PENDAHULUAN
F. Metode Penelitian
15
beberapa contoh keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam mendakwahi bangsa Arab dan Umat Islam.23
Ketiga literatur di atas; Ali Mustafa Ya‟kub, M. Natsir dan Fethullah Gulen juga berbeda dengan penelitian yang penulis lakukan.
Mereka hanya membahas salah satu aspek bimbingan dan penyuluhan yaitu; terminologi dakwah dalam Al-Qur‟an dan beberapa dimensi dakwah; seperti sejarah dakwah Nabi, asas-asas dakwah dan ilmu tentang materi dakwah lainnya.
16
Penelitian tentang resepsi para penyuluh agama Islam Kementerian Agama Kota Depok terhadap ayat-ayat dakwah ini di dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu:
No Waktu Lokasi Kegiatan Keterangan 1. Bulan I
(Nop 2016)
Kec.
Sukmajaya, Cilodong, dan Cipayung
Mengadakan eksplorasi
wilayah dan wawancara
mendalam terhadap
penyuluh agama Islam yang bertugas di kecamatan
tersebut
Wawancara dilakukan beberapa kali di satu wilayah sesuai dengan kebutuhan peneliti (min.
2x di satu wilayah kecamatan) 2. Bulan
II (Des 2016)
Kec.
Cimanggis, Tapos dan Beji
Mengadakan eksplorasi
wilayah dan deep interview kepada penyuluh yang bertugas di kecamatan
setempat
Wawancara dilakukan beberapa kali di satu wilayah sesuai dengan kebutuhan peneliti (min.
2x di satu wilayah kecamatan) 3
. 3 Bulan
III (Jan 2017)
Kec.
Bojongsari, Sawangan dan Limo
Mengadakan eksplorasi
wilayah dan deep interview kepada penyuluh yang bertugas di kecamatan
setempat
Wawancara dilakukan beberapa kali di satu wilayah sesuai dengan kebutuhan peneliti (min.
2x di satu wilayah kecamatan) Bulan
IV (Feb 2017)
Kec.
Panmas, dan Cinere
Mengadakan eksplorasi
wilayah dan deep interview kepada penyuluh yang
Wawancara dilakukan beberapa kali di satu wilayah
17
bertugas di kecamatan
setempat
sesuai dengan kebutuhan peneliti (min.
2x di satu wilayah kecamatan) Bulan
V (Maret 2017)
Di Tk. Kota Depok
Mengadakan
FGD di
pertemuan rutin penyuluh tk. Kota Depok sebanyak 2x
Wawancara dilakukan beberapa kali di satu wilayah sesuai dengan kebutuhan peneliti (min.
2x di satu wilayah kecamatan) Bulan
VI (April 2017)
Membuat
rumusan hasil penelitian
lapangan dan FGD
Rumusan hasil penelitian
dan FGD
merupakan sumber data peneliti dalam menulis penelitian ini
2. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian tesis ini adalah penelitian metode studi living Qur‟an. Studi living Qur‟an yaitu kajian yang lebih menekankan pada aspek respon masyarakat terhadap kehadiran Al- Qur‟an.26 Living Qur‟an adalah studi tentang Al-Qur‟an, tetapi tidak bertumpu pada eksistensi tekstualnya, melainkan studi tentang fenomena sosial yang lahir terkait dengan kehadiran Al- Qur‟an dalam wilayah geografi tertentu dan mungkin masa tertentu
26 M. Mansyur, M.Chirzin, dkk, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis, h.68
18
pula.27 Jadi dalam penelitian ini akan mengumpulkan data-data dan menela‟ah buku-buku, literatur-literatur perpustakaan terkait dengan pembahasan kemudian membaca dan menangkap resepsi para penyuluh agama Islam Kementerian Agama Kota Depok terhadap ayat-ayat terkait bimbingan dan penyuluhan dalam Al- Qur‟an. Kemudian menganalisa kesesuaian metode yang digunakan oleh para penyuluh agama Islam Kementerian Agama Kota Depok dengan isyarat yang diinginkan oleh Al-Qur‟an.
3. Metode Penelitian
a. Metode Pengumpulan Data 1) Sumber Data
Sumber data penulis dalam penelitian tesis ini terdiri dari sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primernya adalah kitab-kitab tafsir klasik karya Ibnu Jarir Ath-Thabary Jami‟ al-Bayan „an Ta‟wil Ayyi Al- Qur‟an, Ahmad Mushtafa al-Maraghi dalam kitab tafsirnya al-Maraghi, Tafsir Karya Ibnu Katsir Tafsir fi Al-Quran al-Adzim dan Tafsir kontemporer karya Wahbah Zuhaily At-Tafsir al-Munir fi al-„Aqidah wa asy-Syari‟ah wa al-Manhaj, Tafsir Al Mishbah karya Qurasih Shihab, juga buku-buku terkait kegiatan bimbingan dan penyuluhan masyarakat; strategi dan metode dan lain sebagainya.
Sedangkan sumber sekunder lainnya adalah buku-buku yang terkait dengan objek penelitian yang penulis teliti seperti kitab Lubab an-Nuqul fi Asbabi an- Nuzul karya Jalaluddin As-Suyuthi, ma‟a‟jim dan kitab- kitab terkait lainnya.
2) Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan selama penelitian, dilakukan dengan metode kepustakaan dan lapangan. Metode kepustakaan yaitu metode pengumpulan data-data penelitian dengan bahan-bahan tertulis sebagai sumber datanya.
Kemudian metode lapangan digunakan untuk merekam aplikasi metode bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Depok dengan melalui empat teknik; yaitu
27 Muhammad Yusuf, “Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Living Qur‟an,”
dalam Sahiron Syamsuddin (ed.), Metode Penelitian Living Qur‟an dan Hadis (Yogyakarta:
Teras, 2007), hlm. 39
19
observasi, wawancara mendalam (depth interview)28, teknik dokumentasi dan metode FGD (Focus Group Discussion).
Dalam ranah penelitian living Qur‟an ini, metode observasi memegang peranan yang sangat penting, yang akan memberikan gambaran situasi riil yang ada di lapangan. Observasi adalah mengumpulkan data langsung dari lapangan. Data yang diobservasi bisa berupa gambaran tentang sikap perilaku, serta tindakan keseluruhan interaksi antar manusia.29 Proses observasi dimulai dengan mengidentifikasi tempat yang akan diteliti. Dilanjutkan dengan pemetaan, sehingga diperoleh gambaran umum tentang sasaran penelitian.
Kemudian menentukan siapa yang akan diobservasi, kapan, berapa lama dan bagaimana.30
Selain itu metode wawancara dalam penelitian living Qur‟an adalah suatu yang niscaya. Seorang peneliti tidak akan mendapatkan data yang akurat dari sumber utamanya, jika dalam penelitian tentang aktivitas yang berkaitan dengan fenomena Living Qur‟an di suatu komunitas tertentu, tidak melakukan wawancara dengan para responden atau partisipan. Dalam penelitian living Qur‟an yang bertujuan untuk mengetahui fenomena interaksi masyarakat dengan Al-Qur‟an, maka metode wawancara ini mutlak diperlukan. Dalam penelitian ini wawancara dilakukan sesuai dengan kebutuhan peneliti terhadap data dari informan.
Penelitian living Qur‟an tentang fenomena bimbingan dan penyuluhan agama Islam yang terjadi di masyarakat akan semakin kuat jika disertai dengan dokumentasi. Dokumentasi yang dimaksud bisa berupa dokumen yang tertulis, seperti agenda kegiatan, daftar hadir peserta, materi kegiatan, tempat kegiatan dan sebagainya. Bisa juga berupa dokumen yang tervisualisasikan, seperti foto kegiatan atau rekaman dalam bentuk video, atau juga berupa audio.
28 M. Mansyur, M.Chirzin, dkk, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis, h.72
29J.R. Raco, Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik dan Keunggulannya (Jakarta: Grasindo, tth), hlm. 112.
30 J.R. Raco, Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik dan Keunggulannya,
hlm. 112
20
Metode FGD (Focus Group Discussion) atau diskusi kelompok terarah merupakan metode dan teknik pengumpulan data kualitatif dengan cara melakukan wawancara kelompok.31 Peneliti menggunakan teknik FGD untuk bisa secara langsung membaca dan menganalisa informan-informan yang tergabung dalam diskusi kelompok terarah ini; baik dari aspek kognitif, afektif maupun konasinya terhadap ayat-ayat bimbingan dan penyuluhan dalam Al-Qur‟an.
Metode wawancara maupun FGD dilakukan peneliti berulang-ulang dengan intensitas pertemuan rutin selama 6 bulan penelitian tersebut. Rata-rata peneliti bertemu sebanyak 3x dengan 1 informan sehingga peneliti memperoleh data yang diinginkan dalam penulisan tesis ini.
b. Metode Pembahasan
Metode pembahasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah gabungan antara metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan metode penelitian kuantitatif. Yaitu metode penelitian yang bertujuan untuk membuat deskripsi, yaitu gambaran secara jelas, sistematis, faktual dan akurat mengenai fenomena atau hubungan antara fenomena yang diselidiki.32 Metode kualitatif dalam penelitian ini adalah metode penelitian yang ditujukan untuk memahami bimbingan dan penyuluhan agama Islam dari sudut atau perspektif partisipan. Partisipan adalah orang- orang yang diajak berwawancara, diobservasi, diminta memberikan data, pendapat, pemikiran dan persepsinya.
Sedangkan pendekatan deskriptif adalah pendekatan penelitian yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan sesuatu unit sosial: individu, lembaga, kelompok atau masyarakat.
31 FGD merupakan sebuah proses pengumpulan data dan karenanya mengutamakan proses. FGD dilakukan tidak untuk tujuan menghasilkan pemecahan masalah secara langsung ataupun untuk mencapai konsensus. (Dikutip dari Edi Indrizal, Diskusi Kelompok Terarah, diakses dari www.jurnalantropologi.fisip.unand.ac.id diakses tanggal 28 Desember 2016 pkl 23.04.
32 Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT. Grasindo, 2009), hlm. 29
21
Selain metode kualitatif, peneliti juga menggunakan metode kuantitatif untuk menghitung besar prosentase resepsi informan terhadap aspek dalam penelitian Living Qur‟an yang dilakukan oleh peneliti. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang menggunakan analisis data yang berbentuk numerik/angka. Pada dasarnya pendekatan ini menggambarkan data melalui angka-angka, seperti persentasi tingkat pengangguran, kemiskinan, data rasio keuangan dan lain sebagainya. Tujuan penelitian kuantitatif yaitu untuk mengembangkan dan menggunakan model matematis, teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena yang diselidiki oleh peneliti.33
Metode kuantitatif yang dilakukan oleh peneliti juga melalui pendekatan deskriptif atau statistika dalam arti sempit. Kuantitatif pendekatan deskriptif yaitu statistika yang hanya mendeskripsikan tentang data yang dijadikan dalam bentuk tabel, diagram, pengukuran rata-rata, simpangan baku dan seterusnya tanpa perlu menggunakan signifikansi atau tidak bermaksud membuat generalisasi.34
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan sistem hitung sederhana untuk menentukan jumlah prosentase dari keseluruhan informan dalam satu aspek penelitian, menggunakan rumus:
Pp = jml informan x 100%
Jml informan keseluruhan
Pp = prosentase dari populasi (informan)
Setelah didapat hasil prosentase dari setiap aspek penelitian dalam metode living Qur‟an ini, maka peneliti kemudian membuat diagram yang menggambarkan besarnya prosentase dari keseluruhan informan dalam meresepsi ayat- ayat bimbingan dan penyuluhan dalam penelitian ini.
c. Metode Penulisan/ Penyajian Laporan Penelitian
Metode penulisan/ penyajian laporan penelitian ini menggunakan metode penelitian tafsir tematis atau
33 Suryani dan Hendryadi, Metode Riset Kuantitatif (Teori dan Aplikasi pada Bidang
Manajemen dan Ekonomi Islam), Jakarta: Prenada Media Grup, 2015, hlm. 109).
34 Suryani dan Hendryadi, Metode Riset Kuantitatif (Teori dan Aplikasi pada Bidang
Manajemen dan Ekonomi Islam), hlm 209
22
maudhu‟i35, dengan langkah-langkah penyajian data sebagai berikut:
1) Menetapkan pembahasan yang akan dikaji 2) Mencari terminologi Al-Qur‟an terkait bahasan 3) Merujuk tema metode bimbingan dan penyuluhan
dengan ayat-ayat Al-Qur‟an yang terkait
4) Membahas penafsiran para mufassir klasik maupun kontemporer terkait ayat-ayat tersebut.
5) Melakukan studi living Qur‟an terkait aplikasi metode dakwah Penyuluh Agama Islam di lingkungan kementerian agama Kota Depok terhadap mad‟unya yaitu masyarakat Depok secara keseluruhan.
6) Mengkomparasi hasil penelitian dengan isyarat yang diinginkan Al-Qur‟an terkait metode dakwah yang dilakukan penyuluh agama Islam.
7) Menganalisa dan mengukur keberhasilan setiap metode dakwah yang dilakukan dan memetakan implikasinya terhadap mad‟u atau objek dakwah.
Dalam penulisan laporan penelitian ini, mengacu pada Buku Pedoman tentang Penulisan Proposal Skripsi dan Tesis Program Pasca Sarjana Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta. Buku pedoman transliterasi Arab latin yang diterbitkan oleh Kementerian Agama dengan penegasan:
1) Dalam daftar kepustakaan, Al-Qur‟anal-Karim ditulis pada urutan pertama sebelum sumber-sumber lainnya dan ditulis secara alfhabetis
2) Ayat-ayat Al-Qur‟an tidak diberi catatan kaki pada akhir kutipan ayat disebutkan nama surah dan nomor ayatnya.
35 Kata maudhu‟i berasal dari kata bahasa Arab wadh‟a yadha‟u dengan isim maf‟ulnya mawdhu‟. Bila dikaitkan dengan pembicaraan seperti mawdhu‟ al kalam, maka ia berarti materi atau tema yang sedang dibicarakan. Lihat Louis Ma‟luf, al-Munjid al-Lughoh wa al A‟lam, (Beirut: Dar al-Masyruq, 1999), h.905. Tafsir tematik (maudhu'i) menurut pengertian istilah ulama adalah dengan menghimpun seluruh ayat al-Qur'an yang memiliki tujuan dan tema yang sama (Lihat Abdul Hay Al-Farmawi, Metode Tafsir Maudhu'i, diterjemahkan oleh Rasihan Anwar, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), h. 43-44
23
G. Sistematika Pembahasan BAB I PENDAHULUAN
Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, perumusan dan pembahasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.
BAB II BIMBINGAN DAN PENYULUHAN AGAMA ISLAM