PEMUDA & KERENTANAN EKSTREMISME
2.3 Pemuda dan Cuci-Otak Ideologi Ekstrimisme &
Suriah. Ia tewas setelah beberapa hari bertempur bersama pasukan ISIS lainnya. Dari saku bajunya ditemukan paspor McCain dan uang 800 dolar AS (Ikhwanul Kiram Mashuri, 2014).
Selain McCain, masih banyak anak-anak muda yang tergiur untuk bergabung bersama ISIS. Bahkan data BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) mencatat ratusan anak-anak muda Indonesia juga telah bergabung dengan ISIS di Iraq dan Suriah.
Pertanyaannya adalah; bagaimana mereka dari anak-anak muda biasa tapi lalu mengalami proses ‘cuci-otak’ (brain-washing) sehingga memiliki keberanian tinggi bahkan bisa dibilang nekad memutuskan untuk berperang bersama ISIS? apa motif yang mendasari mereka? Mereka rela meninggalkan orang-orang yang di cintainya dan bahkan mempertaruhkan ‘masa depannya’
dengan bergabung bersama ISIS.
Pierre Rehov (2005) pembuat film ternama dari Perancis yang telah membuat 6 film documenter tentang Intifada Palestina dan tahun 2005 membuat film suicide killers menyatakan bahwa anak-anak muda yang lalu menjadi teroris dan nekat melakukan bom-bunuh diri umumnya tidak harus selalu terkait dengan isu kemiskinan atau pendidikan yang rendah. Lebih lanjut Rehov mendiskripsikan bahwa profil mereka umumnya adalah anak-anak muda berusia 15 sampai 25 tahun. Dalam usia seperti itu, mereka menanggung beraneka macam kondisi psikologis dari mulai adolesensi sampai inferiority complex. Mereka juga telah dijejali ideologi dan
aktivisme yang menyeru kekerasan dengan mengatasnamakan agama.
Tentang kepribadian anak-anak muda yang menjadi teroris dan nekat melakukan bom-bunuh diri, Rehov menjelaskan bahwa awalnya mereka adalah anak-anak muda
‘normal’ dengan sopan santun yang baik, meski kadang memiliki logika tersendiri. Sampai pada titik tertentu ketika terjadi proses
‘cuci-otak’ dan ideologi ekstrimisme-kekerasan berhasil merasuk dalam pikiran mereka. Hal ini membuat mereka sangat yakin bahwa apa yang mereka pikirkan dan ingin lakukan itu benar karena mereka menganggap ideologi itu sebagai kebenaran mutlak. Ada sistem nilai yang terbalik karena interpretasi mereka atas beberapa ajaran agama menempatkan kematian lebih daripada kehidupan. Kita seperti berhadapan dengan anak- anak muda yang hanya punya satu-satunya impian, satu-satunya pencapaian mereka adalah pemenuhan ‘takdir’ menjadi mati- syahid dengan berperang dan atau bom bunuh-diri.
Mengapa cuci-otak itu bisa terjadi? Menurut psikolog almarhum Sarlito W Sartono (2014) anak-anak muda usia 15-25 tahun secara psikologis masih penuh dengan kebimbangan, disorientasi tentang masa depan mereka dan bagaimana mereka akan menuju ke arah itu. Mereka juga dipenuhi oleh karakter- karakter seperti advonturir (suka berpetualang), heroisme, adrenalin mudah naik sehingga terkadang mudah diprovokasi.
Anak-anak muda juga secara social-psikologis terisolasi. Artinya
mereka bisa suatu waktu dekat dengan keluarga, saudara, guru- guru dan teman-temannya, tapi pada waktu yang lain bisa menarik diri dari kedekatan itu terutama ketika ada masalah dan atau terkait dengan pencarian jati-diri atau identitas diri. Dalam kondisi psikologis seperti itu, anak-anak muda menjadi rentan untuk dicuci-otaknya, dijejali ideologi ekstrimisme-kekerasan.
Jika proses cuci-otak itu telah sukses dilakukan, hal selanjutnya untuk merawatnya adalah melalui pengawasan yang ketat dari kelompok atau anggota kelompok ekstrimis untuk memastikan bahwa anak muda itu terisolasi dari lingkungan sebelumnya.
Inilah makna proses hijrah (religious migration) dalam arti anak- anak muda telah bergabung menjadi anggota kelompok ekstrimis. Setelah cuci-otak doktrin-doktrin ekstrimisme- kekerasan, maka tahap selanjutnya adalah mengiming-imingi anak-anak muda itu untuk mati-syahid dengan menjadi martir bom bunuh-diri. Istilah bekennya adalah menjadi pengantin (karena iming-imingnya selain mati syahid dan masuk surga juga bonus menjadi pengantin dengan 72 bidadari di akhirat nantinya).
Menurut Indonesia Research Team (2012) dalam proses cuci-otak ideologi ekstrimisme-kekerasan itu ada beberapa cirri perubahan sikap yang muncul dari anak-anak muda itu.
Perubahan-perubahan tersebut antara lain; (1) berani meninggalkan keluarga, sekolah/kuliah dan aktivitas lainnya karena aktivitas kelompok ekstrimisme kekerasan, (2)
perubahan signifikan pada sikap mental yang mendua (split personality) karena anak-anak muda itu harus hidup dalam dua dunia yang berbeda yakni masyarakat pada umumnya dan kelompok ekstrimisme yang berciri organisasi rahasia (tandzim sirri), (3) anak-anak muda itu cenderung menjadi individu yang introvert atau tertutup dan manipulative serta kurang empatinya terhadap orang lain (di luar kelompoknya), (4) bahkan anak- anak muda itu dengan mudahnya menganggap kafir orang-orang diluar kelompoknya dan mereka halal darahnya (dibunuh), (5) anak-anak muda itu menganggap jihad kekerasan dengan berperang dan membunuh itu dibolehkan (halal), (6) mereka sadar resiko dikejar-kejar polisi dan sebagainya sehingga cenderung menarik diri dari lingkungan sekitarnya.
Secara umum, proses cuci-otak anak-anak muda ke dalam ideologi ekstrimisme kekerasan berlangsung secara bertahap. Tahap awal adalah tahap amanu (dari kata iman). Para perekruit akan mendatangi anak-anak muda dan kelompok- kelompoknya terutama kelompok pengajian. Mereka akan masuk dan berinteraksi dengan anak-anak muda. Topik pembicaraan di antara mereka masih tentang iman dan takwa. Umumnya tahap ini bersifat terbuka. Dari tahap amanu, para perekruit akan menyeleksi anak-anak muda dengan tipe-tipe tertentu yang sekiranya mudah diajak bergabung ke kelompok ekstrimisme- kekerasan. Tipe-tipe tersebut umumnya anak muda yang pendiam, tidak kritis, patuh dan taat, kurang-pergaulan, minim
ilmu agama dan sebagainya. Anak-anak muda itu yang akan direkruit untuk ikut tahap kedua yakni hajaru (dari kata hijrah).
Hijrah disini artinya bergabung dengan kelompok ekstrimisme- kekerasan melalui serangkaian ritual tertentu, atau disebut bai’at (sumpah setia). Topik pembicaraan ditahap ini selain hijrah juga takfiri, yakni mengkafirkan dan menyesatkan orang- orang dan kelompok diluar kelompok mereka. Oleh karena itu tahap hajaru ini kadang diplesetkan sebagai tahap ‘hajar’, yakni menghajar orang-orang dan kelompok di luar kelompok ekstrimisme-kekerasan itu. Setelah tahap hajaru ini akan diseleksi anak-anak muda tertentu untuk naik ke tahap ketiga yakni jahadu (dari kata jihad). Jihad oleh kelompok ekstrimis kekerasan direduksi maknanya sekedar jihad qital (perang).
Dalam tahap ini anak-anak muda akan diminta kesiapannya untuk menjadi pengantin sebagai martir dengan cara berperang dan bom bunuh-diri dengan iming-iming mati syahid, masuk surge dan bonus 72 bidadari.
Ketiga tahap diatas adalah proses umum perekruitan anak-anak muda untuk menjadi anggota kelompok ekstrimisme kekerasan. Tentu saja tahap-tahap membutuhkan waktu dengan durasi tertentu dan aktivitas di beberapa lokasi yang boleh jadi dalam prosesnya akan mengalami kegagalan baik, karena factor anak-anak muda sendiri maupun karena adanya pengawasan pihak lain seperti keluarga, guru, teman, dan bahkan aparat keamanan. Tapi itu dulu. Sekarang potensi kegagalan itu bisa
diminimalisir dengan memanfaatkan internet. Artinya ketiga tahap di atas dilakukan tidak didunia nyata melainkan di dunia maya atau online melalui internet. Karakkter internet yang online dan privasi menjadikan proses perekruitan anak-anak muda untuk bergabung menjadi anggota kelompok ekstrimisme kekerasan akan lebih sulit di awasi oleh orang-orang terdekat anak-anak muda itu seperti orang tua, guru, teman dan bahkan polisi. Selain itu, penggunaan internet dalam beberapa kasus juga bisa mempersingkat proses cuci-otak anak-anak muda dalam perekruitan anggota kelompok ekstrimisme kekerasan.
2.4 Ideologi Ekstrimisme Menyusup Ke Sekolah-Sekolah