugas memberikan pengarahan dan bimbingan kepada seluruh siswa
5) Siswa
Harus aktif dalam kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler sekolah.
Gambaran tentang kerangka dan pola hubungan, tugas dan tanggung jawab dalam struktrur organisasi SMK Muhammadiyah 1 Metro adalah sebagai berikut:
Gambar 2.
STRUKTUR ORGANISASI SMK MUHAMMADIYAH 1 METRO TAHUN PELAJARAN 2017/2018
= Garis Instruksi
= Garis Konsultasi
WAKA SARPRAS
WALI KELAS/
PEMBINA-PEMBINA
GURU ADAPTIF
GURU PRODUK
GURU BK GURU
NORMAT
SISWA
WAKA HUMAS WAKA
KURIKULUM
KETUA PROGRAM KEAHLIAN
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI LAMPUNG
KEPALA SEKOLAH
POKJA WMM Ka. TATA
USAHA
WAKIL MANAJEME KOMITE
SEKOLAH
DU/DI
STAF TATA USAHA
WAKA KESISWAAN
MAJELIS DIKDASMEN PCM METRO TIMUR
A. Temuan Khusus Penelitian
1. Implementasi Supervisi Klinis dalam Peningkatan Kompetensi Profesional guru PAI
Supervisi klinis merupakan suatu bentuk bantuan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannya melalui siklus yang sistematis dalam perencanaan, pengamatan yang cermat, dan pemberian balikan yang segera secara objektif tentang penampilan pengajarannya yang nyata untuk meningkatkan profesionalsme dalam mengajar yang difokuskan pada pada penampilan guru secara nyata di kelas, termasuk pula guru sebagai peserta atau partisipasi aktif dalam proses supervisi tersebut.
Dalam hal ini supervisi klinis dilakukan oleh kepala sekolah SMK Muhammadiyah 1 Metro berkaitan dengan supervisi klinis terhadap guru PAI di SMK Muhammadiyah 1 Metro, maka dapat dijelaskan berdasarkan hasil wawancara sebagaimana di bawah ini:
Menurut Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 1 Metro sebagai nara sumber pertama, bahwa beliau memahami tentang supervisi klinis. Hal ini sesuai dengan pernyataan kepala sekolah SMK Muhammadiyah 1 Metro sesuai dengan petikan wawancara berikut ini:
Saya mengetahui tentang supervisi klinis adalah supervise yang bisa dilakukan oleh pengawas sekolah, kepala sekolah dan guru senior dalam pembelajaran, pribadi guru, administrasi yang berupa bantuan dalam proses belajar mengajar agar pelaksanaan pembelajaran lebih baik sebagaimana yang diharapkan sekolah dan pemerintah. (W.1/
F.1.1/SHT/08/11/17)
Supervisi klinis juga dipahami oleh Wakil Kepala sekolah bidang kurikulum dalam petikan wawancara sebagai berikut ini:
Supervisi klinis adalah bentuk bimbingan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannnya melalui siklus yang sistematis. (W.2/ F.1.1/HRK/08/11/17)
Dari dua pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa supervisi klinis merupakan suatu bentuk supervisi atau pengawasan yang dilaksanakan oleh pengawas sekolah, kepala sekolah dan guru senior dimana dalam kegiatan supervisi dilakukan pembimbingan secara professional. Pembimbingan yang dilakukan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing guru.
Supervisi klinis dilakukan bukan tanpa adanya alasan atau kebutuhan.
Supervisi klinis dipilih tentunya untuk melakukan pengawasan dengan tujuan tertentu. Adapun alasan dipilihnya supervisi klinis yang dilakukan sesuai dengan petikan wawancara berikut ini:
Sebagai pertimbangan melakukan supervisi klinis, yang pertama adalah selama ini jarang sekali pengawas sekolah malaksanakannya, Kedua, atas dasar permintaan guru dan tugas sebagai kepala sekolah sebagai supervisor. Ketiga supervisi klinis dilaksanakan oleh kepala sekolah sebagai supervisor sesuai dengan jenis permasalahan yang dihadapi. Setiap permasalahan yang ditemui tidak harus sama dengan sistem/cara penyelesaiannya. Suatu permasalahan harus diselesaikan dengan cara yang sesuai dan belum tentu dengan supervisi klinis”.
(W.1/ F.1.2/SHT/08/11/17)
Tujuan dari supervisi klinis juga dipahami oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum yang menyatakan bahwa:
Supervisi klinis dilakukan agar para guru dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, utamanya bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran agar dapat menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. (W.2/ F.1.2/HRK/08/11/17)
Dari kedua pendapat di atas, dapat dinyatakan bahwa pemilihan supervisi klinis dikarenakan adanya tidak adanya pengawas sekolah yang melaksanakannya, keinginan untuk memberikan bimbingan kepada guru agar
dapat menyelesaikan berbagai kesulitan yang dihadapinya. Supervisi klinis merupakan supervisi yang dilakukan dengan pembimbingan sesuai dengan kebutuhan setiap guru. Karena itu, kegiatan ini akan berbeda-beda antara guru yang satu dengan guru lainnya. Untuk itu, pelaksanaan supervisi klinis tentu akan berbeda dengan supervisi pada umumnya. Sehubungan dengan hal tersebut, mengenai pelaksanaan supervisi klinis ini, salah satu guru pendidikan agama Islam menyatakan bahwa:
Ya, kepala sekolah melakukan supervisi klinis terhadap guru pendidikan agama Islam yang mana pelaksanaanya dibantu oleh waka kurikulum. (W.3/ F.1.1/ZMD/08/11/17)
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kepala sekolah melakukan supervisi klinis terhadap dirinya dan rekan-rekannya dibantu oleh waka kurikulum.
Hal senada juga dikemukakan oleh beberapa guru PAI menyatakan bahwa kepala sekolah melakukan supervisi klinis. Hal ini sebagaimana dikemukakan guru PAI lainnya yang menyatakan sesuai dengan petikan wawancara berikut ini:
Kepala sekolah melakukan kegiatan supervisi di kelas, melihat RPP yang saya miliki dan memberikan komentar perbaikan. (W.4/
F.1.1/DMC/08/11/17
Dari pernyataan di atas menunjukan bahwa kepala sekolah melakukan supervisi klinis di kelas umtuk perbaikan rencana pembelajaran. Hal senada juga disampaikan guru pendidikan agama Islam lainnya sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:
Kami melakukan konsultasi kepada kepala sekolah yang sedang melakukan supervisi di sekolah kami. (W.5/ F.1.1/ADB/09/11/17)
Dari beberapa pernyataan di atas menunjukkan bahwa kepala sekolah melakukan supervisi klinis di sekolah, yaitu melakukan pengawasan terhadap kegiatan pembelajaran di kelas termasuk memberikan masukan terhadap guru tentang beberapa hal yang terkait dengan masalah pembelajaran.
Namun dari beberapa nara sumber lain diketahui bahwa mereka tidak mengetahui adanya supervisi klinis hal ini sesuai dengan petikan wawancara berikut ini:
Iya, kadang-kadang saya disupervisi kepala sekolah tetapi bukan supervisi kelas, mungkin faktor umur saya ini yang sudah tua sehingga kepala sekolah enggan untuk mensupervisi diri saya. (W.6/
F.1.1/MHL/10/11/17)
Dari perbedaan informasi di atas, maka dapat dinyatakan bahwa kepala sekolah melakukan supervisi klinis terhadap beberapa guru, tetapi tidak melakukan supervisi klinis terhadap beberapa guru lain. Dengan kata lain bahwa kepala sekolah belum sepenuhnya melakukan supervisi klinis terhadap semua guru di SMK Muhammadiyah 1 Metro. Hal ini tentu ada sebabnya mengapa kepala sekolah tidak melakukan supervisi klinis terhadap semua guru. Dikonfirmasikan lagi dengan dengan kepala sekolah, menyatakan sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:
Tentu tidak semua guru mendapatkan supervisi klinis, karena tidak semua guru membutuhkannya. Selama yang dilakukan guru sudah baik, ya sudah, artinya seorang guru tersebut sudah dapat merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi pembelajaran. Sehingga supervisi klinis menurut saya hanya diutamakan terhadap guru yang mengalami kesulitan. (W.1/ F.1.3/SHT/08/11/17)
Dari informasi tersebut jadi jelas bahwa tidak semua guru mendapatkan supervisi klinis. Supervisi klinis sebagai supervisi untuk
melakukan perbaikan diperuntukkan guru yang mengalami kesulitan dalam kegiatan pembelajaran. Karena itu perlu dibimbing dan diarahkan agar kesulitannya dapat teratasi dan dapat melakukan pembelajaran secara normal dan wajar. Selanjutnya mengenai pelaksanaannya, kepala sekolah menyatakan sesuai dengan petikan wawancara berikut:
Pelaksanaan supervisi klinis dilaksanakan di ruang kelas oleh saya sendiri dibantu waka kurikulum dan Bapak/Ibu guru di mulai dari pengawasan setiap pagi secara langsung di kelas maupun saya melihat dari layar CCTV di ruangan saya untuk melihat pembelajaran yang ada di kelas. kemudian saya melaksanakan supervisi klinis yang dimulai dari pertemuan awal (perencanaan), pelaksanaan, dan pertemuan akhir (monitoring dan evaluasi). Pada tahap awal difokuskan dalam hal mendesain program perencanaan supervisi klinis, melakukan pengkajian RPP. Tahap pelaksanaan dilakukan pengawas: (a) deteksi kompetensi guru secara lesan; (b) administrasi pembelajaran; (c) proses belajar mengajar di kelas; (d) pembinaan RPP; (e) monitoring; (f) pengembangan RPP; (g) evaluasi; (h) peningkatan mutu pembelajaran; (i) pengembangan bahan ajar; (j) pengembangan media; (k) deteksi kesulitan belajar siswa; dan (l) memberikan solusi kepada siswa yang mengalami hambatan belajar.Tahap yang terakhir adalah monitoring dan evaluasi. Dalam tahap ini, kepala sekolah mengadakan kegiatan monitoring, evaluasi dan pengembangan pada pelaksanaan tahap kedua. Selanjutnya supervisi klinis dilaksanakan kepada Bapak/Ibu guru yang mengalami kesulitan/ permasalahan baik dalam pembelajaran, administrasi dan lain-lain, dan dalam melaksanakan supervisi ini, kepala sekolah melaksanakannya secara berkesinambungan tidak hanya sekali saja, namun dipantau terus perkembangannya untuk terselesaikannya masalah yang dihadapi. (W.1/ F.1.4/SHT/08/11/17)
Dari pendapat kepala sekolah dikuatkan dengan adanya hasil dokumentasi yang berupa intrumen penilaian guru dalam pembalajaran di kelas. (D.I./F.1/08/11/17)
Dari pernyataan di atas, maka dapat diketahui bahwa pelaksanaan supervisi klinis dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Lebih lanjut tentang pelaksanaan
supervisi klinis, bahwa setiap kegiatan tentu dilakukan perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:
Sangat perlu untuk direncanakan, sebab semua program kalau tidak direncanakan hasilnya juga nanti kurang bagus sehingga pelaksanaan supervisi klinis pun harus direncanakan dengan memberikan intrumen evaluasi diri dan wawancara kepada guru pendidikan agama Islam merupakan pertemuan awal. (W.1/ F.1.5/SHT/08/11/17)
Dari pendapat di atas dikuatkan dengan dokumen Evaluative Chek List yang berisi tentang aspek-aspek yang dilihat sesuai dengan kompetensi guru pendidikan agama Islam. (D.I./F.1/08/11/17)
Dari pernyataan tersebut jelas menunjukkan bahwa supervisi klinis perlu direncanakan. Perencanaan dilakukan dengan melakukan memberikan instrument evaluasi diri dan wawancara sebagai titik awalnya, yaitu untuk mengetahui kebutuhan guru atau hal-hal yang menjadi kesulitan guru pendidikan agama Islam. Lebih lanjut tentang pelaksanaan supervisi klinis, guru pendidikan agama Islam menyatakan sesuai dengan petikan wawancara berikut :
Beberapa kali kepala sekolah menanyakan kesulitan-kesulitan yang kami hadapi dalam kegiatan pembelajaran, namun beliau tidak memberikan solusinya. Informasi tersebut menunjukkan bahwa kepala sekolah berusaha mencari masalah yang dihadapi oleh guru. (W.3/
F.1.2/ZMD/08/11/17)
Pernyataan senada dikemukakan oleh guru pendidikan agama Islam lainnya sesuai dengan hasil petikan wawancara sebagai berikut:
Kami diminta untuk mengisi instrument evaluasi diri dan mengemukakan berbagai permasalahan yang kami hadapi di kelas, permasalahan guru terhadap siswa dan beliau mencatatnya. Selain itu kepala sekolah juga melihat perangkat pembelajaran kami dan beliau menanyakan berbagai kesulitan dalam membuatnya. (W.5/
F.1.2/ADB/09/11/17)
Berdasarkan beberapa informasi di atas menunjukkan bahwa kepala sekolah mencari permasalahan yang dihadapi oleh guru, yaitu dengan melihat hasil dari evaluasi diri guru pendidikan agama Islam dan menanyakan permasalahan guru pendidikan agama Islam dalam pembelajaran di kelas dan juga melihat perangkat pembelajaran guru. Kegiatan tersebut nampak sebagai kegiatan untuk mengumpulkan data dan informasi. Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan perencanaan dalam melakukan supervisi.
Lebih lanjut dalam perencanaan supervisi klinis, pihak yang terkait perlu memahami kegiatan yang akan dilakukan. Sehubungan dengan informasi di atas tentang perlunya memperoleh data dan memberitahukan tentang rencana supervisi kepada guru dinyatakan sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:
Kadang-kadang tidak, tetapi khusus supervisi klinis harus diberi tahu terlebih dahulu karena sebelum pelaksanaan harus bermusyawarah antara, kepala sekolah, staf pimpinan, guru pendidikan agama Islam pada khusunya dan staf tata usaha secara terbuka. (W.1/
F.1.6/SHT/08/11/17)
Dari pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dalam melakukan supervisi klinis, kepalas sekolah memberitahu kepada guru dan waka kurikulum terlebih dahulu. Pemberitahuan ini tentunya memiliki tujuan.
Namun secara jelas bahwa supervisi klinis memerlukan kerjasama antara supervisor dengan yang disupervisi. Jadi pemberitahuan rencana ini dapat dikatakan memiliki tujuan agar terjadi kerjasama yang baik antara supervisor dengan yang disupervisi. Sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:
Kepala sekolah memberitahukan kepada kami selaku penanggung jawab ketika akan melakukan supervisi klinis di sekolah kami. Selain itu juga diharapkan guru juga harus mengetahui bahwa kepala sekolah akan melakukan supervisi klinis. (W.2/ F.1.3/HRK/08/11/17)
Jadi, pihak yang terkait dengan kegiatan pengawasan sebelumnya diberitahu akan kegiatan yang hendak dilakukan. Sehingga akan terjadi kerjasama antara berbagai pihak yang terkait dalam kegiatan supervisi klinis.
Hal senada juga dikemukakan salah satu guru pendidikan agama Islam yang menyatakan sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:
Sebelum kepala sekolah akan melakukan supervisi, kami diberitahu terlebih dahulu oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Dengan demikian kami juga siap untuk mengikuti supervisi klinis. (W.4/
F.1.2/DMC/08/11/17)
Pernyataan tersebut didukung pula oleh guru pendidikan agama Islam yang lainnya yang menyatakan sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:
Waka Kurikulum memberitahu kami ketika akan dilakukan supervisi klinis oleh kepala sekolah. Karena itu kami juga siap-siap agar dapat mengikuti supervisi dengan baik. (W.2/ F.1.3/ADB/09/11/17)
Berdasarkan beberapa informasi di atas, kegiatan supervisi klinis dilakukan oleh kepala sekolah dengan memberitahukan kepada pihak-pihak yang terkait, yaitu Waka kurikulum dan guru yang bersangkutan. Hal ini penting karena kegiatan supervisi klinis ditujukan untuk melakukan perbaikan pembelajaran bagi guru yang mengalami kesulitan. Setiap kegiatan yang dilakukan, perlu diketahui apakah sudah mencapai tujuan atau belum. Dari kedua pernyataan di atas didukung dengan hasil observasi sesuai dengan petikan observasi sebagai berikut:
Ibu waka kurikulum menghampiri salah satu guru pendidikan agama Islam di ruang guru untuk mempersiapkan perangkat pembelajaran, yang meliputi; kalender pendidikan, program tahunan, program semester, penyusunan silabus, penyajian materi sampai pada kegiatan remedial dan disyahkan oleh kepala sekolah karena besuk akan akan nada supervisi pembelajaran di kelas. (O/ F.1.O1//08/11/17)
Kegiatan untuk mengetahui pencapaian tujuan biasanya disebut dengan kegiatan evaluasi. Hal ini juga dilakukan pada kegiatan supervisi klinis, sebagaimana dinyatakan oleh kepala sekolah tentang pelaksanaan evaluasi supervisi klinis, sesuai dengan petikan wawancara sebagai berikut:
Dalam pelaksanaan evaluasi saya melihat pembelajaran di kelas secara lansung sambil mengisi intrumen penilaian proses belajar pada umumnya, keterampilan khusus dalam mengajar dan suasana kelas setelah itu hasil dari evaluasi tadi dibicarakan kembali bersamaan dengan kegiatan kelompok kerja guru yang dilaksanakan bersama- sama antara kepala sekolah, waka kurikulum, guru PAI, dan pengurus KKG dan pelaksanaannya secara berkelanjutan. (W.1/
F.1.7/SHT/08/11/17)
Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa kegiatan evaluasi dari supervise klinis sudah dilaksanakan secara terencana bersamaan dengan kegiatan KKG. Dalam kegiatan KKG tersebut, maka dapat dilakukan evaluasi bersama antara kepala sekolah, waka kurikulum, guru PAI dan pengurus KKG, sehingga dapat diketahui efektivitas dari supervisi klinis yang dilakukan.
Sehubungan informasi di atas, beberapa informasi di bawah ini ternyata banyak yang mendukung kebenarannya. Informasi tersebut sesuai dengan petikan wawancara sebagai beriku:
Sesuai dengan rencana, kepala sekolah menghadiri kegiatan KKG dan melakukan evaluasi terhadap kegiatan supervisi klinis yang telah dilakukan di sekolah. (W.4/ F.1.3/DMC/08/11/17)