• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengumpulan Data

Dalam dokumen SKRIPSI - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 41-55)

BAB III METODE PENELITIAN

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara yang dilakukan dalam mengumpulkan data yang berhubungan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca dan teknik catat.

1. Teknik Baca

Teknik baca dilakukan dengan cara membaca literatur dan sumber data yaitu, Novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka. Dalam teknik baca penulis membaca secara keseluruhan isi novel dan mengaitkan dengan teori yang digunakan sebagai dasar penelitian.

2. Teknik Pencatatan

Teknik pencatatan dilakukan dengan cara mencatat dalam kartu atau buku yang telah disiapkan tentang hasil penelitian dan pengamatan terhadap majas ironi

dalam kalimat bahasa Indonesia dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka.

E. Teknik Analisis Data

Setelah data terkumpul, dilakukan analisis data kualitatif dengan cara mengumpulkan data-data sehingga dapat dijadikan sebagai analisis deskriptif.

Analisis deskriptif dimaksudkan untuk menggambarkan penggunaan majas ironi dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka. Dari analisis dapat dilihat bahwa terdapat banyak bahasa yang mengandung majas ironi dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka, yang dapat di analisis, adapun yang akan dijadikan acuan penelitian, meliputi :

1. Membaca berulang-ulang dan memahami cerita novel“Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”karya Hamka.

2. Menelaah seluruh data yang diperoleh berupa gaya bahasa atau majas ironi yang digunakan dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka.

3. Mengungkapkan majas ironi yang terdapat dalam novel tersebut,

4. Bila hasil penelitian sudah dianggap sesuai, maka hasil tersebut dianggap sebagai hasil akhir.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pada tinjauan pustaka telah diuraikan bahwa gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Untuk itu, maka berikut ini penulis akan menganalisa majas atau gaya bahasa ironi yang dipakai pengarang dalam menulis novel yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka. Gaya bahasa yang akan dianalisis dalam novel tersebut adalah gaya bahasa ironi. Gaya bahasa ironi adalah sejenis gaya bahasa yang mengemukakan suatu hal dengan makna yang berlainan, merupakan suatu kualitas dalam setiap pernyataan atau situasi yang muncul dari kenyataan bahwa sesuatu yang wajar, yang diharapkan tidak disebut atau dilaksanakan, tetapi diganti dengan kebalikannya. (dalam Tarigan 2008:

173).

Sindiran tersebut dilukiskan secara langsung maupun tidak langsung. Hal- hal yang termaksudkan sindiran ironi meliputi kata-kata yang diucapkan tetapi bertujuan untuk menyindir seseorang itu dan sebagainya.

Adapun yang termasuk dalam kelompok majas atau gaya bahasa ironi adalah:

32

1. Gaya bahasa ironi verbal

Ironi verbal adalah melalui suatu pembalikan atau pemutarbalikkan. Penulis, dengan jalan memanfaatkan konotasi-konotasi yang telah menjadi sifat bahasa yang bersangkutan, menciptakan harapan sesuatu hal, lalu menyajikan kebalikannya.

2. Gaya bahasa situasional

Ironi situasional acapkali bergantung pada hubungan timbal balik antara bahasa dan peristiwa. Dalam hal seperti itu, kedwiartian (atau ambiguitas) memegang peranan penting. Sebagai contoh, seorang ahli nujun buta berkata seorang jejaka: “akan kita lihat nanti bahwa wanita idamanmu itu datang sujud kepadamu!”. Di sini yang nujun buta membuat suatu permainan ironis terhadap kata lihat.Ini merupakan teka teki, mengandung kedwiartian.

3. Gaya bahasa dramatis

Ironi dramatis terjadi bila seorang tokoh dalam suatu drama mengerti sesuatu hal, tetapi para penonton tahu pasti bahwa tokoh ini salah mengartikannya. Ironi dramatis dapat ditingkatkan dengan penggunaan bahasa terhadap ironi verbal dan ironi situasional dalam seluruh cerita.

Agar sistematis dan kongkrit, maka dalam penyajian hasil analisis ini, penulis menguraikan indikator penelitian yaitu gaya bahasa ironi. Di dalam menguraikan hasil penelitian, penulis menguraikan secara sistematis sesuai dengan rumusan masalah yaitu mendeskripsikan tentang penggunaan gaya bahasa ironi yang digunakan dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka.

Hasil penelitian mengenai kata-kata yang termasuk kata sindiran dilakukan melalui pendekatan objektif dengan mendeskripsikan kata sindiran dan menganalisis gaya bahasanya.

Sindiran ironi verbal

Adapun kutipan sebagai berikut:

“Meskipun dia akan diterima orang dengan muka manis”, yang terkandung di dalam hati mereka pahit. Sebab dia tak berwang, kepulangannya menimbulkan cemburu hati keluarga-keluarga dalam persukuan. (hal 14 : 4).

Kutipan tersebut bertujuan untuk menyindir Zainuddin yang tidak mempunyai harta (wang) dan dipandang sebagai orang miskin di kampungnya sendiri. Karena seseorang yang tidak mempunyai uang tidak dihargai dikalangan masyarakat seperti yang terjadi pada saat jaman sekarang. Uang ibaratkan sebagai harta yang harus dimiliki oleh semua umat manusia agar dihargai sesamanya.

Bukan orang tak suka kepadanya, suka juga tetapi berlain kulit dan isi.

Jiwanya sendiri mulai merasa bahwa meskipun dia anak orang Minangkabau tulen, dia masih dipandang orang pendatang, masih dipandang orang jauh, orang Bugis, orang Mengkasara. (hal 26 : 2).

Kutipan tersebut mengandung sindiran kepada Zainuddin karena orang tuanya asli orang Minangkabau tulen tetapi dia terlahir di Makassar tetapi dipandang bukan orang Minangkabau melainkan orang Makassar. Jika orang mencintai lawan jenis harus memiliki semua yang menjadi penopang untuk kehidupannya. Seperti hal yang terjadi pada Zainuddin yang berani mencintai seseorang yang dianggapnya akan menerima dirinya apa adanya. Tetapi berlainan dengan keluarganya yang melihat dari segi isinya.

“Ya engkau, kemarin saya bertemu dengan dia di Ekor Lubuk, ketika dia kembali dari Padang panjang, kehujanan....”

“Dipinjaminya saya payung, sampai dia sendiri berbasah kuyup pulang” sela Hayati, lalu diceritakannya pertolongan itu sejak dari awal keakhirannya.

“Ah berbudi sekali engkau Zainuddin”

“engkau pun serupa pula dengan Hayati, barang yang kecil itu dibesar- besarkan.Padahal itu hanya suatu kewajiban.

Hayati merasa tersindir , ia ingat suratnya. Dan Datuk....menjawab, sambil menaikkan pisang tertumbuk ke dalam mulutnya: “tidak Zainuddin, meskipun hal itu engkau padang perkara kecil, bagi yang menerima budi, hal itu dipandang besar artinya. Apalagi engkau anak pisang kami”. (hal 36 : 5).

Kutipan tersebut mengandung sindiran untuk Zainuddin karena suatu pertolongan yang menurutnya baik tetapi dimata orang lain itu dinilai jelek padahal dia hanya berniat untuk menolong sesamanya. Apalagi Hayati anak satu- satunya. Mencintai bukanlah untuk kebahagian berdua karena jika kita melihat apa yang menjadi keinginan keluarga besarnya maka semua akan bahagia. Seperti Hayati hanya anak satu-satunya, besar keinginan keluarga melihat dia bahagia yang mempunyai segalanya untuk masa depannya.

Ganjil benar keadaan di kampung kami sekarang. Karena pada beberapa bulan yang lalu, datang kemari seorang anak muda dai Mengkasara, tentu engkau ingat, Zainuddin namanya. Dia tinggal beberapa jauh dari rumahku, dengan bakonya. Tetapi bako jauh. Tabiatnya yang halus menimbulkan kasihan kita, tetapi di dalam kampung dia tidak mendapat penghargaan yang semestinya. Sebab dia anak pisang, ayahnya seorang buangan yang telah mati di rantau. Meskipun dia dibawa orang bergaul, dia tidak diberi hak duduk di kepala rumah jika terjadi peralatan beradat-adat, sebab dia tidak berhak duduk disitu. Bukanlah orang mencela perangainya, hanya yang dipandang orang kurang ialah bangsanya. Alangkah kejamnya adat negeri kita ini, sahabatku.

(hal 38 : 4).

Kutipan tersebut mengandung sindiran karena Hayati mengatakan ada sesuatu yang berbeda di kampungnya yaitu hadir seorang laki-laki yang bernama Zainuddin yan berasal dari Mengkasara. Seseorang yang hadir dalam kehidupan kita akan merubah semuanya mulai dari hal kecil hingga hal yang terbesar. Karena

itulah cinta, sesuatu yang dianggap sepele tapi berujung menyakitkan jika orang itu putus silahturahmi. Makanya jika engkau jatuh cinta, jangan engkau terus melihat kebahagian terus tapi sekali-kali berpikiran positif.

Renda yang engkau serahkan ketika akan pakansi sekolah telah hampir selesai kukerjakan. Sedianya kalau bukan lantaran pikiranku kusutsaja dalam sebulan ini, renda itu telah lama selesainya. Tetapi apalah hendak dikata kerap kali, rancangan yang telah kita kerjakan, terhenti di tengah-tengah karena sepanjang hari hanya habis dalam keluhan, keluh mengingat teman dan sahabat, mengingat hari kemudian yang masih gelap. (hal 39 : 2).

Kutipan tersebut mengandung sindiran karena pikiran Hayati kacau disebabkan oleh seseorang yang bernama Zainuddin yang terus wajahnya terbayang dan menghantui pikirannya. Sehingga Hayati tidak fokus terhadap apa yang dia kerjakan. Seseorang yang mempunyai perasaan akan selalu dihantui oleh berbagai pikiran tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya. Berani membuka hati untuk jawan jenis maka berani pula kita untuk sakit. Karena memang begitulah cinta kadang bahagia, menangis, dan tertawa sendirinya.

“itu hanya bayangan, Hayati, sekali lagi saya katakan, itu hanya bayangan”.

Ujar khadijah. “engkau boleh menahan hatimu dengan pakaian yang buruk dekat lakimu, boleh bersabar dengan rumah yang tak sederhana, jika hanya berdua saja. Tetapi tak lama engkau dapat menahan hati mendengarkan rayuan angin yang masuk dari celah tingkap rumahmu. Tak lama engkau dapat menahan hati, melihat mata orang yang memandangmu dengan belas kasihan. Ketika itu cinta itu akan berangsur surut, engkau mula-mula menyesali nasib. Bila nasib telah disesali, tentu lama-lama pindah penyesalan kepada yang menyebabkan datangnya nasib itu, ialah sih suami. Suaminya pun demikian pula. Berapa banyak saya dengar orang yang telah bersuami, mengatakan bahwa ada laki-laki yang mengatakan istrinya sial, mengatakan istrinya menyebabkan dia dapat naas”. (hal 94 : 3).

Kutipan tersebut mengandung sindiran untuk Hayati karena menilai cinta dengan kasih sayang yang tulus tanpa harus berwang untuk masa depannya kelak.

Tetapi ternyata hati Hayati tergoyang juga dengan kata-kata Khadijah untuk bersuami orang yang berwang. Dan Hayati mengingkari janjinya kepada Zainuddin.

Ironi situasional

Adapun kutipan sebagai berikut :

Hayati, berulang saya menanggung perasaan begini, seorang pun tidak ada tempat saya mengadu. Saya tidur di surau bersama-sama teman. Mereka ketawa, bersenda gurau, tetapi bilamana kuhening kupikirkan, emas tidak juga dapat dicampurkan dengan loyang, sutera tersisih dari benang. Saya telah mengerti segera bahasa Minangkabau meskipun dekat mereka saya seakan-akan tak faham. Dari isyarat dan susun kata, dapat juga diketahui, bahwa derajatku kurang adanya. Bakoku sendiri tidak mengaku say anak pisangnya, sebab rupanya ayahku tak mempunyai saudara yang karib. Mereka bawa saya menumpang selama ini, karena dipertalikan bukan oleh budi bahasa, tetapi oleh wang, sekali lagi hayati, oleh wang!.(hal 41: 3).

Kutipan tersebut mengandung sindiran terhadap dirinya yang tak dianggap di kampung kelahiran ayahnya cuman karena tidak berwang.

“Hai upik, baru kemaren kau memakan garam dunia, kau belum tahu belit- belitnya. Bukanlah kau sembarang orang, bukan tampan zainuddin itu jodohmu. Orang yang begitu tak dapat untuk menggantungkan hidupmu, pemenung, pehiba hati, dan kadang-kadang panjang angan-angan. Di zaman sekarang haruslah suami penumpangkan hidup itu seorang yang tentu pencahariannya, tentu asal usul. Jika perkawinan dengan orang yang demikian langsung, dan engkau beroleh anak, ke manakah anak itu akan berbako? Tidakkah engkau tahu bahwa Gunung Merapi masih tegak dengan teguhnya? Adat masih berdiri dengan kuat, tak boleh lapuk oleh hujan, tak boleh lekang oleh panas. (hal 61 : 4).

Kutipan tersebut mengandung sindiran kepada Hayati yang masih belum tahu bagaimana keras hidup yang harus dialami kalau dia hidup bersama Zainuddin.

Karena menurut bakonya Zainuddin tidak mempunyai harta yang bisa membahagiakan Hayati.

Memang berbeda sekali perasaan jiwa laki-laki dengan perempuan, sebagaimana berlainnya kejadian tubuh kasarnya. Laki-laki dan perempuan sama-sama mencukupkan kehidupan dengan percintaan. Tetapi filsafat kedua belah pihak dalam perkara cinta amat berbeda, laksana perbedaan siang dengan malam, tegasnya perbadaan Adam dengan Hawa. (hal 85:1)

Kutipan tersebut menyatakan perbedaan kehidupan yang terjadi saat itu.

Karena hanya perbedaan itu yang membuatnya merasa tersingkirkan dikota orang tuanya sendiri. Dan perbedaan itu juga yang membuatnya harus terpisah dari orang yang dia cintai yaitu Hayati. Karena ninik mamak hayati lebih memilih keluarga Aziz yang kaya raya dan berpangkat.

Bertutur yang lemak manis dia pandai sekali, mula-mula malu dan enggan, bahkan takut hayati berdekat dengan dia, maklumlah gadis kampung. Tetapi

“memikat” adalah kepandaian Aziz yang tersendiri. Sehingga keseganan dan keberatan itu lama-lama hilang. Dia suka kepada Aziz sebab dia saudara Khadijah, dan senantiasa bila melihat orang lain itu, perasaan belas kasihan kepada Zainuddin bertambah-tambah juga. Belas kasihan! (hal 93:2).

Kutipan tersebut menyatakan bahwa Aziz yang kepandaian dalam memikat seorang wanita tidak hanya dalam lingkungan luar rumah tetapi dia pandai juga dalam lingkungan rumah seperti hal dalam memikat seorang Hayati yang mula- mulanya begitu malu tetapi ujung-ujungnya dia berhasil memika wanita cantik itu.

“Tidak, khadijah!” jawab Hayati, “pendapatmu tak betul, cinta tak bergantung kepada wang. Kalau dua orang yang bercinta dapat bertemu, kesenangan dan ketenteraman pikirannya, itulah wang, itulah dia kekayaan, lebih dari gelang mas, dukuh-berlian, pakaian cukup. Itulah kesenangan yang tak lekang dipanas, tak lapuk dihujan”. (hal 94 : 3).

Kutipan tersebut mengandung sindiran kepada Hayati karena memandang cinta tak bergantung pada wang. Yang terpenting bagi yaitu cinta yang dilandasi dengan kesenangan, ketentaraman pikiran dan bahagia. Itu melebihi segalanya dari pada wang.

Hidup di zaman sekarang berkehendak wang, Hayati, walaupun saleh dan bagaimana tekur kita, keadaan yang sekeliling kita tidak dapat melepaskan kita dari pada kungkungan, sedang Zainuddin tiadakan sanggup menyelenggarakan hidupmu. Kalau lantaran keras seruan dunia itu, Zainuddin tersesat memilih kehidupan dari pada jalan yang tiada halal, siapa yang berdosa? Tidakkah engaku sendiri?. (hal 102 : 1).

Kutipan tersebut mengandung sindiran untuk Hayati bahwa kehidupan sekarang harus berlandaskan wang. Karena melihat keras roda kehidupan yang memaksa kita untuk memiliki wang.

“Bagaimana kalau dia makan hati berulang jantung sebab maksudnya tidak sampai. Berapa banyaknya gadis-gadis yang membunuh diri lantaran tidak bertemudengan yang dicintainya, atau dia mati merana saja?” kata Limah.

(hal 112:5).

Kutipan menyatakan bahwa kehidupan percintaan begitu banyak korban yang menjadi celaka dalam menjalani yang namanya pacaran. Karena terlalu menyukai pasangan sehingga dia rela mati bahkan kawin lari untuk hidup bersama tanpa memikirkan apa yang terjadi di kehidupan yang akan datang.

Alangkah gelapnya dunia ini kupandang. Alam telah lengang dan sunyi, tidak ada gerak yang membangunkan semangatku lagi, malam seakan-akan terus- menerus saja, tidak sedikit juga berganti dengan siang. Kadang-kadang saya rasai badan saya sebagai seorang yang terpencil jauh di tengah padang yang tandus, tidak ada manusia yang lalu lintas di sana, tidak ada kali yang mengalir, tidak ada daun yang digerakkan angin. Seakan-akan saya sudah terbuang mencari jalan dan ikhtiar untuk keluar dari tempat itu, tetapi jalan tidak kelihatan. Saya tunggu kelepasan dengan sabar, tetapihanya maut yang melayang-layang. (hal 132 : 6).

Kutipan tersebut bermaksud untuk menyindir Hayati yang tidak mempunyai perasaan kasihan atas dirinya yang sudah terbaring lemah dan mengharap suatu keajaiban datang padanya. Karena dia telah putus asa semenjak ditinggal oleh Hayati.

Tetapi kalau cinta telah mendalam, walaupun bagaimana tebalnya perasaan sebagai laki-laki, badan meremuk juga laksana ayam kena penyakit menular.

(hal 139:3).

Kutipan menyatakan cinta Zainuddin kepada Hayati yang tak sampai. Karena berbagai halangan dan rintangan yang selalu menghadang di antara hubungan mereka. Tetapi Zainuddin menampakkan penderitaannya setelah lamaran dan pernikahan Hayati dengan Aziz yang jatuh sakit dan terbaring lemah di tempat tidur dua bulan lamanya.

Tak enak makan suamiku kelihatan lantaran girangnya, dia tersenyum- senyum saja. Baru sebentar ini dia pergi menguruskan perlelangan barang- barang kami. Dan heran sekali Khadijah ! Debar jantungku kian keras,menyalahi kebiasaan orang yang akan didatangi suatu kegirangan. (hal 162:1).

Kutipan tersebut menyatakan penyesalan Hayati kepada Khadijah yang semakin lama semakin membuatnya tersiksa dengan sikap dan perilaku Aziz yang sudah berubah secara seratus persen kepadanya. Hayati tak pernah lupa dengan Zainuddin yang berkata cinta yang dilandasi dengan hawa nafsu akan berakhir dengan perceraian.

Zainuddin, memang bukan Zainuddin yang dahulu lagi. Cahaya mukanya yang sekarang dalah lebih jernih, pakaian yang dipakainya lebih mahal dan gagah dari dahulu. Meskipun mukanya tidak cantik, tetapi cahaya ilmu, pengalaman, penanggungan, cahaya seni, semuanya telah memberinya bentuk yang baru...(hal 169:7).

Kutipan menyatakan bahwa tidak selamanya orang yang mencintai kita dengan tulus bisa memberikan kehidupan yang kita impikan seperti halnya seorang Hayati yang meninggalkan Zainuddin karena tidak mempunyai harta.

Dengan sikap bangkit yang dia miliki mampu membuktikan bahwa dia bisa

bangkit dari semua perderitaanya bahkan Hayati melihat sendiri bagaimana kehidupan Zainuddin sekarang.

Ironi dramatis

Adapun kutipan sebagai berikut:

Pada perkata-perkataan yang telah kau ucapkan, ternyata bahwa kasih sayangku, bahwa cintaku telah kau terima. Bahwa pengharapan yang telah putus, kau hubungkan kembali. Tetapi Hayati, ada yang perlu kuterangkan padamu, supaya jangan engkau menyesal kemudian, orang sukai seorang pemuda, karena sesuatu yang diharapkannya dari pada pemuda itu, misalnya dia cantik dan gagah. Aku sendiri, sebagai yang kau lihat, begitulah keadaanku, rupaku yang jelek tak pantas menjadi jodohmu, dan aku miskin.

Misalnya Allah menyampaikan cita-cita hatiku, dan engkau boleh menjadi suntingku, menjadi istri yang mengobat luka hatiku yang telah bertahun- tahun, agaknya akan malu engau berjalan bersanding dengan daku, karena amat buruk memperdekatkan loyang dengan mas, mempertalikan benang dengan sutera. Bagiku, Hayati, engkau sangat cantik. Kecantikanmu itu kadang-kadang yang menyebabkan daku putus asa, mengingat buruk diriku dan buruk untungku. (hal 49 : 2).

Kutipan tersebut mengandung sindiran untuk Hayati karena Zainuddin merasa tidak pantas memiliki Hayati yang begitu sempurna dimatanya. karena Zainuddin orang miskin.

Hayati takut akan kena cinta. Takut menghadapi cinta, itulah cinta yang sejati. Dia memberi ponis “tidak cinta” kepada Zainuddin, artinya dia memberikan ponis kematian kepada dirinya sendiri. Setelah agak jauh Zainuddin berjalan, diapun tak tahan pula lagi, dia meniarap ke lantai di dangau itu menahan hatinya, dan hati juga tertahan. (hal 53 : 2).

Kutipan tersebut mengandung sindiran untuk Hayati karena dia telah membohongi perasaan yang ada di dalam hatinya bahwa dia tidak mencintai Zainuddin. Dengan sikap yang membohongi perasaannya membuatnya tersiksa sendiri.

“Apa, hayati?”

“Saya cinta akan dikau, biarlah hati kita sama-sama dirahmati Tuhan. Dan saya bersedia menempuh segala bahaya yang akan menimpah dan sengsara yang mengancam.

“Hayati .... kau kembalikan jiwaku! Kau izinkan aku hidup. Ulurkan tanganmu, marilah kita berjanji bahwa hidupku bergantung kepada hidupmu, dan hidupmu bergantung kepada hidupku. Yang menceraikan hati kita, meskipun badan tak bertemu, ialah bila nyawa bercerai dengan badan.” (hal 55 : 6).

Kutipan tersebut mengandung sindiran untuk Hayati karena berani menerima cinta Zainuddin dan berani bersumpah kepada Zainuddin. Bersumpah demi cinta akan berakibat pada diri sendiri. Seperti yang terjadi pada Hayati yang berani berkata begitu didepan Zainuddin, sehingga Zainuddin tidak bisa lupa akan sesuatu kata-kata itu. Sampai saat itu dia tidak bisa melupakan hal itu. Baginya cinta itu tulus dan murni tapi menyakitkan.

Khadijah memperlihatkan sebentuk cincin berliang yang indah memancarkan cahaya yang gilang gemilang. Katanya: “inilah tanda mata dari tunanganku.

Selama ini belum saya suka membukakan ke engkau bahwa saya telah bertunangan, sebab saya sangka engkau belum ada niatan hendak kawin.

Tetapi setelah saya ketahui bahwa engkau telah mencintai seorang yang bukan jodohmu, saya katakan sekarang, bahwa hatiku tak senang kalau tak saya katakan kepadamu hal yang sebenarnya. (hal 93 : 6).

Kutipan tersebut mengandung sindiran untuk Hayati yang berani menjalin hubungan dengan Zainuddin secara diam-diam. Seorang sahabatnya yaitu Khadijah yang menentang keras hubungannya dengan Zainuddin.

Alangkah lekasnya hari berubah, alangkah cepatnya masa berganti!

Apakah dalam masa sebulan dua saja istana kenang-kenangan yang telah kita dirikan berdua, dihancurkan oleh angin puting beliung, sehingga dengan bekas-bekasnya sekalipun tidak akan bertemu lagi? Ingatkah kau Hayati,

bahwa istana itu telah kita tegakkan di atas air mata kita, di atas kedukaan dan derita kita? (hal 129 : 4)

Kutipan tersebut menyindir Hayati yang telah mengingkari janjinya yang pernah diucapkan bersama Zainuddin dan kini menagi janji itu kembali. Tetapi semua perkataan Hayati telah dia ingkari. Kini Zainuddin hanya bisa mengingat kenang-kenangannya saja.

....kalau kau tahu! Sudah sedari lama keindahan dan kecantikan dunia ini terlepas dari hatiku, laksana rontoknya bunga yang kekurangan air dari jembangan. Sudah sekian lama kehidupan ini saya palsukan, saya hadapi dengan hati remuk. Karena kekuasaan iblis telah merajalelah di atas hati manusia. Cuma satu saja yang kulihat paling suci, ialah kau, kau sendiri!

Pada diri kaulah bertemunya lambang dari kesucian dan kemurnian, yang dipenuhi oleh cinta yang ikhlas. Sebab telah kau sambut tanganku yang lemah: sebab telah kau terima suaraku yang parau, diwaktu orang lain membenciku, lantaran miskinku, papaku dan kurang bangsaku. Hanya kau seorang!. (hal 131 : 3).

Kutipan tersebut bermaksud menyindir Hayati yang telah meninggalkannya dan menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Disaat Zainuddin telah merasakan kebahagian yang sudah hampir menjadi kebahagiaan yang sempurna.

Asal sengketa dan perselisihan jangan tumbuh, apa katanya diikut oleh Hayati. Barang masnya telah habis, dokohnya, gelangnya, panitinya, semuanya telah masuk rumah gadai. Tetapi yang sangat menyakitkan hati, pernah dia menyesali beristeri perempuan kampung, sial. Perempuan yang tak pandai mengobati hati suaminya. (hal 179:1).

Kutipan menyatakan penyesalan Aziz menikahi Hayati karena dia tidak bisa membuang kebiasaan-kebiasaan orang kampungnya. Sementara Aziz kebiasaanny menjalani hidup di perkotaan sehingga pergaulannya terlalu bebas. Dia tidak bisa melupakan kebiasaan buruknya seperti yang dilakukan sewaktu dia belum menikah.

Dalam dokumen SKRIPSI - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 41-55)

Dokumen terkait