BAB III METODE PENELITIAN
E. Analisis Data
Penelitian ini penulis menggunakan analisa kualitatif yang melalui tahapan-tahapan pengumpulan data, mengklasifikasikan, menghubungkan dengan teori dan masalah yang ada, kemudian menarik kesimpulan guna menentukan hasilnya. Kemudian diuraikan secara deskriptif yaitu menjelaskan, menguraikan, dan menggambarkan sesuai dengan permasalahan yang erat kaitannya dengan penelitian ini.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Penerapan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Melawan Aparat Kepolisian Yang Sedang Bertugas
a. Kasus Posisi
Terdakwa Muh. Hanafi Bin Malarangang, tempat lahir Sungguminasa, umur 25 Tahun dan tanggal lahir 30 Oktober 1995, tempat tinggal di Balang-balang Kel. Bontomanai Kec. Bontomarannu Kab. Gowa, agama Islam, pekerjaan wiraswasta. Melakukan tindak pidana penyerangan terhadap apparat kepolisian yang sedang bertugas.
Adapun posisi kasusnya sebagai berikut :
Putusan pidana Nomor 344/Pid.Sus/2020/PN Sgm tentang sebuah kasus mengenai tindak pidana penyerangan terhadap pejabat yang sedang melaksanakan tugas yang sah yang dilakukan oleh seorang pria bernama Hanafi Bin Mallarangang pada hari Senin tanggal 15 Juni 2020 sekitar pukul 22.35 pada awalnya terdakwa mendatangi saksi Ryzky mengendarai motor trail dan hendak menabrak korban Ryzky yang membuat ryzky Arisandi terjatuh kemudian terdakwa mencabut sebilah pisau jame-jame dari pinggangnya kemudian dihunuskan kearah saksi Ryzky Arisandi sehingga saksi Ryzky Arisandi bergegas berdiri dan terjadi perkelahian antara Terdakwa dan saksi Ryzky Arisandi berteman kemudian datanglah Richsan Bin Mustam selaku anggota jaga Polsek Bontomarannu yang
sedang melaksanakan tugas penjagaan mako 1x24 jam, pada saat hendak melerai Terdakwa malah berbalik menyerang korban untuk mengambil senjata yang sebelumnya sudah diberi tembakan peringatan, untungnya berhasil dilumpuhkan oleh korban, setelah berhasil dilumpuhkan terpidana membuang pisau jame-jame yang digunakan untuk menyerang korban ke semak-semak dan rekan korban Arfah Munandar Bin H. Jumada yang saat itu juga sedang bertugas di Polsek Bontomarannu bergegas ke Tempat kejadian setelah mendengar suara tembakan dan setibanya dikantor camat maka saksi Arfah membantu mengamankan Terdakwa dan menemukan barang bukti sebilah pisau jame-jame yang digunakan terdakwa menyerang saksi korban dan saksi Rzyky.
b. Fakta Persidangan
Berikut adalah fakta-fakta dalam persidangan, dengan dakwaan PERTAMA sebagai berikut :
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 Ayat (1) UU Drt No.12 Tahun 1951 Lembaran Negara No. 78 Tahun 1951. Yang menyatakan bahwa :
Barang siapa yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperolehnya, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan atau mengeluarkan dari
Indonesia sesuatu senjata pemukul, senjata penikam, atau senjata penusuk dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.
Adapun dakwaan kedua yaitu sebagai berikut :
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 212 KUHP.
Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan melawan kepada seseorang pegawai negeri yang melakukan pekerjaannya yang sah, atau melawan kepada orang yang waktu membantu pegawai negeri itu karena kewajibannya menurut undang-undang atau karena permintaan pegawai negeri itu, dihukum, karena perlawanan, dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 4.500,-
c. Penerapan Hukum
1. Tuntutan jaksa penuntut umum
Tuntutan jaksa penuntut umum dalam nomor register Nomor 344/Pid.Sus/2020/PN Sgm yang pada intinya meminta Majelis hakim Pengadilan Negeri Makassar memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan :
1. Menyatakan terdakwa Muh Hanafi Bin Malarangang, Terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “dengan ancaman kekerasan melawan seorang pejabat yang sedang menjalankan tugas yang sah” sebagaimana dalam dakwaan Kedua,Pasal 212 KUHP ; 2. Menjatuhkan pidana Kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana
penjara selama 1 (satu) tahun;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan ;
4. Menetapkan terdakwa tetap ditahan ;
5. Menetapkan barang bukti berupa :
a. 1 (satu) bilah pisau Jame-Jame, panjang kurang lebih 37 cm (tiga puluh tujuh centimeter), lebar 4 Cm (empat centimeter) warna putih,ujung runcing, sarung dan gagangnya terbuat dari kayu dililit dengan karet ban warna hitam, dirusak sehingga tidak dapat dipergunakan lagi;
b. 1 (satu) unit sepeda motor Trail merk Viar tanpa plat, warna hitam biru, No. rangka MF3VR15SPHL500396, Nomor mesin YX161FMG17500336, dengan pemilik atas nama di STNK Muh.
Hanafi alamat Balang-balang RW 04/02 Bontomanai, Kec.
Bontomarannu, Kab. Gowa (satu) Lembar STNK (surat tanda nomor kendaraan), No. rangka MF3VR15 SPHL500396, Nomor mesin YX161FMG17500336, atas nama di STNK Muh. Hanafi alamat Balang-balang RW 04/02 Bontomanai, Kec. Bontomarannu, Kab.
Gowa Dikembalikan kepada terdakwa;
6. Membebankan kepada terdakwa membayar biaya perkara sejumlah Rp.2.000,- (Dua ribu rupiah) ;
2. Amar Putusan
Memperhatikan Pasal 212 KUHP dan peraturan perundang- undangan lain yang bersangkutan :
Mengadili :
1. Menyatakan Terdakwa Muh. Hanafi Bin Mallarangang, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana "dengan ancaman kekerasan melawan seorang pejabat yang sedang menjalankan tugas yang sah" sebagaimana dalam dakwaan kedua Pasal 212 KUHP;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun;
3. Menetapkan masa penangkapan dan masa penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan ;
4. Menetapkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan ; 5. Menetapkan barang bukti berupa:
i. 1 (satu) bilah pisau Jame-Jame, panjang kurang lebih 37 cm (tiga puluh tujuh centimater), lebar 4 cm (empat centimeter) warna putih, ujung runcing, sarung dan gagangnya terbuat dari kayu dililit dengan karet ban warna hitam, dirusak sehingga tidak dapat dipergunakan lagi;
ii. 1 (satu) unit sepeda motor Trail merk Viar tanpa plat, warna hitam biru, No. rangka MF3VR15SPHL500396, nomor mesin YX161FMG17500336, dengan pemilik atas nama di STNK Muh.
Hanafi alamat Balang-balang RW 04/02 Bontomanai Kec.
Bontomarannu, Kec.Bontomarannu Kab. Gowa;
iii. 1 (satu) Lembar STNK (surat tanda nomor kendaraan), No. rangka MF3VR15 SPHL500396, Nomor mesin YX161FMG17500336, atas
nama di STNK Muh. Hanafi alamat Balang-balang RW 04/02 Bontomanai Kec. Bontomarannu Kab. Gowa; Dikembalikan kepada Terdakwa;
6. Membebankan kepada Terdakwa membayar biaya perkara sejumlah Rp.
2.000,- (dua ribu rupiah);
Demikianlah diputuskan dalam sidang permusyawaratan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sungguminasa, pada hari Rabu tanggal 02 November 2020 oleh kami, Wahyudi Said, S.H.. M.Hum, sebagai Hakim Ketua , Hj. Nur Afiah, S.H., M.H. dan Yulianti Muhidin, S.H masing- masing sebagai Hakim Anggota, yang diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari Rabu tanggal 02 November 2020 oleh Hakim Ketua dengan didampingi para Hakim Anggota tersebut, dibantu oleh Fitriani, S.H, Panitera Pengganti pada Pengadilan Negeri Sungguminasa, serta dihadiri oleh Irmawati Amir,S.H, M.H., Penuntut Umum dan Terdakwa tanpa didampingi Penasihat hukumnya;
3. Pertimbangan hakim
Pertimbangan hakim pada dasarnya berlandaskan dakwaan Jaksa Penuntut Umum, alat bukti yang sah maupun syarat subyektif dan obyektif seseorang dapat dijatuhi pidana agar selanjutnya disebut Putusan hakim.
Putusan hakim sering pula disebut Putusan pengadilan, yakni pernyataan hakim yang diucapkan dalam siding pengadilan terbuka yang dapat berupa pemidanaan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, serta menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang. Hakim tidak serta dengan mudah menjatuhkan hukuman tanpa adanya pertimbangan yuridis, sosiologis, psikologis, filosofis dan umur pelaku meskipun seluruhnya tidak dituangkan dalam Putusan.30 Dalam KUHP juga sudah jelas tercermin bahwa, Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang
30Nur Afiah, Hakim Pengadilan Negeri Sungguminasa, Wawancara, Sungguminasa, 28 September
2021.
bersalah melakukannya.31 Karena itu Putusan yang dijatuhkan oleh hakim, juga didasarkan pada bukti fakta-fakta hukum yang terungkap dalam persidangan Sehubungan dengan itu demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Pengadilan Negeri Sungguminasa yang memeriksa dan mengadili perkara pidana Nomor 344/Pid.Sus/2020/PN Sgm, dan setelah mendengar keterangan-keterangan saksi dan keterangan terdakwa serta alat bukti surat, maka dapat diperoleh fakta-fakta hukum sebagai bahan pertimbangan yaitu sebagai berikut :
1. Bahwa pada hari Senin tanggal 15 Juni 2020 korban Richsan Bin Mustam yang menjabat selaku BAYANMAS SPK l Polsek Bontomarannu melaksanakan tugas penjagaan mako selama 1 x 24 jam sesuai dengan Surat Perintah Kapolsek Bontomarannu Nomor : Sprin/41/Vl/HUK.6.6./2020 tanggal 01 Juni 2020 yang disertai dengan lampiran zSurat Perintah dan daftar piket penjagaan tanggal 01 Juni 2020 s/d tanggal 30 Juni 2020 dan disela bertugas korban saat itu butuh minum sehingga korban ke warung yang terletak dekat kantor kecamatan Bontomarannu dan setelah selesai membeli air mineral kemudian korban kembali ke kantor Polsek Bontomarannu namun ditengah jalan pulang, korban melihat perkelahian sekelompok pemuda dihalaman kantor Camat Bontomarannu yang belakangan diketahui adalah Terdakwa dengan saksi Ryzky Arisandi Bin Pranoto Dg Bone dengan beberapa teman saksi Ryzky sehingga korban pun bergegas mendekati Terdakwa dan saksi Ryzky berteman melerai perkelahian tersebut dengan berteriak memperkenalkan diri sebagai Polisi sehingga beberapa teman saksi Ryzky melarikan diri sedangkan Terdakwa bahkan berbalik menyerang korban dengan mengarahkan pisau jame-jame yang sebelumnya telah digunakan Terdakwa menyerang saksi Ryzky kearah korban hendak menikam korban sehingga korban mengeluarkan tembakan peringatan keudara supaya Terdakwa berhenti menyerangnya akan tetapi Terdakwa tetap melakukan penyerangan dengan memegang tangan korban yang sementara memegang senjata hendak merebut senjata korban akan tetapi korban berhasil melumpuhkan terdakwa dengan mengunci badan dan memegang tangan Terdakwa sehingga Terdakwa tidak dapat merebut senjata yang dipegang korban tersebut, kemudian pisau jame-jame yang masih berada dipegangan Terdakwa saat itu langsung dibuang oleh
31Lamintang Dan The Lamintang , Pembahasan KUHAP Menurut Ilmu Pengetahuan Hukum Pidana Dan Yurisprudensi, (Jakarta, Sinar Grafika, 2013), h. 407.
terdakwa ke semak-semak yang ada ditempat kejadian dan rekan korban yakni saksi Arfah Munandar Bin H. Jumada yang saat itu juga sedang bertugas di Polsek Bontomarannu bergegas ke Tempat kejadian setelah mendengar suara tembakan dan setibanya dikantor camat maka saksi Arfah membantu mengamankan Terdakwa dan menemukan barang bukti sebilah pisau jame-jame yang digunakan terdakwa menyerang saksi korban dan saksi Rzyky.
a. Bahwa benar barang bukti yang diajukan;
Terhadap keterangan saksi, Terdakwa memberikan pendapat keterangan saksi salah, yaitu terdakwa tidak menyerang saksi;
b. Bahwa benar barang bukti yang diajukan;
c. Terhadap keterangan saksi, Terdakwa memberikan pendapat keterangan saksi salah, yaitu terdakwa tidak menyerang Polisi;
d. Bahwa benar terdakwa dihadapkan ke depan persidangan karena membawa senjata tajam dan melawan Petugas Polisi;
e. Bahwa benar kejadiannya pada Hari senin tanggal 15 juni 2020, sekitar jam 22.30 wita, di depan Kantor Camat Bontomarannu Kabupaten gowa;
f. Bahwa benar pada saat itu terdakwa dalam keadaan mabuk;
g. Bahwa benar pada waktu tersebut, terdakwa sedang ribut dengan Risky;
h. Bahwa benar selanjutnya ada yang datang melerai dan terdakwa tidak tahu jika yang meleraia adalah Polisi;
i. Bahwa benar terdakwa tidak tahu jika yang melerai adalah Polisi sehingga terdakwa malah berbalik dan mengancam saksi dengan mempergunakan pisau, selanjutnya saksi Richsan mengeluarkan tembakan peringatan akan tetapi terdakwa tetap akan menyerang saksi;
j. Bahwa benar selanjutnya saksi Richsan melumpuhkan terdakwa dengan cara mengunci badan terdakwa, selanjutnya terdakwa membuang pisaunya ke semak-semak;
k. Bahwa benar terdakwa sudah pernah dihukum sebelumnya;
l. Bahwa benar terdakwa menyesal atas perbuatannya;
m. Bahwa Terdakwa telah didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan yang berbentuk alternatif, sehingga Majelis Hakim dengan memperhatikan fakta-fakta hukum tersebut diatas memilih langsung dakwaan alternatif ke dua sebagaimana diatur dalam Pasal 212 KUHP yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut :
i. Unsur barang siapa :
Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan barang siapa yaitu menunjuk pada subyek hukum yaitu siapa saja, setiap orang atau korporasi atau badan hukum yang mempunyai hak dan kewajiban yang didakwa melakukan suatu tindak pidana ;
Menimbang, bahwa dalam persidangan telah diajukan orang yang bernama Muh Hanafi Bin Malarangan yang identitasnya
sebagaimana dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum No.REG.Perkara:PDM–59/P.4.13/Eku.2/08/2020, tanggal 12 Agustus 2020 di mana terdakwa mengakui dan membenarkan identitasnya tersebut ;
Menimbang, bahwa selain itu berdasarkan fakta-fakta hukum tersebut nyatalah terdakwa adalah benar bernama Muh Hanafi Bin Malarangan sehingga tidak terdapat kekeliruan atas subyek hukum tersebut, sehingga yang dimaksud dengan setiap orang dalam perkara a quo adalah terdakwa in casu Muh Hanafi Bin malarangan ;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas dengan demikian unsur “ barang siapa“ ini telah terbukti secara sah dan menyakinkan ;
ii. Unsur dengan kekerasan atau ancaman kekerasan melawan seorang pejabat yang sedang menjalankan tugas yang sah, atau orang yang menurut kewajiban undang-undang atau atas permintaan pejabat memberi pertolongan kepadanya yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu :
Menimbang bahwa kekerasan di artikan dengan Menggunakan tenaga atau kekuatan jasmani yang tidak kecil dan tidak sah;
Menimbang bahwa ancaman kekerasan diartikan akan menggunakan tenaga atau kekuatan Jasmani yang tidak kecil dan tidak sah;
Menimbang bahwa dipersidangan ditemukan fakta hukum sebagai berikut :
Bahwa benar terdakwa dihadapkan ke depan persidangan karena membawa senjata tajam dan melawan Petugas Polisi;
Bahwa benar kejadiannya pada Hari senin tanggal 15 juni 2020, sekitar jam 22.30 wita, di depan Kantor Camat Bontomarannu Kabupaten gowa;
Bahwa benar pada saat itu terdakwa dalam keadaan mabuk;
Bahwa benar pada waktu tersebut, terdakwa sedang ribut dengan Risky;
Bahwa benar selanjutnya ada yang datang melerai dan terdakwa tidak tahu jika yang melerai adalah Polisi;
Bahwa benar terdakwa tidak tahu jika yang melerai adalah Polisi sehingga terdakwa malah berbalik dan mengancam saksi dengan mempergunakan pisau, selanjutnya saksi Richsan mengeluarkan tembakan peringatan akan tetapi terdakwa tetap akan menyerang saksi;
Bahwa benar selanjutnya saksi Richsan melumpuhkan terdakwa dengan cara mengunci badan terdakwa, selanjutnya terdakwa membuang pisaunya ke semak-semak;
Bahwa benar benar barang bukti yang diajukan;
Bahwa benar terdakwa sudah pernah dihukum sebelumnya;
Bahwa benar terdakwa menyesal atas perbuatannya;
Menimbang bahwa berdasarkan fakta hukum tersebut maka terungkap fakta jika hari Senin tanggal 15 juni 2020 sekitar jam 22.30 wita di depan kantor Camat bontomarannu kabupaten Gowa, terdakwa datang mencari saksi risky dengan membawa pisau jame- jame dipinggangnya, selanjutnya saksi Richsan yang merupakan anggota polisi datang melerai namun terdakwa melawan saksi riskan dengan mengarahkan pisau yang dibawanya ke saksi riskan sehingga saksi riskan mengeluarkan tembakan peringatan dan selanjutnya mengunci badan terdakwa sehingga terdakwa lalu membuang pisaunya ke semak-semak; Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan hukum tersebut maka terdakwa telah melakukan ancaman kekerasan terhadap Pejabat yang sedang melakukan tugas yang sah;
d. Analisis Penulis
Pasal yang dijatuhi oleh hakim dalam Putusan Nomor 344/Pid.Sus/2020/Pn. Sgm atas nama terdakwa Hanafi bin Mallarangeng ialah Pasal 212 KUHP. Yang menyatakan bahwa :
Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan melawan kepada seseorang pegawai negeri yang melakukan pekerjaannya yang sah, atau melawan kepada orang yang waktu membantu pegawai negeri itu karena kewajibannya menurut undang-undang atau karena permintaan pegawai negeri itu, dihukum, karena perlawanan, dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 4.500,-
Terdakwa Hanafi di dalam kasus ini pada saat penyerangan dalam keadaan mabuk yang mana diatur dalam KUHP Pasal 492 Barang siapa dalam keadaan mabuk di muka umum merintangi lalu lintas, atau mengganggu ketertiban, atau mengancam keamanan orang lain, atau
melakukan sesuatu yang harus dilakukan dengan hati-hati atau dengan mengadakan tindakan penjagaan tertentu lebih dahulu agar jangan membahayakan nyawa atau kesehatan orang lain, diancam dengan pidana kurungan paling lama enam hari, atau pidana denda paling banyak tiga ratus tujuh puluh lima rupiah.
Berhubung dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum mendakwa terdakwa dengan dakwaan alternative, maka penulis akan menganisa isi substansi :
1. Dakwaan Pertama
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 Ayat (1) UU Drt No.12 Tahun 1951 Lembaran Negara No. 78 Tahun 1951. Yang menyatakan bahwa :
Barang siapa yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperolehnya, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata pemukul, senjata penikam, atau senjata penusuk dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.
Setelah penelitian penulis, dakwaan pertama yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam kasus ini sudah tepat mengingat terdakwa di
fakta persidangan tidak tahu bahwa yang melerainya adalah anggota kepolisian dan terdakwa yang menyelipkan pisau jame-jame di pinggangnya sudah jelas bahwa pisau tersebut tidak untuk digunakan sebagaimana peruntukannya.
2. Dakwaan Kedua
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam dalam KUHP Pasal 212. Yang menyatakan bahwa :
Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan melawan kepada seseorang pegawai negeri yang melakukan pekerjaannya yang sah, atau melawan kepada orang yang waktu membantu pegawai negeri itu karena kewajibannya menurut undang-undang atau karena permintaan pegawai negeri itu, dihukum, karena perlawanan, dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 4.500,-
Setelah setelah penelitian, dakwaan kedua ini kurang tepat didakwakan kepada terdakwa Hanafi, mengingat bahwa terdakwa dalam keadaan mabuk dan tidak tahu bahwa yang melerainya adalah anggota kepolisian yang mana diatur dalam salah satu unsur KUHP Pasal 212 itu sendiri.
Atas perbuatan yang dilakukan terdakwa, Hakim menjatuhkan Putusan yang pada pokoknya sebagai berikut:
1. Menyatakan Terdakwa Muh. Hanafi Bin Mallarangang, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana "dengan ancaman kekerasan melawan seorang pejabat yang sedang menjalankan tugas yang sah" sebagaimana dalam dakwaan kedua Pasal 212 KUHP;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun;
3. Menetapkan masa penangkapan dan masa penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan ;
4. Menetapkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan ; 5. Menetapkan barang bukti berupa:
i. 1 (satu) bilah pisau Jame-Jame, panjang kurang lebih 37 cm (tiga puluh tujuh centimater), lebar 4 cm (empat centimeter) warna putih, ujung runcing, sarung dan gagangnya terbuat dari kayu dililit dengan karet ban warna hitam, dirusak sehingga tidak dapat dipergunakan lagi;
ii. 1 (satu) unit sepeda motor Trail merk Viar tanpa plat, warna hitam biru, No. rangka MF3VR15SPHL500396, nomor mesin YX161FMG17500336, dengan pemilik atas nama di STNK Muh.
Hanafi alamat Balang-balang RW 04/02 Bontomanai Kec.
Bontomarannu, Kec.Bontomarannu Kab. Gowa;
iii. 1 (satu) Lembar STNK (surat tanda nomor kendaraan), No. rangka MF3VR15 SPHL500396, Nomor mesin YX161FMG17500336, atas nama di STNK Muh. Hanafi alamat Balang-balang RW 04/02 Bontomanai Kec. Bontomarannu Kab. Gowa; Dikembalikan kepada Terdakwa;
6. Membebankan kepada Terdakwa membayar biaya perkara sejumlah Rp.
2.000,- (dua ribu rupiah);
Putusan hakim atas perkara ini sudah benar menerapkan KUHP Pasal 212, namun setelah penelitian, penulis menyimpulkan bahwa dakwaan pertama yang tepat untuk dijatuhkan kepada terdakwa mengingat bahwa terdakwa tidak tau bahwa yang melerainya adalah anggota kepolisian dan sudah jelas pula bahwa senjata yang dibawa adalah untuk melakukan penyerangan. Mengingat terdakwa juga melakukan penyerangan dalam keadaan mabuk seharusnya juga menjadi pertimbangan untuk memberatkan terdakwa.
Jadi yang dapat penulis dapatkan setelah penelitian yaitu pertimbangan hukum Hakim Pengadilan Negeri Makassar yang memeriksa dan mengadili perkara ini, sudah dilakukan dengan secermat mungkin, namun masih terdapat kekeliruan berupa tidak adanya pertimbangan bahwa terdakwa sedang dalam keadaan mabuk.
B. Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Aparat Kepolisian Yang Sedang Melaksanakan Tugas
Perlindungan hukum adalah berbagai upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik
secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun.
Dengan semangat penegakkan HAM, Hukum dan keadilan tersebut Polri telah mengeluarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Perkap) Nomor 8 tahun 2019 tentang implementasi prinsip dan standar Hak Asasi Manusia dalam penyelenggaraan tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Tujuan dibentuknya Perkap Nomor 8 tahun 2019 adalah; untuk menjamin pemahaman prinsip dasar HAM oleh seluruh jajaran Polri agar dalam melaksanakan tugasnya senantiasa memperhatikan prinsip-prinsip HAM; untuk memastikan adanya perubahan dalam pola berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan prinsip dasar HAM; untuk memastikan penerapan prinsip dan standar HAM dalam segala pelaksanaan tugas Polri, sehingga setiap anggota Polri tidak ragu-ragu dalam melakukan tindakan;
dan untuk dijadikan pedoman dalam perumusan kebijakan Polri agar selalu mendasari prinsip dan standar HAM. Selain itu, dapat kita pahami bahwa didalam Perkap tersebut mengatur kewajiban dan larangan bagi anggota Polri ketika melaksanakan tugas dan fungsinya dan bukan saja itu, didalam perkap tersebut juga mengatur bagaimana perlindungan bagi anggota Polri ketika melaksanakan tugas dan fungsinya di masyarakat.
Didalam perkap Nomor 8 tahun 2019 tentang implementasi prinsip dan standar Hak Asasi Manusia dalam penyelenggaraan tugas Kepolisian