BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
3. Kehadiran Penelitian
Tujuan utama kehadiran peneliti di lokasi penelitian adalah untuk mendapatkan data yang diinginkan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti berfungsi sebagai instrument kunci dalam kehidupan orang-orang yang menjadi objek penelitian. Dengan keterlibatan tersebut, peneliti dapat mengetahui kejadian-kejadian yang dihadapi pada waktu melakukan pengamatan.44 Dalam melakukan penelitian melalui pengamatan, peneliti mengamati subyek pada situasi yang diiinginkan untuk dipahami. Jadi, dalam hal ini peneliti tidak sepenuhnya menyerap informasi dari peristiwa-peristiwa yang diketemukan di lapangan.
42 Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001), h. 6.
43 Sugiyono, Metode Penelitian ,…, h. 8.
44 Sugiyono, Metode Penelitian ,…, h. 20.
4. Sumber dan Jenis Data a. Sumber Data
Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh, apabila peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab, baik pertanyaan yang tertuliis maupun lisan. Apabila peneliti menggunakan teknik observasi, maka sumber datanya bisa berupa benda, gerak atau proses sesuatu.45
Adapun yang menjadi sumber data untuk mendapatkan suatu informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah kepada mereka yang mengetahui dan memahami pada bidangnya, dan ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. Dengan demikian, sumber data yang dimaksudkan adalah dari karyawan PT. Sadhana Arif Nusa Sikur Lombok Timur. Tujuannya adalah agar dapat diperoleh data yang dipercaya dan akurat sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Adapun sumber klasifikasi data menurut sumber perolehannya yaitu:
1) Data Primer
Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.46 Adapun sumber yang dimaksud disini adalah data hasil wawancara dengan karyawan PT. Sadhana Arif Nusa Sikur Lombok Timur dan para petani tembakau yang mengadakan kontrak kerja dengan PT Sadhana Arif Nusa. Adapun tujuan penggunaan data
45 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian,..., h. 114.
46 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian,...,h. 376.
primer adalah untuk memperoleh data yang valid atau data yang diperoleh langsung dari lapangan.
2) Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang berupa keterangan-keterangan atau data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, yang diperoleh dari file, buku, keterangan-keterangan lain atau publikasi atau data pendukung lainnya. Adapun tujuan data sekunder adalah dalam rangka memperkaya dan melengkapi data primer yang telah diperoleh.
5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam melakukan pengumpulan data untuk memperoleh data yang diperlukan oleh peneliti, ada beberapa teknik yang dapat digunakan peneliti dalam pengumpulan data penelitian ini, yaitu:
a. Pengamatan/Observasi
Observasi adalah pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh data yang harus dikumpulkan dalam penelitian. Secara langsung adalah terjun ke lapangan terlibat seluruh panca indra. Secara tidak langsung adalah pengamatan yang dibantu melalui media visual/audiovisual, misalnya teleskop, handycam, dan lain sebagainya.47
Dalam kaitannya dengan pengumpulan data, metode ini dilakukan dengan pengamatan secara langsung terhadap kegiatan yang terjadi pada objek penelitian seperti dengan cara mengamati keadaan sekitar lokasi,
47 Djam‟an Satori & Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Banndung: CV.
Alfabeta: 2014), h. 105.
proses jual beli, serta fasilitas yang ada di PT. Sadhana Arif Nusa Sikur Lombok Timur.
b. Wawancara (Interview).
Wawancara adalah pertemuan dua orang bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.48
Dalam wawancara ini peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur. Tujuannya adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat dan ide-idenya. Dalam wawancara ini peneliti langsung melakukan tanya jawab dengan narasumber. Metode ini digunakan peneliti untuk mengetahui data yaitu:
1. Informasi tentang kerja sama antara petani dan perusahaan.
2. Informasi tentang metode penentuan harga (grade) yang dilakukan perusahaan.
3. Informasi tentang kendala dan proses penentuan harga (grade) tembakau.
Adapun yang peneliti wawancarai adalah orang-orang yang terlibat langsung dengan hal yang diteliti yaitu: petani baik mitra maupun non mitra, pihak perusahaan.
48 Djam‟an Satori & Aan Komariah, Metodologi Penelitian,..., h. 231.
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah catatan yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.49 Metode ini digunakan untuk memperoleh data-data tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda dan dokumen-dokumen lain. Adapun dokumen-dokumen tersebut diperoleh dari PT. Sadhana Arif Nusa Sikur Lombok Timur berupa dokumen-dokumen tertulis serta gambar kegiatan yang ada di PT.
Sadhana Arif Nusa Sikur Lombok Timur.
1. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola kategori dan dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.50
Mengingat peneliti hanya mengumpulkan data-data kualitatif, maka metode analisa data yang digunakan adalah metode induktif.
Dengan demikian data yang terkumpul tersebut dibahasakan dan ditafsirkan secara induktif sehingga diberikan gambaran yang tepat mengenai hal-hal yang sebenarnya terjadi.
Bertolak dari penjelasan di atas, peneliti menggunakan metode ini adalah untuk hasil observasi, wawancara, dan hasil penelitian lainnya.
Metode induktif ini adalah untuk menilai faktor-faktor empiris yang
49 Djam‟an Satori & Aan Komariah, Metodologi Penelitian,..., h. 148.
50 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001), h. 103.
ditemukan dan kemudian dicocokkan dengan landasan teori yang ada.
Dengan demikian maka dapat ditegaskan bahwa teknik yang digunakan dalam menganalisa data penelitian ini adalah teknik induktif dimana peneliti terlebih dahulu menguraikan peristiwa-peristiwa atau data yang bersifat khusus, kemudian menyimpulkan menarik generalitasnya ke yang lebih umum.
2. Uji Keabsahan Data
Setelah data dikumpulkan dan dianalisis langkah selanjutnya adalah memeriksa keabsahan data. Kreadibilitas data dapat diartikan sebagai kepercayaaan terhadap data apakah menggambarkan keadaan yang sebenarnya ataukah sebaliknya.51 Untuk memperoleh keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan yaitu triangulasi, pemeriksaan dengan teman sejawat, kecukupan referensi, dan ketekunan pengamatan.
a. Triangulasi
Triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lebih luas. Data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.52 Hal tersebut dapat dilakukan dengan:
1) Membandingkan data hasil observasi dengan data hasil wawancara.
2) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
51 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian,…, h. 173.
52 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian,…, h. 330.
3) Membandingkan persepsi sumber data satu dengan pendapat dan pandangan sumber data lain.
b. Pemeriksaan dengan teman sejawat
Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam diskusi dengan rekan-rekan sejawat. 53 Pemeriksaan teman sejawat bertujuan untuk mencari kelemahan tafsiran yang kurang jelas serta untuk mendiskusikannya dengan pihak yang memiliki pengetahuan dan keahlian yang relevan, seperti dengan dosen pembimbing, dosen peneliti, teman kuliah atau orang yang menguasai masalah tersebut.
c. Kecukupan Referensi
Teknik ini digunakan bila data yang diperoleh dari bahan dokumentasi dan catatan yang ditemukan di lokasi penelitian, dan perlu diperkuat dengan dokumen atau catatan referensi lain dari hasil penelitian terdahulu dengan menambahkan referensi. Peneliti mengecek kembali keabsahan data dan informasi yang diperoleh dari lokasi penelitian.
d. Ketekunan Pengamatan
Ketekunan pengamatan bermaksud menemukan cirri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalaan atau isi yang sedang dicari dan kemudian memusatkan pada hal-hal yang secara rinci. Ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman. Dalam hal ini
53 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian,…, h. 332.
peneliti menggunakan teknik ini dengan menggunakan pengamataan yang diteliti dan rinci berkesinambungan terhadap fokus penelitian.54 H. Sistematika Pembahasan
Agar tersusun dengan sistematis maka peneliti membagi dalam empat bab, dan dalam tiap-tiap bab masing-masing diuraikan aspek- aspek yang berhubungan dengan pokok pembahasan, yaitu Tinjauan Fiqih Mu‟amalah terhadap Jual Beli tembakau dengan Sistem Grade di PT. Sadhana Arif Nusa Sikur Lombok Timur. Lebih lanjut tiap-tiap bab diperinci lagi menjadi bagian-bagian yang lebih khusus dalam bentuk sub-sub, secara sistematis untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai jalan pikiran peneliti, sehingga para pembaca dapat dengan mudah memahami alur dan arah dari tulisan ini. Uraian keempat bab ini merupakan suatu totalitas dimana antara bab yang satu dengan bab yang lainnya tidak dapat dipisahkan.
Bab I Pendahuluan, peneliti mengungkapkan secara ringkas latar belakang masalah sehingga memunculkan keinginan untuk mengkaji permasalahan yang menjadi tema dasar penelitian ini dan diuraikan juga fokus kajian, tujuan dan manfaat penelitian, telaah pustaka terhadap penelitian yang relevan, serta kerangka teoritik. Pada bab ini dipaparkan juga metode penelitian yaitu pendekatan penelitian, kehadiran peneliti, sumber dan jenis data, tekhnik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
54 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian,…, h. 175.
Bab II Paparan dan temuan data, yaitu data primer maupun sekunder dari penelitian yang dilakukan di lapangan. Pada bagian ini dipaparkan secara deskriptif tentang gambaran lokasi penelitian dan temuan-temuan yang berkaitan dengan tema penelitian.
Bab III Pembahasan dan analisis terhadap data-data hasil temuan yang telah dipaparkan pada bab II dan diinterpretasikan secara mendalam dengan menggunakan teori-teori yang diungkapkan dalam kerangka teoritik pada bab I.
Bab IV Penutup, yaitu berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang merupakan jawaban dari fokus kajian dan saran-saran.
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN PRAKTIK JUAL BELI TEMBAKAU DENGAN SISTEM GRADE DI PT. SADHANA ARIF NUSA
SIKUR LOMBOK TIMUR A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di kantor PT. Sadhana Arif Nusa yang merupakan salah satu perusahaan milik Sampoerna Group sebagai memasok tembakau petani di pulau Lombok. PT. Sadhana Arif Nusa sudah berdiri selama 25 Tahun di pulau Lombok sejak tahun 1995 dengan membangun kantor cabang di Desa Sikur. Ada beberapa kota yang pernah dituju untuk mengembangkan bisnis tembakau Virginia yaitu, Lampung, Makasar, Bangka Belitung, dan Lombok55.
PT. Sadhana Arif Nusa memilih pulau Lombok sebagai lokasi Pengembangan bisnis tembakau Virginia karena potensi alam yang sangat bagus meliputi struktur tanah dan iklim. Pulau Lombok menghasilkan tembakau dengan ciri dan aroma yang khas dibandingkan dengan daerah- daerah lain di Indonesia, sehingga memiliki brand tersendiri di pasar nasional maupun internasional.
Para petani tembakau di pulau Lombok dibina dan diawasi oleh PT.
Sadhana Arif Nusa dengan ketekunan, keuletan dan penuh ketelitian sampai mahir dalam bertanam tembakau Virginia, sehingga kualitas tembakau dari petani mengalami peningkatan, berkat bimbingan dan pembinaan terhadap
55 Eko, Grader PT. Sadhana Arif Nusa Lombok, Wawancara, Sikur, 5 Februari 2020.
39
petaninya56. Perusahaan pemasok tembakau harus memiliki petani sendiri yang dibentuk dalam kemitraan berdasarkan peraturan daerah, sehingga memberikan peluang yang sangat menguntungkan bagi para petani dan perusahaan.
PT. Sadhana Arif Nusa Lombok memiliki 800 petani mitra dalam bisnis tembakau, PT. Sadhana Arif Nusa tidak hanya mengembangkan bisnis tembakau Virginia, namun juga mengembangkan bisnis dalam bidang perkebunan dan produksi komoditi pangan lainnya seperti padi, jagung, dan palawija. Untuk mengontrol petani di masing-masing wilayah, perusahaan memiliki pegawai yang di sebut petugas lapangan (PL) yang khusus menjadi pengawas dan penghubung petani dan perusahaan57.
PT. Sadhana Arif Nusa membangun gedung di areal yang sangat luas dan strategis karena posisinya berada di dekat jalan raya. Memiliki 4 gedung yang sangat bagus sebagai tempat menyimpan tembakau, serta memiliki ruang kantor yang rapi yang terdiri dari ruang manager, meeting, suvervisor, bagian umum, bagian pembiayaan, mushalla, ruang tunggu serta lahan parkir yang sangat luas. Lokasi kantor PT. Sadhana Arif Nusa Lombok berbatasan dengan:
Sebelah Utara : Desa Loyok dan Kotaraja Sebelah Selatan : Desa Terara
Sebelah Barat : Desa Terara dan Rarang Sebelah Timur : Desa Sikur
56 Dewi, Admin PT. Sadhana Arif Nusa Lombok, Wawancara, Sikur, 5 Februari 2020.
57 Dewi, Admin PT. Sadhana Arif Nusa Lombok, Wawancara, Sikur, 5 Februari 2020
B. Praktik Jual Beli Tembakau dengan sistem grade di PT. Sadhana Arif Nusa Sikur Lombok Timur.
Sesuai hasil wawancara peneliti dengan beberapa petani tembakau yang memiliki ikatan kontrak kerjasama dengan PT. Sadhana Arif Nusa yang pusat kantornya terletak di kecamatan Sikur Lombok Timur. Sebelum proses jual beli tembakau antara PT. Sadhana Arif Nusa dengan petani tembakau, terlebih dahulu dibuat kontrak kerjasama tertulis antara kedua belah pihak yang berpola saling menguntungkan berbentuk kemitraan. Kontrak kerjasama ini menyangkut proses pembibitan, penanaman, sampai pada penjualan tembakau. Masa tanam tembakau memakan waktu sekitar 2 – 3 bulan sejak proses pembajakan mulai dilakukan, dengan biaya yang tidak sedikit58.
Sebagaimana dipaparkan oleh sehabudin yaitu:
”antara kami sebagai petani dengan PT. Sadhana Arif Nusa terikat kontrak kerja sama yang saling menguntungkan. Dalam kerjasama tersebut, secara tertulis sudah dituangkan segala ketentuan, baik menyangkut pembiayaan berupa bibit, pupuk, pestisida sampai pada proses pemeliharaan hingga panen. Selain itu dalam kontrak kerjasama itu juga disebutkan mengenai bantuan pinjaman biaya tanam yang maksimal jumlahnya mencapai 40 % dari biaya penanaman”. 59
Seperti yang dipaparkan oleh syukri yaitu:
”Kontrak kerjasama antara petani dan perusahaan adalah kerjasama kemitraan yang dituangkan secara tertulis. Tahapannya, mulai dari semua isi perjanjian kontrak kerjasama dituangkan dalam bentuk tertulis, yang menyangkut pembiayaan terhitung sebagai hutang dan akan dilunasi pasca panen. Selanjutnya setelah panen, tembakau secara langsung dibawa ke tempat perusahaan untuk dilakukan pemeriksaan dan taksiran kualitas sampai pada penentuan dan serah terima pembayaran”.60
58 Observasi, kabar 20 Februari 2020.
59 Sehabudin, Petani Binaan PT. Sadhana Arif Nusa Lombok, Wawancara, Kabar , 6 Februari 2020.
60 Syukri, Petani Binaan PT. Sadhana Arif Nusa Lombok, Wawancara, Kabar, 6 Februari 2020.
Penjelasan yang sama juga peneliti peroleh dari beberapa petani tembakau lainnya. Dari hasil wawancara dengan para petani dapat peneliti simpulkan bahwa ada beberapa tahapan proses sebelum jual beli tersebut terlaksana. Tahapan proses dimaksud adalah sebagai berikut:61
Pertama: perusahaan terlebih dahulu menyiapkan perjanjian tertulis yang nantinya disodorkan kepada para petani untuk ditandatangani. Mengenai isi perjanjian tersebut semuanya sudah ditulis dan dirumuskan oleh perusahaan sendiri dan tidak ada campur tangan petani dalam merumuskan isi perjanjian tersebut yang isinya menyangkut pembiayaan yang dihitung hutang dan dilunasi pasca panen tembakau..
Kedua: pihak perusahaan mengundang para petani untuk melakukan musyawarah mengenai harga namun tidak adanya hak petani dalam menentukan harga pembelian. Musyawartah dalam hal ini adalah bentuknya lebih dominan penyampaian nilai standar harga pembelian oleh perusahaan, bukan musyawarah dalam arti mencari kesepakatan mengenai standar harga.
Akan tetapi karena penetapan harga sudah ditentukan oleh perusahaan pusat, maka musyawarah dimaksud disini adalah pihak perusahaan menyampaikan standar harga pembelian tembakau pada musim panen yang bersangkutan.
Informasi yang disampaika oleh perusahaan dalam musyawatrah ini adalah mengenai penetapan harga dasar yang digunakan sebagai harga acuan terendah dari masing-masing grade tembakau. Harga acuan ini ditetapkan
61 Sehabudin, Syukri, Makyah, Petani tembakau, wawancara, 10 Maret 2020
berdasarkan hasil evaluasi pada tahun sebelumnya atau setiap musim tanam oleh perusahaan bersama para petani tembakau sebagai mitra kerjasama.
Ketriga: Para petani secara langsung membawa tembakaunya ke perusahaan dalam bentuk bal-balan. Petani menyampaikan kepada perusahaan jumlah bal-balan tembakau yang mereka bawa untuk dijual kepada perusahaan dan di dampingi oleh Pegawai Lapangan (PL) bagi para petani yang menjadi mitra perusahaan. Dan para petani sendiri yang mengangkat dan manaikkan bal-balan tembakau tersebut ke atas rel untuk di grade. Setelah tembakau naik ke atas rel, kemudian para petani berada di samping rel sambil menyaksikan grader yang sedang melakukan grade.
Posisi para petani hanya menyaksikan para grader melakukan tugasnya.
Dalam proses grade, semua tembakau dibongkar untuk menentukan kualitas tembakau. Dalam hal ini para petani tidak bisa menentukan kualitas dan harga tembakaunya, yang berhak menentukan kualitas dan harga dari tembakau setelah proses pengovenan adalah grader yang bertugas sebagai karyawan atau buruh perusahaan. Sehingga para petani sama sekali tidak memiliki kewenangan sejak penentuan harga sampai pada penentuan kualitas tembakaunya.
Sementara itu bagi para petani yang swadaya ketika ingin menjual tembakau hasil produksinya tidak bisa langsung membawa tembakaunya ke perusahaan karena tidak terikat oleh kontrak kerja sama kemitraan dengan perusahaan melainkan menjualnya kepada petani pemasok lainnya atau bisa langsung membawanya ke perusahaan pemasok jika kuota tembakau yang
diperoleh perusahaan dari petani binaan masih kurang atau masih jauh dari target pembelian.
Sebagaimana dipaparkan oleh Zainuddin:
”kebetulan saya tidak termasuk ikut dalam kontrak kerjasama dengan PT. Sadhana Arif Nusa, tetapi terkadang saya juga menjual tembakau kepada perusahaan tersebut secara langsung ketika kuota pembeliannya masih kurang atau jauh dari target. Kalau saya tidak menjualnya kepada perusahaan, tembakau bisa juga dijual kepada pengepul atau petani pemasok lainnya. Perlakuan jual belinya sama saja, akan tetapi bagi petani yang tidak masuk dalam anggota yang terikat kontrak kerjasama dengan PT. sadhana Arif Nusa lebih sulit dalam menjual tembakaunya bahkan harganya bisa lebih rendah dibanding dari harga di perusahaan ketika di jual ke pemasok lainnya”.62
Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan beberapa petani tembakau yang ada di Kabar Lombok Timur, baik yang terikat kontrak dengan PT. Safdhana Arif Nusa maupun petani yang swadaya, bahwa terjadi perlakuan beda antara petani tembakau yang terikat kontrak dengan yang swadaya. Bagi mereka yang terikat kontrak kerjasama, perusahaan menyediakan bantuan berupa pinjaman dana untuk biaya pupuk, pembibitan sampai masa panen, yang terhitung sebagai hutang yang akan dilunasi setiap penjualan. Sedangkan bagi petani yang swadaya, perusahaan tidak menyiapkan bantuan untuk mereka, bahkan dalam pelaksanaan jual beli tembakau tidak bisa langsung membawa tembakau hasil produksinya ke perusahaan kecuali kuota pembelian perusahaan belum mencapai target.
Bahkan ketika ingin menjual tembakaunya ke pemasok yang terikat kontrak kemitraan harganya akan lebih mudah ketimbang di perusahaan.
62 Zaenuddin, Petani Swadaya, Wawancara, Kabar 6 Februari 2020
C. Tekhnik Penetapan Harga (Grade) Tembakau oleh PT. Sadhana Arif Nusa.
Supaya lebih memahami dan mengetahui praktik jual beli tembakau dengan sistem grade di PT. Sadhana Arif Nusa Sikur Lombok Timur, peneliti akan memaparkan hasil penelitian berupa data yang diperoleh dengan metode wawancara dan dokumentasi terhadap pegawai PT. Sadhana Arif Nusa dan beberapa petani baik yang bermitra maupun yang swadaya. Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan bentuk kontrak kemitraan dalam jual beli tembakau Virginia Lombok serta Metode dalam penentuan harga tembakau di PT. Sadhana Arif Nusa Lombok.
1. Kontrak Kerja Sama Kemitraan PT. Sadhana Arif Nusa dengan Petani Tembakau.
Salah satu persyaratan bagi perusahaan untuk memperoleh izin dari pemerintah adalah bahwa perusahaan tersebut memiliki petani sendiri. Petani ini dibentuk dengan pola kerjasama yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak dalam bentuk kemitraan.
Sebagaimana dituturkan oleh eko selaku grader yaitu:
”Kerja sama kemitraan yang dilakukan antara petani dan PT.
Shadana Arif Nusa berupa kerjasama penyediaan sarana produksi kerjasama produksi pengolahan, serta pembiayaan, dan jasa pendukung lainnya”. Dengan syarat menjadi mitra ini adalah memiliki atau menyewa oven serta mempunyai lahan kurang lebih satu hektar berdasarkan rekomendasi tekhnis lapangan atau petani mitra lainnya.63
63 Eko, Grader PT. Sadhana Arif Nusa Lombok, Wawancara, Sikur, 5 Februari 2020.
Kemitraan didasarkan atas dasar saling menguntungkan, saling memperkuat, dan saling ketergantungan dengan patani mitra sampai terpenuhinya hak dan kewajiban masing-masing.64 Dalam kemitraan ini terdapat perjanjian tertulis antara petani dan perusahaan. Ketika petani meminta menjadi mitra atau direkomendasikan oleh tetangga atau tekhnisi lapangan, secara langsung menandatangani kontrak kemudian berkas disimpan oleh perusahaan.
Sehabudin salah seorang petani mitra menuturkan yaitu:
”Untuk masalah isi perjanjian dalam menjalin kontrak kerja sama kemitraan antara petani dan perusahaan, semuanya sudah ditulis dan dirumuskan oleh perusahaan tidak ada campur tangan petani dalam merumuskan isi perjanjian tersebut karena sudah disiapkan dalam bentuk formulir”.65
Tahapan-tahapan dalam menjalin hubungan kemitraan petani dengan perusahaan yaitu:
a. Mengenal calon mitra
b. Menilai hasil temuan dan membuat keputusan c. Pembuatan perjanjian kemitraan
Hak petani dalam kontrak kemitraan ini adalah memperoleh pembinaan, bantuan berupa pembiayaan yang besarnya minimal 40%
dari biaya produksi, sedangkan kewajibannya adalah menyediakan tembakau untuk dijual ke perusahaan, melunasi hutang pembiayaan, dan mentaati prosedur dan sistem yang telah ditetapakan perusahaan dalam kontrak perjanjian kemitraan. Sedangkan hak perusahaan adalah
64 Silver, Tekhnisi PT. Sadhana Arif Nusa Lombok, Wawancara, Sikur, 5 Februari 2020.
65 Sehabudin, Petani Binaan PT. Sadhana Arif Nusa, Wawancara, Kabar, 6 Februari 2020.