PEMUDA & KERENTANAN EKSTREMISME
2.5 Invasi Ekstrimisme & Terorisme Di Internet
jaringan ekstrimisme kekerasan tapi tidak berani keluar karena takut.
Kesepuluh, sekarang adalah era internet dan social media. Jaringan dan gerakan ekstremisme kekerasan juga memanfaatkan itu dalam menyebarkan ideologi mereka dan juga merekruit anggota baru. Internet dan social media dianggap memiliki banyak keuntungan yakni; semua menjadi efektif, bisa menjangkau banyak sekali target dan lebih aman dari pengawasan pihak lain seperti orang tua, sekolah, masyarakat dan bahkan polisi. Selain itu juga karena target utama jaringan dan gerakan ekstremisme kekerasan adalah para remaja, sementara lazim diketahui bahwa pengguna internet dan social media terbanyak dan teraktif di Indonesia adalah para remaja. Jadilah internet dan social-media menjadi revolusi baru dalam perkembangan jaringan dan gerakan ekstrimisme kekerasan, tidak hanya di Indonesia tetap juga di dunia.
32-33) kegiatan ekstremisme kekerasan dan terorisme melalui internet meliputi 6 hal seperti dalam table berikut ini:
No Kegiatan ekstrimisme kekerasan dan terorisme melalui internet
1 Propaganda ideologi dan perekrutan anggota serta komunikasi internal
2 Pendanaan dan penyediaan logistic 3 Pelatihan
4 Perencanaan terror 5 Pelaksanaan 6 Cyberattack
Pertama, propaganda ideologi dan perekrutan anggota serta komunikasi internal. Menurut The World Book Encyclopedia (2000), propaganda adalah suatu metode yang digunakan untuk mempengaruhi orang agar percaya pada ide- ide tertentu. Propaganda dapat berbentuk kampanye tindak kekerasan, retorika, perekruitan, radikalisasi, hoax, fitnah dan penghasutan agar melakukan terror. Hal ini dapat dilihat dalam bentuk komunikasi multimedia yang menyebarkan ideologi ekstremisme kekerasan, penjelasan-penjelasan, dasar-dasar pembenaran, atau mempromosikan kegiatan terorisme dan perintah melaksanakan perang. Propaganda di internet tersebut bisa tersedia dalam format presentasi, e-magazine, risalah-
risalah, file-file audio, video seperti ceramah dan lagu-lagu bernuansa keagamaan, video game yang dibuat oleh organisasi teroris dan atau simpatisannya. Selan propaganda, internet juga dimanfaatkan untuk perekrutan anggota-anggota baru kelompok terorisme dimulai melalui penyebaran ideologi, kontak grup atau personal untuk indoktrinasi, lebih spesifik lagi untuk hijrah atau masuk kedalam kelompok terorisme melalui bai’at atau sumpah setia yang dilakukan secara online. Lebih jauh internet juga dimanfaatkan oleh anggota-anggota kelompok teroris untuk berkomunikasi satu sama lain. Untuk komunikasi yang sifatnya rahasia selain menggunakan sandi-sandi tertentu mereka juga akan memilih media internet yang paling terjaga kerahasiannya.
Kedua, pendanaan dan penyediaan logistic.
Organisasi teroris dan para simpatisannya juga memanfaatkan internet untuk meningkatkan pengumpulan dana dan sumber pendapatan lainnya. Dana dan sumber pendapatan itu digunakan untuk membiayai kegiatan organisasi termasuk didalamnya kehidupan sehari-hari anggotanya, untuk penyediaan logistic pelatihan seperti pembelian senjata, bahan-bahan pembuatan dan perakit bom, dan logistic pelaksanaan aktivitas terror.
Secara umum pendanaan dalam kegiatan terorisme dibagi menjadi 4 kategori yakni; (1) permintaan donasi secara langsung, (2) perdagangan online, (3) melalui organisasi- organisasi amal (charity), dan (4) melakukan pengeksploitasian internet secara melawan hukum terhadap alat pembayaran
online seperti wire fraud (hacking), intellectual property crimes (kejahatan intelektual property), credit card theft (pencurian kartu kredit), stock fraud, identity theft (pencurian identitas), action fraud dan lain sebagainya.
Ketiga, pelatihan. Organisasi dan jaringan ekstremisme kekerasan dan terorisme menggunakan internet sebaga media alternative pelatihan bagi para teroris dan pengguna internet dapat mengakses materi pelatihan yang disebarkan dalam bentuk panduan praktis secara online, audio, dan video klip serta perangkat-perangkat informasi lainnya. Materi pelatihan meliputi panduan untuk masuk menjadi anggota kelompok teroris, merakit bom, menggunakan senjata api dan bahan-bahan berbahaya lainnya. Selain itu, terdapat juga materi-materi mengenai perencanaan, pelaksanaan serangan teroris, melakukan kontra-intelijen, kegiatan hacking untuk pendanaan, dan peningkatan keterampilan dalam prosedur-prosedur keamanan dalam berkomunikasi internal sesame anggota kelompok teroris.
Keempat, perencanaan. Organisasi dan jaringan teroris memanfaatkan internet untuk merencanakan serangan teroris mereka. Biasanya dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak melalui komunikasi jarak jauh. Perencanaan dilakukan melalui komunikasi rahasia dengan cara melakukan enkripsi terhadap setiap pesan dan juga anonymity (tanpa-nama). Perencanaan dilakukan dengan pencarian informasi yang berasal dari sumber-
sumber yang terbuka untuk umum seperti menggunakan fasilitas Google Maps, Google Earth, Jadwal transportasi, dan informasi lainnya yuang didapat dari internet dan jejaring social-media.
Kelima, pelaksanaan. Organsasi dan jaringan teroris juga memanfaatkan internet dalam melaksanakan serangan terroris mereka. Misalnya, menyebarkan ancaman kekerasan dan terror serta mengkoordinasikan pelaku bom-bunuh diri atau anggota-anggota lainnya yang terlibat dalam serangan teroris tersebut.
Keenam, cyberattack. Organisasi dan jaringan teroris memanfaatkan internet untuk melakukan cyberattack atau serangan di dunia maya. Misalnya, untuk memberikan gangguan atau merusak fungsi jaringan computer satu lembaga yang menjadi target cyberattack, termasuk juga sistem komputernya, server (penyedia internetnya), atau infrastruktur dasar melalui penggunaan hacking, virus computer, malware, phlooding dan cara-cara lannya dengan menggunakan pengaksesan illegal atau tidak sah atau pengaksesan dengan cara-cara yang dilarang.
Referensi:
Golose, Petrus Reinhard, 2015, Invasi Terorisme ke Cyberspace, Jakarta: Penerbit YPKIK (Yayasan Pengembangan Kajian Ilmu Kepolisian)
Lazuardi Biru, 2012a, Islam Rahmat Seluruh Umat, Jakarta:
Penerbit Lazuardi Biru
Lazuardi Biru 2012b, Terorisme, Aku Tahu, Aku Hindari, Jakarta:
Penerbit Lazuardi Biru
Mashuri, Ikhwanul Kiram, 2014, ISIS Jihad Atau Petualangan, Jakarta: Penerbit Republika
Sartono, Sarlito W, 2012, Terorisme Di Indonesia Dalam Tinjauan Psikologi, Jakarta: Penerbit Alvabet
Solahuddin, 2011, NII Sampai JI; Salafi Jihadisme di Indonesia, Jakarta: Penerbit Komunitas Bambu
Sukabdi, Zora Afrina, 2012, Motivation and Root Causes of Terrorism: A Study in ASEAN Countries and Egypt, Jakarta:
Indonesian Institute for Society.