• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

Pada bagian ini penulis menyampaikan untuk memberikan saran kepada para nelayan bahwa:

1. Para nelayan agar bisa lebih bertanggung jawab dan memperhatikan keadaan lautnya terutama ekosistem terumbu karang, biota laut dan lain sebagainya yang menyangkut kelestarian isi lautnya.

2. Kepada pemerintah setempat untuk lebih tegas lagi didalam menghadapi masyarakat nelayan yang melakukan kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak. Oleh karena itu alangkah lebih baik apabila seluruh masyarakat nelayan dan pemerintah bersama-sama untuk mencari dan menemukan solusi terbaik bagi kelangsungan hidup dan kelestarian terumbu karang agar tidak terjadi kepunahan.

3. Kepada seluruh lapisan masyarakat Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar untuk tetap terus membantu melestarikan terumbu karangnya karena itu merupakan aset Kabupaten Kepualauan Selayar sebagai atol terbesar ketiga di dunia.

Dahuri, Rokhmin. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut, Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.

Fauzi, Akhmad. 2007. Kebijakan Perikanan Dan Kelautan. Jakarta: Gramedia.

Gufran H. Kordi. K., M. 2010. Ekosistem Terumbu Karang. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Harahap, Mustafa Djuang. 1983. Yurisdiksi Kriminal di Perairan Indonesia yang Berkaitan Dengan Hukum Internasional. Bandung: Alumni.

Lamintang, P.A.F. 1997. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia. Citra Aditya Bakti: Bandung.

Marpaung, Leden. 2005. Asas Teori Praktek Hukum Pidana. Jakarta: Sinar Grafika.

Murdiyanto, 2003. Mengenal, Memelihara dan Melestarikan Ekosistem Terumbu Karang Proyek Pembangunan Masyarakat Pantai dan Pengelolaan Suberdaya Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Jakarta.

Nybakken. 1988. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia:

Jakarta.

Purnianti, dkk. 1994. Mashab dan Penggolongan Teori dalam Kriminologi.

Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Prodjodikoro, Wirjono. 2003. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia. Bandung:

PT. Refika Aditama.

Sodik, Dikdik Mohamad. 2014. Hukum Luat Internasional. Bandung: PT. Refika Aditama.

Sudirman, Adi. 1982. Wawasan Nusantara. Jakarta: Surya Indah.

Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif R&D, Bandung: Alfabeta.

Supriharyono. 2007. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Jakarta:

Djambatan.

kerusakan-terumbu-karang.html

http://rudikiswantoro.blogspot.com/2010/05/kerusakan-terumbu-karang-di pesisir.html

http://ekoper.wordpress.com/2010/09/16/terumbu-karang-indonesia/

Undang- Undang :

Undang-Undang Repulik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 tentang perikanan Undang–Undang Republik Indonesia No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan

Pertanyaan untuk pemerintah

1. Mengapa masih sering terjadi illegal fishing (penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak) padahal itu sudah jelas merusak terumbu karang?

2. Bagaimana cara penanggulangan atau cara meminimalisir illegal fishing (penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak) yang terjadi di kawasan Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar?

3. Bagaimana dampak illegal fishing terhadap ekosistem terumbu karang di Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar?

 Pertanyaan untuk masyarakat

1. Mengapa anda melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak bom?

2. Mengapa anda tidak melakukan pekerjaan lain seperti memencing atau yang lain?

3. Bagaimana anda mengatasi keterlibatan pemerintah dalam hal ini kepolisian ketika melakukan bom ikan?

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan di bawahini:

Nama : Risnawati

NIM : 10538 02140 11

Jurusan : Pendidikan Sosiologi

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Judul Skripsi : Perilaku Menyimpang (Studi Kasus Ilegal Fishing di Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar).

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan didepan tim penguji adalah hasil karya sendiri dan bukan ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.

Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, September 2015 Yang Membuat Pernyataan

Risnawati

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertandatangan di bawahini:

Nama : Risnawati

NIM : 10538 02140 11

Jurusan : Pendidikan Sosiologi

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjuplakan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi.

4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, September 2015 Yang Membuat Perjanjian

Risnawati Mengetahui,

Ketua Prodi Pendidikan Sosiologi

Dr. H. Nursalam, M.Si.

NBM. 951 829

Nama : H. kamil

Umur : 53 tahun

Jenis Kelamin: Laki-laki Pekerjaan : Nelayan

Nama : Aging

Umur : 41 tahun

Jenis Kelamin: Laki-laki Pekerjaan : Nelayan

Nama : Alim Bahri

Umur : 43 tahun

Jenis Kelamin: Laki-laki Pekerjaan : Kepala Dusun

Nama : Asri

Umur : 44 tahun

Jenis Kelamin: Laki-laki Pekerjaan : Anggota BPD

Nama : Rahman

Umur : 38 tahun

Nama : Kamal

Umur : 37 tahun

Jenis Kelamin: Laki-laki Pekerjaan : Nelayan

Nama : Jabal

Umur : 42 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Pekerjaan : Nelayan

No. Hari/Tgl Umur Nama Keterangan

1. 25/07/2015 38 Rahman “indah sebenarne dilarang panibakang iru tapi menuru’ kallumang kami mandetu ampe matene panibakang iru parene anana’

terlantar utamene anana’ sikole, parene hakimale sikole sabane nia bake panibakang manekole lanjut sikolene, kole dipabaong kallumanne mandiru mapanibakang sabane nggaije dakke munusie pakkiale’ne tapi pare.

Koleje nganjame sadiri selain panibakang lamong penummuanne ngalubbi tikke mapanibakang, koleje missi lamong hania illene iru tpi batinggene darue jande-jande ma missa illene iru nggaine nia panummuang doine karne panibakang itu nggaije sangge amania illene manummu doi tapi mau hamissa illene lamong medah dayahye nummune doi. Indah panibakang itu resikone nyawedu tapi mau nyawe taruhanne ampe iru bake mane pare panummuang nadiunaiko harus dilakunnne appe nggai battiru parene hakapimssang nalallaite kakoko nggai jadu nia.”

Artinya:

“Memang sebenarnya pemboman itu dilarang tapi menurut kehidupan kami disini kalau pemboman itu sudah mati atau ditiadakan sudah banyak yang terlantarterutama anak sekolah, sudah banyak yang berhenti sekolah karena nanti ada pemboman barulah bias lanjut sekolah, bias dibilang kehidupannya ada di pembomankarena bukan hanya satu orang yang diperbaiki tapi banyak orang. Bisa mengerjakan yang lain selain pemboman kalau penghasilannya melebihi dari pemboman, bisa mincing kalau yang ada suaminya tapi bagaimana seperti janda-janda yang tidak ada suaminya tidak ada

pemboman itu nyawa taruhannya tapi walaupun nyawa taruhannya kalau dengan begitu banyak penghasilannya mau diapa harus dilakukan kalau tidak begitu sudah banyak yang kelaparan, mau lari ke kebun juga tidak ada.”

2. 28/07/2015 53 H. Kamil “Sebenarnekan paniba’ manditu anu ridde jadu berharap bake masale panibakang iru kerne enggaije sangge dakke hal nukole manraki munusie karne terancam bake kallumang, bake masale nyawe, bake masale hukum mane harus berurusan bake pulisi.

Sebenarne jajamaah itu lakukang kami enggai lagi pikker tentang masale pamakkirahe’ne justru ale terlalu biasene bake jamaah iru bake cuppe pare panummuang doi.”

Artinya:

“Sebenarnyakan pemboman di sini juga sangat berharap dengan masalah pemboman tersebut karena tidak hanya satu hal yang merusak orang karena terancam dengan kehidupan, dengan masalah nyawa, dengan masalah hukum juga harus berurusan dengan polisi. Sebenarnya pekerjaan ini kami lakukan tidak lagi berpikir tentang masalah merusaknya justru karena terlalu biasa dengan pekerjaan itu dengan cepat banyak penghasilan.”

3. 28/07/2015 41 Aging “Sebenarne masale panibakang iru nggai kole peleanang kami kerne iyejeru macuppe bake pare panummuanne karne pare keluarge napakullong kami mau iyyo’te manraki terancam bake masale nyawe, bake masale hukum mane harus berurusan bake pulisi.

Tapi Sebenarne jajamaah itu lakukang kami enggai lagi pikker tentang masale pamakkirahe’ne justru ale terlalu biasene bake jamaah iru bake cuppe pare panummuang doi, dadi makantor pulisi bake mane siatorte”

Artinya:

dibilang merusak karena terancam dengan masalah nyawa, dengan hukum dan harus berurusan dengan polisi. Tapi sebenarnya pekerjaan ini kami lakukan tidak berpikir lagi tentang masalah merusaknya justru karena terlalu biasa dengan pekerjaan itu dan cepat banyak penghasilan uang, jadi nanti dikantor polisi bari diatur.”

4. 30/07/2015 37 Kamal “Panibakang itu indah sebenarne dilarang tapi iyeje iru jajamaah kami tekke madelu, indah tikke maumbo-umbo kami, panibakang ituje makolene memenuhi kallumang kami.

Koleje nganjame sadiri darue missi tapi nggai kolene mencukupi panummuan iru bake kallumang kami.

Artinya:

“Pemboman ini memeng sebenarnya dilarang tetapi hanya itu pekerjaan kami dari dulu, memang dari nenek moyang kami, hanya pemboman yang bisa memenuhi kahidupan kami. Bias kerja yang lain seperti mincing tetapi tidak bisa mencukupi pendapatan itu dengan kehidupan kami.”

5. 08/08/2015 43 Alim Bahri “Sebenarne panibakang itu kangjelas bertentangan bake hukum tapi batinggedu masarake’ karne nggaidu nia jamaah sadirine. Untu’ nangatasi iyye iru mungking secare kedalam neje antare pelaku bake pulisi lamong nia kebijakangne pulisi ya selesai nemanditu tapi lamong nggai boanene kasulaya lamong katummuang niba’. Pare jamaah sadirianne panibakang itu mingke ale dipangatonang karne jamaahne samate madilao’je lamong naberalihye kajamaah sadiri birre’du karne disiitu mungking karne terrbiase bake jamaah itu sehingga aga’ sulit untuk merubah pekerjaan yang sudah ditekuni. Dadi mau ada’ pamarente napakimalene panibakang nggai minakole kimale tabasikali karne mau sude dilarang jameneje lagi.”

Artinya:

mungkin secara kedalam saja antara pelaku dengan polisi kalau ada kebijakannya polisi ya selesai disini tapi kalau tidak dibawa ke Selayar kalau kedapatan membom. Banyak pekerjaan selain pemboman ini tapi hanya yang ditahu karena pekerjannya semata hanya dilaut kalau mau beralih ke pekerjaan yang lain berat juga karena mereka mungkin karena terbiasa dengan pekerjaan ini sehingga agak sulit untuk merubah pekerjaan yang sudah ditekuni. Jadi walaupun pemerintah maunya pemboman dihentikan belum bias berhenti secara keseluruhan karena walaupun sudah dilarang dikerjakan lagi.”

6. 08/08/2015 44 Asri “Indah sebenarne iru merusa’ terumbu karang bake biota laut tapi masyarake’ mau batingge carete mencegah iru nggai nia jamaah sadirine, dia mau bertani tidak ada kebunnya jadi itu susah bagaimanapun caranya pemerintah atasan ataupun pemerintah daerah, bisa diganti itu pekerjaannya tetapi setara penghasilannya dengan pemboman ikan dan pemerintah juga bisa membantu semua masyarakat nelayan.

Pemerintah juga berusaha semaksimal mungkin untuk meniadakan pemboman tetapi itu masyarke’ alasanne nggai kole karne mereka bias mati dan tidak bisa ditiadakan karne missako jamaah sadirine dadi indah aga’ suse.”

Artinya:

“memang sebenarnya itu merusak terumbu karang dengan biota laut tetapi masyarakat biar bagaimana cara kita untuk mencegah tidak ada pekerjaan lainnya, dia mau bertani tidak ada kebunnya jadi itu susah bagaimanpun caranya pemerintah atasan ataupun pemerintah daerah, bias diganti itu pekerjaannnya tetapi setara penghasilannya dengan pemboman ikan dan pemerintah jua bias membantu semua masyarakat nelayan.

ditiadakan karena tidak ada pekerjaannya yang lain jadi memang agak susah.”

7. 08/08/2015 42 Jabal “Sebenarne panibakang iru dilarang tapi mandirudu kallumang kami, lamung matene panibakang iru parene hakapissang kole dipabaong kallumang kami mandiru mapanibakang sabane iruje jamaah macuppe para panummuang ditummu. Koleje nganjame sadiri selain panibakang lamong penummuanne ngalubbi tikke mapanibakang, tapi lamong namissije kite nggai ginne panummuang napakang keluargete, nanganjama kokote nggai jadu nia kokote.”

Artinya:

“Sebenarnya pemboman itu dilarang tetapi disitu kehidupan kami, kalau pomboman itu mati sudah banyak yang kelaparan bisa dibilang kehidupan kami ada dipemboman karena cumin itu pekerjaan yang cepat banyak penghasilan yang didapat. Bisa mengerjakan pekerjaan selain pemboman kalau penghasilannya melebihi dari pemboman, tetapi kalau kita mau mancing saja tidak cukup penghasilan untuk menafkahi keluarga, kita mau berkebun juga kita tidak punya kebun.”

Gambar perahu nelayan baru datang dari bom ikan

Gambar para istri nelayan pembom ikan dan masyarakat lainnya sedang kerja ikan

Gambar para istri nelayan pembom yang lagi kerja ikan

Gambar wawancara anggota BPD

Gambar wawancara Kepala Dusun

Gambar wawancara masyarakat

Dokumen terkait