• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sanksi Administrasi

BAB III. METODE PENELITIAN

B. Peran pemerintah dalam penertiban terminal

4. Sanksi Administrasi

Pembatasan fokus penelitian sangat penting dan berkaitan dengan masalah maupun data yang di kumpulkan, dimana fokus merupakan pecahan dari masalah

Perda Kota Makassar Nomor 15 Tahun

2006 Tentang Pengelolaan Terminal

Penumpang

Peran pemerintah 1. Regulasi

2. Pembinaan 3. Pengawasan

agar penelitian ini lebih terarah dan mudah dalam pencarian data, maka lebih dahulu di tetapkan fokus penelitian ini adalah :

1. Peran Pemerintah Dalam Menertibkan Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar.

2. Faktor yang Menhambat dan Mendukung Peran Pemerintah Dalam Menertibkan Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar.

E. Deskripsi Fokus Penelitian

Berdasarkan kerangka pikir di atas, adapun deskripsi fokus penelitian di antaranya :

1. Perda kota Makassar Nomor 15 tahun 2006 tentang pengelolaan terminal penumpang.

2. Regulasi yang di maksud adalah aturan peran pemerintah mewajibkan para sopir penumpang mengikuti aturan walikota Makassar misalnya para supir angkutan tidak boleh menaikkan dan menurungkan penumpang di luar terminal daya.

3. Pembinaan yang di maksud adalah peran pemerintah dalam melakukan pembinaan kepada para supir mobil penumpang antar daerah sehingga tidak menaikkan dan menurunkan penumpang di luar terminal daya agar fungsi terminal terlaksana dengan baik.

4. Pengawasan adalah pengawasan yang di laksanakan oleh Dinas Perhubungan dan Polwiltabes Kota Makassar kepada para supir penumpang termasuk mereka yang mempunyai mobil pribadi (plat hitam) agar tidak menaikkan dan menurunkan penumpan di luar terminal daya agar para sopir

tidak bebas menurungkan penumpang tetapi mengarahkan masuk ke terminal regional daya (TRD)

5. Sanksi administrasi yang dimaksud adalah memberikan teguran atau sanksi kepada para supir yang melanggar aturan sesuai perda yaitu pencabutan surat izin mengemudi (SIM) surat tanda nomor kendaraan (STNK) dan pencabutan surat izin trayek.

6. Faktor yang mempengaruhi adalah faktor yang dapat menghambat dan mendukung peran pemerintah dalam penertiban terminal liar di terminal regional daya Kota Makassar adalah

Faktor yang menghambat seperti :

1) Adanya oknum yang tidak bertanggun jawab ( perwira) sebagai pemilik kendaraan mobil pribadi (plat hitam) sehingga pemerintah dalam hal ini pihak Kepolisian dan Dinas Perhubungan sulit untuk melakukan penertiban.

2) Banyaknya retribusi yang harus di bayar oleh supir dan penumpang pada saat masuk ke dalam terminal sehingga terminal terlihat sangat sepi dan supir dan penumpang lebih memilih mengambil penumpang di luar terminal.

3) Banyaknya buruh angkut yang berada di dalam terminal yang menyebapkan para penumpang tidak ingin masuk ke dalam terminal karena penumpang harus membayar setiap buruh angkut yang membawa barang penumpang.

Faktor yang mendukung adalah :

1) Tim Terpadu yang di buat oleh Wali Kota Makassar yang melibatkan beberapa intansi terkait untuk menertibkan terminal liar di terminal regional daya Kota Makassar seperti Kasat lantas Polrestabes Kota Makassar, Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar dan Perusahaan Daerah Terminal Regional Kota Makassar.

7. Efektivitas pemerintah dalam menertibkan segala macam masalah yang ada di kota makassar khususnya penertiban terminal liar di kawasan daya Kota Makassar

33 BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini berlangsung selama dua bulan mulai tanggal 26 mei sampai 26 juli 2015. Lokasi penelitian di Perusahaan Daerah Terminal Makassar Metro, Polrestabes Kota Makassar, dan Dinas Perhubungan Kota Makassar yang merupakan salah satu lembaga terkait tentang masalah Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar. Alasan penelitian ini berdasar pada Dinas Perhubungan yang merupakan pelaksana kebijakan terminal yang masih belum terimplementasi dengan baik dan tidak sesuai peraturan daerah karena seharusnya para sopir tidak boleh menaikkan dan menurunkan penumpang di luar terminal.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis penelitian

Jenis penelitian yang di gunakan adalah penelitian deskriptip kualitatif, yaitu penelitian yang mendeskripsikan Tentang Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Daya Kota Makassar

2. Tipe penelitian

Peneliti menggunakan tipe penelitian fenomenologi yaitu untuk memberi gambaran tentang situasi atau fenomena sosial secara detail. Yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu secara jelas masalah- masalah yang diteliti berdasarkan pengalaman yang di alami informan tentang peran pemerintah dalam penertiban terminal liar di kawasan terminal daya kota makassar.

Pemilihan informan dalam penelitian ini dilakukan secara purposive (sengaja) yang didasarkan pada pertimbangan bahwa untuk memperoleh data yang akurat dan sesuai dengan keperluan peneliti, maka dipilih orang-orang yang berkompeten untuk memberikan informasi mengenai Peran Pemerintah Dalam Menertibkan Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar.

Adapun informan penelitian mengenai Penertiban Terminal Liar Di Kawasanl Terminal Regional Daya Kota Makassar terdiri dari :

TABEL INFORMAN

No Nama Inisial Jabatan/starata keterangan

1 H.Hakim

Syahrani

H.S Dirut PD Terminal Makassar metro

1 orang

2 Muhsin

R.Radja M.R

Kepala Seksi Adm PD Terminal Makassar

Metro

1 orang

3 Abdullah Rowa A.R Kepala Bidang Tehnik Sarana dan Prasarana

1 orang

4 Aziz Mila A.M

Staf Pegawai Bimbingan dan

Keselamatan Transportasi Dishub

Kota Makassar

1 orang

5 Syahrul SL Anggota Polantas

Polrestabes Kota Makassar

1 orang

6 Hasan HN Supir 1 orang

7 Taufik TK Supir 1 orang

8 Rahim RM Supir 1 orang

9 Dedi DI Penumpang 1 orang

10 Riska RA Penumpang 1 orang

11 Agus AS Penumpang 1 orang

Jumlah 11 orang

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian, tehnik pengumpulan data yang di gunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut :

1. Observasi

Observasi adalah cara pengambilan data dengan melakukan pengamatan secara langsung yang berkaitan dengan Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar.

2. Wawancara

Wawancara adalah wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara bebas terpimpin artinya peneliti mengadakan pertemuan langsung dengan petugas dan pemerintah dalam hal ini adalah Perusahaan daerah Terminal Makassar metro, Polrestabes Kota Makassar, dan Dinas Perhubungan Kota Makassar. Dan wawancara bebas artinya peneliti bebas mengajukan pertanyaan kepada informan sesuai jenis pertanyaan yang telah di siapkan sebelumnya terkait dengan Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah penempatan informasi melalui dokumen-dokumen tertentu yang dapat mendukun penelitisn tentang Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah langkah selanjutnya untuk mengelola data di mana data yang diperoleh, dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menyimpulkan persoalan yang diajukan dalam menyusun hasil penelitian. Dalam model ini terdapat 3 (tiga) komponen pokok. Menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2012:92-99) ketiga komponen tersebut yaitu:

1. Data Reduction (Reduksi Data)

Data yang diperoleh di lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti telah dikemukakan makin lama peneliti di lapangan, maka jumlah data akan makin banyak, kompleks dan rumit.

Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data.

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu.

2. Data Display (Penyajian Data)

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan sejenisnya.

3. Conclusion Drawing/Verification (Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi) Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila data kesimpulan data yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh

kembali bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

G. Pengabsahan Data

Salah satu cara yang digunakan oleh peneliti dalam pengujian kredibilitas data adalah dengan triangulasi. Menurut Sugiyono (2012:125) Triangulasi di artikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Lebih lanjut Sugiyono (2012:127) membagi triangulasi ke dalam tiga macam, yaitu:

a.) Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara dan dokumen-dokumen yang ada. Kemudian peneliti membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.

b.) Triangulasi Tehnik

Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Dalam hal ini data yang diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumen. Apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan

atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar karena sudut pandangnya berbeda-beda.

c.) Triangulasi waktu

Triangulasi waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang di kumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya. Triangulasi dapat juga dilakukan dengan cara mengecek hasil penelitian, dari tim peneliti lain yang diberi tugas melakukan pengumpulan data.

Visi Perusahaan Daerah Terminal Makassar Metro di Kota Makassar adalah sebagai berikut: “Menjadi Pusat Pelayanan Jasa Terminal Angkutan Darat yang Profesional di Kawasan Timur Indonesia”.

Misi Perusahaan Daerah Terminal Makassar : Meningkatkan sistem pelayanan transportasi yang tertib, lancar, aman, selamat dan mampu menjangkau masyarakat dan wilayah Sulawesi. Mendorong perwujudan transportasi perkotaan dan pedesaan yang berkualitas, efisien, dan berkelanjutan dalam pelayanan

3.) Tugas dan tanggung jawab struktur organisasi a. Badan Pengawas mempunyai tugas:

1) Menetapkan rencana kerja dan pembagian tugas para anggota menurut bagian masing-masing untuk masa 12 bulan dan sesuai dengan tahun buku Perusahaan Daerah.

40

2) Menyelenggarakan rapat kerja sekurang-kurangnya 6 bulan sekali untuk membicarakan dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan dalam melaksanakan kegiatannya, bila mana diperlukan sewaktu-waktu mengadakan rapat untuk menentukan keputusan mengenai hal-hal yang mendesak.

3) Merumuskan kebijaksanaan untuk Perusahaan Daerah secara terarah dalam bidang penanaman modal untuk penggunaan dalam memanfaatkan dan pengamanan hasil tarif angkutan dan jasa terminal lainnya.

4) Mengadakan penilaian atas prestasi kerja yang telah dicapai oleh perusahaan itu.

b. Direktur Utama mempunyai tugas:

1) Merencanakan kegiatan perusahaan daerah untuk jangka panjang, mengawasi dan mengkoordinir dalam bidang teknik pengelolaan terminal, bidang umum termasuk pengelolaan keuangan dan administrasi untuk mencapai tujuan.

2) Merumuskan strategi perusahaan daerah dan menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh badan pengawas dan melaksanakan operasi perusahaan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3) Memelihara suasana kerja yang baik dalam seluruh organisasi yang berusaha mencapai taraf efesiensi dan administrasi yang baik.

4) Secara berkala meninjau kembali dan menilai berbagai fungsi perusahaan daerah.

5) Mengambil inisiatif dalam penempatan, pemindahan dan pemberhentian serta menentukan batas ganti rugi sesuai peraturan yang berlaku.

6) Memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak dan mewakili perusahaan keluar.

Dalam melakukan tugasnya Direktur Utama dibantu oleh Direktur Umum dan Direktur Operasional.

1) Direktur Umum mempunyai tugas yaitu:

a) Mengkoordinasi dan mengendalikan kegiatan dibidang administrasi umum, keuangan dan kesekretarian.

b) Mengkoordinasi dan mengendalikan kegiatan pengadaan dan perlengkapan.

c) Merencanakan dan mengendalikan sumber-sumber pendapatan, serta mengatur penggunaan kekayaan perusahaan.

d) Mengendalikan pendapatan baik dari hasil pemungutan Tarif Angkutan dan Jasa Terminal maupun dari sektor lainnya.

e) Mengadakan kerja sama erat dengan Direktur Operasi dalam mengatur, mengawasi, menyediakan fasilitas dan material yang dibutuhkan dalam kelancaran kegiatan dalam bidang operasional.

f) Mengawasi penyusunan anggaran belanja/ penetapan modal kerja perusahaan, merumuskan dan menetapkan kebijaksanaan perusahaan keuangan lebih efektif bersama dengan Direktur lainnya.

g) Membuat penilaian dan persetujuan semua pembelian untuk keperluan operasional melalui atau tidak melalui tender.

h) Mengadakan penyelenggaraan pembukuan up to date dan menilai laporan keuangan untuk mengusulkan perbaikan pada posisi keuangan dan persediaan barang kepada Direktur Utama.

i) Mengawasi dan mengusahakan penagihan uang dari langganan/ pemakai jasa bangunan terminal secara intensif dan efektif.

j) Menetapkan kebijaksanaan dan menandatangani surat edaran pengumuman mengenai tata tertib Perusahaan Daerah dan Kepegawaian yang dapat melancarkan kegiatan dan meningkatkan efesiensi kerja pada karyawan atas persetujuan Direktur Utama.

Dalam menjalankan tugasnya Direktur Umum dibantu oleh dua kepala bagian yaitu kepala bagian umum dan kepala bagian keuangan

1. Kepala bagian umum mempunyai tugas yaitu:

a. Merencanakan, mengkoordinasi, dan mengawasi pelaksanaan tugas dari seksi administrasi dan kepegawaian seksi perlengkapan serta seksi hukum dan hubungan masyarakat.

b. Melaksanakan pengadaan/ pembelian barang/ materai dengan jasa yang diperlukan oleh perusahaan.

c. Mengadakan usaha pemeliharaan dan pengawasan peralatan dan bangunan kantor.

d. Mengendalikan semua barang dan peralatan yang menjadi milik perusahaan daerah sesuai dengan kebutuhannya.

e. Meminjam dan mendistribusikan tiap jenis barang kepada semua unit kerja sesuai dengan keperluan setelah mendapat pengesahan.

Dalam melakukan tugasnya, Kepala Bagian Umum dibantu oleh:

1) Seksi Administrasi Kepegawaian 2) Seksi Perlengkapan

3) Seksi Hukum dan Humas 2. Kepala Bagian Keuangan

a. Merencanakan, mengkoordinir dan mengawasi tugas dari seksi anggaran, seksi pembukuan, dan seksi kas.

b. Merencanakan, mengendalikan dan menginventarisir sumber-sumber pendapatan serta pembelanjaan dan kekayaan perusahaan.

c. Menyelenggarakan penyusunan, penyimpanan dan pengamanan yang berhubungan dengan data keuangan.

d. Mengkoordinir kegiatan dengan bagian lain untuk meningkatkan pelayanan yang menyangkut masalah keuangan.

e. Melakukan pemeriksaan kas dan pembukuan perusahaan setiap saat.

Dalam melakukan tugasnya Kepala Keuangan dibantu oleh:

1) Seksi Anggaran 2) Seksi Pembukuan 3) Seksi Kas

2) Direktur Operasional

a) Mengkoordinasi dan mengendalikan kegiatan-kegiatan bagian pengelolaan dan bagian produksi.

b) Mengkoordinasi dan mengendalikan kegiatan pemungutan tarif angkutan dan jasa terminal lainnya maupun kelancaran dan ketertiban lalu lintas serta keamanan dan ketertiban terminal.

c) Merumusksan dan menetapkan kebijaksanaan mengenai peningkatan tarif dan jasa terminal.

d) Mengatur tata cara pelayanan yang sebaik-baiknya bagi pengusaha angkutan umum maupun masyarakat pengguna jasa terminal lainnya.

e) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Direktur Utama.

Dalam melakukan tugasnya Direktur Operasional dibantu oleh:

1. Kepala Bagian Produksi

Kepala bagian Produksi mempunyai tugas yaitu:

a. Merencanakan, mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan tugas dari seksi penagihan dan seksi pendataan.

b. Merencanakan dan menyusun kebutuhan yang akan dipakai dalam operasi pemungutan tarif angkutan jasa terminal lainnya.

c. Mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan kegiatan pemungutan tarif angkutan dan jasa terminal serta pungutan-pungutan lainnya.

d. Menganalisa dan mengusulkan kemungkinan penambahan jenis jasa terminal terutama sektor fasilitas untuk meningkatkan sumber pendapatan.

e. Melakukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Direksi.

Dalam melaksanakan tugasnya, kepala bagian produksi dibantu oleh beberapa seksi yaitu:

a) Seksi Pendataan b) Seksi Jasa Penagihan

c) Unit Tamalate (Mallengkeri)

Tiap seksi masing-masing dipimpin oleh seorang kepala seksi yang dalam pelaksanaan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bagian Produksi.

2. Kepala Bagian Pengelola

Bagian pengelolaan dipimpin oleh seorang kepala bagian pengelola yang dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Diektur Operasional:

a. Merencanakan, mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan tugas dari seksi pengaturan parkir, seksi pemeliharaan kebersihan dan seksi keamanan dan ketertiban.

b. Melaksanakan pembinaan terhadap pengusaha-pengusaha angkutan dan pengusaha lainnya diterminal.

c. Menyelenggarakan kegiatan pemeriksaan terhadap kegiatan dan kondisi layak jalan dan kapasitas penumpang untuk angkutan penumpang umum yang tiba dan akan berangkat ke terminal sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam melaksanakan tugasnya Kepala Bagian Pengelolaan dibantu oleh:

a) Seksi Pengaturan Parkir

b) Seksi Pemeliharaan Kebersihan

c) Seksi Keamanan dan ketertiban

B. Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar

Peran Pemerintah Kota Makassar memposisikan terminal sebagai salah satu potensi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), namun belum menyertakannya dengan penyelenggaraan terminal yang profesional, sehingga daya tarik terminal dipersepsikan menurun menghadapi ancaman semakin maraknya terminal liar.

Pengoperasiannya Terminal Unit Regional Daya terdapat beberapa masalah yang dihadapi. Dari keseluruhan masalah tersebut akhirnya menjadi saling berkaitan dan tidak memiliki ujung pangkal. Dari pemantauan di lapangan, masalah terbesar yang dihadapi oleh Terminal Unit Regional Daya adalah sebagian besar mobil penumpang lebih memilih untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di luar terminal yang akhirnya menimbulkan terminal liar serta masih beroperasinya angkutan liar yang berupa mobil pribadi (berplat hitam) yang mengambil penumpang oleh karenanya peran pemerintah dalam menertibkan terminal liar di kawasan daya Kota Makassar sangat penting seperti Menerapkan regulasi, Peran pemerintah Kota Makassar dalam menertibkan terminal liar menerapkan regulasi seperti, Perda Kota Makassar Nomor 15 tahun 2006 tentang pengelolaan terminal penumpang, Surat Keputusan Wali kota Makassar Nomor : 510/kep/551.23/2004. Regulasi ini di bentuk untuk menertibkan angkutan-angkutan yang memilih menaikkan dan menurungkan penumpang di luar terminal dan sebagai dasar hukum pemerintah dalam melakukan penertiban. Selain itu pemerintah Kota Makassar juga membentuk tim terpadu. Tim terpadu adalah tim yang terdiri dari beberapa instansi yang di bentuk

oleh Wali Kota dalam Surat Keputusan Wali Kota Makassar Nomor 551.05/1181/kep/VII/2014 Pembentukan Tim Terpadu Pembinaan, Penatan dan penertiban kendaraan bermotor umum/kendaraan pribadi (plat Hitam) yang beroprasi menaikkan orang (penumpang umum) atau barang di luar terminal.

Tim ini di ketuai oleh Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar dan beranggotakan beberapa intansi seperti Kasatlantas Polrestabes Kota Makassar, Kasatpol PP Kota Makassar, Dirut Perusahaan Daerah Kota Makassar, Kapolsek Biringkanaya, Danramil Kota Makassar, Kabid Propam Polda Sulsel, Danpom AU Koopsau II Makassar, Camat Biringkanaya, DPC Organda Kota Makassar dan beberapa intansi lainya. Tim ini bertujuan untuk menertibkan terminal liar yang berada di sepanjang jalan perintis kemerdekaan depan AURI sampai perbatasan Kabupaten Maros, Dan dapat memberikan kenyamanan kepada masyarakat agar dapat tercipta kondisi lalu lintas yang lancar dan mengembalikan fungsi terminal sebagai awal keberangkatan dan akhir kedatangan calon penumpang.

Hal ini dapat di jelaskan pada indikator sebagai berikut : 1. Regulasi

Regulasi yang di maksud adalah tentang aturan yang di buat oleh pemerintah untuk para supir angkutan daerah, mobil pribadi (plat hitam) untuk mematuhi aturan tersebut. Hal ini di sampaikan Kepala Seksi Administrasi dan Kepegawaian bahwa:

“Aturan sudah ada pada undang-undang lalu lintas Nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan Perda Kota Makassar Nomor 15 tahun 2006 pasal 12,13 dan 14 tentang pengelolaan terminal penumpang angkutan jalan dan SK wali kota Makassar Surat Keputusan Wali kota Makassar Nomor :

510/kep/551.23/2004 memutuskan larangan menaikkan dan menurungkan penumpang pada pool kendaraan bus angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP) dan angkutan antar kota antar provinsi (AKAP). SK Wali Kota Nomor 551.05/1181/Kep/VII/2004 tentang pembentukan tim terpadu pembinaan, penataan, penertiban kendaraan bermotor umum/kendaraan pribadi (plat hitam) beroprasi menaikkan penumpang atau barang di luar terminal. Aturan ini di sampaikan melalui surat edaran dan sapnduk yang di bagikan kepada supir angkutan daerah”(Hasil wawancara MR, 26 mei 2015).

Hasil wawancara di atas mengemukakan bahwa pemerintah telah membuat peraturan larangan menaikkan penumpang diluar terminal yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam paragraf 1 pasal 33, 34, dan 37 Fungsi, Klasifikasi, dan Tipe Terminal. Paragraf 1: Fungsi, Klasifikasi, dan Tipe Terminal. Pasal 33 (1) Untuk menunjang kelancaran perpindahan orang dan/atau barang serta keterpaduan intramoda dan antarmoda di tempat tertentu dapat dibangun dan diselenggarakan Terminal. (2) Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa Terminal penumpang dan/atau Terminal barang. Dapat dibangun dan diselenggarakan Terminal. Pasal 34 (1) Terminal penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) menurut pelayanannya dikelompokkan dalam tipe A, tipe B, dan tipe C. (2) Setiap tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibagi dalam beberapa kelas berdasarkan intensitas Kendaraan yang dilayani.

Pasal 35 Untuk kepentingan sendiri, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan swasta dapat membangun Terminal barang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 36 Setiap Kendaraan Bermotor Umum dalam trayek wajib singgah di Terminal yang sudah ditentukan, kecuali ditetapkan lain dalam izin trayek.

Sesuai hasil wawancara dengan informan mengukapkan bahwa pemerintah telah mengeluarkan regulasi mengenai Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar terdiri yaitu Perda Kota Makassar Nomor 15 tahun 2006 pasal 12,13 dan 14 tentang pengelolaan terminal penumpang angkutan jalan dan Surat Keputusan Wali kota Makassar Nomor : 510/kep/551.23/2004 memutuskan larangan menaikkan dan menurungkan penumpang pada pool kendaraan bus angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP) dan angkutan antar kota antar provinsi (AKAP). SK Wali Kota Nomor 551.05/1181/Kep/VII/204 tentang pembentukan tim terpadu pembinaan, penataan, penertiban kendaraan bermotor umum/kendaraan pribadi (plat hitam) beroprasi menaikkan penumpang atau barang di luar terminal. Aturan sudah di sampaikan kepada parah supir melalui surat edaran dan spanduk tapi kurangnya kepedulian para supir mengenai aturan tersebut.

Hasil wawancara mengenai regulasi maka dapat di simpulkan bahwa pemerintah telah melakukan upaya Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Daya Terminal Regional Kota Makassar dengan mengeluarkan regulasi tentang penertiban terminal Liar dan larangan mobil pribadi (plat hitam ) mengambil penumpang, namun yang menjadi kendala karena kurangnya kepedulian para supir mengenai aturan tersebut.

2. Pembinaan

Pembinaan yang di maksud sebagai peran pemerintah adalah pembinaan yang di lakukan pemerintah seperti mengarahkan kepada para supir mobil penumpang antar daerah sehinggah tidak menaikkan dan menurungkan

Dokumen terkait