• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pergeseran Penggunaan Serban

Dalam dokumen FENOMENA SOSIAL DAN POLITIK (Halaman 170-190)

Ali Mustafa yang juga dikenal sebagai ahli fikih berdasarkan jejak pendidikan formal dalam meraih gelar doktor, memiliki karakter fikih yang melihat sebuah permasalahan dengan sudut pandang yang detail, sehingga perlu ada perbedaan hukum bagi satu masalah jika memiliki faktor lain. Serban yang ramai digunakan masyarakat muslim di Indonesia dapat dikategorikan haram jika memenuhi unsur kesombongan dalam memakainya.

dalam berinteraksi. Hal ini berdampak besar pada konsep kesetaraan pernikahan antarketurunan Arab.372

Serban sendiri sudah menjadi pakaian tradisional Arab sebelum Islam datang. Kata serban itu sendiri digunakan oleh bangsa non-Arab yang berasal dari bahasa Persia yang berbunyi dulband melalui bahasa Turki tullbant atau tolibant. Orang Arab menyebutnya ‘Imamah. Serban di masa sebelum Islam dan awal Islam hanya berupa potongan kain yang dililitkan di kepala, tidak seperti penutup kepala yang berkembang di zaman sekarang.373 Penggunaan serban pada masa kini sudah berkembang dengan model serban yang lebih modern atau penambahan peci, pengikat kepala, dan lain sebagainya.

Serban juga digunakan oleh masyarakat non-Arab. Salah satu wilayah Peru, Paracas memiliki tradisi menggunakan serban untuk menutupi kepala, bahkan jenis serban yang dikenal Paracas mencapai 118 ragam. Serban yang mereka gunakan adalah tenunan persegi panjang panjang di sekitar kepala dengan satu ujung menggantung bebas.374

Masyarakat Arab di zaman Nabi memiliki beberapa jenis pakaian sehari-hari yang biasa mereka gunakan sepertia Izār (kain bawahan, sejenis sarung), Qamīṣ375 (gamis atau kemeja), Sirwāl376 (celana panjang), Tubban (selana pendek), Qubbāʻ377 (pakaian luaran), Thawb (pakaian biasa), Ridāʻ (kain atas, sejenis selendang), Burnus378 (sejenis mantel yang bertudung kepala),

372 Martin Slama, “Marriage as Crisis: Revisiting a Major Dispute among Hadhramis in Indonesia,” The Cambridge Journal of Anthropology 32, no. 2 (2014), 75.

373 Yedida Kalfon Stillman, Arab Dress: A Short History from the Dawn of Islam to Modern Times (Leiden: Brill, 2003), 16.

374 Anne Paul, “The Symbolism of Paracas Turbans: A Consideration of Style, Serpents, and Hair,” Nawpa Pacha: Journal of Andrean Archeaology no. 20 (1982), 42.

375 Muḥammad ibn Ismāʻīl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al- Bukhārī (Dār Ṭūq al-Najāt, 2002), 7, 143, no. 5795.

376 Muḥammad ibn Ismāʻīl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al- Bukhārī, 7, 144, no. 5804.

377 Muḥammad ibn Ismāʻīl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al- Bukhārī, 7, 144, no. 5800.

378 Muḥammad ibn Ismāʻīl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al- Bukhārī, 7, 144, no. 5802.

Kisāʻ379 (pakaian biasa), Hullah (pakaian setelan), Imāmah (serban), Qalansuwah (tutup kepala, sejenis peci), dan lain sebagainya. Di antara jenis pakaian di atas, serban dan jubah menjadi daya Tarik tersendiri bagi sebagian kalangan muslim.

Mereka memiliki pandangan bahwa keduanya adalah pakaian Nabi yang sangat dianjurkan untuk dipakai, khususnya dalam beribadah dan kegiatan keagamaan. Sebagian mereka menganggap bahwa memakai serban dan jubah merupakah ibadah tersendiri dengan dalih mengikuti Nabi. Serban tidak hanya menjadi satu-satunya pakaian penutup kepala yang digunakan Nabi dan para sahabat di masa itu, tetapi mereka juga memakai peci (Qalansuwah) dan mantel yang memiliki bagian sampai menutup kepala (Burnus).

Dahulu kala, serban tidak memiliki makna keagamaan dalam Islam. Serban hanya dipahami sebagai salah satu pakaian tradisional masyarakat Arab, bukan masyarakat muslim arab. Di zaman sekarang, serban sudah menjadi identitas keagamaan sebagai “identitas orang Islam”, “pembeda antara orang beriman dan kafir”, dan lain sebagainya, bahkan Nabi diberi julukan sebagai “pemilik serban”, sehingga serban yang digunakan Nabi semasa hidup dijuluki sebagai “sang awan” karena menutupi kepala Nabi dari terik matahari seperti awan yang selalu mengikuti dan melindungi Nabi.380 Peralihan fungsi penggunaan serban ini merupakan pergeseran fungsi pakaian seperti pergeseran fungsi pemakaian baju batik dari penggunaan pada acara-acara daerah menjadi penggunaan pada kegiatan resmi sehari-hari seperti bekerja, pertemuan resmi, dan lain sebagainya.

Ali Mustafa mempertanyakan paradigma yang berkembang semacam ini di masyarakat dengan pertanyaan mendasar, kenapa hanya serban dan jubah saja yang dijadikan gaya berpakaian syar’i dengan dasar mengikuti Nabi?! Jika mereka benar-benar

379 Muḥammad ibn Ismāʻīl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al- Bukhārī (Dār Ṭūq al-Najāt, 2002), 7, 147, no. 5818.

380 Yedida Kalfon Stillman, Arab Dress: A Short History from the Dawn of Islam to Modern Times (Leiden: Brill, 2003), 16-17.

mengikuti Nabi, maka mereka harus berpenampilan sepenuhnya sesuai yang Nabi lakukan dengan sandal atau Khuff yang dipakai Nabi juga. Ali Mustafa juga menyayangkan orang yang memakai serban tetapi memakai kaos dan celana jeans, kemudian meyakini bahwa ia sudah berpenampilan seperti Nabi dengan hanya memakai serban.381 Oleh karena itu, hal ini bisa disimpulkan sebagai gerakan Arabisasi semata, bukan sebagai gerakan keagamaan. Jika gerakan keagamaan dimunculkan dalam bentuk model berbusana, maka seharusnya seluruh atribut pakaian kenabian dijadikan pakaian sehari-hari, bukan sekedar mengambil sebagian saja dan meninggalkan yang lainnya.

Gerakan Arabisasi di Indonesia telah dilakukan oleh kelompok-kelompok Salafi dengan memperlihatkan penampilan jenggot panjang, memakai serban, jubah, dan celana di atas mata kaki bagi laki-laki dan memakai cadar bagi perempuan. Para pengikut gerakan ini akan meninggalkan cara berpakaian dan berpenampilan mereka seperti orang Indonesia pada umumnya.

Menurut kelompok Salafi, cara berpakaian dan berpenampilan merukapan salah satu indikator kebaikan atau keburukan seorang muslim karena mampu mengikuti dan memilih sunnah Nabi sebagai gaya hidup.382

Hal ini menunjukkan bahwa kelompok Salafi menggunakan atribut berpakaian sebagai simbol penampilan masyarakat muslim, sehingga orang-orang yang tidak mengikuti paradigma berpakaian mereka akan dicap sebagai ahli bid’ah, beragama tanpa dasar, kaki tangan dan agen Barat, dan lain sebagainya.

Perkembangan semangat keagamaan masyarakat muslim Indonesia menyebabkan tingkat rasionalitas masyarakat dalam beragama dengan sikap kritis terhadap isu keagamaan yang berkembang. Masyarakat mulai bertanya tentang hakikat tradisi

381 Ali Mustafa Yaqub, Cara Benar Memahami Hadis (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2016), 88-89.

382 Ahmad Bunyan Wahib, “Being Pious Among Indonesian Salafis,” Al-Jami’ah:

Journal of Islamic Studies 55, no. 1 (2017), 14-15.

keagamaan yang diwariskan oleh nenek-moyang mereka, seperti Slametan, Tahlilan, Yasinan, Maulidan, dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan oleh pengaruh gerakan modern Ikhwanul Muslimin dan Puritanis Wahabi-Salafi di abad ke-20 dan 21, sehingga mempengaruhi keagamaan masyarakat muslim Indonesia dengan corak skriptualis.383 Hal ini telah menggeser paradigma keagamaan di Indonesia, bahkan corak sufi juga mengalami perubahan dari tradisional yang dipraktikan oleh komunitas Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Suryalaya kepada Majelis Shalawat dan Dzikir seperti Nurul Mustafa pimpinan Habib Hasan bin Ja’far dan Majelis Zikir seperti Az- Zikra pimpinan Muhammad Arifin Ilham (1969-2019 M.).384

Pada era modern, posisi serban telah digantikan oleh Tarbush di beberapa negara Arab seperti Mesir. Serban dan Tarbush sering dibenturkan antara ideologi melestarikan tradisi kenabian dengan memakai serban dan ideologi moderenitas.

Moderenitas dianggap menjadi salah satu faktor bergesernya nilai sunnah di tengah masyarakat, tetapi moderenitas juga dianggap sebagai kebutuhan masyarakat untuk menghadapi masa depan.385

Bagi kelompok Salafi, ajaran Islam tidak mungkin sejalan dengan perkembangan fasion karena perubahan gaya berpakaian masyarakat muslim dengan mengikuti perkembangan fasion akan berdampak pada moderenitas dan pluralitas yang membuat seseorang meninggalkan tradisi keagamaannya.386 Oleh karena itu, serban dijadikan salah satu upaya untuk membentengi tradisi

383 Clifford Geertz, Islam Observed: Religious Development in Morocco and Indonesia (Chicago & London: The University of Chicago Press, 1971), 65-70.

384 Baca selengkapnya: Julia Day Howell, “Contrasting Regimes of Sufi Prayer and Emotion Work in the Indonesian Islamic Revival,” dalam A Sociology of Prayer, editor Giuseppe Giordan and Linda Woodhead (London: Routledge, 2015), 97-118.

385 Anshuman A. Mondal, “Between Turban and Tarbush: Modernity and Anxieties of Transition in Hadith ‘Isa ibn Hisham,” Alif: Journal of Comparative Poetics no. 17 (1997), 206.

386 Annelies Moors, “Islam and Fashion on the Streets of San’a, Ymen,” Etnofoor 16, no. 2 (2003), 53.

keagamaan dalam rangka membendung moderenitas Barat melalui berpakaian.

Hal ini dikritik Ali Mustafa dengan nalar keagamaan yang diajukan,387 bahwa tidak semua yang datang dari Nabi, baik berupa ucapan atau perbuatan memiliki kandungan ajaran agama yang harus diikuti berdasarkan penggalan surat al-Hasyr ayat 7 yang berbunyi:

.اوُهَت ناَفْ ُه ن َعْ م ُكاَه َنْا َم َوُْهو ُذ ُخ َفْ ُلو ُسَّرلاْ ُم ُكاَتآْا َم َو

ْ

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (Q.S. al- Hasyr (59): 7).

Menurut Ali Mustafa, ayat ini memiliki kandungan nilai ajaran agama secara umum yang perlu diperjelas dan diturunkan secara detail oleh teks hadis yang menegaskan bahwa Nabi memiliki pendapat pribadi dalam hal-hal urusan dunia seperti arahan Nabi kepada para sahabat agar tidak melakukan penyerbukan pohon kurman untuk menambah kesuburan pembuahannya. Setelah hal itu dilaksanakan oleh para sahabat, pohon kurma tidak lagi berbuah dengan baik, sehingga dilaporkan kepada Nabi kembali. Nabi menanggapi hal tersebut dengan berkata: “Aku adalah manusia biasa. Jika aku memerintahkan kalian dengan sesuatu yang berurusan dengan agama, maka laksanakanlah. Jika aku memerintahkan kalian dengan sesuatu yang berasal dari pendapatku, maka aku adalah manusia biasa”.388 Hal ini menunjukkan bahwa pendapatnya dapat diterima dan dipraktikan atau tidak diterima dan tidak dipraktikkan seperti pendapat orang biasa lainnya.

387 Ali Mustafa Yaqub, Cara Benar Memahami Hadis (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2016), 85-88.

388 Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Naysābūrī, Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār Ihyā’ al-Turāth al-

‘Arabī, t.t.), 4, 1835, no. 2362.

Serban adalah termasuk hal yang dilakukan Nabi tidak berdasarkan ajaran agama, tetapi berdasarkan urusan dunia karena dasar memakai serban adalah budaya Arab itu sendiri yang sudah ada jauh sebelum Nabi diturunkan di kota Mekkah yang kemudian tidak hilang selepas Nabi meninggal di Mekkah.

Dalam kaitan hal ini, Ali Mustafa mengutip beberapa fatwa dari tokoh dan lembaga keagamaan Timur Tengah/Arab.389 Lembaga fatwa pemerintah Kerajaan Arab Saudi (al-Lajnah al- Dā’imah lī al-Buḥūth al-‘Ilmīyah wa al-Iftā’) di bawah pimpinan ʻAbd al-ʻAzīz ibn Bāz (1912-1999 M.) juga menegaskan bahwa serban merupakan pakaian adat kaumnya, kendati Nabi memakainya. Sebaiknya setiap orang yang memakai pakaian yang biasa dipakai oleh penduduk negerinya, selama itu tidak diharamkan.390 Beliau juga mengutip fatwa Ibn Uthaymayn ketika ditanya tentang apakah memakai serban hukumnya sunnah yang ditekankan (Muakkadah)? Ibn ‘Uthaymayn menjawab bahwa memakai serban tidak termasuk perkara sunnah, baik yang ditekankan atau yang tidak ditekankan karena Nabi memakai serban untuk mengikuti adat kebudayaan masyarakat setempat waktu itu. Oleh karena itu, tidak ada dalam keterangan hadis Nabi yang memerintahkan memakai serban karena serban adalah pakaian adat setempat. Jika masyarakat setempat menggunakan serban, maka hendaklah seseorang menggunakannya agar tidak membedakan dirinya dari kebiasaan orang lain, sehingga masuk dalam kategori pakaian popularitas.

Jika masyarakat sepetempat tidak terbiasa menggunakan serban, maka seorang muslim juga tidak perlu memakai serban untuk menghindarkan diri dari perilaku berpakaian dengan pakaian popularitas. Dalam fatwa berikutnya, ‘Uthaymayn menjelaskan bahwa dalam berpakaian, seseorang disunnahkan untuk menggunakan pakaian yang lazim digunakan masyarakat

389 Ali Mustafa Yaqub, Cara Benar Memahami Hadis, 94-98.

390 Al-Lajnah al-Dā’imah lī al-Buḥūth al-‘Ilmīyah wa al-Iftā’, Fatāwā al-Lajnah al- Dā’imah lī al-Buḥūth al-‘Ilmīyah wa al-Iftā’ (Riyadh: Dār al-Mu’ayyid, 1424 H.), 24, 43, no. 18409.

sekitarnya di negeri/daerahnya masing-masing. Argumentasi kuat bahwa serban bukan termasuk dari perkara ibadah adalah jika dipaksakan serban sebagai bentuk ibadah karena dipakai oleh Nabi, maka memakai kain sarung, jubah, dan seluruh pakaian Nabi juga disebut ibadah, sehingga seluruh umat Islam harus mengganti pakaian mereka dengan cara berpakaian Nabi.391

Serban yang digunakan Nabi sebagai pakaian sehari-hari dalam aktifitas sosial dan ibadah bukan dalam bentuk yang besar yang memberatkan kepala atau serban yang kecil yang tidak menjaga kepala dari udara panas dan dingin, melainkan serban yang ukurannya sedang.392 Hal ini sesuai dengan salah satu fungsi penggunaan pakaian sebagai pelindung393 tubuh dari kondisi dan cuaca yang terjadi di lingkungannya seperti penggunaan jaket untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin, penggunaan tutup kepala dalam bentuk topi atau peci untukmelindungi kepala dari sinar matahari yang terik, penggunaan masker mulut untuk melindungi mulut dari kotoran debu atau virus penyakit, penggunaan sendal dan sepatu untuk melindungi kaki dari dataran bebatuan, penggunaan helm untuk melindungi kepala dari resiko kecelakaan di perjalanan, dan lain sebagainya.

Terkait hadis-hadis yang mengindikasikan keutamaan menggunakan serban, Ali Mustafa melakukan penelitian dengan hasil bahwa hadis-hadis tersebut bernilai lemah sekali dan palsu, sehingga tidak dapat dijadikan dasar untuk diamalkan. Di antara hadis keutamaan memakai serban adalah hadis yang menjelaskan salat dengan memakai serban lebih baik dari pada salat tidak

391 Muh̟ammad ibn Ṣālih al-‘Uthaymayn, Fatāwā Nūr ‘alā al-Darb (Kerajaan Saudi Arabia: Muassasat al-Shaykh Muh̟ammad ibn Ṣālih al-‘Uthaymayn al-Khayrīyah, 1434 H.), 12, 214, no. 5770.

392 Abū Bakar ibn Muh̟ammad Shaṭṭā al-Dimyātī, I‘ānat al-Ṭālibīn ‘alā Ḥall Alfāz Fatḥ

al-Mu‘īn (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 2, 95.

393 Ali Tantowi, “The Quest of Indonesian Muslim Identity: Debates on Veiling from the 1920s to 1940s,” Journal of Indonesian Islam 4, no. 1 (2010), 62.

memakai serban,394 hadis salat memakai serban setara dengan pahala salat 25 kali dan satu kali salat Jum’at dengan serban setara dengan pahala 70 kali haji atau salat dengan serban berpahala 10.000 kebaikan,395 dan hadis pahala salat dengan serban setara dengan pahala perang di jalan Allah.396

Oleh karena itu, Ali Mustafa tidak melihat keberadaan dalil keutamaan memakai serban untuk ibadah dan interaksi sosial masyarakat sehari-hari karena hadis penggunaan serban hanya menggambarkan Nabi menggunakan serban, bukan keutamaan menggunakan serban, sehingga hadis ini harus dipahami sebagai sebuah tradisi berpenampilan Nabi dengan mengikuti gaya busana masyarakat Arab setempat yang tidak diwajibkan bagi seluruh muslim untuk mengikutinya.

Dalam tradisi Arab, pemuda tampan menutupi wajahnya dengan kain untuk melindungi diri dari laki-laki hidung belang atau wanita yang berniat jahat dan para pengendara menggunakan ujung serban untuk melindungi wajah dari debu saat berkendaraan.397

Pakaian juga dapat berfungsi sebagai model penampilan, nilai tambah penampilan, dan penegasan identitas budaya suatu daerah. Dengan fungsinya sebagai identitas budaya, maka pakaian bisa menggambarkan kelas manusia berdasarkan usia, gender, jabatan sosial, latar belakang etnik, dan latar belakang agama.398

Jean-Jacques Rousseau (1712-1778 M.) melakukan upaya elaborasi budaya Eropa dan Islam melalui beberapa aspek seperti

394 Shīrāwayh ibn Shahradān al-Daylamī, al-Firdaus bi Ma’thūr al-Khiṭāb (Beirut: Dār al-Kutub al-ʻIlmīyah, 1986), 2, 265, no. 233.

395 Shīrāwayh ibn Shahradān al-Daylamī, al-Firdaus bi Ma’thūr al-Khiṭāb (Beirut: Dār al-Kutub al-ʻIlmīyah, 1986), 2, 406, no. 3805.

396 ʻAbd Allāh ibn ʻAdī al-Jurjājīi, al-Kāmil fī Ḍuʻafā’ al-Rijāl (Beirut: Dār al-Kutub al- ʻIlmīyah, 1997), 1, 441.

397 Yedida Kalfon Stillman, Arab Dress: A Short History from the Dawn of Islam to Modern Times (Leiden: Brill, 2003), 21.

398 Ali Tantowi, “The Quest of Indonesian Muslim Identity: Debates on Veiling from the 1920s to 1940s,” Journal of Indonesian Islam 4, no. 1 (2010), 63.

serban yang diadaptasi dari Arab ke dalam budaya Eropa. Hal ini ditolak keras oleh penduduk Swiss dan masyarakat sekitarnya, meskipun ia mencoba untuk merubah penampilannya secara hati- hati, bahkan ia dinilai terpengaruh oleh hubungannya dengan kerajaan Islam Utsmani yang masuk pada wilayah Armenia.399 Rousseau juga menilai bahwa gaya berpenampilan yang dilakukan selama ini dengan mengikuti tradisi yang berlaku di Eropa memiliki kesan feminism bagi kaum pria dengan rambut yang terurai panjang, menggunakan jubah panjang, dan menenun pakaian sendiri. Ia melakukan perubahan penampilan dengan menggunakan serban untuk menghilangkan kesan feminis dari penampilannya selama ini.400

Hal ini menggambarkan bahwa berpakaian menggunakan serban dapat dijadikan salah satu media untuk menjalin hubungan baik antara satu bangsa dengan bangsa lainnya. Serban yang merupakan salah satu identitas budaya berpakaian Arab telah dibudayakan di Eropa dengan mengakomodir budaya lokal Eropa dalam memakai tutup kepala sebagai upaya untuk menerima komunitas Islam di Eropa yang banyak berasal dari negara Arab. Di sisi lain, fakta sejarah membinangkan bahwa serban selalu dihubungkan dengan konflik antara umat Islam masa Nabi dan kelompok musyrik Quraisy, Sunni dan Syi’ah, bani Umayyah dan bani Abbasiyah, umat Islam dan Ahli Dzimmah.401

Pada saat ini, di Eropa, pakaian Arab atau muslim seperti hijab bagi wanita tidak menjadi perhatian besar bagi masyarakat Eropa. Muslim Eropa juga menyadari bahwa antara agama dan perkembangan fasion tidak perlu dipertentangkan, sehingga gaya menutup kepala dengan hijab tidak harus diadopsi model hijab

399 Ian Coller, “Entangled Encountersof Europe and Islam in the age of Enlightenment,”

Historical reflection 40, no. 2 (2014), 70.

400 Ian Coller, “Entangled Encountersof Europe and Islam in the age of Enlightenment,”

72-73.

401 M.J. Kister, “The Crown of this Communitiy… Some Notes on the Turban in the Muslim Tradition,” Jerussalem Studies in Arabic and Islam 24 (2000), 245.

yang berlaku di Arab. Mereka dapat melakukan perubahan gaya dan model sesuai dengan kultur Eropa dan perkembangan fasion.402

Di Peru, masyarakat Paracas menggunakan serban sebagai bentuk kepercayaan terhadap rambut mereka yang memiliki kekuatan magis, sehingga bentuk dan ornament yang tergambar pada serban akan melambangkan kekuatan magis mereka, posisi dalam aspek spiritual, dan kekuatan libido kejantanan.403

Hal ini semakin memperkuat asumsi bahwa serban bukan bagian dari ajaran agama seperti yang diasumsikan oleh kelompok Salafi. Serban merupakan salah satu hasil kebudayaan masyarakat setempat dalam berpakaian yang disesuaikan dengan kondisi alam, sosial, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, serban memiliki beragam bentuk yang disesuaikan dengan fungsinya di masing-masing daerah. Masyarakat Indonesia tidak mengenal serban sebagai pakaian budaya mereka karena fungsi serban yang tidak sesuai dengan kondisi Indonesia.

Ali Mustafa sendiri tidak terbiasa memakai serban dengan cara yang dilakukan oleh Nabi dan orang Arab. Beliau terbiasa memakai pakaian yang biasa dipakai oleh orang Indonesia seperti celana atau sarung, baju koko atau kemeja, jas, kopiah hitam atau putih, dan lainnya. Sebagai seorang ahli hadis, beliau tidak membiasakan diri untuk mengikuti gaya busana ahli hadis klasik seperti al-Bukhārī dan Muslim yang memakai serban saat mempelajari hadis.404 Hal ini disebabkan bahwa Ali Mustafa memahami serban yang digunakan al-Bukhārī dan Muslim merupakan pakaian tradisi Arab bagi para tokoh keagamaan (ahli

402 Karen Tranberg Hansen, “Muslim Dress Practies and Islamic Fashion,” review buku Visibly Muslim: Fashion, Politics, Faith, oleh Tarlo, Current Anthropology 52, no. 1 (2011), 135.

403 Anne Paul, “The Symbolism of Paracas Turbans: A Consideration of Style, Serpents, and Hair,” Nawpa Pacha: Journal of Andrean Archeaology No. 20 (1982), 48.

404 Maulana Fazlur Rahman Azmi, Turban, Kurta, Topee: in the Light of the Sunnah and Practice of the Sahaba and Tabieen, Terjemah. Hafez Ahmed Suleman (Azaadville:

Academy for the Revival of the Sunnah, 1750), 26; dan Aḥmad ibn ʻAlī ibn Ḥajar al- ʻAsqalānī, Fatḥ al-Bārī Sharḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Beirut: Dār al-Maʻrifah, 1397 H), 1, 491 dan 493.

hadis), sehingga bagi dirinya tidak perlu memakan pakaian tersebut karena di kalangan muslim Indonesia terdapat pakaian bagi tokoh keagamaan seperti baju koko dan jas atau lain sebagainya.

Batik merupakan salah satu pakaian kebesaran tokoh di Indonesia dalam kegiatan-kegiatan resmi. Dalam budaya berpakaian, tidak perlu mengganti jenis pakaian untuk menjadikan lebih bernilai patuh terhadap agama, akan tetapi dengan menggeser nilai filosofi berpakaian itu sendiri.

Menggunakan pakaian dengan tujuan aktifitas sehari-hari memiliki nilai yang berbeda dengan berpakaian dengan tujuan menutup aurat atau melaksanakan perintah agama, meskipun jenis pakaian yang digunakan sama.

Batik merupakan hasil karya budaya masyarakat Indonesia dalam berbusana. Batik yang berjenis Ceplokan memiliki nilai- nilai filosofi yang sangat kuat dalam pembuatan dan penggunaannya. Batik Ceplokan adalah salah satu motif batik dengan pola pengulangan bentuk-bentuk dasar secara geometri seperti segi empat, bintang, oval, atau persegi panjang yang disusun teratur menyerupai sekuntum bunga secara simetris.405

Sejarah Ceplokan yang bermuara pada tradisi Hindu-Budha pada rentan waktu abad ke-7 dan ke-10 di tanah Jawa sebelum Islam datang telah beralih menjadi tradisi Islam pada abad ke-16 setelah Islam masuk ke tanah Jawa. Ceplokan dalam batik merupakan ekspresi mendalam dari keyakinan terhadap konsep tauhid Islam yang dapat menjadi nilai promosi budaya dan pengetahuan Islam Indonesia ke dunia internasional. Nilai-nilai Islam yang terdapat dalam batik Ceplokan adalah dengan mengurangi nuansa naturalistic penginggalan Hindu-Budha, sehingga dapat menghindari penyembahan berhala representasi, sehingga batik Ceplokan memiliki unsur tauhid. Di sisi lain, aspek sejarah telah menghubungkan antara batik dan ajaran Islam. Pendiri serikat seniman batik yang bernama Panembahan

405 Judi Achjadi, The glory of Batik: The Danar Hadi Collection (Jakarta: Bab Publishing House, 2011), 34.

Dalam dokumen FENOMENA SOSIAL DAN POLITIK (Halaman 170-190)