BAB IV GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN
D. Job Decription
Dalam mencapai target perusahaan, maka dituntut personil yang bekerja dalam perusahaan dapat menjalankan tugas masing-masing berdasarkan uraian tugas yang telah ditetapkan. Adapun tugas dari masing-masing personil perusahaan, diuraikan sebagai berikut :
1. Direktur Utama
Direktur utama bertanggung jawab atas kelancaran operasional perusahaan secara keseluruhan serta terlaksananya secara efesien. Dan mempunyai tugas :
a. Merencanakan kegiatan perusahaan untuk jangka waktu tertentu.
b. Merumuskan strategi perusahaan dan menjalankan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh badab pengawas dalam pelaksanaan sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku.
c. Memelihara suasana kerja yang baik dalam seluruh organisasi dan berusaha mencapai taraf efesiensi dan administrasi yang makin baik.
d. Memelihara laporan tahunan kepada badan pengawas.
e. Mengambil inisiatif dan penetapan, pemindahan dan pemberhentian pegawai dan menentukan batas ganti rugi.
f. Memelihara hubungan baik dikalangan masyarakat, pemerintah daerah dan pusat mewakili perusahaan pada peristiwa penting.
2. General Manager
General manager membawahi beberapa manajer dan mengontrol kinerja manajer tersebut, dan general manajer bertanggung jawab kepada Direktur Utama. Kepala unit mempunyai tugas :
a. Memimpin dan bertanggung jawab atas operasional perusahaan.
b. Mengkoordinasikan dan mengendalikan aktivitas perusahaan.
c. Mengontrol proses dan hasil kerja manajer bidang.
d. Bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama.
3. Sekretaris
Sekretaris mempunyai tugas dan tanggung jawab terhadap pengendalian dokumen perusahaan, dan juga bertanggung jawab terhadap pengendalian rekaman tercatat.
4. Manajer Bidang Produksi
Manajer bidang produksi mempunyai tugas :
a. Menyusun perencanaan strategis dalam kegiatan dan pengelolaan persediaan ( perencana produksi ) dan mengelola persediaan.
b. Mengontrol kualitas produk, bahan baku, bahan penunjang.
c. Menjaga atau meningkatkan efesiensi dan produktifitas produksi.
d. Bertanggung jawab atas semua kegiatan produksi sesuai dengan rencana mutu.
e. Koordinasi dengan semua kepala bidang yang ada dilingkungan AMDK.
f. Membuat laporan pertanggung jawaban atas pelaksanaan tugasnya ke Kepala Unit.
g. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan Kepala Unit sesuai dengan bidangnya.
5. Manajer Bidang Keuangan dan Umum
Kepala Bidang Keuangan dan Umum mempunyai tugas : a. Mencari dana investasi dan mengelola modal kerja.
b. Menyiapkan perjanjian dokumen yang berhubungan dengan kegiatan keuangan.
c. Membuat cash budget.
d. Melakukan pengendalian dan pengelolaan dana.
6. Manajer Bidang Kendali Mutu
Kepala Bidang Kendali Mutu mempunyai tugas :
a. Pengontrolan kualitas setiap penerimaan bahan baku.
b. Pengontrolan air dan sumber mata air.
c. Pengontrolan kualitas setiap tahapan proses produksi.
d. Pengontrolan kualitas produk jadi.
e. Menjaga senitasi lingkungan pabrik dan peralatan analisa.
f. Pengontrolan penggunaan bahan kimia untuk analisadan bahan kimia untuk senitasi.
g. Bertanggung jawab atas semua kegiatan pengendalian produksi.
7. Manajer Bidang Penjualan dan Pemasaran
Kepala Bidang Pemasaran dan Penjualan mempunyai tugas : a. Menentukan pemasaran.
b. Merencanakan proyeksi penjualan.
c. Mengkoordinir salesman.
d. Mengatur budged dan strategi promosi.
e. Menganalisa persaingan pasar.
f. Perencanaan dan pelaksanaan penjualan.
g. Bertanggung jawab atas semua kegiatan penjualan dan pemasaran.
8. Supervisor Kendali Mutu
Supervisor Kendali Mutu mempunyai tugas yaitu :
a. Mengontrol kualitas bahan baku dan bahan penunjang lainnya.
b. Mengontrol dan menganalisa kualitas air setiap tahapan proses.
c. Memonitor kebersihan lingkungan pabrik mulai dari penerimaan bahan baku, selama proses dan bahan jadi.
d. Mencatat penerimaan dana pengeluaran bahan kimia lab, senitasi dan hasil analisa lab intern.
e. Memeriksa kualitas air baku dan air produksi juga kualitas peralatan ke lab ekstern.
9. Supervisor Pemeliharaan dan Perawatan Mesin
Supervisor Pemeliharaan dan Perawatan Mesin mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Melaksanakan pengawasan pemeliharaan alat-alat proses produksi atau sarana penunjang produksi lainnya secara periodik.
b. Membuat laporan atas semua kegiatan tugasnya setiap bulan.
c. Melaksanakan perbaikan kerusakan proses produksi.
d. Bekerja sama dengan supervisor yang ada dilingkungan produksi.
10. Supervisor Proses
Supervisor Proses mempunyai tugas :
a. Melaksanakan dan mengawasi seluruh proses produksi.
b. Memberikan informasi kepada supervisor pemeliharaan setiap ada kerusakan peralatan produksi.
c. Mengawasi dan memelihara setiap peralatan proses produksi.
d. Mengawasi pemakaian bahan baku selama proses produksi.
e. Memonitor dan mencatat juga menghitung data yang terdapat pada proses produksi pada forum yang telah disediakan.
f. Membuat laporan bulanan dan tahunan kegiatan proses produksi yang ditandatangani kepala bidang produksi.
11. Supervisor Keuangan
Supervisor Keuangan mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Mencatat laporan hutang piutang untuk semua pembelian dan penjualan.
b. Merekap laoran hutang piutang untuk semua pembelian dan penjualan.
c. Menyusun laporan hutang piutang untuk semua pembelian dan penjualan dan memberikannya kepada accounting.
d. Membuat costing awal berdasarkan bahan baku yang terpakai.
e. Membuat tagihan piutang penjualan.
12. Supervisor Gudang
Supervisor Gudang mempunyai tugas yaitu :
a. Mengawasi dan memelihara penyimpanan bahan baku produksi dan bahan jadi.
b. Memberikan informasi bahan baku produksi dan barang jadi produksi kepada kepala bidang produksi.
c. Mengawasi dan mencatat pengeluaran dan penerimaan bahan baku produksi dan barang jadi pada kartu gudang.
d. Mengawasi dan mencatat penerimaan galon kosong pada kartu gudang.
e. Membuat laporan bulanan dan tahunan pengeluaran dan penerimaan barang jadi atau bahan baku produksi yang
ditandatangani oleh kepala bidang produksi dan kerja sama dengan supervisor yang ada dilingkungan produksi.
13. Supervisor Umum
Supervisor Umum mempunyai tugas yaitu :
a. Membantu Kepala Bidang Keuangan dan Umum AMDK dalam bidang tugasnya.
b. Mengidentifikasi kebutuhan perusahaan akan karyawan yang ada saat ini.
c. Melakukan inventarisasi, analisa, dan penilaian terhadap karyawan yang ada pada saat ini.
d. Perekrutan dan penyesuaian karyawan-karyawan baru.
e. Pembuatana job description ( Analisis Jabatan ).
f. Penilaian hasil kerja karyawan.
g. Pengarsipan data karyawan serta pelaporannya.
h. Kegiatan pengarahan dan konsultasi karyawan.
14. Supervisor Pemasaran
Supervisor Pemasaran mempunyai tugas yaitu :
a. Membantu Kepala Bidang sesuai dengan bidang tugasnya.
b. Menghubungi calon pembeli dan memasarkan produk AMDK.
c. Melakukan negoisasi harga dengan calon pembeli.
d. Mengatur strategi pemasaran.
e. Melakukan order penjualan kepada bidang produksi.
f. Melakukan pemesanan dan pengaturan kendaraan untuk pengiriman barang jadi.
g. Mencatat order penjualan dan pemesanan kedalam buku besar pesanan.
h. Menerima keluhan dari pelanggan.
i. Menerima tamu.
j. Melaporkan administrasi pemasaran.
15. Staf Keuangan
Staf Keuangan memiliki tugas sebagai berikut :
a. Membuat laporan keuangan secara periodik yang akan dilaporkan kepada direktur.
b. Menghitung harga pokok produksi.
c. Mengatur semua kegiatan pembukuan dilakukan dalam perusahaan.
d. Mengurus perpajakan.
e. Mengatur keluar masuknya uang biaya operasi perusahaan.
16. Staf Administrasi
Staf Administrasi mempunyai tugas sebagai berikut : a. Menfile surat masuk dan keluar.
b. Mencatat presense kariawan.
c. Menghitung insentive hadir kariawan kemudian melaporkannya kepada staf keuangan.
d. Melayani pemesanan penjualan via telepon.
e. Melakukan transaksi pembelian bahan penolong ke pemasok.
f. Mengawasi dan mengkoordinir hal-hal yang bersifat administrasi kantor.
17. Staf Bagian Gudang
Staf Gudang mempunyai tugas sebagai berikut : a. Mengawasi keluar masuknya produk jadi.
b. Membuat laporan mengenai stok produk jadi.
c. Mengawasi keluar masuknya bahan penolong.
d. Membuat laporan mengenai stok bahan penolong.
18. Sales
Sales mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Menawarkan dan mempromosikan produk.
b. Menerima pesanan secara langsung dari konsumen.
c. Bagian pengiriman.
d. Membantu sales dalam transaksi penjualan langsung.
e. Mengatur rute pengiriman produk.
f. Membantu sales menurunkan barang dan melakukan perhitungan barang yang diterima konsumen.
g. Bertanggung jawab terhadap pemeliharaan armada yang digunakan.
32
Gambar Struktur Organisasi PT. Hutama Tirta Makassar (PT. HTM) Sumber : PT. Hutama Tirta Makassar (HTM) 2017
SEKRETARIS GENERAL
MANAGER
MANAGER PRODUKSI
MANAGER KEU &
UMUM
MANAGER PEMASARAN M. QC
STAF STAF
SUP.
GUDANG SUP. PROSES SUP.
PEMELIHARAA N MESIN
SUP.
KEUANGA N
SUP.
UMUM
SUP.
KENDALI MUTU
ACCOUNTIN G
SECURITY KEUANGA
N
SUP. AREA 1
SUP.
AREA 2
SUP.
AREA 3
SALES SALES SALES
45
46
Berdasarkan hasil analisis karakteristik produk, banyak karakter mengacu pada produk fungsional, sehingga dapat dikatakan produk PT. Hutama Tirta Makassar adalah produk yang cenderung fungsional. Namun, juga ada sedikit karakter produknya yang mengacu pada produk inovatif. Selain itu dari hasil analisis karakteristik pasar, konsumen PT. Hutama Tirta Makassar ternyata menuntut keresponsifan, kualitas, tingkat inovasi dan variasi yang tinggi, dan tidak menuntut mengenai harga produk. Pasar dengan karakteristik seperti itu adalah pasar konsumen untuk produk inovatif, sehingga dapat disimpulkan bahwa produk PT. Hutama Tirta Makassar tidak murni produk fungsional karena juga memiliki sisi inovatif.
A. Struktur Supply Chain
Gambar 5.1 Struktur Supply Chain PT. Hutama Tirta Makassar
Pemasok Lokal
PT. Makassar Jaya Utama PT. SSS
Pak Yusuf
Pemasok Luar Kota PT. Namasindo PT. Gunung Gelaad PT. Indoceria PT. Miwon
PT. HTM Sales office
Minimarket
KONSUMEN
Toko
Agen
warung
Gambar diatas merupakan struktur rangkaian supply chain dari PT.
Hutama Tirta Makassar mulai dari hulu (upstream) hingga hilir (downstream).
1. Suppliers
Pada bagian hulu struktur supply chain PT. Hutama Tirta Makassar terdapat para supplier yang memasok bahan-bahan baku untuk kebutuhan PT. Hutama Tirta Makassar. Mulai dari pemasok lokal sampai dengan pemasuk luar kota makassar. Semua bahan tersebut ada yang dibutuhkan untuk diolah lagi dalam proses produksi dan ada pula yang langsung digunakan.
2. Company (PT. Hutama Tirta Makassar)
Di pabrik, dapur dibagi menjadi tiga bagian yaitu dapur internal, dapur tengah, dan dapur eksternal. Dapur internal berfungsisebagai pusat pembuatan air minum dalam kemasan (AMDK), dapur eksternal berfungsi sebagai tempat khusus untuk finishing AMDK, dan dapur tengah berfungsi sebagai penengah antara dapur internal dan eksternal, serta mengatur persediaan untuk dapur eksternal seperti pemberian label. Staf dapur eksternal tidak diperkenankan masuk ke dapur internal, sehingga apabila memiliki kepentingan tertentu harus melalui ijin dari staf dapur tengah. Di dapur internal, bahan baku untuk proses produksi diolah menjadi air minum dalam kemasan. Air baku ditampung dalam bak atau tangki penampung (reservoir). Air tersebut dialirkan melaui pipa dan diangkat menggunakan tangki. Tangki, selang, pompa, dan sambungan harus terbuat dari bahan tara pangan, tahan korosi dan bahan kimia. Tangki harus dibersihkan, disanitasi, dan diinspeksi, luar dan dalam minimal b1 (satu) bulan sekali.
3. Retailers
Air minum dalam kemasan (AMDK) yang sudah jadi kemudian didistribusikan ke masing-masing wilayah distribusi. Distribusi menggunakan mobil box biasannya muat 700, 800, ada juga yang 400 karton. Pengiriman ke distributor dapat dilakukan hanya sekali atau beber transit tergantung dari distributor yang dituju. Setiap armada mobil box transit hanya di outlet , ada juga yang di streding ke mobil lowong. Penjualannya juga ada di dalam dan diluar makassar. Yang diluar makassar seperti Pare-pare, Sidrap, Bone, Toraja, dan Palopo. Dan juga melalui cabang-cabang dan retailers tersebut produk disampaikan ke konsumen akhir.
4. Customers
Customers PT. Hutama Tirta Makassar adalah pengguna akhir dari suatu produk yang membeli produk PT. Hutama Tirta Makassar untuk dikonsumsi sendiri dan juga untuk dijual kembali.
5. Service providers
Pengiriman ke cabang-cabang di Makassar menggunakan mobil perusahaan.
Untuk pengiriman ke retailers di luar daerah menggunakan menggunakan mobil box yang biasanya muat sampai 800 karton AMDK.
B. Strategi Efesiensi dan Responsif
Strategi supply chain yang tepat untuk produk fungsional adalah strategi efisiensi, sedangkan untuk produk inovatif adalah strategi responsif. Melihat karakteristik produk PT. Hutama Tirta Makassar yang cenderung fungsional, dapat disimpulkan bahwa strategi supply chain yang cocok adalah strategi
efisiensi, dimana fokus utama dari strategi efisiensi adalah upaya untuk meminimalkan ongkos-ongkos fisik di sepanjang supply chain. Namun seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, produk PT. Hutama Tirta Makassar juga memiliki sisi inovatif, sehingga strategi yang digunakan tidak harus murni efisiensi, tetapi juga harus terdapat strategi responsif. Setelah mengetahui strategi supply chain yang sesuai, maka tahap selanjutnya adalah menerapkan strategi tersebut ke dalam penggerak-penggerak utama supply chain. Untuk mengetahui strategi efisiensi dan responsif tersebut harus diterapkan di bagian mana, maka perlu analisis decoupling point.
C. Strategi Push and Pull
Dalam penelitian Andianto Bobby (2011) Selain strategi efisiensi dan responsif, strategi dalam supply chain management juga dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu push-based supply chain, pull-based supply chain, dan push- pull supply chain. Dalam penentuan strategi ini, yang menjadi indikator adalah permintaan yang tidak pasti (sulit diprediksi) atau permintaan yang pasti (mudah diprediksi) dan skala ekonomis dalam produksi. PT. Hutama Tirta Makassar cenderung memiliki karakteristik produk fungsional dengan strategi efisiensi, dimana ciri khas dari produk fungsional adalah permintaan yang relatif mudah diprediksi dan ciri khas dari strategi efisiensi adalah skala ekonomis dalam produksi. Oleh sebab itu, PT. Hutama Tirta Makassar cocok menggunakan strategi push-based supply chain. Strategi push-based supply chain memiliki karakteristik tingkat ketidakpastian permintaan yang lebih rendah, skala ekonomis dalam produksi, dan lead time yang lama, sehingga fokus utama dari strategi push
adalah minimalisasi biaya. Oleh karena itu, push-based supply chain cocok untuk diterapkan pada produk make-to-stock (MTS). Untuk mengetahui apakah benar produk PT. Hutama Tirta Makassar adalah produk yang termasuk ke dalam golongan make-to-stock (MTS) atau tidak, maka perlu diketahui decoupling point supply chain PT. Hutama Tirta Makassar
D. Decoupling Point
Pada analisis strategi supply chain telah disimpulkan, bahwa strategi yang tepat untuk PT. Hutama Tirta Makassar adalah kombinasi antara strategi efisiensi dan responsif. Lalu, untuk mengetahui dimana perusahaan harus menerapkan strategi efisiensi dan strategi responsif, maka dibutuhkan analisis decoupling point berdasarkan karakteristik produk.
Melihat karakteristik produk AMDK yang cenderung fungsional, sedikit variasi, dan ketidakpastian permintaan yang relatif rendah, maka AMDK termasuk ke dalam klasifikasi MTS, dengan posisi decoupling point berada pada proses terakhir, yaitu pengiriman ke pelanggan.
Gambar. 5.2. Posisi decoupling point PT. Hutama Tirta Makassar Sumber: Pujawan (2010, p. 43)
PT.
HTM
Pada gambar diatas, posisi decoupling point MTS ada pada bagian pengiriman, sehingga fokus utama pengelolaannya adalah efisiensi fisik pada bagian kiri sebelum titik decoupling point MTS (kegiatan yang bisa dilakukan atas dasar ramalan) dan fokus responsif pada bagian kanan setelah titik decoupling point MTS (kegiatan tidak bisa dilakukan atas dasar ramalan). Aspek kunci dalam mengelola supply chain yang beroperasi pada lingkungan MTS adalah penentuan berapa dan dimana persediaan produk akhir yang harus disimpan dan bagaimana mekanisme pengiriman produk jadi ke suatu lokasi pemasaran. Oleh karena itu, PT. Hutama Tirta Makassar harus berfokus efisiensi fisik pada bagian hulu sebelum titik decoupling point MTS (lokasi, pengadaan, pengembangan produk, produksi) dan lebih berfokus responsif pada bagian hilir setelah titik decoupling point MTS (persediaan, pengiriman, informasi).
E. Penerapan Strategi Efesiensi 1. Tujuan utama
Selama ini, fokus utama PT. Hutama Tirta Makassar adalah efisiensi biaya. Hal ini sudah sesuai karena strategi efisiensi PT. Hutama Tirta Makassar fokus utamanya adalah meminimalkan segala bentuk biaya yang dapat timbul dan permintaan yang dapat diprediksi haruslah dilakukan dengan efisien dengan biaya serendah mungkin.
2. Lokasi
Lokasi PT. Hutama Tirta Makassar berada di Jl. Poros Malino KM 25 Gowa.
Lokasi tersebut berada tidak jauh pada kota makssar dan dekat dengan berbagai pusat keramaian, sehingga sangat mudah dikenal dan dijangkau oleh masyarakat.
Selain itu, pabrik yang menjadi satu lokasi dengan gerai pusat juga dapat mengurangi biaya distribusi, karena hanya mengeluarkan biaya untuk transportasi ke cabang dan retailers saja..
3. Pengadaan
Kriteria utama PT. Hutama Tirta Makassar dalam memilih supplier adalah harga dan kualitas. Hal tersebut sudah benar, karena dalam penerapan efisiensi yang diutamakan dalam memilih supplier adalah harga dan kualitas. Namun, supplier PT. Hutama Tirta Makassar sudah merupakan langganan sejak lama, sehingga keadaan yang sudah nyaman tersebut membuat perusahaan enggan berganti-ganti supplier. Padahal, banyak supplier baru yang datang dan menawarkan produknya dengan kualitas dan harga yang lebih baik dari supplier yang lama. Walaupun menyadari pasokan supplier baru tersebut lebih bagus, tapi PT. Hutama Tirta Makassar tidak memanfaatkannya. PT. Hutama Tirta Makassar juga tidak pernah mengevaluasi kinerja supplier, sehingga tidak dapat menilai kemajuan atau kemunduran suppliernya. Berdasarkan hasil temuan diatas, maka penerapan efisiensi yang harus dilakukan PT. Hutama Tirta Makassar pada bagian pengadaan adalah:
a. Fokus dan konsisten pada kriteria utama dalam memilih supplier, yaitu harga dan kualitas.
b. Lebih terbuka terhadap supplier-supplier baru yang lebih kompetitif.
c. Membina hubungan dengan supplier secara proporsional. Maksud hubungan proporsional adalah hubungan yang secara tepat mencerminkan kepentingan strategis tiap-tiap supplier.
d. Membuat daftar klasifikasi, yaitu pengklasifikasian supplier berdasarkan faktor tingkat kepentingan dan kesulitan item yang dibeli.
e. Mengevaluasi kinerja supplier secara berkala dengan cara membuat data catatan tentang kelebihan dan kekurangan supplier tiap bulan dan dibuat kesimpulan di tiap akhir tahun mengenai perkembangan supplier.
Pertimbangannya, selama ini fokus terhadap harga dan kualitas mulai memudar karena terlalu nyaman dengan supplier lama, sehingga supplier baru dengan kualifikasi yang lebih bagus dikesampingkan. Supplier merupakan salah satu komponen penting dalam supply chain, dimana baik atau buruknya kualitas produk yang dihasilkan bergantung pada bahan baku yang dipasok oleh supplier.
Bila kualitas pasokan buruk, maka kualitas produk yang dihasilkan juga tidak baik dan tidak menutup kemungkinan untuk melakukan produksi ulang yang juga berakibat pada biaya yang membengkak. Membuat daftar klasifikasi penting karena berguna untuk menentukan fokus manajemen terhadap tiap supplier yang kepentingannya berbeda-beda. Mengevaluasi kinerja supplier secara berkala perlu untuk menilai perkembangan supplier, yang nantinya dapat menentukan apakah supplier lama harus tetap dipertahankan atau digantikan dengan supplier yang baru.
4. Pengembangan produk
PT. Hutama Tirta Makassar jarang melakukan pengembangan produk baru dan tidak memiliki waktu khusus untuk aktivitas tersebut. Ketika PT. Hutama Tirta Makassar dihadapkan untuk mengembangkan sebuah produk, fokus utamanya adalah efisiensi biaya. Efisien biaya dilakukan dengan memilih bahan yang
mudah didapat sehingga ongkosnya murah. PT. Hutama Tirta Makassar juga tidak mengembangkan produk yang terlampau berbeda dengan produk yang sudah ada, sehingga komponen-komponen lama masih dapat digunakan. Contohnya produk AMDK 1500 ml, 600 ml, dan 240 ml. Yang dilakukan PT. Hutama Tirta Makassar sudah tepat, karena strategi efisiensi memang harus fokus pada efisiensi biaya. PT. Hutama Tirta Makassar tidak pernah melibatkan supplier dan tidak pernah melakukan riset pasar saat merancang produk baru. Akibat tidak melakukan riset pasar, terbukti beberapa produknya ada yang kurang laku di pasaran, seperti produk AMDK 1500 ml. Hal tersebut tentu membuat kegiatan dan biaya pengembangan produk menjadi sia-sia dan tidak efisien. Berdasarkan hasil temuan diatas, maka penerapan efisiensi yang harus dilakukan PT. Hutama Tirta Makassar pada bagian pengembangan produk adalah memperpendek time to market dengan cara:
a. Melakukan riset pasar (menyebarkan kuesioner kepada pelanggan yang datang, menyediakan lembaran kritik dan saran, berinteraksi secara langsung dengan konsumen mengenai AMDK ).
b. Melibatkan supplier-supplier penting saat akan mengembangkan produk (menanyakan ketersediaan bahan baku untuk produk baru kepada supplier, meminta masukan dari supplier mengenai bahan yang cocok untuk produk baru, meminta masukan dari supplier mengenai pertimbangan biaya atas pengembangan produk baru tersebut).
c. Membentuk tim perancang produk yang solid dan dinamis (menyediakan jangka waktu tertentu untuk pengembangan produk, memberikan pelatihan
atau kegiatan lain kepada tim perancang produk yang berkaitan dengan AMDK).
Pertimbangannya, riset pasar perlu dilakukan sebelum merancang produk baru untuk mengetahui bagaimana keinginan konsumen dan tren yang akan datang.
Jika tidak melakukan riset pasar, akan ada kemungkinan produk yang dikeluarkan tidak sesuai dengan keinginan konsumen dan akhirnya dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan karena tidak laku. Dengan melibatkan supplier, maka manfaatnya adalah dapat menghemat biaya material, peningkatan kualitas dan kecocokan material dengan rancangan yang dibuat, dan pengurangan waktu perancangan dan manufaktur. Membentuk sebuah tim khusus perancang produk juga sangat penting, karena untuk mengembangkan suatu produk perlu fokus dan kreativitas yang tinggi agar produk tersebut dapat mencapai target yang diinginkan.
5. Produksi
Jumlah mesin produksi dan sumber daya manusia masih kurang. Manajemen produksinya juga tidak teratur. Dikatakan tidak teratur, karena proses produksi dilakukan hanya pada saat penanggung jawab produksi hadir. Bila penanggung jawab produksi tidak hadir, maka produksi juga berhenti total. Padahal fixed cost juga tetap terjadi saat produksi berhenti. Berdasarkan hasil temuan diatas, maka penerapan efisiensi yang harus dilakukan PT. Hutama Tirta Makassar pada bagian produksi adalah:
1) Menambah jumlah mesin produksi.
2) Menambah dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.
3) Memperbaiki manajemen produksi dengan cara merekrut tenaga profesional di bidangnya dan mencari wakil penanggung jawab produksi agar saat penanggung jawab produksi tidak hadir, proses produksi dapat diwakilkan dan tetap berjalan.
Pertimbangannya, untuk menciptakan efisiensi pada bagian produksi, seharusnya meminimalkan biaya yang timbul dengan cara memiliki mesin produksi yang berkualitas bagus dan berkapasitas besar serta jumlah sumber daya manusia yang memadai, agar dapat melakukan produksi dalam jumlah lebih banyak dan mempercepat waktu produksi, sehingga produksi dapat ditingkatkan terus menerus untuk memenuhi permintaan yang semakin banyak. Bila penanggung jawab produksi tidak dapat hadir, produksi berhenti total, sehingga waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja dan memenuhi permintaan konsumen yang semakin banyak justru dihamburkan sia-sia. Maka dibutuhkan wakil penanggung jawab produksi.
F. Penerapan Strategi Responsif 1. Persediaan
PT. Hutama Tirta Makassar sering mengalami kehabisan stok karena produksinya sering tidak mencukupi. Selain disebabkan oleh jumlah mesin produksi dan sumber daya manusianya yang tidak mencukupi, PT. Hutama Tirta Makassar sendiri juga tidak pernah berusaha meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi permintaan yang berlebih (safety inventory). Apalagi ketika penanggung jawab produksi tidak hadir, maka proses produksi pun tidak dapat dijalankan. Masalah tersebut menyebabkan jumlah persediaan tidak dapat