BAB II LANDASAN TEORI
D. Inflasi
25 merupakan harga emas secara real time yang diperbarui setiap saat. Bagi harga spot, gold fix berperan sebagai dasar pembentukan harga spot dan sisanya dipengaruhi oleh perkembangan dan reaksi pasar.
Di Indonesia, umumnya sebagian besar menggunakan satuan berat emas dengan istilah βgramβ. Namun, isitilah istilah ini tidak berlaku di pasar emas dunia, satuan berat emas di pasar dunia adalah troy ounce atau troy oz (toz) atau setara dengan 31,1034768 gram. Rumus yang dapat digunakan untuk mengkonversi harga emas dunia ke dalam rupiah per gram adalah:
π·ππππ π π’πππβ =π»ππππ πΈπππ
31,1034768 π₯ πππππ ππ’πππβ π πππ‘ πππ
Harga emas dunia yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah dalam satuan mata uang Dollar Amerika (USD) per troy ounce.
26 sebagainya) dengan tingkat pendapatan yang dimiliki oleh masyarakatβ (Putong, 2015:4). Inflasi menurut Irham Fahmi (2019:77) adalah sebagai berikut:
Inflasi merupakan suatu kejadian yang menggambarkan situasi dan kondisi dimana harga barang mengalami kenaikan dan nilai mata uang mengalami pelemahan, dan jika ini terjadi secara terus menerus maka akan mengakibatkan pada memburuknya kondisi ekonomi secara menyeluruh serta mampu mengguncang tatanan politik suatu negara.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa inflasi merupakan kondisi yang menggambarkan kenaikan harga produk secara keseluruhan dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu.
2. Jenis-Jenis Inflasi
Jenis inflasi berdasarkan sifatnya menurut Idris (2016:125) dibagi menjadi empat kategori utama, yaitu:
a) Inflasi merayap/rendah (creeping inflation), yaitu inflasi yang besarnya kurang dari 10% pertahun;
b) Inflasi menengah (galloping inflation) besarnya antara 10-30% pertahun.
Inflasi ini biasanya ditandai oleh naiknya harga-harga secara cepat dan relatif besar. Angka inflasi pada kondisi ini biasanya disebut 2 digit, misalnya 15%, 20%, 30%, dan sebagainya;
c) Inflasi tinggi (high inflation), yaitu inflasi yang besarnya antara 30-100% per tahun. Dalam kondisi ini harga-harga secara umum naik; dan
d) Inflasi sangat tinggi (hyper inflation), yaitu inflasi yang ditandai oleh naiknya harga secara drastis hingga mencapai 4 digit (diatas 100%). Pada kondisi ini masyarakat tidak ingin lagi menyimpan uang, karena nilainya merosot sangat tajam, sehingga lebih baik ditukarkan dengan barang.
27 Inflasi dalam ilmu ekonomi konvensional menurut Rozalinda (2017:304) dapat digolongkan dengan beberapa cara yaitu:
a) Inflasi dapat digolongkan berdasarkan besarnya, yaitu Low Inflation (inflasi dibawah 10% pertahun), Galloping Inflasion (inflasi antara 20% sampai 200%
pertahun), dan Hyperinflation, (inflasi diatas 200% per tahun).
b) Inflasi berdasarkan sumbernya, terbagi kepada Demand Full Inflation (inflasi karena tarikan pemerintah) dan Cost Push Inflation (inflasi karena biaya atau harga sektor produksi).
c) Inflasi berdasarkan asalnya, dapat dikategorikan kepada Domestik Inflation (berasal dari dalam negeri) dan Foreign atau Imported Inflation (berasal dari luar negeri).
d) Inflasi berdasarkan harapan masyarakat, inflasi ini dikategorikan menjadi dua yaitu, Expected Inflation (inflasi yang diharapkan atau diperkirakan akan terjadi) dan Unexpected Inflation (inflasi yang tidak dapat diperkirakan akan terjadi).
Jenis inflasi berdasarkan sumber atau penyebab kenaikan harga-harga berlaku menurut Sukirno (2015:353) yaitu:
a) Inflasi tarikan permintaan
Inflasi tarikan biaya ini biasanya terjadi pada negara yang mengalami kemajuan perekonomian yang pesat. Kesempatan kerja yang tinggi akan menambah pendapatan masyarakat sehingga menimbulkan pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi untuk memproduksi suatu barang dan jasa, pengeluaran yang berlebihan inilah yang menyebabkan terjadinya inflasi.
28 Selain terjadi pada masa kemajuan perekonomian yang pesat, inflasi tarikan permintaan juga dapat terjadi pada masa perang dan ketidakstabilan politik.
b) Inflasi desakan biaya
Adalah kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh kenaikan dalam biaya produksi sebagai akibat kenaikan harga bahan mentah atau kenaikan upah.
Inflasi ini terutama berlaku dalam masa perekonomian berkembang dengan pesat ketika tingkat pengangguran adalah sangat rendah. Apabila perusahaan- perusahaan masih menghadapi permintaan yang bertambah, mereka akan berusaha menaikkan produksi dengan cara memberikan gaji dan upah yang lebih tinggi kepada pekerjanya dan mencari pekerjaan baru dengan tawaran pembayaran yang lebih tinggi ini. Langkah ini mengakibatkan biaya produksi meningkat, yang akhirnya akan menyebabkan kenaikan harga-harga berbagai barang.
c) Inflasi Diimpor
Adalah kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh kenaikan harga-harga barang impor yang digunakan sebagai bahan mentah produksi dalam negeri.
Inflasi ini akan ada apabila barang-barang impor yang mengalami kenaikan harga mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan pengeluaran- pengeluaran perusahaan.
3. Faktor-Faktor Penyebab Inflasi
Faktor-faktor yang menyebabkan inflasi menurut Sukirno (2015:14) yaitu:
a) Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan- perusahaan untuk menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa.
29 Inflasi ini disebabkan oleh keinginan konsumen mendapatkan barang dan mendorong meminta barang itu pada harga yang lebih tinggi. Sebaliknya, para pengusaha akan mencoba menahan barangnya dan hanya menjual kepada pembeli yang bersedia membayar pada harga yang lebih tinggi.
b) Pekerja-pekerja di berbagai kegiatan ekonomi menuntuk kenaikan upah.
Inflasi ini disebabkan karena perusahaan kesulitan untuk mendapatkan tambahan pekerja untuk menambah produksinya, sehingga pekerja-pekerja yang ada akan terdorong untuk menuntut kenaikan upah. Apabila tuntutan kenaikan upah berlaku secara meluas, akan terjadi kenaikan biaya produksi dari berbagai barang dan jasa yang dihasilkan dalam perekonomian, sehingga akan mendorong perusahaan menaikkan harga barang-barang mereka.
c) Kenaikan harga-harga barang yang diimpor
d) Penambahan penawaran uang yang berlebihan tanpa diikuti oleh pertambahan produksi dan penawaran barang
e) Kekacauan politik dan ekonomi sebagai akibat pemerintahan yang kurang bertanggung jawab.
Penyebab utama terjadi inflasi menurut Iskandar Putong (2015) sebagai berikut:
a) Demand Pull Inflation.
Inflasi ini timbul karena adanya permintaan yang tidak diimbangi dengan kondisi peningkatan tingkat produksi, akibatnya sesuai hukum permintaan, bila permintaan banyak sementara penawaran tetap maka harga akan naik. Dan bila hal ini berlangsung terus menerus, akan menyebabkan inflasi yang
30 berkepanjangan. Oleh karena itu, untuk mengatasinya diperlukan adanya pembukaan kapasitas produksi baru dengan menambah tenaga kerja baru.
b) Cost Push Inflation.
Inflasi ini disebabkan adanya peningkatan biaya produksi yang dipicu oleh kenaikan biaya input atau biaya faktor produksi. Akibat naiknya biaya produksi tersebut, ada dua hal yang dapat dilakukan oleh produsen, yaitu dengan menaikkan harga produknya dengan jumlah penawaran yang sama atau harga produk naik karena penurunan jumlah produksi.
4. Pengukuran Inflasi
Bank Indonesia mengukur inflasi dengan Indeks Harga Konsumen (IHK).
Berdasarkan the Classification of Individual Consumption by Purpose (COICOP), IHK dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok pengeluaran, yaitu:
1) Bahan Makanan.
2) Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau.
3) Perumahan.
4) Sandang.
5) Kesehatan.
6) Pendidikan dan Olahraga.
7) Transportasi dan Komunikasi.
Data pengelompokan tersebut didapatkan melalui Survei Biaya Hidup (SBH).
(www.bi.go.id)
Adapun rumus menghitung inflasi menurut Iskandar Putong (2015:418), yaitu sebagai berikut:
31 πΌππ =πΌπ»πΎπ β πΌπ»πΎπ π₯ 100%
πΌπ»πΎπ Keterangan:
Inf : tingkat inflasi
IHKn : Indeks Harga Konsumen Tahun Dasar (nilainya 100) IHKo : Indeks Harga Konsumen Tahun Sebelumnya
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan indikator diatas dengan alasan bahwa indikator indeks harga konsumen digunakan secara umum termasuk oleh pemerintah melalui Bank Indonesia. Sehingga angka-angka yang muncul sesuai dengan apa yang telah diolah oleh Bank Indonesia dan mencerminkan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok secara umum berskala nasional.