• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara variabel tunjangan kinerja(X) dan variabel kinerja pegawai (Y). Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif.

B. Lokasi Penelitian dan waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kantor Kemeterian Agama Kota Makassar. Waktu penelitian ini rencana akan dimulai pada bulan April-Mei 2022

C. Definisi Operasional Variabel

a. Variavel independen

Menurut (Sugiyono, 2015:96) “variabel independen atau variabel terikat adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)”. Yang termasuk variabel independen dalam penelitian ini adalah Tunjangan Kinerja (X)

b. Variabel dependen

Menurut (sugiyono, 2015:97) : variabel dependen atau variabel bebas merupakan variabel yang dipengaruhiatau yang menjadi akibat,

21

karena adanya variabel bebas”. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependennya adalah Kinerja Pegawai (Y).

Tabel 3.1 Definisi Operasional variabel No Variabel Definisi Variabel Indikator 1. Tunjangan

Kinerja

Tunjanga kinerja merupakan

kompensasi

tambahan yang bertujuan untuk mengikat pegawai agar tetap bekerja pada sebuah instansi.

1)

Kemampuan melaksanakan tugas

2)

Tingkat kehadiran bekerja

3)

Tingkat

kesesuaian kerja

4)

Ketetapan

waktu bekerja 2. Kinerja

Pegawai

Hal yang

mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias untuk mencapai hasil yang optimal.

1) Kualitas kerja 2) Ketetapan

waktu 3) Kemampuan 4) Komunikasi 5) Inisiatif

D. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan subjek atau objek yang ditetapkan penulis untuk diteliti yang kemudian akan ditarik kesimpulan. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pegawai di Kantor Kementerian Agama Kota Makassar yang berjumlah 115 orang.

Sampel adalah bagian dari populasi yang akan digunakan untuk melakukan penelitian yang kemudian akan ditarik kesimpulan. Penentuan jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin dimana:

𝑛 = 𝑁

1 + 𝑁. 𝑒2

n : Jumlah Sampel N : Populasi

e : Persentase kelonggaran ketidakterikatan karena kesalahan pengambilan sampel yang masih diinginkan(eror).

Populasi responden adalah seluruh pegawai di Kantor Kementerian Agama Kota Makassar adalah 115 orang. Maka sampel yang diambil oleh peneliti jika menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat eror 5% adalah:

n = 115

1+ ( 115 .0,12)

Total Sampel : 115

2,15 = 53,48

maka dibulatkan menjadi 54 pegawai

.

Maka sampel yang diambil pada penelitian ini adalah 54 orang pegawai.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Dokumentasi

Dokumentasi adalah pengumpulan data dengan cara mencatat data- data yang telah dipublikasikan oleh lembaga-lembaga pengumpul data, mempelajari dokumen-dokumen serta catatan-catatan pada bagian yang terkait dengan masalah yang diteliti.

2. Wawancara

Menurut Sugiyono (2016:137) wawancara digunakan secara teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan study pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dalam jumlah respondennya sedikit/kecil.

3. Studi Kepustakaan

Dalam penelitian ini penulis berusaha untuk memperoleh beberapa informasi dari pengetahuan yang didapat dijadikan pegangan dalam penelitian yaitu dengan cara studi kepustakaan untuk mempelajari, meneliti, mengkaji, dan menelaah literature-literatur berupa buku, jurnal, bulletin, hasil symposium yang berhubungan dengan penelitian untuk memperoleh bahan-bahan yang akan dijadikan landasan teori.

F. Sumber Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan suatu jenis data yakni, jenis data kuantitatif yaitu data yang didapat dengan menggunakan angka dan yang diperoleh dari bagian Kepegawaian Kantor Kementerian Agama Kota Makassar.

1. Data primer, yaitu data yang dikumpulkan langsung di lapangan oleh orang yang bersangkutan yang memerlukannya.

2. Data sekuder, yaitu data yang dikumpulkan oleh pihak lain, bukan oleh pe nulis sendiri untuk tujuan lain, artinya penulis adalah tangan kedua yang sekedar mencatat, mengakses dan meminta data tersebut (dimana data sudah berwujud informasi) ke pihak lain yang telah mengumpulkannya dilapangan.

G. Teknik Analisis Data

Skala yang dipakai untuk megetahui pengaruh pemberian tunjangan kinerja terhadap kinerja pegawai adalah skala likert yang terdiri dari : sangan setuju, setuju, kurang setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju. Kelima penilaian tersebut diberi bobot sebagai berikut:

Table 3.2 Pengukuran Skala Likert

Penilaian Skor

Sangat setuju (SS) 5

Setuju (S) 4

Kurang setuju (KS) 3

Tidak Setuju (TS) 2

Sangat tidak setuju (STS) 1

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis statistic regresi linier sederhana dengan tahapan sebagai berikut:

a. Analisi regresi linier sederhana

Regresi linier sederhana adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap varibel terikat. Regresi linier sederhana digunakan karena terdiri dari satu variabel dependen (y) dengan satu variabel independen (x)

Persamaan regresi linier sederhana dituliskan:

𝑌 = 𝑎 + 𝑏𝑋

Keterangan:

Y = Kinerja Pegawai a = Konstanta b = Koefisien regresi X = Tunjangan Kinerja b. Uji Instrumen Penelitian

1. Uji validitas

Validitas adalah ukuran yang menunjukkan sejauh mana instrument pengukuran mampu mengukur apa yang ingin di ukur. Instrument yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu valid. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji validitasnya yaitu:

1. Jika r hitung > r table, maka dinyatakan valid

2. Jika r hitung < r table, maka dinyatakan tidak valid 2. Uji reliabilitas

Hasil penelitian yang reliabel,bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda.kalau dalam obyek berwarna merah, maka sekarang dan besok tetap berwarna merah. Instrument yang reliable adalah instrument yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Metode uji reliabilitas yang paling sering digunakan adalah Cronbach’s Alpha pengambilan keputusan untuk uji reliabilitas sebagai berikut:

1. Cronbach’s Alpha < 0,6 = reliabilitas buruk 2. Cronbach’s Alpha 0,6 – 0,79 =reliabilitas diterima c. Uji Asumsi Klasik

1. Uji Normalitas

Pengujian normalitas adalah pengujian tentang kenormalan distribusi data. Asumsi yang harus dimiliki olehbdat adalah bahwa data tersebut terdistribusi secara normal. Maksud data terdistribusi secara normal bahwa data akan mengikuti bentuk distribusi normal.

Pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dan residualnya. Dasar pengambilan keputusan:

1. Jika data menyebar disekitar garis-garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan

distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

2. Jika data menyebar jauh dari diagonal atau tidak menikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

d. Koefisien korelasi (R)

Koefisien korelasi adalah nilai yang menunjukkan kuat atau tidaknya hubungan linier antar variabel. Koefisien korelasi ini dilambangkan dengan huruf r,dimana nilai r bervariasi di rentang -1 sampai +1.

H. Uji Hipotesis

1. Uji t (Uji Parsial)

Uji t statistik dimaksudkan untuk menguji pengaruh secara parsial antara variabel bebas terhadap variabel terikat dengan asumsi bahwa variabel lain dianggap konstan, dengan tingkat keyakinan 95%

(α=0,05).

Dimana :

a. Thitung> Ttabel= Ho ditolak, itu berarti tidak ada pengaruh yang signifikan oleh variabel x terhadap y.

b. Thitung<Ttabel= Ho diterima, itu berarti ada pengaruh yang signifikan oleh variabel x terhadap y

2. Uji simultan (Uji F)

Uji F, dengan maksud menguji apakah secara simultan variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat, dengan tingkat keyakinan 95% (α = 0,05). Kriteria pengujian yaitu :

Dimana:

a. Fhitung> Ftabel= Ho ditolak, ini berarti tidak ada pengaruh simultan oleh variabel x terhadap y

b. Fhitung<Ftabel= Ho diterima, ini berarti ada pengaruh simultan terhadap variabel x terhadap y

3. Uji Koefisien Determinasi (R Square)

Nilai dari koefisien determinasi digunakan sebagai sumbangan pengaruh yang diberikan oleh variabel bebas (x) terhadap variabel terikat (y). nilai koefisien determinasi dipakai untuk memprediksi seberapa besar konstribusi pengaruh variabel tunjangan kinerja terhadap kinerja pegawai dengan syarat, hasil uji t signifikan. Semakin besar nilai koefisien determinasinya, maka akan semakin kuat pengaruh variabel x terhadap variabel y, dan sebaliknya, semakin kecil nilai yang ditunjukkan oleh R Square, maka akan semakin lemah pula pengaruh variabel x terhadap variabel y

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Gambaran Umum Kantor Kementerian Agama Kota Makassar

Lahirnya Departemen Agama Republik Indonesia (RI) tidak dapat dipisahkan dengan dasar Negara yakni Pancasila dan undang-undang dasar 1945. Hal ini merupakan Kristalisasi dari aspirasi dan tuntutan rakyat Indonesia yang religious.Pada Departemen Agama itulah terlihat dengan jelas sistem dan mekanisme ketatanegaraan kita yang unik, dimana Negara secara aktif dan positif mengembangkan kehidupan beragama maupun tidak menjadi Negara Demokarasi. Keberadaan kantor jabatan agama daerah tersebut secara kontinyu terbentuklah kantor urusan agama Kabupaten/Kota yang bertugas melaksanakan pengawasan oleh PPN.

Setelah Negara kesatuan kita dinyatakan dalam keadaan yang aman yang ditandai terjadinya peralihan Negara RIS menjadi RI pda tahun 1950, maka pada pertengahan Tahun 1951 (2 atau 3 bulan) pemberlakuan Undang-undang No.22 Tahun 1946 (1 April 1951) untuk luar jawa dan Madura tersebut, lahirlah Departemen Agama Kota Makassar dengan nama Kantor Urusan Agama Kota Besar Makassar yang beralamat Jl.Karebosi Kantor Gubernur (Kantor Walikota Makassar sekarang).

Masa ini disebut masa pembentukan dengan struktur organisasi Kantor Depertemen Agama yang masih sangat sederhana yang lebih dominan mengarah pada pelaksanaan tugas urusan penghuluan dan Para pejabat pertama ketika itu adalah sebagai berikut:

30

1. Kepala kantor : Abdul Rahman Tahir 2. Sekertaris : AR.Munir

3. Bagian : Fahruddin HS 4. Bagian Ibadah Haji : Abdul Rahim

Selama masa pembentukan itu upaya sosialisasi,konsiliodasi dan koordinasi senantiasa dilaksanakan berkat bantuan dan dukungan baik dari pemerintah kota Makassar yang dijabat oleh walikota Ahmad Dara Saharuddin maupun Propinsi Sulawesi Selatan yang dijabat oleh Gubernur Sudiro.Keberadaan Kantor Urusan Agama kota besar Makassar secara deyure terjadi pada tahun 1952 setelah pindah kekantor hadat tinggi (Kantor Poltabes sekarang). Pada masa itu disebut masa konsilidasi yang ditandai dengan terbentuknya beberapa bagian baru yaitu, bagian keuangan dan kepegawaian.

Bersamaan dengan tahun 1952 itu juga berdiri pada Kantor Urusan Agama Kabupaten Makassar yang merupakan kantor perwakilan beberapa daerah tingkat II dengan kepala kantor pertama adalah K.H.Muh.Husain Taha. Keberadaan kantorurusan agama kabupaten ini hanya berlangsung selama masa pembentukan itu upaya sosialisasi, konsiliodasi dan koordinasi senantiasa dilaksanakan berkat bantuan dan dukungan baik dari pemerintah kota Makassar yang dijabat oleh walikota Ahmad Dara Saharuddin maupun propinsi Sulawesi selatan yang dijabat oleh Gubernur Sudiro. Keberadaan Kantor Urusan Agama kota besar Makassar secara deyure terjadi pada tahun 1952 setelah pindah ke kantor hadat tinggi (Kantor Poltabes sekarang). Pada masa itu disebut

masa konsilidasi yang ditandai dengan terbentuknya beberapa bagian baru yaitu, bagian keuangan dan kepegawaian.

Bersamaan dengan tahun 1952 itu juga berdiri pada Kantor Urusan Agama Kabupaten Makassar yang merupakan kantor perwakilan beberapa daerah tingkat II dengan kepala kantor pertama adalah K.H.Muh.Husain Taha. Kebera daan kantor urusan Agama kabupaten ini hanya berlangsung dari tahun 1956 s/d 1957 setelah dilebur menjadi 4 Kantor Urusan Agama Kabupaten yaitu:

1. Kantor Urusan Agama Kabupaten Gowa 2. Kantor Urusan Agama Kabupaten Jentak 3. Kantor Urusan Agama Kabupaten Maros 4. Kantor Urusan Agama Kabupaten Pangkep

Seiring dengan itu pula pada tahun 1952 mulailah dibentuk kantor urusan Agama kecamatan yaitu:

1. Kantor urusan Agama Kecamatan Maros dengan pejabat pertama adalah K.H.Ali Mabhan Daeng Tojeng pada tahun 1952

2. Kantor urusan Agama Kecamatan Makassar dengan pejabat pertama adalah Baso Daeng Nangka pada tahun 1952.

Setelah 3 tahun Abdul Rahman Tahir menjabat sebagai kepala Kantor yaitu sekitar tahun 1954 beliau dimutasi menjadi kepala jawatan urusan agama provinsi (JAURAP) dan sebagai pengganti beliau K.H.Husain Taha. Dalam kebijakan kepemimpinan K.H.Husain Taha terjadi pergeseran para pejabat pembantu beliau yaitu jabatan sekretaris yang sebelumnya dipegang oleh AR.Munir diganti oleh H.Zainuddin.

Demikian juga halnya jabatan kepenghuluan sebelumnya yang sebelumnya dipegang oleh Fahruddin HS diganti oleh Abu Bakar pada tahun 1956 kantor urusan agama kota besar Makassar pindak kejalan WR.

Supratman dan berlangsung samapai dengan tahun 1973.Masa jabatan K.H.Husain Taha berjalan selama 12 tahun dari tahun 1954 s/d 1966 pada saat beliau memasuki punabakti (pensiun) kemudian digantikan oleh M.Arsyad Daud pada awal tahun 1967 yang sebelumnya sebagai kepala jawatan penerangan agama islam.

Para pejabat pembangtiu M.Arsyad Daud pada awal kepemimpinannya ketika itu adalah:

1. Hamusta Ibrahim untuk jabatab sekretaris (tata usaha)

2. Abubakar untuk jabatan kepenghuluan (kemudian menjadi Agama Islam)

3. Bakrie Wahid untuk jabatan kepala penerangan Agama Islam 4. Syafriel Suhaeli untuk jabatan kepala pendidikan Agama Islam

Ada tahun 1968 setelah kurang lebih 1 tahun masa jabatan M.Arsyad Daud melalui walikota H.M.Daeng Patompo atas nama pemerintah kota menerangkan satu peristiwa sejarah berkenaan dengan dilaksnakannya MTQ tingkat nasional pertama di kota Makassar. Seiring dengan perkembangan dan perluasan wilayah pemerintah kota madya Makassar ketika itu menjadikan sebagiaan kabupaten Gowa dan kabupaten Maros khususnya diwilayah perbatasan dialihkan ke pemerintah kota madya.

Ada 3 Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan peralihan dari kabupaten Gowa dan Maros,masing-masing yakni:

1. Kantor urusan Agama Kecamatan karuwisi yang berubah nama kantor urusan agama Kec.Panakukang kab.Gowa pada tahun 1967 dialihkan kekota madya Ujung Pandang pada tahun 1972 dengan pejabat pertama H.Moh.Djawad Abdullah.

2. Kantor Urusan Agama Kec.Tamalate Kab.Gowa dialihkan kekota madya ujung pandang pada tahun 1972 dengan pejabat pertama Ahmad Sembo.

3. Kantor Urusan Agama (KUA) Kec.Biringkanaya Kabupaten Maros dialihkan kekota madya Ujung Pandang tahun 1972 dengan pejabat pertama H.K.Usman.

Sejak urusan agama islam dinyatakan berdiri sendiri dan penghuluan berada dibawahnya,maka dibentuklah kantor Perwakilan Departemen Agama (PERDEPAG) sebagai cikal bakal lahirnya seksi- seksi yang terdiri dari:

1. Penerangan agama islam 2. Pendidikan agama islam 3. Urusan agama islam

Keberadaan kantor perwakilan tersebut menghilangkan istilah kantor urusan agama kota Makassar sebagai induk organisasi ketika itu dan menjadikan M.Arsyad Daud kambali dilantik untuk kedua kalinya sebagai kantor perwakilan. Sekitar tahun 1974 kantor perwakilan sempat berkantor di jalan Gunung Batu Putih selama kurang lebih 1 tahun dan kemudian berpindah ke jalan Nuri pada tahun 1975.

Berselang beberapa bulan berada di jalan nuri kembali M.Arsyad Daud dilantik untuk ketiga kalinya sehubungan dengan adanya perubahan nama kantor Perwakilan Departemen Agama menjadi Kantor Departemen Agama yang merujuk kepada surat keputuaasan menteri nomor 18 tahun 1975 tentang susunan organisasi dan tata kerja Departemen agama (DEPAG) disempurnakan.Masa jabatan H.M.Arsyad Daud berlangsung selama 19 tahun,dari tahun 1967 s/d 1986 setelah memasuki masa pensiun. Selama masa jabatan H.M.

Arsyad Daud telah terjadi 5 kali pergantian Walikota Makassar masing- masing yaitu:

1. Walikota Arumpala

2. Walikota H.Muh.daeng patompo 3. Walikota H.Abustam

4. Walikota H.Yance Raib 5. Walikota H.Suwahyo

Pengganti H.M.Arsyad Daun adalah H.Mahmuddin yang sebelumnya beliau adalah kepala kantor departemen agama kab.sidrap.

masa jabatan H.Mahmuddin berlangsung selama 2 tahun dari tahun 1986 sampai tahun1988. Baik pada masa itu periode H.M.Arsyad Daud maupun H.Mahmuddin orang paling banyak membantu keduanya dalam pelaksanaan tugas-tugas administrasi kantor kepala sub.bagian tata usaha adalah Drs.H.Muh.Arief,Ms yang kemudian menduduki jabatan kepala kantor departemen agama berikutnya tahun 1988.Kemudiam berikutnya setelah kantor departemen agama mendapat tempat perkantoran yang sudah

permanen, yakni dijalan Rappocini Raya No.223 yang ditempati sekarang ini,telah terjadi pergantian beberapa kali pergantian kepala kantor.

Adapun urusan pimpinan kepala Kantor Depertemen Agama Kota Makassar dijabat oleh Drs.H.Nurdin baturante, M.Ag, terjadi perubahan struktur organisasi Kantor Departemen Agama Kota dan kabupaten diseluruh Indonesia, termasuk Kantor Departemen Agama kota Makassar.Dengan mengacu pada KMA 373 tersebut, maka struktur organisasi Kantor Kementrian Agama Kota Makassar sebagai berikut:

1. Kepala kantor

2. Kepala sub.bagian Tata Usaha 3. Kepala seksi urusan haji dan umrah 4. Kepala seksi urusan agama islam 5. Kepala seksi Mapenda

6. Kepala seksi Penamas 7. Kepala seksi Pekapontren 8. Penyelenggara zakat dan wakaf

Kemudian dengan KMA 373 itu pula KUA kecematan yang dulunya hanya II KUA,sekarang telah dimemarkan menjadi 14 KUA kecamatan denagn susunan sebagai berikut:

1. KUA Kec.Mariso 2. KUA Kec.Mamajang 3. KUA Kec.Tamalate 4. KUA Kec.Rappocini 5. KUA Kec.Makassar

6. KUA Kec.Ujung Pandang 7. KUA Kec.Wajo

8. KUA Kec.Bontoala 9. KUA Kec.Ujung tanah 10. KUA Kec.Tallo

11. KUA Kec.Panakkukang 12. KUA Kec.Biring kanaya 13. KUA Kec.Manggala 14. KUA Kec.Tamalanrea

Pada tahun 1 Januari 2010 Kantor Depertemen Agama (DEPAG) berubah menjadi Kantor Kementrian Agama (KEMENAG) diseluruh bagian kota indonesia atas keputusan Menteri Agama.

2. Visi dan Misi a. Visi

Terwujudnya masyarakat Indonesia yang taat beragama, maju, sejahtera, dan cerdas serta saling menghormati antar sesama pemeluk agama dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia.

b. Misi

1) Meningkatkan kualitas bimbingan, pemahaman, pengalaman, dan pelayanan kehidupan beragama

2) Meningkatakan penghayatan moral dan etika beragaman 3) Meningkatkan kualitas pendidikan umat beragama 4) Meningkatkan kualitas penyelanggaraan haji

5) Memberdayakan umat beragama dan lembaga keagamaan

6) Memperkokoh kerukunan umat beragama dan mengembangkan keselarasan pemahaman keagamaan dengan wawasan kebangsaan Indonesia

3. Struktur Organisasi dan Job Deskription a. Struktur organisasi

Gambar 4.1

Struktur Organisasi Kementerian Agama Kota Makassar

Sumber: Kementerian Agama Kota Makassar

b. Job Deskription

Untuk lebih mengefisiensikan kerja para staf/karyawan pada suatu perusahaan perlu dibentuk suatu struktur organisasi yang baik. Adapun struktur organisasi Kantor Kementrian Agama Kota Makassar sebagai berikut :

penyele nggara kristen Penyela

nggara syariah Kepala

seksi bimas islam Kepala

seksi penyele nggara haji &

umrah Kepala

seksi pendidi kan agama islam Kepala

seksi pendidi kan diniyah

&pontr en

Kepala seksi pendidika n

madrasah

Kepala Kantor

Kepala sub bagian tata usaha

1. Kepala Kantor

Tugas dan fungsi : mengawasi seluruh pekerjaan 2. Kepala Sub Bagian Tata Usaha

Tugas: melaksanakan koordinasi Perumusan Kebijakan teknis dan pelaksanaan pelayanan dan pembinaan administrasi, keuangan dan barang milik Negara di Lingkungan kantor Wilayah berdasarkan Kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Kota Makassar.

Fungsi: koordinasi penyusunan rencana, evaluasi program dan anggaran, serta laporan ; Pelaksanaan Urusan Keuangan;

Penyusunan organisasi dan tata laksana, Pengelolaan urusan kepegawaian; Pnyusunan peraturan perundang-undangan dan bantuan hukum; Pelaksanaan bimbingan kerukunan umat beragama; Pelayanan informasi dan hubungan masyarakat; dan Pelaksanaan urusan tata usahan, rumah tangga, perlengkapan,dan pengelolaan barang/kekayaan Negara.

a. Pada Sub bagian Tata Usaha, mempuyai bidang yang mencakup pembagaian tugas dan fungsi sebagai berikut : b. Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan, mempunyai tugas

melakukan penyiapan bahan koordinasi dan penyusunan rencana program dan anggaran, evaluasi dan laporan, serta pelaksanaan urusan keuangan.

c. Sub Bagian Informasi dan Hubungan Masyarakat, mempunyai tugas Melakukan penyiapan bahan

pelaksanaan urusan pengelolaan informasi dan hubungan masyarakat.

d. Sub Bagian Organisasi, Tata Laksana dan Kepegawaian bertugas melakukan penyiapan bahan penyusunan organisasi dan tata laksana serta pengeloalaan urusan kepegawaian.

e. Sub Bagian Hukum dan Kerukunan Umat Beragama, mempunyai tugas :Melakukan penyiapan bahan penyusunan peraturan perundang-undangan, bantuan hukum dan pelaksanaan urusan kerukunan umat beragama serta pelayanan masyarakat.

f. Sub Bagian umum, mempunyai tugas : Melakukan urusan ketatausahaan, rumah tangga, perlengkapan, dan pemeliharaan serta pengelolaan dan pelaporan barang milik/kekayaan negara.

3. Kepala Seksi Pendidikan Madrasah

Tugas: Pelaksanakan pelayanan, bimbingan, pembinaan, dan pengelolaan sistem informasi di bidang pendidikan madrasah berdasarkan kebijakan teknis yang ditetapkan.

Fungsi: Penyiapan perumusan kebijakan teknis dan perencanaan di bidang pendidikan madrasah; Pelaksanaan pelayanan, bimbingan, dan penyiapan pembinaan dibidang kurikulum dan evaluasi, pendidikan dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, pengembangan potensi siswa, kelembagaan, kerja sama, dan pengelolaan sistem informasi pendidikan

madrasah; dan Evaluasi dan penyusunan laporan dibidang pendidikan madrash.

Pada seksi pendidikan madrash, mempunyai bidang yang mencakup pembagian tugas dan fungsi sebagai berikut:

a. Seksi Kurikulum dan Evaluasi, mempunyai tugas : Melakukan penyiapan abahn pelaksanaan pelayanan, bimbingan teknis, dan pembinaan dibidang kurikulum dan evaluasi pada Raudlatul Athfal (RA), Madrash Ibtidayah (MI), Madrash Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).

b. Seksi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, mempunyai tugas melakukan penyaiapan bahan pelaksanaan pelayanan, bimbingan teknis, dan pembinaan dibidang kurikulum dan evaluasi pada Raudlatul Athfal (RA), Madrash Ibtidayah (MI), Madrash Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).

c. Seksi Sarana dan Prasarana, mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pelaksanaan pelayanan bimbingan teknis dan pembinaan dibidang sarana dan prasarana pada RA, MI, MTs,MA, dan MAK.

d. Seksi kesiswaan, mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pelaksanaan pelayanan, bimbingan teknis, dan pembinaan dibidang pengembangan potensi siswa pada RA,MI,MTs,MA dan MAK.

e. Seksi Kelembagaan dan Sistem Informasi Madrash, mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pelaksanaan bahan pelaksanaan pelayanan, bimbingan teknis, dan pembinaan dibidang pengembanagn kelembagaan, kerja sama, serta pengelolaan sistem informasi pendidikan RA, MI, MTs, MA dan MAK.

4. Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren

Tugas: Melaksanakan pelayanan, bimbingan, pembinaan, dan pengelolaan sistem informasi dibidang pendidikan diniyah dan pondok pesantren berdasarkan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Sulawesi Selatan.

Fungsi: Penyiapan perumusan kebijakan teknis dan perencanaan dibidang pendidikan diniyah dan pondok pesantren;

pelaksanaan, pelayaan, bimbingan, dan pembinaan dibidang pendidikan madrasah diniyah takmiliyah, diniyah formal dan kesejahteraan, pendidikan pesantren, dan pendidikan al-quran, serta pengelolaan sistem informasi pendidikan diniyah dan pondok pesantren; dan evaluasi dan penyusunan laporan dibidang pendidikan diniyah dan pondok pesantren.

Pada seksi pendidikan diniyah dan pondok pesantren, mempunyai bidang yang mencangkup pembagian tugas dan fungsi sebagai berikut:

a. Seksi pendidikan madrasah diniyahtakmiliyah, mempunyai tugas: melakukan penyiapan bahan pelaksanaan pelayanan,

Dokumen terkait