• Tidak ada hasil yang ditemukan

Instrumen Penelitian

Dalam dokumen metode mengajar guru pendidikan agama islam (Halaman 42-45)

BAB III METODE PENELITIAN

F. Instrumen Penelitian

Bila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika subyeknya besar, dapat diambil antara 10% -15% atau 20%-25% atau lebih. (1998: 120)

Oleh karena populasi pada penelitian ini kurang dari 100, maka penelitian ini merupakan penelitian populasi. Dengan kata lain, seluruh populasi dijadikan sebagai responden.

G. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Observasi, yakni penulis mengadakan pengamatan langsung ke lapangan.

2. Interview, yakni penulis mengadakan wawancara langsung dengan pihak yang berkompeten untuk memberikan informasi berupa data yang dibutuhkan.

3. Dokumentasi, yakni metode yang digunakan dengan jalan mengumpulkan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan masalah yang dibahas.

4. Daftar isian/angket, yakni penelitian yang dilakukan dengan cara membuat beberapa pertanyaan yang kemudian diedarkan kepada siswa guna kepentingan penelitian.

H. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Deduktif yaitu teknik pengolahan data yang bertitik tolak pada data yang bersifat umum menjadi uraian pemecahan dan kesimpulan yang besifat khusus.

2. Induktif yaitu teknik pengolahan data yang bertitik tolak pada data yang bersifat khusus menjadi uaraian yang bersifat umum.

3. Komparatif yaitu teknik pengolahan data yang dilakukan dengan jalan mengadakan suatu perbandingan dari dua data atau lebih kemudian memilih satu diantaranya yang dianggap mempunyai nilai yang lebih akurat dan kuat kemudian diambil sebagi kesimpulan.

Selanjutnya hasil penelitian ini akan dianalisis dengan cara deskriptif yang dipadukan dengan kuantitatif dalam teknik deskriptif statistik yang akan menggambarkan data yang terkumpul dengan cara penggambaran melalui tabel-tabel sederhana dan dalam sIstem penggambaran persen lalu disimpulkan dengan cara deskriptif kualiltatif.

P = F/N X 100%

keterangan : P= Persentase F= Frekwensi N= Populasi

100% = Nilai Konstan.

BAB IV

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A. Kondisi Objektif Lokasi Penelitian

1. Sejarah Singkat Berdirinya SLB-A YAPTI Makassar

Yayasan Pendidikan Tunanetra Indonesia (YAPTI) Kota Makassar didirikan oleh Bapak Darma Pakilaran,B.A pada tahun 1971 dengan akte notaries Lske Limoa, nomor akte 27, tahun 1972 YAPTI melahirkan Sekolah Luar Biasa A (SLB-A). Sekolah Luar Biasa mendidik tunanetra melalui pendidikan formal. Hingga kini SLB-A sebagai salah satu unit yang berada di dalam tatanan institusi YAPTI sebagai institusi induk, memiliki jenjang pendidikan formal tingkat SD, SMP, dan SMA.

Maksud dan tujuan didirikannya Yayasan Pendidikan Tunanetra Indonesia adalah sebagai wadah untuk membimbing, membina, mengajar, dan mendidik orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik, dalam hal ini tidak mampu melihat atau buta. Bimbingan tersebut diberikan agar peserta didik mampu mandiri, terampil, berilmu, dan bertakwa.

2. Visi dan Misi SLB-A YAPTI Kota Makassar

Untuk kelancaran program kerjan, SLB-A YAPTI mengemban visi sebagai berikut :

Berakhlak mulia berdasarkan iman dan takwa, unggul dalam berprestasi, cerdas, terampil, serta dapat hidup mandiri.

33

Adapun misi SLB-A YAPTI Kota Makassar adalah sebagai berikut : a. Menyelenggarakan Sekolah Luar Biasa yang mampu

menjembatani ke arah perolehan kesempatan bagi anak tunanetra melalui pendidikan yang optimal.

b. Meningkatkan profesionalisme, kemandirian dan akuntabilitas kerja seluruh tenaga kependidikan berlandaskan iman dan takwa,ilmu pengetahuan dan tekonologi.

Berdasarkan visi dan misi tersebut, SLB-A YAPTI Kota Makassar memberikan pelayanan pendidikan bagi disabitas tunanetra tingkat TKLB, SMPLB, dan SMALB dengan berbagai perangkat pendukung seperti ketersediaan fasilitas internet yang bisa diakses setiap hari selama 24 jam, perpustakaan “Cerdas Mandiri” yang menyediakan buku/bahan bacaan berupa buku awas (huruf latin) kaset, CD, dan buku Braille yang merupakan hasil percetakan buku Braille centre YAPTI Makassar serta buku Braille yang merupakan hasil cetakan dari berbagai sumber.

3. Keadaan Guru

Untuk mempercepat tujuan pendidikan, guru merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan berhasil tidaknya proses belajar mengajar, baik di tinjau dari segi kuantitasnya maupun dari segi kualitasnya. Oleh sebab itu, berkat usaha dan pengabdiannya yang ikhlas sehingga dapat menumbuhkan dan mencetak siswa-siswi yang bermamfaat dan berguna

bagi masyarakat pada umumnya.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa guru mempunyai peranan yang sangat penting di dalam proses belajar mengajar dalam usaha mengantarkan siswa kepada kedewasaan, baik dalam berfikir maupun dalam bertingkah laku. Kelangsungan hidup suatu lembaga pendidikan bergantung pada kompetensi guru dan kesehatan mentalnya dalam mengarahkan dan membina anak didiknya menjadi manusia yang berkepribadian tinggi serta berbudi luhur.

SLB-A YAPTI Kota Makassar diasuh oleh tenaga edukatif yang berlatar belakang pendidikan rata-rata sarjana (S1), bahkan ada yang berlatar belakang pendidikan strata 2 (S2). Selain itu, guru-guru dalam sekolah ini sebahagian telah memiliki pengalaman kerja yang cukup lama dalam bidang pengajaran dan sebahagian lagi masih baru.

Jumlah guru yang mengajar pada Tahun Pelajaran 2014/2015 sebanyak 18 orang, dengan perincian 11 orang PNS, tenaga honorer sebanyak 7 orang dengan perincian. Untuk lebih jelasnya, keadaan guru pada SLB-A YAPTI Kota Makassar dapat dilihat pada tabel berikut :

abel 3

Keadaan Guru SLB-A YAPTI Makassar Tahun Pelajaran 2014/2015

No Nama Tingkat

Pendidikan Masa Kerja Status Kepegawaian

1 Marhani,S.Pd,M.Pd S1 14 tahun PNS

2 Astuti,S.Pd S1 18 tahun PNS

3 Rahmawati,S.Pd S1 8 tahun PNS

4 Subu,S.Pd S1 14 tahun PNS

5 Karajang,S.Pd S1 11 tahun PNS

6 Syamsul,S.Pd S1 11 tahun PNS

7 Nurhayati,S.Pd S1 18 tahun PNS

8 Serliani,S.Pd S1 1 tahun GTY

9 Anita,S.Pd S1 1 tahun GTY

10 Wahyuni,S.Pd S1 1 tahun GTY

11 M. Tang,S.Pd S1 1 tahun GTY

12 Rosmiati,S.Pd S1 18 tahun PNS

13 Daramina,S.Pd S1 14 tahun PNS

14 Arifin,S.S S1 5 tahun GTY

15 Fandi Dawenan,S.S S1 3 tahun GTY

16 Yusuf S1 20 tahun PNS

17 Arman Habib,S.Ag S1 14 tahun PNS

18 Kandacong,S.Pd S1 6 tahun GTY

Sumber Data : Dokumentasi Tata Usaha SLB-A YAPTI, 2014

Tabel tersebut di atas menggambarkan jumlah guru yang cukup banyak, terdiri atas 19 guru tetap dan 11 guru honorer. Dengan melihat keadaan guru pada SLB-A YAPTI Makassar seperti yang di sebutkan, maka sedikit banyaknya mempengaruhi proses pendidikan dan pengajaran di sekolah tersebut. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran terus di lakukan oleh masing-masing guru tiap bidang studi.

4. Keadaan Siswa

Siswa merupakan bagian dari komponen determinan dalam pendidikan yang tidak dapat dipisahlan. Dengan kata lain bahwa pendidikan tidak mungkin terlaksana tanpa siswa. Jadi, siswa adalah salah satu faktor penentu dalam dunia pendidikan karena seluruh kegiatan sekolah bertujuan untuk membantu, membimbing dan mendorong peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Adapun keadaan siswa yang ada SLB-A YAPTI Makassar digambarkan melalui tabel berikut :

Tabel 4

Keadaan Siswa SLB-A YAPTI Makassar Tahun Pelajaran 2014/2015 No Kelas Laki-lakiJenis KelaminPerempuan Jumlah

1 Kelas I 3 1 4

2 Kelas II 2 2 4

3 Kelas III 3 1 4

4 Kelas IV 3 1 4

5 Kelas V 2 2 4

6 Kelas VI 4 2 6

Jumlah 17 9 26

Sumber Data : Dokumentasi Tata Usaha SLB-A YAPTI Makassar, 2014 Dari tabel tersebut di atas, dapat diketahui bahwa jumlah siswa SLB- A YAPTI Makassar cukup sedikit. Siswa laki-laki sebanyak 17 orang, dan siswa perempuan sebanyak 9 orang. Jadi, jumlah siswa secara keseluruha adalah 26 orang.

5. Keadaan Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana sangat menunjang proses belajar mengajar.

Dengan kata lain bahwa keberhasilan pengajar bukanlah semata-mata di tentukan oleh tingkat kemampuan siswa menerima pelajaran dan kepiawaian guru selaku sutradara dalam proses pengajaran, namun ada faktor lain yang tidak bisa di abaikan, yakni fasilitas atau sarana dan prasarana yang ada pada sekolah tersebut.

SLB-A YAPTI Kota Makassar ini berdiri di atas tanah seluas 9,275 Ha dengan beberapa bangunan yang dilengkapi berbagai sarana dan prasarana dalam memperlancar proses belajar mengajar.

Keadaan sarana dan prasarana SLB-A YAPTI Kota Makassar dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5

Keadaan Sarana Dan Prasarana SLB-A YAPTI Makassar Tahun Pelajaran 2014/2015

No Jenis Sarana BaikKondisiRusak Jumlah

1 Ruang Kepala Sekolah 1 - 1

2 Ruang Wakil Kepala Sekolah 1 - 1

3 Ruang percetakan 1 - 1

4 Ruang internet 1 - 1

5 Ruang kelas 6 - 6

6 Ruang diklat 1 - 1

7 Ruang computer 1 - 1

8 Ruang perpustakaan 1 - 1

9 Ruang guru 1 - 1

10 Ruang music 1 - 1

11 Aula 1 - 1

12 Resours Room 1 - 1

13 Laboratorium Komputer dan IPA 1 - 1

14 Kursi guru di kelas 6 - 6

15 Meja guru di kelas 6 - 6

16 Kursi siswa 31 - 31

17 Meja siswa 31 - 31

18 Lemari kelas 6 - 6

Sumber Data : Dokumentasi Tata SLB-A YAPTI Makassar, 2014

Dengan melihat tabel tersebut di atas, maka jelaslah bahwa keadaan sarana dan prasarana sebagai penunjang keberhasilan proses belajar mengajar di SLB-A YAPTI Kota Makassar cukup baik.

B. Metode Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa SLB-A YAPTI Kota Makassar

Salah satu faktor keberhasilan guru dalam meningkatkan minat belajar siswa adalah penggunaan metode pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus mampu mendesain persiapan mengajar dengan menggunakan metode yang cocok untuk materi yang diajarkan. Jika seorang guru kaya akan metode pembelajaran, maka sangat besar kemungkinan siswa yang dihadapinya senang atau antusias mengikuti pelajaran yang diampu oleh guru tersebut. Metode guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan minat belajar siswa SLB-A YAPTI Kota Makassar dapat diketahui dari jawaban responden yang digambarkan dalam bentuk tabel berikut :

Tabel 6

Variasi Metode Guru Pendidikan Agama Islam di SLB-A YAPTI Kota Makassar

No Alternatif Jawaban Frekwensi Persentase

1 Selalu bervariasi 17 65%

2 Sering bervariasi 9 35%

3 Kurang bervariasi - -

4 Tidak bervariasi - -

Jumlah 26 100%

Sumber Data : Hasil olahan angket poin 1

Tabel tersebut di atas memberikan gambaran bahwa dari 26 responden, sebanyak 17 orang atau 65% yang menjawab “selalu bervariasi”, 8 orang atau 35% yang menjawab “sering bervariasi”, dan tidak ada yang menjawab “kadang-kadang atau tidak pernah bervariasi”. Jadi dapat disimpulkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam selalu menggunakan metode yang bervariasi dalam memberikan pelajaran.

Jawaban siswa tersebut dikuatkan oleh bapak Arman Habib (sebagai guru Pendidikan Agama Islam di SLB-A YAPTI Kota Makassar), beliau mengemukakan bahwa :

Penggunaan metode yang bervariasi dalam membelajarkan siswa setiap waktu kami lakukan. Hal tersebut memang menjadi tuntutan bagi kami, sebab siswa yang kami hadapi mengalami kelainan fisik. Jadi, kami selalu memikirkan bagaimana cara mendesain pembelajaran, metode seperti apa yang harus kami gunakan agar siswa yang kami hadapi mampu memahami materi pembelajaran. Dengan demikian, mereka akan merasa senang dan antusias mengikuti pelajaran kami.

(Wawancara, 20 September 2014 di Makassar)

Tabel 7

Minat Siswa SLB-A YAPTI Kota Makassar Mengikuti Pelajaran Pendidikan Agama Islam

No Alternatif Jawaban Frekwensi Persentase

1 Sangat berminat 18 69%

2 Berminat 8 31%

3 Kurang berminat - -

4 Tidak berminat - -

Jumlah 26 100%

Sumber Data : Hasil olahan angket poin 2

Berdasarkan tabel tersebut, diketahui sebanyak 18 orang atau 69%

siswa yang menjawab “sangat berminat”, 8 orang atau 31% yang menjawab

“sangat berminat”, dan tidak ada yang menjawab “kurang atau tidak berminat”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa siswa SLB-A YAPTI Kota Makassar sangat berminat mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Jawaban tersebut dikuatkan oleh Arman Habib (guru Pendidikan Agama Islam), bahwa :

Selama ini saya menilai siswa selalu antusias mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Islam. Antusiasme itu terlihat dari keaktifan dan semangat mereka. Setiap kali saya mengajar, para siswa tampak serius mendengarkan pembicaraan saya, kemudian mereka berbicara di saat saya mempersilahkan. Alhamdulillah, hasil dari semangat belajar itu ternyata tidak sia-sia. (Wawancara, 20 September 2014)

Tabel 8

Cara Mengajar Guru Pendidikan Agama Islam di SLB-A YAPTI Kota Makassar

No Alternatif Jawaban Frekwensi Persentase

1 Sangat baik 20 77%

2 Baik 6 23%

3 Kurang baik - -

4 Tidak baik - -

Jumlah 26 100%

Sumber Data : Hasil olahan angket poin 3

Dari tabel tersebut di atas, diketahui sebanyak 20 orang atau 77%

yang menjawab “sangat baik”, 6 orang atau 23% yang menjawab “baik”, dan tidak ada yang menjawab “kurang atau tidak baik”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam di SLB-A YAPIT sangat baik dalam memberikan pelajaran.

Mengenai cara mengajar tersebut, Arman Habib (guru Pendidikan Agama Islam) mengatakan bahwa :

Sebagai seorang guru, saya selalu berusaha agar mampu memberikan pelajaran dengan baik. Saya mengajar sesuai dengan apa yang telah saya persiapkan, baik itu menyangkut alokasi waktu, metode, maupun cara mengelola kelas agar tercipta keadaan belajar yang kondusif, dan menyenangkan. (Wawancara, 20 September 2014 di Makassar)

Tabel 9

Kepahaman Siswa terhadap Materi Pembelajaran yang Diberikan oleh guru Pendidikan Agama Islam di SLB-A YAPTI Kota Makassar

No Alternatif Jawaban Frekwensi Persentase

1 Sangat memahami 8 31%

2 Memahami 16 62%

3 Kurang memahami 2 7%

4 Tidak memahami - -

Jumlah 26 100%

Sumber Data : Hasil olahan angket poin 4

Dari tabel tersebut diketahu sebanyak 8 orang atau 31% yang menjawab “sangat memahami”, 16 orang atau 62% yang menjawab

“memahami”, 2 orang atau 7% yang menjawab “kurang memahami”, dan tidak ada yang menjawab “tidak memahami”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa siswa SLB-A YAPTI Kota Makassar memahami materi pembelajaran yang diberikan oleh guru Pendidikan Agama Islam. Mudahnya siswa memahami materi pelajaran yang diberikan oleh guru, tentu tidak terlepas dari metode yang digunakan oleh guru dapam memberikan pelajaran.

Tingkat kepahaman siswa terhadap materi pelajaran yang telah diterima dapat dilihat pada keaktifan mengerjakan tugas-tugas dan perolehan nilai setiap selesai ulangan semester. Perolehan nilai siswa dapat dikategorikan bagus jika melampaui Kriteria Kelulusan Minimum (KKM).

Untuk mengetahui ketercapaian nilai siswa terhadap Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM), berikut dapat dilihat jawaban siswa tentang nilai yang diperoleh setelah ulangan semester :

Tabel 10

Ketercapaian KKM Nilai Pendidikan Agama Islam Siswa di SLB-A YAPTI Kota Makassar

No Alternatif Jawaban Frekwensi Persentase

1 Terlampaui 18 69%

2 Tercapai 8 31%

3 Tidak tercapai - -

4 Tidak dapat nilai - -

Jumlah 26 100%

Sumber Data : Hasil olahan angket poin 5

Berdasarkan tabel tersebut di atas, diketahui bahwa siswa SLB-A YAPTI Kota Makassar memperoleh nilai tinggi, dengan kata lain nilai yang mereka peroleh melampaui Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan oleh guru Pendidikan Agama Islam. Sebanyak 18 orang atau 69%

yang menjawab “terlampaui”, 8 orang atau 31% yang menjawab “tercapai”, dan tidak ada yang menjawab “tidak tercapai atau tidak mendapat nilai”.

Jawaban tersebut dikuatkan oleh Arman Habib (guru Pendidikan Agama Islam), bahwa :

Alhamdulillah, nilai yang diperoleh siswa setiap selesai pelaksanaan ulangan semester telah mencapai, bahkan melampaui Kriteria Ketuntasan Minimum yang telah ditetapkan. Hal ini sangat menggembirakan hati kami. (Wawancara, 20 September 2014 di Makassar)

Berdasarkan jawaban yang diberikan oleh responden, baik itu guru Pendidikan agama Islam maupun siswa, maka dapat disimpulkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam di SLB-A YAPTI Kota Makassar memberikan

pelajaran dengan menggunakan metode mengajar yang bagus dan bervariasi, sehingga menarik minat siswa untuk mengikuti pelajaran tersebut.

C. Kendala Penggunaan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Yapti Kota Makassar

Di dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran, ada banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain :

Ada beberapa faktor yang menjadi kendala penggunaan metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan minat belajar siswa di SLB-A YAPTI Kota Makassar, yakni :

1. Kelengkapan alat dan media serta sumber belajar

Alat dan media serta sumber belajar yang dibutuhkan oleh guru Pendidikan Agama Islam berbeda dengan alat dan media serta sumber belajar di sekolah lain. Hal ini disebabkan oleh keadaan fisik siswa yang berkebutuhan khusus. Jadi, apa saja kebutuhan siswa yang dapat menunjang kelancaran proses belajar mengajar harus disediakan oleh pihak guru atau sekolah. Arman Habib (guru Pendidikan Agama Islam mengatakan bahwa :

Alat yang paling dominan dibutuhkan oleh siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah buku agama yang dicetak dengan beraille Arab, dan jumlah buku tersebut masih sangat terbatas. (Wawancara, 20 September 2014 di Makassar)

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa alat yang menjadi kebutuhan utama dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yakni buku agama yang dicetak dengan briale Arab masih sangat terbatas jumlahnya. Buku tersebut dicetak timbul, sehingga dapat diraba dibaca oleh siswa.

2. Adanya siswa yang mengalami masalah ganda

Siswa yang belajar pada SLB-A YAPTI Kota Makassar ternyata bukan hanya mengalami cacat netra saja, tetapi juga ada yang mengalami masalah intelektual. Arman Habib (guru Pendidikan Agama Islam mengatakan bahwa :

Dalam menghadapi siswa yang mengalami masalah ganda, saya sering bingung memilih metode seperti apa yang harus saya gunakan.

Seandainya mereka hanya bermasalah pada penglihatan, maka saya juga menggunakan metode yang cocok. Tetapi, ada juga beberapa di antaranya yang mengalami masalah intelektual. (Wawancara, 20 September 2014 di Makassar)

Berdasarkan penjelasan tersebut, diapat dipahami bahwa terdapat beberapa siswa di SLB-A YAPIT yang tidak hanya bermasalah pada penglihatan saja, tetapi juga bermasalah pada intelektual. Mereka yang sangat sulit memahami materi pembelajaran, oleh karena mereka IQ mereka rendah. Hal ini yang menyebabkan guru Pendidikan Agama Islam terkendala atau bingung dalam hal penggunaan metode pembelajaran.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kendala penggunaan metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB-A YAPTI Kota Makassar

adalah terbatasnya alat/media/sumber belajar, adannya siswa yang mengalami masalah ganda (tunanetra dan IQ rendah), sehingga guru bingung dalam menentukan metode yang harus digunakan.

D. Usaha-usaha yang Dilakukan oleh Guru dalam Mengatasi Kendala Penggunaan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa SLB-A Yapti Kota Makassar pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Setiap masalah pasti ada solusinya. Demikian halnya dengan kendala penggunaan metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB- A YAPTI Kota Makassar. Seorang guru tidak boleh kehabisan akal untuk mencerdaskan siswanya. Jadi, mereka harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi berbagai kendala yang ditemukan dalam mendesain pembelajaran, terutama dalam hal penggunaan metode pembelajaran.

Menurut Arman Habib (guru Pendidikan Agama Islam), mengemukakan bahwa :

Usaha-usaha yang kami lakukan dalam mengatasi kendala penggunaan metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam antara lain memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menggunakan alat/media/sumber belajar yang masih terbatas. Kami mengelompokkan mereka, kemudian memberikan tugas masing- masing harus membaca satu halaman. Setelah kegiatan membaca, masing masing siswa diperintahkan untuk mengemukakan apa yang mereka pahami dari apa yang telah dibaca. (Wawancara, 20 September 2014 di Makassar)

Lebih lanjut dipaparkan oleh Arman Habib (guru Pendidikan Agama Islam), bahwa :

Usaha yang kami lakukan untuk mengatasi masalah siswa yang mengalami kelainan ganda, kami sering mengadakan tatap muka di luar kelas. Kami beri mereka privat supaya mereka tidak terlalu ketinggalan materi pembelajaran. Alhamdulillah, usaha tersebut membuahkan hasil, siswa yang memiliki IQ rendah sedikit demi sedikit mampu memahami pelajaran, meskipun agak lambat.

(Wawancara, 20 September 2014 di Makassar)

Usaha-usaha yang dilakukan dalam mengatasi kendala penggunaan metode pembelajaran membutuhkan waktu yang banyak, ketekunan, keuletan, dan keikhlasan. Dengan demikian, tugas seorang guru dalam usaha mencerdaskan anak bangsa merupakan tugas yang sangat mulia.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa usaha- usaha yang dilakukan dalam mengatasi kendala penggunaan metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB-A YAPTI Kota Makassar adalah dengan memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menggunakan alat/media/sumber belajar yang masih terbatas. Siswa dikelompokkan, kemudian masing-masing anggota kelompok diberi tugas untuk membaca satu halaman. Setelah itu, siswa dipersilahkan mengemukakan apa yang telah dibaca. Selanjutnya, untuk mengatasi siswa yang mengalami masalah ganda, guru lebih intens mengadakan tatap muka dan memberikan privat di luar kelas, agar siswa-siswa tersebut mampu mengejar ketertinggalan materi pelajaran.

49 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian-uraian pada bab sebelumnya, maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa :

1. Guru Pendidikan Agama Islam di SLB-A YAPTI Kota Makassar memberikan pelajaran dengan menggunakan metode mengajar yang bagus dan bervariasi, sehingga menarik minat siswa untuk mengikuti pelajaran tersebut.

2. kendala penggunaan metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB-A YAPTI Kota Makassar adalah terbatasnya alat/media/sumber belajar, adannya siswa yang mengalami masalah ganda (tunanetra dan IQ rendah), sehingga guru bingung dalam menentukan metode yang harus digunakan.

3. Usaha-usaha yang dilakukan dalam mengatasi kendala penggunaan metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB-A YAPTI Kota Makassar adalah dengan memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menggunakan alat/media/sumber belajar yang masih terbatas. Siswa dikelompokkan, kemudian masing-masing anggota kelompok diberi tugas untuk membaca satu halaman. Setelah itu, siswa dipersilahkan mengemukakan apa yang telah dibaca.

49

Selanjutnya, untuk mengatasi siswa yang mengalami masalah ganda, guru lebih intens mengadakan tatap muka dan memberikan privat di luar kelas, agar siswa-siswa tersebut mampu mengejar ketertinggalan materi pelajaran.

B. Implikasi Penelitian

1. Pihak sekolah SLB-A Yapti Kota Makassar agar hendaknya bekerjasama dengan pihak pemerintah dalam memberikan dan melengkapi pasilitas pembelajaran serta memberikan kesejahteraan kepada guru agar guru mampu neningkatkan kinerjanya dalam mengatasi siswa yang memiliki masalah yang ganda.

2. Diharapkan kepada guru Pendidikan Agama Islam hendaknya selalu mau belajar dan lebih giat mengikuti pelatihan-pelatihan tentang cara mendesain pembelajaran sehingga dalam proses belajar mengajar siswa tertarik dan semagat dalam mengikuti pelajaran.

3. Guru Pendidikan Agama Islam harus mampu menciptakan manajemen pembelajaran khus untuk siswa yang mengalami masah ganda sesrta memberikan pripat (tambahan pembelajaran di luar sekalah) sehingga peserta didik bisa mengejar ketertinggalan mata pelajaran.

Dalam dokumen metode mengajar guru pendidikan agama islam (Halaman 42-45)

Dokumen terkait