PENGARUH POLA ASUH KELUARGA ISLAMI TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK DI YAYASAN ANAK
BANGSA INDONESIA NTB
oleh
Ika Risma Nuansari 180303013
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM
2021/2022
i
PENGARUH POLA ASUH KELUARGA ISLAMI TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK DI YAYASAN ANAK
BANGSA INDONESIA NTB SKRIPSI
diajukan kepada Universitas islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar
Sarjana Sosial
oleh
Ika Risma Nuansari 180303013
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM
2021/2022
ii
iii
v
vi MOTTO
َكٌة َوا َد َع ُهَنْيَب َو َكَنْيَب ْي ِذ َّلااَذِاَف ُن َسْحَا َيِه ْيِتَّلاِب ْعَفْدِا ةَئِ ي َّسلا َلََوُةَن َسَح ْلا ىِوَت ْسَت َلََو ُُۗ
ٌّيِل َو ُه َّنَا ٌمْي ِم َح
Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia (Q.S Fussilat [41]:
34).1
1 QS Fussilat [41]: 34, “Departemen Agama RI Al-Aliyy Al-Qur’an dan Terjemahnya”, Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2009.
vii PERSEMBAHAN
“Kupersembahkan skripsi ini untuk kedua orangtuaku Bapak Muhidi dan Ibu Sapariah serta keluarga besarku atas segala Do’a, pengorbanan dan dukungan. Kepada Almamater, semua guru dan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, khususnya Ibu Saimun, M.Si.
dan Bapak Syamsul Hadi, M.Pd. selaku dosen pembimbing, tanpa mengurangi rasa hormat penulis mengucpakan terimakasih atas bantuan, nasehat dan ilmunya yang selama ini diberikan dengan tulus dan ikhlas. serta kepada seluruh keluarga besar, teman dan sahabat, penulis mengucapkan terimaksih untuk bantuan dan suport yang luar biasa.”
viii KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Alhamdulillah, segala puji dan syukur selalu dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan keteguhan hati kepada penulis untuk menyelesaikan pembuatan skripsi ini.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya. Aamiin.
Dalam kesempatan ini, penulis menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut:
1. Saimun, M.Si. sebagai Pembimbing I dan Syamsul Hadi, M.Pd.
sebagai Pembimbing II yang memberikan bimbingan, motivasi dan koreksi mendetail secara terus menerus tanpa bosan sehingga menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai.
2. Dr. Mira Mareta, M.A selaku Ketua Jurusan Bimbingan Konseling Islam UIN Mataram serta jajarannya.
3. Dr. Muhammad Saleh, M.A selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
4. Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan memberi peringatan untuk tidak berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai.
5. Kepada kedua orangtuaku tercinta Bapak Muhidi dan Ibu Sapariah selaku orang tua yang tidak pernah lelah mendukung dan menyemangati
6. Kepada keluarga besarku yang selalu mendukung dan menymangati tanpa henti.
7. Kepada teman-teman, sahabat-sahabat dan pihak-pihak lain terimakasih telah membantu, memberikan support, dan motivasi yang luar biasa hingga penyusunan skripsi ini selesai.
ix
Akhir kata peneliti berharap semoga amal kebaikan dan berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Alla SWT, dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semesta. Aamiin.
Mataram, 17 Mei 2022
Ika Risma Nuansari
x DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL
HALAMAN JUDUL...i
PERSETUJUAN PEMBIMBING...ii
NOTA DINAS PEMBIMBING...iii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI...iv
PENGESAHAN...v
HALAMAN MOTTO...vi
HALAMAN PERSEMBAHAN...vii
KATA PENGANTAR...viii
DAFTAR ISI...x
DAFTAR TABEL...xii
DAFTAR GAMBAR...xiii
DAFTAR LAMPIRAN...xiv
ABSTRAK...xv
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan dan Batasan Masalah ... 7
C. Tujuan dan Manfaat ... 7
D. Definisi Oprasional ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN....10
A. Kajian Pustaka ... 10
B. Kajian Teori ... 15
1. Pola Asuh Keluarga Islami ... 15
a. Definisi Pola Asuh...15
b. Definisi Pola Asuh Keluarga Islami...17
2. Perkembangan Sosial ... 29
a. Pengertian Perkembangan Sosial...29
b. Tahap dan Tugas Perkembangan Sosial...32
c. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial...36
C. Kerangka Berpikir ... 38
D. Hipotesis Penelitian ... 40
BAB III METODE PENELITIAN...41
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 41
B. Populasi dan Sampel ... 41
C. Waktu dan Tempat Penelitian ... 43
xi
D. Variabel Penelitian ... 43
E. Desain Penelitian ... 44
F. Instrumen/Alat dan Bahan Penelitian ... 44
G. Teknik Pengumpulan Data/Prosedur Penelitian ... 54
H. Teknik Analisis Data ... 56
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...57
A. Hasil Penelitian ... 57
1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 57
2. Deskripsi Responden...59
3. Deskripsi Variabel...60
4. Hasil Penelitian ... 64
B. Pembahasan ... 70
BAB V PENUTUP...76
A. Kesimpulan ... 76
B. Saran ... 76
DAFTAR PUSTAKA...78 Lampiran-lampiran
xii DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Kajian Pustaka
Tabel 3.1 Jumlah Populasi Anak Binaan Yayasan Anak Bangsa Indonesia NTB
Tabel 3.2 Jumlah Sampel Anak Binaan Yayasan Anak Bangsa Indonesia NTB
Tabel 3.3 Skor Jawaban Pernyataan favorable dan unfavorable Tabel 3.4 Kisi-Kisi Instrumen Skala Pola Asuh Keluarga Islami
Sebelum Uji Validitas
Tabel 3.5 Kisi-Kisi Instrumen Skala Pola Asuh Keluarga Islami Sesudah Uji Validitas
Tabel 3.6 Kisi-Kisi Instrumen Skala Perkembangan Sosial Anak Sebelum Uji Validitas
Tabel 3.7 Kisi-Kisi Instrumen Skala Perkembangan Sosial Anak Sesudah Uji Validitas
Tabel 3.8 Kategori Koefisien Validitas
Tabel 3.9 Hasil Uji Validitas Skala Pola Asuh Keluarga Islami Tabel 3.10 Hasil Uji Validitas Skala Perkembangan Sosial Anak Tabel 3.11 Rekapan Hasil Uji Validitas Skala Pola Asuh Keluarga
Islami
Tabel 3.12 Rekapan Hasil Uji Validitas Skala Perkembangan Sosial Anak
Tabel 3.13 Kategori koefisien Reliabilitas
Tabel 3.14 Hasil Uji Reliabilitas Skala Pola Asuh Keluarga Islami Tabel 3.15 Hasil Uji Reliabilitas Skala Perkembangan Sosial Anak Tabel 4.1 Deskripsi Responden Berdasarkan Usia
Tabel 4.2 Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4.3 Hasil Uji Normaalitas
Tabel 4.4 Hasil Uji Linearitas Tabel 4.5 Hasil Uji Korelasi Tabel 4.6 Model Summary Tabel 4.7 Anova
xiii DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Skor Responden Pada Setiap Aspek Pola Asuh Keluarga Islami
Gambar 4.2 Skor Responden Pada Setiap Aspek Perkembangan Sosial Anak
xiv DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kisi-Kisi Instrumen Skala Pola Asuh Keluarga Islami dan Perkembangan Sosial Anak Sebelum dan Sesudah Uji Validitas
Lampiran 2 Pedoman Observasi, Pedoman Wawancara dan Pedoman Dokumentasi
Lampiran 3 Hasil Uji Statistik Lampiran 4 Angket Valid Lampiran 5 Dokumentasi
Lampiran 6 Hasil Observasi dan Hasil Wawancara Lampiran 7 Data Sampel Penelitian
xv
PENGARUH POLA ASUH KELUARGA ISLAMI TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK DI YAYASAN ANAK
BANGSA INDONESIA NTB Oleh:
Ika Risma Nuansari 180303013 ABSTRAK
Penelitian ini di latarbelakangi oleh perhatian peneliti terhadap kurangnya kemampuan bersosialisasi anak binaan di Yayasan Anak Bangsa Indonesia NTB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh keluarga islami terhadap perkembangan sosial anak di yayasan anak bangsa indonesia NTB. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan angket dan beberapa metode pelengkap yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian dilakukan di Yayasan Anak Bangsa Indonesia NTB, dengan jumlah populasi subjek penelitian 28 anak. Sedangkan sampel yang digunakan adalah 100% populasi yaitu 28 orang. Hasil pengolahan data penelitian ini menunjukkan bahwa variable pola asuh keluarga islami memiliki pengaruh terhadap variable perkembangan sosial anak dengan nilai r sebesar 0,629 yang menunjukkan pengaruh yang kuat atau tinggi yang positif. R Square (korelasi koefisien) sebesar 39,6% menunjukkan kontribusi yang disumbangkan X kepada Y. Jadi, hasil penelitian yang didapatkan setelah dilakukannya uji F dengan menggunakan SPSS, menunjukkan bahwa pola asuh keluarga islami berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak dengan nilai F_hitung= 17,026 > F_tabel= 4,23. Dengan probabilitas signifikannya sebesar Sig.= 0,000 < α = 0,05 yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak.
Kata Kunci: Pola Asuh Keluarga Islami, Perkembangan Sosial Anak
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak adalah hal yang sangat diharapkan dan diridukan oleh setiap orang. Setiap pasangan yang sudah menikah tentunya sangat ingin memiliki seorang anak. Anak merupakan jantung hati dan menjadi kebahagiaan bagi para ibu dan ayah yang terlihat jelas di depan mata mereka. Rasa lelah dan penat yang dirasakan oleh setiap orang tua akan hilang sekejap mata ketika melihat anak mereka. Anak merupakan belahan jiwa, sumber kerinduan, dambaan hati, serta tumpuan harapan di hari tua.
Ibarat permata, anak dipelihara dengan sepenuh jiwa, dirawat dengan penuh rasa kasih sayang, dijaga dari segala macam bentuk bahaya, diawasi hingga batas-batasan tertentu, dibentengi agar tidak tersentuh oleh hal-hal negatif dan membahayakan, dan juga dijauhkan pula dari kejahiliyahan.2
Anak dapat disebut sebagai anugrah dari Allah SWT yang harus disyukuri dengan cara menjaganya sesuai aturan-aturan yang ada dalam syari’at Islam. Sehingga anak dapat menjadi investasi dan kehidupan masa depan bagi orang tuanya. Anak juga merupakan generasi penerus bangsa yang nantinya akan menjadi pemimpin dan pejuang bagi bangsa. Tentunya generasi penerus yang akan menjadi pemimpin dan pejuang bangsa harus memiliki karakter baik, berkepribadian positif, mampu bersosialisasi dengan baik dan memiliki jiwa serta rasa sosial yang tinggi.
2 M. Yusuf, “Pola Asuh Islami (Islamic Parenting) Keluarga Campuran Indonesia-Bealanda Yang Berdomisili Di Belanda”, (Skripsi, Jurusan Bimbingan Dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya, Surabaya 2019), hlm. 15.
2
Anak yang memiliki kemampuan bersosialisasi dengan baik, memiliki jiwa dan rasa sosial yang tinggi tentunya dipengaruhi oleh bagaimana anak tersebut melalui dan menyelesaikan tugas- tugas perkembangannya dengan baik, terlebih lagi pada perkembangan sosialnya. Dalam penelitian Zhang J et al.
Menyatakan bahwa diperkirakan pada tahun 2018 terdapat lebih dari 200 juta anak balita di dunia mengalami gangguan perkembangan kognitif dan sosial emosional.3
Elizabeth B. Hurlock mengemukakan bahwa perkembangan sosial merupakan pencapaian kemampuan dalam berperilaku yang sesuai dengan norma sosial. Menjadi individu yang mampu bermasyarakat memerlukan tiga proses yaitu: belajar berperilaku yang dapat diterima oleh lingkungan sosial, bermain peran sosial yang dapat diterima dan perkembangan sifat sosial.4
Perkembangan sosial sendiri merupakan perkembangan inidvidu yang erat kaitannya dengan tindakan, perilaku individu untuk menjadi makhluk sosial dan interaksinya dengan orang lain. Hal ini berkaitan dengan manusia yang hidup sebagai makhluk sosial. Perkembangan sosial dibagi menjadi lima tahapan diantaranya: Pertama, masa kanak-kanak awal (0-3 tahun) subjektif. Kedua, masa kritis I (3-4 tahun) tort alter.
Ketiga, masa kanak-kanak akhir (4-6 tahun) subjektif menuju objektif. Keempat, masa anak sekolah (6-12 tahun) objektif.
Kelima, masa kritis II (12-13 tahun) pre puber.5
Berdasarkan data dari United Nations Children’s Fund (UNICEF) tentang situasi anak di Indonesia tahun 2020 terdapat sekitar 2.2 juta anak Indoneisa yang tidak tinggal dengan orang
3 Raden Sinang, dkk, Analisis Perkembangan Anak Usia Dini Indonesia 2018-Integrasi Susenas dan Riskesdes 2018, (Jakarta: Badan Pusat Statistik Indoneisa, 2020), hlm. 3.
4 Musyarofah, “Perkembangan Aspek Sosial Anak Usia Dini Di Taman Kanak-Kanak ABA IV Mangli Kember Tahun 2016”, Interdisciplinary Journal of Communication (INJECT), Vol. 2, Nomor. 1, Juni 2017, hlm. 105.
5 Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2011), hlm 47-48.
3
tua dan tidak mendapat pengasuhan dari orang tua.6 Sedangkan orang tua memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap anak sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Pasal 26 Ayat 1 tentang kewajiban dan tanggung jawab orang tua untuk:
a. Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak.
b. Menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya.
c. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak, dan
d. Memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak.7
Tentunya segala harapan baik yang diharapkan oleh orang tua untuk anaknya akan tercapai jika orang tua mampu memahami dan mengetahui tugas mereka dalam mendidik dan mengasuh anak dengan cara yang benar. Pola asuh adalah interaksi atau penerapan tindakan orang tua terhadap anak yang dimana hal tersebut dilakukan untuk mendidik anak agar mampu menjadi pribadi yang bertanggung jawab, memiliki karakter yang baik serta bisa menjadi bagian dari masyarakat yang baik.8 Ketika mengasuh anak, orang tua harus bisa memilih gaya pengasuhan yang tepat. Dalam teori barat terdapat tiga macam pola asuh yaitu: pola asuh otoriter, pola asuh demokratis dan pola asuh permisif.
Penerapan pola asuh yang tidak tepat akan berdampak pada anak, diantaranya: Pertama, perkembangan fisik anak yang dimana hal ini dapat dilihat dari anak akan terlihat kurus bahkan menjadi obesitas, kesehatan anak kurang baik dan penampilan
6 United Nations Children’s Fund (2020). Situasi Anak di Indonesia- Tren, Peluang, dan Tantangan Dalam Memenuhi Hak-Hak Anak. Jakarta:
UNICEF Indonesia.
7 Davit Setyawan, “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang_Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, dalam https://www,kpai.go.id, diakses tanggal 11 Februari 2022, pukul 06.51.
8 Syahrul dan Nurhafizah, “Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial dan Emosional Anak Usia Dini Dimasa Pandemi Corona Virus 19”, Jurnal Basicedu, Vol. 5, Nomor. 2, 2021, hlm. 689.
4
anak akan terlihat kurang baik. Kedua, keterlambatan psikologis anak untuk dapat berpikir matang pada saat yang seharusnya. Hal ini sangat disayangkan karena pendewasaan merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh setiap anak dalam hidupnya.
Ketiga, anak akan kesulitan dalam dalam mengambil keputusan sendiri. Hal ini mengakibatkan anak akan selalu bergantung pada orang lain daripada kemampuannya sendiri. Keempat, pola asuh yang salah dapat menyebabkan emosi anak tidak matang. Hal ini dapat terlihat dari anak menjadi mudah emosi terhadap berbagai hal, tidak tenang dalam menghadapi apaun, serta anak takut mecoba hal-hal baru yang lebih menantang. Kelima, kemampuan bersosialisasi anak buruk. Anak akan merasa tidak percaya diri dengan orang lain, anak cenderung menutup diri dan sebagainya.9
Berdasarkan dampak-dampak yang ditimbulkan dari kesalahan dalam memilih pola asuh yang baik orang tua harus lebih bijak dalam memilih metode pengasuhan untuk anak.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah ra yang artinya:
“Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda, Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusisebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalianmelihat ada cacat padanya?”.10
Berdasarkan arti hadits di atas dapat ditarik pemahaman bahwa setiap anak terlahir ke dunia dalam keadaan tidak mengetahui dan tidak membawa apa-apa. Ketika anak sudah lahir orang tualah yang bertanggung jawab dan berkewajiban untuk mendidik, membesarkan dan mengasuh anak, ketika orang tua
9 Agil Antono, “5 Dampak Pola Asuh Yang Tidak Baik Terhadap Anak Yang Perlu Dihindari”, dalam http://dosenpsikologi- com.cdnampproject.org, diakses tanggal 5 Januari 2022, pukul 20.29.
10 Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prophetic Parenting; Cara Nabi Saw Mendidik Anak, (Yogyakarta: Pro-U Media, 2010), hlm. 48.
5
mengasuh dengan baik, ketika orang tua memperlihatkan sisi-sisi positif pada anak maka anak akan mengikuti jejak orang tuanya untuk berperilku baik dan positif. Begitupun sebaliknya, jika orang tua salah cara mendidik, ketika di depan anak melakukan atau berkata yang negatif tidak sesuai dengan aturan maka anakpun akan meniru orang tuanya untuk melakukan dan berkata negatif.
Dalam ayat Al-Qur’an atau firman Allah SWT pun sudah dijelaskan bahwa orang tua mengasuh dan mendidik anak dengan pola asuh yang benar bertujuan agar anak terhindar dari hal-hal negatif dan terhindar dari siksaan api neraka. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah At-Tahrim ayat 6:
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim [66]:
6.11
Adapun dalam Islam terdapat lima macam pola asuh yang diterapkan ketika mengasuh anak yakni: pola asuh dengan metode keteladanan, pola asuh dengan metode pembiasaan, pola asuh dengan metode nasihat, pola asuh dengan metode perhatian dan pengawasan, pola asuh dengan metode pujian dan hukuman.12 Adapun dampak dari penerapan pola asuh Islami ini adalah anak akan menjadi lebih dekat dengan orang tua. Anak memiliki budi pekerti. Anak mengetahui siapa yang menciptakannya. Anak beriman kepada Allah SWT. Anak terbiasa memuliakan Rasulullah SAW. Anak mampu menjalankan kewajibannya. Membiasakan anak untuk selalu
11 QS At-Tahrim [66]: 6, “Departemen Agama RI Al-Aliyy Al- Qur’an dan Terjemahnya”, Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2009.
12 M. Yusuf, “Pola..., hlm. 64-66.
6
saling menghargai dan menghormati ketika dilingkungan sosial dan sebagainya.
Pola asuh Islami dapat diterapkan dalam keluarga Islami.
Keluarga Islami adalah keluarga yang beragama Islam. Keluarga Islami merupakan keluarga yang dibangun atas dasar ketaatan kepada Allah SWT dan tujuan adanya keluarga Islami adalah untuk mencari keridhoan Allah SWT. Setiap anggota keluarga Islami hidup dengan hak dan kewajiban yang sudah ditentukan dalam syari’at Islam.13 Keluarga Islami juga dapat dilihat dari mereka yang selalu memelihara ketauhidan dalam arti dalam hidup mereka menomor satukan adab-adab kepada Allah SWT.
Mereka selalu memperhatikan ibadah. Mereka menerapkan akhlak-akhlak baik yang berpatokan pada akhlak para nabi dan rasul. Serta mereka menebarkan kasih sayang, kepedulian dan kebaikan di dalam keluarga maupun pada orang lain.14
Peneliti melakukan observasi dan wawancara awal di Yayasan Anak Bangsa peneliti menemukan beberapa permasalahan atau problematika akademik seperti perbedaan- perbedaan cara bersosialisai anak di Yayasan Anak Bangsa, diantarnya: Pertama, terdapat anak binaan yang kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya dan orang baru. Kedua, terdapat anak binaan yang menutup diri dari lingkungan sosialnya. Ketiga, terdapat anak binaan saat berinteraksi dengan teman sebaya menggunakan kekerasan dan kata-kata yang tidak sepantasnya. Keempat, adanya anak-anak binaan yang memiliki kemampuan sosialisai yang baik.
Berdasarkan latar belakang dan penemuan masalah di atas, peneliti tertarik dan menganggap perlunya diadakan penelitian mengenai “Pengaruh Pola Asuh Keluarga Islami Terhadap Perkembangan Sosial Anak Di Yayasan Anak Bangsa Indonesia NTB” untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pola asuh
13 TK Darunnajah Jakarta, “Membentuk Keluarga Islami”, dalam https://durunnajah-com.cdn.ammproject.org, diakses tanggal 5 Januari 2022, pukul 21.01.
14 Sri Al Hidayati, “Karakteristik Keluarga Islami”, dalam
https://www.srialhidayati.com, diakses tanggal 5 Januari 2022, pukul 21.13.
7
keluarga Islami terhadap perkembangan sosial anak di Yayasan Anak Bangsa Indonesia NTB.
B. Rumusan dan Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:
“Apakah ada pengaruh pola asuh keluarga islami terhadap perkembangan sosial anak?”
C. Tujuan dan Manfaat
Berdasarkan rumusan masalah diatas yang menjadi fokus penelitian dalam penelitian ini, maka tujuan diadakannya penelitian ini yaitu:
“Untuk mengetahui apakah pola asuh keluarga Islami berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak.”
Dengan tercapainya tujuan diatas peneliti mengharapkan penelitian ini memiliki manfaat, adapun manfaat dari penelitian ini, yaitu:
1. Manfaat Teoritis:
Diharapkan penelitian ini bisa memberikan manfaat atau sumbangsih untuk perkembangan ilmu pengetahuan bimbingan konseling islam khususnya dikalangan akademisi yang mungkin ingin meneliti hal yang serupa, dan bisa dijadikan sebagai pembanding dengan penelitian-penelitian berikutnya.
2. Manfaat Praktis:
a. Bagi subjek penelitian
1) Diharapkan penelitian ini memberikan gambaran betapa pentingnya pola asuh yang benar bagi anak untuk perkembangan sosialnya.
2) Diharapkan penelitian ini bisa memberikan pengaruh yang besar bagi anak ketika berada di lingkungan sosialnya.
8
b. Bagi masyarakat umum dan orang tua, diharapkan penelitian ini mampu memberikan pemahaman tentang betapa pentingnya menerapkan pola asuh yang benar terhadap anak demi terselesaikannya tugas-tugas perkembangan anak, terutama perkembangan sosialnya dengan baik.
c. Bagi Yayasan Anak Bangsa Indoneisa NTB diharapkan penelitian ini mampu memberikan pemahaman tentang tugas-tugas perkembangan sosial anak, macam-macam pola asuh yang baik agar ketika di anak-anak binaan di Yayasan Anak Bangsa Indonesia NTB mendapatkan pola asuh yang baik juga selain di rumah.
D. Definisi Oprasional
Definisi operasional adalah suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati. Definisi operasional memiliki arti tunggal dan diterima secara objektif bilamana indikator variabel yang bersangkutan tersebut tampak.15 Adapun fokus definisi operasional pada variabel peneilitian yang akan diteliti untuk meminimalisir kesalahan adalah sebagai berikut :
1. Perkembangan Sosial
Dalam perkembangan sosial Hurlock mengemukakan beberapa indikator-indikator yaitu: pertama, kerjasama yang dimana dalam kesehariannya anak belajar serta bekerjasama dengan anak yang lainnya. Kedua, kemurahan hati atau anak mampu berbagi dengan orang lain. Ketiga, penerimaan sosial yang dimana anak berusaha menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang ada. Keempat, simpati dan empati yang dimana anak merasa tertarik pada sikap, penampilan atau perbuatan orang lain sehingga anak mampu membangun persahabatan dengan temannya, anak mampu memposisikan diri pada situasi orang lain. Kelima, sikap ramah yang dimana
15 Ahmad Munjirin, “Efektivitas Terapi Relaksasi Zikir Dalam Upaya Menurunkan Stres Akademik Mahasiswa semester Satu Prodi Bimbingan Konseling Islam TA 2019”, (Skripsi, FDIK Universitas Islam Negeri Mataram, Mataram 2020), hlm. 13
9
anak memeperlihatakn sikap ramah tamahnya dengan cara mengkespresikan kasih sayangnya dan kesanggupannya melakukan sesuatu untuk teman dan lingkungannya.
Keenam, anak mampu belajar memikirkan orang lain.16 2. Pola Asuh Keluarga Islami
Dalam pola asuh keluarga islami terdapat beberapa aspek yaitu: Pertama, aspek psikologis dan mental, yang dimana aspek ini sangat penting bagi anak karena berkaitan dengan kesehatan pasikologis dan mental anak. Kedua, aspek keimanan dan syari’at Islam, dalam hal ini orang tua perlu memberikan pendidikan keimanan dan syari’at Islam agar anak menjadi lebih dekat dengan sang pencipta, anak mampu melaksanakan segala bentuk kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. Ketiga, aspek akhlak dan sosial, hal ini perlu diberikan agar anak paham tentang batasan-batasan dalam bergaul, cara-cara dalam bergaul dan semua hal yang berkaitan dengan akhlak dan sosial anak. Keempat, aspek aktualisasi diri yang dimana dalam aspek ini anak perlu mengetahui cara merawat diri dan lingkungannya.17
16 Titing Rohayati, “Pengembangan Perilaku Sosial Anak Usia Dini”, Jurrnal Cakrawala Dini, Vol. 2, Nomor. 2, tahun 2013, hlm. 134- 135.
17 M. Yusuf, “Pola..., hlm 49-64.
10 BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Kajian Pustaka
Penelitian tentang pola asuh dan perkembangan sosial sudah banyak diteliti sebelumnya. Adapun karya ilmiah yang memiliki kemiripan dengan penelitian ini yaitu seperti:
Pertama dalam tulisan Syahrul dan Nurhafizah tentang Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial dan Emosional anak Usia Dini Dimasa Pandemi Corona Virus 19.18 Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi tesis terkait dengan perkembangan sosial dan emosional anak di masa pandemi Corona Virus 19, yang dimana pada masa pandemi ini semua aktivitas dilakukan di Rumah seperti: bekerja dari rumah dan belajar dari rumah. Sehingga orang tua kesulitan membagi waktu untuk bekerja dan mendampingi anak belajar. Orang tua juga kesulitan memahami bagaimana seharusnya cara mereka mendampingi anak saat belajar dari rumah. Anak juga mengalami kesulitan untuk fokus dengan segala kegiatan di rumah dan terakhir anak menjadi lebih sering brmain gadget serta menonoton televisi daripada belajar.
Adapun hasil dari penelitian tersebut terdapat pengaruh pola asuh orang tua terhadap perkembangan sosial emosional anak di masa pandemi. Orang tua kesulitan mengontrol anak, orang tua lebih sering memerintah anaknya, terdapat komunikasi dua arah, anak mampu meminta maaf jika melakukan kesalahan, anak sulit mengontrol emosinya dan perkembangann sosial emosional anak tidak berkembang.
Kedua dalam tulisan Lia Mustabsiyah dan Ali Formen tentang Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosi Anak Pada Sikap Tanggung
18 Syahrul dan Nurhafizah, “Pola..., tahun 2021.
11
Jawab.19 Penelitian ini dilatarbelakangi oleh anggapan umum tentang pola asuh orang tua dianggap sebagai salah satu faktor perkembangan anak, yang dimana hal tersebut dititik beratkan pada pola asuh saja tanpa menghubungkan dengan perkembangan anak tersebut. Berdasarkan isu tersebut penulis melakukan penelitian untuk mengengahkan hubungan antara pola asuh dengan perkembangan anak.
Adapun hasil penelitian yang didapatkan bahwa pola asuh dan perkembangan sosial emosi anak pada sikap tanggung jawab berhubungan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti bentuk pola asuh yang digunakan orang tua dari segi tindakan dan bimbingan orang tua tersebut.
Ketiga dalam tulisan I Made Lestiawati tentang Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia 6-7 Tahun.20 Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya kemampuan sosial yang dimiliki oleh anak. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu: adanya pengaruh pola asuh orang tua terhadap perkembangan sosial anak yang dimana ketika orang tua menerapkan pola asuh demokratis akan menyebabkan anak memiliki kemampuan sosial yang baik juga.
19 Lia Mustabsiyah dan Ali Formen, “Hubungan Pola Asuh Orangtua Terhadap Perkembangan Sosial Emosi Anak Pada Sikap Tanggung Jawab”, Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana UNNES: Semarang, ISSN:
26866404, 2020.
20 I Made Lestiawati, “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kemampuan Sosial Anak Usia 6-7 Tahun”, Jurnal Ilmiah VISI P2TK PAUDNI, Volume. 8, No. 2, Desember 2013
12 Tabel 2.1 Kajian Pustaka N
o
Penulis Judul Persamaan Perbedaan 1. Syahrul
dan
Nurhafizah .
Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembang an Sosial dan Emosional Anak Usia Dini Dimasa Pandemi Corona Virus 19
Persamaann ya sama- sama ingin mengetahui sejauh mana pola asuh orang tua berpengaruh terhadap perkembang an sosial anak
Pertama, dilihat dari pola asuh yang menjadi variabel.
Dalam penelitian sebelumnya lebih kepada pola asuh persfektif barat yang diterapkan oleh orang tua. Akan tetapi dalam penelitian yang akan dilakukan peneliti menggunaka n pola asuh keluarga islami.
Kedua, dari segi subjek penelitian, yang menjadi subjek dalam penelitian sebelumnya adalah anak
13
yang berusia 5-6 tahun, sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan menggunaka n anak usia 7-12 tahun.
Ketiga, dari segi metode yang
digunakan, peneliti terdahulu mengunakan metode kombinasi sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan menggunaka n metode kuantitatif.
2. Lia Mustabsiy ah dan Ali Formen.
Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembang an Sosial Emosi Anak Pada Sikap Tanggung Jawab
Persamaann ya yaitu sama-sama ingin mengetahui apakah ada hubungan aau pengaruh dari pola asuh terhadap perkembang
Pertama, perbedaanny a terletak pada metode penelitianny a, penelitian sebelumnya menggunaka n metode library research.
Sedangkan penelitian
14
an sosial dan pada subjek penelitianny a
ini
menggunaka n metode kuantitaitf.
Kedua, dari segi variabel perkembang an sosial yang lebih khusus pada sikap
tanggung jawab.
3. I Made Lestiawati
Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembang an Sosial Anak Usia 6- 7 Tahun
Sama-sama ingin mengetahui pengaruh pola asuh orang tua terhadap perkembang an sosial anak
Pertama, metode yang digunakan yaitu ex post facto
sedangkan penelitian ini
menggunaka n penelitian kuantitatif Kedua, dari segi subjek yang digunakan yaitu anak usia 6-7 tahun.
Sedangkan penelitian ini
menggunaka n anak usia 7-12 tahun sebagai subjek
15
Ketiga, dari variabel bebas yang menggunaka n pola asuh perspektif barat, sedangkan penelitian ini
menggunaka n pola asuh Islami.
B. Kajian Teori
1. Pola Asuh Keluarga Islami a. Definisi Pola Asuh
Menurut Hurlock pola asuh adalah metode disiplin yang digunakan oleh orang tua untuk anak-anaknya.
Metode disiplin ini terdiri dari dua konsep yaitu konsep positif dan negatif. Menurut konsep negatif, disiplin berarti memelihara, membimbing dengan lebih menekankan pada disiplin diri dan pengendalian diri, sedangkan konsep negatif menejalaskan bahwa disiplin berarti pengendalian dengan kekuatan. Hal ini adalah bentuk pengendalian diri dengan cara yang diabaikan dan menyakitkan.21
Menurut pandangan ahli psikologi dan sosiologi memiliki pengertin yang berbeda. Singgih D Gunarso berpandangan bahwa pola asuh adalah deskripsi yang dipakai oleh orang tua untuk mengasuh (merawat,
21 Sitti Rahmah, “Pola Asuh Orang Tua Dalam Menanamkan Sikap Disiplin Anak Didesa Pematang Gajah RT 02 Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muaro Jambi”, (Skripsi, FTK Universitas Islam Negeru Sulthan Thaha Saifuddin, Jambi, 2020), hlm. 11.
16
menjaga, mendidik) anak. Berbeda dengan Chabib Toha yang menyatakan bahwa pola asuh adalah suatu metode terbaik yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mendidik anak sebagai bentuk dan rasa tanggung jawab kepada anak.22
Dari definisi di atas bisa kesimpulan bahwa pola asuh adalah suatu metode yang dilakukan oleh orang tua untuk mengasuh anak dengan serangkaian usaha aktif yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Orang tua dalam mengasuh anak memiliki ciri khas yang tetap dari waktu ke waktu.
Pola asuh orang tua dibagi menjadi tiga jenis pola asuh orang, yaitu:
1) Pola asuh otoriter adalah suatu gaya pengasuhan yang membatasi dan menuntut anak untuk mengikuti perintah orang tua, yang dimana pola asuh otoriter menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak memberi peluang yang besar bagi anak- anak untuk mengungkapkan pendapat. Orang tua otoriter juga cenderung bersikap sewenang- wenang dan tidak demokrasi dalam membuat keputusan, memaksakan peran-peran atau pandangan kepada anak atas dasar kemampuan dan kekuasaan sendiri, serta kurang menghargai pemikiran dan perasaan mereka.
2) Pola asuh demokratis adalah suatu gaya pengasuhan yang menerapkan aturan-aturan yang harus ditaati oleh akan tetapi orang tua tetap menghargai, mendengar, menghormati segala keputusan, perasaan dan pemikiran anak serta selalu melibatkan anak daam setiap pengambilan keputusan. Penerapan pola asuh ini akan menjadikan anak sebagai pribadi yang bertanggung jawab, lebih percaya diri, mampu
22 Al Tridhonanto dan Beranda Agency, Mengembangankan Pola Asuh Demokratis, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2014), hlm. 4.
17
mengontrol diri sendiri dan mampu mengambil keputusan sendiri dengan bijak.
3) Pola asuh permisif adalah gaya pengasuhan yang dimana adakalanya orang tua melibatkan diri dalam kehidupan anak dan adakalanya sangat membebaskan anak melakukan apa saja.23 Dapatkan pola asuh permisif ini merupakan poka asuh yang bebas meskipun adanya aturan atau tidak.
b. Definisi Pola Asuh Keluarga Islami
Dalam bahasa Arab keluarga dikenal dengan ahlun yang berasal dari kata ahila yang berarti senang.
Pendapat lain mengatakan bahwa ahlun berasal dari kata ahala yang berarti menikah.24 Ahli antropologi berpendapat bahwa kesatuan sosial terkecil manusia sebagai makhluk sosial disebut dengan keluarga. Hal ini selaras dengan adanya fakta bahwa keluarga adalah ikatan atau suatu kekerabatan yang menempati suatu tempat dan berlandaskan pada kerjasama, berkembang bersama, mendidik anak atau bersosialisasi dengan baik, saling tolong menolong dan melindungi yang lemah.25
Dalam konsep Islam keluarga merupakan satu kesatuan ikatan antara laki-laki dan perempuan yang menjalankan akad nikah sesuai syari’at Islam. Yang dimana berdasarkan akad nikah yang sudah dilaksanakan dapat menghasilkan keturunan secara sah sesuai hukum agama.26
Sedangkan keluarga Islami adalah keluarga yang dibangun atas dasar ketaatan kepada Allah SWT dan tujuan keluarga Islami adalah mengejar keridhaan Allah
23 Yudrik Jahja, “Psikologi..., hlm. 194.
24 Anung Al Hamat, “Representasi Keluarga Dalam Konteks Hukum Islam”, Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam, Vol. 8, Nomor. 1, Tahun 2017, hlm. 140.
25 Ibid, hlm. 141.
26 Ibid, hlm. 141.
18
SWT. Setiap anggota keluarga Islam hidup ditentukan oleh hukum Islam. Keluarga Islami juga terlihat dari mereka yang selalu menjaga tauhid, artinya kehidupan mereka selalu mengutamakan tata krama dihadapan Allah SWT. Mereka selalu peduli dengan ibadah, mereka menerapkan akhlak yang baik, mereka menyebarkan cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga mereka dan orang lain.27 Berdasarkan penjabaran dia atas keluarga Islami dapat dikatakan sebagi keluarga yang beragama Islam (Muslim) yang dimana keluarga Islami membentuk keluarga selalu beracuan pada syari’at Islam yang dilandaskan pada Al-Qu’an dan Sunnah.
Menurut Derajat pola asuh Islami merupakan tindakan orang tua dalam mendidik anak sejak baru lahir sampai dewasa sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits.28 Islam mengajarkan bahwa ketika mendidik anak tidak semata-mata dari segi fisik saja akan tetapi orang tua harus mendidik jiwa anak dengan menanamkan nila-nilai agama agar nantinya anak menjadi pribadi yang lebih positif.
Dalam Islam terdapat lima macam pola asuh yang diterapkan ketika mengasuh anak yakni:
1) Pola Asuh Metode Keteladanan
Pola asuh ini merupakan metode pola asuh yang menuntut orang tua untuk memberikan contoh-contoh perilaku yang baik pada anaknya, baik itu perilaku yang berkaitan dengan kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.
Ketika orang tua memperlihatkan suri tauldan yang baik atau sikap-sikap, perilaku-perilaku yang baik akan sangat memberikan dampak yang besar dan positif bagi anak.29 Hal ini berkaitan
27 Sri Al Hidayati, “Karakteristik..., pukul 21.13.
28 M Yusuf, “Pola..., hlm. 48.
29 Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prophetic..., hlm. 139.
19
dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Luqman ayat 15:
ْيِب َكِر ْشُت ْنَا ىٰلَع َكٰدَهاَج ْنِاَو ى ِفا َمُهْب ِحاَصَوا َمُهْع ِط ُت َلََف ٌمْلِع هِب َكَل َسْيَلاَم ۚ َّي َ
ل ِا َباَن َ
ا ْن َم َلْيِب َس ْعِب َّتاَّو ۚ اًف ْوُرْع َماَيْن ُّدلا ْمُتْن ُكا َمِب ْم ُكُئِ بَنُاَف ْمُكُع ِجْرَم َّيَلِا َّمُث
﴾ ١٥ ﴿ َنْو ل َمْعَت ُ
“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri Tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Qs. Luqman [31]: 15).30
Ayat ini berkaitan dengan Sa’ad bin Abi Waqas, dia berkata: “Ketika saya masuk Islam ibu saya bersumpah untuk tidak makan dan minum sebelum saya meninggalkan Agama Islam. Pada hari pertama saya meminta beliau untuk makan dan minum namun beliau menolak. Hari kedua, saya kembali meminta beliau untuk makan dan minum namun jawabannya masih sama. Hari ketiga, saya memohon lagi kepada beliau agar beliau makan dan minum namun beliau kembali
30 QS Luqman [31]: 15, “Departemen..., 2009.
20
menolak. Dikarenakan beliau tetap menolak, saya berkata: Demi Allah jika saja ibu memiliki seratus nyawa dan satu persatu keluar dihadapan saya sampai ibu mati, saya tidak akan mendustakan agama ini. Ketika melihat kekuatan dan keyakinan saya akhirnya beliaupun mau makan”.31
Setiap anak akan menjadikan orang tua sebagi panutan dalam menjalani hidup mereka, ketika orang tua tidak mampu memberikan contoh positif bagi anak maka anakpun tidak bisa menjadi pribadi yang positif. Hal ini berkaitan dengan firman Allah SWT dalam surah As-Saff ayat 2-3:
َنْو ُ
ل ْو ُقَت َم ِلاْوُن َم ٰا َنْيِذَّلااَهُّيٓاٰي ْن َ
ا ِالله َدْنِعا ًت ْق َمَرُب َك ﴾۲﴿ َنْوُلَعْفَت َلَاَم
﴾۳﴿ َن ْو لَع ْفَت ُ لَا َماْو َ ل ْو ُقَت ُ
“Wahai orang-orang yang beriman!
Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (Qs. As Saff [61]:
2-3).32
2) Pola Asuh Metode Pembiasaan
Pada usia anak orang tua harus mampu membiasakan anak untuk melakukan hal-hal positif karena pada masa anak-anak adalah masa dimana orang tua bertugas untuk mempersiapkan,
31 Lutfiyah, “Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak: Studi Ayat 13-19 Surat Luqman”, Jurnal Sawwa, Vol. 12, Nomor. 1, Tahun. 2016, hlm.
133.
32 QS As Saff [61]: 2-3, “Departemen..., 2009.
21
melatih dan mengenalkan kepada anak tentang segala kewajibannya pada Tuhan, kewajiban pada diri sendiri maupun kewajibannya pada orang lain atau lingkungan sekitar agar anak mampu dan mudah melaksanakan segala kewajibannya ketika sudah usia baligh.33 Hal ini dikarenakan anak sudah memiliki persiapan dan sudah terbiasa sejak kecil untuk melaksanakan segala kewajibannya.
Dalam pola asuh ini orang tua dituntut untuk membiasakan anak melakukan hal-hal positif seperti membantu anak untuk membiasakan diri dalam mengerjakan ketaatan, mendorong anak untuk selalu menurut mengerjakan perintah, membiasakan anak mengucap salam ketika bertemu dengan orang lain, menghormati orang lain dan berbagai hal positif lainnya.
Adapun hadits yang membahas tentang pembiasaan ini seperti yang diriwayatkan oleh at- Tirmidzi dari Anas bin Malik ra:
“Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda kepadaku, “Anakku, jangan menengok dalam shalat, karena menengok dalam shalat adalah kebiasaan. Apabila harus dilakukan, maka lakukan dalam shalat sunnah bukan pada shalat wajib”.34
Berdasarkan hadits di atas dapat dipahami bahwa dalam melakukan kebaikan atau hal-hal positif orang tua harus membiasakan anak untuk melakukannya dengan benar sesuai dengan aturan. Karena jika anak terbiasa melakukan hal- hal yang menyimpang maka hal tersebut akan
33 Musyarofah, “Perkembangan..., hlm. 353.
34 Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. “Prophetic...,, hlm. 359.
22
menjadi kebiasaan anak dalam menjalani kehidupannya di masa depan.
3) Pola Asuh Metode Nasihat
Pola asuh ini merupakan metode pola asuh yang dimana orang tua memberikan nasihat terhadap anak agar anak tetap dalam jalur yang positif dan terhindar dari kesalahan-kesalahan.
Dalam memberikan nasihat orang mampu memilih waktu yang tepat dan dengan cara yang penuh kelembutan dan kasih sayang agar nasihat yang diberikan bisa diterima oleh anak. Hal ini berkenanaan dengan cara Rasulullah Saw yang selalu teliti dalam memilih tempat, waktu dan cara menasihati seorang anak. Rasulullah Saw menyarankan kepada seluruh kaumnya tentang tiga dasar memilih waktu untuk memberikan nasihat pada anak yaitu:
a) Dalam perjalanan
Memberikan nasihat dalam perjalanan ini sesuai dengan riwayat al-Hakim dari Ibnu Abbas ra:
“Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam diberi hadiah seekor bighal oleh Kisra.
Beliau menungganginya dengan tali kekang dari serabut. Beliau memboncengkanku di belakangnya.
Kemudian beliau berjalan. Tidak berapa lama, beliau menoleh dan memanggil,
“Hai anak kecil”. Aku jawab, “Labbaika, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda,
“Jagalah agama Allah nisacaya Dia menjagamu.... hadis”.35
35 Ibid, hlm. 142.
23
Berdasarkan riwayat di atas dapat disimpulkan bahwa memberikan nasihat ketika dalam perjalanan akan sangat mudah diingat oleh anak. Hal ini dikarenakan dalam kondisi seperti ini anak memiliki penerimaan yang besar atas segala macam hal.
b) Waktu makan
Diriwayatkan oleh Abu Dawud at- Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih nya menyebutkan:
“Mendekatlah wahai anakku, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah apa yang ada di hadapanmu”.36
Berdasarkan riwayat di atas dapat dipahami bahwa Rasulullah sangat lemah lembut dalam memberikan nasihat pada anak.
c) Waktu anak sakit
Ketika sakit seseorang akan tersadar dengan segala perbuatannya, ketika seperti ini akan sangat mudah menasihati anak.
Anggapan ini sesuai dengan kisah Rasulullah yang menjenguk seorang anak Yahudi yang sakit lalu mengajak aak tersebut masuk Islam, kemudian setelah Rasulullah Saw mengajak masuk Islam anak tersebut mau dan akhirnya menjadi muallaf.37
4) Pola Asuh Metode Perhatian dan Pengawasan Pola asuh ini merupakan pola asuh yang dimana orang tua harus selalu siap memperhatikan segala tingkah laku anaknya. Jika
36 Ibid, hlm. 143-144.
37 Ibid, hlm. 145.
24
anak mulai lalai atau lupa terhadap kewajibannya orang tua harus mengingatkan anak dengan bahasa yang halus.
5) Pola Asuh Metode Pujian dan Hukuman
Pola asuh ini merupakan pola asuh yang dimana orang tua harus memberikan pujian ketika anak sudah melakukan kewajibannya dan memberikan hukuman pada anak jika anak melakukan kesalahan, akan tetapi hukuman dalam ini yaitu hukuman yang penuh dengan cinta dan kelembutan.38
Ketika mendidik anak orang tua menggunakan metode pujian yang dimana orang tua memberikan pujian dan sanjungan pada anak akan meberikan dampak yang positif pada diri anak. Seorang anak akan sangat senang ketika diberikan pujian, pujian yang didapatkan oleh anak akan menjadikan anak terus mengulangi perbuatan yang dapat menimbulkan pujian bagi dirinya.39 Adapun ketika orang tua menerapkan metode hukuman dalam mendidik anak akan membuat anak jera atau berusaha untuk tidak melakukan kesalahan atau lalai dalam melaksanakan kewajibannya.
Dalam keluarga Islami terdapat beberapa aspek-aspek pola asuh yang diterapkan yaitu:
a) Pendidikan Psikologis dan Mental
Pendidikan psikologis dan mental bagi anak sangat penting untuk diberikan. Hal ini berkenaan dengan sehatnya psikologis dan mental anak akan berpengaruh terhadap perkembangan anak dan kemampuan anak untuk menjalani kehidupannya. Dalam
38 M Yusuf, “Pola..., hlm. 64-66.
39 Musyarofah, “Perkembangan..., hlm. 194.
25
pendidikan psikologis dan mental ada beberapa aspek yang harus terpenuhi yaitu:
(1) Orang tua dianjurkan untuk membuat anak hidup dengan gembira.
Kegembiraan yang orang tua berikan pada hidup anak akan berdampak positif pada diri anak dan akan menyebabkan anak mau menerima nasihat, anjuran dan perintah. Orang tua bisa membuat anak bahagia atau gembira sesuai dengan cara yang diterapkan oleh Rasulullah Saw yaitu; dengan cara bermain dan bercanda dengan anak, makan bersama, mencium anak, menggendong dan menimang, mengusap kepala dan mencium anak.
Dalam satu kisah diriwayatkan oleh ath Thabrani dari Jabir bin Abdillah ra.
Dalam riwayat tersebut diceritakan baha ketika Rasulullah Saw sedang makan bersama dengan para sahabat, kemudian para sahabat melihat Husein cucu sang Rasulullah Saw lalu beliau langsung mendahului para sahabat dan merentangkan tangan dan Husein berlarian serta mereka berdua tertawa bersama, akhirnya beliau bisa nenangkap Husein dan menciumnya.40
(2) Orang tua harus memberikan rasa kasih sayang yang penuh terhadap anak. Salah satu sifat para nabi yaitu penyayang.
Dalam sebuah riwayat Ibnu Asakir dari Annas bin Malik ra; mengatakan bahwa Rasulullah Saw merupakan sosok yang sangat menyayangi anak dan
40 Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, “Prophetic..., hlm. 433
26
keluarganya.41 Oleh karena itu tentunya dalam mengasuh anak orang tua harus memberikan kasih sayang dan cinta yang penuh bagi anak. Hal ini dilakukan agar anak merasa bahwa dirinya memang penting dan berharga bagi kedua orang tuanya.
(3) Orang tua harus memberikan apresiasi terhadap anak. Setiap anak akan senang ketika mendapatkan apresiasi karena mereka telah meraih keberhasilan atau melakukan sesuatu dengan baik.
Rasulullah Saw bersabda yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Ausath, al-Harbi dalam kitab al-Hadaya dan al-Askari dalam kitab al-Amtsal:
.اْوُّبا َحَتاْو َداَه َت
“Saling memberi hadiah di antara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai”.42
Orang tua harus memberikan apreasi terhadap pencapaian anak, apresiasi yang diberikan dapat berupa pujian, memberikan hadiah, mendo’akan anak, dan memberikan senyuman serta pelukan untuk anak.
(4) Orang tua memberikan waktu berlibur yang cukup untuk anak. Jika orang tua selalu mengurung anak, menuntut anak menjadi seperti yang diinginkan tentunya
41 Ibid, hlm. 430.
42 Ibid, hlm. 438.
27
anak akan menjadi pemberontak. Sesekali anak memerlukan waktu istirahat dan berlibur untuk menyegarkan pikirannya setelah banyaknya kegiatan yang menjadi rutinitas anak.
b) Pendidikan Keimanan dan Syari’at Agama Islam
Orang tua harus memberikan pendidikan tentang keimanan dan syari’at Islam bagi anak. Dalam Hal ini dilakukan agar anak dapat mengetahui dan menanamkan keimanan dalam dirinya. Menjadikan anak lebih dekat dengan sang pencipta. Dalam pendidikan ini orang tua harus memberi tahu anak tentang rukun-rukun iman. Mengawasi dan mengingatkan anak untuk melaksanakan kewajibannya. Memotivasi anak untuk melaksanakan kewajibanya. Menjadikan anak agar gemar membaca Al-Qur’an.43
c) Pendidikan Akhlak dan Sosial
Pendidikan akhlak dan sosial ini sangat penting diberikan pada anak. Dalam pendidikan akhlak anak diajarkan unutk membiasakan anak untuk mengedepankan adab-adab sesuai dengan adab para nabi, menanamkan kejujuran pada anak, mengajarkan anak untuk menjadi orang yang amanah, dan mengajarkan anak untuk menjauhi sifat iri dnegki. Adapun dalam pendidikan sosial orang tua mengajarkan anak untuk mengucap salam ketika bertemu orang, mengajarkan anak untuk berbagi dengan sesama, mengajak anak untuk berkumpul di majelis-majelis, mencarikan teman yang baik
43 Ibid, hlm. 295-353.
28
untuk anak.44 Hal terpenting dalam sosial ini orang tua juga harus mengajarkan anak bagaimana cara bergaul dengan sesama ataupun lawan jenis agar anak terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
d) Pendidikan Aktualisasi Diri
Dalam hal ini orang tua harus mampu menggali dan mengasah kemampuan anak.
Orang tua harus paham minat dan bakat yang dimiliki oleh anak. Orang tua mengajarkan anak tentang cara merawat diri dan lingkungannya.45 Dalam hal merwat diri orang tua dianjurkan membiasakan anak untuk olahraga, bersiwak, menjaga kebersihan kuku, mengikuti sunnah nabi dalam menjaga kesehatan diri, dan tidur tepat waktu.46 Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dampak dari pola asuh Islami yang diterapkan pada anak yaitu menjadikan hubungan orang tua dan anak semakin dekat, anak menjadi terbuka pada orang tua. Komunikasi antara orang tua dan anak menjadi efektif. Anak mengetahui dan mengenal Tuhan. Anak memiliki jiwa sosial yang baik. Anak memiliki kemampuan sosial yang bagus.
Anak mengetahui minat bakatnya. Anak akan selalu percaya pada orang tua. Anak akan mendapatkan kebahagiaan yang penuh. Anak berani mengambil keputusan sendiri dan anak menjadi pribadi yang positf dalam menjalankan kehidupannya seharu-hari.
44 Ibid, hlm. 380-425.
45 M Yusuf, “Pola..., hlm. 49-64.
46 Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, “Prophetic..., hlm. 525- 530.
29 2. Perkembangan Sosial
a. Pengertian Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial adalah suatu proses untuk membentuk nilai, keterampilan, kelakuan dan sikap individu sedemikian rupa sehingga sesuai dengan tuntutan masyarakat di tempat ia hidup. Perkembangan sosial dapat juga diartikan sebagai sebuah proses perubahan pada manusia yang perilakunya mencerminkan keberhasilan dalam tiga proses yaitu, dapat diterima secara sosial, dapat memainkan peran sosial yang dapat diterima, dan perkembangan sikap sosial.47 Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan sosial ini merupakan sebuah pencapaian yang diraih oleh individu dalam hubungan sosialnya, yang dimana perkembangan sosial individu ini merupakan suatu proses belajar dalam beradaptasi terhadap norma atau aturan, moral dan tradisi yang berlaku disekitarnya.
Menurut Sunaryo, perilaku sosial merupakan aktivitas dalam hubungan dengan orang lain, baik orang tua, saudara, guru maupun teman yang meliputi proses berpikir, beremosi dan mengambil keputusan.48 Sedangkan menurut Elizabeth B. Hurlock, perkembangan sosial berarti kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial, menjadi orang yang mampu bermasyarakat.49 Adapun pendapat lain tentang perkembangan sosial menurut Gordon dan Browne, sosialisasi adalah proses penyesuaian diri anak terhadap adat istiadat, kebiasaan dan cara hidup di lingkungan, serta pengalaman sosialnya dan seberapa baik ia dapat
47 Yudrik Jahja,”Psikologi..., hlm. 446.
48 Ibid, hlm. 446.
49 Ibid, hlm. 447.
30
bergaul dengan orang lain sangat bergantung kepada pengalaman belajar selama tahun-tahun pertama.50
Berdasarkan pengertian yang sudah dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan sosial adalah suatu proses penting yang harus dilalui oleh seseorang yang dimana proses perkembangan sosial ini merupakan suatu proses pembentukan nilai, perilaku seseorang agar mampu berbaur dengan masyarakat sekitar sesuai dengan norma yang berlaku. Yang dimana perkembangan sosial ini juga merupakan suatu proses yang dilalui oleh seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap kebiasaan-kebiasaan, cara bergaul dan cara hidup dalam bermasyarakat. Yang dimana proses perkembangan sosial ini merupakan hal yang penting sekali dilakukan dan dilalui dengan sempurna oleh seseorang agar mampu diterima dan mampu menyatu dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Hurlock mengemukakan beberapa unsur yang ada dalam perkembangan sosial yaitu:
a) Kerjasama yaitu anak mau belajar, bermain dan memiliki rasa ingin mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu bersama.
b) Kemurahan hati yang dimana anak bersedia berbagai sesuatu dengan oranh lain.
c) Hasrat akan penerimaan sosial. Jika keinginan yang kuat untuk diakui oleh lingkungan sosial maka anak akan mampu beradaptasi sesuai dengan norma sosial yang berlaku.
d) Simpati dan empati, hal ini terjadi karena emosional seseorang yang mendorong dirinya untuk menaruh perhatian pada orang lain dan anak mampu memposisikan diri pada situasi orang lain.
e) Sikap ramah yang dimana anak memeperlihatakn sikap ramah tamahnya dengan cara mengkespresikan
50 Ibid, hlm. 447.
31
kasih sayangnya dan kesanggupannya melakukan sesuatu untuk teman dan lingkungannya.
f) Sikap tidak mementingkan diri sendiri, anak mampu belajar memikirkan orang lain.51
Adapun dalam perkembangan sosial terdapat perilaku tidak sosial, Hurlock mengemukakan perilaku tidak sosial sebagai berikut:
a) Negativisme atau pembangkangan. Hal ini terjadi karena ketidaksesuaian antara keinginan anak dengan tuntutan orang tua bahkan hal ini bisa disebabkan oleh lingkungan. Hal ini dapat berupa perlawanan fisik atau penolakan menggunakan ucapan.
b) Agresi adalah suatu kondisi dimana anak memberikan feedback secara fisik maupun kata-kata. Agresi dapat dikatakan sebagai salah satu kondisi dimana anak mengekspresikan rasa kecewa karena tidak terpenuhi keinginan atau kebutuhannya. Pada situasi ini orang tua harus paham bagaimana cara mengurangi keagresifan anak, karena jika orang tua memberikan hukuman pada anak maka anak akan menjadi semakin agresif.
c) Berselisih atau bertengkar, hal ini akan terjadi apabila anak tidak nyaman dengan lingkungannya terutama ketika ada teman sebaya atau orang yang lebih dewasa menggangu aktivitasnya.
d) Menggoda, hal ini merupakan bentuk dari perilaku agresif. Serangan mental dalam bentuk ejekan atau cemoohan merupakan bentuk dari menggoda. Apabila hal ini dilakukan akan akan timbul emosi negatif dalam diri orang yang diserang.
e) Tingkah laku berkuasa, hal ini selaras dengan tingkah laku dimana seseorang ingin menguasai lingkungannya atau lebih mendominasi daripada orang lain.
51 Titing Rohayati, “Pengembangan..., hlm. 134-135.
32
f) Anak cenderung memikirkan dan mementingkan diri sendiri, dalam hal ini egosentris anak lebih dominan.
Sifat egosentrisme ini hampir dimiliki oleh setiap anak.
g) Prasangka, hal ini sudah tertanam pada diri anak sejak memasuki usia kanak-kanak awal. Pada saat ini anak mulai memahami bahwa adanya perbedaan dalam dirinya dan orang lain. Dalam kelompok sosial adanya perbedaan dianggap sebagai suatu tanda kerendahan.
Namun, anak akan sulit memperlihatkan prasangkanya dengan membeda-bedakan orang yang dikenal.
h) Antagonisme jenis kelamin, dalam hal ini terdapat larangan bagi anak baik itu dari orang tua maupun lingkungan sekitar. Larangan dalam hal ini anak perempuan tidak boleh memainkan permainan laki- laki.52
b. Tahap dan Tugas Perkembangan Sosial
Dalam buku Childhood and Society Erik Erikson membagi fase dan tugas perkembangan sosial menjadi delapan yaitu:53
a) Masa Bayi (0-18 bulan)
Usia 0-18 bulan adalah fase dimana orang tua harus memenuhi kebutuhan fisik anak. Pada usia ini anak juga sangat senang dipeluk, digendong dan lain sebagainya. Menurut Erik Erikson pada usia ini sangat perlu menanamkan rasa kepercayaan pada diri anak terhadap lingkungan ataupun pada dirinya sendiri.
Jika pada masa ini orang tua tidak menanamkan rasa kepercayaan pada diri anak maka dikemudian hari anak akan menjadi orang yang selalu curiga dan ragu
52 Ibid, hlm. 135.
53 Drs. Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2016), hlm. 120-122.
33
dalam menjalin hubungan baru dengan orang lain ataupun lingkungannya.
b) Masa Toddler (18 bulan – 3 tahun)
Pada masa ini anak mulai memisahkan diri dan bergerak dengan bebas. Pada saat ini orang tua harus memberikan kebebasan kepada anak untuk mengeksplore dunianya, akan tetapi pada masa ini orang tua juga harus menetapkan batasan atau aturan- aturan untuk anak agar tidak melakukan hal-hal diluar batas yang liar yang dapat menyebabkan ia jatuh tersesat.
Adapun tugas-tugas perkembangan pada masa ini yaitu menyangkut aspek penting dalam kehidupan individu, bukan hanya sebatas berlajar berjalan, buang air besar dan kecil pada tempatnya, akan tetapi pada masa ini anak juga belajar makan sendiri dan menjelajah atau mengeksplore dunianya.
c) Awal Masa Kanak-Kanak (4 – 7 tahun)
Pada masa anak ini anak mengalihkan perhatiannya dari benda-benda menuju orang-orang di sekitarnya. Pada masa ini anak mulai bersosialisasi, menyesuaikan diri dengan teman sebaya dan orang- orang sekitar. Pada masa ini tugas-tugas yang dimulai pada masa toddler dikembangkan lebih lanjut, yang dimana anak diharapkan sudah mampu mandiri seperti makan, mandi, berpakaian sendiri.
Pada masa ini orang tua juga dituntut untuk memberikan contoh yang baik bagi anak, karena apapun yang dilakukan orang tua akan dicontoh oleh anak. Ketika orang tua memberikan contoh-contoh yang baik dalam keidupan sehari-hari maka keterampilan yang baik dalam bersosialisai akan diterapkan oleh anak di lingkungan sosialnya.
d) Akhir Masa Kanak-Kanak (8 – 11 tahun)
Masa ini adalah masa anak untuk berkelompok.
Karena pada masa ini penerimaan dari teman sebaya atau lingkungan terhadap dirinya sangatlah penting.
34
Pada masa ini juga perlu sekali seorang anak belajar keterampilan, belajar dan diperkenalkan bagaimana cara menggunakan uang dan apa saja pekerjaan rumah.
Tugas inti pada masa ini adalah kerajinan dan memiliki rasa mampu berkarya yang dimana anak dapat diarahkan pada tugas-tugas sosial yang terorganisasi. Tugas orang tua adalah mengarahkan anak untuk melakukan hal-hal yang positif akan tetapi orang tua harus menghindarkan diri untuk menggunakan perintah-perintah yang otorier.
e) Awal Masa Remaja (12 – 15 tahun)
Masa ini adalah masa transisi anak menuju dewasa awal. Pada masa ini anak mulai berubah-ubah, berpusat pada diri sendiri, seks dan tubuhnya. Pada masa ini orang tua harus mendukung anak, orang tua tidak boleh memperlihatkan segala kesalahan anak dalam pemikiran mereka atau ketidakpantasan sifat murung mereka. Jika pada masa ini orang tua mendukung anak maka sifat yang berubah-ubah dan keterpusatan mereka pada diri sendiri akan hilang.
f) Masa Remaja yang Sejati (16 – 18 tahun)
Pada masa ini tugas yang inti adalah membentuk identitas baru, memilih tujuan hidup sendiri dan mengetahui makna hidup itu seperti apa. Pada saat ini orang tua harus mendukung, menghargai dan menerima keputusan anak dengan senang hati selama keputusan yang diambil sang anak adalah keputusan yang baik.
g) Awal Masa Dewasa (19 – 25 tahun)
Tugas awal pada masa ini adalah anak dituntut untuk mandiri. Pada masa ini seseorang sudah mulai berdikari, ada yang kuliah di tempat yang terpisah dengan orang tua, hidup sendiri, bekerja di tempat yang jauh dari orang tua atau bahkan menikah.
h) Kedewasaan dan Masa Tua (25 tahun ke atas)