untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sosial dan politik di tengah masyarakat.
1995 M.), Daniel Djuned (1954-2010 M.), Buchari M. dalam memetakan metode pengkajian dan pemahaman hadis di Indonesia, gambaran analisa ini menggunakan pendekatan genealogi82 untuk membantu menelusuri sumber otentik dari objek kajian.83
Konstruksi pemahaman hadis Ali Mustafa terdiri dari dua hal: petama, pemahaman tekstual yang bisa diterapkan pada hadis-hadis tentang perkara gaib dan ibadah murni; dan kedua pemahaman kontekstual yakni memahami hadis dengan mempertimbangkan aspek lain yang turut mengitari. Konstruksi ini adalah upaya untuk mendorong ‘perlakuan’ berbeda terhadap hadis-hadis seputar perkara gaib dan ibadah murni dengan hadis- hadis yang berkaitan dengan tradisi dan muamalah. Oleh karena itu, serban tidak lebih dari sekedar pakaian bangsa Arab dan tidak berhubungan dengan syiar Islam. Konstruksi pemahaman hadis Ali Mustafa yang mampu menghidupkan teks hadis sesuai kondisi pengamalannya, dan tidak sekedar menghidupkan teks semata.84
82 Genealogi yang berasal dari perkataan Yunani itu terdiri daripada Genos, artinya keluarga (family) dan Logos, artinya teori (theory). Genealogi ini sendiri merupakan sebuah aliran pemikiran yang lebih fokus pada nilai historisis untuk menjelaskan hubungan antara ilmu pengetahuan, kekuasaan, dan otoritas. Genealogi sebagai sebuah kajian adalah studi yang membahas tentang evolusi dan jaringan kelompok masyarakat pada beberapa generasi. Pendekatan genealogi dapat memberikan sumbangsih penelitian untuk memerhatikan pola perkembangan diakronis dan rantai intelektual antar-generasi dari pemikiran seorang ahli hadis di Indonesia terkait metodologi pemahaman hadis dan juga penjelasan bahwa genealogi berkaitan dengan silsilah dan kerabat. Franz Rosenthal, A History of Muslim Historiography (Leiden:
E.J. Brill, 1968), 99-100; Claudia Lenz, “Genealogy and Archeology: Analyzing Generational Positioning in Historical Narrative.” Journal of Comparative Family Studies, 42.3 (2011): 319; Yudi Latif, Intelegensia Muslim dan Kuasa Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abad ke-20 (Bandung: Mizan Pustaka, 2005), 7; dan Robert J. Parkin, “Genealogy and Category: An Operational View.” The Journal of L’Homme,, Vol. 36e, no. 139 (1996): 87.
83 Hasep Saputra, Perkembangan Studi Hadis di Indonesia: Pemetaan dan Analisis Genealogi (Jakarta: Disertasi Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, 2014).
84 Miski, “Pemahaman Hadis Ali Mustafa Yaqub: Studi atas Fatwa Pengharaman Serban dalam Konteks Indonesia.” Riwayah: Jurnal Studi Hadis, Vol. 2, no. 1 (2016): 15-31.
Pemahaman hadis Ali Mustafa didasari pada pemahaman kontekstual jika hadis tersebut tidak dapat dipahami secara tekstual. Hal ini dibuktikan dalam contoh pengamalan hadis doa pengalihan hujan. Ali Mustafa berpendapat jika doa ini dibacakan penduduk Jakarta ketika hujan lebat, maka tidak tepat karena geografi geomorfologi Jakarta dan Madinah sangat berbeda. Madinah adalah kota yang dikelilingi oleh dataran pasir, sehingga kota Madinah tidak mengalami banjir kiriman, sedangkan Jakarta dikelilingi oleh dataran tinggi, sehingga Jakarta akan mendapatkan banjir kiriman. Hal ini adalah salah satu bukti bahwa Ali Mustafa memiliki pemahaman hadis yang rasional karena mempertimbangkan kondisi geografi daerah setempat untuk memahami dan mengamalkan hadis.85
Ali Mustafa memiliki peran yang begitu besar dalam pengembangan kajian hadis di Indonesia. Dalam pengkajian sanad hadis, Ali Mustafa memberikan pandangan bahwa otentisitas hadis dapat dilihat dengan perbandingan terhadap hadis lain. Metode pemahaman hadis yang diusung oleh Ali Mustafa juga merupakan pengembangan dari metode pemahaman hadis ulama klasik dengan rekonstruksi pemahaman hadis dalam bentuk kritik atau pemahaman baru seperti pemaknaan istilah bid’ah yang menjadi polemic di tengah masyarakat.86
Pemahaman hadis Ali Mustafa dalam pembahasan keharaman haji adalah pemahaman hadis yang sangat unik dan tidak biasa dipakai oleh ahli hadis sebelumnya dalam memahami hadis-hadis terkait keharaman haji. Ali Mustafa memahami hadis-hadis ini dengan metode sekala prioritas dalam ibadah.
Metode pemahaman hadis semacam ini tergolong dalam
85 Fatihunnada dan Afaf Nazrat Uyun, “Kontekstualisasi Hadis Doa Pengalihan Hujan Pendekatan Geografis Jakarta Menurut Ali Mustafa Yaqub,” Jurnal Ilmu Ushuluddin 7, no. 1 (2020).
86 Muhammad Qomarullah, “Pemahaman Hadis ali Mustafa Yaqub dan Kontribusinya Terhadap Pemikiran Hadis di Indonesia” Al-Quds: Jurnal Studi Alquran dan Hadis, Vol. 4, no. 2 (2020).
pemahaman Ijmālī atau global, tekstual dan parsial, sehingga pemahamannya menjadi kurang tepat dan tidak komperhensif. Di sisi lain, Ali Mustafa tidak konsisten dalam pemilihan dan seleksi hadis sebagai argument pendapatnya. Dalam pengutipan sebuah hadis mengenai niat orang yang berhaji, Ali Mustafa dianggap mengutip hadis daif yang seharusnya tidak dikutip karena kapasitasnya sebagai ahli hadis87
Para pengkaji terdahulu sepakat untuk mengatakan bahwa Ali Mustafa termasuk ahli hadis Indonesia yang rasionalis karena mampu melakukan rekonstruksi terhadap pemahaman hadis dengan mempertimbangkan aspek kondisi sosial masyarakat di Indonesia yang berbeda dengan kondisi masyarakat di Timur Tengah. Oleh karena itu, pemahaman hadis ahli hadis Indonesia memiliki banyak perbedaan dengan ahli hadis di Timur Tengah atau lainnya. Di sisi lain, pemahaman hadis Ali Mustafa juga sangat unik, tetapi masuk dalam garis besar pemahaman tekstual yang dianggap tidak rasional. Kajian ini akan mencari titik temu atau jawaban pasti terkait metode pemahaman hadis Ali Mustafa yang dianggat tekstual atau kontekstual.
Beberapa tuduhan bahwa ahli hadis Nusantara tidak memiliki kompetensi dapat dijawab dengan kehadiran Muhammad Mahfudz Termas (1868-1920 M.) adalah ulama Nusantara yang mendunia dan dikenal sebagai pembangkit ilmu dirāyah, dan pelopor transmisi hadis ke Nusantara melalui muridnya, keturunannya, jama'ah haji, percetakan serta alumni Haramayn. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, Revitalisasi ajaran Nabi ke Nusantara sejak paruh kedua abad ke- 17 dengan gerakan pembaharuan. Kedua, Muhammad Mahfudz Termas dikenal sebagia ulama Nusantara yang pertama kali mendapatkan gelar Muḥaddith.88
87 Abdulloah Ubet, Metode Pemahaman Hadis Perspektif Ali Mustafa Yaqub: Studi pada Buku Haji Pengabdi Setan (Surabaya: Disertasi Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, 2019).
88 Muhajirin, Transmisi Hadis di Nusantara: Peran Ulama Hadis Nusantara Muḥammad Maḥfūẓ al-Tarmasī (Jakarta: Disertasi Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Sosok Ali Mustafa juga dianggap telah menjadi tokoh ahli hadis Nusantara bertaraf internasional. Hal ini didasari pada beberapa temuan bahwa karya-karya Ali Mustafa dalam bidang hadis yang begitu banyak, meskipun banyak juga karya di bidang lain seperti fikih, akidah, akhlak, dan tema Islam secara umum.
Kepakaran Ali Mustafa juga terbukti dengan lahirnya Darus- Sunnah sebagai lembaga pendidikan tingkat perguruan tinggi yang fokus mengkaji dan mengembangkan kajian hadis di Indonesia.89
Pemetaan kajian-kajian di atas dapat memberikan gambaran adanya kontradiksi beberapa kajian yang menegaskan bahwa ahli hadis termasuk kelompok tradisionalis yang tidak memiliki karakter kritis dalam memahami hadis, bahkan dianggap tidak memperhatikan aspek pemahaman hadis karena hanya terfokus pada kajian sanad, tetapi beberapa kajian menegaskan sebaliknya, bahwa ahli hadis adalah kelompok rasionalis yang sangat kritis dalam memahami hadis dengan metodologi yang dibangun, sehingga dapat disimpulkan juga bahwa ahli hadis memiliki perhatian besar terhadap kajian matan, tidak hanya kajian sanad. Penelitian ini akan memberikan jawaban kontradiksi di atas dengan memotret peran nalar dalam pemahaman ahli hadis terhadap persoalan sosial dan politik yang terjadi di sekitarnya.
Beberapa kajian juga memberikan gambaran adanya keterputusan pembahasan tentang perkembangan kajian hadis di Indonesia. Beberapa penelitian menjelaskan sejarah munculnya pengkajian hadis dengan karya-karya kompilasi dan terjemahan hadis dan perjalanannya yang sangat lambat dengan karya-karya ilmu hadis dan pensyarah hadis, sampai perkembangan pesat dengan karya-karya metodologi kritik hadis dari segi sanad dan
Hidayatullah, 2009); Lihat juga: Muhajirin: Muhammad Mahfudz At-Tarmasi (1868- 1919 M): Ulama Hadits Nusantara Pertama (Yogyakarta: Idea Press Yogyakarta, 2016).
89 Nasrullah Nurdin, “Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA Muhaddis Nusantara Bertaraf Internasional” Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 14, no. 1 (2016).
matan. Penelitian ini akan melanjutkan pengkajian perkembangan kajian hadis di Indonesia dengan menganalisis pengaruh kondisi sosial dan politik dalam pemahaman hadis Ali Mustafa, yang merupakan salah satu tokoh ahli hadis Indonesia.