Infeksi Covid-19 Pada Ibu Hamil
B. Kajian Pustaka
bukti yang cukup mengenai pengaruh Covid-19 pada ibu hamil terhadap perkembangan janin yang dikandungnya. Laporan dan bukti tersebut masih sangat minim dan terbatas.
Seiring berjalannya waktu, kasus positif Covid-19 di Indonesia terus melonjak. Pada 29 Maret 2020 tercatat sebanyak 1.115 kasus dengan kematian mencapai 102 jiwa.
Tingkat kematian akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 9%, termasuk angka kematian tertinggi (Handayani, 2020).
Rentang usia pasien yang terkonfirmasi Covid-19 ialah 30 hari hingga 89 tahun. Menurut laporan terkait 138 kasus di Kota Wuhan, didapatkan rentang usia 37–78 tahun dengan rerata 56 tahun (42-68 tahun) tetapi pasien rawat ICU lebih tua (median 66 tahun (57-78 tahun) dibandingkan rawat non- ICU (37-62 tahun) dan 54,3% laki-laki. Laporan 13 pasien terkonfirmasi Covid-19 di luar Kota Wuhan menunjukkan umur lebih muda dengan median 34 tahun (34-48 tahun) dan 77% laki laki (Lu et al., 2020)2019, patients presenting with viral pneumonia due to an unidentified microbial agent were reported in Wuhan, China. A novel coronavirus was subsequently identified as the causative pathogen, provisionally named 2019 novel coronavirus (2019-nCoV
2. Definisi Operasional
Berdasarkan Panduan Surveilans Global WHO untuk Covid-19, definisi infeksi Covid-19 ini diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Kasus Terduga (suspect case)
1) Pasien dengan gangguan napas akut (demam dan gejala penyakit pernapasan, seperti batuk atau sesak napas) dengan riwayat perjalanan
atau tinggal di daerah yang melaporkan penularan Covid-19 di komunitas selama14 hari sebelum gejala.
2) Pasien dengan gangguan napas akut dan melakukan kontak dengan kasus terkonfirmasi atau probable Covid-19 dalam 14 hari terakhir sebelum gejala
3) Pasien dengan gejala pernapasan berat (demam, gejala penyakit pernapasan seperti batuk atau sesak napas, dan memerlukan rawat inap) dan tidak adanya alternatif diagnosis lain yang secara lengkap dapat menjelaskan presentasi klinis tersebut.
b. Kasus probable (probable case)
1) Kasus terduga yang hasil tes dari Covid-19 inkonklusif
2) Kasus terduga yang hasil tesnya tidak dapat dikerjakan karena alasan apapun.
3) Kasus terkonfirmasi yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan laboratorium infeksi Covid-19 positif, terlepas dari ada atau tidaknya gejala dan tanda klinis
3. Diagnosis
Diagnosis dilakukan dengan memperhatikan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Penelusuran riwayat perjalanan, kontak erat dengan kasus terkonfirmasi, bekerja di fasilitas kesehatan atau berada di
lingkungan (mungkin rumah) yang sama dengan seseorang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dapat menjadi pertimbangan dalam pengambilan diagnosis. Gejala klinis yang umum terjadi dapat berupa demam, batuk, mialgia, sesak, sakit kepala, diare, mual dan nyeri abdomen. Gejala yang paling sering ditemui adalah demam (98%), batuk dan mialgia. Pemeriksaan penunjang lain sesuai dengan derajat morbiditas. Pada pneumonia dilakukan foto toraks, dilanjutkan dengan Computed Tomography Scan (CT scan) toraks dengan kontras. Hasil dari CT scan toraks pneumonia yang disebabkan oleh infeksi Covid-19 mulai dari normal hingga ground glass opacity, konsolidasi. CT scan toraks dapat dilakukan untuk melihat lebih detail kelainan, seperti gambaran ground glass opacity, konsolidasi, efusi pleura dan gambaran pneumonia lainnya. (Huang et al., 2020) China, was caused by a novel betacoronavirus, the 2019 novel coronavirus (2019-nCoV
4. Tata Laksana
Rekomendasi WHO mengenai prinsip tata laksana secara keseluruhan terdiri dari:
1. Identifikasi pasien segera dan pisahkan pasien dengan Severe Acute Respiratory Infection (SARI). Lakukan dengan memperhatikan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI).
2. Terapi suportif dan monitor pasien
3. Pengambilan contoh uji untuk diagnosis laboratorium,
4. Lakukan tindakan segera untuk pasien denganhipoksemia atau gagal nafas dan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), syok sepsis dan kondisi kritis lainnya.
Belum ditemukan pengobatan spesifik/antivirus dari Covid-19. Beberapa hipotesis menyebutkan penggunaan baricitinib, suatu inhibitor janus kinase dan regulator endositosis, sehingga masuknya virus ke dalam sel terutama sel epitel alveolar. Pengembangan lain adalah penggunaan rendesivir yang diketahui memiliki efek antivirus RNA dan kombinasi klorokuin. Namun, belum ada penelitian yang pasti mengenai hal itu. Untuk saat ini, terapi suportif disesuaikan dengan kondisi pasien. Pemberian antibiotika spektrum luas dilakukan jika dicurigai terjadinya infeksi ganda. Salah satu yang harus diperhatikan dalam tata laksana adalah pengendalian komorbid. Komorbid sangat berkaitan erat dengan morboditas dan mortalitas pasien Covid-19. Adapun komorbid yang berhubungan dengan luaran pasien adalah usia lanjut, hipertensi, diabetes, penyakit kardiovaskular dan penyakit serebrovaskular (Wang et al., 2020).
5. Pencegahan
Pembatasan mobiliasi seseorang yang berisiko hingga masa inkubasi (14 hari) selesai merupakan langkah pencegahan yang paling utama. Selain itu, langkah pencegahan lain meliputi mengingkatkan menerapkan gaya hidup sehat, meningkatkan daya tahan tubuh melalui asupan
makanan yang bergizi, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menggunakan masker saat berada di luar rumah, berolahraga, istirahat cukup, makan makanan yang dimasak hingga matang, dan bila sakit segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Langkah pencegahan ini dimaksudkan agar seseorang tidak berkontribusi menjadi transmisi Covid-19. Mengenai pencegahan dari dalam (penggunaan vaksin), vaksinasi primer yang sudah ditemukan belum direkomendasikan untuk ibu hamil. Sebagai upaya pencegahan, petugas kesehatan perlu memperhatikan penempatan pasien (ruang rawat/isolasi), menggunakan APD, menjaga kebersihan, dan menjaga jarak (Wan et al., 2020).
6. Prognosis
Presentase kasus kematian akibat Covid-19 hingga saat ini mencapai 2%, dengan jumlah kasus berat 10%.
Prognosis bergantung pada derajat penyakit, ada tidaknya komorbid dan factor usia (Handayani, 2020). Seseorang yang pernah terinfeksi Covid-19 dan sembuh tetap memiliki peluang kembali terinfeksi. Penelitian mengenai antibodi yang terbentuk pada seseorang yang sembuh dari Covid-19 belum terbukti. Menurut WHO penderita yang simptomatik memiliki peluang lebih besar untuk menularkan virus ke orang lain, dibandingkan dengan penderita yang asimptomatik. Hal ini diperkuat dengan tingginya viral load yang dideteksi pada throat swab dan nasal swab saat awal gejala klinis timbul. Tingkat viral loas yang tinggi
akan menyebabkan timbulnya gejala berat. Tingkat Viral shedding sangat tinggi pada minggu pertama gejala klinis muncul hingga hari keempat. Durasi median dari viral shedding ini berkisar 8-20 hari setelah gejala klinis hilang. Namun, durasi viral shedding yang dideteksi pada feses umumnya lebih lama, yakin 22 hari. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi panjangnya durasi viral shedding, di antaranya: 1) jenis kelamin pria; 2) usia lanjut; 3) komorbid hipertensi; 4) penggunakan ventilasi mekanik atau kortikosteroid yang invasive; dan 5) keterlambatan dalam diagnosis pasien dengan Covid-19 (late admission). Penelitian lain menyebutkan tidak ada korelasi antara viral shedding dengan infektivitas seseorang (MacKenzie & Smith, 2020)
7. Fisiologis dan Klinis Ibu Selama Terinfeksi Covid 19 Saat seorang wanita sedang hamil, perubahan secara fisiologis akan terjadi. Perubahan ini termasuk perubahan yang signifikan pada pernapasan, peningkatan sekresi dan hambatan disaluran pernapasan bagian atas, lingkar dinding dada yang meningkat, dan perpindahan ke atas dari diafragma. Perubahan yang terjadi akan menyebabkan penurunan volume sisa dan peningkatan volume tidal dan udara terhambat, jalan napas sedikit menurun resistensi, kapasitas difusi yang stabil, meningkat ventilasi menit, dan peningkatan kemosensitivitas terhadap karbon dioksida.
Hemodinamik perubahan termasuk peningkatan volume plasma 20% sampai 50%, peningkatan curah jantung, dan penurunan resistensi vaskular. Perubahan ini menyebabkan
keadaan dispnea fisiologis dan alkalosis pernafasan serta peningkatan kerentanan terhadap patogen pernapasan (Narang et al., 2020). Beberapa penelitian mengenai kemungkinan dampak Covid-19 pada awal kehamilan (sampai usia kehamilan 12 minggu) dikaitkan dengan tingkat keguguran yang lebih tinggi (Narang et al., 2020).
Infeksi Covid-19 dapat menyebabkan peningkatan tingkat efek samping kehamilan seperti hambatan pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan kematian perinatal. Gejala awal infeksi SARS-CoV-2 mungkin mirip dengan fisiologis dispnea dalam kehamilan, yang dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis dan penyakit yang lebih parah. Wanita hamil dengan infeksi SARS-CoV-2 berkemungkinan untuk mengalami gejala yang lebih parah dibandingkan dengan wanita tidak hamil.
Tidak sedikit ibu hamil yang tidak mengalami gejala dan terkonfirmasi Covid-19. Pada beberapa pasien, komorbiditas maternal hadir (hipertensi, diabetes, kolestasis kehamilan). Beberapa laporan menyebutkan kasus memburuk pada ibu dengan diagnosis akhir kardiomiopati.
Keadaan yang semakin memburuk akan meningkatkan tingginya penggunaan metode caesar untuk persalinan, hal ini mempertimbangkan kondisi ibu dan janin. Preeklamsia adalah contoh umum komplikasi terkait kehamilan yang mungkin terjadi dan diperburuk dengan Covid-19, seperti yang telah dibahas sebelumnya (Narang et al., 2020)