• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

42

43

terhadap produk pembiayaan murabahah, serta mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal dalam perusahaan.

B. Lokasi dan Obyek Penelitian

Lokasi penelitian bertempat di Bank SulSelBar Syariah Kantor Cabang Makassar, Jln. Dr. Sam Ratulangi No. 7 Blok C1-C2 , Pada penelitian ini obyek penelitiannya adalah pihak-pihak yang terkait pada bagian staf marketing baik pada staf marketing funding maupun pada bagian staf marketing financing, dalam struktur Relationship Manajer Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar.

C. Definisi Operasional Variabel

Skripsi ini berjudul “Analisis Strategi Pemasaran Produk Pembiayaan Murabahah Pada Bank SulSelBar Syariah Cabang Makassar”. Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami pengertian yang terkandung dalam judul skripsi ini, maka penulis menganggap perlu mengemukakan definisi operasional dari beberapa variabel dalam judul skripsi ini yaitu :

1. “Analisis” adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memproleh pengertian yang tetap dan pemahaman

44

arti keseluruhan. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ed.2, Jakarta: Balai Pustaka. 1997: h. 32).

2. “Strategi” adalah merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumber daya. (Chandler dalam Freddy Rangkuti, 2008).

3. “Pemasaran” adalah Suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan, dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain. (Philip Kotler dan AB Susanto, 2000).

4. “Produk” adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, dipergunakan, atau dikonsumsi dan yang dapat memuaskan kebutuhan atau keinginan. (Kasmir, Pemasaran Bank. 2004: 136).

5. “Pembiayaan” adalah pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga (M. Nur Rianto, Dasar-dasar pemasaran Bank Syariah. 2010: h.42).

6. ”Murabahah” adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Akad ini merupakan salah satu bentuk natural certainty contracts, karena dalam murabahah ditentukan berapa required rate of

45

profit-nya (keuntungan yang ingin diperoleh). (Adiwarman. A Karim, 2008: 113).

D. Kerangka Pemikiran Penelitian

PT. Bank SulSelBar Syariah hadir, tampil, dan tumbuh sebagai bank yang mampu memadukan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani, yang melandasi kegiatan operasionalnya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan BSSB Syariah dalam kiprahnya di perbankan Indonesia. BSSB Syariah hadir untuk bersama membangun Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik. BSSB Syariah mempunyai beberapa kantor cabang salah satunya di Kota Makassar. Sebagai salah satu bank yang menggunakan prinsip syariah, tentu saja perusahaan membutuhkan suatu strategi pemasaran yang efektif dan efisien untuk mendapatkan nasabah dan dalam menghadapi persaingan dengan para kompetitor pendatang baru yang menggunakan prinsip syariah khususnya disekitar wilayah Kota Makassar. Perumusan strategi pemasaran tersebut harus didasarkan pada visi dan misi perusahaan, karena visi dan misi mencerminkan suatu perusahaan dan apa yang menjadi tujuan perusahaan dalam jangka waktu tertentu.

46

Untuk memperoleh strategi pemasaran yang baik dan tepat, maka strategi tersebut harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan perusahaan. Kondisi lingkungan yang dihadapi perusahaan terdiri dari lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Lingkungan internal ini berasal dari perusahaan itu sendiri yang menunjukan kekuatan dan kelemahan perusahaan. Dasar analisis yang digunakan untuk lingkungan internal

berdasarkan analisis STP (Segmentasi, Targeting, Positioning) dan bauran pemasaran (Marketing Mix) Sedangkan untuk lingkungan eksternal menunjukan suatu kondisi berupa peluang dan ancaman di luar perusahaan. Lingkungan eksternal terdiri dari lingkungan jauh dan lingkungan industri. Perumusan strategi pemasaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan diawali dengan melakukan analisis STP (Segmentation, Targetting, dan Positioning) dan identifikasi bauran pemasaran yang terdiri dari 8P, yaitu product, price, place, promotion, people, process, physical evidence, dan productivity and quality. Setelah melakukan analisis STP dan bauran pemasaran, kemudian dilakukan proses identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan strategi pemasaran produk pembiayaan Bank Syariah Mandiri.

47

Tahapan selanjutnya yaitu memasukan faktor-faktor yang berasal dari lingkungan internal ke dalam matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dan faktor-faktor yang berasal dari lingkungan eksternal ke dalam matriks EFE (External Factor Evaluation). Hasil yang diperoleh dari faktor internal dan eksternal perusahaan dijadikan dasar untuk kemudian dianalisis dengan menggunakan matriks SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunities, Threats), sehingga diperoleh beberapa alternatif strategi pemasaran. Hasil dari faktor internal dan eksternal juga digunakan dalam analisis matriks IE (Internal Eksternal), tujuannya untuk mendapatkan strategi pemasaran yang lebih detail.

Terakhir, yaitu tahap pengambilan keputusan untuk memilih strategi pemasaran terbaik yang telah dihasilkan dari perpaduan matriks SWOT dan matriks IE, yakni dengan menggunakan matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Alternatif strategi yang memiliki nilai TAS (Total Attractive Score) tertinggi adalah alternatif strategi terbaik yang sesuai dengan kondisi perusahaan.

Adapun kerangka pemikiran dalam penelitian ini sebagaimana alur pemikiran yang digambarkan dalam tabel berikut:

48 Keterangan:

1. Bank SulSelBar Syariah Cab. Makassar  Objek penelitian 2. Strategi Pemasaran  Analisis penelitian

3. Pembiayaan Murabahah  Fokus penelitian

4. Peningkatan jumlah nasabah  Pengaruh penelitian.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam artian lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah dikelolah. Instrumen penelitian merupakan suatu unsur yang amat penting dalam suatu penelitian, karena fungsinya sebagai sarana pengumpul data yang banyak menentukan keberhasilan suatu penelitian yang dituju. Oleh karena itu, instrumen penelitian yang digunakan harus sesuai dengan situasi dan kondisi dari penelitian itu

49

sendiri. Sehingga nantinya memudahkan dalam merangkum permasalahan.

Pemilihan instrumen penelitian sangat ditentukan oleh beberapa hal, yaitu objek penelitian , sumber data, waktu, dana yang tersedia, jumlah tenaga peneliti, dan teknik yang akan dipergunakan untuk mengelolah data bila telah terkumpul.

Dengan melihat permasalahan dan aspek yang hendak diukur dan diteliti dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan instrumen :

1. Observasi yaitu pengumpulan data dengan memperhatikan sesuatu atau hal-hal yang ada kaitannya dengan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan alat indra.

2. Interview yang sering juga disebut wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk mendapatkan informasi dari terwawancara.

3. Angket atau kuisioner (quisionnaire) adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden tentang hal-hal yang ia ketahui dari obyek penelitian.

4. Dokumentasi merupakan Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dokumenter, arsip, dan informasi mengenai

50

teknis aplikasi strategi pemasaran produk pembiayaan murabahah pada Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar.

F. Teknik Pengumpulan Data

Dalam teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan beberapa teknik antara lain, yaitu:

1. Observasi

Observasi yaitu alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki. (Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, 2003: hal.70)

Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dengan partisipasi (participant observation) yaitu peneliti terlibat langsung pada obyek yang diamati. Observasi ini digunakan untuk memperdalam pemahaman dan mempermudah peneliti akan konsep atau teori yang terkait dengan profil strategi pemasaran produk BSSB Cabang Makassar. (Agus Salim, Teori & Paradigma Penelitian Sosial Buku Sumber Untuk Penelitian Kualitatif, 2006: hal.14)

51 2. Wawancara

Wawancara adalah proses tanya-jawab dalam penelitiaan yang berlangsung secara lisan dimana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan- keterangan atau dengan meggunakan daftar pertanyaan. (Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, hal 83.)

Karena data dalam penelitian kualitatif lebih berupa kata-kata, maka wawancara menjadi perangkat yang sedemikian penting. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan wawancara mendalam (indepth interview) dengan tehnik wawancara terstruktur dengan model wawancara dengan pedoman umum yaitu peneliti hanya menggunakan pedoman wawancara (interview guide) yang telah disiapkan sesuai materi penelitian, yakni tema-tema mengenai Strategi Pemasaran Produk Pembiayaan Murabahah BSSB Syariah Cabang Makassar dan didasarkan atas tujuan studi dalam teori-teori yang digunakan. Wawancara dilakukan dengan pihak staf bagian Relationship Manajer BSSB Syariah Cabang Makassar, dengan tujuan untuk memperoleh data tentang Strategi Pemasaran Produk Pembiayaan Murabahah Pada BSSB Syariah Cabang Makassar.

52 3. Dokumentasi

Selain sumber manusia (human resources) melalui observasi dan wawancara sumber data lainnya sebagai pendukung yaitu dokumen-dokumen tertulis yang resmi ataupun tidak resmi. (Dedy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, 2004: hal. 195)

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data dokumenter, arsip, dan informasi mengenai teknis aplikasi strategi pemasaran produk pembiayaan murabahah Bank SulSelBar Syariah. Meskipun data yang didapatkan dari metode dokumentasi ini merupakan data primer, data tersebut akan didukung dengan metode observasi dan wawancara dengan pihak-pihak terkait agar data yang didapat lebih dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya secara moral dan akademis.

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah teknik analisis SWOT dengan metode menganalisis lingkungan internal dan eksternal perusahaan, maka dapat dilakukan tahap selanjutnya dengan merumuskan strategi melalui tiga tahapan. Tahap pertama adalah tahap masukan dengan menggunakan Internal Factor Evaluation (IFE) matriks untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi

53

kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan serta External Factor Evaluation (EFE) matriks untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan. Tahap kedua adalah pencocokan dengan menggunakan matriks Internal Eksternal (IE) dan matriks SWOT (Strenghts-Weaknesses-Opportunities-Threats).

Matriks IE digunakan untuk memperoleh strategi bisnis yang lebih detail dan matriks SWOT digunakan untuk memperoleh alternatif-alternatif strategi pemasaran yang sesuai bagi perusahaan berdasarkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi perusahaan. Tahap terakhir adalah tahap pengambilan keputusan dengan menggunakan matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) untuk menentukan dan memilih strategi pemasaran yang terbaik dan tepat bagi perusahaan.

54 BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum PT. Bank SulSelBar Syariah 1. Sejarah Berdiri dan Perkembangannya

Dibentuk pada tanggal 28 April 2007 ditandai dengan pembukaan Kantor Cabang Syariah Sengkang di Kabupaten Wajo.

Dilanjutkan pembukaan KCS Maros pada tanggal 28 November 2007 dan KCS Makassar pada tanggal 30 Desember 2008. Alasan pendiriannya adalah adanya potensi populasi umat muslim di SulSelBar, keinginan pemerintah daerah untuk memiliki Lembaga Keuangan (Bank) Syariah, potensi Bank SulSelBar untuk ekspansi di bisnis Syariah yang lebih variatif.

Modal kerja awal tahun 2007 adalah 8 milyar rupiah dan ditambah hingga 100 milyar rupiah per Mei 2014. Jaringan sebanyak 3 Kantor Cabang yaitu Sengkang, Maros dan Makassar serta Mamuju (progress) dan 25 Konter Layanan Syariah meliputi Cabang Palopo, Bone, Bulukumba, Sinjai, Pangkep, Barru, Polman, Mamuju, Sidrap, Soppeng, Jeneponto, Selayar, Bantaeng, Takalar, Gowa, Pare-pare, Polman, Makale, Majene, Pasangkayu, Capem, Mamasa, Enrekang, Masamba, Belopa dan Malili).

55

Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sekaligus mengukuhkan semboyan “ Melayani Sepenuh Hati” maka berdasarkan asumsi pertumbuhan konsolidasi tahun 2016, PT.

Bank Syariah SulSelBar telah mulai memasuki pasar perbankan mikro. Strategi tersebut ditempuh karena ingin berperan lebih besar dalam peningkatan perekonomian umat yang mayoritas memang berbisnis di sektor usaha mikro.

2. Visi, Misi dan Nilai-Nilai PT. Bank SulSelBar

Berikut akan dipaparkan visi, misi, dan nilai-nilai Bank SulSelBar Syariah

a. Visi

Menjadi bank kebanggaan dan pilihan utama membangun kawasan Indonesia Timur”

b. Misi

Pada dasarnya misi PT. Bank SulSelBar mengacu pada rencana strategis, yang dituangkan dalam konsep sebagai berikut :

1. Memberikan pelayanan prima yang berkualitas dan terpercaya

2. Mitra strategis pemerintah daerah dalam menggerakkan sektor riil

3. Memberikan nilai tambah optimum bagi stakeholder

56 c. Nilai-Nilai

Nilai-nilai yang dikembangkan oleh PT. Bank SulSelBar meliputi :

1. Profesional

Meningkatkan kemampuan untuk menjadi ahli dibidangnya agar dapat memahami arah dan tujuan kerja, bertanggungjawab terhadap hasil yang dicapai dan menghasilkan kinerja yang cepat, tepat dan akurat.

2. Inovasi

Mengembangkan ide baru untuk menghasilkan system, teknologi, produk dan layanan unggulan dan dapat memberikan nilai tambah kepada stakeholder dan siap untuk mengantisipasi perubahan.

3. Kerjasama

Meningkatkan sinergi antar individu, unit kerja dan institusi dengan membagi fungsi dan peran yang sesuai serta tetap memperhatikan hubungan baik antar individu dengan prinsip kesetaraan untuk mencapai sasaran perusahaan.

57 4. Integritas

Berpegang teguh pada etika bisnis perusahaan, jujur, satunya kata dengan perbuatan dan mengutamakan kepentingan perusahaan diatas kepentingan pribadi.

5. Layanan Prima

Meningkatkan sinergi antar individu, unit kerja dan institusi dengan membagi fungsi dan peran yang sesuai serta tetap memperhatkan hubungan baik antar individu dengan prinsip kesetaraan untuk mencapai sasaran perusahaan.

3. Produk – produk Bank SulSelBar Syariah

1. Produk simpanan Investasi Nasabah, dalam bentuk:

a. Giro Syariah (Prinsip Wadiah)

Adalah sarana penyimpanan dana dalam bentuk mata uang rupiah dengan pengelolaan berdasarkan prinsip titipan (Wadiah yad Dhamanah) dimana dana Nasabah akan dikelola secara amanah dan dijamin penarikannya. Giro Syariah dirancang khusus untuk memberikan jaminan keamanan dan kemudahan serta ketersediaan dana setiap saat guna membantu kelancaran transaksi usaha Nasabah, dengan penarikan melalui Cek/Bilyet Giro.

58

b. Tabungan Tandamata Syariah (Prinsip Wadiah)

Yaitu Simpanan Nasabah (perorangan) di Bank Sulsel Syariah dalam bentuk Tabungan dalam bentuk mata uang rupiah dengan pengelolaan berdasarkan prinsip Titipan (Wadiah Yad Dhamanah) dimana dana Nasabah akan dikelola secara amanah dan dijamin penarikannya. Penyetoran dan penarikan dapat diambil setiap saat dengan fasilitas ATM Bersama dan On Line di seluruh Kantor Bank Sulsel.

2. Produk Pembiayaan Nasabah, dalam bentuk:

a. Pembiayaan Murabahah

Yaitu pembiayaan dengan prinsip Jual Beli untuk memenuhi kebutuhan nasabah seperti property, kendaraan, alat-alat industri dan barang lainnya, dengan proses yang mudah, dimana Bank Sulsel Syariah menjual barang yang dipesan/diinginkan Nasabah sebesar harga pokok ditambah margin keuntungan bank.

Setelah memenuhi prosedur dan persyaratan seperti uang muka dan kelayakan mengenai kemampuan angsuran dan lainnya, Nasabah sebagai pembeli dapat memanfaatkan fasilitas anggsuran selama 60 bulan untuk Nasabah (perorangan/badan usaha) berpenghasilan tidak tetap serta maksimal 96 bulan untuk Nasabah (perorangan) berpenghasilan tetap. Kelebihan

59

Murabahah dibanding produk sejenis non syariah adalah selain sesuai syariah (prinsip jual beli) adalah jumlah angsuran tetap tidak berubah walaupun terjadi fluktuatif suku bunga.

Pembiayaan Murabahah dapat dimanfaatkan Nasabah untuk memenuhi kebutuhan barang-barang produktif maupun konsumtif termasuk dapat pula digunakan untuk pengadaan barang berdasarkan pesanan dari pihak ketiga dengan bukti Surat Perintah Kerja/Kontrak Kerja dari dari Instansi Pemerintah/BUMN/BUMD serta pihak swasta yang kredible.

b. Pembiayaan Istishna

Yaitu pembiayaan dengan prinsip Jual Beli untuk memenuhi kebutuhan nasabah khusus property dan barang

lainnya yang memerlukan proses

produksi/pembangunan/renovasi. Pihak

produsen/pemborong/kontraktor dapat ditunjuk oleh Bank atau nasabah sendiri. Kemudian Bank Sulsel Syariah menjual barang yang dipesan/diinginkan Nasabah sebesar harga pokok ditambah margin keuntungan bank.

Penyerahan barang oleh Bank kepada Nasabah dilakukan setelah barang selesai atau maksimal setelah melewati masa proses Produksi/Pembangunan/Renovasi (MPP). Setelah memenuhi prosedur dan persyaratan seperti

60

uang muka dan kelayakan mengenai kemampuan angsuran dan lainnya, Nasabah sebagai pembeli dapat memanfaatkan fasilitas anggsuran selama 60 bulan untuk Nasabah (perorangan/badan usaha) berpenghasilan tidak tetap serta maksimal 96 bulan untuk Nasabah (perorangan) berpenghasilan tetap.

Kelebihan Istishna dibanding produk sejenis non syariah adalah selain sesuai syariah (prinsip jual beli) adalah jumlah angsuran tetap tidak berubah walaupun terjadi fluktuatif suku bunga serta kewajiban angsuran dapat dilakukan setelah masa proses produksi/pembangunan/Renovasi (MPP) selama maksimal tiga bulan. (http://www.sulselbarsyariah.com//

diposting, tanggal 14 juli 2016)

4. Struktur Organisasi PT. Bank SulSelBar Syariah

Struktur Organisasi merupakan salah satu dalam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi serta wewenang dan tanggung jawab tiap-tiap anggota organisasi pada setiap pekerjaan.

sehingga struktur organisasi dibuat secara sederhana, efektif untuk dapat bekerja secara efisien. Selain itu struktur organisasi sering disebut bagan atau skema organisasi dengan ini gambaran skematis tentang hubungan pekerjaan antara orang yang terdapat dalam suatu badan untuk mencapai tujuan.

61

Bank syariah dapat memiliki struktur yang sama dengan bank konvensional, misalnya dalam hal komisaris dan direksi, tetapi unsur yang amat membedakan antar bank syariah dan bank konvensional adalah keharusan adanya Dewan Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan garis-garis syariah.

Dewan Pengawas Syariah biasanya diletakkan pada posisi setingkat Dewan Komisaris pada setiap bank. Hal ini untuk menjamin efektivitas dari setiap opini yang diberikan oleh Dewan Pengawas Syariah. Karena itu, biasanya penetapan anggota Dewan Pengawas Syariah dilakukan oleh Rapat Umum Pemegang Saham, setelah para anggota Dewan Pengawas Syariah itu mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional.

Demikian pula halnya dengan Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar Cab. Makassar personilnya melakukan pekerjaannya masing-masing sesuai dan tanggung jawabnya, dan satu sama lainnya saling berhubungan dalam usaha menciptakan suasana kerja yang disiplin dan dinamis agar tercapai tujuan perusahaan yang diinginkan. Oleh karena itu suatu organisasi harus dapat menggambarkan secara jelas fungsi dari tiap-tiap bagian yang terdapat pada organisasi tersebut.

62 Skema 4.1.

Struktur Organisasi PT. Bank SulselBar Syariah Cabang Makassar

Keterangan :

1. Divisi Perencanaan dan Pengembangan 1.1. Grup Perencanaan dan Anggaran 1.2. Grup Pengelolaan Organisasi

1.3. Grup Pengembangan Bisnis dan Jaringan 2. Satuan Kerja Audit Intern (SKAI)

2.1. Grup Audit Intern I

63 2.2. Grup Audit Intern I

2.3. Bagian Administrasi Pelaporan 3. Satuan Kerja Manajemen Resiko

3.1. Grup Pengendalian Resiko 3.2. Bagian Administrasi Pelaporan 4. Satuan Kerja Kepatuhan

4.1. Grup Hukum dan Kepatuhan 4.2. Grup Pengenalan Nasabah 5. Divisi Pengendalian Keuangan

5.1. Grup Akuntansi

5.2. Grup MIS dan Pelaporan 6. Divisi Informasi dan Teknologi

6.1. Grup IT Operasional 6.2. Grup IT Development

6.3. Grup Pengendalian Infrastruktur 6.4. Bagian Librarian dan Administrasi 7. Divisi Sekertariat dan Umum

7.1. Bagian Sekertariat dan Humas 7.2. Bagian Umum

7.3. Bagian Rumah Tangga 8. Divisi Sumber Daya Manusia

8.1. Grup Pengembangan Pegawai 8.2. Bagian Administrasi Kepegawaian

64 9. Divisi Treasury

9.1. Grup Dana dan Likuidasi 9.2. Grup ALMA

9.3. Bagian Sekertariat 10. Divisi Kredit

10.1 Grup Kredit Komersial 10.2 Grup Kredit Non Komersial 10.3 Grup Kredit Khusus

10.4 Bagian Administrasi Pelaporan 11. Unit Usaha Syariah

10.5 Grup Akuntansi dan Pelaporan 10.6 Grup Treasry dan Pemasaran

3. Keadaan Dewan Komisaris, Dewan Direksi dan Dewan Pengawas Syariah PT. Bank SulSelBar Syariah

a. Dewan Komisaris

- Komisaris Utama : Ir. H. Abdul Latif, M.Si., MM.

- Komisaris Independen : Ellong Tjandra, SE., MM.

- Komisaris Independen : Prof. Muhammad Amri, Ph.D.

b. Dewan Direksi

- Direktur Utama : H.A. Muhammad Rahmat, ST., MM.

- Direktur Umum : H. Ambo Samsuddin, MM.

65

- Direktur Pemasaran : Rosmala Arifin, SE., MM.

- Direktur Kepatuhan : H. Harris Saleng, SE.

c. Dewan Pengawas Syariah (DPS)

- Ketua DPS : Prof. H. Halide.

- Anggota : DR. (Hc). KH. Sanusi Baco, Lc.

- Anggota : DR. Mukhlis Sufri, M.Si.

B. Pembiayaan Murabahah di PT. Bank SulSelBar Syari’ah Cabang Makassar

Murabahah adalah pembiayaan saling menguntungkan yang dilakukan oleh shahib al-mal (pemilik modal) dengan pihak yang membutuhkan melalui transaksi jual beli dengan penjelasan bahwa harga pengadaan barang dan harga jual terdapat nilai lebih yang merupakan keuntungan atau laba bagi shahib al-mal dan pengembaliannya dilakukan secara tunai atau angsur (lihat Pasal 20 angka 6 Peraturan Mahkamah Agung No.2 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah).

1. Pembiayaan Murabahah tanpa Wakalah

Pembiayaan murabahah tanpa wakalah ( perantara) adalah pembiayaan murabahah yang dilakukan oleh pihak pemodal (bank) dimana pihak bank langsung melakukan transaksi pembelian barang kepada supplier untuk selanjutnya akan dikirimkan kepada

66

nasabah. Kemudian nasabah akan melakukan pembayaran baik secara tunai maupun secara angsur kepada pihak bank sesuai dengan harga barang yang dipesannya.

Skema proses pembiayaan murabahah tanpa wakalah sebagai berikut :

Sumber : Kebijakan Pembiayaan Bank SulSelBar Syariah Skema 4.2.

Skema Pembiayaan Murahabah tanpa Wakalah

Dari skema diatas dapat diketahui bahwa dalam hal ini pihak Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar sebagai penjual sementara nasabah sebagai pembeli, dimana alur akad murabahah tanpa wakalah dapat dipaparkan sebagai berikut :

1. Kedua pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran.

67

Sebagai pihak pembeli, nasabah kemudian mengajukan pembiayaan dengan akad murabahah dan melakukan negosiasi.

2. Setelah kedua belah pihak membuat kesepakatan bersama dan masing-masing pihak telah menyetujuinya, maka pihak Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar memesan barang yang diinginkan oleh nasabah kepada supplier.

3. Pihak Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar menjual asset ke nasabah, dimana harga jual dicantumkan dalam akad jual beli dan jika telah disepakati tidak dapat berubah selama berlakunya akad.

4. Supplier mengirimkan barang kepada nasabah yang telah dipesan oleh Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar kepada nasabah.

5. Nasabah menerima pesanan dari supplier. Nasabah kemudian melakukan pembayaran pembelian barang kepada Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar sesuai kesepakatan, lazimnya dilakukan dengan cara pembayaran cicilan.

2. Pembiayaan murabahah dengan wakalah

Pembiayaan murabahah dengan wakalah (perantara) adalah pembiayaan murabahah yang dilakukan oleh pihak pemodal (bank) dimana pihak bank mewakilkan kepada nasabah untuk melakukan

Dokumen terkait