• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Definisi Istilah

1) Kalimat Aktif

- Mereka akan berangkat besok pagi.

- Kakak membantu ibu di dapur.

Kalimat aktif dibedakan menjadi 2, yaitu:

(1) Kalimat Aktif Transitif

Kalimat aktif transitif adalah kalimat yang dapat diikuti oleh objek penderita (O1). Predikat pada kalimat ini biasanya berawalam me- dan selalu dapatt dirubah menjadi kalimat pasif.

Contoh:

- Eni mencuci piring.

S P O1 (2) Kalimat Aktif Intransitif

Kalimat aktif intransitif adalah kalimat yang tidak dapat diikuti oleh objek penderita (O1). Predikat pada kalimat ini biasanya berawaln ber-. Kalimat yang berawalan me- tidak diikuti dengan O1.

Kalimat ini tidak dapat dirubah menjadi kalimat pasif.

Contoh:

- Mereka berangkat minggu depan.

S P K

- Amel menangis tersedu-sedu di kamar.

S P K (3) Kalimat Semi Transitif

Kalimat ini tidak dapat dirubah menjadi kal pasif karena disertai oleh pelengkap bukan objek.

Contoh:

- Dian kehilangan pensil.

S P Pel.

- Soni selalu mengenderai sepeda motor ke kampus.

S P Pel K 2) Kalimat Pasif

Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan/tindakan. Kalimat ini biasanya memiliki predikat berupa kata kerja berawalan di- dan ter- dan diikuti oleh kata depan oleh

Kalimat pasif dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

(1) Kalimat Pasif Biasa

Kalimat pasif ini biasanya diperoleh dari kalimat aktif transitif. Predikat pada kalimat ini berawalan di-,ter-,ke-an.

- Piring dicuci Eni.

S P O2 (2) Kalimat Pasif Zero

Kalimat pasif zero adalah kalimat yang objek pelakunya(O2) melekat berdekatan dengan O2 tanpa disisipi dengan kata lain.

Predikat pada kalimat ini berakhiran -kan dan akan terjadi penghilangan awalan di-. Predikatnya juga dapat berupa kata dasar berkelas kerja kecuali kata kerja aus. Kalimat pasif zero ini berhubungan dengan kalimat baku.

Contoh:

- Ku pukul adik.

O2 P S

- Akan saya sampaikan pesanmu.

O2 P S

Cara mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif :

1. Subjek pada kalimat aktif dijadikan objek pada kalimat pasif.

2. Awalan me- diganti dengan di-.

3. Tambahkan kata oleh di belakang predikat.

Contoh:

- Bapak memancing ikan. (aktif) - Ikan dipancing oleh bapak. (pasif)

4. Jika subjek kalimat akrif berupa kata ganti maka awalan me- pada predikat dihapus, kemudian subjek dan predikat dirapatkan.

Contoh :

- Aku harus memngerjakan PR. (aktif) - PR harus kukerjakan. (pasif)

c. Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan kembali gagasan atau pikiran pada diri pendengar atau pembaca, seperti apa yang ada dalam pikiran dan benak pembicara atau penulisnya. Jadi dengan kalimat efektif, ide atau gagasan penulis atau pembicara itu akan dapat diterima secara utuh.

Kalimat yang utuh yaitu kalimat yang baik dan benar dapat memudahkan orang lain untuk memahaminya. Kalimat yang baik haruslah mengikuti kaidah-kaidah tata bahasa, pilihan kata(diksi), penalaran dan keserasian. Kelengkapan unsur sebuah kalimat efektif sangat menentukan kejelasan sebuah kalimat. Kalimat yang demikian disebut kalimat efektif.

Sebuah kalimat yang efektif mempersoalkan bagimana ia dapat mewakili secara tepat isi dan pikiran atau perasaan pengarang, bagaimana ia dapat

pendengar apa yang dibicarakan.

Hal ini berarti bahwa kalimat efektif haruslah disusun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang diinginkan penulis kepada pembacanya. Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula.

Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah, dan enak dibaca. Ketepatan informasi sebagai syarat mutlak dari sebuh kalimat efektif. Agar pembaca tertarik pada apa yang disampaikan, maka sebuah kalimat efektif harus disusun secara tepat. Sebagai sarana komunikasi, setiap kalimat terlibat dalam proses penyampaian dan penerimaan. Apa yang disampaikan dan apa yang diterima itu mungkin bersifat ide, gagasan, pesan, pengertian, atau informasi. Kalimat dikatakan efektif apabila kita akan membuat kalimat yang baik dan benar harus berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku dan kalimat tersebut mudah dipahami oleh orang lain.

Adapun ciri-ciri dari kalimat efektif yaitu kalimat yang ditulis dapat memberikan informasi kepada pembaca secara tepat seperti yang diharapkan oleh penulis. Maka ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan terkait ciri-ciri kalimat efektif. Putrayasa (2007: 54) menyebutkan bahwa ciri- ciri kalimat efektif ada empat, yakni kesatuan (unity), kehematan (economy), penekanan (emphasis), dan kevariasian (variety).

1. Kesatuan (unity)

Putrayasa (2007: 54) menyatakan bahwa betapapun bentuk sebuah kalimat, baik kalimat inti maupun kalimat luas, agar tetap berkedudukan sebagai kalimat efektif, haruslah mengungkapkan sebuah ide pokok atau satu kesatuan pikiran.

Contoh :Bangsa Indonesia menginginkan keamanan, kesejahteraan, dan kedamaian.

Kesatuan dalam kalimat efektif Memiliki subyek,predikat, serta unsur-unsur lain (O/K) yang saling mendukung serta membentuk kesatuan tunggal.

Contoh: Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu kesalamatan umum.

Kalimat ini tidak memiliki kesatuan karena tidak didukung subyek.

Unsur di dalam keputusan itu bukanlah subyek, melainkan keterangan. Ciri bahwa unsur itu merupakan keterangan ditandai oleh keberadaan frase depan di dalam (ini harus dihilangkan).

2. Kehematan (economy)

Kehematan adalah adanya hubungan jumlah kata yang digunakan dengan luasnya jangkauan makna yang diacu (Putrayasa, 2007: 55).

Hemat di sini bukan dilihat dari jumlah katanya, melainkan seberapa banyak kata yang bermanfaat bagi pembaca. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menghemat kata-kata, yakni (a) pengulangan

depan, dari‟ dan, daripada‟.

Adapun Kehematan kata dalam kalimat efektif adalah adanya hubungan jumlah kata yang digunakan dengan luasnya jangkauan makna yang diacu. Sebuah kalimay dikatakan hemat bukan karena jumlah katanya sedikit, sebaliknya dikatakan tidak hemat kerena jumlah katanya terlalu banyak. Yang utama adalah seberapa banyakkah kata yang bermanfaat bagi pembaca atau pendengar.

Dengan kata lain, tidak usah menggunakan belasan kata, kalau maksud yang dituju bisa dicapai dengan beberapa kata saja. Oleh karena itu, kata-kata yang tidak perlu bisa dihilangkan. Untuk penghematan kata-kata hal-hal berikut perlu diperhatikan.

a. Menghilangkan pengulangan subjek yang sama pada anak kalimat.

Contoh:

1. Pemuda itu segera mengubah rencananya setelah dia bertemu dengan pemimpin perusahaan.

2. Hadirin serentak berdiri begitu mereka mengetahui mempelai memasuki ruangan.

Seharusnya adalah:

1. Pemuda itu segera mengubah rencananya setelah bertemu dengan pemimpin perusahaan.

2. Hadirin serentak berdiri begitu mengetahui mempelai memasuki ruangan.

b. Menghindari penggunaan hiponimi.

Contoh:

1. Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.

Pemakaian kata ‘bunga-bunga’ dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata ‘mawar, anyelir, dan melati’ sudah mengandung makna bunga. Kalimat efektifnya: Mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.

2. Rumah penduduk di kota itu terang benderang oleh cahaya lampu neon. Seharusnya: Rumah penduduk di kota itu terang benderang oleh cahaya neon.

3. Beliau dilahirkan di kota Yogyakarta pada tahun 1924.

Seharusnya: Beliau dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1924.

c. Menghindari penggunaan ‘dari’ dan ‘daripada’.

Contoh:

1. Mobil dari paman saya terbakar. (seharusnya: Mobil paman saya terbakar).

2. Usul daripada bapak ketua perlu diperhatikan (seharusnya:

Usul bapak ketua perlu diperhatikan).

3. penekanan (emphasis)

Penekanan atau penegasan dalam kalimat adalah upaya

salah satu unsur atau bagian kalimat, agar unsur atau bagian kalimat yang diberi penegasan itu lebih mendapat perhatian dari pembaca (Putrayasa, 2007; 56). Dalam penulisan ada berbagai cara untuk memberi penekanan pada kalimat, antara lain dengan cara: (a) pemendahan letak frase dan (b) mengulangi kata-kata yang sama atau repetisi. Penekanan dalam kalimat efektif ini yaitu kalimat yang dipentingkan harus diberi penekanan. Dengan cara yaitu mengubah posisi dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian yang penting di depan kalimat.

Adapun cara untuk penekanan kata, antara lain:

a. Mengubah posisi kata dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian yang penting di awal kalimat.

Contoh:

1. Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.

2. Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini.

Menggunakan partikel; penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel –lah, -pun, dan –kah.

b. Menggunakan partikel. Penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel –lah, -pun, dan –kah. Contoh:

1. Andalah yang harus bertanggungjawab soal itu.

2. Bisakah dia menyelesaikannya?

3. Kami pun berangkat dengan segera.

c. Menggunakan repetisi, yakni mengulang-ulang kata yang dianggap penting.

Contoh:

Dalam membina hubungan antara suami istri, antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat, diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami antara satu dan lainnya.

d.Menggunakan pertentangan, yakni menggunakan kata yangbertentangan atau berlawanan makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan.

Contoh:

1. Anak itu tidak malas, tapi rajin.

2. Ia tidak membela satu partai pun, melainkan berada di pihaknetral.

e. Penekanan kata dengan intonasi. Caranya adalah dengan memberi tekanan yang lebih keras kepada salah satu unsur atau bagian kalimat yang ingin ditegaskan.

Contoh:

- Fadil membaca komik Conan di kamar.

- Fadil membaca komik Conan di kamar.

- Fadil membaca komik Conan di kamar.

Apabila tekanan diberikan pada kata Fadil maka kalimat itu berarti ‘yang membaca komik Conan di kamar adalah Fadil, bukan orang lain’. Apabila tekanan diberikan pada kata membaca maka kalimat itu berarti ‘yang dilakukan Fadil di kamar adalah membaca, bukan pekerjaan lain’. Apabila tekanan diberikan pada kata komik Conanmaka kalimat itu berarti ‘buku yang dibaca Fadil di kamar adalah komik Conan, bukan buku atau komik lain’. Apabila tekanan diberikan pada kata di kamar maka kalimat itu berartitempat Fadil membaca komik Conan adalah di kamar, bukan di tempat lain’.

f. Menggunakan kata keterangan. Keterangan penegas yang lazim digunakan untuk memberikan penekanan adalah kata memang, apalagi, bahkan, dan lebih-lebih lagi.

Contoh:

1. Mencari pekerjaan di Jakarta tidak semudah yang kamubayangkanapalagi kalau kamu tidak punya koneksi.

2. Kikirnya bukan main, bahkan untuk makan sendiri dia enggan mengeluarkan uang.

3. Memang dialah yang belum tahu.

g. Menggunakan kontras makna. Penekanan dengan kontras makna dilakukan terhadap kalimat majemuk setara. Makna klausa pertama dari kalimat tersebut menjadi terasa lebih tegas karena dikontraskan atau dipertentangkan dengan makna pada klausa kedua.

Contoh:

1. Eva berurai air mata pada saat orang bergembira ria.

2. Dia dengan mudah mendapat uang seratus ribu rupiah sehari, kita mencari seratus rupiah saja sulit

3. Rata-rata penduduk di negeri ini kaya raya padahal tanah mereka tandus dan gersang.

h. Menggunakan bentuk pasif. Penekanan dalam bentuk kalimat pasif dibentuk dengan maksud untuk lebih menegaskan peranan objek penderita.

Contoh:

1. Ali dan Hasan dimarahi dosen. (Kalimat asalnya ‘Dosen memarahi Ali dan Hasan)

2. Pohon tua itu ditebang kakek kemarin. (Kalimat asalnya

‘Kakek menebang pohon tua itu kemarin

3. Buku itu sudah saya baca. (Kalimat asalnya ‘Saya sudah membaca buku itu’).

‘Kami harus membongkar bangunan tua itu’).

4. kevariasian (variety).

Kevariasian menurut KBBI (2002: 1259) artinya tindakan atau hasil perubahan dari keadaan semula; selingan. Putrayasa (2007: 65) menyebutkan bahwa ciri kevariasian akan diperoleh jika kalimat yang satu dibandingkan dengan kalimat yang lain, kemungkinan variasi kalimat tersebut antara lain (a) variasi dalam pembukaan kalimat; (b) variasi dalam pola kalimat; (c) variasi dalam jenis kalimat; dan (d) variasi bentukaktif-pasif.

Adapun kevariasian dalam kalimat efektif adalah upaya penulis menggunakan berbagai pola kalimat dan jenis kalimat untuk menghindari kejenuhan atau kemalasan pembaca terhadap teks karangan ilmiah. Fakta utama dari kevariasian ini adalah menjaga perhatian dan minat baca terhadap teks berlanjut bagi pembaca.

Pada dasarnya kevariasian yaitu upaya penganekaragaman pola, bentuk, dan jenis kalimat agar pembaca tetap termotivasi membaca dan memahami teks sebuah karangan ilmiah.

Agar kevariasi dapat menjaga motivasi pembaca terhadap teks, penulis perlu memperhatikan hal-hal berikut.

1. Awal kalimat tidak selalu dimulai dengan unsure subjek, tetapi kalimat dapat dimulai dengan predikat dan keterangan

sebagai variasi dalam penataan pola kalimat.

2. Kalimat yang panjang dapat diselingi dengan kalimat yang pend ek.

3. Kalimat berita dapat divariasikan dengan kalimat Tanya, kalimat perintah, dan kalimat seruan.

4. Kalimat aktif dapat divareiasikan dengan kalimat pasif.

5. Kalimat tunggal dapat divariasikan dengankalimat majemuk.

6. Kalimat tak langsung dapat divariasikan dengan kalimat langsung.

7. Kalimat yang diuraikan dengan kata-kata dapat divariasikan dengan tampilan gambar, bagan, grafik, kurva, marik, dan lain-lain.

8. Apa pun bentuk kevariasian yang dilakukan oleh penulis jangan sampai mengubah atau keluar dari pokok masalah yang dibicarakan.

Perhatikanlah contoh kalimat dengan variasinya.

1. Dari renungan itu seorang manajer menemukan suatu makna, suatu realitas yang baru, suatu kebenaran yang menjadi ide sentral yang menjiwai bisnisnya ke depan.

2. Seorang ahli Inggris mengemukakan bahwa seharus tidak dibangun pelabuhan samudera. Namun, pemerintah tidak memutuskan demikian. Memang cukup banyak

belahan Timur meskipun Fasilitas pengangkutan laut dan udara sudah banyak dibangun.

(Variasi kalimat dengan kata berawalan me- dan berawalan di-).

Adapun jenis-jenis kevariasian yaitu:

a. Variasi dalam pembukaan kalimat

Ada beberapa kemungkinan untuk memulai kalimat demi efektifitas, yaitu dengan variasi pada pembukaan kalimat. Dalam variasi pembukaan kalimat, sebuah kalimat dapat dimulai atau dibuka dengan :

1. Frase Keterangan (waktu, tempat, dan cara) 2. Frase Benda

3. Frase Kerja

4. Frase Penghubung b. Variasi dalam pola kalimat

Demi mencapai sebeuak efektifitas dalam kalimat dan menghindari suasana monoton yang dapat menimbulkan kebosanan, pola kalimat Subjek – Predikat – Objek dapat diubah menjadi Predikat – Objek – Subjek atau yang lainnya.

Contoh:

1. Dokter muda itu belum dikenal oleh masyarakat desa Sukamaju. (S – P- O)

2. Belum dikenal oleh masyarakat desa Sukamaju dokter muda itu. (P – O – S)

3. Dokter muda itu oleh masyarakat desa Sukamaju belum dikenal. (S – O – P)

c. Variasi dalam jenis kalimat

Untuk mencapai efektifitas sebuah kalimat berita atau pertanyaan, dapat dikatakan dalam kalimat Tanya atau kalimat perintah.

Contoh:

“Presiden SBY sekali lagi menegaskan perlunya kita lebih hati-hati memamakai bahan bakar dan energi dalam negeri.

Apakah kita menangkap peringatan tersebut?”

Dalam kutipan tersebut terdapat satu kalimat yang dinyatakan dalam bentuk Tanya. Penulis tentu dapat mengatakannya dalam kalimat berita. Akan tetapi untuk mencapai efektifitas, ia memakai kalimat Tanya.

Contoh:

1. Pohon pisang itu cepat tumbuh. Kita dengan mudah dapat menanamnya danmemeliharanya. Lagi pula kita tidak perlu memupuknya. Kita hanya menggalilubang, menanam, dan tinggal menunggu buahnya.

Bandingkan dengan kalimat berikut!

2. Pohon pisang itu cepat tumbuh. Dengan mudah pohon pisang itu dapat ditanamdan dipelihara. Lagi pula tidak perlu dipupuk kita hanya menggali lubang, menanam dan tinggal menunggu buahnya.

Kalimat-kalimat pada paragaf (a) semuanya berupa kalimat katif, sedangkan pada paragraph (b) berupa kalimat aktif dan pasif. Dapat dikatakan, bahwa kalimat- kalimat pada paragraf (a) tidak bervariasi sedangkan paragraf (b) bervariasi, namun hanya variasi aktif – pasif.

c. Analisis Kesalahan

Analisis adalah aktivitas yang memuat sejumlah kegiatan seperti mengurai, membedakan, memilah sesuatu untuk digolongkan dan dikelompokkan kembali menurut kriteria tertentu kemudian dicari kaitannya dan ditafsirka maknanya.

Dalam pengertian yang lain, analisis adalah sikap atau perhatian terhadap sesuatu (benda, fakta, fenomena) sampai mampu menguraikan menjadi bagian-bagian, serta mengenal kaitan antarbagian tersebut dalam keseluruhan. Analisis dapat juga diartikan sebagai kemampuan memecahkan atau menguraikan suatu materi atau informasi menjadi komponen- komponen yang lebih kecil sehingga lebih mudah dipahami. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa analisis adalah sekumpulan aktivitas dan proses.

Salah satu bentuk analisis adalah merangkum sejumlah besar data yang masih mentah menjadi informasi yang dapat diinterpretasikan. Semua bentuk analisis berusaha menggambarkan pola- pola secara konsisten dalam data sehingga hasilnya dapat dipelajari dan diterjemahkan dengan cara yang singkat dan penuh arti.

Adapun pengertian analisis menurut para ahli yaitu Menurut Gorys Keraf, analisa adalah sebuah proses untuk memecahkan sesuatu ke dalam bagian-bagian yang saling berkaitan satu sama lainnya. Sedangkan menurut Komarrudin mengatakan bahwa analisis merupakan suatu kegiatan berfikir untuk menguraikan suatu keseluruhan menjadi komponen sehingga dapat mengenal tanda-tanda dari setiap komponen, hubungan satu sama lain dan fungsi masing-masing dalam suatu keseluruhan yang terpadu. Jadi dapat disimpulkan dari kedua pendapat para ahli tersebut bahwa analisa merupakan sekumpulan kegiatan, aktivitas dan proses yang saling berkaitan untuk memecahkan masalah atau memecahkan komponen menjadi lebih

analisa salah satunya yaitu merangkum data mentah menjadi sebuah informasi yang bisa disampaikan ke khalayak.

Segala macam bentuk analisis menggambarkan pola-pola yang konsisten di dalam data, sehingga hasil analisa dapat dipelajari dan diterjemahkan dengan singkat dan penuh makna. Analisa juga dapat diartikan sebagai sebuah penyelidikan terhadap suatu peristiwa dengan tujuan mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi.

d. Kesalahan Dalam Bidang Kalimat a.1 kesalahan Kalimat Efektif

Kalimat yang utuh yaitu kalimat yang baik dan benar dapat memudahkan orang lain untuk memahaminya. Kalimat yang baik haruslah mengikuti kaidah-kaidah tata bahasa, pilihan kata(diksi), penalaran dan keserasian. Kelengkapan unsur sebuah kalimat efektif sangat menentukan kejelasan sebuah kalimat. Kalimat yang demikian disebut kalimat efektif. Sebuah kalimat yang efektif mempersoalkan bagimana ia dapat mewakili secara tepat isi dan pikiran atau perasaan pengarang, bagaimana ia dapat mewakilinya secara segar, dan sanggup menarik perhatian pembaca dan pendengar apa yang dibicarakan.

Hal ini berarti bahwa kalimat efektif haruslah disusun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang diinginkan penulis kepada

pembacanya. Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula. Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah, dan enak dibaca.

Ketepatan informasi sebagai syarat mutlak dari sebuh kalimat efektif.

Agar pembaca tertarik pada apa yang disampaikan, maka sebuah kalimat efektif harus disusun secara tepat. Sebagai sarana komunikasi, setiap kalimat terlibat dalam proses penyampaian dan penerimaan. Apa yang disampaikan dan apa yang diterima itu mungkin bersifat ide, gagasan, pesan, pengertian, atau informasi.

Kalimat dikatakan efektif apabila kita akan membuat kalimat yang baik dan benar harus berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku dan kalimat tersebut mudah dipahami oleh orang lain.

Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan kembali gagasan atau pikiran pada diri pendengar atau pembaca, seperti apa yang ada dalam pikiran dan benak pembicara atau penulisnya. Jadi dengan kalimat efektif, ide atau gagasan penulis atau pembicara itu akan dapat diterima secara utuh.

Putrayasa (2007: 2) juga mengungkapkan pernyataan tentang kalimat efektif yaitu suatu kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan, informasi, dan perasaan dengan tepat ditinjau dari segi diksi, struktur, dan logikanya.

memberikan informasi kepada pembaca secara tepat seperti yang diharapkan oleh penulis. Maka ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan terkait ciri-ciri kalimat efektif. Putrayasa (2007: 54) menyebutkan bahwa ciri-ciri kalimat efektif ada empat, yakni kesatuan (unity), kehematan (economy), penekanan (emphasis), dan kevariasian (variety).

Adapun kesalahan kalimat efektif yang sering kita temui di skripsi mahasiswa yaitu sebagi berikut:

1) Kalimat Salah:

Lebih enak dengan partai demokrat pastinya karena semuanya sudah seperti keluarg”, ucapnya.

Kalimat Efektif:

Lebih baik dengan partai demokrat pastinya karena semuanya sudah seperti keluarga”, ucapnya.

2) Kalimat Salah:

Danny mengunci dua parpol”. Makanya dia layak kembali menakhodai Makassar 2018-2023

Kalimat Efektif:

“Danny mengunci dua parpol”. Makanya dia layak kembali memimpin Makassar 2018-2023.

b.2 Penggunaan Konjungsi Berlebihan

Salah satu penyebab ketidakefektifan kalimat adalah penggunaan kata hubung (konjungsi) yang tdiak tepat. Banyak diantara mahasiswa yang memandang kata hubung sekadar pada maknanya, padahal kata hubungpun memiliki fungsi.

Adapun jenis-jenis kata hubung yaitu misalnya, kata hubung antarklausa dan kata hubung antarkalimat. Adanya beberapa jenis kata hubung berdasarkan fungsinya maka pemakaian kata hubung harus tepat dan benar agar kalimat yang dihasilkan menjadi kalimat yang baku. Kata hubung antarklausa yang terdiri dari dua jenis, yaitu koordinator dan subordinator. Koordinator menghubungkan dua kalimat setara, klausa-klausa didalamnya bisa saling lepas atau berdiri sendiri. Contoh koordinator adalah dan,atau, tetapi, melainkan, sedangkan, lalu, kemudian, dan bahkan. Sebaliknya, jika klausa yang dihubungkan bukan klausa yang setara, klausa yang satu bergantung pada klausa yang lain, subordinator yang digunakan dalam prose penggabungan itu. Contoh subordinator adalah saat, ketika, walaupun, sebab, karena sehingga, jika, untuk, dan bahwa.

Konjungsi antarklausa tidak boleh difungsikan sebagai kinjungsi antarkalimat.

Perhatikan contoh dibawah ini:

- Tetapi, dia tidak pernah menyangka hal itu sebelumnya.

di sana tetapi dipakai sebagai konjungsi antarkalimat, padahal tetapi sebenarnya konjungsi antarklausa. Selain tetapi, koordinator tidak boleh dipakai di awal kalimat sebab pemakaiannya diawal kalimat menyebabkan konjungsi itu difungsikan sebagai konjungsi antarkalimat.

Dalam beberapa kasus , sering dijumpai pemakaian konjungsi yang berlebihan. Maksudnya, pada kalimat itu sebenarnya hanya ada dua klausa, logisnya jika ada dua klausa, kita hanya memerlukan satu konjungsi.

Contoh:

- Jika keadaan terus semakin memburuk, maka Pemerintah akan turun tangan dalam kasus tersebut.

Kalimat di atas memiiki dua klausa, yaitu (1) Keadaan terus semakin memburuk dan (2) Pemerintah akan turu tangan dalam kasus tersebut. Dengan demikian, pada kalimat tersebut seharusnya dipakai sebuah konjungsi saja, tidak boleh jika dan maka sekaigus dipakai. Adapun kasus serupa di atas sering kita temukan, misalnya seperti dibawah ini:

- Sebab, maka - Walaupun, namun - Meskipun, tetapi

Dokumen terkait