BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitians
Setelah melakukan observasi, wawancara serta dokumentasi dilapangan maka akan disajikan data-data yang diperoleh dari penelitian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat sebagai berikut :
1. Perilaku Nelayan Terhadap Kegiatan Penangkapan Ikan di Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar.
Kerusakan terumbu karang Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar yang sangat parah tersebut, dijelaskan bahwa hal itu akibat perilaku nelayan-nelayan yang dari dulu terbiasa memakai bom ikan. Meski sudah lama mengetahui bahwa pemakaian bom ikan adalah terlarang, mereka cukup leluasa mempergunakan karena keterbatasan kemampuan pemerintah untuk mengawasi aktivitas penangkapan ikan di laut. Selain penggunaan bom ikan, kerusakan terumbu karang juga disebabkan oleh aktivitas racun sianida dan pembiusan. Kerusakan terumbu karang ini menyebabkan ikan menjadi langka di perairan Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar. Hal ini merugikan nelayan sendiri, dimana kelangsungan usaha mereka menjadi terancam.
Terumbu karang melindungi pantai dari hempasan ombak dan keganasan badai, mencegah terjadinya erosi dan mendukung terbentuk pantai berpasir di samping juga melindungi berbagai macam pelabuhan.
Terumbu karang merupakan sumber bahan baku untuk berbagai kegiatan manusia seperti antara lain batu karang dan pasir sebagai bahan bangunan, karang hitam (black corang) sebagai bahan perhiasan dan juga karang atau moluska yang hidup di ekosistem ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan pengipas keindahan rumah.
Ekosistem terumbu karang menyumbangkan berbagai biota lalut seperti ikan karang, moluska dan krustasea bagi berbagai kelompok masyarakat yang hidup disekitar kawasan pesisir, dan bersama dengan ekosistem pantai lainnya menyediakan makanan dan merupakan tempat berpijah bagi banyak jenis biota laut yang berpotensi komersial.
Ekosistem terumbu karang juga memegang peranan penting terutama bagi perikanan tradisional berskala kecil, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia dan khusunya bagi kasawan Taka Bonerate. Nilai dari perikanan kecil ini seringkali kurang diperhitungkan karena sebagian besar nelayan yang menangkap hanya untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya tidak tercatat dan juga karena berbagai macam hal, namun demikian diperkirakan secara kasarnya bahwa peranan lestari dari perairan terumbu karang dengan kedalaman kurang dari 30 meter adalah sekitar 15 ton per km.
Kegiatan penangkapan yang dilakukan nelayan seperti menggunakan bahan peledak dan bahan beracun, bertentangan dengan kode etik penangkapan. Kegiatan ini umumnya bersifat merugikan bagi sumber daya perairan yang ada. Kegiatan ini semata-mata hanya akan memberikan dampak yang kurang baik bagi ekosistem perairan, akan tetapi memberikan keuntungan yang besar bagi nelayan. Dalam
kegiatan penangkapan yang dilakukan nelayan dengan cara dan alat tangkap yang bersifat merusak yang dilakukan khususnya oleh nelayan tradisional. Untuk menangkap sebanyak-banyaknya ikan karang yang banyak, digolongkan kedalam kegiatan illegal fishing. Karena kegiatan penangkapan yang dilakukan semata-mata memberikan keuntungan hanya untuk nelayan tersebut, dan berdampak kerusakan untuk ekosistem karang. Kegiatan yang umumnya dilakukan nelayan dalam melakukan penangkapan dan termasuk kedalam kegiatan illegal fishing adalah penggunaan alat tangkap yang dapat merusak ekosistem seperti kegiatan penangkapan dengan pemboman, penangkapan dengan menggunakan racun sianida dan pembiusan yang di lakukan di Kawasan Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar.
Kegiatan penangkapan dengan menggunakan bahan peledak merupakan cara yang sering digunakan oleh nelayan tradisional di Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar di dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan khususnya di dalam melakukan penangkapan ikan-ikan karang. Penangkapan ikan-ikan karang dengan menggunakan bahan peledak dapat memberikan akibat yang kurang baik, baik bagi ikan-ikan yang akan ditangkap maupun untuk karang yang terdapat pada lokasi penangkapan. Penggunaan bahan peledak dalam penangkapan ikan di sekitar Kawasan Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar menimbulkan efek samping yang sangat besar. Selain rusaknya terumbu karang yang ada di sekitar lokasi peledakan, juga dapat menyebabkan kematian biota lain yang bukan merupakan
sasaran penangkapan. Oleh sebab itu, penggunaan bahan peledak berpotensi menimbulkan kerusakan yang luas terhadap ekosistem terumbu karang.
Selain itu perilaku nelayan yang ada di Taka Bonerate telah berkontribusi cukup besar terhadap kerusakan terumbu karang, seperti penangkapan ikan dengan bahan peledak bom. Bom ikan biasanya terbuat dari potassium nitrate, batu kerikil, pupuk dan minyak tanah yang dimasukkan dalam botol-botol mulai botol minuman suplemen, botol bir, dan botol minuman keras. Berat setiap botol kurang lebih setengah hingga dua kilogram. Setiap botol bom ini memiliki spesifikasi berbeda- beda. Botol bom yang terbuat dari minuman suplemen umumnya digunakan mengebom ikan dalam jumlah yang kecil mulai 1–5 kuintal ikan. Sedangkan botol bom yang terbuat dari botol bir dipakai untuk mengebom ikan dalam jumlah yang besar hingga berton-ton. Satu bom seukuran botol minuman suplemen mampu mematikan ikan hingga radius 15 meter dari titik pengeboman sedangkan yang seukuran botol bir radiusnya 50 meter dari titik pengeboman. Hal ini sesuai hasil wawancara dengan salah satu informan bersama H. Kamil (53 tahun) menyatakan bahwa:
“Sebenarnekan paniba’ manditu anu ridde jadu berharap bake masale panibakang iru kerne enggaije sangge dakke hal nukole manraki munusie karne terancam bake kallumang, bake masale nyawe, bake masale hukum mane harus berurusan bake pulisi. Sebenarne jajamaah itu lakukang kami enggai lagi pikker tentang masale pamakkirahe’ne justru ale terlalu biasene bake jamaah iru bakecuppe pare panummuang doi.”
Artinya:
“Sebenarnyakan pemboman di sini juga sangat berharap dengan masalah pemboman tersebut karena tidak hanya satu hal yang merusak orang karena terancam dengan kehidupan, dengan masalah nyawa, dengan masalah hukum juga harus berurusan dengan polisi. Sebenarnya pekerjaan ini kami lakukan
tidak lagi berpikir tentang masalah merusaknya justru karena terlalu biasa dengan pekerjaan itu dengan cepat banyak penghasilan.”
Senada dengan yang diungkapkan informan H. Kamil (53 Tahun), salah satu informan yang telah diwawancarai Aging (41 Tahun) menyatakan bahwa :
“Sebenarne masale panibakang iru nggai kole peleanang kami kerne iyejeru macuppe bake pare panummuanne karne pare keluarge napakullong kami mau iyyo’te manraki terancam bake masale nyawe, bake masale hukum mane harus berurusan bake pulisi. Tapi Sebenarne jajamaah itu lakukang kami enggai lagi pikker tentang masale pamakkirahe’ne justru ale terlalu biasene bake jamaah iru bake cuppe pare panummuang doi, dadi makantor pulisi bake mane siatorte”
Artinya:
“Sebenarnya masalah pemboman itu tidak bias kami tinggalkan karena hanya itu yang cepat dan banyak penghasilannya karena banyak keluarga yang kami hidupi biar dibilang merusak karena terancam dengan masalah nyawa, dengan hukum dan harus berurusan dengan polisi. Tapi sebenarnya pekerjaan ini kami lakukan tidak berpikir lagi tentang masalah merusaknya justru karena terlalu biasa dengan pekerjaan itu dan cepat banyak penghasilan uang, jadi nanti dikantor polisi bari diatur.”
kegiatan melakukan penangkapan ikan merupakan mata pencharaian masyarakat nelayan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kepribadian nelayan di Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar lebih suka menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak dalam waktu yang singkat, menggunakan sedikit tenaga dan biaya namun dapat menghasilkan ikan, hasil tangkapan dalam jumlah yang banyak, tanpa mengindahkan bahwa efek dan bahaya yang ditimbulkan dari penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan baik terhadap diri sendiri maupun ekosistem perairan.
Masyarakat nelayan di Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar pada umumnya adalah masyarakat tradisional dan tingkat pendidikan yang rendah serta tidak mengetahi/memahami bahwa cara-cara penangkapan ikan menggunakan bahan peledak disamping beresiko bahaya terhadap diri nelayan sendiri juga berdampak rusak dan matinya biota laut yang terkena efek bahan peledak tesebut.
Hal ini sesuai dengan wawancara yang diungkapkan oleh Rahman (38 Tahun) menyatakan bahwa :
“indah sebenarne dilarang panibakang iru tapi menuru’ kallumang kami mandetu ampe matene panibakang iru parene anana’ terlantar utamene anana’ sikole, parene hakimale sikole sabane nia bake panibakang manekole lanjut sikolene, kole dipabaong kallumanne mandiru mapanibakang sabane nggaije dakke munusie pakkiale’ne tapi pare. Koleje nganjame sadiri selain panibakang lamong penummuanne ngalubbi tikke mapanibakang, koleje missi lamong hania illene iru tpi batinggene darue jande-jande ma missa illene iru nggaine nia panummuang doine karne panibakang itu nggaije sangge amania illene manummu doi tapi mau hamissa illene lamong medah dayahye nummune doi. Indah panibakang itu resikone nyawedu tapi mau nyawe taruhanne ampe iru bake mane pare panummuang nadiunaiko harus dilakunnne appe nggai battiru parene hakapimssang nalallaite kakoko nggai jadu nia.”
Artinya:
“Memang sebenarnya pemboman itu dilarang tapi menurut kehidupan kami disini kalau pemboman itu sudah mati atau ditiadakan sudah banyak yang terlantarterutama anak sekolah, sudah banyak yang berhenti sekolah karena nanti ada pemboman barulah biasa lanjut sekolah, bias dibilang kehidupannya ada di pembomankarena bukan hanya satu orang yang diperbaiki tapi banyak orang. Bisa mengerjakan yang lain selain pemboman kalau penghasilannya melebihi dari pemboman, bisa mincing kalau yang ada suaminya tapi bagaimana seperti janda-janda yang tidak ada suaminya tidak ada pendapatan uangnya karena pemboman itu bukan hanya yang ada suaminya yang dapat uang tapi biar yang tidak ada suaminya kalau dia belah ikan dapat uang. Memang pemboman itu nyawa taruhannya tapi walaupun nyawa taruhannya kalau dengan begitu banyak penghasilannya mau diapa harus dilakukan kalau tidak begitu sudah banyak yang kelaparan, mau lari ke kebun juga tidak ada.”
Walaupun penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak itu merupakan hal yang dilarang tetapi masih banyak masarakat nelayan di Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar yang melakukannya, karena tidak adanya kesadaran dengan akibat yang akan ditimbulkannya. Penggunaan bahan peledak dalam penangkapan ikan di sekitar Kawasan Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar selain rusaknya terumbu karang yang ada di sekitar lokasi peledakan, juga dapat menyebabkan kematian biota lain yang bukan merupakan sasaran penangkapan.
Karena tidak adanya pekerjaan lain selain penangkapan ikan yang dilakukan oleh masyarakat nelayan di Taka Bonerate kabupaten Kepulauan Selayar sehingga kagiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak masih meraja lela dan juga karena pemboman atau penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak banyak penghasilannya.
Seperti yang dikemukakan oleh informan yang bernama Jabal (42 Tahun) menyatakan bahwa :
“Sebenarne panibakang iru dilarang tapi mandirudu kallumang kami, lamung matene panibakang iru parene hakapissang kole dipabaong kallumang kami mandiru mapanibakang sabane iruje jamaah macuppe para panummuang ditummu. Koleje nganjame sadiri selain panibakang lamong penummuanne ngalubbi tikke mapanibakang, tapi lamong namissije kite nggai ginne panummuang napakang keluargete, nanganjama kokote nggai jadu nia kokote.”
Artinya:
“Sebenarnya pemboman itu dilarang tetapi disitu kehidupan kami, kalau pomboman itu mati sudah banyak yang kelaparan bisa dibilang kehidupan kami ada dipemboman karena cumin itu pekerjaan yang cepat banyak penghasilan yang didapat. Bisa mengerjakan pekerjaan selain pemboman kalau penghasilannya melebihi dari pemboman, tetapi kalau kita mau mancing
saja tidak cukup penghasilan untuk menafkahi keluarga, kita mau berkebun jugakita tidak punya kebun.”
Senada dengan yang diungkapkan informan Jabal (42 Tahun), salah satu informan yang telah diwawancarai Kamal (37 Tahun) menyatakan bahwa :
“Panibakang itu indah sebenarne dilarang tapi iyeje iru jajamaah kami tekke madelu, indah tikke maumbo-umbo kami, panibakang ituje makolene memenuhi kallumang kami. Koleje nganjame sadiri darue missi tapi nggai kolene mencukupi panummuan iru bake kallumang kami.”
Artinya:
“Pemboman ini memeng sebenarnya dilarang tetapi hanya itu pekerjaan kami dari dulu, memang dari nenek moyang kami, hanya pemboman yang bisa memenuhi kahidupan kami. Bias kerja yang lain seperti mincing tetapi tidak bisa mencukupipendapatan itu dengan kehidupan kami.”
Dari hasil wawancara diatas dengan informan menunjukkan bahwa Kegiatan penangkapan yang dilakukan nelayan seperti menggunakan bahan peledak dan bahan beracun, bertentangan dengan kode etik penangkapan. Kegiatan ini umumnya bersifat merugikan bagi sumberdaya perairan yang ada. Walaupun penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak itu merupakan hal yang dilarang tetapi masih banyak masarakat nelayan di Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar yang melakukannya, karena tidak adanya kesadaran dengan akibat yang akan ditimbulkannya. Penggunaan bahan peledak dalam penangkapan ikan di sekitar Kawasan Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar selain rusaknya terumbu karang yang ada di sekitar lokasi peledakan, juga dapat menyebabkan kematian biota lain yang bukan merupakan sasaran penangkapan. Karena tidak adanya pekerjaan lain selain penangkapan ikan yang dilakukan oleh masyarakat nelayan di Taka Bonerate kabupaten Kepulauan Selayar sehingga kagiatan
penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak masih meraja lela dan juga karena pemboman atau penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak banyak penghasilannya.
2. Dampak Perilaku Nelayan Terhadap Ekosistem Terumbu Karang di Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar.
Bom ikan sebenarnya sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup biota laut.
Ledakan yang dihasilkan dapat membunuh semua kehidupan yang ada di dalam laut hingga radius ribuan meter. Efek kejut yang ditimbulkan dari getaran tersebut akan menghancurkan dan mematikan terumbu karang dan ikan-ikan mulai dari telur hingga ikan dewasa. Hal ini jelas sangat merugikan, terutama menyangkut hancurnya terumbu karang.
Karena terumbu karang itu sendiri merupakan tempat ikan mencari makan sekaligus rumah bagi ikan-ikan tersebut. Bila terumbu karang hancur ikan - ikan tidak mempunyai tempat mencari makan dan rumah, otomatis ikan yang ada akan hilang selamanya alias punah.
Selain memberi dampak yang buruk untuk karang, kegiatan penangkapan dengan menggunkan bahan peledak juga berakibat buruk untuk ikan-ikan yang ada.
Ikan-ikan yang ditangkap dengan menggunakan bahan meledak umumnya tidak memiliki kesegaran yang sama dengan ikan-ikan yang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap ramah lingkungan. Walaupun demikian adanya, nelayan masih tetap menggunakan bahan peledak didalam melakukan kegiatan penangkapan
karena hasil yang mereka peroleh cendrung lebih besar dan cara yang dilakukan untuk melakukan proses penangkapan tergolong mudah.
Seperti yang dikemukakan oleh informan yang bernama Asri (44 Tahun) menyatakan bahwa :
“Indah sebenarne iru merusa’ terumbu karang bake biota laut tapi masyarake’ mau batingge carete mencegah iru nggai nia jamaah sadirine, dia mau bertani tidak ada kebunnya jadi itu susah bagaimanapun caranya pemerintah atasan ataupun pemerintah daerah, bisa diganti itu pekerjaannya tetapi setara penghasilannya dengan pemboman ikan dan pemerintah juga bisa membantu semua masyarakat nelayan. Pemerintah juga berusaha semaksimal mungkin untuk meniadakan pemboman tetapi itu masyarke’
alasanne nggai kole karne mereka bias mati dan tidak bisa ditiadakan karne missako jamaah sadirine dadi indah aga’ suse.”
Artinya:
“memang sebenarnya itu merusak terumbu karang dengan biota laut tetapi masyarakat biar bagaimana cara kita untuk mencegah tidak ada pekerjaan lainnya, dia mau bertani tidak ada kebunnya jadi itu susah bagaimanpun caranya pemerintah atasan ataupun pemerintah daerah, bias diganti itu pekerjaannnya tetapi setara penghasilannya dengan pemboman ikan dan pemerintah jua bias membantu semua masyarakat nelayan. Pemerintah juga berusaha semaksimal mungkin untuk meniadakan pemboman tetapi itu masyarakat alasannya tidak bisa karena mereka bisa mati dan tidak bisa ditiadakan karena tidak ada pekerjaannya yang lain jadi memang agak susah.”
Penangkapan ikan dengan menggunkan bahan peledak bom, potassium sianida dan pembiusan itu adalah suatu kegiatan yang melanggar hukum tetapi pada dasarnya masyarakat nelayan di Taka Bonerate belum bisa dihentikan, walaupun sudah dilarang tetapi masih tetap melakukannya karena tuntutan ekonomi keluarga.
Banyak dampak yang ditimbulkan akibat penangkpan ikan dengan menggunakan bahan peledak tetapi masyarakat nelayan khususnya di Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar belum punya kesadaran dengan hal tersebut.
Salah satu dampak positif penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak bagi nelayan yaitu para nelayan bisa mendapankat ikan dengan mudah, cepat dan banyak sehingga dapat dijual dan menghasilkan uang, rata-rata nelayan yang melakukan kegitan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak bisa dibilang kehidupannya sejahtera, sedangkan dampak negatifnya yaitu kesehatan ikan yang ditangkap dengan menggunakan bahan peledak tidak segar, sedangkan kebutuhan konsumen sangat mengiginkan ikan segar yang layak konsumsi, untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam tubuhnya. Ikan yang ditangkap dengan menggunakan bahan peledak itu biasanya cepat busuk, sehingga sagat mudah dibedakan antara ikan hasil tangkapan yang normal.
Seperti yang dikemukakan oleh informan yang bernama Alim Bahri (43 Tahun) menyatakan bahwa :
“Sebenarne panibakang itu kangjelas bertentangan bake hukum tapi batinggedu masarake’ karne nggaidu nia jamaah sadirine. Mau pare akibat tikke ma panibakang iru darue masale kasalamakang nyawe paniba’, mau parene hacace’ ale ubbong darue nia haappo tanganne, habute matene, hamatai bake masi pare lagi sadianne. Dayah maditummu nggai segar karne tubbo’ dayah iru ancor madialang bake cuppe’ buntu, ale panibakang iru dangai biota laut hampir punah. Untu’ nangatasi iyye iru mungking secare kedalam neje antare pelaku bake pulisi lamong nia kebijakangne pulisi ya selesai nemanditu tapi lamong nggai boanene kasulaya lamong katummuang niba’. Pare jamaah sadirianne panibakang itu mingke ale dipangatonang karne jamaahne samate madilao’je lamong naberalihye kajamaah sadiri birre’du karne disiitu mungking karne terrbiase bake jamaah itu sehingga aga’ sulit untuk merubah pekerjaan yang sudah ditekuni. Dadi mau ada’
pamarente napakimalene panibakang nggai minakole kimale tabasikali karne mau sude dilarang jameneje lagi.”
Artinya:
“Sebenarnya pemboman ini kan jelas bertentangan dengan hukum tapi bagaimana juga masyarakat karena tadak ada juga pekerjaan lainnya. Biar banyak akibat dari bom itu seperti masalah keselamatan nyawa pembom, biar
sudah banyak yang cacat karena bom seperti ada yang tangannya terpotong, ada yang buta matanya, ada yang meninggal dan masih banyak lagi yang lainnya. Ikan yang didapat tidak segar lagi karena tubuh ikan itu hancur didalamnya dan cepat busuk, karena penangkapan ikan dengan menggunkan bahan peledak itu beberapa biota laut hamper punah. Untuk mengatasi itu mungkin secara kedalam saja antara pelaku dengan polisi kalau ada kebijakannya polisi ya selesai disini tapi kalau tidak dibawa ke Selayar kalau kedapatan membom. Banyak pekerjaan selain pemboman ini tapi hanya yang ditahu karena pekerjannya semata hanya dilaut kalau mau beralih ke pekerjaan yang lain berat juga karena mereka mungkin karena terbiasa dengan pekerjaan ini sehingga agak sulit untuk merubah pekerjaan yang sudah ditekuni. Jadi walaupun pemerintah maunya pemboman dihentikan belum bias berhenti secara keseluruhan karena walaupun sudah dilarang dikerjakan lagi.”
Berdasarkan beberapa hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak bom, racun sianida dan pembiusan walaupun berdampak buruk baik bagi masyarakat nelayan sendiri, terumbu karang, biota laut dan lain sebagainya belum bisa dihentikan apalagi ditiadakan karena masyarakatnya yangbelum punya kesadaran terhadap akibat yang ditimbulkan. Pemerintah sudah melakukan berbagai cara untuk menghentikan kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak ini tetapi tetapi belum ada hasil yang maksimal.