BAB 1 KONSEP-KONSEP DASAR EVALUASI
D. JENIS EVALUASI PENDIDIKAN
Evaluasi pendidikan mempunyai beberapa bentuk atau jenis. Beberapa jenis evaluasi tersebut adalah evaluasi selektif, dignostik, penempatan, formatif, dan sumatif.
1. Evaluasi Selektif
Evaluasi selektif adalah evalusai yang dilaksanakan untuk keperluan seleksi, dimana pada seleksi ini ditentukan siapa yang berhak atau dapat mengikuti suatu program pendidikan, dan siapa yang tidak berhak atau tidak dapat mengikuti program tersebut.
Evaluasi seleksi biasanya digunakan sebagai alat untuk menyaring mahasiswa atau siswa baru yang akan diterima untuk memasuki sebuah lembaga pendidikan.
Evaluasi seleksi ini bisa menggunakan teknik tes maupun teknik non tes. Teknik tes biasanya digunakan untuk menyeleksi kemampuan kognitif calon peserta
Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( PAI ) │29 program, maupun keterampilannya.
Teknik nontes biasanya dilakukan untuk mendapatkan data-data tentang siswa yang juga akan mennetukan lulus tidaknya ia mengikuti suatu program seperti tinggi badan, umur, dan lain sebagainya.
Dengan dilakukannya evaluasi seleksi ini nantinya dapat dipilih orang-orang yang terbaik dari peserta seleksi untuk mengikuti program atau lembaga pendidikan.
2. Evaluasi Diagnostik
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh calon peserta ataupun peserta yang mengikuti suatu program. Evaluasi diagnostik pada calon peserta program dilakukan untuk melihat pengetahuan, afeksi, dan keterampilan prasyarat yang harus dimiliki calon peserta tersebut.
Selain terhadap calon peserta program evaluasi diagnostik dilakukan juga terhadap peserta yang sudah mengikuti program untuk memonitor tingkat ketercapaian program oleh peserta dan melihat kelemahan-kelemahannya sehingga pengelola program dapat menyesuaikan program dengan tingkat ketercapaian dan kelemahan-kelemahan yang dimiliki
30│ Dr. Mindani, M.Ag peserta.
Evaluasi diagnostik ini bisa berbentuk tes maupun non tes. Tes digunakan untuk melihat aspek kognitif dan psikomotor peserta didik. Dari hasil tes akan diketahui dimana letak kelemahan seseorang peserta didik dalam menguasai materi pelajaran.
Untuk meliahat aspek afektif digunakan teknik non tes. Alat yang bisa dipergunakan bisa saja wawancara, sosiometri, pengamatan, dan lain sebagainya. Hal ini seharusnya dilakukan guru beriringan dengan pelaksanaan tes diagnostik. Apabila anak mempunyai kelemahan-kelemahan dalam memahami materi seperti yang digambarkan hasil tes diagnostik, boleh jadi kelemahan itu karena sikap si anak kurang baik dalam belajar atau karena ada gangguan-gangguan lain yang menyebabkan si anak kurang nyaman dalam belajar.
3. Evaluasi Penempatan
Evaluasi jenis ketiga disebut evaluasi penempatan (placement). Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang dilakukan untuk menempatkan siswa pada kelompok-kelompok tertentu dalam suatu program yang akan dilaksanakan. Penempatan siswa pada kelompok-kelompok tertentu ini didasarkan pada penguasaan prasyarat dan penguasaan belajar yang
Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( PAI ) │31 dimiliki peserta didik.
Evaluasi terhadap kemampuan prasyarat dan penguasaan belajar ini digunakan untuk menentukan kelompok-kelompok sebelum suatu program dijalankan. Siswa nantinya dikelompokkan berdasarkan penguasaan prasyaratnya dan penguasaan belajarnya.
Diharapkan nantinya dalam satu kelompok akan lebih tercipta homogenitas, sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat sesuai dengan kemampuan masing-masing kelompok tersebut. Seperti evaluasi sebelumnya evaluasi ini juga dapat dilakukan dengan tes maupun non tes.
4. Evaluasi Formatif
Jenis evaluasi ke empat adalah evaluasi formatif.
Evaluasi formatif berasal dari kata form yang artiya bentuk, dengan demikian evaluasi formatif adalah dilakukan untuk melihat seberapa jauh siswa sudah terbentuk setelah mengikuti suatu program pada rentang waktu tertentu.
Evaluasi formatif ini dilaksanakan saat siswa masih dalam proses pelaksanaan program. Setelah program berjalan, setiap satuan waktu tertentu dilakukan evaluasi untuk melihat ketercapaian program oleh peserta. Dari hasil pencapaian peserta program ,
32│ Dr. Mindani, M.Ag nantinya akan diketahui apakah program sudah berjalan dengan baik atau harus dilakukna perubahan-perubahan terhadap program.
Kalau ditelaah lebih lanjut, evaluasi formatif ini lebih berorientasi kepada proses dari pada kepada hasil.
Hasil yang didapat dari evaluasi formatif itu penting, namun bukan hanya digunakan untuk melihat seberapa jauh anak menguasai apa yang harus dikuasainya.
Yang lebih penting lagi adalah hasil evaluasi formatif ini nantinya akan memberi gambaran kepada pelaksanaan program seberapa jauh program tersebut telah berhasil.
Jika dari hasil evaluasi formatif ini nantinya diketahui hasil yang diperoleh siswa tidak memadai, maka dapat dilakukan analisa lanjutan mengapa hal tersebut sampai terjadi, dicari dimana sebenarnya kelemahan program. Dengan dilakukannya analisa ini diharapkan nantinya dapat dilakukan tindakan yang tepat pada proses selanjutnya sehingga nantinya bisa dilakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.
Apabila perbaikan-perbaikan yang diperlukan dapat dilaksanakan maka ketercapaian tujuan program akan lebih mungkin untuk didapatkan.
Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( PAI ) │33 Dalam evaluasi hasil belajar, evaluasi formatif ini biasanya dilakukan setelah berakhirnya suatu unit program. Misalnya dalam proses belajar, pembelajaran fiqih selama satu semester adalah sebuah program.
Pembelajaran fiqih ini nantinya dibagi menjadi unit- unit tertentu dalam bentuk pertemuan-pertemuan.
Pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan biasanya dibagi menurut topik-topik tertentu. Satu topik materi fiqih yang diajarkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan disebut dengan unit program. Evaluasi setelah berakhirnya suatu unit program ini atau evaluasi formatif nantinya terlaksana dalam bentuk ulangan harian (UH) atau sering juga disebut dengan post test.
Evaluasi formatif ini biasanya dilakukan berulang kali, sesuai dengan banyaknya unit dalam suatu program. Makin banyak unit program tentunya akan semakin sering evaluasi formatif dilaksanakan.
Sebaliknya, makin sedikit unit program tentunya juga akan makin sedikit frekuensi evaluasi formatif.
5. Evaluasi sumatif.
Jenis evaluasi yang terakhir adalah evaluasi sumatif. Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan setelah berakhirnya suatu program. Pada
34│ Dr. Mindani, M.Ag penjelasan tentang evaluasi formatif telah disinggung bahwa dalam pendidikan ada program dan ada unit program yang lebih kecil dibawahnya. Pelaksanaan pembelajaran suatu topik inti adalah unit program, sementara satu semester atau satu caturwulan merupakan satu program. Dengan demikian apabila dilakukan evaluasi pada akhir semester atau akhir caturwulan, maka evaluasi tersebut dikatakan evaluasi sumatif.
Evaluasi sumatif berorientasi kepada hasil.
Maksud dari berorientasi kepada hasil adalah bahwa dalam evaluasi ini tujuan utamanya adalah untuk melihat tingkat keberhasilan suatu program atau peserta program.Hasil pencapaian peserta program nantinya akan menggambarkan hasil dari program itu sendiri. Apabila hasil peserta program baik, maka besar kemungkinan dapat ditarik kesimpulan program sudah berjalan dengan baik, dan demikian juga sebaliknya apabila tingkat keberhasilan peserta program kurang baik tentunya besar juga kemungkinan program tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( PAI ) │35