BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. Kajian Teori
Frontliner ini yang mirip dengan penelitian yang sudah pernah dilakukan.
Pendekatannya kuantitatif.
9 Silfiati Pengrauh Insentif Pelatihan dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada Bank Syariah Bukopin Cabang Surabaya
Penggunaan kuesioner dan pengumpulan data oleh peneliti merupakan dua aspek penelitian ini yang mirip dengan penelitian yang sudah pernah dilakukan.
Pendekatannya kuantitatif.
- Judul Penelitian - Variabel Penelitian - Lokasi Penelitian - Jumlah Responden Penelitian
10 Dera Vitaloca
(2017)
Pengaruh Motivasi dan Dipsiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Simpang Patal Palembang
Penggunaan kuesioner dan pengumpulan data oleh peneliti merupakan dua aspek penelitian ini yang mirip dengan penelitian yang sudah pernah dilakukan.
Pendekatannya kuantitatif.
- Judul Penelitian - Variabel Penelitian - Lokasi Penelitian - Jumlah Responden Penelitian
Sumber Data: (Pribadi 2023)
seberapa baik dia melakukan tugasnya, seperti kebersihan, musik, pencahayaan, dan faktor lainnya, disebut sebagai lingkungan kerja dalam definisi ini.
Istilah "lingkungan kerja" mengacu pada semua faktor di tempat kerja yang dapat mempengaruhi produktivitas, seperti kondisi pencahayaan, tingkat kebisingan, kondisi keamanan tempat kerja, dan kondisi kebersihan tempat kerja. Totalitas peralatan dan perlengkapan yang digunakan, tempat seseorang bekerja, praktik kerjanya, dan pengaturan kerjanya, baik secara individu maupun kolektif, semuanya termasuk dalam definisi lingkungan kerja. Tempat kerja sebagai segala sesuatu yang ada di sekitar karyawan dan berpotensi mempengaruhi seberapa baik mereka menyelesaikan tugas. 17
Berdasarkan sudut pandang tersebut, dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja karyawan adalah segala sesuatu di dalam dan di sekitarnya yang mempengaruhi seberapa baik dia melakukan dan menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya di bidang tertentu. Jadi, studi di tempat kerja lebih difokuskan pada bagaimana karyawan merasa aman, nyaman, tenteram, dan puas ketika melakukan tugas di sana.
b. Lingkungan Kerja Fisik
Lingkungan kerja fisik yang ideal dapat memfasilitasi penyelesaian tugas, meningkatkan moral staf, dan meningkatkan produktivitas. Perlu adanya peningkatan kerja yang optimal dan mampu mendayagunakan
17 Danang Sunyoto, Teori Kuesioner dan Analisis Data Sumber Daya Manusia (Yogyakarta:CAPS, 2012), 43
potensi sumber daya manusia yang dimiliki karyawan agar menghasilkan kinerja yang tinggi. 18
Lingkungan kerja fisik terdiri dari semua hal yang dapat mempengaruhi kemampuan seorang pekerja untuk melakukan tugas- tugas yang telah dialokasikan kepadanya. Aspek fisik tempat kerja, seperti aliran udara, warna dinding, keamanan, dan ruang gerak, disebut sebagai lingkungan kerja fisik.
1) Suhu udara
Suhu mengacu pada seberapa panas atau dinginnya di ruang kerja pekerja. Akan nyaman untuk beroperasi di ruangan dengan suhu udara panas atau dingin yang tidak nyaman.
2) Kebisingan suara
Kepekaan karyawan terhadap kebisingan berdampak pada aktivitas di tempat kerja.
3) Keamanan di tempat kerja
Penting untuk memperhatikan upaya menjaga keamanan tempat kerja yang dapat menggunakan satuan satpam, agar lokasi dan lingkungan kerja tetap dalam kondisi aman.
4) Kebersihan
Tidak adanya kotoran, termasuk debu, sampah, dan bau, adalah keadaan bersih.
18 Adding sunarto, Kinerja Pegawai Berbasis Disiplin Kerja Dan Lingkungan Kerja Fisik pada PT.
Panata Jaya Mandiri ADR Groub, Vol.2, No. 1 Februari 2022:93-102, 95
c. Lingkungan Kerja Non Fisik
Lingkungan kerja non fisik adalah semua aspek psikologis tempat kerja yang mempengaruhi seberapa baik, sehat, aman dan nyaman orang dapat melakukan tugasnya.19 Indikator lingkungan kerja non fisik meliputi:
1) Tanggung Jawab Kerja
Sikap seorang karyawan terhadap pekerjaan yang diberikan kepadanya itulah yang dimaksud dengan tanggung jawab.
Mempertahankan akuntabilitas atas apa yang ditawarkan oleh pimpinan akan memastikan kepercayaan mereka, serta kenyamanan dan produktivitas tempat kerja.
2) Kerjasama antar kelompok
Kolaborasi antar kelompok mengacu pada pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh satu orang tetapi dilakukan secara bersamaan oleh dua orang atau lebih dengan tujuan untuk mempermudah tugas.
karena manusia adalah makhluk sosial dan membutuhkan bantuan dari orang lain untuk hidup.
3) Kelancaran komunikasi
Interaksi yang mudah di antara rekan kerja saat melakukan tugas yang berbeda, khususnya. kolaborasi yang baik antara tim eksekutif dan tenaga kerja.
19 Restin meiliana dab Rino Sardanto, dampak Perubahan Lingkungan Kerja Non Fisik Masa Pandemi Covid-19 bagi Karyawan Toserba barokah Kota Kediri, jurnal Penelitian Manajemen Terapan (PENATARAN)Vol.5 No. 1 (2020), 46-56
2. Disiplin Kerja
a. Pengertian Disiplin Kerja
Disiplin adalah ketundukan yang sungguh-sungguh yang ditopang oleh kesadaran untuk melaksanakan tanggung jawab dan tugas serta tingkah laku yang patut dalam lingkungan tertentu. Saat melakukan tugas dengan maksud untuk memperoleh hasil inilah yang dimaksud dengan kata ―pekerjaan‖. Jika tidak ada perintah, disiplin adalah setiap individu atau kelompok yang menjamin kepatuhan terhadapnya dan mengambil inisiatif untuk melakukan langkah-langkah yang tepat. Kesadaran seseorang akan segala peraturan lembaga dan norma sosial yang berlaku itulah yang dimaksud dengan disiplin. Di sini, kesadaran mengacu pada pemahaman seseorang tentang kewajiban dan tanggung jawabnya serta sikapnya untuk secara sukarela memaafkan semua peraturan. Dengan demikian, ia akan mematuhi atau menyelesaikan semua pekerjaannya dengan benar tanpa ada paksaan. Sementara kehendak seseorang adalah sikap, perilaku, dan tindakan mereka sesuai dengan norma tertulis dan tidak tertulis organisasi.20
Berdasarkan sudut pandang tersebut, dapat dikatakan bahwa disiplin kerja pegawai mengacu pada sikap atau perilaku yang menunjukkan kesetiaan dan kepatuhan seseorang atau kelompok terhadap peraturan yang ditetapkan oleh instansi atau organisasi, baik tertulis maupun tidak tertulis, dengan harapan agar hasil kerja akan selesai secara efektif dan efisien.
20 Pebi Juliyanto, Pengaruh Disiplin Kera Terhadap Prestasi Kerja Pegawai Pada Puskesmas di Kecamatan Depati VII Kabupaten Kerinci. Jambi, Vol 2, No 1, Juni 2019.
1) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Disiplin Kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin kerja anatara lain:
a) Tujuan dan kemampuan
Tingkat disiplin karyawan dipengaruhi oleh tujuan dan keterampilan tersebut. Tujuan harus jelas, ditentukan dengan tepat, dan cukup sulit untuk dicapai oleh orang tersebut. Artinya, tugas yang diberikan kepada karyawan harus sesuai dengan kemampuannya sehingga mereka serius dalam mengerjakan pekerjaannya.
b) Teladan pimpinan
Dengan teladan pimpinan yang baik, kedisiplinan bawahan akan ikut baik.
c) Balas jasa
Gaji dan kesejahteraan juga mempengaruhi disiplin karyawan karena keduanya meningkatkan kebahagiaan dan loyalitas karyawan terhadap perusahaan. Kedisiplinan akan lebih baik jika karyawan memiliki tingkat semangat kerja yang lebih tinggi. Agen harus menawarkan kompensasi yang relatif tinggi untuk mencapai disiplin staf yang baik.
d) Keadilan
Disiplin yang baik akan dihasilkan dari penggunaan keadilan sebagai landasan untuk setiap keputusan yang dibuat mengenai penghargaan dan hukuman. Seorang pemimpin yang baik berusaha
untuk memperlakukan setiap karyawan secara adil setiap saat.
Keadilan yang baik akan menghasilkan disiplin yang baik pula.
e) Pengawasan
Langkah konkret yang paling praktis untuk menegakkan kepatuhan karyawan agen terhadap disiplin adalah pengawasan.
Menggunakan kebijaksanaan mengharuskan atasan untuk secara aktif dan langsung mengelola perilaku, moral, sikap, semangat, dan kinerja bawahan mereka.
f) Sanksi hukuman
Hukuman memainkan peran penting dalam menegakkan disiplin staf. Karyawan tidak akan melanggar peraturan agensi karena hukuman yang semakin keras. Beratnya hukuman akan berdampak buruk pada disiplin staf.
g) Ketegasan
Kedisiplinan pegawai instansi akan dipengaruhi oleh seberapa tegas pimpinan bertindak, oleh karena itu pemimpin harus berani dan tangguh dalam bertindak untuk memenuhi apa yang telah diputuskan instansi sebelumnya. Alhasil, pimpinan akan mampu menjaga disiplin instansi.
h) Hubungan kemanusiaan
Rasa harmonis dan kemanusiaan bersama di antara rekan kerja yang mendorong penyelesaian konflik yang konstruktif.
Tujuan dari pemimpin harus untuk membina hubungan interpersonal yang positif di antara semua anggota tim. Jika ada
hubungan interpersonal yang sehat di dalam perusahaan, maka akan ada kedisiplinan karyawan.
2) Indikator Disiplin Kerja
Indikator disiplin kerja antara lain:
a) Kehadiran
Kehadiran bekerja sebagai karyawan untuk organisasi. Tepat waktu dan sapa staf setiap hari.
b) Tanggung jawab
Karyawan yang bertanggung jawab untuk melakukan semua pekerjaan yang diberikan kepada mereka. Pekerjaan yang ditugaskan diselesaikan dengan baik dan sesuai jadwal.
c) Sikap
Karyawan dengan sikap yang menyenangkan mampu berkomunikasi dengan klien. Klien dapat mengidentifikasi antara karyawan dan klien lain dengan lebih mudah ketika ada hadiah seragam kantor. Selain itu, pekerja harus selalu dapat menerima kritik dan ide. Pekerja harus membantu pelanggan untuk menampilkan sikap positif.
3. Kinerja Karyawan
a. Pengertian Kinerja Karyawan
Istilah "kinerja" sering digunakan dalam manajemen dan merujuk pada pekerjaan dan kinerja di tempat kerja. Tingkat kinerja yang ditunjukkan oleh sumber daya manusia tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat dijadikan sebagai metrik untuk menentukan kualitas
sumber daya tersebut. Manajemen kinerja adalah suatu proses yang menggabungkan kinerja, penilaian, dan pengembangan ke dalam satu sistem dengan tujuan mendukung kinerja karyawan dalam strategi perusahaan. Ini berkaitan dengan kinerja karyawan sekarang dan masa lalu relatif terhadap standar kinerja. Akibatnya, perusahaan harus mampu memaksimalkan potensi sumber daya manusia tersebut sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya.21
Setiap orang menunjukkan kinerja di dunia nyata saat mereka melaksanakan tugas yang diberikan sesuai dengan kebijakan organisasi.
Istilah ―kinerja karyawan‖ berasal dari kata “job performance” atau
―actual performance‖ (prestasi kerja atau prestasi yang dicapai seseorang). Berdasarkan pandangan para profesional tersebut, dapat disimpulkan bahwa kinerja mengacu pada kualitas dan kuantitas hasil kerja (output) yang dihasilkan dari waktu ke waktu oleh pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan kewajiban yang dibebankan kepadanya.22
1) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan Faktor kemampuan
Kemampuan adalah kapasitas seseorang atau orang-orang untuk melaksanakan tugas yang ditugaskan kepadanya. Secara khusus, kapasitas umum sangat penting untuk mengkomunikasikan dua pengaturan kemampuan:
21 Mulyadi, Pengaruh Perencanaan Karir, Pelatihan dan Pengembangan Karir Terhadap Kinerja Karyawan. Samarinda, Vol 15, No 2, Februari 2018.
22 Riyandi Dhyan Parashakti, Gaya Kepemimpinan dan Motivasiterhadap Kinerja Karyawan di Bank BJBCabang Tangerang. Tangerang, Vol 10, No 3, Januari 2019.
a) Kemampuan intelektual
Kemampuan intelektual semua bahan yang dibutuhkan untuk mengembangkan ketajaman mental.
b) Kemampuan fisik
Kemampuan untuk melaksanakan tugas yang membutuhkan kekuatan atau keterampilan disebut sebagai kemampuan fisik.
c) Faktor motivasi
Motivasi merupakan faktor yang dapat membangkitkan minat seseorang agar tindakannya sesuai dengan apa yang diinginkan.
d) Faktor Pendidikan dan pelatihan
Organisasi harus berinvestasi dalam pendidikan dan pelatihan. Hal ini dilakukan agar minat dan kepedulian kontributor terhadap mata pelajaran pekerjaan meningkat sebagai akibat dari kapasitas yang dibutuhkan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya.
2) Indikator Kinerja Karyawan a) Kualitas
Efektivitas tugas pada kemampuan dan kapasitas pekerja, serta pendapat karyawan tentang kualitas pekerjaan yang diberikan, digunakan untuk menentukan kualitas pekerjaan.
b) Kuantitas
Apakah hasilnya dijelaskan dengan kata-kata, seperti jumlah unit atau jumlah siklus gerakan yang telah diselesaikan.
c) Ketepatan waktu
Menurut sudut pandang pengorganisasian dengan hasil dan perluasan waktu yang tersedia untuk berbagai aktivitas, ketepatan waktu adalah derajat pergerakan yang dilakukan menuju waktu mulai yang ditentukan.