BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teoritik
3. Jual beli
9) Azas adil dan berimbang yaitu dengan tidak memberatkan pihak lain yang menjurus ke kezhaliman baik dalam ucapan maupun perbuatan.
10) Azas kemaslahatan hidup yaitu terciptanya kerukunan sehingga tidak mengakibatkan terjadinya konflik demi konflik yang bisa memecah belah satu sama lain.
11) Azas larangan merugikan diri sendiri dan orang lain maksudnya adalah bahwasanya para pihak yang mengadakan hubungan perdata tidak boleh merugikan diri sendiri dan orang lain dalam hubungan bertransaksi.
pemberian harta karena menerima harta dengan ikrar penyerahan dan menjawab penerimaan dengan cara yang diizinkan. 28 Selanjutnya menurut Sayyid Sabiq, jual beli adalah tukar-menukar harta dengan harta yang lain dengan jalan saling rela atau pemindaahan hak milik dengan sesuatu ganti atas dasar kerelaan.29
Berdasarkan pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa jual beli adalah suatu proses dimana seorang penjual menyerahkan barangnya kepada pembeli (orang lain) setelah mendapatkan persetujuan mengenai barang tersebut, yang kemudian barang tersebut diterima oleh si pembeli dari si penjual sebagai imbalan uang yang diserahkan. Dengan demikian secara otomatis pada proses dimana transaksi jual beli berlangsung, telah melibatkan dua pihak, dimana pihak yang satu menyerahkan uang (harga) sebagai pembayaran barang yang diterimanya dan pihak yang lain menyerahkan barangnya sebagai ganti dari uang yang telah diterimanya, dan proses tersebut dilakukan atas dasar rela sama rela antara kedua pihak, artinya tidak ada unsure keterpaksaan atau pemaksaan pada keduanya.
b. Landasan Hukum Jual Beli 1) Al-Qur‟an
Jual beli sebagai sarana tolong menolong antara sesama ummat manusia mempunyai landasan yang kuat dalam al-qur‟an diantaranya dalam surat al-baqarah ayat 275 yang berbunyi:
28 Imam Taqiyuddin, Kifayatul Akhyar, Juz I, (Bandung: Al-Ma‟arif,tth), h. 239.
29 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, diterj. Nur Hasanuddin, (Jakarta: Pena Pundi Aksara,2006), h. 126.
Artinya:“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah: 275).30
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (QS An-Nisaa‟: 29).
2) As-Sunnah
30 Q.S al-Baqarah (2): 275.
Jual beli sebagai sarana tolong menolong antara sesame ummat manusia mempunyai landasan yang kuat dalam sunnah Rasulullah SAW.
ِهِدَيِب ِمُجَّرنا ُمَمَع َلبَق ؟ ُبَيْطَأ ِبْسَكْنا ُّيَأ َمَّهَسَو ِوْيَهَع الله ىَّهَص ًُِّبَّننا َمِئُس ٍرْوُرْبَم ٍعْيَب ُّمُكَو –
مكبحناو رازبناا هاور
Artinya: “Nabi Muhammad SAW pernah ditanya: Apakah profesi yang paling baik? Rasulullah menjawab: Usaha tangan manusia sendiri dan setiap jual beli yang diberkati”. (HR. barja dan hakim)31
3) Pendapat Para Ulama
Ulama telah menyepakati bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain. Namun demikian, bantuan atau baraang milik orang lain yang dibutuhkannya itu, harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai.32
Berdasarkan ayat-ayat dan hadits yang dikemukakan di atas sebagai dasar jual beli dapat dinyatakan bahwa jual beli itu hukumnya mubah (boleh). Namun menurut Imam al-Syatibi (ahli fiqh Mazhab Imam Maliki), hukumnya bisa berubah menjadi wajib dalam situasi tertentu. Sebagai contoh dikemukannya, bila suatu waktu terjadi praktek ihtikar, yaitu penimbunan barang, sehingga persediaan (stok) hilang dari pasar dan harga melonjak naik.33 Apabila terjadi praktik seperti itu, pemerintah boleh memaksa para pedagang menjual barang-barang sesuai
31 Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad Hanbal Kitab Musnad Asy-Syamsiyin jilid II, h. 13.
32 Rahmat Syafe‟i, Fiqh Mu‟amalah, (Bandung: CV. Pustaka Setia,2006), h. 75.
33 M. Ali Hasan, Berbagai Macam , ..., h. 117.
dengan harga pasar sebelum terjadi pelonjakan harga barang itu. Para pedagang wajib memenuhi ketentuan pemerintah di dalam menentukan harga pasaran.
c. Rukun dan Syarat Jual Beli.
Jual beli merupakan suatu akad dan dipandang sah bila telah memenuhi syarat rukun yang telah ditentukan dalam jual beli, menurut mazhab hanafi rukun jual beli hanya ijab dan qabul saja. Menurut mereka yang menjadi rukun jual beli adalah ketika penjual dan pembeli sama- sama rela daan suka terhadap barang yang dijual dan dibeli. Tetapi karena unsur kerelaan berhubungan dengan hati, maka menurut jumhur ulama‟ rukun jual beli ada empat yaitu:
1) Orang yang berakad (penjual dan pembeli) 2) Sighat (lafal ijab dan kabul)
3) Ada barang yang dibeli
4) Ada nilai tukar pengganti barang.34
Adapun syarat jual beli yang sesuai dengan rukun jual beli adalah sebagai berikut:
1) Syarat orang-orang yang berakad yaitu berakal, dengan kehendak sendiri (bukan dipaksa), keduanya tidak mubazir, balig atau dewasa.
2) Syarat benda atau barang yang menjadi obyek akad yaitu suci barangnya, harus bermanfaat, milik sendiri, mampu menyerahkan, diketahui, barang yang diakadkan ada ditangan.35
34Ibid, h. 113.
3) Syarat ijab qabul yaitu orang yang mengucapkannya telah baliq dan berakal, qabul sesuai dengan ijab, ijab dan qabul itu dilakukan dalam satu majelis.
d. Macam-macam Jual Beli
Jual beli ditinjau dari beberapa segi yaitu:
1) Dari segi obyeknya jual beli dibedakan menjadi empat macam yaitu jual beli al-muqayyadah (barter), jual beli mutlak, jual beli al-sharf, jual beli pesanan.
2) Dari segi harga, jual beli dibagi menjadi empat bagian yaitu jual beli yang menguntungkan (bay‟ al-murabahah), jual beli yang tidak menguntungkan, jual beli rugi (al-khasarah), dan jual beli al mushawah (menyembunyikan harga aslinya tetapi kedua orang yang berakad saling meridhai).
3) Dari segi bentuk jual beli khusus dibagi menjadi tiga bentuk yaitu jual beli pesanan, jual beli al-wafa‟ (jual beli dengan syarat), ikhtikar (penimbunan).
e. Bentuk-bentuk jual beli
Jual beli dari segi sah atau tidaknya dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu:36
1) Jual beli yang shahih
35 Sayyid Sabiq, Op. Cit; h. 49-62.
36 M. Ali Hasan, Berbagai Macam ,..., h. 128-138.
Apabila jual beli itu disyari‟atkan memenuhi atau syarat yang ditentukan barang itu bukan milik orang lain, dan tidak terkait dengan khiyar lagi, maka jual beli itu shahih dan mengikat kedua belah pihak.
2) Jual beli yang bathil
Apabila pada jual beli itu salah satu atau seluruh rukunnya tidak terpenuhi, atau jual beli itu pada dasarnya dan sifatnya tidak disyari‟atkan, maka jual beli itu bathil. Jual beli yang bathil itu adalah jual beli sesuatu yang tidak ada, menjual barang yang tidak dapat diserahkan, jual beli yang mengandung unsur penipuan, jual beli benda najis, jual beli al-urbun (melalui perjanjian), dan memperjual belikan air sungai, air danau, air laut, dan air yang tidak boleh dimiliki seseorang.
3) Jual beli yang fasid
Apabila kerusakan dalam jual beli itu terkait dengan barang yang dijual belikan, maka hukumnya batal, seperti memperjual belikan benda- benda haram (khamar, babi dan darah). Apabila kerusakan pada jual beli itu menyangkut harga barang dan boleh diperbaiki, maka jual beli itu dinamakan fasid.
Adapun jual beli fasid menurut ulama‟ Hanafiyah yaitu jual beli al-majhu (benda atau barangnya secara global tidak diketahui), jual beli yang dikaitkan dengan suatu syarat, menjual barang yang gaib yang tidaak dapat dihadirkan pada saat jual beli berlangsung sehingga tidak daapat dilihat oleh pembeli, jual beli yang dilakukan oleh orang buta, barter dengan barang yang diharamkan, jual beli ajal, jual beli anggur
daan buah-buahan lain untuk tujuan pembuatan khamar, jual beli bergantung pada syarat, jual beli sebagian barang yang sama sekali tidak dapat dipisahkan dari satunya, jual beli buah-buahan atau padi-padian yang belum sempurna untuk dipanen, jual beli dengan mulammasah, jual beli munabazah, dan jual beli muzabanah.
G. Metode Penelitian