• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI

C. JENIS HAIS

Jenis jenis HAIs yang paling sering terjadi di rumah sakit dan harus dilaporkan oleh sistem jejaring PPI yang ada diruangan rawat inap :

1. Ventilator associated pneumonia (VAP).

2. Infeksi Aliran Darah (IAD).

3. Infeksi Saluran Kemih (ISK).

4. Infeksi Daerah Operasi (IDO)

D. FAKTOR RISIKO HAIS Faktor Risiko HAIs meliputi:

1. Umur: neonatus dan orang lanjut usia lebih rentan.

2. Status imun yang rendah/terganggu (immuno-compromised): penderita dengan penyakit kronik, penderita tumor ganas, pengguna obat-obat imunosupresan.

3. Gangguan/Interupsi barier anatomis:

• Kateter urin dapat meningkatkan kejadian infeksi saluran kemih (ISK)

• Prosedur operasi dapat menyebabkan infeksi daerah operasi (IDO) atau

“surgical site infection” (SSI)

• Intubasi dan pemakaian ventilator meningkatkan kejadian “Ventilator Associated Pneumonia” (VAP)

64

• Pemasangan infus vena : meningkatkan kejadian Plebitis atau infeksi aliran darah (IAD)

4. Implantasi benda asing : Pemakaian implant pada operasi tulang, kontrasepsi, ring jantung, dan cerebrospinal fluid shunts

5. Perubahan microflora normal: pemakaian antibiotika yang tidak bijak dapat menyebabkan pertumbuhan jamur berlebihan dan timbulnya bakteri resisten terhadap berbagai antimikroba.

E. PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI DI RUMAH SAKIT

Secara prinsip, kejadian HAIs sebenarnya dapat dicegah bila fasilitas pelayanan kesehatan secara konsisten melaksanakan program PPI. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi merupakan upaya untuk memastikan perlindungan kepada setiap orang terhadap kemungkinan tertular infeksi dari sumber masyarakat umum dan disaat menerima pelayanan kesehatan pada berbagai fasilitas kesehatan.

F. TATALAKSANA KEWASPADAAN STANDAR DI RUANGAN RAWAT INAP Tatalaksana Kewaspadaan Standar meliputi :

1. Kebersihan Tangan

Perawat diwajibkan melakukan cuci tangan 6 langkah dan menerapkan five moment cuci tangan

2. Alat Pelindung Diri

Perawat menggunakan APD sesuai risiko terpapar, dinamika transmisi ( droplet, kontak dan airbone). Perawat juga harus tau cara pemakaian, melepaskan dan mengumpulkan APD setelah dipakai

Jeni alat pelindung diri (APD)

• Masker bedah

• Masker N95

• Pelindung Mata (Goggles)

• Pelindung wajah (Face Shield)

• Sarung tangan pemeriksaan (Examination Gloves)

• Sarung tangan bedah (Surgical Gloves)

• Gown sekali pakai atau reusable

• Hazmat (Coverall medis)

• Apron sekali pakai atau reusable

• Sepatu boot anti air (waterproof boots)

• Penutup sepatu (shoe cover) 3. Dekontaminasi peralatan perawatan pasien

Perawat ruangan wajib melakukan penanganan, pembersihan dan desinfeksi peralatan perawatan pasien dengan aman

65

4. Pengendalian lingkungan

Pengendalian lingkungan di ruang rawat inap, antara lain berupa upaya kebersihan udara, kebersihan air, kebersihan ruangan dari hama seperti kecoak dan kebersihan permukaan dari debu

5. Pengolahan limbah

• Limbah dibedakan menjadi limbah medis non medis, limbah tajam dan B3

• Segera buang limbah yang dihasilkan ke tempat pembuangan sesuai kebijakan dan SPO

• Pembuangan limbah di tempat penampungan yang ada diruangan jika sudah ¾ penuh maka harus sudah dibuang

6. Penatalaksanaan Linen

• Petugas yang menangani linen harus mengenakan APD (sarung tangan rumah tangga, gaun, apron, masker dan sepatu tertutup).

• Linen dipisahkan berdasarkan linen kotor dan linen terkontaminasi cairan tubuh

• Pemisahan dilakukan sejak dari lokasi penggunaannya oleh perawat

• Linen yang terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh lainnya harus dibungkus, dimasukkan kantong kuning dan diangkut/ditranportasikan secara berhati-hati agar tidak terjadi kebocoran.

7. Perlindungan kesehatan petugas

• Setiap petugas harus dalam kondisi sehat saat bertugas

• Jangan menggunakan jam, cincin maupun gelang (aksesoris) saat jam dinas

• Tidak menggunakan recapping jarum setelah dipakai

• Setiap tenaga kesehatan di lingkungan RS sudah di programkan untuk mendapatkan imunisasi seperti imunisasi hepatitis dan covid,

8. Penempatan Pasien

• Tempatkan pasien infeksius terpisah dengan pasien non infeksius.

• Penempatan pasien disesuaikan dengan pola transmisi infeksi penyakit pasien (kontak, droplet, airborne) sebaiknya ruangan tersendiri

9. Etika batuk

Perawat wajib mengetahui dan melakukan serta mengedukasi kepada pasien dan keluarga pasien tentang etika batuk

10. Praktek menyuntik yang aman.

• Menerapkan tehnik aseptik untuk mecegah kontaminasi alat-alat injeksi

• Tidak menggunakan spuit yang sama untuk penyuntikan lebih dari satu pasien walaupun jarum suntiknya diganti

• Semua alat suntik yang dipergunakan harus satu kali pakai untuk satu pasien dan satu prosedur

• Tidak memberikan obat-obat single dose kepada lebih dari satu pasien atau mencampur obat-obat sisa dari vial / ampul untuk pemberian berikutnya.

66

• Bila harus menggunakan obat-obat multi dose, semua alat yang akan dipergunakan harus steril

G. MENYELENGGARAKAN TATALAKSANA KEWASPADAAN BERDASARKAN TRANSMISI YAITU :

1. Kewaspadaan transmisi melalui kontak

• Tempatkan pasien tersendiri bila memungkinkan

• Atur jarak pasien minimal 1 meter jika pasien lebih dari satu

• Pakai APD saat akan kontak dengan pasien 2. Kewaspadaan Transmisi Melalui Droplet

• Tempatkan pasien tersendiri bila memungkinkan

• Atur jarak pasien minimal 1 meter jika pasien lebih dari satu

• Pakai APD (masker, gaun, google /kaca mata, pelindung kepala)saat akan kontak dengan pasien

3. Kewaspadaan Transmisi Melalui udara (air borne Precaution)

• Tempatkan pasien tersendiri bila memungkinkan

• Atur jarak pasien minimal 1 meter jika pasien lebih dari satu

• Pakai APD lengkap dan masker N95 jika melakukan tindakan yang menghasilkan aerosol, pakaikan pasien masker bedah jika pasien masih batuk

H. PENGGUNAAN SPIL KIT DI RAWAT INAP

Spill Kit adalah seperangkat alat yang digunakan untuk menangani jika terjadi tumpahan darah/ cairan tubuh infeksius agar tidak membahayakan tenaga kesehatan, pengunjung dan orang lain yang berada di lingkungan pelayanan kesehatan dan lingkungan sekitarnya.

Prosedur penggunaan spill kit untuk pembersihan tumpahan darah dan cairan tubuh 1. Ambil spill kit, papan peringatan, lap pel, ember berisi air klorin 0,5%

2. Pasang tanda peringatan awas lantai licin 3. Gunakan APD: sarung tangan, masker 4. Jika tumpahan dalam jumlah sedikit/tetesan:

a. Semprotkan cairan KLORIN 0,5% ke permukaan yang terkena tumpahan

b. Bersihkan dengan kertas koran/tissue/kain lap lalu buang ke kantong plastik kuning c. Semprotkan cairan deterjen lalu bersihkan dengan kain pembersih sekali pakai d. Buang kain pembersih ke kantong warna kuning

e. Bersihkan dengan kain pel yang telah dibasahi larutan klorin 0,5%

5. Jika tumpahan sangat banyak:

a. Gunakan APD : gaun pelindung, masker, sarung tangan karet, sepatu boot, googles b. Tuang larutan klorin 0,5% diatas tumpahan

c. Tutup dengan koran/kain pembersih, diamkan selama 3-5 menit hingga menyerap d. Bersihkan dengan serok dan penjepit

e. Buang koran/kain pembersih ke kantong warna kuning

67

f. Semprotkan cairan deterjen lalu bersihkan dengan kain pembersih sekali pakai g. Buang kain pembersih ke kantong warna kuning

Bersihkan dengan kain pel yang telah dibasahi larutan klorin 0,5%

6. Biarkan area yang dibersihkan sampai kering agar antiseptik bekerja 7. Rendam kain pel dengan larutan klorin 0.5%

8. Lepaskan APD dan buang ke kantong kuning 9. Bereskan alat

10. Lakukan kebersihan tangan

11. Bila terjadi paparan darah/cairan tubuh pada staff ikuti prosedur standar (SPO tindakan pasca tertusuk benda tajam dan paparan substansi tubuh atau hubungi IPCN/kepala ruang

68

BAB VIII

PROGRAM MUTU RAWAT INAP

Pelaporan indikator mutu rawat inap dilaporkan oleh staf ruangan yang telah ditunjuk oleh tim PMKP dan diketahui oleh kepala ruangan.

Adapun Standar pelayanan minimal Rumah Sakit dalam pedoman ini meliputi jenis-jenis pelayan, indikator dan standar pencapaian kinerja pelayanan Rumah Sakit.

Jenis-jenis pelayanan Rumah Sakit yang minimal wajib disediakan oleh Rumah Sakit meliputi:

1. Pelayanan Gawat Darurat 2. Pelayanan rawat jalan 3. Pelayanan Rawat Inap 4. Pelayanan bedah

5. Pelayanan persalinan dan perinatologi 6. Pelayanan intensif

Dibawah ini merupakan SPM rawat inap berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No 129/MENKES /SK/II/2008 tentang STANDAR PELAYANAN MINIMAL RAWAT INAP

No Jenis pelayanan Indikator standar

1 Rawat Inap 1. Pemberi pelayanan di Rawat Inap

2. Dokter penanggung jawab pasien Rawat Inap

3. Ketersediaan pelayanan rawat inap

4. Jam visite dokter spesialis 5. Kejadian infeksi paska operaasi 6. Kejadian infeksi nosokomial

7. Tidak adanya kejadian pasien jatuh yang berakibat kecacatan/kematian 8. Kematian pasien ≥ 48 jam

9. Kejadian pulang paksa 10. Kepuasan pelanggan 11. Rawat Inap TB:

Penegakan diagnosis TB melalui pemeriksaan mikroskopis TB 12. Terlaksanannya kegiatan

pencatatan dan pelaporan TB di Rumah Sakit

a. Dokter spesialis

b. perawat minimal D3 keperawatan

100 % a. Anak

b. Penyakit dalam c. Kebidanan d. Bedah

1 x 24 jam

≤ 1.5 %

≤ 1.5 % 100 % 0.24 % 5 % 90 % 100 %

100 %

69

13. Ketersediaan pelayanan Rawat Inap di Rumah Sakit yang memberikan pelayanan jiwa 14. Tidak adanya kejadian kematian

pasien gangguan jiwa karena bunuh diri

15. Kejadian readmission pasien gangguan jiwa dalam waktu ≤ 1 bulan

16. Lama hari parawatan pasien gangguan jiwa

NAPZA, gangguan psikotik, gannguan neurotik, dan gangguan mental organik 100 %

100%

≤ 6 minggu

Selain indikator diatas setiap ruang rawat inap dapat menambahkan indikator penilaian sesuai apa yang ada diruangan seperti :

1. Kepatuhan upaya pencegahan risiko cedera akibat pasien jatuh pada pasien rawat inap

2. Kepatuhan cuci tangan

3. Waktu lapor hasil test kritis laboratorium 4. Kepatuhan identifikasi pasien

5. Kejadian dekubitus selama masa perawatan

6. Penumonia akibat pemakaian ventilator (ventilator assosiated penuomonia/vap) 7. Infeksi saluran kemih (isk)

8. Jam pulang pasien rawat inap

70

BAB IX

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

A. PENGERTIAN

K3RS (Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit) adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan bagi sumber daya manusia rumah sakit, pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun lingkungan rumah sakit melalui upaya pencegahan kecelakan kerja dan penyakit akibat kerja di rumah sakit

Keselamatan dapat dilihat dari segi : 1. Keselamatan petugas 2. Keselamatan pasien 3. Keselamatan pengunjung

B. TUJUAN

1. Keselamatan dan keamanan di Rumah Sakit bertujuan untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

2. Manajemen risiko K3RS bertujuan untuk meminimalkan risiko keselamatan dan kesehatan di Rumah Sakit sehingga tidak menimbulkan efek buruk terhadap keselamatan dan kesehatan SDM Rumah Sakit, pasien, pendamping pasien, dan pengunjung.

3. Pengaturan K3RS bertujuan untuk terselenggaranya keselamatan dan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit secara optimal, efektif, efisien dan berkesinambungan.

4. Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari aspek keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit bertujuan untuk melindungi sumber daya manusia Rumah Sakit, pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun lingkungan Rumah Sakit dari pajanan dan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

5. Pencegahan dan pengendalian kebakaran bertujuan untuk memastikan SDM Rumah Sakit, pasien, pendamping pasien, pengunjung, dan aset Rumah Sakit aman dari bahaya api, asap, dan bahaya lain.

6. Pengelolaan prasarana Rumah Sakit dari aspek keselamatan dan Kesehatan Kerja bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dengan memastikan kehandalan sistem utilitas dan meminimalisasi risiko yang mungkin terjadi.

7. Pengelolaan peralatan medis dari aspek keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit bertujuan untuk melindungi SDM Rumah Sakit, pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun lingkungan Rumah Sakit dari potensi bahaya peralatan medis baik saat digunakan maupun saat tidak digunakan.

8. Kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat atau bencana bertujuan untuk meminimalkan dampak terjadinya kejadian akibat kondisi darurat dan bencana yang dapat menimbulkan kerugian fisik, material, dan jiwa, mengganggu operasional, serta menyebabkan kerusakan lingkungan, atau mengancam finansial dan citra Rumah Sakit.

71

9. Unit Pelayanan Kesehatan Kerja Rumah Sakit bertujuan untuk menurunkan kejadian dan prevalensi penyakit pada SDM Rumah Sakit dari penyakit menular, penyakit tidak menular, penyakit akibat kerja, dan kecelakaan akibat kerja.

C. PELAKSANAAN RENCANA K3RS

Program K3RS dilaksanakan berdasarkan rencana yang telah ditetapkan dan merupakan bagian pengendalian risiko keselamatan dan Kesehatan Kerja. Adapun pelaksanaan K3RS meliputi:

1. Manajemen risiko K3RS

2. Keselamatan dan keamanan di Rumah Sakit

Setiap petugas medis maupun non medis menjalankan prinsip pencegahan infeksi, yaitu:

• Menganggap bahwa pasien maupun dirinya sendiri dapat menularkan infeksi.

• Selalu melakukan cuci tangan 6 langkah dan menerapkan Five moment cuci tangan

• Menggunakan alat pelindung APD sesuai level pelayanan

• Menggunakan APD (sarung tangan, kacamata, sepatu boot/alas kaki tertutup, celemek, masker dll) terutama bila terdapat kontak dengan spesimen pasien yaitu:

urin, darah, muntah, sekret, dll.

• Melakukan tindakan yang aman bagi petugas maupun pasien, sesuai SPO yang berlaku

• Mencuci tangan dengan sabun antiseptik sebelum dan sesudah menangani pasien.

3. Pelayanan Kesehatan Kerja

a) Adanya program vaksinasi rutin seperti (hepatitis)

b) Adanya program pemberian vitamin untuk tenaga kesehatan yang bekerja di RS c) APD selalu disediakan oleh RS (gown, masker, nurse cap, handscoon dll)

4. Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari Aspek keselamatan dan Kesehatan Kerja

a) Sampah B3 di siapkan tempat dan penyimpanan khusus yang diawasi oleh petugas IPSRS

b) Setiap staf RS wajib memilah sampah infeksius dan non infeksius sesuai tempat sampah yang telah di siapkan

c) Sampah jarum buang di safety box yang telah disediakan 5. Pencegahan dan pengendalian kebakaran

a) Petugas IPSRS serta kepala ruang rutin mengecek ketersedian dan tanggal expired dari tabung APAR yang ada diruangan

b) Kepala ruang rutin melakukan breafing penggunaan APAR kepada setiap staf yang ada diruangannya

6. Pengelolaan prasarana Rumah Sakit dari Aspek keselamatan dan Kesehatan Kerja a) Kepala ruang rutin mengecek sarana dan prasaran yang ada diruangannya apakah

berfungsi dengan baik atau tidak

b) Hasil pengecekan dilaporkan kepada petugas IPSRS untuk ditindak lanjuti

72

7. Pengelolaan peralatan medis dari Aspek keselamatan dan Kesehatan Kerja

a) Kepala ruang rutin mengecek ketersediaan dan keberfungsian alat medis diruangan b) Kepala ruangan mempunyai catatan kalibrasi alat medis yang ada diruangan

8. Kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat atau bencana. Pelaksanaan K3RS tersebut harus sesuai dengan standar K3RS.

a) Adanya pelatihan kebakaran yang dilakukan oleh RS

b) Kepala ruang selalu membriefing staf baru tentang alur kondisi darurat atau bencana

D. BAHAYA DAN RISIKO DI RUMAH SAKIT

Bahaya adalah suatu keadaan/kondisi yang dapat mengakibatkan (berpotensi) menimbulkan kerugian (cedera/injury/penyakit) bagi pekerja, menyangkut lingkungan kerja, pekerjaan (mesin, metoda, material), pengorganisasian pekerjaan, budaya kerja dan pekerja lain.

Berikut adalah potensi bahaya di rumah sakit:

1. Fisik, contohnya kebisingan, suhu, getaran, lantai licin.

2. Kimia, contohnya formaldehid, alkohol, ethiline okside, bahan pembersih lantai, desinfectan, clorine.

3. Biologi, contohnya bakteri, virus, mikroorganisme, tikus, kecoa, kucing dan sebagainya.

4. Ergonomi, contohnya posisi statis, manual handling, mengangkat beban.

5. Psikososial, contohnya beban kerja, hubungan atasan dan bawahan, hubungan antar pekerja yang tidak harmonis.

6. Mekanikal, contohnya terjepit mesin, tergulung, terpotong, tersayat, tertusuk.

7. Elektrikal, contohnya tersengat listrik, listrik statis, hubungan arus pendek kebakaran akibat listrik.

8. Limbah, contohnya limbah padat medis dan non medis, limbah gas dan limbah cair.

E. SUPERVISI PELAKSANAAN K3RS

Penerapan supervisi pelaksanaan K3RS antara lain:

1. Supervisi tempat kerja dan cara kerja dilaksanakan secara teratur.

2. Supervisi dilakukan oleh petugas IPSRS dan kepala ruang

3. Supervisi dan inspeksi mencari masukan dari petugas yang melakukan tugas ditempat yang diperiksa.

4. Daftar periksa (check list) tempat kerja telah disusun untuk digunakan pada saat supervisi.

5. Laporan supervisi diajukan kepada organisasi/unit yang bertanggung jawab di bidang K3RS sesuai dengan kebutuhan.

6. Tindakan korektif dipantau untuk menentukan efektifitasnya.

7. Pimpinan Rumah Sakit menetapkan penanggung jawab untuk pelaksanaan tindakan perbaikan dari hasil laporan supervisi dan inspeksi

73

BAB X PENUTUP

Dengan tersusunnya Pedoman Pelayanan Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Kharitas Bhakti Pontianak ini diharapkan:

1. Dapat memberikan pemahaman kepada semua pihak yang terkait.

2. Diharapkan dengan dukungan, kerjasama dan partisipasi dari semua pihak yang terkait, pedoman ini dapat terlaksana sesuai dengan apa yang diharapkan demi terwujudnya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit Kharitas Bhakti Pontianak.

Ditetapkan di : Pontianak

Pada tanggal : 31 Desember 2021 Direktur RS Kharitas Bhakti

drg. Krisna Karhianto

Poliklinik - UGD - ICU - Unit Bersalin - Perinatologi - Rawat Inap - Laboratorium - Apotek - Radiologi

Jl. Siam No. 153 Pontianak 78122 Kalimantan Barat Telp. (0561) 734373 Fax. (0561) 768969

Email : [email protected]

TATA TERTIB

RUMAH SAKIT KHARITAS BHAKTI

1. Jam masuk dinas

Shift pagi : Pukul 06.45 – 14.00 WIB Shift sore : Pukul 13.45 – 21.00 WIB Shift malam : Pukul 20.45 – 07.00 WIB

2. Jam istirahat makan bagi karyawan ( berlaku izin maksimal hanya 30 menit) secara bergantian Pagi : Pukul 10.00 – 11.30 WIB

Sore : Pukul 17.00 – 18.30 WIB 3. Karyawan RS dilarang makan di nurse station.

4. Hari kerja dalam 1 (satu) bulan bagi karyawan bekerja secara shift yaitu 22 – 24 hari.

5. Jika karyawan tidak masuk selama 2 (dua) hari berturut-turut tanpa pemberitahuan maka dianggap yang bersangkutan telah mengundurkan diri.

6. Bagi karyawan yang berhalangan hadir, diwajibkan meminta izin kepada atasan dengan alasan yang jelas dan benar, jika tidak ada pemberitahuan/keterangan atau memberikan alasan yang tidak masuk akal maka atasan berhak tidak memberikan izin. Jika karyawan tersebut tetap tidak masuk, atasan boleh menegur atau memberikan surat peringatan (SP) jika teguran tidak diindahkan.

7. Bagi karyawan yang tidak masuk secara bersamaan (mogok kerja), maka pihak rumah sakit berhak melakukan pemutusan hubungan kerja secara sepihak.

8. Bagi karyawan yang datang terlambat dalam 1 (satu) bulan :

− datang jam dinas melewati jam masuk sampai 15 menit maka tetap mendapat uang rajin sebesar Rp. 200.000,

− telat 15 - 30 menit maka karyawan yang bersangkutan tidak mendapatkan tambahan uang rajin dan tidak mendapatkan potongan insentif

− telat 30 - 60 menit maka tidak mendapatkan uang rajin dan mendapat potongan insentif sebesar Rp. 200.000

− telat diatas 60 menit (1 jam) maka tidak mendapatkan uang rajin dan mendapatkan potongan insentif sebesar Rp. 500.000.

9. RS tidak akan mentoleransi karyawan yang sering datang tidak tepat waktu dan jika tidak mengindahkan teguran yang diberikan oleh kepala ruangan atau atasan di unit terkait, maka pihak manajemen akan memberikan sanksi berupa surat peringatan (SP) kepada yang bersangkutan.

10. Jika karyawan menolak perintah atasan yang berhubungan dengan pekerjaan, maka akan diberikan sanksi berupa surat peringatan (SP) kepada yang bersangkutan.

11. Tidak mengindahkan teguran atasan dan berbicara serta bertingkahlaku tidak sopan kepada atasan, rekan kerja, pasien atau keluarga pasien, maka karyawan bersangkutan akan diberikan surat peringatan (SP).

12. Karyawan yang bekerja disemua unit harus bersedia untuk diroling atau dimutasikan keunit lainnya.

13. Batas tukar jadwal dinas dalam 1 (satu) bulan maksimal hanya 3 (tiga) kali dengan alasan yang dapat diterima, dan tidak diperkenankan karyawan dengan sengaja menabung libur dengan jadwal dinas yang berkelanjutan tanpa persetujuan atasan.

14. Karyawan tidak diperkenankan dinas dalam 3 shift berturut turut, maksimal shift yang dihandle dalam waktu 24 jam adalah 2 shift dengan jeda satu shift untuk istirahat.

15. Pengajuan cuti harus dilakukan satu bulan atau maksimal 2 (dua) minggu sebelum tanggal cuti berlangsung, kepala ruang atau bidang keperawatan berhak tidak mengizinkan cuti jika

Poliklinik - UGD - ICU - Unit Bersalin - Perinatologi - Rawat Inap - Laboratorium - Apotek - Radiologi 16. Hak cuti bulanan hanya bisa diambil oleh 3 (tiga) orang karyawan saja perbulannya dalam 1

(satu) ruangan tapi jika kondisi ruangan tidak memungkinkan dikarenakan kekurangan staf maka kepala ruang berhak membatasi jumlah karyawan yang cuti di ruangannya.

17. Bagi karyawan wanita yang telah mengambil cuti melahirkan masih berhak mengambil cuti tahunan selama 12 hari ditahun yang sama (berlaku bagi karyawan tetap).

18. Mengunakan seragam dinas yang lengkap dan rapi meliputi :

− baju dinas.

− Name tag.

− Menggunakan sepatu (hitam /putih) dan kaos kaki saat dinas.

− Bagi tenaga kesehatan wanita yang menggunakan jilbab, maka wajib menggunakan jilbab dari RS dan saat digunakan harus dimasukkan ke dalam kerah baju.

− Bagi perawat wanita dan bidan yang tidak menggunakan jilbab maka diwajibkan menggunakan kap kepala dan rambut harus diikat rapi menggunakan cepol, rambut tidak boleh diwarnai (warna yang terang).

− Tidak menggunakan perhiasan yang berlebihan, dan berdandan / make up yang mencolok.

19. Bagi karyawan pria rambut tidak boleh panjang dan berwarna yang mencolok, serta tidak boleh brewokan dan menggunakan anting

20. Karyawan dilarang bertato, dan menggunakan kuteks kuku.

21. Karyawan RS (khusus tenaga kesehatan) dilarang berkeliaran diluar lingkungan RS menggunakan seragam dinas / keluar saat jam dinas, wajib pergi dinas dan pulang dinas menggunakan baju bebas rapi.

22. Tidak boleh tidur disaat jam dinas.

23. Dilarang memalsukan tanda tangan atasan dan stempel RS atau menggunakan stempel RS untuk kepentingan pribadi tanpa izin dari pihak RS.

24. Dilarang menggunakan telpon kantor untuk kepentingan pribadi.

25. Dilarang bermain HP, Gadget maupun game di komputer saat jam dinas, jika karyawan yang bersangkutan masih bermain HP atau gadget disaat jam dinas maka atasan berhak menyita HP tersebut.

26. Karyawan dilarang memposting foto atau video apapun dimedia sosial yang berhubungan dengan lingkungan rumah sakit dan atribut rumah sakit kecuali dalam rangka kegiatan yng dilakukan oleh rumah sakit, jika diketahui karyawan yang bersangkutan melakukan hal tersebut maka pihak manajemen berhak memberikan sanksi berupa surat peringatan (SP) sampai dengan tindakan pemutusan hubungan kerja secara sepihak.

27. Karyawan dilarang membuat status dimedia sosial yang berhubungan dengan pasien, pelayanan rumah sakit maupun situasi internal yang ada dirumah sakit, jika diketahui karyawan yang bersangkutan melakukan hal tersebut maka pihak manajemen berhak memberikan sanksi berupa surat peringatan (SP) sampai dengan tindakan pemutusan hubungan kerja secara sepihak.

28. Suami istri tidak boleh bekerja dalam satu unit.

29. Selama masih berstatus karyawan Rumah Sakit Kharitas Bhakti dilarang untuk datang atau masuk ke diskotik atau lingkungannya (menggunakan seragam atau atribut yang berhubungan dengan RS), dan apabila diketahui akan diberikan sanksi berupa surat peringatan (SP) sampai dengan tindakan pemutusan hubungan kerja secara sepihak.

30. Dilarang membawa teman atau anggota keluarga yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan kedalam lingkungan Rumah Sakit.

31. Dilarang keras melakukan tindak kriminal maupun asusila di lingkungan RS.

32. Dilarang merokok di lingkungan Rumah Sakit.

Dalam dokumen PEDOMAN PELAYANAN RAWAT INAP (Halaman 68-73)

Dokumen terkait