BAB III. METODE PENELITIAN
3.2 Metode Kajian
3.2.6 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner (angket). Kuisioner yang berupa pertanyaan tertulis dengan menggunakan skala likert yang digunakan untuk menganalisis persepsi anggota Kelompok Tani Ngudi Rahayu terhadap pemanfaatan Trichoderma sp dalam berusaha tani.
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, persepsi individu atau kelompok tentang fenomena sosial yang ada. Istrumen terdiri dari pertanyaan- pertanyaan yang dijawab oleh responden. Jawaban berupa kata-kata yang mempresentasikan gradien dengan skor 1 sampai dengan 5 yaitu sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju, dengan kriteria sebagi berikut:
a. Sangat Setuju (SS) : 5
b. Setuju (S) : 4
c. Ragu-ragu : 3
d. Tidak Setuju (TS) : 2 e. Sangat Tidak Setuju (STS) : 1
Variabel Dependen (Y) Persepsi Variabel Independen (X1)
Karakteristik Petani 1. Usia
2. Pendidikan
3. Lama berusahatani 4. Luas lahan
Variabel Independen (X2) Sistem Sosial
1. Keaktifan anggota kelompok tani 2. Peran penyuluh
3 Kesesuaian materi penyuluhan 4. Intensistas penyuluhan
3.2.7 Uji Validitas dan Reliabilitas
Untuk memiliki instrumen yang baik maka harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliable :
a) Uji Validitas
Menurut (Sugiyono, 2016), Validitas ukuran derajat tingkat validitas suatu kuisioner. Untuk mengkonfirmasi validitas kusioner dalam penelitian ini digunakan metode korelasi Product Pearson Moment yang dirumuskan sebagai berikut :
π βππ‘π’ππ = π(βπ₯π¦) β (βπ₯)(βπ¦)
β*βπ₯Β² β (βπ₯Β²)}{πβπ¦Β² β (βπ¦Β²)}
Keterangan :
r hitung : Koefisien Korelasi
n : Jumlah Sampel
βπ₯ : Jumlah Skor Item
βπ¦ : Jumlah Skor Total
Validitas mengacu pada keadaan saat ini dan cara penulis mengkonseptualisasikan ide dengan konsensus antara konstruksi atau dengan mendefinisikan dan mengukur konsep, ini mengacu pada seberapa baik ide tentang realitas βcocokβ dengan kenyataan. Secara sederhana, validitas berkaitan dengan seberapa baik realistis sosial yang diukur oleh penulis cocok dengan komposisi yang digunakan penulis untuk memahaminya.
b) Uji Relibialitas
Setelah dilakukan uji validitas dilanjutkan dengan uji relibialitas. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan sejauh mana pengukuran tidak bias (bebas
kesalahan) dan untuk memastikan pengukuran yang konsisten di berbagai elemen dalam instrumen.
Relibialitas yang berarti keandalan atau konsistensi. Hal ini menunjukkan bahwa pengukuran berulang dari antribut yang sama memberikan hasil yang sama atau sangat mirip. Relibialitas penelitian kuantitaif menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan hasil numerik dari indikator tergantung pada metode pengukuran dan karakteristik alat ukur itu sendiri. Kebalikan dari relibialitas adalah pengukuran yang menghasilkan hasil yang tidak stabil atau tidak konsisten. Selain itu pengukuran relibialitas dalam penelitian ini menggunakan metode Alpha Croncbach dengan alat analisis SPSS 25.
3.2.8 Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan korelasi.
Tujuan dari analisis korelasi adalah untuk menemukan jumlah, arah dan kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih. Uji korelasi Rank Spearman dengan software SPSS 25 digunakan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik petani, sistem sosial terhadap persepsi petani dalam pemanfaatan Trichoderma sp di Kelompok Tani Ngudi Rahayu Kecamatan Landasan Ulin Banjarbaru Kalimantan Selatan. Data korelasi adalah data ordinal. Menurut Sugiyono (2016) menganalisis data menggunakan Rank Speraman (rs) dengan rumus berikut ini :
rπ = 6βππ2
N (N 2 β 1) Keterangan :
rs : Koefisien korelasi
d1 : Perbedaan antara dua rangking N : Jumlah sampel
Dasar pengambilan keputusan :
1. Jika nilai signifikansi < 0,05 maka berkorelasi.
2. Jika nilai signifikansi > 0,05 maka tidak berkorelasi.
Kriteria dalam menentukan kuat lemahnya korelasi :
1. Nilai koefisien korelasi 0.00-0.25 adalah menunjukkan hubungan sangat lemah antara variabel X dan Variabel Y
2. Nilai koefisien korelasi 0.26-0.50 adalah menunjukkan hubungan cukup kuat antara variabel X dan Variabel Y
3. Nilai koefisien korelasi 0.51-0.75 adalah menunjukkan hubungan kuat antara variabel X dan Variabel Y
Kriteria dalam penentuan arah hubungan :
Arah korelasi dilihat pada angka Correlation Coefficient. Besarnya nilai Correlation Coefficient antara +1 s/d -1. Nilai Correlation Coefficient bernilai positif, maka hubungan kedua variabel searah. Nilai Correlation Coefficient bernilai negative, maka hubungan variabel tidak searah.
Berdasarkan output diatas, diketahui nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,047, karena Sig. (2-tailed) < dari 0,05 maka artinya ada hubungan yang signfikan antara variabel X dengan variabel Y.
Dari output SPSS diperoleh angka Correlation Coefficient sebesar 0,366*
yang artinya arah hubungan yang positif dapat dilihat pada lampiran 10.
3.3 Metode Perancangan Penyuluhan 3.3.1 Penetapan Sasaran
Adapun hal-hal yang akan dilakukan sebelum menetapkan sasaran penyuluhan yaitu :
a. Melakukan identifikasi potensi wilayah untuk mendapatkan data dari potensi lokasi wilayah kajian
b. Merumuskan hasil identifikasi potensi wilayah
c. Menetapkan sasaran penyuluhan pertanian. Sasaran dalam kegiatan penyuluhan pertanian ini adalah 30 anggota kelompok tani Ngudi Rahayu di Kecamatan Landasan Ulin Banjarbaru Kalimantan Selatan
3.3.2 Penetapan Tujuan
Adapun hal-hal yang akan dilakukan sebelum menetapkan tujuan penyuluhan yaitu :
a. Melakukan identifikasi potensi wilayah untuk mendapatkan data dari potensi lokasi wilayah kajian
b. Merumuskan hasil identifikasi potensi wilayah
c. Melakukan diskusi dan koordinasi dengan PPL untuk penggalian data sekunder
d. Menetapkan tujuan yang diharapkan oleh anggota kelompok tani. Pada tujuan yang akan dicapai yaitu untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, tingkat sikap dan tingkat keterampilan anggota Kelompok Tani terhadap pemanfaatan Trichoderma sp
3.3.3 Penetapan Materi
Adapun hal-hal yang akan dilakukan sebelum menetapkan materi penyuluhan yaitu :
a. Melakukan identifikasi potensi wilayah untuk mendapatkan materi yang sesuai dengan masalah di angota kelompok tani
b. Merumuskan hasil identifikasi potensi wilayah
c. Menyusun alternatif rancangan materi penyuluhan tentang pemanfaatan Trichoderma sp dalam berusaha tani
3.3.4 Penetapan Metode
Adapun hal-hal yang akan dilakukan sebelum menetapkan metode penyuluhan yaitu :
a. Melaksanakan identifikasi potensi wilayah untuk menetapkan metode yang akan dilaksanakan
b. Merumuskan hasil identifikasi potensi wilayah c. Menganalisis karakteristik petani di wilayah kajian
d. Menetapkan jenis materi penyuluhan yang akan disampaikan
e. Menetapkan metode penyuluhan ceramah, diskusi kelompok dan demcar 3.3.5 Penetapan Media
Adapun hal-hal yang akan dilakukan sebelum menetapkan media penyuluhan yaitu :
a. Melaksanakan identifikasi potensi wilayah untuk menetapkan metode yang akan dilaksanakan
b. Merumuskan hasil identifikasi potensi wilayah
c. Menganalisis karakteristik petani di wilayah penelitian d. Menetapkan media leaflet, video dan benda sesungguhnya 3.3.6 Penetapan Evaluasi Penyuluhan
Adapun hal-hal yang akan dilakukan sebelum menetapkan evaluasi penyuluhan yaitu :
a. Menentukan jenis evaluasi penyuluhan
b. Menetapkan tingkat pengetahuan, sikap dan tingkat keterampilan dari anggota kelompok tani
c. Menyusun kuisioner sebagai alat untuk evalusi
d. Melakukan uji validitas dan relibilitas menggunakan aplikasi SPSS.
3.4 Metode Implementasi/Uji Coba Rancangan Penyuluhan 3.4.1 Persiapan
Persiapan penyuluhan yang akan dilakukan dengan membuat sinopsis yang berisi ringkasan materi penyuluhan yang akan disampaikan, berita acara dan daftar hadir sebagai bukti telah dilaksanakannya penyuluhan, lembar
persiapan menyuluh (LPM) yang berisi tentang waktu pelaksanaan, dan kelengkapan media penyuluhan. Persiapan penyuluhan perlu dilakukan agar kegiatan penyuluhan dapat berjalan sesuai dengan tujuan, sasaran dan rencana penelitian.
3.4.2 Pelaksanaan
Pelaksanaan penyuluhan dilakukan sesuai dengan jadwal penyuluhan dengan susunan acara sebagai berikut :
a. Pembukaan b. Perkenalan singkat
c. Penyampaian materi yang akan disampaikan d. Sesi tanya jawab dan diskusi
3.4.3 Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi hasil penyuluhan dilakukan dengan cara mencetak instrumen kuisoner sesuai dengan banyaknya sasaran dan dilanjutkan dengan membagikan instrumen kuisioner setelah dilakukan penyuluhan. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala Guttman untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan tingkat keterampilan, sedangkan skala likert yang tujuannya untuk mengukur tingkat sikap dari petani.
38 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1 Letak Wilayah
Kelurahan Syamsudin Noor merupakan salah satu kelurahan yang terletak pada kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan.
Posisi wilayah Syamsudin Noor berada di tengah wilayah Kecamatan Landasan Ulin.
Kelurahan Syamsudin Noor berjarak sekitar 15 Km dari pusat pemerintahan Kota Banjarbaru sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
Kelurahan ini mempunyai aksebilitas yang baik serta di dukung prasarana jalan yang cukup baik sehingga mudah dalam transportasi ke berbagai tempat.
Batas wilayah Kelurahan Syamsudin Noor adalah sebagai berikut pada tabel 1.
Tabel 1. Batas Wilayah Kelurahan Syamsudin Noor
Batas Desa/Kelurahan Kecamatan
Sebelah utara Penggalaman / Sungai Batang Martapura Barat, Kab.
Banjar Sebelah
selatan Landasan Ulin Timur Landasan Ulin
Sebelah timur Guntung Payung Landasan Ulin
Sebelah barat Landasan Ulin Utara Liang Anggang Sumber : Data Monografi Kelurahan Syamsudin Noor 2019
4.1.2 Luas Wilayah Kependudukan
Kelurahan Syamsudin Noor adalah salah satu Kelurahan yang berada di Kecamatan Landasan Ulin yang ada di kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan. Jarak antara pemerintahan Kelurahan Syamsudin Noor dengan Kecamatan Landasan Ulin adalah sekitar 1 km sedangkan dengan pusat pemerintahan Kota Banjarbaru sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sekitar 15 km.
Kelurahan Syamsudin Noor, mempunyai luas wilayah 16,43 Km2 atau 1643,75 Ha. Dengan jumlah penduduk 15.612 jiwa yang terdiri dari laki-laki 7.895 jiwa, perempuan 7.717 jiwa dengan 4.639 Kepala Keluarga. Kepadatan Penduduk 950 orang per Km2.
4.1.3 Kondisi Tanah dan Topografi
Wilayah Syamsudin Noor mayoritas merupakan tanah mineral dengan tekstur liat lebih dominan, tipe tanah mayoritas latosol dan mempunyai tingkat kesuburan yang relatif cukup baik. Wilayah kelurahan ini termasuk dataran rendah dengan topografi rata pada posisi sekitar 5 β 25 mdpl. Pada sebagian wilayah berupa rawa lebak dengan lapisan gambut tipis dan sebagian besar masih belum termanfaatkan untuk pertanian.
4.1.4 Data Penggunaan Lahan Wilayah Syamsudin Noor
Berikut ini adalah penggunaan lahan wilayah Syamsudin Noor terdapat pada tabel 2.
Tabel 2. Data Penggunaaan Lahan Syamsudin Noor
No Jenis Lahan
Potensi Belum dimanfaatkan
(Ha)
Fungsional (Ha)
Jumlah (Ha)
1 Luas pemukiman 0 525 525
2 Luas persawahan 366,5 46 412,5
3 Luas perkebunan 189 129 318
4 Luas kuburan 0 9,5 9,5.
5 Luas pekarangan 0 77,175 77,175
6 Luas taman 0 0 0
7 Perkantoran 0 0,15 0,15
8 Luas prasarana umum
lainnya 201,35 105 306,35
Total luas 1643,675
Sumber : Data Monografi Kelurahan Syamsudin Noor 2019
4.1.5 Iklim
Keadaan Iklim wilayah Kecamatan Landasan Ulin berdasarkan curah hujan pada stasiun penangkar hujan di Kecamatan Landasan Ulin, jumlah curah hujan rata-rata per tahun 226,5 mm. Adapun jumlah bulan basah 6 bulan berturut-turut serta bulan kering berturut-turut sebanyak 2 bulan. Dengan demikian tipe iklim di wilayah UPT BPP Landasan Ulin Kecamatan Landasan Ulin menurut klasifikasi Oldeman termasuk type C-2.
4.1.6 Sumber Daya Pertanian
Potensi Sumber Daya Pertanian yang ada di wilayah kelurahan Syamsudin Noor antara lain seperti pada tabel 3-7.
Tabel 3. Luas Tanam, Panen dan Produksi Tanaman Pangan Tahun 2019-2020
No Komoditas Luas Tanam
Luas Panen
Produksi (ton)
Produktivitas (ton/Ha)
1 Padi sawah Lokal 30 30 105 3,5
2 Padi sawah unggul 1 1 3,67 3,67
3 Padi gogo - - - -
4 Jagung 28 28 236 8,4
5 Kedelai - - - -
6 Kacang tanah 1 1 3,5 3.5
7 Kacang hijau - -
8 Ubi kayu 3 3 45 15
9 Ubi jalar 1 1 8 8
Sayuran/Buah Semusim
10 Bawang Daun 3 3 5,4 1.8
11 Kacang Panjang 3 3 13,8 4.6
12 Cabe besar 7 7 77 11
13 Cabe rawet 28 28 84 3
14 Cabe Keriting 5 5 38 7,5
15 Tomat 30 30 372 12.4
16 Terong 5 5 65 13
17 Buncis 5 5 18,5 3.7
Tabel 3. Luas Tanam, Panen dan Produksi Tanaman Pangan Tahun 2019-2020
18 Ketimun 8 8 148,8 18.6
19 Kangkung 4 4 10.8 2,7
20 Bayam 4 4 11.2 2.8
21 Sawi 5 5 13.5 2.7
23 Melon 15 15 360 24
24 Semangka 3 3 50,4 16.8
Sumber : Data Monografi Kelurahan Syamsudin Noor 2019
Tabel 4. Luas Tanam dan Produktivitas Tanaman Buah-Buahan Komoditi ( Jenis
Tanaman) Luas (Ha) Produktivitas
( Ton/Ha )
Jeruk 3 12
Mangga 1 20
Rambutan 3 8
Pepaya 2 76
Pisang 3 3.1
Limau 0,1 1.7
Jeruk nipis 0.1 -
Jambu air 0.02 -
Nangka 0.1 -
Sumber : Data Monografi Kelurahan Syamsudin Noor 2019
Tabel 5. Luas Tanam dan Produktivitas Tanaman Apotik Hidup Sejenisnya
Jenis Tanaman
Luas (ha)
Produktivitas
(Ton/ha) Keterangan
Jahe 0.5 Tidak terdeteksi Penanaman di
pekarangan
Kunyit 0.1 Tidak terdeteksi Penanaman di
pekarangan
Lengkuas 0.1 Tidak terdeteksi Penanaman di
pekarangan Daun Sirih 0.1 Tidak terdeteksi Penanaman di
pekarangan
Kencur 0,1 Tidak terdeteksi Penanaman di
pekarangan
Serai 1 Tidak terdeteksi Penanaman di
Pekarangan Sumber : Data Monografi Kelurahan Syamsudin Noor 2019
Tabel 6. Luas Tanam dan Hasil Perkebunan dan Kehutanan Menurut Jenis Komoditas
Jenis
Swasta / Negara Rakyat Luas (ha) Hasil
(kw/ha)
Luas (ha)
Hasil (kw/ha)
Kelapa Sawit - - 16 80
Karet - - 2 -
Kelapa dalam 2
Mahoni -
Jati 1
Akasia -
Galam 2
Sumber : Data Monografi Kelurahan Syamsudin Noor 2019 Tabel 7. Jenis Populasi Ternak JenisTernak JumlahPemilik
(Orang)
Perkiraan Jumlah Populasi (Ekor)
Sapi 15 103
Ayam kampong 300 2800
Jenis ayam broiler 2 15.000
Bebek 20 600
Kambing 22 110
Angsa 2 5
Burung puyuh 10 14.500
Anjing 10 15
Kucing 200 420
Burung beo 1 1
Sumber : Data Monografi Kelurahan Syamsudin Noor 2019 4.2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS 25. Hasil yang didapatkan dari uji validitas terdapat 31 item pertanyaan yang valid dari 40 item pertanyaan yang terlampir pada lampiran 4.
Berdasarkan hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa kuisioner yang telah diuji dinyatakan reliabel dengan nilai Cronbachβs Alpha >0,70. Dari hasil tersebut maka kuisioner dikatakan layak untuk disebarkan kepada responden/petani yang terlampir pada lampiran 4.
4.3 Karakteristik Petani
Karakteristik petani sebagai responden pada penelitian ini yaitu anggota kelompok tani di Ngudi Rahayu sebanyak 30 orang data karakteristik petani sebagai responden diperoleh dari daftar hadir dan diperoleh dari pengambilan data melalui penyebaran kuisioner yang sudah dibagikan. Data karakteristik tersebut berisi tentang informasi yang meliputi usia, pendidikan, lama berusahtani dan luas lahan. Dilakukannya penggolongan karakteristik petani sebagai responden untuk mengetahui secara jelas gambaran responden yang menjadi sasaran pada penelitian ini.
4.3.1 Responden Berdasarkan Usia
Penggolongan usia petani sebagai responden dalam penelitian ini akan meunjukkan pengalaman, ketertarikan dalam menerima materi yang disampaikan pada saat kegiatan penyuluhan dilaksanakan. Berikut ini adalah tabel 8 berdasarkan usia.
Tabel 8. Responden Anggota Kelompok Tani Ngudi Rahayu Berdasarkan Usia Tahun 2022
No. Usia (Tahun) Jumlah
(Orang) Persentase (%)
1 17-29 11 36,6
2 30-40 12 40
3 41-45 2 6,6
4 46-60 5 16,6
Jumlah 30 100
Sumber : Data yang diolah 2022
Berdasarkan tabel 8 menunjukkan usia yang dimiliki petani bervariasi dan menunjukkan usia yang dominan adalah 30-40 jumlah 12 orang dengan persentase 40% dengan hasil tersebut maka dapat dikategorikan dalam usia yang produktif. Dari kondisi umur yang produktif maka petani sangat diharapkan mempunyai kemampuan fisik yang kuat dan dapat menjalankan usahataninya dengan maksimal. Dari data yang didapatkan maka menjadi faktor penentu
petani dalam proses penerimaan terhadap materi yang diberikan. Hasil ini sejalan dengan pendapat Mauceri et.,..al dalam Mwangi (2016), yang menjelaskan bahwa seiring dengan bertambahnya usia petani maka ada peningkatan menghindari resiko dan penurunan minat dalam jangka panjang, disisi lain petani yang lebih muda lebih suka mengambil resiko dan rasa ingin mencoba teknologi terbaru.
4.3.2 Responden Berdasarkan Pendidikan
Pendidikan adalah sebuah proses yang sudah dilalui oleh sesorang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan juga sikap dari petani itu sendiri.
Pendidikan akan berpengaruh pada pola pikir serta wawasan seorang petani dalam mengambil atu bertindak dalam sebuah keputusan. Tingkat pendidikan petani dalam penelitian ini terdapat pada tabel 9.
Tabel 9. Responden Anggota Kelompok Tani Ngudi Rahayu Berdasarkan Pendidikan Tahun 2022
No. Pendidikan Jumlah
(Orang) Persentase (%)
1 SD 11 36,6
2 SLTP 9 30
3 SLTA 10 33,3
Jumlah 30 100
Sumber : Data yang diolah 2022
Pada tabel 9 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di dominasi oleh lulusan SD (Sekolah Dasar) jumlah 11 orang dengan persentase 36,6% dan berbeda tipis dengan lulusan SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) jumlah 10 orang dengan persentase 33,3%. Dapat dilihat mulai dari tingkat pendidikan SD, SLTP dan SLTA memiliki persentase yang tidak terlalu jauh dimana SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) jumlah 9 orang juga memiliki persentase 30%. Menurut Hasman (2016), pendidikan formal petani akan mewakili tingkat pengetahuan dan pemahaman yang luas bagi petani untuk menerapkan apa yang telah mereka peroleh untuk meningkatkan praktik pertanian mereka.
4.3.3 Responden Berdasarkan Lama Berusahatani
Lama berusahatani yaitu lamanya petani dalam melakukan kegiatan berusahatani pada bidang pertanian sampai dengan penelitian ini dilaksanakan.
Lama berusahatani dalam penelitian ini terdapat pada tabel 10.
Tabel 10. Responden Anggota Kelompok Tani Ngudi Rahayu Berdasarkan Lama Berusahatani Tahun 2022
No. Lama Berusahatani (Tahun)
Jumlah
(Orang) Persentase (%)
1 > 1 Tahun 10 33,3
2 >5 Tahun 15 50
3 >10 Tahun 5 16,6
Jumlah 30 100
Sumber : Data yang diolah 2022
Pada tabel 10 menunjukkan bahwa lama berusahatani di dominasi oleh petani yang memiliki pengalaman berusahatani lebih dari 5 tahun jumlah 15 orang dengan persentase 50% dari data yang didapatkan maka setengah dari jumlah sampel penelitian ini memiliki dominan yang baik. Petani yang memiliki lama berusahatani lebih dari 1 tahun jumlah 10 orang dengan persentase 33,3%
dan petani yang memiliki lama berusahatani lebih dari 10 tahun jumlah 5 orang dengan persentase 16,6% termasuk petani yang memiliki usia lebih dari 46 tahun. Hasil ini tidak sejalan dengan Seokarwati dalam Amala (2017), yang menyatakan bahwa lama berusahatani atau pengalaman dalam berusahatani mempunyai hubungan positif dengan kecepatan dalam adopsi inovasi. Petani yang berpengalaman akan lebih cepat dalam mengadopsi dibandingkan dengan petani yang belum berpengalaman. Berbeda dengan kondisi dilapangan karena sekalipun petani lebih berpengalaman yaitu diatas 10 tahun keatas tapi tetap saja hal tersebut tidak memiliki hubungan yang positif dan erat diantara keduanya.
4.3.4 Responden Berdasarkan Luas Lahan
Luas Lahan yang dimiliki oleh petani yaitu seberapa luas hamparan yang sudah dikelola oleh petani hingga pada saat penelitian dilaksanakan. Luas lahan petani di ukur dengan satuan hektar terdapat pada tabel 11.
Tabel 11. Responden Anggota Kelompok Tani Ngudi Rahayu berdasarkan Luas Lahan Tahun 2022
No. Luas Lahan (Hektar) Jumlah
(Orang) Persentase (%)
1 >1 Ha 13 43,3
2 <1 Ha 17 56,6
Jumlah 30 100
Sumber : Data yang diolah 2022
Pada tabel 11 menunjukkan bahwa luas lahan yang dimiliki petani kurang dari 1 Ha (Hektar) yaitu jumlah 17 orang dengan persentase 56,6% dan luas lahan yang dimiliki petani lebih dari 1 Ha (Hektar) yaitu jumlah 13 orang dengan persentase 43,3%. Rata-rata petani memiliki lahan kurang dari 1 Ha. Semakin luas lahan yang dimiliki oleh seorang petani maka akan menunjukkan teknik dalam berbudidaya pada lahan yang dikelola. Hasil ini juga tidak sejalan dengan pendapat Soekarwati dalam Amala (2017), yang menyatakan bahwa luas lahan menentukan petani dalam mengambil keputusan untuk menerapkan suatu inovasi terbaru. Pada hasil wawancara dengan ketua kelompok petani Ngudi Rahayu menyatakan bahwa petani yang memiliki lahan lebih luas mereka dapat mencoba inovasi terbaru dengan sebagian lahannya, tetapi tidak dengan lahan yang kecil karena selain tidak ada lahan untuk mencoba mereka juga takut akan terjadi kegagalan dalam penerapannya. Pada kondisi yang sesungguhnya banyak petani yang memiliki lahan <1 Ha sebanyak 17 orang sehingga masih sedikit petani yang menerapkan inovasi baru.
4.4 Hubungan Antara Karakteristik Petani dan Sistem Sosial Terhadap Persepsi Petani dalam Pemanfaatan Trichoderma sp
Hasil analisis hubungan yang didapatkan antara karakteristik petani yang meliputi (usia, pendidikan, lama berusahatani dan luas lahan) sistem sosial yang meliputi (keaktifan anggota kelompok tani, peran penyuluh, kesesuaian materi penyuluh dan intensitas penyuluhan) terhadap persepsi petani dalam pemanfaatan Trichoderma sp. Berikut ini adalah hasil analisis hubungan karakteristik petani dan sistem sosial terhadap pemanfaatan agens hayati Trichoderma sp.
1. Hubungan Indikator Usia dan Persepsi Petani Terhadap Pemanfaatan Trichoderma sp.
Usia merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi petani dalam penyerapan serta pengambilan keputusan. Berikut ini tabel 12 hasil SPSS hubungan antara usia dan persepsi.
Tabel 12. Hubungan Usia dan Persepsi Correlations
Usia Persepsi
Spearman's rho Usia Correlation Coefficient 1,000 ,120
Sig. (2-tailed) . ,519
N 31 31
Persepsi Correlation Coefficient ,120 1,000
Sig. (2-tailed) ,519 .
N 31 31
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Sumber : Data yang diolah 2022 Ket :
Sangat signifikan :** Correlation is significant (0,01) Signifikan :* Correlation is significant (0,05)
Berdasarkan tabel 12 hubungan antara faktor usia mempunyai arah hubungan yang searah ditunjukkan dengan nilai korelasi yang positif tetapi tidak signifikan. Usia produktif seseorang memiliki kestabilan dalam mengelola pekerjaan, berkonsentrasi penuh dalam mencari pengasilan hal ini sesuai
dengan pendapat Simanjutak dalam Ranti (2017), yang menyatakan bahwa usia produktif dikategorikan pada rentan usia 15-54 tahun. Kekuatan hubungan antara usia dan persepsi menunjukkan nilai korelasi 0,120 yang diartikan hubungan lemah. Hubungan yang tidak signifikan ini terjadi karena untuk melakukan pemanfaatan agens hayati Trichoderma sp tidak memandang dari segi umur maka berapapun usia yang dimiliki petani selama petani masih mampu dalam bekerja dan memiliki kemauan untuk mengembangkan usahataninya maka dapat memanfaatakan Trichoderma sp dengan maksimal.
2. Hubungan Indikator Pendidikan dan Persepsi Petani Terhadap Pemanfaatan Trichoderma sp
Pendidikan akan membuat seseorang dalam meningkatkan pengetahuan serta wawasannya. Pendidikan termasuk bagian yang penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Berikut ini tabel 13 hasil SPSS hubungan pendidikan dan persepsi.
Tabel 13. Hubungan Pendidikan dan Persepsi Correlations
Pendidikan Persepsi Spearman's rho Pendidikan Correlation Coefficient 1,000 ,542**
Sig. (2-tailed) . ,002
N 31 31
Persepsi Correlation Coefficient ,542** 1,000
Sig. (2-tailed) ,002 .
N 31 31
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Sumber : Data yang diolah 2022 Ket :
Sangat signifikan :** Correlation is significant (0,01) Signifikan :* Correlation is significant (0,05)
Berdasarkan tabel 13, hubungan antara faktor pendidikan mempunyai arah hubungan yang searah ditunjukkan dengan nilai korelasi yang positif dan signifikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Aghis et al. (2020) mengatakan bahwa tingkat pendidikan formal memiliki hubungan yang kuat dengan
pengetahuan dan koefisien korelasi yang menunjukkan nilai positif. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin bertambah cara pola pikir dan juga menambah penegtahuan. Pendidikan akan membuat seseorang dalam meningkatkan pengetahuan serta wawasannya. Kekuatan hubungan antara pendidikan dan persepsi menunjukkan nilai korelasi 0,542 yang diartikan memiliki hubungan kuat. Hal ini menunjukan bahwa pendidikan yang telah ditempuh oleh petani mampu membentuk persepsi petani terhadap pemanfaatan agens hayati Trichoderma sp. Pendidikan membuat petani lebih banyak mendapatkan informasi mengenai pemanfaatan agens hayati Trichoderma sp.
3. Hubungan Indikator Lama Berusahatani dan Persepsi Petani Terhadap Pemanfaatan Trichoderma sp
Semakin lama petani memiliki pengalaman berusahatani dalam melaksanankan usaha taninya maka dapat dikatakan petani tersebut semakin handal dalam berusahatani. Berikut ini tabel 14 hasil SPSS hubungan lama berushatani dan persepsi.
Tabel 14. Hubungan Lama Berusahatani dan Persepsi Correlations
Lama
Berusahatani Persepsi Spearman's rho Lama
Berusahatani
Correlation Coefficient 1,000 ,159
Sig. (2-tailed) . ,392
N 31 31
Persepsi Correlation Coefficient ,159 1,000
Sig. (2-tailed) ,392 .
N 31 31
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Sumber : Data yang diolah 2022 Ket :
Sangat signifikan :** Correlation is significant (0,01) Signifikan :* Correlation is significant (0,05)
Berdasarkan tabel 14, hubungan antara faktor lama berusahatani mempunyai arah hubungan yang searah ditunjukkan dengan nilai korelasi yang positif tetapi tidak signifikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Mayamsari dsan