PENDAHULUAN
E. Kajian Pustaka Terdahulu Yang Relevan
Telah banyak literatur yang membahas tentang kegiatan bimbingan dan penyuluhan di tengah masyarakat; baik berupa buku, artikel, skripsi, tesis, maupun dalam bentuk disertasi. Namun sejauh pengamatan penulis belum ada yang membahasnya dengan menggunakan uraian term-term tentang bimbingan dan penyuluhan secara spesifik yang ada dalam Al-Qur‟an secara lengkap, seperti term da‟wah, tabligh, amr ma‟ruf dan nahi munkar, mau‟idhoh hasanah, tabsyir, indzhar, washiyah, at-ta‟lim, dan khotbah. Beberapa literatur yang penulis temukan hanya memfokuskan pembahasan pada salah satu term tersebut, seperti dakwah. Lebih spesifik lagi penulis belum menemukan kajian bimbingan dan penyuluhan dalam Al-Qur‟an dengan metode studi living Al-Qur‟an untuk memetakan aplikasi metode bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan oleh kelompok profesi tertentu khususnya penyuluh agama Islam di lingkungan kementerian Agama.
1. Abdul Basit, 2014, jurnal dakwah “Tantangan Profesi Penyuluh Agama Islam dan Pemberdayaannya”. Tantangan yang dihadapi oleh penyuluh agama Islam di Indonesia menurut Abdul Basit diantaranya adalah munculnya gerakan Islam liberal dan fundamental, dimana kehadirannya justru membenturkan masyarakat satu dengan masyarakat. Oleh karena itu, adanya profesi Penyuluh Agama Islam sebagai kepanjangan pemerintah melalui Kementerian Agama diharapkan mampu menjadi
12
penangkal gerakan yang memecah belah masyarakat khususnya dan Bangsa Indonesia umumnya.16
2. Mohammad Taufik Hidayatullah, 2012, disertasi, “Strategi Peningkatan Kompetensi Agama Islam di Tiga Daerah Propinsi Jawa Barat. Hasil penelitian Taufik menghasilkan beberapa kesimpulan, antara lain: a) karakteristik pribadi penyuluh Agama Islam yang positif adalah usia, pendidikan nonformal dan tingkat orientasi belajar; dukungan kelembagaan penyuluhan menunjukkan kategori rendah terutama dalam hal fasilitas dan sumber informasi penyuluhan; b) Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pemenuhan kebutuhan penyuluh agama Islam adalah penyuluh agama Islam yang diwakili oleh peran edukator; dukungan kelembagaan penyuluhan yang diwakili oleh dukungan kebijakan pusat dan dukungan kepemimpinan atasan. c) Strategi meningkatkan kompetensi penyuluh agama Islam dilakukan dengan cara penguatan dukungan kelembagaan penyuluhan dan mengembangkan kerjasama dengan stakeholders penyuluhan agama.17
3. Firman Nugraha, 2013, jurnal dakwah “Penyuluhan Agama Transformatif; Sebuah Model Dakwah”. Firman menulis aktualisasi Penyuluhan Agama transformatif dalam rangka penyuluhan pembangunan yang melahirkan kemandirian ekonomi jamaah dimulai dari kesadaran reflektif atas fenomena sosial keagamaan yang pada jamaah. Kesadaran reflektif ini diikuti olah aksi nyata yang mendasar pada permasalahan dan sumberdaya yang potensial untuk dikembangkan dari dan oleh jamaah itu sendiri. Ada lima langkah aktual yang dilakukan dalam mewujudkan penyuluhan agama transformatif, yakni mengubah paradigma penyuluhan dari monolog ke dialog; memperkaya materi penyuluhan dari dimensi ukhrawi an-sich dengan kebutuhan riil jamaah; mengembangkan jaringan kerja antar institusi;
penyuluh agama secara konsisten serius dengan keberpihakan kepada kaum mustad„afin dan mendampingi mereka dalam proses transformasi sosial keagamaan.18
4. Koestini dan Kuswinarno, 2015, Jurnal, “Penyuluh Agama;
Menuju Kinerja Profesional. Penyuluh Agama (PA) menurut
16Abdul Basit, Tantangan Profesi Penyuluh Agama Islam Dan Pemberdayaannya, Jurnal Dakwah, Vol. XV, No. 1 Tahun 2014, hlm. 157 - 178
17 Mohammad Taufik Hidayatullah, Strategi Peningkatan Kompetensi Agama Islam di Tiga Daerah Propinsi Jawa Barat, (bogor: 2012)
18 Firman Nugraha, “Penyuluhan Agama Transformatif; Sebuah Model Dakwah”.
Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 7 No. 21 | Edisi Januari – Juni 2013, hlm. 1-23
13
mereka mempunyai peran penting dalam masyarakat, yakni sebagai tangan panjang Kementerian Agama dalam melakukan pembinaan umat. Melalui penelitian kualitatif dengan strategi wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), observasi, dan studi dokumen diperoleh temuan sebagai berikut; Pertama, bahwa model komunikasi yang dikembangkan oleh PA PNS masih bersifat face to face, kurang mengembangkan model lain yang lebih canggih yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi. Kedua, pendekatan terhadap kelompok binaan masih sangat terbatas pada kelompok-kelompok religius, kecuali beberapa PA di Manado yang mencoba mengembangkan kelompok binaan yang lebih luas. 19
Penelitian yang peneliti tulis berbeda dengan empat literatur di atas; Muhammad Taufik, Abdul Basit, Firman Nugraha dan Koestini/ Kuswinarno. Dalam tulisannya, mereka memang sepakat menulis tentang penyuluh agama yang secara mirip menjelaskan peningkatan kompetensi penyuluh dengan berbagai pendekatan.
Taufik dengan melakukan penelitian yang dilakukan secara kuantitatif menjelaskan tentang factor-faktor yang mempengaruhi kompetensi penyuluh. Abdul Basit menjelaskan tentang berbagai tantangan yang dihadapi penyuluh agama dalam kehidupan modern saat ini. Firman menawarkan sebuah model dakwah bagi para penyuluh melalui penyuluhan agama transformatif yang beradaptasi dengan kemajuan umat.
Sedangkan Koestini dan Kuswinarno, mereka membahas tentang penelitian yang dilakukan di berbagai daerah yang menunjukkan kecenderungan penyuluh Agama melakukan metode face to face dalam melakukan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat. Keempat literatur tersebut memang secara lugas membahas penyuluh agama, tetapi mereka tidak membahas bagaimanakah wawasan Al-Qur‟an tentang penyuluh agama Islam, ayat-ayat yang bisa ditafsirkan sebagai ayat-ayat bimbingan dan penyuluhan, dan metode bimbingan penyuluhan yang diisyaratkan oleh Al-Qur‟an juga tidak diulas dalam tulisan mereka tersebut.
5. Atabik Lutfi, 2011, buku “Tafsir Da‟awi”. Dalam bukunya Atabik menjelaskan sebuah pendekatan tafsir yang terfokus pada pembahasan ayat-ayat yang bersinggungan dengan tema dakwah
19 Koestini dan Kuswinarno, Jurnal, “Penyuluh Agama; Menuju Kinerja Profesional Analisa Journal of Social Science and Religion Volume 22 No. 02 Desember 2015 halaman 173-186
14
secara khusus. Secara metodologis, Atabik membahas ayat-ayat dakwah dengan metode tafsir maudhu‟i yang terkait khusus dengan tema dakwah dengan merujuk kepada beberapa literatur tafsir induk yang bernuansa ijtima‟i, yang diramu dengan bahasa kekinian dan konteks dakwah keIndonesiaan. 20
Dalam bukunya ini Atabik tidak secara khusus membahas terminologi Al-Qur‟an yang lainnya yang memiliki persamaan makna dengan dakwah seperti tabligh, amar ma‟ruf nahi munkar, tabsyir, indzar dan lain sebagainya seperti bahasan peneliti dalam tesis ini.
6. Ali Mustafa Ya‟qub, 2014, buku; Sejarah dan Metode Dakwah Nabi. Dalam bukunya Ali Mustafa Ya‟qub menulis tentang perjalanan dakwah Nabi dan kehidupan beliau sehari-hari. Dalam menjalankan dakwahnya Rasulullah tidak pernah berakrab-akrab dengan pelaku maksiat, para penguasa ataupun kelompok yang kuat. Nabi Muhammad SAW sangat akrab dengan kelompok yang lemah, menyatu dengan umat dan kelas bawah dan berpenampilan sangat sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sikap Rasulullah seperti itu tampaknya merupakan bagian dari pendekatan Nabi dalam berdakwah. Sehingga ditambah dengan pendekatan- pendekatan lainnya, beliau meraih sukses yang gemilang dalam berdakwah.21
7. M. Natsir, 1996, buku “Fiqih Dakwah; Jejak Risalah dan Dasar- Dasar Dakwah”. Dalam buku ini M. Natsir banyak menjelaskan tentang fondasi-fondasi dasar dakwah yang harus diketahui oleh para du‟at atau muballigh. Persiapan para pendakwah sebelum terjun ke masyarakat sangat penting karena sebagai juru penerang di masyarakat tentunya seorang pendakwah harus memiliki bekal yang cukup secara keilmuan serta perbekalan ruhani yang baik juga.22
8. Fethullah Gullen, 2011, buku; Dakwah; Jalan Terbaik dalam Berpikir dan Menyikapi Hidup. Dalam karyanya ini Fethullah Gullen memaparkan tentang berbagai dimensi dakwah antara lain;
urgensi dakwah ditegakkan, tuntunan agar dakwah berhasil, dan
20 Atabik Lutfi, Tafsir Da‟awi, (Jakarta: Al-I‟tishom, 2011), hlm. viii – ix.
21 Ali Musthofa Ya‟kub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2014) hlm. 235-236
22 M. Natsir, Fiqih Dakwah; Jejak Risalah dan Dasar-Dasar Dakwah, Cet. ke 10 (Jakarta: Yayasan Capita Selecta, 1996)
15
beberapa contoh keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam mendakwahi bangsa Arab dan Umat Islam.23
Ketiga literatur di atas; Ali Mustafa Ya‟kub, M. Natsir dan Fethullah Gulen juga berbeda dengan penelitian yang penulis lakukan.
Mereka hanya membahas salah satu aspek bimbingan dan penyuluhan yaitu; terminologi dakwah dalam Al-Qur‟an dan beberapa dimensi dakwah; seperti sejarah dakwah Nabi, asas-asas dakwah dan ilmu tentang materi dakwah lainnya.