KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
6. Jenis-jenis Karangan di SD
Karangan merupakan sebuah karya tulis yang mengungkap tentang sebuah pikiran ide, gagasan, dan pendapat kepada para pembaca. Ada beberapa jenis karangan menurut Hastuti (1993) Karangan dapat dibedakan menjadi empat jenis, antara lain:
a. Deskripsi
Karangan Deskripsi yaitu karangan yang berisikan tentang gambaran mengenai suatu peristiwa atau keadaan sehingga para pembaca seakan-akan meraskan, mengalaminya, melihat apapun dan mendengarkan kejadian atau peristiwa di dalamnya. Dengan tujuan agar menciptakan daya khayal para pembaca tentang apa yang dialami oleh si penulis. Contohnya : Gambaran tentang kisah Danau Toba.
20
Karakteristik karangan deskripsi adalah Karangan yang menggambarkan atau melukiskan suatu objek tententu. Dengan tujuan agar menciptakan kesan pada diri pembaca agar seolah-olah dapat merasakan, mengalami, melihat atau mendengar langsung kejadian yang dideskripsikan oleh penulis. Dalam penulisannya bersifat objektif, biasanya berupa manusia, tempat ataupun hal yang bisa dipersonifikasikan.
b. Ekposisi
Karangan Eksposisi yaitu suatu bentuk karangan atau tulisan yang berisikan tentang uraian yang dapat dilengkapi dengan grafik, gambar dan statistik serta penjelasan, pemaparan suatu pokok pikiran atau topik utama dengan tujuan untuk memberikan informasi kepada pembaca dengan sejalasnya- jelasnya. Contohnya : Sebuah wacana tentang cara pemilihan umun. Sebagai cacatan tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi tentang langkah/cara / proses kerja.
Karakteristik karangan eksposisi adalah menyatakan sesuatu yang meemang benar-benar terjadi atau faktual, menjelaskan informasi supaya pembaca mengetahuinya dan menunjukkan penafsiran atau analisis secara objektif terhadapa kenyataan yang diangkat.
c. Argumentasi
Karangan Argumentasi yaitu bentuk karangan atau tulisan yang berisikan tentang alasan, contoh bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan pembaca sehingga para pembaca akan terpengaruh dan membenarkan apa pendapat, keyakinan, gagasan, dan sikap penulis. Dalam argumentasi pengarang
21
mengharapkan pembenaran pendapat dari pembaca Contohnya : wacana alasan tentang diperlukannya General Check-Up setahun sekalli.
22 d. Narasi
Karangan narasi yaitu suatu bentuk karangan yang berisikan cerita tentang suatu rangkaian peristiwa yang bertujuan untuk memperluas pengalaman orang lain biasanya tersusun sesuai urutan waktu. Di dalam narasi adapula tokoh yang menghadapi konflik. Narasi dapat berisi fakta atau fiksi, narasi yang berisi fakta disebut ekspositorik, sedangkan narasi yang berisi fiksi disebut narasi sugestif Contohnya : novel, cerpen, puisi, dan biografi.
7. Hakikat Karangan Deskripsi
Apabila seseorang menuangkan buah pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman atau lainya kedalam bahasa tulis, kegiatan tersebut adalah kegiatan mengarang. Untuk dapat menyampaikan suatu pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman atau lainnya, seseorang perlu memiliki perbendaharaan kata yang memadai, terampil menyusun kata-kata menjadi kalimat yang jelas, dan mahir memakai bahasa secara efektif. Sebagaimana dikemukakan oleh The Liang Gie (1992: 18), bahwa Untuk dapat menyampaikan gagasan dan fakta secara lincah dan kuat, seseorang perlu memiliki perbendaharaan kata yang memadai, terampil menyusun kata- kata menjadi beraneka kalimat yang jelas, dan mahir memakai bahasa secara efektif.
Karangan adalah suatu bentuk sistem komunikasi lambang visual (Burhan Nurgiyantoro, 2001: 296). Sedangkan menurut The Liang Gie (1992: 17) karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Jadi karangan itu merupakan hasil dari mengarang, seseorang yang ingin menghasilkan karangan harus melalui
23 kegiatan mengarang.
a. Pengertian Deskripsi
Deskripsi dalam Kamus Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008: 347) yaitu pemaparan dengan kata-kata secara jelas dan terperinci.
Jadi deskripsi memaparkan (menunjukkan atau menggambarkan) sesuatu dengan kata-kata secara jelas dan terperinci sesuai dengan apa adanya.
M. Atar Semi mengemukakan bahwa Deskripsi ialah tulisan yang tujuannya untuk memberikan rincian atau detil tentang objek sehingga dapat memberi pengaruh pada emosi dan menciptakan imajinasi pembaca bagaikan melihat, mendengar, atau merasakan langsung apa yang disampaikan penulis.
Senada dengan pendapat tersebut, Ismail Marahimin (2004: 45) mengatakan bahwa Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata suatu benda, tempat, suasana atau keadaan.
The Liang Gie (1992: 18) adalah Bentuk pengungkapan yang menggambarkan berbagai cerapan pengarang dengan segenap inderanya yang bermaksud menimbulkan citra yang sama dalam diri pembaca. Melalui penggambaran tersebut diharapkan pembaca dapat seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan sesuai yang ditulis pengarang.
Suparno dan Mohamad Yunus (2006: 1.11) mengungkapkan bahwa Deskripsi adalah ragam wacana yang melukiskan atau menggambarkan sesuatu berdasarkan kesan-kesan dari pengamatan, pengalaman, dan perasaan penulisnya. Sasaran dari deskripsi adalah menciptakan atau memungkinkan terciptanya imajinasi (daya khayal) pembaca sehingga dia seolah-olah melihat,
24
mengalami, dan merasakan sendiri apa yang di dialami oleh penulis.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, karangan deskripsi adalah karangan yang memaparkan dan menggambarkan suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah- olah melihat, mengalami, dan merasakan sendiri apa yang di dialami oleh penulis.
Deskripsi memiliki ciri-ciri yang dapat dicermati oleh pembaca. Lebih lanjut M. Atar Semi (2007: 66) mengungkapkan bahwa Deskripsi mempunyai ciri penanda sebagai berikut:
1. Berupaya memperlihatkan detil atau rincian tentang objek.
2. Lebih bersifat mempengaruhi emosi dan membentuk imajinasi pembaca.
3. Umumnya menyangkut objek yang dapat diindera oleh pancaindera sehinggga objeknya pada umumnya, benda, alam, warna dan manusia 4. Disampaikan dengan gaya memikat dan dengan pilihan kata yang
menggugah
5. Organisasi penyajiannya lebih umum menggunakan susunan ruang.
Paujiyanti (2014) menyatakan ciri- ciri karangan deskrispsi yaitu : 1. Penggambaran yang dilakukan dengan melibatkan panca indra 2. Memberikan gambaran tentang suatu benda, tempat maupun suasana.
3. Memberikan penjelasan mengenai objek yang sedang dideskripsikan 4. Memiliki tujuan agar seolah-olah pembaca dapat ikut mendengar, melihat,
maupun merasakan yang dideskripsikan oleh penulis itu sendiri
Dari penjelasan di atas, tampak bahwa deskripsi memiliki ciri-ciri khusus, yaitu berupaya menggambarkan memperlihatkan detil atau rincian tentang
25
objek, Lebih bersifat mempengaruhi emosi dan membentuk imajinasi pembaca, Umumnya menyangkut objek yang dapat diindera oleh pancaindera, Membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri, Disampaikan dengan gaya memikat dan dengan pilihan kata yang menggugah, dan Organisasi penyajiannya lebih umum menggunakan susunan ruang.
b. Jenis Deskripsi
M. Atar Semi (2007: 67) karya tulis deskripsi dapat dibagi atas dua jenis, yaitu deskripsi artistik, dan (2) deskripsi ekspositorik. Berbeda dengan pendapat tersebut, Ismail Marahimin (2004: 46) membedakan karangan deskripsi secara garis besar yaitu (1) deskripsi ekspositori, dan (2) deskripsi impresionistis.
Dari pendapat para ahli tersebut dapat diambil suatu kesimpulan karangan deskripsi meliputi, (1) deskripsi artistik, (2) deskripsi ekspositorik, dan (3) deskripsi impresionistis. Berikut penjelasannya:
1. Deskripsi Artistik
Deskripsi artistik merupakan deskripsi yang memiliki nilai artistik atau nilai keindahan karena cara penyajiannya dengan menggunakan gaya bahasa sastra.
2. Deskripsi Ekpositorik
Deskripsi ekspositorik merupakan deskripsi yang hampir mendekati bentuk eksposisi, baik mengenai isi, yang cenderung fakta, maupun gaya penyajiannya yang cenderung lugas.
3. Deskripsi Impresionistis
26
Deskripsi impresionistis, kadang-kadang dinamakan juga deskripsi stimulatif, adalah untuk menggambarkan impresi penulisnya, atau untuk menstimulir pembacanya.
c. Tahap-tahap dalam Menulis Deskripsi
Agar hasil tulisan menjadi lebih baik, maka dalam kegiatannya akan dibutuhkan beberapa tahap-tahap menulis. Menurut Slamet (2007) bahwa menulis merupakan serangkaian aktivitas (kegiatan) yang terjadi dan melibatkan beberapa fase (tahap) yaitu fase pramenulis (persiapan), penulisan (pengembangan isi karangan), dan pasca penulisan ( telah dan revisi atau penyempurnaan tulisan). Sehubungan dengan hal ini DePorter dan Hernacki (2006) menyatakan ada tujuh tahapan dalam proses penulisan:
(1) persiapan, yeitu mengelompokkan dan memulai menulis; (2) draft- kasar, yaitu mencari dan mengembangkan gagasan; (3) berbagi, memberikan draft tulisan untuk di baca orang lain dan mendapatkan umpan balik; (4) perbaikan, yaitu memperbaiki tulisan; (5) penyuntingan adalah memperbaiki semua kesalahan, tata bahasa dan tanda baca; (6) penulisan kembali, memasukkan isi yang baru dan perubahan penyuntingan; dan (7) evaluasi, yaitu memeriksa apakah sudah selesai atauka belum. Keraf (2004) menyatakan bahwa rangkaian aktivitas menulis meliputi: a) pramenulis, b) penulisan draft, c) revisi, d) penyuntingan, e) publikasi atau pembahasan.
Sementara itu Tample dkk. (Ahmad dan Darmiyanti, 2002) mengidentifikasi bahwa ada 4 tahap perkembangan tulisan yang dialami anak, yaitu:
prafonemik, fonemik tahap awal, nama-huruf, transisi, dan menguasai.
27
Dalam tahap ini anak SD perlu mendapatkan bimbingan dalam memahami dan menguasai cara mentransfer pikiran ke dalam tulisan. Combs (Ahmad dan Darmiyanti, 2002) mengungkapkan bahwa perkembangan menulis mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Prinsip keterulangan (recurring principle): anak menyadari bentuk- bentuk tulisan secara lebih rinci, menggunakan beberapa huruf dalam kombinasi dan pola yang beragam
2) Prinsip generatif (generative principle): anak menyadari bentuk-bentuk tulisan secara lebih rinci, mengguankan beberapa huruf dalam kombinasi dan pola yang beragam
3) Konsep tanda (sign concept): anak memahami keterbitan tanda-tanda dalam bahasa tulis.
4) Fleksibelitas (flexibility): anak menyadari bahwa suatu tanda secara fleksibel dapat menjadi tanda lain.
5) Arah tanda (directionality): anak menyadari bahwa tulisan bersifat linier, bergerak dari satu huruf yang lain sampai membentuk suatu kata, dari arrah kiri menuju ke arah kanan, bergerak dari aris yang satu menuju baris yang lain..
Menurut Ahmad dan Darmiyanti (2002) menulis dapat dipadang sebagai rangkaian aktivitas yang bersifat fleksibel, yang meliputi: pramenulis, penulis draft, revisi, penyuntingan, dan publikasi atau pembahasan. Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan
28 d. Penilaian Menulis Deskripsi
Tes kebahasaan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh guru dalam pembelajaran bahasa. Melalui penilaian tersebut akan dapat diketahui hasil belajar siswa secara objektif. Penilaian akan mendapatkan hasil yang baik jika aspek- aspek yang dinilai dalam tulisan disajikan secara lebih rinci.
Kegiatan menulis melibatkan aspek penggunaan tanda baca dan ejaan penggunaan diksi dan kosakata, penataan kalimat, pengembangan pargaraf, pengolahan gagasan dan pengembangan model karangan. Seheungan dengan itu menurut Machmoed Nurgiyanto (2009) menyatakan bahwa kategori-kategori pokok mengarang meliputi: 1) kulitas dn ruang lingkup isi, 2) gaya dan bentuk bahasa, 3) mekanik: tata bahasa, ejaan, tanda baca, kerapian tulisan, dan kebersihan. Sejalan dengan hal tersebut Harris dan Amran dalam Nurgiyantoro (2009:306) mengemukakan bahwa unsur-unsur mengarang yang dinilai yakni content (isi, gagasan yang dikemukakan), form (organisasi isi), grammar ( tata bahasa dan pola kalimat), syle (gaya: pilihan struktur dan kosa kata), dan mechanics (ejaan)”. Apabila dilihat dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulan bahwa unsur utama dalam mengarang yang dinilai adalah kualitas isi karangan yang selanjutnya diikuti dengan organisasi, gaya bahasa, ejaan, dan tanda baca.
Oleh karena itu, pembobotan atau skor penilaian untuk unsur utama dan terpenting ini meliliki porsi lebih besar bila dibandingkan dengan unsur yang lain.
Seluruh aspek penilaian menulis karangan tersebut dapat disajikan dalam bentuk Tabel 2.1 Aspek Penilaian Menulis Karangan Deskripsi (Nurgiyanto, 2009; 307-308)
29 Aspek
penilaian
Skor Kriteria
I S I
27-30
22-26
17-21
13-16
Sangat baik-Sempurna: padat informasi, substansif, pengembangan tesis tuntas, dan relevan dengan permasalahan dan tuntas.
Cukup-Baik: informasi cukup, substansi cukup, pengembangan tesis terbatas, dan relevan dengan masalah tetapi tidak lengkap.
Sedang-Cukup: informasi terbatas, substansi kurang, pengembangan tesis tidak cukup dan permasalahan tidak cukup.
Sangat-Kurang: tidak berisi, tidak ada substansi, tidak ada pengembangan tesis, dan tidak ada permasalahan.
O R G A N I S A S I
18-20
14-17
10-13
7 -9
Sangat baik-Sempurna: ekspresi lancar, gagasan diungkapkan dengan jelas, padat, tertata dengan baik, urutan logis, dan kohesif.
Cukup-Baik: kurang lancar, kurang terorganisir tetapi ide utama terlihat, bahan pendukung terbatas, dan urutan logis tetapi tidak lengkap.
Sedang-Cukup: tidak lancar, gagasan kacau, terpotong- potong, urutan dan pengembangan tidak logis.
Sangat Kurang: tidak komunikatif, tidak terorganisir dan tidak layak nilai.
30 K
O S A
K A T A
18-20
14-17
10-13
7-9
Sangat baik-Sempurna: pemanfaatan potensi kata canggih, pilihan kata dan ungkapan tepat, dan menguasai pembentukan kata.
Cukup-Baik: pemanfaatan potensi kata agak canggih, pilihan kata dan ungkapan kadang-kadang kurang tepat tetapi tidak mengganggu.
Sedang-Cukup: pemanfaataan potensi kata terbatas, sering terjadi kesalahan penggunaan kosa kata dan dapat merusak makna.
Sangat Kurang: pemanfaatan potensi kata asal-asalan, pengetahuan tentang kosa kata rendah, dan tidak layak nilai.
P E N G B A H A S A
22-25
18-21
11-17
5-10
Sangat baik-Sempurna: konstruksi kompleks tetapi efektif dan hanya terjadi sedikit kesalahan penggunaan bentuk kebahasaan
Cukup-Baik: konstruksi sederhana tetapi efektif, kesalahan kecil tetapi konstruksi kompleks, dan terjadi sejumlah kesalahan tetapi makna tidak kabur.
Sedang-Cukup: terjadi kesalahan serius dalam konstruksi kalimat dan makna membingungkan atau kabur.
Sangat Kurang: tidak menguasai aturan sintaksis, terdapat banyak kesalahan, tidak komunikatif, dan tak layak nilai
31 M
E K A N I K
4
3
2
1
Sangat baik-Sempurna: menguasai aturan penulisan dan hanya terdapat beberapa kesalahan ejaan
Cukup-Baik: kadang-kadang terjadi kesalahan ejaan tetapi tidak mengaburkan makna
Sedang Cukup: Sering terjadi kesalahan ejaan dan makna membingungkan atau kabur
Kurang: Tak menguasai aturan punilisan, terdapat banyak kesalahana
8. Media Gambar
A. Pengertian Media Gambar
Secara harfiah, kata media berasal dari bahasa latin medium yang memiliki arti “perantara” atau “pengantar”. Menurut Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Guruan (Association for Education and Communication technology/AECT) mendefinisikan media sebagai benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional (Asnawir dan Usman, 2002:11).
Gerlach & Ely, mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Secara khusus, pengertian media dalam proses
32
belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal (Arsyad, 2002:3).
Media pengajaran menurut Ibrahim dan Syaodih (2003:112) diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan atau isi pelajaran, merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan siswa, sehingga dapat mendorong proses belajar mengajar.
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa media adalah segala benda yang dapat menyalurkan pesan atau isi pelajaran sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar.
B. Fungsi Media Pembelajaran
Penggunaan media pembelajaran dapat membantu meningkatkan pemahaman dan daya serap siswa terhadap materi pelajaran yang dipelajari. Berikut ini fungsi-fungsi dari penggunaan media pembelajaran menurut Asnawir dan Usman (2002: 24) : (a) Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan membantu memudahkan mengajar bagi guru. (b) Memberikan pengalaman lebih nyata (yang abstrak dapat menjadi lebih konkrit). (c) Menarik perhatian siswa lebih besar (kegiatan pembelajaran dapat berjalan lebih menyenangkan dan tidak membosankan). (d) Semua indra siswa dapat diaktifkan. (e) lebih menarik perhatian murid dalam belajar
.
33 C. Klasifikasi Media Pembelajaran
Gagne & Briggs dalam Arsyad (2002: 4) mengemukakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang terdiri dari, antara lain: buku, tape-recorder, kaset, video kamera, video recorder, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer. Berikut ini akan diuraikan klasifikasi Media Pembelajaran menurut Taksonomi Leshin, dkk, dalam (Arsyad, 2008: 81-101), yaitu: (a) Media berbasis manusia, Media berbasis manusia merupakan media yang digunakan untuk mengirimkan dan mengkomunikasikan pesan atau informasi. Media ini bermanfaat khususnya bila tujuan kita adalah mengubah sikap atau ingin secara langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran. (b) Media berbasis cetakan, Media pembelajaran berbasis cetakan yang paling umun dikenal adalah buku teks, buku penuntun, buku kerja/latihan, jurnal, majalah, dan lembar lepas. (c) Media berbasis Visual, Media berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. (d) Media berbasi Audio-Visual, Media visual yang menggabungkan penggunaan suara memerlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya. Salah satu pekerjaan penting yang diperlukan dalam media audio-visual adalah penulisan naskah dan storyboard yang
34
memerlukan persiapan yang banyak, rancangan, dan penelitian. Contoh media yang berbasis audio- visual adalah video, film, slide bersama tape, televisi. (e) Media Berbasi Komputer Dewasa ini komputer memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam bidang pendidikan dan latihan.
Komputer berperan sebagai manajer dalam proses pembelajaran yang dikenal dengan nama Computer-Managed Instruction (CMI). Adapula peran komputer sebagai pembantu tambahan dalam belajar;
pemanfaatannya meliputi penyajian informasi isi materi pelajaran, latihan, atau kedua-duanya. Modus ini dikenal sebagai Computer-Assisted Instruction (CAI). CAI mendukung pembelajaran dan pelatihan akan tetapi ia bukanlah penyampai utama materi pelajaran. Komputer dapat menyajikan informasi dan tahapan pembelajaran lainnya disampaikan bukan dengan media komputer.