melihat pada tujuan peristiwanya.
10. BID
G/28/03/02
Sedangkan jika diukur dengan kertas kuarto yang jumlah barisnya 35 buah dan tiap baris sepuluh kata, maka jumlah kata dalam satu lembar kuarto adalah 35x10= 350 buah.
Penggunaan dua konjungsi sekaligus yaitu
“sedangkan” dan “maka”.
11. BID
G/30/02/04
Sehingga tidak jarang banyak penyair atau pengarang yang menggunakan sesuatu yanng telah diolah oleh generasi sebelumnya.
Penggunaan dua konjungsi sama yaitu konjungsi
“yang”.
12. BID
G/31/02/02
Penelitian ini menggunakan bahasa yang memungkinkan bunyi bahasa yang dituturkan pengarang mungkin selalu berubah.
Penggunaan dua konjungsi sama yaitu konjungsi
“yang”.
3. Untuk menemukan dan mengklasifikasi kalimat yang mengandung unsur kesalahan kalimat terdapat dalam makalah mahasiswa semester empat.
(BID C/35/02/03)
4. Apabila mengajarkan bahasa merupakan salah satu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca, maka kegiatan pengajaran bahasa dititik beratkan pada tugas-tugas. (BID C/35/02/03)
5. Skenario atau cerita merupakan naskah berisi tentang cerita atau gagasan yang cara penyajiannya telah desain sedemikan rupa. (BID D/12/02/01)
6. Koran adalah lembaran tercetakmemuat laporan yang terjadi dimasyarakat. (BID E/14/01/01)
7. Para ilmuan dalam bidang lainpun menjadikan bahasa sebagai objek studi mereka memerlukan bahasa, meskipun sekurang-kurangnya sebagai alat bantu untuk menyampaikan berita.(BID E/02/01/05) 8. Dalam setiap proses komunikasi ini terjadilah apa yang disebut
“peristiwa”. Meskipun “peristiwa tutur “ dan “tindak tutur” dalam satu situasi tutur. (BID F/02/01/08)
9. Tindak tutur lebih melihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturnya, tetapi peristiwa tuturnya lebih melihat pada tujuan peristiwanya.
(BID F/10/03/03)
tiap baris sepuluh kata, maka jumlah kata dalam satu lembar kuarto adalah 35x10= 350 buah. (BID G/28/03/02)
11. Sehingga tidak jarang banyak penyair atau pengarang menggunakan sesuatu yang telah diolah oleh generasi sebelumnya. (BID G/30/02/04)
12. Penelitian ini menggunakan bahasa yang memungkinkan bunyi bahasa dituturkan pengarang mungkin selalu berubah. (BID G/31/02/02)
Tabel 4.5. Penggunaan Kata Tanya tidak Perlu Perhatikan kesalahan dalam kalimat berikut:
No. Nomor
Subjek Kesalahan Kalimat Keterangan
1. BID
A/09/02/04
Kalimat efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan si pembicara tergambar lengkap dalam pikiran
penerima(pembaca/pendengar), persis seperti apa yang
disampaikannya.
Penggunaan kata “Apa”
tidak perlu
disisipkan didalam kalimat.
2. BID
B/02/01/08
Hal semacam itu menuntun seseorang untuk memahami implikatur
percakapan, agar apayang diucapkan dapat dipahami oleh lawan tutur.
Penggunaan kata “Apa”
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
3. BID Tetapi mereka memiliki fungsi yang Penggunaan kata “di mana‟
B/02/03/04 sama,di mana bertujuan untuk memberitahu dan mempengaruhi masyrakat
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
4. BID
B/07/02/02
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu masyarakat untuk memahami, maksud dari apayang ingin disampaikan dalam iklan obat tersebut.
Penggunaan kata “Apa”
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
5. BID
B/08/01/03
Dengan perkataan lain, implkatur percakapan dipakai untuk
menerangkan makna implisit dibalik apayang diucapkan penulis.
Penggunaan kata “Apa”
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
6. BID
D/15/03/06
Seorang sutradara sejak awal sudah ada penilaian atau pilihan tentang adegan di mana yang perlu dan tidak penting
Penggunaan kata “di mana‟
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
7. BID
D/30/02/02
Secara tidak disadari kita sedang mengarah kepada sistem mulai sesuai dengan apa yang ditampilkan.
Penggunaan kata “Apa”
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
8.
BID F/10/02/06
Pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komukasi antara penutur dan pendengar.
Penggunaan kata “Apa”
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
9.
BID F/14/01/03
Anak-anak menggunakan tindak tutur tidak langsung agar apayang
disampaikan kepada mitra tutur agar tidak menyinggung perasaan mitra tutur.
Penggunaan kata “Apa”
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
10. BID
F/17/03/02
Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang
dituturkannya.
Penggunaan kata “Apa”
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
11. BID
F/08/02/04
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bagaimana perbedaan tindak tutur kalangan mahasiswa kebumen dan surakarta dalam percakapan non resmi.
Penggunaan kata
“bagaimana”tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
12. BID
F/26/02/03
Jenis penelitian ini bertujuan
menggambarkan keadaan atau status fenomena ,dimanapeneliti ingin mengetahui hal-hal yang
Penggunaan kata “dimana”
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
berhubungan dengan keadaan.
13. BID
G/06/05/02
Khususnya tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi karena melibatkan bagaimana orang saling memahami satu sama lainsecara lingustik.
Penggunaan kata
“bagaimana” tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
14. BID
G/07/01/02
Namun dapat juga merupakan ruang lingkup studi yang mematahkan semangat karena studi ini
mengharuskan kita untuk memahami orang lain dan apa yang ada dalam pikiran mereka.
Penggunaan kata “apa”
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
15. BID
G/12/02/03
Dalam penelitian ini dikaji tentang Bagaimana tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi dalam tayangan islam itu indah.
Penggunaan kata
“bagaimana” tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
16. BID
G/14/01/01
Tipe studi ini perlu melibatkan penafsiran tentangapa yang dimaksudkan orang di dalam suatu konteks khusus.
Penggunaan kata “apa”
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
G/14/01/02 berpengaruh terhadapapa yang
dikatakan. “bagaimana” tidak perlu
disisipkan dalam kalimat.
18. BID
G/14/02/02
Pendekatan ini juga perlu menyelidiki bagaimana cara pendengar dapat menyimpulkan tentang apa yang dituturkan agar dapat sampai pada suatu interpretasi makna
Penggunaan kata “apa”
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
19. BID
G/14/03/01
Pandangan ini kemudian
menimbulkan pertanyaan tentang apa yang menentukan pilihan antara yang dituturkan dengan yang tidak dituturkan.
Penggunaan kata “apa”
tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
20. BID
G/14/02/01
Jadi, pragmatik itu menarik karena melibatkan bagaimana orang saling memahami satu sama lain secara linguistik.
Penggunaan kata
“bagaimana” tidak perlu disisipkan dalam kalimat.
` Dalam Bahasa Indonesia penggunaan kata yang dicetak miring diatas digunakan sebagai penghubung atau terdapat dalam kalimat berita (bukan kalimat tanya). Penggunaan bentuk-bentuk tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia
memiliki penghubung yang tepat yaituyaitu kata tempat dan yang. Kata apa, di mana, siapa, dan bagaimana tidak perlu disisipkan atau diganti. Kata apa diganti sesuatu, kata di mana diganti dengan tempat, kata siapa diganti dengan orang atau seseorang, dan kata bagimana diganti dengan keadaan.