• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Perlindungan Hukum

a. Pengertian Perlindungan Hukum

Perlindungan Hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum atau dengan kata lain perlindungan hukum adalah berbagai upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun.

Menurut Setiono : “Perlindungan Hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia.20

19Adami Chazawi,2008, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, hlm.81.

20 Setiono, Supremasi Hukum, 2004, (Surakarta: UNS), hlm. 3.

Menurut Muchsin, Perlindungan Hukum merupakan kegiatan untuk melindungi individu dengan menyerasikan hubungan nilai-nilai atau kaidah- kaidah yang menjelma dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan adanya ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama manusia.

Perlindungan Hukum adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban, perlindungan hukum korban kejahatan sebagai bagian dari perlindungan masyarakat, dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti melalui pemberian restitusi, kompensasi, pelayanan medis, dan bantuan hukum.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan perlindungan hukum adalah tempat berlindung, perbuatan (hal dan sebagainya) melindungi. Pemaknaan kata perlindungan secara kebahasaaan tersebut memilki kemiripan unsur-unsur, yaitu unsur tindakan melindungi, unsur cara-cara melindungi. Dengan demikian, kata melindungi dari pihak- pihak tertentu dengan menggunakan cara tertentu.21

Menurut Muchsin, Perlindungan Hukum merupakan suatu hal yang melindungi subyek-subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi.

Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

21 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi Kedua, Cet. 1, (Jakarta: Balai Pustaka), hlm. 595.

1. Perlindungan Hukum Preventif Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban.

2. Perlindungan Hukum Represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.

Menurut Philipus M. Hadjon berpendapat bahwa Perlindungan Hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan.

Menurut Satjipto Raharjo mendefinisikan Perlindungan Hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.

b. Perlindungan Hukum Terhadap Anggota Polri

Pertanyaan kerap kali timbul dikalangan masyarakat terkhusus di internal anggota Polri itu sendiri; “adakah perlindungan HAM bagi anggota Polri?, lebih dalam pertanyaan lain timbul: “apakah anggota polri sebagai insan manusia Indonesia disaat mereka sedang berdinas menjalankan tugas dan perannya, juga mempuyai hak dasar yang dilindungi oleh HAM

seperti manusia Indonesia lainnya?” pertanyaan ini makin santer digaungkan apalagi setelah kejadian tanggal 15 Agustus 2019 dimana seorang anggota Polri menjadi korban luka bakar pada saat mahasiswa berdemo di depan kantor bupati cianjur, kejadian yang sangat disayangkan tetapi semakin menimbulkan pertanyaan mendalam sampai-sampai mungkin bisa timbul stigma dimasyarakat bahwa anggota polri tidak dilindungi HAM.22

Polri sebagai instintusi merupakan pengemban fungsi kepolisian yaitu sebagai salah satu fungsi pemerintah negara dibidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakkan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat, untuk itu anggota Polri harus memperhatikan semangat penegakan HAM, Hukum dan keadilan dalam menjalankan fungsinya tersebut. Dengan semangat penegakkan HAM, Hukum dan keadilan tersebut Polri telah mengeluarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Perkap) Nomor 8 tahun 2009 tentang implementasi prinsip dan standar Hak Asasi Manusia dalam penyelenggaraan tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. Maksud dari Perkap ini adalah sebagai pedoman dasar implementasi prinsip dan standar hak asasi manusia dalam setiap penyelenggaraan tugas Polri; dan juga menjelaskan prinsip-prinsip dasar HAM agar mudah dipahami oleh seluruh

22 UU No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP

anggota Polri dari tingkat terendah sampai yang tertinggi dalam pelaksanaan tugas kepolisian di seluruh wilayah Indonesia.

Tujuan dibentuknya Perkap Nomor 8 tahun 2019 adalah; untuk menjamin pemahaman prinsip dasar HAM oleh seluruh jajaran Polri agar dalam melaksanakan tugasnya senantiasa memperhatikan prinsipprinsip HAM; untuk memastikan adanya perubahan dalam pola berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan prinsip dasar HAM; untuk memastikan penerapan prinsip dan standar HAM dalam segala pelaksanaan tugas Polri, sehingga setiap anggota Polri tidak ragu-ragu dalam melakukan tindakan;

dan untuk dijadikan pedoman dalam perumusan kebijakan Polri agar selalu mendasari prinsip dan standar HAM. Selain itu, dapat kita pahami bahwa didalam Perkap tersebut mengatur kewajiban dan larangan bagi anggota Polri ketika melaksanakan tugas dan fungsinya dan bukan saja itu, didalam perkap tersebut juga mengatur bagaimana perlindungan bagi anggota Polri ketika melaksanakan tugas dan fungsinya di masyarakat.

Didalam perkap Nomor 8 tahun 2019 tentang implementasi prinsip dan standar Hak Asasi Manusia dalam penyelenggaraan tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia, perlindungan HAM bagi anggota Polri tertuang secara rinci pada Pasal 56 dan Pasal 57. Muatan dalam Pasal tersebut antara lain:

1. Setiap angota Polri harus bebas dari perlakuan sewenang-wenang dari atasannya,

2. Setiap angota Polri yang menolak perintah pimpinan yang nyata-nyata bertentangan dengan hukum berhak mendapat perlindungan hukum (immunity) dan

3. Setiap angota Polri berhak meminta perlindungan hukum kepada pimpinannya atas pelaksanaan tugas yang telah diperintahkan oleh pejabat Polri kepada anggotanya. Sedangkan pada Pasal 57 (1) Setiap pejabat Polri wajib memperhatikan keadaan kesehatan anggotanya, (2) Setiap pejabat Polri wajib mempertimbangkan kemampuan anggotanya yang akan diberikan perintah penugasan, (3) Setiap Pejabat Polri dilarang mengeksploitasi anggotanya atau memerintahkan anggota Polri untuk melakukan tindakan untuk kepentingan pribadinya yang di luar batas kewenangannya,

4. Setiap pejabat Polri wajib memberikan perlindungan HAM bagi anggotanya, terutama di dalam melaksanakan tugas kepolisian,

5. Setiap pejabat Polri wajib mengusahakan kecukupan peralatan tugas anggotanya, sehingga dapat menghindarkan atau mengurangi terjadinya tindakan yang melanggar HAM yang dilakukan oleh anggotanya, serta 6. Setiap pejabat Polri bertanggung jawab atas resiko pelaksanaan tugas

yang diperintahkan olehnya.

Regulasi lain tentang Perlindungan HAM bagi anggota Polri tidak lepas dari pemahaman terhadap UU no. 2 tahun 2002 pada Pasal 1 angka 2 dijelaskan bahwa anggota Polri adalah Pegawai negeri pada Kepolisian Negara Republik Indonesia, sehingga segala sesuatu yang mengatur perlindungan terhadap pegawai negeri juga melekat kepada Anggota Polri.

Lebih dalam diterangkan dalam Pasal 211 sampai dengan Pasal 216 KUHP secara gamblang mengatur perlindungan anggota Polri dalam melaksanakan tugasnya.

“Pasal 211 KUHP; Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang pejabat untuk melakukan perbuatan jabatan atau untuk tidak melakukan perbuatan jabatan yang sah, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.”

“Dalam ketentuan Pasal 212 KUHP; Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan melawan seorang pejabat yang sedang menjalankan tugas yang sah, atau orang yang menurut kewajiban undang- undang atau atas permintaan pejabat memberi pertolongan kepadanya, diancam karena melawan pejabat, dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”23

“Dalam ketentuan Pasal 213 KUHP; Paksaan dan perlawanan berdasarkan Pasal 211 dan 212 diancam: (1) dengan pidana penjara paling lama lima tahun, jika kejahatan atau perbuatan lainnya ketika itu mengakibatkan luka-luka; (2) dengan pidana penjara paling lama delapan tahun enam bulan, jika mengakibatkan luka-luka berat; (3) dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun jika mengakibatkan orang mati.”

Dalam ketentuan Pasal 214 KUHP:

“(1) Paksaan dan perlawanan berdasarkan Pasal 211 dan 212 jika dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. (2) Yang bersalah dikenakan: 1.

pidana penjara paling lama delapan tahun enam bulan, jika kejahatan atau perbuatan lainnya ketika itu mengakibatkan luka-luka; 2. pidana penjara paling lama dua belas tahun, jika mengakibatkan luka berat; 3. pidana penjara paling lama lima helas tahun, jika mengakibatkan orang mati.”

231. Supaya dapat dihukum menurut pasal ini, maka orang orang itu harus :

a. melakukan perlawanan memakai kekerasan atau ancaman kekerasan. Tentang "kekerasan”, lihat catatan pada pasal 89. Merebut dan melepaskan orang yang ditangkap oleh polisi dari tangan Polisi adalah perbuatan, kekerasan, waktu ditangkap oleh polisi atau diperintahkan oleh polisi menurut undang", orang memukul atau menendang pada polisi itu adalah perbuatan kekerasan” ;

b. perlawanan itu dilakukan terhadap "pegawai negeri” yang sedang menjalankan tugasnya yang sah, atau terhadap orang (tidak perlu pegawai pegeri) yang membantunya dalam tugas itu.

c. orang yang melawan harus mengetahui, bahwa ia melawan kepada pegawa negeri (Sifat pegawai negeri ini biasanya dapat diketahui dari pakaan seragamnya, dan sesudah memperlihatkan tanda" atau surat legitimasi, tetapi tidak perlu bahwa orang itu harus

mengetahui tentang pegawai negeri itu sedang bekerja dalam melakukan pekerjaan jabatannya yang syah. Tentang syah atau tidaknya itu ia tidak dapat, bahkan tidak boleh menimbang. Anasir, bahwa pegawai negeri itu sedang lakukan pekerjaan jabatannya yang syah. Tentang syah atau tidaknya itu ia tidak “ dapat, bahkan tidak boleh menimbang. Anasir, bahwa pegawai negeri itu sedang melakukan pekerjaannya dalam jabatannya yang syah itu dalam ketentuan ini adalah suatu keadaan yang menentukan sifat dapat dihukum.

2. Seorang Agen polisi yang” mendapat perintah dari hulpmagistraat (pembantu Jaksa) untuk menangkap dan membawa kekantor polisi orang yang disangka melakukan peristiwa pidana itu, pada waktu melakukan tangkapan tersebut boleh dikatakan dalam melakukan tugasnya yang syah"...

Seorang yang tidak memakai karcis diperintah kondektur P.N.K.A. yang telah disumpah supaya turun dari kereta api tidak ta'at lalu melawan dengan kekerasan, dapat dikenakan pasal ini (lihat pasal 215).

3. Ancaman “hukuman ' ditambah, jika pertawanan itu menimbulkan akibat" yang tersebut dalam pasal 213.

Dalam ketentuan Pasal 216 KUHP:

“Ayat (1) Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang- halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan undang- undang yang dilakukan oleh salah seorang pejabat tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda puling banyak sembilan ribu rupiah;. Ayat (2) Disamakan dengan pejahat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undang-undang terus- menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum;. Ayat (3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya dapat ditambah sepertiga.”

Lebih lanjut seperti dijelaskan diawal, bahwa Anggota Polri mempunyai wewenang istimewa untuk dapat bertindak menggunakan kewenangannya terhadap manusia lain dalam bingkai penegakkan hukum dengan berprinsip bahwa tindakan tersebut mengacu kepada proporsionalitas, akuntabilitas, kebutuhan yang mendesak, serta sah secara hukum. Wewenang ini secara tersirat juga bisa menjadi tembok perlindungan HAM bagi anggota Polri saat menjalankan tugasnya sekalipun itu adalah diskresi Kepolisian (kebebasan Anggota Polri mengambil kePutusan sendiri dalam setiap situasi yang dihadapi), sehingga segala perbuatan Anggota Polri yang dialakukan sesuai peraturan perundang- undangan adalah perlindungan hukum bagi anggota Polri tersebut terhadap tugasnya dilapangan. Hal ini sejalan dengan peraturan perundangan- undangan yang mengatur kewenangan Anggota Polri yang tertuang didalam UU No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP:

“Pasal 5 Ayat (1) huruf a angka 4 yang menerangkan bahwa penyelidik (pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia) karena

kewajibannya mempunyai wewenang mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung-jawab: Pasal 7 Ayat (1) huruf j yang menjelaskan bahwa penyidik (pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai syarat kepangkatan) karena kewajibannya mempunyai wewenang mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.”

Lebih khusus lagi diskresi Kepolisian termuat didalam UU Kepolisian Pasal 18 (1) Untuk kepentingan umum pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dapat bertindak menurut penilaiannya sendiri. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud hanya dapat dilakukan dalam keadaan yang sangat perlu dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan, serta Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Maksud dari “bertindak menurut penilaiannya sendiri” adalah suatu tindakan yang dapat dilakukan oleh Anggota Polri yang dalam bertindak harus memperhatikan manfaat serta resiko dari tindakannya dan betul-betul untuk kepentingan umum.

Secara tersirat didalam UU Kepolisian juga memberi perlindungan hukum terhadap diskresi anggota Polri dalam menjalankan tugasnya,

Pasal 15 Ayat (1) huruf f :

“Bahwa dalam rangka melaksanakan tugas secara umum, Polri berwenang melakukan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan.”

Maksud dari kata “tindakan kepolisian” dalam Pasal ini adalah upaya paksa dan/atau tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab guna mewujudkan tertib dan tegaknya hukum serta terbinanya ketentraman masyarakat. Kemudian di Pasal yang sama pada Ayat (2) huruf k secara tegas dijelaskan bahwa Polri sesuai dengan peraturan perundang- undangan lainnya berwenang melaksanakan kewenangan lain yang

termasuk dalam lingkup tugas kepolisian. Lebih dalam lagi termuat pada Pasal 16 Ayat (1) huruf l yang menyebutkan bahwa dalam rangka melaksanakan tugasnya dibidang proses pidana, Polri berwenang mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

Dari kesemua penjelasan diatas perlu kita pahami bahwa perlindungan terhadap HAM merupakan hal yang mutlak dan harus dijunjung tinggi oleh semua insan manusia Indonesia tanpa memandang status mereka baik sebagai warga negara biasa ataupun sebagai warga negara yang karenanya tugasnya sehingga mempunyai wewenangan untuk berbuat/bertindak lebih kepada warga negara lain. Perlindungan terhadap HAM merupakan perlindungan kepada manusia untuk menjalankan kodrat kemanusiawiannya tanpa melanggar HAM orang lain. Selain itu Perlindungan HAM bagi Anggota Polri Dimaksudkan agar tidak ada keraguan didalam diri anggota Polri dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai alat negara yang bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan. pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketenteraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.24

24https://arham44gusdiar.wordpress.com/2019/09/02/adakah-perlindungan-ham-bagi-anggota- polri/

c. Bantuan Hukum Bagi Anggota Polri

Istilah bantuan hukum dikenal dalam Pasal 1 angka 1 Undang- Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum (UU 16/2011”) yang merupakan hak dari setiap warga negara Indonesia, yaitu jasa hukum yang diberikan oleh pemberi bantuan hukum secara cuma-cuma kepada penerima bantuan hukum. Itulah salah satu hal yang diperjuangkan oleh Pusat Bantuan Hukum Perhimpunan Advokat Indonesia (PBH PERADI) agar setiap warga negara Indonesia mendapatkan akses keadilan (access to justice).

Bantuan hukum itu sudah dijamin dalam Pasal 1 Ayat (3) Undang- Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang mengatakan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Dan lebih rinci, hak setiap warga negara ini juga tercantum dalam Pasal 28D Ayat (1) UUD 1945 yang mengatakan:

“Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.”

Berdasarkan kutipan tersebut, dapat kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara hukum. Semua orang berhak mendapatkan perlindungan hukum termasuk aparatur negara, dalam hal ini anggota Kepolisian RI (POLRI) dan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta menjamin kedudukan setiap warga negaranya persamaan kedudukannya di dalam hukum. Untuk itu, pada kesempatan kali ini kami akan menguraikan satu persatu dari masing-masing institusi dalam mendapatkan perlindungan hukum.

d. Hak atas Bantuan Hukum Bagi Anggota Polri

POLRI secara umum diatur dalam Undang-undang Kepolisian.

Dalam hal perlindungan hukum, hak anggota POLRI juga telah dicantumkan jelas dalam Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Teknis Institusional Peradilan Umum Bagi Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang berbunyi:

Tersangka atau terdakwa anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia berhak mendapatkan bantuan hukum pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan.

Kepolisian Negara Republik Indonesia wajib menyediakan tenaga bantuan hukum bagi tersangka atau terdakwa anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang berkaitan dengan kepentingan tugas.

Bantuan hukum sebagaimana dimaksud dalam Ayat (2) dilakukan dengan memanfaatkan penasehat hukum dari institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia dan/atau penasehat hukum lainnya.

Selanjutnya hal sama juga diatur dalam Pasal 5 huruf b Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2010 tentang Hak-Hak Anggota Kepolisian Republik Indonesia:

Hak-hak lainnya anggota Polri meliputi bantuan hukum dan perlindungan keamanan.

Dari Pasal-Pasal tersebut jelas bahwa anggota POLRI juga berhak mendapatkan bantuan hukum. Jika menjadi tersangka tindak pidana, ia berhak mendapat bantuan hukum. Dan sebaliknya jika menjadi korban tindak pidana, berhak mendapatkan perlindungan keamanan.

Skema pemberian bantuan hukum untuk anggota POLRI diatur dalam Bab III Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Perkapolri 2/2017), sebagaimana diatur sebagai berikut:

Pasal 6 Perkapolri 2/2017: Permohonan diajukan kepada pejabat yang berwenang dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Untuk kepentingan institusi/dinas diajukan oleh Kepala Satuan Fungsi/Kepala Satuan Kerja yang bersangkutan;

2. untuk kepentingan anggota Polri dan Pegawai Negeri Sipil Polri yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas diajukan oleh yang bersangkutan, keluarganya, atau Kepala Satuan Kerjanya;

3. untuk kepentingan pribadi pegawai negeri pada Polri dan keluarganya diajukan oleh yang bersangkutan atau keluarganya; dan untuk purnawirawan Polri, wredatama, warakawuri, duda/janda dari anggota Polri/Pegawai Negeri Sipil Polri, diajukan oleh yang bersangkutan.

Permohonan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) diajukan secara tertulis dengan uraian kronologis tentang pokok permasalahan, kepada:

1. Kepala Divisi Hukum Polri pada tingkat Markas Besar Polri, dengan tembusan kepada Kapolri; atau

2. Kepala Kepolisian Daerah pada tingkat satuan kewilayahan, dengan tembusan kepada Kepala Bidang Hukum Kepolisian Daerah.

i. Permohonan sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) dipertimbangkan oleh Kepala Divisi Hukum Polri/Kepala Kepolisian Daerah dapat atau tidaknya diberikan Bantuan Hukum.

ii. Dalam hal disetujuinya permintaan Bantuan Hukum, Kepala Divisi Hukum Polri/Kepala Kepolisian Daerah mengeluarkan surat perintah kepada pegawai negeri pada Polri yang ditugaskan.

iii. Pemohon memberikan Surat Kuasa kepada Penasihat hukum/Kuasa Hukum/Pendamping yang telah menerima surat perintah.

Pasal 7 Perkapolri 2/2017:

1. Divisi Hukum Polri dapat menerima kuasa substitusi dari Kepolisian Daerah atau melimpahkan kuasa substitusi ke Kepolisian Daerah dalam penanganan perkara.

2. Kuasa substitusi sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) berlaku juga bagi Bidang Hukum Kepolisian Daerah, dalam hal Kapolri dan/atau pejabat pada Markas Besar Polri sebagai penggugat/tergugat atau pemohon/termohon di kewilayahan.25

25https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5318063b49505/hak-atas-bantuan- hukum-bagi-anggota-polri-dan-tni/

Dokumen terkait