BAB V KESEHATAN KELUARGA
B. KESEHATAN ANAK
3. Imunisasi
a. Imunisasi Dasar pada Bayi
Imunisasi Program adalah imunisasi yang diwajibkan kepada seseorang sebagai bagian dari masyarakat dalam rangka melindungi yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi. Imunisasi Program terdiri atas Imunisasi rutin, Imunisasi tambahan, dan Imunisasi khusus. Salah satu indikator dalam Program Imunisasi Rutin adalah Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) pada bayi. Dikatakan Imunisasi dasar lengkap pada bayi jika bayi telah mendapatkan imunisasi satu dosis imunisasi Hepatitis B, satu dosis imunisasi BCG, tiga dosis imunisasi DPT-HB/DPT-HB-Hib, empat dosis imunisasi polio, dan satu dosis imunisasi campak rubella.
Untuk pencapaian indikator bayi diimunisasi dasar lengkap dengan target minimal di tahun 2022 adalah sebesar 90% atau lebih, maka tingkat provinsi tercapai 95% tercapai target. Terdapat kenaikan pencapaian indikator bayi diimunisasi dasar lengkap antara tahun 2021 dibandingkan tahun 2022. Untuk tingkat provinsi terdapat kenaikan 3,23% dari pencapaian 2021 lalu 91,77 % menjadi 95,0%. Untuk kabupaten/kota yang tercapai indikator bayi diimunisasi dasar lengkap juga mengalami kenaikan dari 24 kabupaten/kota (63,16%) di tahun 2021 menjadi 31 kabupaten/kota (81,6%). Secara terperinci pencapaian indikator bayi diimunisasi dasar lengkap per kabupaten/kota seperti pada gambar di bawah ini :
111
GAMBAR 5.25
PENCAPAIAN INDIKATOR BAYI USIA 0–11 BULAN YANG MENDAPATKAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PER KABUPATEN/KOTA TAHUN 2022
Sumber : Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Jatim, 2022
Pencapaian tertinggi dicapai oleh Kabupaten Bondowoso sebesar 109,28% sedangkan pencapaian terendah ada pada Kabupaten Bangkalan sebesar 64,7% hal ini disebabkan banyaknya penolakan masyarakat terutama imunisasi yang diberikan dengan cara disuntik, serta pemahaman bahwa setelah imunisasi anak menjadi sakit dan rewel karena terjadi demam ringan. Upaya yang dilakukan pemberian penyuluhan maupun konseling tentang manfaat dan pentingnya imunisasi, bahaya jika anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap, serta demam ringan adalah hal yang normal setelah pemberian imunisasi serta solusi cara menanggulangi demam setelah imunisasi.
b. Imunisasi Lanjutan Lengkap pada Badta
Imunisasi lanjutan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menjamin terjaganya tingkat imunitas pada anak baduta (anak usia di bawah dua tahun), anak usia sekolah, dan wanita usia subur (WUS) termasuk ibu hamil. Hasil serologi yang didapat pada anak yang diberikan DPTHB-Hib pada usia 18-24 bulan berdasarkan
88,47000 87,23000
85,88000 85,74000 84,92000
79,94000 64,67000 95,000
,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00
Bondowoso Sumenep Bojonegoro Madiun Tuban Lamongan Trenggalek Sidoarjo Batu Banyuwangi Mojokerto Tulungagung Kota Surabaya Kota Pasuruan Gresik Ngawi Lumajang Kota Mojokerto Kota Probolinggo Malang Pasuruan Kota Madiun Pacitan Kota Kediri Kediri Probolinggo Magetan Nganjuk Blitar Ponorogo Jombang Sampang Pamekasan Kota Malang Jember Kota Blitar Situbondo Bangkalan prov jawa imur
112 penelitian di Jakarta dan Bandung (Rusmil et al,2014) diketahui Anti D 99,7%, Anti T 100 %, HBsAg 99,5%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa Imunisasi DPT harus diberikan 3 kali dan tambahan pada usia 15-18 bulan untuk meningkatkan titer antibodi pada anak-anak. Penyakit lain yang membutuhkan pemberian imunisasi lanjutan pada usia baduta adalah campak. Penyakit campak adalah penyakit yang sangat mudah menular dan mengakibatkan komplikasi yang berat. Vaksin campak memiliki efikasi kurang lebih 85%, sehingga masih terdapat anak-anak yang belum memiliki kekebalan dan menjadi kelompok rentan terhadap penyakit campak.
Imunisasi lengkap pada Baduta juga menjadi salah satu indikator program Imunisasi rutin dengan target minimal lebih dari 90%. Pencapaian persentase anak usia 12-24 bulan yang mendapat imunisasi lanjutan baduta lengkap di tingkat provinsi dengan target minimal lebih dari 90% maka Provinsi Jawa Timur tercapai sebesar 91,77% diwakili oleh Imunisasi MR 2 tercapai target minimal ≥ 90%. Terdapat peningkatan pencapaian provinsi dibanding tahun 2021. Peningkatan persentase imunisasi lanjutan baduta sebesar 13,75% dari 78,02% pada tahun 2021 menjadi 91,77% di tahun 2022. Untuk pencapaian per kabupaten/kota dapat dilihat pada gambar 5.26
113
GAMBAR 5.26
PERSENTASE ANAK USIA 12-24 BULAN YANG MENDAPAT IMUNISASI LANJUTAN BADUTA LENGKAP PER KABUPATEN/KOTA TAHUN 2022
Sumber : Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Jatim, 2022
Terdapat peningkatan kabupaten/kota yang tercapai target minimal imunisasi lanjutan baduta lengkap sebesar 10,5%. Dari 21 kabupaten/kota (55,3%) di tahun 2021 menjadi 25 kabupaten/kota (65,8%) di tahun 2022. Pencapaian tertinggi dicapai oleh Kota Pasuruan sebesar 126,04% sedangkan pencapaian terendah ada pada Kabupaten Bangkalan sebesar 45,1%
Kabupaten Bangkalan merupakan kabupaten yang mempunyai pencapaian terendah untuk program imunisasi rutin baik pada imunisasi dasar lengkap bayi juga imunisasi lanjutan baduta hal ini disebabkan selain banyaknya penolakan masyarakat terutama imunisasi yang diberikan dengan cara disuntik, serta pemahaman bahwa setelah imunisasi anak menjadi sakit dan rewel karena terjadi demam ringan. Selain hal ini, masyarakat banyak yang belum mengetahui bahwa imunisasi dasar masih belum cukup untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, dan diperlukan imunisasi lanjutan pada baduta usia 18 sampai 24 bulan untuk meningkatkan titer
88,25000 87,8000 87,59000 86,87000 85,05000 84,96000 84,58000 80,93000 79,95000 74,2000 72,48000 69,97000 45,11000
,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0 140,0
Kota Pasuruan Madiun Kota Kediri Tuban Kota Surabaya Pacitan Gresik Sidoarjo Ngawi Kota Mojokerto Bojonegoro Mojokerto Pasuruan Probolinggo Bondowoso Banyuwangi Nganjuk Tulungagung Kota Madiun Trenggalek Malang Magetan Blitar Lamongan Pamekasan Kota Probolinggo Kediri Kota Batu Jember Jombang Kota Malang Ponorogo Kota Blitar Lumajang Situbondo Sampang Sumenep Bangkalan J U M L A H
114 antibodi pada bayi yang semakin menurun setelah usia 15 bulan khususnya terhadap penyakit difteri dan campak. Upaya yang dilakukan pemberian penyuluhan maupun konseling tentang manfaat dan pentingnya imunisasi lanjutan lengkap pada baduta sebelum usia 24 bulan, bahaya jika anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap, serta demam ringan adalah hal yang normal setelah pemberian imunisasi serta solusi cara menanggulangi demam setelah imunisasi. Penyuluhan ini dengan melibatkan organisasi kemasyarakatan seperti muslimat NU, aisyiyah dan PKK.
c. Imunisasi Lanjutan Lengkap di Usia Sekolah Dasar
Hasil serologi campak sebelum dilakukan imunisasi campak pada anak sekolah dasar diketahui titer antibodi terhadap campak adalah 52,60% – 65,56%. Setelah Imunisasi campak pada BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) diketahui titer antibodi meningkat menjadi 96,69% – 96,75% (SRH, 2009). Hasil serologi difteri sebelum dilakukan imunisasi difteri pada anak sekolah dasar diketahui titer antibodi adalah 20,13% – 29,96% setelah imunisasi difteri pada BIAS diketahui titer antibodi meningkat menjadi 92,01%
– 98,11% (SRH, 2011).
Untuk pencapaian indikator persentase anak yang mendapatkan imunisasi lanjutan lengkap di usia sekolah dasar di tahun 2022 di tingkat provinsi dengan target minimal 70% lebih dilihat dari imunisasi tetanus difteri pada anak kelas 5 sekolah dasar. Untuk tingkat provinsi tercapai imunisasi Td kelas 5 sekolah dasar sebesar 105,7% meningkat 19,47% dibanding tahun lalu yang hanya tercapai 86,2%. Sedangkan pencapaian di tingkat kabupaten/kota seperti dalam gambar di bawah ini.
115
GAMBAR 5.27
PERSENTASE ANAK YANG MENDAPATKAN IMUNISASI LANJUTAN LENGKAP DI USIA SEKOLAH DASAR PER KABUPATEN KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2022
Sumber : Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Jatim, 2022
Terdapat peningkatan kabupaten/kota yang tercapai target minimal lebih dari 70% imunisasi lanjutan lengkap di usia sekolah dasar sebesar 15,78%. Dari 30 kabupaten/kota (78,54%) di tahun 2021 menjadi 36 kabupaten/kota (94,73%) di tahun 2022.
Pencapaian tertinggi dicapai oleh Kota Madiun sebesar 169,62% sedangkan pencapaian terendah ada pada Kabupaten Pamekasan sebesar 61,2%. Imunisasi BIAS di Kabupaten Pamekasan rendah disebabkan ada beberapa sekolah yang tidak melaksanakan BIAS tahun 2022. Upaya yang akan dilakukan oleh puskesmas yang tidak melaksanakan BIAS tahun 2022 maka akan dilakukan di tahun 2023 meskipun sudah naik kelas. Maka BIAS tahun 2022 di beberapa puskesmas sasaran yang seharusnya kelas 1, 2, dan 5 sekolah dasar menjadi kelas 1, 2, 3, 5, dan kelas 6.