• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 ANALISA DATA 38

4.8 Intensitas Curah Hujan 50

Intensitas jumlah curah hujan dalam satu waktuan waktu, berikut hasil perhitungan intensitas curah hujan dalam Tabel 4.14.

Tabel 4.14: Perhitungan intensitas curah hujan.

t (Jam)

R24

R 2 R 5 R 10

75,6115 84,9677 85,9556

0,08 141,186 158,656 160,501

0,25 66,0527 74,2261 75,0891

0,5 41,6106 46,7595 47,3032

1 26,213 29,4567 29,7991

2 16,5132 18,5565 18,7723

3 12,6019 14,1613 14,3259

4 10,4027 11,6899 11,8258

5 8,96473 10,074 10,1912

6 7,93871 8,92105 9,02477

7 7,16339 8,04979 8,14339

8 6,55326 7,36416 7,44979

9 6,05837 6,80803 6,88719

10 5,64743 6,34624 6,42003

11 5,29975 5,95555 6,02479

12 5,00107 5,61991 5,68525

13 4,7412 5,32788 5,38983

14 4,51265 5,07105 5,13001

15 4,30979 4,84309 4,8994

16 4,1283 4,63913 4,69307

17 3,96477 4,45537 4,50718

18 3,81653 4,28879 4,33866

19 3,68142 4,13696 4,18506

20 3,55766 3,99788 4,04437

21 3,4438 3,86994 3,91493

22 3,33864 3,75176 3,79538

23 3,24115 3,64221 3,68456

24 3,15048 3,54032 3,58148

51 4.9. Metode Rasional

Metode rasional digunakan karena luas di kawasan Tanah Enam Ratus adalah 7,43 Ha.

Gambar 4.2. Saluran drainase dan catchment area (Google Earth, 2018) Luas Catchment area drainase kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus Kecamatan Medan Marelan adalah 7,43 Ha. Koefisien pengaliran (C) = 0,60 – 0,75 (perumahan,multi unit,tergabung).

Debit banjir rancangan untuk kala ulang 2 tahun adalah:

Q = 0,00278.C.I.A

Q = 0,00278 × 0,95 × 29,7991 × 7,43 Q = 0,584737 m³/detik

Untuk perhitungan kala ulang 5 tahun dan 10 tahun tersedia didalam Tabel 4.15.

Tabel 4.15: Perhitungan Q rencana pada kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus.

No Periode L

(Km) C Tc

(jam)

I (mm/jam)

A (Ha)

Q (m3/det) 1 2 1,3 0,95 0,32611911 55,40580748 7,43 1,058739593 2 5 1,3 0,95 0,32611911 62,26179268 7,43 1,203441404 3 10 1,3 0,95 0,32611911 62,98568418 7,43 1,248893029

52 4.10. Analisa Hidrolika

Analisa hidrolika penampang saluran drainase di kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus dilakukan dengan melakukan perbandingan besarnya debit banjir rancangan dengan besarnya kemampuan saluran menampung debit banjir. Apabila Q rancangan debit banjir < Q tampungan saluran maka saluran tidak akan mampu menampung besarnya banjir.

4.10.1. Perhitungan Kapasitas Tampungan Saluran Drainase

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan di lapangan didapatkan data Saluran Primer dan Saluran Sekunder. Dalam hal ini Saluran Primer diartikan sebagai saluran utama yang mengalir di sepanjang jalan Kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus dan Saluran Sekunder diartikan sebagai saluran yang berasal dari jalan kecil atau gang yang terhubung masuk kedalam Saluran Primer.

a. Saluran Primer

Tabel 4.16: Hasil Survei drainase Saluran Primer (SP) di kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus.

No Saluran Primer

UkuranSaluran Panjang Saluran (km)

Kondisi Eksisting Saluran B

(meter)

H (meter) 1 Sebelah

Kanan 1,1 1,2 1,3 Beton

2 Sebelah

Kiri 1,1 1,2 1,3 Beton

Dari hasil survei juga didapat bentuk dimensi saluran drainase dan dilihat pada Gambar 4.3.

53

Kanan = Kiri Gambar 4.3: Penampang saluran drainase primer

Dimensi saluran primer sebelah kanan sama dengan saluran primer sebelah kiri.

Diketahui:

Luas Permukaan (A):

A = b × h A = 1,1 × 1,2 A = 1,32 m²

Keliling Basah (P):

P = (2 × h) + b P = (2 × 1,2) + 1,1 P = 3,5 m

Jari-jari Hidraulis (R):

R = P A

R = 3,5 32 , 1

R = 0,377 m

Kecepatan (Manning)

Koefisien pengaliran Manning untuk kondisi saluran batu pecah disemen = 0,025 dari Tabel 2.6.

b=1,1m

h=1,2m h=1,2m

b=1,1m

54 V = 1 R2/3 S1/2

n 

V = 0,3772/3 0,0011/2 025

, 0

1  

V = 0,617 m/detik

Jadi kapasitas tampungan saluran adalah:

Q = V × A Q = 0,617 × 1,32 Q = 0,814 m³/detik

Dari hasil Q rencana debit banjir dan Q analisa tampungan penampung diatas dibuat perbandingan hasil perhitungan untuk mengetahui kondisi saluran drainase seperti pada Tabel 4.17.

Tabel 4.17: Perhitungan Q analisis tampungan penampung dan Q analisis rancangan debit banjir di Kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus.

No Nama Saluran

Q Tampungan Penampung

Q Rencana Debit Banjir

Keterangan 2 Tahun 5 Tahun 10 Tahun

1

Saluran Primer Kanan

0,814 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029 m³/detik

Tidak Aman 2

Saluran Primer Kiri

0,814 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029 m³/detik

Tidak Aman

b. Saluran Sekunder

Tabel 4.18: Hasil Survei drainase Saluran Sekunder (SS) sebelah kanan di Kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus.

No Saluran Sekunder Sebelah kanan

UkuranSaluran Panjang Saluran

(km)

Kondisi Eksisting Saluran B

(meter)

H (meter)

1 Gang Sepakat 0,20 0,30 0,20 Beton

2 Gang Sodara 0,30 0,30 0,20 Beton

3 Gang Lurah 0,25 0,45 0,30 Beton

4 Jalan Muslim

Pancasila 0,50 0,50 0,45 Beton

5 Jalan Platina

VII C 0,35 0,40 0,40 Beton

55 Tabel 4.19: Hasil Survei drainase Saluran Sekunder (SS) sebelah kiri di Kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus.

No Saluran Sekunder Sebelah Kiri

UkuranSaluran Panjang Saluran

(km)

Kondisi Eksisting Saluran B

(meter)

H (meter) 1 Jalan Cendana

Baru 0,35 0,40 0,40 Beton

2 Jalan Rasmi 0,35 0,40 0,40 Beton

3 Gang Madrasah 0,35 0,40 0,40 Beton

4 Gang Mayor 0,35 0,40 0,40 Beton

Dari hasil survei juga didapat bentuk saluran drainase sekunder sebelah kanan dapat dilihat pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4: Penampang Saluran Sekunder (SS1) Gang Sepakat Diketahui:

Luas Permukaan (A):

A = b × h A = 0,2 × 0,3 A = 0,06 m²

Keliling Basah (P):

P = (2 × h) + b P = (2 × 0,3) + 0,2 P = 0,8 m

Jari-jari Hidraulis (R):

R = P A

b=0,2m

h=0,3m

56 R = 0,8

06 , 0

R = 0,075 m

Kecepatan (Manning)

Koefisien pengaliran Manning untuk kondisi saluran batu pecah disemen = 0,025 dari Tabel 2.6.

V = 1 R2/3 S1/2 n 

V = 0,0752/3 0,0011/2 025

, 0

1  

V = 0,225 m/detik

Jadi kapasitas tampungan saluran adalah:

Q = V × A Q = 0,225 × 0,06 Q = 0,013 m³/detik

Dari hasil survei juga didapat bentuk saluran drainase sekunder sebelah kanan dapat dilihat pada Gambar 4.5.

Gambar 4.5: Penampang Saluran Sekunder (SS2) Gang Sodara Diketahui:

Luas Permukaan (A):

A = b × h A = 0,3 × 0,3 A = 0,09 m²

Keliling Basah (P):

b=0,3m

h=0,3m

57 P = (2 × h) + b

P = (2 × 0,3) + 0,3 P = 0,9 m

Jari-jari Hidraulis (R):

R = P A

R = 0,9 09 , 0 R = 0,1 m

Kecepatan (Manning)

Koefisien pengaliran Manning untuk kondisi saluran batu pecah disemen = 0,025 dari Tabel 2.6.

V = 1 R2/3 S1/2 n 

V = 0,12/3 0,0011/2 025

, 0

1  

V = 0,272 m/detik

Jadi kapasitas tampungan saluran adalah:

Q = V × A Q = 0,272 × 0,09 Q = 0,024 m³/detik

Dari hasil survei juga didapat bentuk saluran drainase sekunder sebelah kanan dapat dilihat pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6: Penampang Saluran Sekunder (SS3) Gang Lurah b=0,25m

h=0,45m

58 Diketahui:

Luas Permukaan (A):

A = b × h A = 0,25 × 0,45 A = 0,112 m² Keliling Basah (P):

P = (2 × h) + b P = (2 × 0,45) + 0,25 P = 1,15 m

Jari-jari Hidraulis (R):

R = P A

R = 1,15 112 , 0

R = 0,097 m

Kecepatan (Manning)

Koefisien pengaliran Manning untuk kondisi saluran batu pecah disemen = 0,025 dari Tabel 2.6.

V = 1 R2/3 S1/2 n 

V = 0,0972/3 0,0011/2 025

, 0

1  

V = 0,267 m/detik

Jadi kapasitas tampungan saluran adalah:

Q = V × A

Q = 0,267 × 0,112 Q = 0,029 m³/detik

Dari hasil survei juga didapat bentuk saluran drainase sekunder sebelah kanan dapat dilihat pada Gambar 4.7.

59 Gambar 4.7: Penampang Saluran Sekunder (SS4) Jl. Muslim Pancasila Diketahui:

Luas Permukaan (A):

A = b × h A = 0,5 × 0,5 A = 0,25 m²

Keliling Basah (P):

P = (2 × h) + b P = (2 × 0,5) + 0,5 P = 1,5 m

Jari-jari Hidraulis (R):

R = P A

R = 1,5 25 , 0

R = 0,167 m

Kecepatan (Manning)

Koefisien pengaliran Manning untuk kondisi saluran batu pecah disemen = 0,025 dari Tabel 2.6.

V = 1 R2/3 S1/2 n 

V = 0,1672/3 0,0011/2 025

, 0

1  

V = 0,383 m/detik

b=0,5m

h=0,5m

60 Jadi kapasitas tampungan saluran adalah:

Q = V × A Q = 0,383 × 0,25 Q = 0,096 m³/detik

Dari hasil survei juga didapat bentuk saluran drainase sekunder sebelah kanan dapat dilihat pada Gambar 4.8.

Gambar 4.8: Penampang Saluran Sekunder (SS5) Jl. Platina VII C Diketahui:

Luas Permukaan (A):

A = b × h A = 0,35 × 0,4 A = 0,14 m²

Keliling Basah (P):

P = (2 × h) + b P = (2 × 0,4) + 0,35 P = 1,15 m

Jari-jari Hidraulis (R):

R = P A

R = 1,15 14 , 0 R = 0,122 m

Kecepatan (Manning)

b=0,35m

h=0,4m

61 Koefisien pengaliran Manning untuk kondisi saluran batu pecah disemen = 0,025 dari Tabel 2.6.

V = 1 R2/3 S1/2 n 

V = 0,1222/3 0,0011/2 025

, 0

1  

V = 0,311 m/detik

Jadi kapasitas tampungan saluran adalah:

Q = V × A Q = 0,311 × 0,14 Q = 0,043 m³/detik

Dari hasil Q rencana debit banjir dan Q analisa tampungan penampung diatas dibuat perbandingan hasil perhitungan untuk mengetahui kondisi saluran drainase seperti pada Tabel 4.20.

Tabel 4.20: Perhitungan Q analisis tampungan penampung dan Q analisis rancangan debit banjir di Kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus.

No

Saluran Sekunder

Sebelah Kanan

Q Tampungan

Penampun

Q Rencana Debit Banjir

Keterangan

2 Tahun 5 Tahun 10 Tahun

1

(SS1) Gang Sepakat

0,013 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029 m³/detik

Tidak Aman

2

(SS2) Gang Sodara

0,024 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029 m³/detik

Tidak Aman

3

(SS3) Gang Lurah

0,029 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029 m³/detik

Tidak Aman

4

(SS4) Jl.

Muslim Pancasila

0,096 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029 m³/detik

Tidak Aman

5

(SS5) Jl.

Platina VII C

0,043 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029 m³/detik

Tidak Aman

Dari hasil survei juga didapat bentuk saluran drainase sekunder sebelah kiri dapat dilihat pada Gambar 4.9.

62 Gambar 4.9: Penampang Saluran Sekunder (SS1) Jl. Cendana Baru

Diketahui:

Luas Permukaan (A):

A = b × h A = 0,35 × 0,4 A = 0,14 m²

Keliling Basah (P):

P = (2 × h) + b P = (2 × 0,4) + 0,35 P = 1,15 m

Jari-jari Hidraulis (R):

R = P A

R = 1,15 14 , 0 R = 0,122 m

Kecepatan (Manning)

Koefisien pengaliran Manning untuk kondisi saluran batu pecah disemen = 0,025 dari Tabel 2.6.

V = 1 R2/3 S1/2 n 

V = 0,1222/3 0,0011/2 025

, 0

1  

V = 0,311 m/detik

b=0,35m

h=0,4m

63 Jadi kapasitas tampungan saluran adalah:

Q = V × A Q = 0,311 × 0,14 Q = 0,043 m³/detik

Dari hasil survei juga didapat bentuk saluran drainase sekunder sebelah kiri dapat dilihat pada Gambar 4.10.

Gambar 4.10: Penampang Saluran Sekunder (SS2) Jl. Rasmi Diketahui:

Luas Permukaan (A):

A = b × h A = 0,35 × 0,4 A = 0,14 m²

Keliling Basah (P):

P = (2 × h) + b P = (2 × 0,4) + 0,35 P = 1,15 m

Jari-jari Hidraulis (R):

R = P A

R = 1,15 14 , 0 R = 0,122 m

Kecepatan (Manning)

b=0,35m

h=0,4m

64 Koefisien pengaliran Manning untuk kondisi saluran batu pecah disemen = 0,025 dari Tabel 2.6.

V = 1 R2/3 S1/2 n 

V = 0,1222/3 0,0011/2 025

, 0

1  

V = 0,311 m/detik

Jadi kapasitas tampungan saluran adalah:

Q = V × A Q = 0,311 × 0,14 Q = 0,043 m³/detik

Dari hasil survei juga didapat bentuk saluran drainase sekunder sebelah kiri dapat dilihat pada Gambar 4.11.

Gambar 4.11: Penampang Saluran Sekunder (SS3) Gang Madrasah Diketahui:

Luas Permukaan (A):

A = b × h A = 0,35 × 0,4 A = 0,14 m²

Keliling Basah (P):

P = (2 × h) + b P = (2 × 0,4) + 0,35 P = 1,15 m

Jari-jari Hidraulis (R):

b=0,35m

h=0,4m

65 R = P

A

R = 1,15 14 , 0 R = 0,122 m

Kecepatan (Manning)

Koefisien pengaliran Manning untuk kondisi saluran batu pecah disemen = 0,025 dari Tabel 2.6.

V = 1 R2/3 S1/2 n 

V = 0,1222/3 0,0011/2 025

, 0

1  

V = 0,311 m/detik

Jadi kapasitas tampungan saluran adalah:

Q = V × A Q = 0,311 × 0,14 Q = 0,043 m³/detik

Dari hasil survei juga didapat bentuk saluran drainase sekunder sebelah kiri dapat dilihat pada Gambar 4.12.

Gambar 4.12: Penampang Saluran Sekunder (SS4) Gang Mayor Diketahui:

Luas Permukaan (A):

A = b × h A = 0,35 × 0,4 A = 0,14 m²

b=0,35m

h=0,4m

66 Keliling Basah (P):

P = (2 × h) + b P = (2 × 0,4) + 0,35 P = 1,15 m

Jari-jari Hidraulis (R):

R = P A

R = 1,15 14 , 0 R = 0,122 m

Kecepatan (Manning)

Koefisien pengaliran Manning untuk kondisi saluran batu pecah disemen = 0,025 dari Tabel 2.6.

V = 1 R2/3 S1/2 n 

V = 0,1222/3 0,0011/2 025

, 0

1  

V = 0,311 m/detik

Jadi kapasitas tampungan saluran adalah:

Q = V × A Q = 0,311 × 0,14 Q = 0,043 m³/detik

Dari hasil Q rencana debit banjir dan Q analisa tampungan penampung diatas dibuat perbandingan hasil perhitungan untuk mengetahui kondisi saluran drainase seperti pada Tabel 4.21.

67 Tabel 4.21: Perhitungan Q analisis tampungan penampung dan Q analisis rancangan debit banjir di Kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus.

No

Saluran Sekunder

Sebelah Kiri

Q Tampungan

Penampun

Q Rencana Debit Banjir

Keterangan 2

Tahun

5

Tahun 10 Tahun 1

(SS2) Jl.

Cendana Baru

0,043 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029 m³/detik

Tidak Aman 2 (SS2) Jl.

Rasmi

0,043 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029 m³/detik

Tidak Aman 3 (SS3) Gang

Madrasah

0,043 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029 m³/detik

Tidak Aman 4 (SS4) Gang

Mayor

0,043 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029 m³/detik

Tidak Aman

4.10.2. Perhitungan Perencanaan Kapasitas Tampungan Saluran Drainase a. Saluran Primer

Tabel 4.22: Perencanaan drainase Saluran Primer (SP) di kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus.

No Saluran Primer

UkuranSaluran Panjang Saluran (km)

Kondisi Eksisting Saluran B (meter) H (meter)

1 Sebelah

Kanan 1,5 1,5 1,3 Beton

2 Sebelah

Kiri 1,5 1,5 1,3 Beton

Dari hasil survei direncanakan bentuk dimensi saluran drainase dan dilihat pada Gambar 4.13.

Kanan = Kiri

Gambar 4.13: Perencanaan penampang saluran drainase primer b=1,5m

h=1,5m

b=1,5m

h=1,5m

68 Dimensi saluran primer sebelah kanan sama dengan saluran primer sebelah kiri.

Diketahui:

Luas Permukaan (A):

A = b × h A = 1,5 × 1,5 A = 2,25 m²

Keliling Basah (P):

P = (2 × h) + b P = (2 × 1,5) + 1,5 P = 4,5 m

Jari-jari Hidraulis (R):

R = P A

R = 4,5 25 , 2 R = 0,5 m

Kecepatan (Manning)

Koefisien pengaliran Manning untuk kondisi saluran batu pecah disemen = 0,025 dari Tabel 2.6.

V =

2 / 1 3 /

1 2

S nR

V = 0,52/3 0,0011/2 025

, 0

1  

V = 0,797 m/detik

Jadi kapasitas tampungan saluran adalah:

Q = V × A Q = 0,797 × 2,25 Q = 1,793 m³/detik

69 Dari hasil Q rencana debit banjir dan Q analisa tampungan penampung diatas dibuat perbandingan hasil perhitungan untuk mengetahui kondisi saluran drainase seperti pada Tabel 4.23.

Tabel 4.23: Perhitungan Q analisis tampungan penampung dan Q analisis rancangan debit banjir di Kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus.

No Nama Saluran

Q Tampungan Penampung

Q Rencana Debit Banjir

Keterangan 2 Tahun 5 Tahun 10 Tahun

1

Saluran Primer Kanan

1,793 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029

m³/detik Aman 2

Saluran Primer Kiri

1,793 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029

m³/detik Aman

70 BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Pada bab ini akan dijelaskan uraian dan rangkuman berdasarkan data-data yang dikumpulkan serta hasil pengamatan yang dilakukan secara langsung dilapangan, baik perhitungan secara teknis maupun program, maka penyusun dapat mengambil beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut:

1. Dari analisa yang dilakukan menghasilkan data-data yang sesuai dengan ketentuan dalam melakukan pemilihan distribusi.n

 Adapun distribusi yang dapat digunakan adalah distribusi Log Pearson Tipe III dengan ketentuan Cs ≠ Yang sesuai dengan data yang didapat untuk distribusi Log Pearson Tipe III yaitu Cs = 0,025.

 Agar pemilihan sebaran tersebut dapat lebih akurat dan dapat diterima perlu diadakan uji keselarasan distribusi.

2. Dari hasil perhitungan debit banjir rencana didapat:

 Kala ulang 2 Tahun : 1,05873959 m³/detik

 Kala ulang 5 Tahun : 1,203441404 m³/detik

 Kala ulang 10 Tahun : 1,248893029 m³/detik

3. Dari hasil perhitungan dimensi saluran eksisting drainase Primer dan Sekunder pada Kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus Kecamatan Medan Marelan pada periode 2, 5 dan 10 tahun tidak dapat menampung besarnya debit banjir rencana pada daerah penelitian.

4. Direncanakan dimensi saluran drainase primer yang aman terhadap debit banjir yaitu dengan dimensi saluran yang memiliki lebar 1,5 meter, tinggi 1,5 meter dan dapat menampung debit banjir sebesar 1,793 m³/detik.

5.2. Saran

1. Dari analisa dan pengamatan dilapangan didapatkan bahwa adanya beberapa titik pada saluran drainase primer yang tidak berfungsi dengan normal sebagai

71 akibat dari kerusakan penampang, terlalu banyaknya bahan sedimen yang mengendap dan banyaknya sampah didalam drainase, sehingga perlu dilakukannya upaya pemulihan fungsi drainase.

2. Perlu dilakukannya penambahan ukuran penampang drainase sehingga daya tampung debit air pada drainase dapat lebih besar.

3. Perlu dilakukannya perbaikan pada beberapa titik penampang saluran drainase yang mengalami kerusakan.

4. Perlu adanya kesadaran pada masyarakat untuk menjaga dan merawat saluran drainase agar tetap berfungsi dengan normal.

5. Hasil penulisan penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan kepada pihak terkait untuk merencanakan sistem saluran drainase pada daerah penelitian ini dikemudian hari.

1 1 DAFTAR PUSTAKA

Dimitri Fairizi. (2015). Analisis dan Evaluasi Saluran Drainase Pada Kawasan Perumnas Talang Kelapa di Subdas Lambidarokota Palembang. Junal Teknik Sipil dan Lingkungan(3).

Herjumawan. (2017). Evaluasi Dimensi Saluran Drainase Pada Kawasan Kelurahan Sei Kera Hulu Kecamatan Medan Tembung Kota Medan, 139.

Ismoyo, Bathara Radidya. (2019). Pengaruh Drainase Berwawasan Lingkungan Dengan Metode Sumur Resapan Untuk Daerah Helvetia. Tugas Akhir Prodi S1 Teknik Sipil UMSU.

Komang, N., Kartika, S., Muliawan, I. W., Sagung, A. A., & Rahadian, D. (2018).

Evaluasi Fungsi Saluran Drainase Terhadap Kondisi Jalan Gunung Rinjani Di Wilayah Kecamatan Denpasar Barat Evaluation Drainage Channel Function Against Road Condition Gunung Rinjani in Denpasar Barat District Area. 2(1).

Lukman, A. (2018). Evaluasi sistem drainase di kecamatan helvetia kota medan.

13(2).

Prasetyo, B. (2018). Evaluasi Saluran Drainase Pada Jalan Seroja Di Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal, 83.

Rozaqi Ahmad. (2018). “Pola Jaringan Drainase” (Online), https://neededthing.blogspot.com/2018/05/pola-jaringan-drainase.html, diakses tanggal 26 Oktober 2019.

Saves, F., Sipil, D. T., & Teknik, F. (2018). Evaluasi Sistem Drainase Jatirejo – Ketapang Kecamatan Porong Paska Adanya Tanggul Lumpur Sidoarjo.

03(01), 7–12.

Sihombing. M. I. A. (2018). Analisa Tampang Ekonomis Saluran Drainase Pada Jalan Pasar IV Kecamatan Medan Marelan, 87.

Sinaga, R. M., & Harahap, R. (2016). Analisa Sistem Saluran Drainase Pada Jalan Perjuangan Medan. 2, 41–49.

Suripin. (2004). "Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan". Jakarta: Andi.

1 1 Thegorbalsla. 2018. “SIKLUS HIDROLOGI : Pengertian, Proses, Komponen,

Macam”(Online),https://thegorbalsla.com/siklushidrologi/#Proses_Siklus_

Hidrologi, diakses tanggal 28 Oktober 2019.

Triatmodjo, B. (1993). "Drainase Perkotaan". Malang: Universitas Brawijaya.

wesli. (2008). " Drainase Perkotaan". Yogyakarta: Graha Ilmu.

1 1 LAMPIRAN

A. Tabel

Tabel L.1: Data curah hujan harian maksimum.

Tahun Curah Hujan Harian Maksimum (mm)

2008 76

2009 87

2010 84

2011 60

2012 97

2013 78

2014 70

2015 69

2016 69

2017 73

N = 10 tahun Total = 763

Tabel L.2: Perhitungan Q rencana pada kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus.

No Periode L

(Km) C Tc

(jam)

I (mm/jam)

A (Ha)

Q (m3/det) 1 2 1,3 0,95 0,32611911 55,40580748 7,43 1,058739593 2 5 1,3 0,95 0,32611911 62,26179268 7,43 1,203441404 3 10 1,3 0,95 0,32611911 62,98568418 7,43 1,248893029

Tabel L.3: Perhitungan Q analisis tampungan penampung dan Q analisis rancangan debit banjir di Kawasan Kelurahan Tanah Enam Ratus.

No Nama Saluran

Q Tampungan Penampung

Q Rencana Debit Banjir

Keterangan 2 Tahun 5 Tahun 10 Tahun

1

Saluran Primer Kanan

1,793 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029

m³/detik Aman 2

Saluran Primer Kiri

1,793 m³/detik

1,05873959 m³/detik

1,203441404 m³/detik

1,248893029

m³/detik Aman

1 1 B. Foto Dokumentasi

Gambar L.1: Saluran primer sebelah kiri pada titik awal pengambilan

Gambar L.2: Saluran primer sebelah kanan pada titik awal pengambilan

1 1 Gambar L.3: Kondisi drainase yang tidak mampu menampung debit air

Gambar L.4: Kondisi drainase yang mengalami kerusakan penampang

1 1 Gambar L.5: Saluran primer pada titik rawan banjir

Gambar L.6: Kondisi banjir pada Jalan Tanah Enam Ratus

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1 DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DATA DIRI

Nama Ikhwan Swandy

Tempat, Tanggal Lahir Medan, 29 Juni 1997 Jenis Kelamin Laki-laki

Agama Islam

Alamat Jl. Veteran Dusun VA Kab. Deli Serdang

No. HP 082163361212

Email [email protected]

RIWAYAT PENDIDIKAN Nomor Pokok Mahasiswa 1507210181

Fakultas Teknik

Program Studi Teknik Sipil

Perguruan Tinggi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Alamat Perguruan Tinggi Jl. Kapten Muchtar Basri No.3 Medan 20238

No Tingkat Pendidikan Tahun Kelulusan

1 SD Swasta PAB 4 2009

2 SMP Negeri 1 Labuhan Deli 2012

3 SMK Negeri 5 Medan 2015

4 Melanjutkan Studi di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Tahun 2015 Sampai Selesai.

Dokumen terkait