BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. KajianTeori
1. Kajian Teori tentang Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah
Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang terdapat di Indonesia bukanlah hanya merupakan suatu penggabungan dari dua tarekat yang berbeda yang di amalkan bersama-sama.22 Tarekat ini adalah salah satu tarekat almu’tabaroh yang disahkan oleh jam’iyah Nahdlatul Ulama’ (NU) Indonesia. Tarekat ini bertitik tolak dari ajaran Islam ala Ahlu Sunnah wal
22 Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah, 89
Jama’ah yang merupakan paham aqidah yang diselamatkan oleh Allah SWT.23
a. Pengertian Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah
Sebelum diuraikan lebih jauh tentang tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, ada baiknya di sampaikan terlebih dahulu tentang tarekat itu sendiri. Kata “tarekat” secara harfiah berarti “jalan”
mengacu kepada suatu sistem latihan meditasi maupun amalan-amalan (muraqabah, zikir, wirid dan sebagainya) yang dihubungkan dengan sederet guru sufi yang khas. Pada masa permulaan, setiap guru sufi dikelilingi oleh lingkaran murid mereka dan beberapa dari murid ini kelak akan menjadi guru pila. Boleh dikatakan bahwa tarekat ini mensistematiskan ajaran dan metode-metode tasawuf. Guru tarekat yang sama mengajarkan metode yang sama, zikir yang sama, muraqabah yang sama. Seorang pengikut tarekat akan memperoleh kemajuan melalui sederet amalan-amalan berdasarkan tingkat yang dilalui oleh semua pengikut tarekat yang sama. Dari pengikut biasa (mansub) menjadi murid selanjutnya pembantu Syaikh (khalifah-nya) dan akhirnya menjadi guru yang mandiri (mursyid).24
Menurut Zamakhsari Dhofier dalam buku Sri Mulyati perkataan tarekat lebih sering dikaitkan dengan suatu “organisasi tarekat”, yaitu suatu kelompok organisasi yang melakukan amalan- amalan zikir tertentu, dan menyampaikan suatu sumpah yang
23 Luthfi Nawawi, Jembatan Hati Meraih Cinta Ilahi (Situbondo: t.p., 2010), 85
24 Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah, 15.
formulanya telah ditentukan oleh pimpinan organisasi tarekat tersebut.
Dalam tradisi pesantren dari jawa, istilah tasawuf dipakai semata-mata dalam kaitan aspek intelektual dari “jalan=thariqat” itu, sedangkan aspeknya yang bersikap etis dan praktis (yang dalam lingkungan pesantren dianggap lebih penting daripada aspek intelektualnya) diistilahkan dengan tarekat.25
Tarekat yang betul-betul punya pengaruh dikalangan etnis Jawa di Jawa Timur adalah tarekat qodiriyah wa naqsyabandiyah, dan sejak awal pusat utamanya adalah Pesantren Darul Ulum di Rejoso, Jombang.26 Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang terdapat di Indonesia bukanlah hanya merupakan suatu penggabungan dari dua tarekat yang berbeda yang diamalkan bersama-sama. Tarekat ini lebih merupakan sebuah tarekat yang baru dan berdiri sendiri, yang di dalamnya unsur-unsur pilihan dari Qadiriyah dan juga Naqsyabandiyah telah di padukan menjadi sesuatu yang baru.27
Tarekat ini didirikan oleh Syeikh besar masjid al-Haram yakni Ahmad Khatib ibn Abd. Ghaffar al-Sambasi al-Jawi. Beliau adalah seorang ulama besar asli Indonesia yang bermukim dan mengajar sampai akhir hayatnya di Makkah al-Mukarramah pada pertengahan abad XIX (1802-1872). Ia ahli dalam bidang fiqh, tauhid maupun
25 Mulyati, Tarekat Tarekat Muktabarah, 9.
26 Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah, 178.
27 Ibid., 89.
tasawuf, sehingga mencapai posisi yang sangat dihargai dan kemudian menjadi seorang tokoh yang berpengaruh diseluruh indonesia.28
Sebagai seorang mursyid yang sangat alim dan ‘arif billah, Syeikh Ahmad Khatib memiliki otoritas untuk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya. Karena dalam tarekat Qodiriyah memang ada kebebasan untuk itu, bagi yang telah mencapai derajat mursyid. Akan tetapi yang jelas pada masanya telah ada pusat penyebaran terekat Naqsyabandiyah di kota suci Makkah maupun di Madinah. Sehingga sangat dimungkinkan ia mendapat baiat dari kemursyidan tarekat tersebut. Dan mengajarkan pada murid-muridnya.
Penggabungan inti ajaran kedua tarekat ini dimungkinkan atas dasar pertimbangan logis dan strategis bahwa kedua ajaran inti itu bersifat saling melengkapi, terutama dalam hal jenis dzikir dan metodenya.
Tarekat Qodiriyah menekankan ajarannya pada dzikir jahr nafi itsbat, sedangkan tarekat naqsyabandiyah menekankan model dzikir sirr ismu dzat, atau dzikir lathaif. Dengan penggabungan itu diharapkan para muridnya dapat mencapai derajat kesufian yang lebih tinggi, dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Serta memiliki satu metode tersendiri yang praktis untuk menempuh jalan spiritual.29
b. Ajaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah
Pada dasarnya pengamalan ajaran dan ritual dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah itu wajib dilaksanakan oleh setiap
28 Mulyati, Tarekat Tarekat Muktabarah, 254.
29 Sururin, Perempuan dalam Dunia Tarekat (Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2012), 82
orang yang telah dibaiat tanpa mengenal perbedaan jenis kelamin.
Mengingat didalam ajaran Islam sangat menjunjung tinggi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, maka keduanya senantiasa mendapatkan tempat dan kesempatan yang sama untuk mendekatkan diri pada Allah, hingga sampai pada tingkatan ma’rifatullah. Menurut kharisuddin Aqib dalam buku Sururin mengenai ajaran tarekat qodiriyah wa naqsyabandiyah mencakup tentang kesempurnaan suluk, adab para murid, dzikir dan muraqabah. Keempat ajaran inilah yang mampu membentuk citra diri anggota tarekat qodiriyah wa naqsyabandiyah, sehingga menjadi identitas yang membedakan antar pengikut tarekat dengan yang lain, khususnya ajaran-ajaran yang bersifat teknis.30
1) Kesempurnaan Suluk
Suluk berarti jalan yang ditentuan bagi orang yang berjalan (salik) kepada Allah, dengan melalui batas-batas dan tempat- tempat (maqam) dan naik beberapa martabat yang tinggi yaitu perjalanan ruhani dan nafsani.31 Pemaknaan suluk secara bahasa hampir sama dengan tarekat, yakni cara mendekatkan diri dengan Tuhan. Hanya saja kalau tarekat masih bersifat konseptual, sedangkan suluk sudah dalam bentuk teknis operasional. Oleh karena itu, dalam dunia tarekat, terminologi “suluk” dimaknai latihan atau “riadhah” berjenjang dan dalam waktu tertentu dalam
30 Ibid., 86
31 Ibid., 88
bimbingan guru tarekat. Orang yang mengikuti suluk itu disebut
“salik”. Tujuan awal dari suluk adalah “tazkiyah an nafs” yang secara berjenjang al-maqomat meningkatkan sampai ke tujuan akhir sesuai dengan tradisi tarekat tertentu.32
Para pengikut tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah meyakini bahwa kesempurnaan suluk tersimpul dalam tiga bingkai dimensi keislaman (trilogy dokrin Islam) yaitu syariat, tarekat dan hakikat. Syari’at adalah ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah,melalui Nabi Muhammad SAW, baik berupa perintah maupun larangan. Tarekat merupakan dimensi pengamalan syari’at tersebut. Sedang hakikat adalah dimensi penghayatan dalam pengamalan tarekat tersebut.
Setiap anggota tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah berkeyakinan bahwa tarekat diamalkan justru harus dalam rangka menguatkan syari’at. Karena bertarekat dengan mengabaikan syari’at, ibarat bermain diluar sistem. Tidak mungkin mendapatkan sesuatu darinya, kecuali kesia-siaan. Ia tidak mungkin mendapatkan hakikat yang hakiki. Pemahaman semacam ini biasa di gambarkan dengan sebuah lingkaran, itulah syari’at. Dan jari- jari yang menghubungkan antara lingkaran dengan poros itulah pusat pencarian yaitu hakikat.33
32 Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik, 281
33 Sururin, Perempuan dalam Dunia, 88.
2) Adab para murid
Menurut Kharisuddin Aqib dalam buku Sururin, Adab seorang murid merupakan sesuatu yang amat penting dalam rangka untuk mencapai tujuan tarekat. Pada umumnya ahli tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah harus menjaga empat adab yang selalu dijadikan pedoman selama berinteraksi dengan lingkungan masyarakat. Empat adab tersebut adalah adab kepada Allah, adab kepada syaikh (mursyid atau guru), adab kepada ikhwan, dan adab kepada diri sendiri.
a) Adab kepada Allah
Menurut Kharisudin Aqid dalam buku Sururin, Setiap ahli tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dalam mendekatkan diri kepada Allah harus selalu menjaga adabnya manakala berdoa atau munajat kepada-Nya. Di samping itu senantiasa bersyukur kepada Allah setiap waktu dan kesempatan, dan selalu menjaga kesadaran untuk bersyukur dan tidak melupakanya, serta senantiasa ridho terhadap ketentuan Allah terhadap dirinya baik yang dirasakan menguntungkan atau merugikan.
b) Adab kepada syeikh
Menurut Muhammad Amin Al-Kurdi dalam buku Sururin, Adab kepada mursyid (syeikh) merupakan ajaran yang sangat prinsip dalam tarekat, bahkan merupakan syarat dalam
riyadhat seorang murid. Secara rinci terdapat sepuluh adab yang harus selalu dipatuhi seorang murid kepada syeikhnya:
(1) Seorang murid harus memiliki keyakinan bahwa maksud dan tujuan suluknya tidak mungkin berhasil tanpa perantara gurunya.
(2) Seorang murid harus pasrah, menurut dan mengikuti bimbingan guru dengan rela hati.
(3) Apabila seorang murid berbeda pendapat dengan guru, baik dalam masalah ibadat maupun adab, maka murid harus mutlak mengalah dan menuruti pendapat gurunya.
Kecuali bila guru memberikan kelonggaran kepada murid untuk menentukan pilihannya sendiri.
(4) Murid harus berlari dari semua hal yang dibenci gurunya dan turut membenci apa yang dibenci gurunya.
(5) Jangan tergesa-gesa memberikan ta’bir (mengambil keputusan) atas masalah-masalah seperti impian.
(6) Merendahkan suara di majelis gurunya dan jangan memperbanyak bicara dan tanya jawab dengan gurunya, karena semua itu akan menjadi sebabnya mahjub.
(7) Jangan menghadap guru dalam waktu sibuk, atau dalam waktu istirahat.
(8) Jangan menembunyikan rahasia dihadapan guru.
(9) Murid tidak boleh menukil pernyataan guru kepada orang lain, kecuali sekedar yang dapat dipahami oleh orang yang diajak bicara.
(10) Jangan menggunjing, mengolok-olok, mengumpat, mengkritik dan menyebarluaskan aib guru kepada orang lain.
c) Adab kepada sesama ikhwan
Syeikh Muhammad Amin al-Kurdi dalam sururin menjelaskan bahwa diantara adab kepada sesama ikhwan adalah:
(1) Hendaknya kamu menyenangkan mereka dengan sesuatu yang menyenangkan dirimu.
(2) Jika bertemu mereka hendaknya bersegera mengucap salam dan berjabat tangan.
(3) Menggauli mereka dengan akhlaq yang baik.
(4) Pandanglah mereka laebih baik darimu.
(5) Perbaiki prasangkamu terhadap mereka.
(6) Jika ada pertikaian sesama ikhwan damaikanlah diantara keduanya. Dan jangan memihak salah satu diantara mereka.
(7) Hendaknya membatasi berpaling dari mereka, dan mendukung mereka secara moral, karena kehormatan adalah kewajiban.
d) Adab kepada diri sendiri
Menurut Muhammad Amin al-Kurdi dalam buku sururin menjeaskan bahwa, Setiap ahli tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah harus selalu menjaga diri selama menempuh perjalanan menuju Allah (suluk) diantara adab kepada diri sendiri adalah :
(1) Memegangi prinsip tingkah laku yang lebih sempurna.
(2) Hendaknya bertingkah laku ihsan, senantiasa meyakinkan dirinya bahwa Allah selalu mengetahui semua yang diperbuat hamba-Nya.
(3) Hendaknya bergaul dengan orang-orang saleh.
(4) Tidak diperbolehkan berlebih-lebihan dalam hal makan, minum, berbusana dan berhubungn seksual.
(5) Hendaknya berpaling dari cinta duniawi.34 3) Dzikir
a) Pengertian Dzikir
Al Qusyairi dalam buku Rivay Siregaf menyatakan bahwa dzikir adalah gerbang utama menuju perjumpaan dengan Allah, tidak ada jalan terbaik bagi orang yang ingin berjumpa dengan Allah kecuali melalui dzikir. Sebab, dzikir adalah tiang utama dan sekaligus sebagai gerbang utama menuju Allah.35 Dzikir adalah makanan spiritual ahli tarekat. Dzikir dapat membawa kepada keadaan kejiwaan yang sempurna, dan barang siapa senantiasa ingat allah, ia adalah pendamping Allah
34 Ibid., 89-95
35 Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik, 245
yang sejati. Dzikrullah merupakan langkah pertama di jalan cinta, oleh sebab itu siapa pun yang dalam hatinya telah tertanam cinta akan Tuhan disitulah tempat kediaman dzikir yang terus menerus.
Begitu pentingya dzikrullah dalam kehidupan manusia, maka semua tarekat memiliki sejumlah formulasi dzikir, karena dzikir merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengamalkan dzikir bagi setiap anggota tarekat menjadi suatu keharusan untuk dilakukan secara istiqamah.
Salah satu bagian yang terpenting dalam tarekat, yang hampir selalu kelihatan dikerjakan ialah dzikir. Ahli-ahli tarekat berkeyakinan jika seorang manusia atau hamba Allah telah yakin, bahwa lahir dan batinnya dilihat Allah dan segala pekerjaaanya diawasinya, segala perkataanya di dengarnya dan segala cita-cita dan niatnya diketahui Allah, maka hamba Allah itu akan menjadi seorang manusia yang benar, karena ia selalu ada dalam keadaan memperhambakan dirinya kepada Tuhan. 36 Dzikir yang dijalankan dengan khusyu’ dan penuh konsentrasi , hati, fikiran, dan perasaan hanyut didalamnya, tenggelam dalam kenikmatannya sembari merasakan kehadiran Allah, maka dzikir tersebut akan membuahkan ketenangan dalam
36 Aceh, Pengantar Ilmu Tarekat , 276
hati/qolbu, karena dzikir itu adalah kebutuhan dasar hati/qalbu (basic spiritual need).37
b) Macam – macam Dzikir dalam Ajaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah
Asep Usman Ismail dalam buku Sururin menyatakan bahwa adapun formulasi dzikir dalam ajaran tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah meliputi dzikir lisan dan dzikir qalbu.
Dzikir lisan atau juga dzikir nafi itsbat yaitu ucapan la ilaha illa Allah. Pada kalimat ini terdapat hal yang menafikan yang lain daripada Allah dan meng-itsbat-kan Allah. Pengamalannya mula-mula dzikir ini di ucapkan secara pelan-pelan dan lambat, kemudian makin lama kian cepat. Setelah meresap pada diri, maka terasa panasnya dzikir itu keseluruh bagian tubuh. Dzikir ini merupakan inti ajaran tarekat Qodiriyah yang dilakukan secara jahr (bersuara). Sedangkan dzikir qalbu yaitu dzikir yang tersembunyi di dalam hati, tanpa suara dan kata-kata.
Dzikir ini hanya memenuhi qalbu dengan kesadaran yang sangat dekat dengan Allah, sirama dengan detak jantung serta mengikuti keluar masuknya nafas. M. zain Abdullah dalam buku Sururin menyatakan bahwa dzikir qalbu atau dzikir ismu dzat adalah dzikir kepada Allah dengan menyebut Allah, Allah, Allah secara sirr atau khafi (dalam hati) dzikir ini juga disebut
37 Nawawi, Jembatan Hati, 20
dengan dzikir lathaif yang merupakan ciri khas tarekat Naqsyabandiyah. Mengenai cara pengamalan dzikir ismu dzat mula-mula lisan berdzikir Allah, Allah, diikuti hati, terus dengan dzikir tanpa sadar, kekuatan akal tidak berjalan melainkan terjadi sebagai ilham.
Dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah diajarkan dzikir nafi itsbat dan dzikir ismu dzat secara bersamaan, karena keduanya saling melengkapi dalam kaitannya dengan metode pembersihan jiwa. Pelaksanaan kedua jenis dzikir ini di amalkan setiap selesai sholat wajib dengan cara memejamkan mata agar lebih menghayati arti dan makna kalimat yang diucapkan yaitu la ilaha illa allah.38 Syekh Jalaluddin dalam Rivay Siregaf, pada saat mengucapkan kalimat “la ilaha illa allah” nafas dihimpun dan di tanam dalam perut persis dibawah pusat, dan disinilah dimulai ucapan “la” nafas diangkat lurus ke ubun-ubun, kemudian dilepas kearah bahu kanan diarahkan lurus kehati (qalb) seraya menyebut “ilaha illa allah”, tetapi kata “illa” diletakkan di ulu hati dan “Allah” ditembakkan ke dalam qalb sehingga menimbulkan getaran diseluruh tubuh dan darah terasa panas.39
38 Sururin, Perempuan dalam Dunia, 98-100
39 Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik, 247
c) Tingkatan Dzikir Lathaif
Romli Tamim dalam buku Sururin, Aktivitas dzikir selanjutnya adalah dzikir ismu dzat atau dzikr lathaif minimal 5000x, sehingga bila dikerjakan setelah sholat fardlu, maka setiap majlispengamal tarekat cukup berdzikir 1000x, dan dzikir ini dianjurkan sehari semalam sebanyak 5000x.
pengamalan dzikir ini diterima oleh seorang murid dari mursyidnya pertama kali bersama dengan baiat dan talqin dzikir nafi isbat. Namun untuk selanjutnya pemindahan dzikir dari lathifah yang satu ke lathifah yang lain dilakukan oleh mursyid tanpa pembaiatan dzikir nafi isbat. Menuurut Romli Tamim dalam buku Sururin, Pembaiatan lanjutan ini sekaligus sebagai tanda kenaikan tingkatan dalam suluk seseorang, yaitu mulai dari lathifah al-qalbi, lathifah al-ruhi, lathifah al-sirri, lathifah al-khafi, lathifah al-akhfa, lathifah an-nafsi, dan lathifah al-qalab.
(1) Lathifah al-qalbi, merupakan dzikir tingkat pertama, yaitu mengucap kalimat Allah sebanyak 1000x yang dikonsentrasikan pada tempat lathifah tersebut, yaitu jarak dua jari dibawah susu kiri agak condong keluar.
Perhitungan jumlah atau percepatan dzikir ini dapat disertakan pada kecepatan gerak kesadaran manusia atau perjalanan darah serta detak nadi. Sedang perhitungan jumlahnya bisa dilakukan dengan subha (tasbih) atau dengan jumlah tarikan nafas. Dzikir pada lathifah qalbi ini dilakukan secara terus menerus dan setiap sehari semalam minimal 5000x sampai 25.000x atau lebih banyak lagi. Hal ini dikerjakan sampai seorang murid benar-benar merasakan atsar-nya dzikir ini. Pelaksanaan dzikir ini
dimaksudkan untuk mengusir syetan yang bersarang di tempat ini dan membasmi hawa nafsu lawwamah.
(2) Lathifah al-ruhi, mengenai tata cara pelaksanaan dzikir yang kedua ini sama saja dengan dzikir tingkat pertama yaitu berdzikir dalam hati yang dikonsentrasikan pada tempat lathifah tersebut, yang berjarak dua jari di bawah susu kanan agak condong ke kanan. Dzikir pada lathifah ini juga dilakukan setiap hari semalam 5000x sampai seorang murid benar-benar merasakan pengaruhnya dzikir ini.
Pelaksanaan dzikir ini dimaksudkan untuk mengaktifkan lathifah yang berupa nafsu mulhimah.
(3) Latifah al-sirri, dilakukan secara terus menerus dan setiap sehari semalam minimal 5000x. Hal ini dikerjakan seorang murid sampai muncul tanda-tanda bahwa lathifah ini telah aktif. Apabila lathifah ini sudah aktif maka jiwa seorang murid akan mudah menerima dan menerap sinar tajalliyat Allah. Possisi lathifah al-sirri ini berada sekitar jarak dua jari diatas susu kiri agak condong ke kiri. Pelaksanaan dzikir ini dimaksudkan untuk mengaktifkan nafsu muthmainnah.
(4) Latifah al-khafi, pelaksanaan dzikir yang keempat ini sama saja dengan dzikir tingkat sebelumnya dengan jumlah yang sama pula yaitu berdzikir dalam hati yang dikonsentrasikan pada tempat lathifah tersebut, yang berjarak dua jari diatas susu kanan agak condong ke kanan. Dzikir pada lathifah ini dimaksudkan untuk mengaktifkan nafsu radliyah.
(5) Lathifah al-akhfa, merupakan lathifah paling dalam yang terdapat pada organ ruhaniyah manusia. Dzikir pada lathifah ini dilakukan sama dengan dzikir tingkat sebelumnya dengan jumlah yang sama pula yang dikonsentrasikan pada tempat lathifah tersebut, yang terletak di tengah-tengah dada, dan ulu hati atas sedikit.
Dzikir pada lathifah ini merupakan esensi dari nafsu al- mardliyah yang akan memunculkan ilm al-yaqin, ainal- yaqin, haq al-yaqin. Apabila lathifah ini sudah aktif maka seorang mursyid akan menaikkan pada lathifah berikutnya.
(6) Lathifah an-nafs, yang merupakan realitas murni dari jiwa manusia. Dzikir pada lathifah al-nafs ini dilakukan sama dengan dzikir tingkat sebelumnya dengan jumlah yang sama pula yang dikonsentrasikan pada tempat lathifah tersebut, lathifah ini terletak dikening diantara dua alis mata. Dzikir lathifah ini juga dilakukan sampai seorang murid benar-benar merasakan pengaruhnya, sehingga terjadi perubahan sikap mental, yang semula jahat berubah menjadi akhlaq untuk mengusir syetan yang bersarang
ditempat ini dan membakar serta melumpuhkan nafsu al- amarah.
(7) Lathifah al-qalab, merupakan sultan al-adzkar (rajanya dzikir), karena dalam melaksanakan dzikir melibatkan seluruh anggota tubuhnya mulai dari ubun-ubun sampai ujung kaki, serta menghayati bahwa seluruh badan ruhaninya juga terlibat. Dzikir pada lathifah al-qalab ini dilakukan sama dengan dzikir tingkat sebelumnya dengan jumlah yang sama pula. Apabila seorang murid telah mampu melaksanakan dzikir ini, maka dirinya telah menyelesaikan dzikir lathifah dan bahkan akan merasakan dzikirnya telah mengaliri seluruh tubuhnya dan seluruh pori-pori kulit.40
4) Muraqabah
a) Pengertian Muraqabah
Konsep muraqabah berasal dari kata raqib yang berarti penjaga atau pengawal. Biasa juga diartikan mengamat-amati, atau menantikan sesuatu dengan penuh perhatian. Muraqabah berati melestarikan pengamatan terhadap Allah SWT.41 Muraqabah adalah kesadaran ruhaniyah tentang
“kebersamaan” dengan Allah dalam segala suasana. Artinya dimana saja berada, dalam suasana dan kondisi yang bagaimanapun, “kebersamaan” dengan Allah harus dihidupkan dalam hati. Kesadaran spiritual yang demikian akan menutup hasrat-hasrat yang menyimpang, tetapi akan memperkuat tekad untuk melakukan yang baik dan terbaik, agar dapat selalu bersama Allah.42
40 Sururin, Perempuan dalam Dunia, 100-103
41 Ibid., 107
42 Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik, 256
b) Pelaksanaan Muraqabah
Mengenai pelaksanaan muraqabah dilakukan dengan cara duduk mengheningkan cipta dengan penuh kesungguhan hati, disertai penghayatan bahwa dirinya seolah-olah berhadapan dengan Allah serta memantabkan hati bahwa Allah selalu memantau dan mengontrol segala perbuatan yang dilakukannya. Muchtar Adam dalam Sururin, untuk mencapai derajat muraqabah, paling tidak ada tujuh anak tangga yang harus dilalui yaitu :
(1) Muhasabah (intropeksi)
(2) Mu’aqabah (sanksi terhadap pelanggaran) (3) Muhasanah (memperbaiki situasi masa kini) (4) Mujahadah (optimalisasi segala yang baik) (5) Istiqamah (disiplin)
(6) Muraqabah (merasakan pengawasan Allah SWT)
(7) Mukasyafah atau musyahadah (terbukanya tabir antara diri dengan Allah SWT)43
c. Ritual Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah
Disamping ajaran dasar tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang khas, terdapat juga ritual yang mewarnai aktivitas komunitas tarekat ini, sehingga anggota tarekat semakin termotivasi dan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh
43 Sururin, Perempuan dalam Dunia, 109-110
jam’iyah tersebut. Adapun bentuk ritual yang berlangsung selama ini yaitu mubaya’ah/pembaiatan, khataman/tawajjuhan, dan manaqiban.
1) Mubaya’ah
Prosesi awal untuk menjadi seorang murid atau pengikut tarekat adalah mubaya’ah. Mubaya’ah adalah sebuah prosesi perjanjian antara seorang murid dengan mursyid. Seorang murid menyerahkan dirinya untuk dibimbing dalam rangka membersihkan jiwanya dan mendekatkan diri kepada Allah.
Selanjutnya seorang mursyid menerimanya dengan mengajarkan dzikr (talqin al-dzikr).
2) Khataman/tawajjuhan
Kegiatan ini merupakan upacara ritual yang biasanya dilaksanakan secara rutin di semua cabang kemursyidan, ada yang melaksanakan sebagai kegiatan mingguan ada juga yang melaksanakan sebagai kegiatan setiap bulan. Pada dasarnya kegiatan ini merupakan upacara ritual yang resmi, lengkap dan rutin yang dipimpin langsung oleh mursyid atau asisten mursyid (khalifah) sehingga forum ini sekaligus sebagai sarana untuk tawajjuh serta ajang silaturahmi antar sesama anggota. Khataman dalam beberapa kemursyidan diistilahkan dengan kegiatan tawajjuhan, atau mujahadah, karena upacara ritual ini dimaksudkan untuk mujahadah (bersungguh-sungguh dalam meningkatkan kualitas spiritual para anggota), baik melakukan