• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

mengasuh anak dengan serangkaian usaha aktif yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Orang tua dalam mengasuh anak memiliki ciri khas yang tetap dari waktu ke waktu.

Pola asuh orang tua dibagi menjadi tiga jenis pola asuh orang, yaitu:

1) Pola asuh otoriter adalah suatu gaya pengasuhan yang membatasi dan menuntut anak untuk mengikuti perintah orang tua, yang dimana pola asuh otoriter menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak memberi peluang yang besar bagi anak- anak untuk mengungkapkan pendapat. Orang tua otoriter juga cenderung bersikap sewenang- wenang dan tidak demokrasi dalam membuat keputusan, memaksakan peran-peran atau pandangan kepada anak atas dasar kemampuan dan kekuasaan sendiri, serta kurang menghargai pemikiran dan perasaan mereka.

2) Pola asuh demokratis adalah suatu gaya pengasuhan yang menerapkan aturan-aturan yang harus ditaati oleh akan tetapi orang tua tetap menghargai, mendengar, menghormati segala keputusan, perasaan dan pemikiran anak serta selalu melibatkan anak daam setiap pengambilan keputusan. Penerapan pola asuh ini akan menjadikan anak sebagai pribadi yang bertanggung jawab, lebih percaya diri, mampu

22 Al Tridhonanto dan Beranda Agency, Mengembangankan Pola Asuh Demokratis, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2014), hlm. 4.

17

mengontrol diri sendiri dan mampu mengambil keputusan sendiri dengan bijak.

3) Pola asuh permisif adalah gaya pengasuhan yang dimana adakalanya orang tua melibatkan diri dalam kehidupan anak dan adakalanya sangat membebaskan anak melakukan apa saja.23 Dapatkan pola asuh permisif ini merupakan poka asuh yang bebas meskipun adanya aturan atau tidak.

b. Definisi Pola Asuh Keluarga Islami

Dalam bahasa Arab keluarga dikenal dengan ahlun yang berasal dari kata ahila yang berarti senang.

Pendapat lain mengatakan bahwa ahlun berasal dari kata ahala yang berarti menikah.24 Ahli antropologi berpendapat bahwa kesatuan sosial terkecil manusia sebagai makhluk sosial disebut dengan keluarga. Hal ini selaras dengan adanya fakta bahwa keluarga adalah ikatan atau suatu kekerabatan yang menempati suatu tempat dan berlandaskan pada kerjasama, berkembang bersama, mendidik anak atau bersosialisasi dengan baik, saling tolong menolong dan melindungi yang lemah.25

Dalam konsep Islam keluarga merupakan satu kesatuan ikatan antara laki-laki dan perempuan yang menjalankan akad nikah sesuai syari’at Islam. Yang dimana berdasarkan akad nikah yang sudah dilaksanakan dapat menghasilkan keturunan secara sah sesuai hukum agama.26

Sedangkan keluarga Islami adalah keluarga yang dibangun atas dasar ketaatan kepada Allah SWT dan tujuan keluarga Islami adalah mengejar keridhaan Allah

23 Yudrik Jahja, “Psikologi..., hlm. 194.

24 Anung Al Hamat, “Representasi Keluarga Dalam Konteks Hukum Islam”, Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam, Vol. 8, Nomor. 1, Tahun 2017, hlm. 140.

25 Ibid, hlm. 141.

26 Ibid, hlm. 141.

18

SWT. Setiap anggota keluarga Islam hidup ditentukan oleh hukum Islam. Keluarga Islami juga terlihat dari mereka yang selalu menjaga tauhid, artinya kehidupan mereka selalu mengutamakan tata krama dihadapan Allah SWT. Mereka selalu peduli dengan ibadah, mereka menerapkan akhlak yang baik, mereka menyebarkan cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga mereka dan orang lain.27 Berdasarkan penjabaran dia atas keluarga Islami dapat dikatakan sebagi keluarga yang beragama Islam (Muslim) yang dimana keluarga Islami membentuk keluarga selalu beracuan pada syari’at Islam yang dilandaskan pada Al-Qu’an dan Sunnah.

Menurut Derajat pola asuh Islami merupakan tindakan orang tua dalam mendidik anak sejak baru lahir sampai dewasa sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits.28 Islam mengajarkan bahwa ketika mendidik anak tidak semata-mata dari segi fisik saja akan tetapi orang tua harus mendidik jiwa anak dengan menanamkan nila-nilai agama agar nantinya anak menjadi pribadi yang lebih positif.

Dalam Islam terdapat lima macam pola asuh yang diterapkan ketika mengasuh anak yakni:

1) Pola Asuh Metode Keteladanan

Pola asuh ini merupakan metode pola asuh yang menuntut orang tua untuk memberikan contoh-contoh perilaku yang baik pada anaknya, baik itu perilaku yang berkaitan dengan kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.

Ketika orang tua memperlihatkan suri tauldan yang baik atau sikap-sikap, perilaku-perilaku yang baik akan sangat memberikan dampak yang besar dan positif bagi anak.29 Hal ini berkaitan

27 Sri Al Hidayati, “Karakteristik..., pukul 21.13.

28 M Yusuf, “Pola..., hlm. 48.

29 Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prophetic..., hlm. 139.

19

dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Luqman ayat 15:

ْيِب َكِر ْشُت ْنَا ىٰلَع َكٰدَهاَج ْنِاَو ى ِفا َمُهْب ِحاَصَوا َمُهْع ِط ُت َلََف ٌمْلِع هِب َكَل َسْيَلاَم ۚ َّي َ

ل ِا َباَن َ

ا ْن َم َلْيِب َس ْعِب َّتاَّو ۚ اًف ْوُرْع َماَيْن ُّدلا ْمُتْن ُكا َمِب ْم ُكُئِ بَنُاَف ْمُكُع ِجْرَم َّيَلِا َّمُث

١٥ ﴿ َنْو ل َمْعَت ُ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri Tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Qs. Luqman [31]: 15).30

Ayat ini berkaitan dengan Sa’ad bin Abi Waqas, dia berkata: “Ketika saya masuk Islam ibu saya bersumpah untuk tidak makan dan minum sebelum saya meninggalkan Agama Islam. Pada hari pertama saya meminta beliau untuk makan dan minum namun beliau menolak. Hari kedua, saya kembali meminta beliau untuk makan dan minum namun jawabannya masih sama. Hari ketiga, saya memohon lagi kepada beliau agar beliau makan dan minum namun beliau kembali

30 QS Luqman [31]: 15, “Departemen..., 2009.

20

menolak. Dikarenakan beliau tetap menolak, saya berkata: Demi Allah jika saja ibu memiliki seratus nyawa dan satu persatu keluar dihadapan saya sampai ibu mati, saya tidak akan mendustakan agama ini. Ketika melihat kekuatan dan keyakinan saya akhirnya beliaupun mau makan”.31

Setiap anak akan menjadikan orang tua sebagi panutan dalam menjalani hidup mereka, ketika orang tua tidak mampu memberikan contoh positif bagi anak maka anakpun tidak bisa menjadi pribadi yang positif. Hal ini berkaitan dengan firman Allah SWT dalam surah As-Saff ayat 2-3:

َنْو ُ

ل ْو ُقَت َم ِلاْوُن َم ٰا َنْيِذَّلااَهُّيٓاٰي ْن َ

ا ِالله َدْنِعا ًت ْق َمَرُب َك ﴾۲﴿ َنْوُلَعْفَت َلَاَم

﴾۳﴿ َن ْو لَع ْفَت ُ لَا َماْو َ ل ْو ُقَت ُ

“Wahai orang-orang yang beriman!

Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (Qs. As Saff [61]:

2-3).32

2) Pola Asuh Metode Pembiasaan

Pada usia anak orang tua harus mampu membiasakan anak untuk melakukan hal-hal positif karena pada masa anak-anak adalah masa dimana orang tua bertugas untuk mempersiapkan,

31 Lutfiyah, “Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak: Studi Ayat 13-19 Surat Luqman”, Jurnal Sawwa, Vol. 12, Nomor. 1, Tahun. 2016, hlm.

133.

32 QS As Saff [61]: 2-3, “Departemen..., 2009.

21

melatih dan mengenalkan kepada anak tentang segala kewajibannya pada Tuhan, kewajiban pada diri sendiri maupun kewajibannya pada orang lain atau lingkungan sekitar agar anak mampu dan mudah melaksanakan segala kewajibannya ketika sudah usia baligh.33 Hal ini dikarenakan anak sudah memiliki persiapan dan sudah terbiasa sejak kecil untuk melaksanakan segala kewajibannya.

Dalam pola asuh ini orang tua dituntut untuk membiasakan anak melakukan hal-hal positif seperti membantu anak untuk membiasakan diri dalam mengerjakan ketaatan, mendorong anak untuk selalu menurut mengerjakan perintah, membiasakan anak mengucap salam ketika bertemu dengan orang lain, menghormati orang lain dan berbagai hal positif lainnya.

Adapun hadits yang membahas tentang pembiasaan ini seperti yang diriwayatkan oleh at- Tirmidzi dari Anas bin Malik ra:

“Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda kepadaku, “Anakku, jangan menengok dalam shalat, karena menengok dalam shalat adalah kebiasaan. Apabila harus dilakukan, maka lakukan dalam shalat sunnah bukan pada shalat wajib”.34

Berdasarkan hadits di atas dapat dipahami bahwa dalam melakukan kebaikan atau hal-hal positif orang tua harus membiasakan anak untuk melakukannya dengan benar sesuai dengan aturan. Karena jika anak terbiasa melakukan hal- hal yang menyimpang maka hal tersebut akan

33 Musyarofah, “Perkembangan..., hlm. 353.

34 Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. “Prophetic...,, hlm. 359.

22

menjadi kebiasaan anak dalam menjalani kehidupannya di masa depan.

3) Pola Asuh Metode Nasihat

Pola asuh ini merupakan metode pola asuh yang dimana orang tua memberikan nasihat terhadap anak agar anak tetap dalam jalur yang positif dan terhindar dari kesalahan-kesalahan.

Dalam memberikan nasihat orang mampu memilih waktu yang tepat dan dengan cara yang penuh kelembutan dan kasih sayang agar nasihat yang diberikan bisa diterima oleh anak. Hal ini berkenanaan dengan cara Rasulullah Saw yang selalu teliti dalam memilih tempat, waktu dan cara menasihati seorang anak. Rasulullah Saw menyarankan kepada seluruh kaumnya tentang tiga dasar memilih waktu untuk memberikan nasihat pada anak yaitu:

a) Dalam perjalanan

Memberikan nasihat dalam perjalanan ini sesuai dengan riwayat al-Hakim dari Ibnu Abbas ra:

“Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam diberi hadiah seekor bighal oleh Kisra.

Beliau menungganginya dengan tali kekang dari serabut. Beliau memboncengkanku di belakangnya.

Kemudian beliau berjalan. Tidak berapa lama, beliau menoleh dan memanggil,

“Hai anak kecil”. Aku jawab, “Labbaika, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda,

“Jagalah agama Allah nisacaya Dia menjagamu.... hadis”.35

35 Ibid, hlm. 142.

23

Berdasarkan riwayat di atas dapat disimpulkan bahwa memberikan nasihat ketika dalam perjalanan akan sangat mudah diingat oleh anak. Hal ini dikarenakan dalam kondisi seperti ini anak memiliki penerimaan yang besar atas segala macam hal.

b) Waktu makan

Diriwayatkan oleh Abu Dawud at- Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih nya menyebutkan:

“Mendekatlah wahai anakku, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah apa yang ada di hadapanmu”.36

Berdasarkan riwayat di atas dapat dipahami bahwa Rasulullah sangat lemah lembut dalam memberikan nasihat pada anak.

c) Waktu anak sakit

Ketika sakit seseorang akan tersadar dengan segala perbuatannya, ketika seperti ini akan sangat mudah menasihati anak.

Anggapan ini sesuai dengan kisah Rasulullah yang menjenguk seorang anak Yahudi yang sakit lalu mengajak aak tersebut masuk Islam, kemudian setelah Rasulullah Saw mengajak masuk Islam anak tersebut mau dan akhirnya menjadi muallaf.37

4) Pola Asuh Metode Perhatian dan Pengawasan Pola asuh ini merupakan pola asuh yang dimana orang tua harus selalu siap memperhatikan segala tingkah laku anaknya. Jika

36 Ibid, hlm. 143-144.

37 Ibid, hlm. 145.

24

anak mulai lalai atau lupa terhadap kewajibannya orang tua harus mengingatkan anak dengan bahasa yang halus.

5) Pola Asuh Metode Pujian dan Hukuman

Pola asuh ini merupakan pola asuh yang dimana orang tua harus memberikan pujian ketika anak sudah melakukan kewajibannya dan memberikan hukuman pada anak jika anak melakukan kesalahan, akan tetapi hukuman dalam ini yaitu hukuman yang penuh dengan cinta dan kelembutan.38

Ketika mendidik anak orang tua menggunakan metode pujian yang dimana orang tua memberikan pujian dan sanjungan pada anak akan meberikan dampak yang positif pada diri anak. Seorang anak akan sangat senang ketika diberikan pujian, pujian yang didapatkan oleh anak akan menjadikan anak terus mengulangi perbuatan yang dapat menimbulkan pujian bagi dirinya.39 Adapun ketika orang tua menerapkan metode hukuman dalam mendidik anak akan membuat anak jera atau berusaha untuk tidak melakukan kesalahan atau lalai dalam melaksanakan kewajibannya.

Dalam keluarga Islami terdapat beberapa aspek-aspek pola asuh yang diterapkan yaitu:

a) Pendidikan Psikologis dan Mental

Pendidikan psikologis dan mental bagi anak sangat penting untuk diberikan. Hal ini berkenaan dengan sehatnya psikologis dan mental anak akan berpengaruh terhadap perkembangan anak dan kemampuan anak untuk menjalani kehidupannya. Dalam

38 M Yusuf, “Pola..., hlm. 64-66.

39 Musyarofah, “Perkembangan..., hlm. 194.

25

pendidikan psikologis dan mental ada beberapa aspek yang harus terpenuhi yaitu:

(1) Orang tua dianjurkan untuk membuat anak hidup dengan gembira.

Kegembiraan yang orang tua berikan pada hidup anak akan berdampak positif pada diri anak dan akan menyebabkan anak mau menerima nasihat, anjuran dan perintah. Orang tua bisa membuat anak bahagia atau gembira sesuai dengan cara yang diterapkan oleh Rasulullah Saw yaitu; dengan cara bermain dan bercanda dengan anak, makan bersama, mencium anak, menggendong dan menimang, mengusap kepala dan mencium anak.

Dalam satu kisah diriwayatkan oleh ath Thabrani dari Jabir bin Abdillah ra.

Dalam riwayat tersebut diceritakan baha ketika Rasulullah Saw sedang makan bersama dengan para sahabat, kemudian para sahabat melihat Husein cucu sang Rasulullah Saw lalu beliau langsung mendahului para sahabat dan merentangkan tangan dan Husein berlarian serta mereka berdua tertawa bersama, akhirnya beliau bisa nenangkap Husein dan menciumnya.40

(2) Orang tua harus memberikan rasa kasih sayang yang penuh terhadap anak. Salah satu sifat para nabi yaitu penyayang.

Dalam sebuah riwayat Ibnu Asakir dari Annas bin Malik ra; mengatakan bahwa Rasulullah Saw merupakan sosok yang sangat menyayangi anak dan

40 Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, “Prophetic..., hlm. 433

26

keluarganya.41 Oleh karena itu tentunya dalam mengasuh anak orang tua harus memberikan kasih sayang dan cinta yang penuh bagi anak. Hal ini dilakukan agar anak merasa bahwa dirinya memang penting dan berharga bagi kedua orang tuanya.

(3) Orang tua harus memberikan apresiasi terhadap anak. Setiap anak akan senang ketika mendapatkan apresiasi karena mereka telah meraih keberhasilan atau melakukan sesuatu dengan baik.

Rasulullah Saw bersabda yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Ausath, al-Harbi dalam kitab al-Hadaya dan al-Askari dalam kitab al-Amtsal:

.اْوُّبا َحَتاْو َداَه َت

“Saling memberi hadiah di antara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai”.42

Orang tua harus memberikan apreasi terhadap pencapaian anak, apresiasi yang diberikan dapat berupa pujian, memberikan hadiah, mendo’akan anak, dan memberikan senyuman serta pelukan untuk anak.

(4) Orang tua memberikan waktu berlibur yang cukup untuk anak. Jika orang tua selalu mengurung anak, menuntut anak menjadi seperti yang diinginkan tentunya

41 Ibid, hlm. 430.

42 Ibid, hlm. 438.

27

anak akan menjadi pemberontak. Sesekali anak memerlukan waktu istirahat dan berlibur untuk menyegarkan pikirannya setelah banyaknya kegiatan yang menjadi rutinitas anak.

b) Pendidikan Keimanan dan Syari’at Agama Islam

Orang tua harus memberikan pendidikan tentang keimanan dan syari’at Islam bagi anak. Dalam Hal ini dilakukan agar anak dapat mengetahui dan menanamkan keimanan dalam dirinya. Menjadikan anak lebih dekat dengan sang pencipta. Dalam pendidikan ini orang tua harus memberi tahu anak tentang rukun-rukun iman. Mengawasi dan mengingatkan anak untuk melaksanakan kewajibannya. Memotivasi anak untuk melaksanakan kewajibanya. Menjadikan anak agar gemar membaca Al-Qur’an.43

c) Pendidikan Akhlak dan Sosial

Pendidikan akhlak dan sosial ini sangat penting diberikan pada anak. Dalam pendidikan akhlak anak diajarkan unutk membiasakan anak untuk mengedepankan adab-adab sesuai dengan adab para nabi, menanamkan kejujuran pada anak, mengajarkan anak untuk menjadi orang yang amanah, dan mengajarkan anak untuk menjauhi sifat iri dnegki. Adapun dalam pendidikan sosial orang tua mengajarkan anak untuk mengucap salam ketika bertemu orang, mengajarkan anak untuk berbagi dengan sesama, mengajak anak untuk berkumpul di majelis-majelis, mencarikan teman yang baik

43 Ibid, hlm. 295-353.

28

untuk anak.44 Hal terpenting dalam sosial ini orang tua juga harus mengajarkan anak bagaimana cara bergaul dengan sesama ataupun lawan jenis agar anak terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

d) Pendidikan Aktualisasi Diri

Dalam hal ini orang tua harus mampu menggali dan mengasah kemampuan anak.

Orang tua harus paham minat dan bakat yang dimiliki oleh anak. Orang tua mengajarkan anak tentang cara merawat diri dan lingkungannya.45 Dalam hal merwat diri orang tua dianjurkan membiasakan anak untuk olahraga, bersiwak, menjaga kebersihan kuku, mengikuti sunnah nabi dalam menjaga kesehatan diri, dan tidur tepat waktu.46 Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dampak dari pola asuh Islami yang diterapkan pada anak yaitu menjadikan hubungan orang tua dan anak semakin dekat, anak menjadi terbuka pada orang tua. Komunikasi antara orang tua dan anak menjadi efektif. Anak mengetahui dan mengenal Tuhan. Anak memiliki jiwa sosial yang baik. Anak memiliki kemampuan sosial yang bagus.

Anak mengetahui minat bakatnya. Anak akan selalu percaya pada orang tua. Anak akan mendapatkan kebahagiaan yang penuh. Anak berani mengambil keputusan sendiri dan anak menjadi pribadi yang positf dalam menjalankan kehidupannya seharu-hari.

44 Ibid, hlm. 380-425.

45 M Yusuf, “Pola..., hlm. 49-64.

46 Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, “Prophetic..., hlm. 525- 530.

29

30

bergaul dengan orang lain sangat bergantung kepada pengalaman belajar selama tahun-tahun pertama.50

Berdasarkan pengertian yang sudah dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan sosial adalah suatu proses penting yang harus dilalui oleh seseorang yang dimana proses perkembangan sosial ini merupakan suatu proses pembentukan nilai, perilaku seseorang agar mampu berbaur dengan masyarakat sekitar sesuai dengan norma yang berlaku. Yang dimana perkembangan sosial ini juga merupakan suatu proses yang dilalui oleh seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap kebiasaan-kebiasaan, cara bergaul dan cara hidup dalam bermasyarakat. Yang dimana proses perkembangan sosial ini merupakan hal yang penting sekali dilakukan dan dilalui dengan sempurna oleh seseorang agar mampu diterima dan mampu menyatu dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Hurlock mengemukakan beberapa unsur yang ada dalam perkembangan sosial yaitu:

a) Kerjasama yaitu anak mau belajar, bermain dan memiliki rasa ingin mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu bersama.

b) Kemurahan hati yang dimana anak bersedia berbagai sesuatu dengan oranh lain.

c) Hasrat akan penerimaan sosial. Jika keinginan yang kuat untuk diakui oleh lingkungan sosial maka anak akan mampu beradaptasi sesuai dengan norma sosial yang berlaku.

d) Simpati dan empati, hal ini terjadi karena emosional seseorang yang mendorong dirinya untuk menaruh perhatian pada orang lain dan anak mampu memposisikan diri pada situasi orang lain.

e) Sikap ramah yang dimana anak memeperlihatakn sikap ramah tamahnya dengan cara mengkespresikan

50 Ibid, hlm. 447.

31

kasih sayangnya dan kesanggupannya melakukan sesuatu untuk teman dan lingkungannya.

f) Sikap tidak mementingkan diri sendiri, anak mampu belajar memikirkan orang lain.51

Adapun dalam perkembangan sosial terdapat perilaku tidak sosial, Hurlock mengemukakan perilaku tidak sosial sebagai berikut:

a) Negativisme atau pembangkangan. Hal ini terjadi karena ketidaksesuaian antara keinginan anak dengan tuntutan orang tua bahkan hal ini bisa disebabkan oleh lingkungan. Hal ini dapat berupa perlawanan fisik atau penolakan menggunakan ucapan.

b) Agresi adalah suatu kondisi dimana anak memberikan feedback secara fisik maupun kata-kata. Agresi dapat dikatakan sebagai salah satu kondisi dimana anak mengekspresikan rasa kecewa karena tidak terpenuhi keinginan atau kebutuhannya. Pada situasi ini orang tua harus paham bagaimana cara mengurangi keagresifan anak, karena jika orang tua memberikan hukuman pada anak maka anak akan menjadi semakin agresif.

c) Berselisih atau bertengkar, hal ini akan terjadi apabila anak tidak nyaman dengan lingkungannya terutama ketika ada teman sebaya atau orang yang lebih dewasa menggangu aktivitasnya.

d) Menggoda, hal ini merupakan bentuk dari perilaku agresif. Serangan mental dalam bentuk ejekan atau cemoohan merupakan bentuk dari menggoda. Apabila hal ini dilakukan akan akan timbul emosi negatif dalam diri orang yang diserang.

e) Tingkah laku berkuasa, hal ini selaras dengan tingkah laku dimana seseorang ingin menguasai lingkungannya atau lebih mendominasi daripada orang lain.

51 Titing Rohayati, “Pengembangan..., hlm. 134-135.

32

f) Anak cenderung memikirkan dan mementingkan diri sendiri, dalam hal ini egosentris anak lebih dominan.

Sifat egosentrisme ini hampir dimiliki oleh setiap anak.

g) Prasangka, hal ini sudah tertanam pada diri anak sejak memasuki usia kanak-kanak awal. Pada saat ini anak mulai memahami bahwa adanya perbedaan dalam dirinya dan orang lain. Dalam kelompok sosial adanya perbedaan dianggap sebagai suatu tanda kerendahan.

Namun, anak akan sulit memperlihatkan prasangkanya dengan membeda-bedakan orang yang dikenal.

h) Antagonisme jenis kelamin, dalam hal ini terdapat larangan bagi anak baik itu dari orang tua maupun lingkungan sekitar. Larangan dalam hal ini anak perempuan tidak boleh memainkan permainan laki- laki.52

b. Tahap dan Tugas Perkembangan Sosial

Dalam buku Childhood and Society Erik Erikson membagi fase dan tugas perkembangan sosial menjadi delapan yaitu:53

a) Masa Bayi (0-18 bulan)

Usia 0-18 bulan adalah fase dimana orang tua harus memenuhi kebutuhan fisik anak. Pada usia ini anak juga sangat senang dipeluk, digendong dan lain sebagainya. Menurut Erik Erikson pada usia ini sangat perlu menanamkan rasa kepercayaan pada diri anak terhadap lingkungan ataupun pada dirinya sendiri.

Jika pada masa ini orang tua tidak menanamkan rasa kepercayaan pada diri anak maka dikemudian hari anak akan menjadi orang yang selalu curiga dan ragu

52 Ibid, hlm. 135.

53 Drs. Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2016), hlm. 120-122.

Dalam dokumen pengaruh pola asuh keluarga islami terhadap (Halaman 31-91)

Dokumen terkait